Ito selepas taifun, Mei 2015

This post is about Japan

Matahari bersinar cerah, langit tampak biru terang, yes! Taifun sudah berlalu dari Chubu, tepatnya dari Ito. Para ‘tahanan rumah’ akibat taifun lepas sudah. Hanya ekor taifun berupa angin yang masih cukup kencang yang tertinggal. Tidak masalah, ayo kita mulai lompat-lompat!

ito-08

Tepat di samping K’s House Ito Onsen, ada Toukaikan, yang tadinya juga merupakan ryokan yang dibangun tahun 1928. Sekarang, dengan membayar sejumlah uang, kita bisa datang berkunjung untuk melihat-lihat dan mandi-mandi air panas di cagar warisan budaya ini. Sayang, saya tidak sempat masuk ke dalamnya, namun karena saya sendiri menginap di bekas ryokan tepat di sebelahnya, saya pikir mungkin kedua bangunan itu ada kemiripannya.

ito-05

Di belakang Toukaikan dan K’s House, mengalirlah Sungai Matsukawa. (Kata kawa sebenarnya berarti sungai sehingga menyebutnya Sungai Matsukawa mungkin redundan?) Mungkin karena habis taifun, air sungai tersebut tampak membawa berbagai serpihan dan potongan bagian-bagian tumbuhan. Pagi itu, tampak kesibukan sejumlah pekerja yang sedang membangun apa yang tampaknya merupakan panggung di atas sungai. Ternyata, beberapa hari lagi, akan ada pertunjukan Nou (atau Noh) yang akan digelar di situ. Aduh, pasti indah sekali pertunjukan dengan latar seperti itu! Sayang, waktu kedatangan saya ‘meleset’.

ito-06

Tanpa memegang peta, saya berjalan saja ke arah pantai.  Ito adalah kota yang tidak seberapa besar, dan hanya sedikit ada bangunan tinggi yang menghalangi pandangan. Jalanan lengang, tidak banyak mobil yang melintas – atau mungkin saya saja yang membandingkannya dengan jalanan Tokyo.

ito-07

Di tepi jalan yang saya susuri, terdapat sejumlah patung yang memamerkan salah satu produk kebanggaan daerah ini, yaitu kaca patri (stained glass). Kalau Anda tertarik dengan kriya yang satu ini, ada museum khusus untuk kaca patri di Ito. Sayang saya tidak sempat mengunjunginya.

ito-09

Malahan, untuk catatan, di Ito ini banyak sekali lho museum, mulai dari museum porselen dan keramik, kotak musik, otomata, amonit, boneka, teddy bear, sampai ukiran batu dan gading. Memang sepintas sulit dipercaya bahwa di daerah yang bangunannya masih jarang-jarang ternyata terdapat banyak museum yang sebagian seakan ‘tersembunyi’. Pokoknya yang namanya di Jepang, meskipun kotanya kecil, jangan remehkan kekayaan yang berupa museum.

ito-10

Sayangnya, oleh karena beberapa pertimbangan, saya tidak mengunjungi satu pun museum di Ito. Saya lebih memilih menghabiskan waktu di luar. Yah, di luar saja pun ada taman semacam Taman Nagisa yang memajang sejumlah patung batu yang tampak seolah merupakan bagian alami dari bentang alam pantai dengan pasir dan bebatuan serta pemecah ombak yang semuanya berwarna abu-abu.

ito-13

ito-16

Dua buah patung yang paling menarik perhatian saya adalah sebuah patung besar berbentuk kapal, dan sebuah patung lain yang menggambarkan sesosok laki-laki berwajah bule. Patung laki-laki itu adalah perwujudan dari William Adams, seorang berkebangsaan Britania yang menjadi kapten sebuah kapal Belanda yang terdampar di prefektur Oita pada tahun 1600. Adams, yang memperoleh nama Jepang Miura Anjin, menjadi orang kepercayaan Tokugawa Ieyasu yang mendirikan pemerintahan bakufu Tokugawa yang bertahan lebih daripada dua abad lamanya. Ieyasu meminta Adams membangun sejumlah kapal bergaya Barat, dan Adams pun melaksanakan titah tersebut di Ito.

