Shibazakura di Hitsujiyama, Mei 2015

This post is about JapanSebenarnya, saya sudah gatal ingin menulis tentang Jepang di musim dingin. Namun, saya pikir ada baiknya menyelesaikan dulu tulisan tentang Jepang di awal musim panas (2015) ini. Setelah sebelumnya membahas soal Jogasaki Kaigan dan kota Ito di Semenanjung Izu, kini saya ingin bercerita soal sungai dan pegunungan di Saitama.

hitsujiyama02Memang sih, kalau mendengar kata ‘Saitama’, banyak yang teringat akan karakter sebuah serial manga dan anime populer… bukan, bukan dia yang saya maksud! Kebanyakan orang mengaitkan prefektur ‘Saitama’ sebagai prefektur tetangga Tokyo yang ‘biasa banget’, karena bayangannya lebih kepada ibukotanya, yang namanya juga Saitama. Penggemar musik mungkin mengenal Saitama Super Arena, namun selain itu, apa lagi hayo yang kita tahu dari Saitama? Oke, ada Kawagoe, ‘Little Edo’, yang sebelumnya pernah saya bahas. Selain itu? Daerah Saitama yang merupakan suburban Tokyo tidak terasa istimewa-istimewa amat, bahkan bila kita menyambanginya, kita mungkin belum merasa keluar dari Tokyo karena kotanya ya mirip-mirip saja dengan Tokyo.

Akan tetapi, kalau kita meramban ke luar daerah perkotaan, kita bisa menemukan sisi-sisi Saitama yang lain, yang indah dan menarik dengan kebersahajaannya sebagai daerah pedesaan alias rural. Dan perjalanan kita menuju ke jantung keindahan Saitama itu dimulai di Ikebukuro, salah satu stasiun kereta api Tokyo yang paling sibuk.

Saya janjian dengan Riris dan dua temannya, Mbak Ocha dan Mari-chan, di stasiun Ikebukuro. Sesuai saran Mari-chan, ‘pemandu wisata’ kami yang lancar berbahasa Indonesia, kami akan pergi ke Hitsujiyama untuk melihat shibazakura, ‘bunga sakura yang mekar di atas tanah’. Atau tepatnya sisa-sisanya, karena saat itu musim semi sudah tinggal menggelayut sebelah tangan saja di wilayah Kanto, nyaris tergantikan posisinya oleh musim panas.

Kami mengikuti Mari-chan yang sudah mencarikan semua info yang diperlukan untuk kami. Saya yang biasanya sibuk mencari-cari sendiri informasi tentang tempat yang ingin saya kunjungi, kali ini berlaku santai dan benar-benar mengandalkan Mari-chan. Saya hanya tahu rute separuh perjalanan yang akan kami tempuh, yaitu sampai Hannou, karena saya pernah ke kota itu untuk (antara lain) melihat pameran boneka hinamatsuri. Hannou ini juga satu lagi daya tarik Saitama yang belum banyak dikenal orang. Sekarang, Hannou saya masukkan dulu ke daftar tempat yang akan saya ceritakan kapan-kapan, ya.

Stasiun Shibu Chichibu.

Stasiun Shibu Chichibu.

Kami menumpangi kereta Seibu Ikebukuro Line sampai Hannou, lantas berganti ke kereta jalur Seibu Chichibu Line yang akan membawa kami ke Chichibu, kota tempat Hitsujiyama Kouen (Taman Hitsujiyama) berada. Nah, saya pikir, kami akan turun di stasiun paling ujung, yaitu Stasiun Seibu Chichibu. Tapi ternyata tidak! Kata Mari-chan, kami sebaiknya turun di satu stasiun sebelumnya, karena akan lebih mudah menuju taman tersebut dari situ. Kami bertiga yang orang Indonesia pun menurut saja. Namun akibat ikut-ikutan saja, saya jadi lupa nama stasiun tempat kami turun, tetapi kalau mencek Google Maps sih, seharusnya namanya Yokoze.

Yokoze ataupun bukan, yang jelas daerah itu sepi! Di sekitar kami hanya ada rumah-rumah penduduk, yang memiliki pekarangan sendiri-sendiri. Ada yang ditanami bunga, ada yang ditanami buah. Bahkan ada yang menghiasi pekarangannya dengan patung-patung kecil seperti yang ada di foto di bawah ini. Eh… kelihatan tidak, ya?

hitsujiyama03Tidak hanya di pekarangan rumah orang, kami juga menjumpai patung, atau mungkin tepatnya arca relijius, kecil-kecil di tepi jalan, di antara rerumputan dan bebungaan. Ukuran maupun wujudnya yang imut-imut membuat kami tidak kuasa untuk tidak berkata, “Kawaii!”

hitsujiyama01Oh, tapi tujuan utama kami kan taman, ya. Kami celingukan, tapi tidak kelihatan tanda-tandanya. Yang kelihatan hanya rumah melulu, dan jalanan yang sepi. Menurut peta yang terpampang di papan dekat stasiun, memang kami masih harus berjalan lagi agak jauh. Kami tidak mengeluh, karena ini jadi kesempatan untuk berjalan-jalan sambil menikmati pemandangan dan menghirup udara segar. Ditambah lagi, kami berjumpa dengan sekelompok ibu-ibu yang juga hendak menuju taman tersebut. Kami jadi berjalan sambil berbincang-bincang dengan mereka. Mereka ramah sekali, dan tampak masih sangat bugar sehingga tidak tampak terbebani oleh keharusan menempuh jalan yang agak menanjak.

Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya kami tiba juga di Hitsujiyama Kouen! Dengan girang kami langsung asyik menebarkan pandangan ke sekeliling, termasuk ke puncak gunung yang tampak di kejauhan, dan mengamati bebungaan berwarna merah muda, ungu, dan putih yang menghiasi tanah, serta tentunya berfoto-foto.

hitsujiyama06Saat itu sudah bukan puncak musim bunga, sehingga keindahan shibazakura sudah jauh berkurang. Namun menurut kami sih masih cukup indah. Bagaimana menurut Anda?

hitsujiyama07Terbayang sih, waktu bunganya sedang mekar semua, pasti taman ini cantiknya berlipat-lipat. Tapiiii, saat itu juga taman ini luar biasa ramainya, sampai-sampai pengunjung hanya bisa beringsut-ingsut maju menyusuri jalan-jalan di taman tersebut. Sementara kami… lari-lari dan berpose apa pun juga bisa, karena tidak banyak pengunjung yang datang bersama kami. Pengunjung bisa duduk-duduk di bangku-bangku yang sengaja ditempatkan di sekeliling area taman yang ditanami shibazakura, agar benar-benar bisa menyerap keindahan taman dan hawa segar pegunungan.

hitsujiyama04Oya, kalau kita datang di puncak shibazakura, kita juga harus membayar tiket masuk. Tapi di luar masa-masa itu, pengunjung tidak dibebani biaya apa-apa. Jadi itu satu lagi untungnya bagi kami untuk datang di akhir musim semi…

hitsujiyama05Oleh karena lapar kami menuju salah satu warung yang terletak lebih tinggi di samping area shibazakura. Di situ kami memesan misopotato, kentang goreng yang diguyur miso seperti di foto bawah ini. Asupan karbohidrat yang sederhana namun terasa enak sekali. Memang sesungguhnya makan itu terasa paling memuaskan bila sebelumnya kita telah menghabiskan cukup banyak energi (dalam kasus kami, dengan berjalan kaki cukup jauh!). Harga misopotato adalah 300 yen untuk sepiring berisikan 6 bongkahan kentang.

hitsujiyama08Mari-chan kembali memimpin kami berjalan. Kami sempat melewati kandang terbuka yang berisikan beberapa ekor domba. Saya bertanya-tanya apakah domba-domba itu sengaja dipelihara di situ karena nama gunung ini—hitsujiyama—berarti gunung domba.

hitsujiyama09Setelah agak menanjak sewaktu datang, kini kami menapaki sebuah jalur yang miring lumayan curam. Kemiringannya lebih parah daripada jalan yang kami tempuh dari arah Stasiun Yokoze. Kata Mari-chan, turunan ini akan membawa kami ke Stasiun Shibu Chichibu. Maka itu adalah pilihan tepat untuk datang dari arah Yokoze. Bayangkan kalau kami harus mendaki jalan ini ke arah taman bila kami memutuskan turun di Stasiun Shibu Chichibu! Fiuh, untung kami dipandu oleh Mari-chan.

hitsujiyama10Di foto di atas tidak begitu terlihat, namun sebenarnya turunan itu cukup curam lho!

Di kaki turunan, kami berjalan sedikit lagi melalui jalan-jalan perumahan penduduk. Lagi-lagi kami menjumpai beberapa arca, di antaranya yang saya tampilkan di foto berikut ini. Kalau saya tidak salah, arca ini adalah perwujudan Bizuru (Pindola Bharadvaja), salah seorang murid Sang Buddha. Arca Bizuru lain, dari kayu, pernah saya jumpai di Nara.

hitsujiyama11Setelah beberapa lama, kami tiba juga di Stasiun Shibu Chichibu. Namun, kami bukan hendak naik kereta dari stasiun ini. Kami terus berjalan, menembus jalan pertokoan beratap di mana banyak terdapat toko dan warung yang menjajakan oleh-oleh khas Chichibu.

hitsujiyama13Meski berupaya keras menahan diri, kami takluk juga di hadapan kios penjual makanan khas Chichibu berikut ini: oyaki. Kue yang rasanya agak mirip wingko babat ini dibuat langsung dan dihidangkan panas-panas oleh seorang paman yang ramah. Harganya 220 yen per buah.

hitsujiyama14Pilihan rasanya bermacam-macam, namun kami memutuskan untuk mencoba anko (pasta kacang merah), murasaki imo (ubi ungu), dan kinoko (jamur). Iya, ada yang manis, ada yang gurih. Semuanya enak! Meskipun kelihatannya tidak besar, oyaki cukup mengisi perut juga lho.

nagatoro17Sambil menggerogoti oyaki kami masing-masing, kami meneruskan langkah, sesekali berhenti bila ada yang ingin membeli minuman dari mesin otomat atau berfoto-foto. Melalui jalan-jalan kecil, kami tiba juga di Stasiun Ohanabatake. Dari sinilah kami akan naik kereta ke perhentian berikutnya—Nagatoro!

Tapi cerita tentang Nagatoro dilanjutkan di tulisan berikutnya, ya. Sekarang silakan dinikmati dulu oyaki di bawah ini, hihihi…

nagatoro14

4 Comments (+add yours?)

  1. totoryan
    Oct 30, 2015 @ 09:40:40

    “silakan dinikmati”…. ka tyaaas bikin ngiler ahhh hahahaha…

    widii, kalau lg puncak malah bayar dan penuh orang ya… selalu ada sisi positif dan sisi kurang positifnya ya hahaahah… terlihat masih cakep hamparan bunga2nya… dan suasana pegunungan segarnya kayaknya nyaman bangeeeet *pasang ikon mupeng di sini*

    terima kasih untuk ceritanya ka! ♥

    Reply

    • lompatlompat
      Nov 18, 2015 @ 06:42:43

      Sama-samaaaa ♥ Iyaaa, kita mah orang kota bisa ada di tempat kayak begitu dengan pemandangan ke gunung udah seneng bangeeet! Suka ngebayangin apa rasanya ya orang yang hidup di tempat kayak begitu tiap hari..

      Reply

  2. ogawakaori
    Oct 30, 2015 @ 16:05:12

    Ah!! Kok timing-nya pas banget! Baruuu banget kemarin malam kami mencoret Hitsujiyama ini dari daftar trip akhir Maret 2017 kami😥 Dengan pertimbangan khawatir bunga-bunganya belum bermekaran pada tanggal itu. Padahal ingin sekali deh melihat hamparan shibazakura yang cantik itu secara langsung. Kami harus memilih antara melihat sakura atau bunga-bunga lain yg umumnya baru bermekaran di pertengahan April *lho jadi curcol* :))

    Oyaki-nya terlihat menggiurkaaan. Nagatoro terdengar familiar, entah mengapa. Ditunggu cerita lanjutannya di situ ya kak!😀 Thanks for sharing~

    Reply

    • lompatlompat
      Nov 18, 2015 @ 06:44:57

      Akhir Maret ya… Iya, shibazakura di Hitsujiyama baru April mulai mekarnya. Yah, bagaimanapun juga musim sakura pohon salah satu ‘must have’ experience sih di Jepang, jadi shibazakura mungkin bisa ditunda lain kali😉 Eh tapi ada beberapa tempat shibazakura lain, kalau nggak salah ada yang mekarnya lebih awal daripada Hitsujiyama.

      Oyaki enyaaaak!

      Dinanti ya ceritanya soal Nagatoro🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: