Musim semi datang terlambat di Takayama, Maret 2015 (Bagian 2)

Lanjut lagi yuk, cerita tentang Hida no Sato?

Ada sekitar 30 bangunan di kawasan Hida no Sato. Bangunan-bangunan itu berasal dari sejumlah tempat lain dan dipindahkan utuh ke sini, ditata menyerupai kampung organik. Sebagai contoh, ada rumah Wakayama, yang berasal dari Shoukawa-machi dan dibangun pada tahun 1751. Bangunan ini dianggap berharga karena menunjukkan dua ciri sekaligus, yaitu atap bergaya gassho yang curam sekaligus tonjolan atap gaya Shoukawa.

More

Advertisements

Musim semi datang terlambat di Takayama, Maret 2015 (Bagian 1)

Pagi di Takayama!

Sebenarnya agak malas juga keluar dari tempat tidur yang nyaman di K’s House, tempat menginap pilihan kami di Hida Takayama. Apalagi pagi hari itu dingin. Akan tetapi, sayang waktunya bila saya hanya bermalas-malas di kamar yang cukup luas untuk dua orang. Kalau di daerah begini, ukuran kamar-kamar penginapan biasanya jauh lebih lega daripada penginapan dengan kategori yang sama dan harga yang sering kali lebih mahal di Tokyo. Bahkan bila dibandingkan dengan sesama K’s House di Tokyo, terasa benar bedanya ukuran kamar di cabang di Takayama.

More

Perjalanan ke Hokkaido, Desember 2017 (1)

Halo, semuanya! Maaf kalau saya lama tidak menulis di sini ya. Sebenarnya saya tetap menulis kok, tapi kisah perjalanan saya kali ini ke Hokkaido pada akhir tahun lalu dituangkan di salah satu tempat lain yang juga saya urus.

Sejauh ini sudah ada empat bagian, dan masih akan berlanjut lagi.

Bagian 1: Mempersiapkan perjalanan ke Hokkaido

hokkaido2017-01

Bagian 2: Historical Museum of Hokkaido di Sapporo

hokkaido2017-03

Bagian 3: Menonton pertandingan bola Hokkaido Consadole Sapporo vs Sagan Tosu di Sapporo

hokkaido2017-02

Bagian 4: Kembali ke Otaru!

Kalau sudah ada bagian-bagian yang baru, saya akan update lagi, ya. Untuk kali ini, selamat menikmati!

Hamamatsu, November 2014 (Bagian 1): Kota asal piano Yoshiki

Saya dan teman saya, sebut saja K-chan, senang tinggal di Tokyo. Namun ada kalanya kami sumpek juga, entah karena urusan pekerjaan atau sekolah. Suatu hari K-chan berkata kepada saya, “Kita jalan-jalan yuk ke luar kota? Menginap. Sudah dari lama aku ingin ke Hamamatsu.” Akhirnya, kami pun ‘mengorbankan’ satu akhir minggu tidak menonton band kesayangan kami, dan alih-alih bertolak menuju Hamamatsu. Kami janjian bertemu di Stasiun Tokyo pagi-pagi, lantas menumpangi kereta shinkansen menuju Hamamatsu yang terletak di Prefektur Shizuoka. Kami berangkat tanpa memesan hotel terlebih dahulu, karena kami pikir di kota sekecil Hamamatsu tentunya cukup mudah menemukan hotel yang masih punya kamar kosong.

hamamatsu18

More

Sapporo, ibukota prefektur paling utara (2) Maret 2015

sapporo-19

Ups… maafkan saya, baru sempat menulis lagi untuk blog ini. Gara-garanya, bulan Februari lalu saya sempat kembali ke Jepang untuk beberapa lama. Saya antara lain mengunjungi prefektur Gunma dan Ibaraki, dan banyak sekali yang ingin saya ceritakan! Tapi sekarang saatnya melanjutkan kisah saya tentang Sapporo.

This post is about JapanSampai mana kita?

Oh ya, sampai matahari tenggelam… (Ngomong-ngomong, karena foto-foto yang saya ambil kala malam rata-rata tidak jelas, foto-foto yang saya pajang yang diambil saat siang saja, yah!)

More

Otaru, winter wonder-port (2) Maret 2015

This post is about Japan

Hari kedua di Otaru! (Kalau belum baca cerita hari pertamanya, ada di sini, ya.)

otaru-22

Setelah mandi pagi (dengan air panas tentunya), saya turun untuk menikmati sarapan di ruang makan bersama. Seperti juga di kebanyakan hotel lain yang menyediakan sarapan, kita bisa mengambil roti dengan berbagai olesan, juga beraneka minuman seperti kopi, teh, dan jus. Bedanya adalah, di hotel ini, setelah kita memperoleh tempat duduk, seorang pelayan akan menghampiri dan memberikan sebutir telur ceplok dan sosis untuk kita. Saya kaget karena tidak meminta, dan saya pikir memang di hotel ini tidak disediakan telur untuk sarapan, namun rupanya begitulah cara mereka melayani. Sosisnya… sosis apa ya? Saya mau bertanya juga tidak enak, menyisakan pun rasanya tidak sopan. Akhirnya saya bismillah saja… More

Kawaguchiko (2) – Desember 2013/Maret 2014 – Music Forest

This post is about Japan

Akhirnya saya tergugah untuk menulis lagi di blog ini, menyambung cerita yang sudah lama ditinggalkan tanpa berkelanjutan.

Saya menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda ketika dulu  saya mendatangi Jepang sebagai wisatawan dan sekarang setelah saya berdiam di sini. Dulu, rasanya segala sesuatu serba baru, serba menarik. Sewaktu pulang ke tanah air, ada perasaan menggebu-gebu untuk menceritakan berbagai hal yang saya alami itu. Namun, sebagai orang yang kini tinggal di Jepang, hal-hal yang tadinya terasa baru dan sangat menarik itu menjadi keseharian, sehingga dorongan bercerita tidak sekuat dulu. Tetapi saya telah dapati bahwa menuangkan kenangan dalam bentuk tertulis kerap kali menyelamatkan detail-detail dari keterlupaan. Kadang-kadang saya membaca tulisan-tulisan lama saya dan berpikir, “Wah, saya tidak ingat lagi soal ini. Untung dulu ditulis!”

music-forest01

More

Museum Fujiko F. Fujio, Kawasaki, musim dingin 2013

This post is about Japan

Siapa yang tidak kenal Doraemon? Rasa-rasanya bagi banyak sekali orang Indonesia yang terlahir pada dasawarsa 1980-an sampai sekarang, tokoh inilah yang mengisi masa kecil mereka. Pintu Ajaib dan berbagai peralatan lain menjadi impian kita ketika hidup di dunia nyata terasa susah betul dan tidak praktis. Tidak heran kalau banyak yang ingin mengunjungi ‘museum Doraemon’ bila bertandang ke Jepang. Nama resmi museum ini sebenarnya adalah Fujiko F. Fujio Museum, terletak di Kawasaki, tidak seberapa jauh dari Tokyo.

Museum ini buka pukul 10.00-18.00 setiap hari kecuali Selasa. Namun saat Golden Week dan libur musim panas, biarpun Selasa, museum ini tetap buka.  Oya, museum ini juga tidak buka saat liburan akhir tahun, jadi kalau berniat ke sini, hindari hari Selasa dan liburan akhir tahun, ya.

Catatan: tiket tidak dijual di museum. Anda harus membeli tiketnya terlebih dahulu melalui kombini Lawson. Di sini ada petunjuk cara membeli tiket dengan mesin Loppi di Lawson. (Sebenarnya petunjuknya untuk membeli tiket pertunjukan, tapi lumayanlah untuk memberi Anda gambaran mengenai penggunaan mesin tersebut.)

???????????????????????????????

More

Edo-Tokyo Open-air Architectural Museum

This post is about Japan

Halo semuanya.  Akhirnya setelah sekian lama, saya bisa mulai mengisi blog ini lagi.  Dan, seperti yang sebelumnya saya katakan, karena sekarang saya berdomisili di Jepang, maka isi blog saya mulai saat ini akan didominasi oleh tulisan mengenai Jepang.  Saya tidak hanya akan menulis mengenai tempat-tempat yang telah sangat populer di mata turis asing, melainkan juga yang masih jarang dikunjungi orang.  Contoh dari tempat yang terakhir itu adalah Edo-Tokyo Open-air Architectural Museum, yang akan saya bahas sekarang.

IMG_0086

Mausoleum Jisho-in (Otama-ya), dibangun oleh putri Chiyo untuk ibunya, Ofuri-no-kata, istri shogun ketiga, Iemitsu Tokugawa.

Mausoleum Jisho-in (Otama-ya), dibangun oleh putri Chiyo untuk ibunya, Ofuri-no-kata, istri shogun ketiga, Iemitsu Tokugawa.

More

Art and Science Museum, Gardens by the Bay, Asian Civilizations Museum Singapura, September 2013

This post is about Singapore

Seperti yang telah saya beritahukan di post saya sebelum ini, kini saya tinggal di Jepang, setidaknya untuk satu setengah tahun.  Namun sebelum berangkat ke Jepang, saya menyempatkan diri untuk bepergian ke Singapura ,bertemu sejumlah teman dan terutama mengunjungi Asian Civilizations Museum yang sedari lama saya ingin kunjungi tapi belum sempat-sempat juga.

Agar lebih murah dan lebih banyak waktu santai bagi saya untuk berjalan-jalan di Singapura, saya memilih penerbangan yang tiba paling malam di Changi.  Setelahnya, saya tidak keluar dari bandara, namun tidak juga memilih untuk menginap di hotel bandara.  Soalnya, hotel bandara lumayan mahal!  Saya lebih memilih mencari sudut untuk tidur di Terminal 2 yang memang disiapkan di bandara Changi.  Penerangan di sudut tersebut dibiarkan temaram, dan ada sejumlah kursi panjang yang disiapkan untuk yang ingin tidur-tiduran atau bahkan tidur betulan.  Buat saya sih sebenarnya kursinya tidak terlalu nyaman untuk tidur.  Bila mau, tidur saja di lantai yang berkarpet empuk.  Tidak akan dimarahi, kok, karena memang sudut itu disediakan untuk kita-kita yang rela tidur seadanya.  Akan jadi pengalaman luar biasa, kok, tidur berhadapan dengan dinding kaca yang menghadirkan pemandangan landasan bandara.  Ditambah lagi waktu itu hujan deras sedang turun, dan ada beberapa pesawat baik yang sudah terparkir maupun baru mendarat atau hendak bertolak.  ‘Kamar tidur’ yang dramatis, hehe.

Paginya, saya mengarah ke kota, namun tidak dalam keadaan kucel dong.  Saya menuju Rainforest Lounge di Changi untuk menumpang mandi dengan membayar harga yang cukup murah dan memperoleh segala perlengkapan seperti handuk, sampo, sabun, sikat gigi, dan odol.  Segar lagi, deh, setelah semalam hanya sempat tidur beberapa jam.

DSC09555

Saya mendatangi Art and Science Museum di Marina Bay Sands terlebih dahulu, karena berdasarkan info dari teman, sedang berlangsung pameran mumi dan foto-foto National Geographic.  Ternyata ada satu lagi pameran yang sedang digelar, yaitu pameran karya-karya suami-istri Eames.  Ya sudah, sekalian saja saya beli tiket terusan untuk ketiganya.

DSC09559

DSC09616

Pameran pertama yang saya masuki adalah pameran mumi (betulan!) yang dibawa beserta berbagai artifak Mesir Kuno lainnya dari British Museum.  Sayangnya, di dalam pameran kami tidak boleh memotret, jadi saya hanya bisa cerita, ya.  Sewaktu masuk, kami diberi kacamata 3D, karena untuk setiap rombongan turis yang masuk diputarkan terlebih dahulu sebuah dokumenter 3D yang dinarasikan Patrick Stewart mengenai mumi.  Banyak hal menarik yang dipelajari dari film tersebut, misalnya bagaimana cara para pembalsem mumi mengeluarkan organ dalam mumi (prosedurnya memancing komentar ‘yiakkks’ dari sebagian hadirin), metode apa yang kini digunakan ilmuwan untuk mempelajari mumi tanpa membongkar perban atau bahkan petinya, bagaimana membaca hieroglif, dan lain-lain.  Kita pun diberi gambaran mengenai kehidupan sehari-hari pendeta di zaman Mesir Kuno.  Ada pula hal lucu yang menjelaskan mengapa ada sebuah objek aneh yang ditemukan di kepala salah satu mumi—yang tampaknya merupakan cetakan tanah liat yang tak sengaja ditinggalkan para pembalsem!

DSC09563

Sesudah film selesai, pintu menuju aula pameran terbuka, dan pengunjung pun dibebaskan mengeksplorasi  ruang-ruang tempat berbagai peninggalan Mesir Kuno ditata.  Untuk pertama kali dalam hidup saya, saya berada sedemikian dekat dengan mumi sungguhan, meski tentu tak bisa disentuh karena dibatasi peti kaca.  Banyak pula patung-patung dan objek-objek pembuatan mumi yang dipamerkan, misalnya guci-guci yang fungsinya menampung organ-organ dalam mumi sementara jenazah dipersiapkan.  Semuanya dilengkapi keterangan yang singkat dan padat.  Entah mengapa, yang paling membuat saya terkesima adalah sebuah patung Dewa Seth yang justru mungkin berukuran paling kecil di pameran tersebut.  Warnanya cokelat tua, dengan detail kecil yang terlihat tajam.  Aneh saja rasanya, dewa yang terkenal menyeramkan, ternyata patungnya kecil sekali, meskipun tetap menggetarkan.

DSC09565

Di pintu keluar, pengunjung disambut toko kecil yang menjual berbagai pernak-pernik pameran mumi, British Museum, dan National Geographic.  Saya harus kuat menahan diri agar kantong tidak jebol, karena kali ini saya tidak membawa terlalu banyak uang.  Toh saya tidak kuasa juga menolak godaan membeli sampul paspor hitam-putih bercorak batu Rosetta.  Habisnya, sudah sedari SD saya tergelitik oleh batu Rosetta yang telah membantu para ahli menguak masa lalu dengan membaca berbagai macam aksara berbeda yang tertera di batu itu.

Kelar dengan pameran mumi, saya menuju pameran foto-foto istimewa National Geographic.  Bukan hanya melihat sejumlah foto National Geographic yang sangat terkenal bahkan melegenda, kita juga diberi pelajaran-pelajaran singkat mengenai dasar-dasar fotografi (melalui pajangan-pajangan yang ada).   Foto-foto yang dipamerkan juga disertai kisah di balik pengambilannya, juga kutipan para fotografernya.

DSC09572

DSC09579

DSC09580

Pameran yang terakhir, Essential Eames, berfokus pada sepasang suami-istri yang, jujur saja, asing bagi saya.  Baru belakangan saya diberi tahu teman betapa terkenal dan berpengaruhnya mereka di bidang desain, terutama desain kursi.  Yah, saat berada dalam pameran, saya memang hanya bisa meraba-raba ketenaran mereka dari keterangan-keterangan yang tersedia (dan kenyataan bahwa mereka cukup penting sampai dibuat pameran seperti ini!), namun yang jelas karya-karya mereka yang dipamerkan memang membuat saya terkesima!

DSC09583

DSC09586

DSC09591

Mulai dari rancangan rumah, rancangan kursi, pajangan pameran yang ditata suami-istri tersebut, still photos, mainan, semuanya menarik.  Di ruangan tempat kursi-kursi dipamerkan, kita bahkan bisa mencoba mencicipi seperti apa rasanya duduk di bangku hasil desain suami-istri Eames.  Saya yang tadinya masih agak sangsi mengapa tampaknya kursi-kursi mereka sangat dipuji-puji, jadi terdiam ketika menyenderkan diri di salah satu kursi malas Eames.  Nyaman sekali!  Kalau begitu tidak heran lagi deh mengapa nama mereka sungguh mencorong.

DSC09596

DSC09599

DSC09606

Puas menjelajahi ketiga pameran di Art & Science Museum, saya menuju Gardens by the Bay yang bisa dicapai dengan berjalan kaki dari Marina Bay Sands.  Ini adalah salah satu atraksi terbaru di Singapura yang langsung melejit namanya karena menghadirkan bukan hanya suasana taman melainkan juga alam bebas di antara gedung-gedung tinggi dari beton dan baja.  Menara-menara yang dirancang menyerupai pohon dan menjulang di Gardens by the Bay entah mengapa menghadirkan suasana primitif.

DSC09625

Di beberapa sudut Gardens by the Bay, sungguh terasa suasana alam liar, tidak seperti di tengah-tengah kota besar.  Danau dan sungai yang mengaliri kebun raya ini juga dihuni oleh sejumlah spesies hewan air termasuk yang merupakan khas Singapura, seperti satu jenis terapin (semacam kura-kura).  Yang jelas, banyak capung—penanda keberadaan air bersih!  Sosok capung pun diabadikan dalam wujud beberapa patung berukuran besar di kebun raya tersebut.

DSC09650

Gardens by the Bay sungguh luas, sehingga saya tidak sempat mendatangi seluruh penjuru maupun atraksinya.  Apalagi saya sendirian, agak planga-plongo.  Lain kali kalau kembali ke sini, harus ada temannya, deh.  Namun yang sempat saya lihat dalam kunjungan solo itu juga sudah cukup membuat hati tentram, terutama ketika saya berjalan di jembatan papan terbuka (tanpa pagar di kiri-kanannya, jadi hati-hati ya!) di sepanjang tepi danau.

DSC09642

Satu lagi yang membuat saya ternganga adalah salah satu dari sekian banyak karya seni yang diletakkan di Gardens by the Bay, yaitu patung bayi raksasa putih berjudul Planet.  Desain patung ini hebat sekali, karena patung sebesar itu bisa dibuat tampak melayang di udara, hanya disangga oleh tangan kanan si bayi yang menempel ke tanah.

DSC09658

Keesokan harinya barulah saya berkunjung ke Asian Civilizations Museum yang terletak di tepian Sungai Singapura.  (Berjalan-jalan di tepi sungai ini juga enak sekali!)  Eh, ternyata sedang ada acara festival budaya Melayu, sehingga hari itu pengunjung dibebaskan dari biaya masuk museum.  Saya agak terheran-heran juga , karena sudah beberapa kali ke Singapura dan berkunjung ke museum, kok ya pas museumnya sedang gratis.  Lumayan banget, kan.

DSC09680

Sesuai namanya, museum ini menyimpan dan memamerkan berbagai artifak dan produk budaya dari berbagai peradaban di Asia, mulai dari Cina, India, Arab dan peradaban Islam, Asia Tenggara, dan lain-lain.  Hari itu, selain festival budaya Melayu dan pajangan yang biasa, juga ada pameran Lacquer Across Asia dan Desire and Devotion.  Sebetulnya rasanya perlu waktu setidaknya seharian untuk mengamati  lekat-lekat semua objek yang dipamerkan, belum lagi mengikuti aktivitas-aktivitas yang disediakan, namun tentu saja saya tidak punya waktu sebanyak itu.  Beberapa pajangan akhirnya hanya saya amati sebentar, dan lebih banyak waktu yang saya curahkan untuk benda-benda lain.

DSC09683

DSC09705

DSC09692

Saya terutama tertarik kepada artifak-artifak hasil persilangan budaya di Asia yang dipamerkan di bawah tajuk Desire and Devotion.  Ada patung malaikat Michael dari Filipina yang dibuat dengan gaya setempat, patung hasil perpaduan budaya India dan Hellenistik (Yunani), lukisan-lukisan penghias manuskrip-manuskrip Persia Kuno, dan lain-lain.  Yang membuat pameran semakin menyenangkan (dan memang seharusnya demikian!) adalah brosur berdesain menarik yang dilengkapi aktivitas bagi pengunjung.  Untuk Desire and Devotion disediakan tiga macam brosur lipat, yaitu yang bertemakan Power, Adventure, dan Love.  Ada bagian-bagian yang bisa dirobek dan ditulisi di brosur-brosur itu, untuk digantung di tempat yang sesuai di pintu keluar pameran.  Gantungan-gantungan tersebut menjadi tempat pengunjung bebas menuangkan imajinasi dalam menjawab sejumlah pertanyaan pengandaian yang berhubungan dengan isi pameran.

DSC09723

DSC09733

DSC09740

Di Asian Civilizations Museum juga ada pameran khusus objek-objek dari kawasan Indonesia , termasuk tiruan rumah Toraja yang meskipun mini, tetap bisa kita masuki untuk merasakan bagaimana rasanya hidup di dalam tongkonan.  Agak sedih sih rasanya memikirkan barangkali benda-benda ini lebih terawat di museum negara tetangga ini daripada di museum-museum atau tempat-tempat asal mereka di negeri kita sendiri.  Bukan bermaksud membuat Anda bosan dengan keluhan semacam ini, tapi sayangnya ya memang masih beginilah kenyataannya.

DSC09744

DSC09692

DSC09751

Puas sekali rasanya akhirnya bisa mengunjungi Asian Civilizations Museum yang sudah sedari lama saya ingin singgahi.  Saya juga jadi tidak penasaran lagi mengapa teman saya yang berkebangsaan Singapura menyatakan bahwa inilah salah satu tempat favoritnya untuk menghabiskan waktu.  Bila tulisan saya ini juga membuat Anda penasaran, jangan lupa menyempatkan mengunjungi museum ini ya kali lain Anda berada di Singapura!

Previous Older Entries