ito-12

Untuk pertama kalinya di Jepang, dua buah kapal bergaya Barat lahir, dari tangan Adams. Salah satunya dinamai San Buena Ventura, yang dipinjamkan Ieyasu kepada Rodrigo de Vivero y Velasco, gubernur Filipina yang seperti juga Adams terdampar di Jepang akibat kapalnya karam. Kapal pinjaman itu dipergunakan sang gubernur untuk pulang ke Meksiko, dan sebagai perwujudan rasa terima kasih, raja Spanyol menghadiahkan sebuah jam kepada sang shogun. Jam itu kabarnya masih tersimpan di Kunozan Toshogu, kuil Shinto yang dipersembahkan kepada Ieyasu. San Buena Ventura sendiri diabadikan dalam bentuk patung batu yang tegak di dekat patung Adams ‘sang samurai bermata biru’.

ito-11

Taman Nagisa terletak di samping Orange Beach, pantai yang berbatasan langsung dengan kota Ito. Mungkin memang dibandingkan sejumlah pantai di Indonesia, apalagi yang berpasir putih, pantai ini terlihat biasa saja. Namun udaranya benar-benar bersih, dan langit terasa sungguh-sungguh luas.

ito-14

Pagi itu, baru ada segelintir orang yang keluar untuk menikmati ketenangan di pantai tersebut. Pohon palem, yang ternyata masih bisa bertumbuh di garis lintang ini, melambai-lambai diayun angin. Saya duduk di salah satu bangku yang tersedia, menyantap sarapan sambil menatap laut lepas.

ito-19

Di kejauhan, terlihat apa yang sepertinya merupakan sebuah pulau yang tampak sebagai bayang-bayang kelabu di balik tirai udara yang mengaburkan penglihatan. Dengan dibantu fasilitas zoom in kamera, saya mencoba mengamati pulau itu dengan lebih baik. Terlihat sejumlah bangunan yang tampak seperti hotel. Kalau saya cek di peta sih, memang ada pulau kecil bernama Hatsushima di teluk itu, tercapai dengan feri melalui Atami. Seru juga barangkali ya berkunjung ke pulau itu? Asal jangan kita tahu-tahu terjebak dalam kasus pembunuhan di pulau tanpa sarana keluar seperti di Kindaichi Shounen no Jikenbo, hehehe…

ito-17

Saya kembali ke guest house untuk check-out dan menitipkan barang-barang saya sebelum melanjutkan ‘berpetualang’ di Ito. Saya tidak benar-benar punya bayangan mau ke mana, hanya memikirkan ingin melihat Omuroyama. Ini adalah gunung berbentuk kubah—sebuah kawah mati—yang puncaknya bisa dicapai dengan lift kursi gantung. Dari puncak ini, kita dijanjikan bisa memperoleh pemandangan 360 derajat kawasan Ito yang memesona. Apalagi kalau cuaca secerah ini, pasti mantap nih, pikir saya.

ito-18

Terlebih dahulu saya menuju Stasiun Ito, tempat terdapat juga terminal bis Toukai. Saya membeli one day free pass seharga 1.300 yen. Dengan pass ini, saya bebas menaiki bis Toukai semua rute di kawasan Ito. Ada pass yang lebih murah, yaitu Izukogen-Jogasaki bus free pass seharga 800 yen, namun tidak mencakup semua rute. Tanggung lah ya, daripada misalnya di tengah jalan saya ternyata harus berganti rute tapi tidak tercakup pass yang lebih murah, nanti malah jadi lebih mahal.

ito-20

Cukup jauh juga perjalanan dari terminal bis di Stasiun Ito ke Omuroyama. Pemandangan dalam perjalanan masih didominasi hijaunya pepohonan dan, terkadang, laut yang mengintip di sela-selanya. Mata memang terbuai keteduhan, tapi jantung saya dag-dig-dug seru membayangkan menaiki kursi gantung ke puncak gunung.

ito-21

Eh, sampai di stasiun kursi gantung, saya dan sejumlah wisatawan lain kecele. Tidak tampak kesibukan di stasiun tersebut, yang ternyata diputuskan untuk ditutup hari itu karena angin yang masih belum bersahabat. Yah, kecewa sih, namun saat saya memperhatikan bagaimana kursi-kursi gantung itu terayun-ayun dalam terpaan angin, hati saya ciut juga dan menyadari bahwa menutup atraksi tersebut hari itu adalah pilihan paling aman dan baik. Saya hanya melambai-lambai sedih kepada puncak gunung yang sudah sedemikian dekat namun ternyata masih di luar jangkauan. Tidak ada opsi untuk mendakinya dengan berjalan kaki. Saya melangkah lunglai kembali ke halte bis.

ito-22

Di seberang stasiun kursi gantung sebenarnya ada Taman Kaktus (Shaboten Park), namun saya yang terlanjur kecewa malas berdiam lama-lama di situ dan memutuskan untuk menunggu bis menuju Danau Ippeki alias Ippekiko, yang tadi saya lihat dalam perjalanan ke Omuroyama. Belakangan saya baru tahu ada kapibara yang dipelihara di taman kaktus tersebut, dan sekarang saya menyesal melewatkan kesempatan melihat mamalia montok-montok itu. Tapi ya sudahlah, saat itu mana saya tahu.

ito-23

Oleh karena rute bis yang agak membingungkan, saya terlebih dahulu naik bis ke arah Stasiun Izukogen (yang fotonya saya tampilkan di atas). Dari stasiun tersebut, saya lantas berganti bis yang balik arah ke Ito dengan melewati Ippekiko.

ito-24

Saya turun di halte Ippekiko yuhodo-guchi, karena saya juga ingin melihat-lihat Numaike alias ‘Kolam Numa’. Sebutannya memang ike, kolam, dan pengertiannya dalam konteks ini adalah badan air yang terbentuk secara alami, bukan buatan manusia. Mungkin dalam bahasa Indonesia, kita akan lebih mudah mengaitkan Numaike dengan kata ‘rawa-rawa’, meskipun tempat ini sebenarnya bukan rawa-rawa. Kolam ini terhubung juga ke Ippekiko.

ito-26

Saya tidak tahu apakah Anda sepakat dengan saya, namun saya sangat menyenangi berjalan-jalan di tempat seperti Numaike—damai, permai, tak tampak seorang pun manusia selain satu orang pejalan kaki yang berpapasan dengan saya. Hanya ada beberapa ekor bebek yang asyik bermain-main di atas air. Beberapa rumah tampak di kejauhan, dan saya bertanya-tanya apakah kehidupan penghuninya yang dikelilingi alam seindah ini juga sama indahnya.

ito-25

Rerumputan dan buluh di kolam berayun-ayun seirama diterpa angin yang menyelusup dari sela-sela mereka. Laju angin juga tercermin pada permukaan kolam: air tampak resah, tidak tenang seperti lazimnya bayangan kita mengenai kolam.

ito-27

Puas melihat-lihat di Numaike, saya berjalan kembali ke jalan raya dan menyeberang ke Ippekiko. Saya memutuskan untuk berjalan menyusuri jalan setapak mengelilingi danau untuk menuju halte bis berikutnya yang dinamai ‘Ippekiko’ sesuai nama danau. Namun, tidak seperti berjalan kaki yang terasa menenangkan di Numaike, menyusuri keliling Ippekiko ternyata menjadi salah satu pengalaman paling menakutkan bagi saya.

ito-31

Riak lebih besar lagi di permukaan Ippekiko dibandingkan di Numaike, dan jalan setapak sempit yang mengelilinginya sama sekali tidak berpagar. Permukaan air sedang tinggi sekali, dan bagaikan laut, gelombang air yang cukup tinggi menyeruak keluar dari dalam danau, menghantam sampai ke atas jalan setapak, seolah hendak menyeret siapa pun yang kebetulan lewat agar ikut masuk ke dalam air yang gelap. Di sini ketiadaan siapa-siapa justru mencemaskan saya. Kalau ada apa-apa, siapa yang akan menolong?

ito-28

Akhirnya, saya berjalan mepet-mepet ke sisi jalan setapak yang paling jauh dari tepi danau. Kadang bila bisa naik ke tanah yang lebih tinggi, saya melakukannya, sambil sekali-kali berhenti untuk menebarkan pandangan sampai jauh. Bagaimana pun juga, Ippekiko menawarkan pemandangan yang cantik, meskipun hari itu juga menggetarkan dengan pameran kekuatan alamnya yang membuat saya merasa sedemikian kecil.

ito-30

Kegiatan wisata juga tak tampak di Ippekiko hari itu meskipun matahari sudah tinggi. Semua perahu bebek-bebekan bergoyang-goyang keras dalam kondisi tertambat. Taifun meninggalkan jejak kesunyian yang terasa mencekam.

ito-29

Saat saya sedang melangkah di jalan menanjak menuju halte bis, terlihat sebuah bis mendekat. Saya langsung bergegas lari sebisa-bisanya agar tidak sampai tertinggal. Bis berikutnya bisa-bisa baru datang beberapa puluh menit lagi! Untungnya, di halte itu ada seorang wisatawan asing yang turun. Melihat saya berlari-lari, ia tampak mengatakan sesuatu kepada sopir, yang rupa-rupanya lantas menunggu sampai saya bisa naik. Sambil melewati sang wisatawan, saya mengucapkan terima kasih kepadanya, lantas melompat ke atas bis. Pak sopir menyapa saya yang terengah-engah dengan senyum lebar.

ito-32

Petualangan saya di Ito sudah nyaris selesai. Saya harus kembali ke Tokyo. Setelah mengambil barang-barang saya dan menumpang melaksanakan salat di K’s House, saya beranjak ke Stasiun Ito (lagi). Oleh karena belum makan siang, saya memutuskan membeli nasi kotak dari Gion Bento yang kiosnya membuka ke arah luar maupun dalam stasiun. Tepat di depan kios bento yang berdamping-dampingan dengan kios udon, ada sejumlah meja dan kursi tempat pembeli bisa makan. Sederhana saja sih tempatnya, begitu pula bentonya. Namun bila perut lapar setelah seharian berkeliaran menghirup udara segar, yang sederhana itu pun jadi terasa nikmat sekali! Ditambah lagi, tahu-tahu bibi penjaga kios udon memanggil saya. Ternyata ia memberikan semangkuk sup miso kepada saya sebagai pendamping makan bento. Saya tidak tahu apakah itu memang servis bagi pelanggan yang makan di tempat, apalagi saya kan tidak membeli dagangannya. Yang jelas itu adalah penutup sempurna bagi kunjungan ke Ito yang telah mempertemukan saya dengan orang-orang yang sedemikian ramah dan menyenangkan.

ito-33

Saya beruntung karena lagi-lagi memperoleh kereta sekelas Black Ship Train dalam perjalanan pulang. Kali ini saya tidak memilih duduk di gerbong dengan kursi menghadap ke samping, melainkan di kepala kereta dengan kursi yang berundak-undak. Dari tempat duduk di kepala kereta yang berjendela besar-besar termasuk di moncong depan kereta, tampak pemandangan melesat dari arah depan, menimbulkan ketertakjuban sendiri.

ito-15

Perjalanan ke Ito boleh usai, namun langit birunya akan tetap terbayang-bayang di mata saya, menimbulkan kangen dalam hati.

10 Comments (+add yours?)

  1. ogawakaori
    Oct 11, 2015 @ 15:06:57

    Uuuuuu… how to write as amazingly as youuuu? >__< Seneeeng banget tiap baca tulisan Kak Tyas tentang jalan-jalan di Jepang ini. Selalu enak dibaca dan entah bagaimana selalu ada sisi sentimental yang membuat tulisan kakak jadi makin hidup.
    Ditunggu kisah-kisah berikutnya ya kak!😀

    Reply

    • lompatlompat
      Oct 11, 2015 @ 23:49:15

      Aduuuuh makasihhhh, jadi maluuu. Yah, gimana dong, aku kan memang orangnya sentimentil #yha

      Siapppp, dinanti ya. ‘Tabungan’-nya memang masih banyak nih. Apa yang sebaiknya ditulis duluan, ya?

      Reply

  2. mysukmana
    Oct 11, 2015 @ 23:38:02

    Wahhh jepun lg..pantainya sepi..itu sungai juga bersih..kpn sungai sungai di indo kyk gt y mbk..ditunggu cerita jepun selanjutnya..

    Reply

    • lompatlompat
      Oct 12, 2015 @ 00:04:48

      Iya… ngiri yah… Jadi ingat, Sungai Thames di London saja butuh waktu 30 tahun upaya terus-menerus lho baru bisa kembali bersih dan ditinggali makhluk hidup… Sungai Ciliwung perlu waktu berapa lama, ya?

      Siaaap, ditunggu ya cerita-cerita berikutnya.

      Reply

  3. nyonyasepatu
    Oct 12, 2015 @ 05:20:21

    Seruuu perjalanan ya ini dan semuanya bersih. Liat air pengen nyemplung saking bersihnya

    Reply

    • lompatlompat
      Oct 12, 2015 @ 15:51:37

      Iyaaaah…. Woh ntar kuceritain deh soal aku dan teman-temanku ‘nemu’ sungai yang luar biasa bersih di Hitsujiyama. Kami sampai norak banget main airnya hehe..

      Reply

  4. kresnoadidh
    Oct 14, 2015 @ 07:49:52

    Aaaaaakkk rasanya adem banget baca tulisan kakak ini. Adem-adem sendu gimana gitu. #lho
    Seru kaaak kayaknya kalo yang ke patung batu-batu itu malem-malem. Eh, tapi serem gak ya?

    Reply

    • lompatlompat
      Oct 22, 2015 @ 06:24:13

      Hmmm… rasanya sih enggak yah. Saya hampir ga pernah merasakan takut di Jepang kok meski malam2. Tapi belum pernah sampe ngudek2 tempat yang keramat banget juga sih, hahaha

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: