Istana Akasaka, Februari 2016

akasaka04

Sebenarnya masih banyaaak sekali ‘tabungan’ cerita saya tentang Jepang dari tahun 2014-2015. Tapi kali ini kita melompat dulu ya ke tahun ini, tepatnya ke bulan Februari 2016. Soalnya, bulan lalu, berkat info dari seorang teman (thanks, Dira!) saya berkesempatan mengunjungi Istana Akasaka, yang hanya dibuka untuk umum pada waktu-waktu tertentu. Jadi saya tulis ini cepat-cepat, agar kalau-kalau Anda akan mengunjungi Jepang, Anda bisa cek apakah istana ini sedang terbuka untuk umum atau tidak.This post is about Japan

Oya, foto-foto yang saya hadirkan di sini hanya foto-foto dari sebelah luar istana. Di dalam istana, tidak boleh mengambil foto. Barangkali untuk menjaga kerahasiaan juga. Maklumlah, istana ini sebenarnya masih menjalankan fungsi penting, yaitu sebagai tempat penginapan tamu negara.

More

Salam Tahun Baru dari Kaisar Jepang 2015

This post is about Japan

Selamat Tahun Baru 2015!

Bagaimana Anda merayakan malam pergantian tahun?  Saya pergi menonton sebuah konser hitungan-mundur alias countdown live.  Tapi sekarang saya bukan hendak bercerita soal itu, melainkan tentang acara yang berlangsung pada tanggal 2 Januari di Istana Kekaisaran: Kaisar beserta keluarga kekaisaran memunculkan diri untuk menyapa rakyat dan memberikan ucapan selamat tahun baru. Saya dan seorang teman pun dengan semangat bergelora (gara-gara penasaran) pagi-pagi sudah berangkat ke Istana, bergabung dengan beribu-ribu orang lainnya yang juga ingin melihat Kaisar. Bila menggunakan kereta JR, kita bisa turun di Stasiun Tokyo. Beberapa stasiun kereta bawah tanah pun ada di dekat Istana, misalnya stasiun Nijubashi-mae di jalur Chiyoda.

kaisar01

Kita hanya bisa masuk melalui gerbang utama di Nijubashi, dengan waktu terbatas yaitu antara pukul 9.30 pagi sampai 14.10 siang. Keluarga kekaisaran sendiri hanya akan muncul 5 kali, dimulai dari paling pagi pukul 10.10 dan paling akhir pukul 14.20. Kami tiba di depan Istana sekitar pukul 9 pagi, dan sudah banyak orang datang berbondong-bondong.

More

Ringkasan 2013: Singapura, Hong Kong, Lembang, Beijing

Ah.  Sudah lama juga saya tidak menulis di blog ini.  Bukan karena tidak punya cerita, atau tidak bepergian ke mana-mana.  Cerita sih, ada saja.  Tapi beberapa kesibukan lain yang menyita perhatian membuat saya alpa menuangkan cerita-cerita itu ke dalam bentuk tertulis.  Oleh karena itu, sekarang saya sajikan versi ringkas dari apa yang saya jumpai dalam beberapa perjalanan saya tahun ini.

Singapura

Ada saja ya, alasan ke Singapura.  Alasan utama saya adalah beberapa konser yang hanya mampir ke Singapura namun tidak digelar di negeri sendiri.  Ada kesenangan tersendiri bila konser itu digelar di loka yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.  Selalu senang rasanya ‘berkenalan’ dengan loka baru, apalagi bila loka itu ternyata sungguh memuaskan.  Kali ini lokanya adalah The Star Theater, hanya berjalan kaki dari stasiun MRT Buona Vista.

sg-2013-01

More

Orang Indonesia di Kyoto

This post is about Japan

Bukan, judul ini bukan tentang kami.  Meski, ya, benar sih.  Kami memang bepergian ke Kyoto.  Melainkan tentang seseorang yang tanpa kami duga-duga bertemu dengan kami di bekas ibukota kekaisaran Jepang tersebut.

Kami tiba di Kyoto pagi-pagi sekali.  Bis malam yang kami tumpangi dari Tokyo tiba tepat waktu sesuai perkiraan yang diberikan kepada kami.  Bis yang nyaman, jalanan yang mulus, dan cara mengemudi yang meyakinkan membuat kami tidak terlalu lelah meski telah menghabiskan waktu semalaman di bis.  Agak pegal sedikit sih iya, namanya juga naik kendaraan berjam-jam.

Kami diturunkan di seberang stasiun pusat Kyoto.  Di sini jalur-jalur kereta antarkota dan dalam kota bertemu.  Bangunannya besar dan modern.  Kami pun melangkah ke stasiun tersebut guna membersihkan diri sejenak di kamar mandi.  Hmmm… ternyata kamar mandinya biasa-biasa saja.  Jangankan washlet, tisu pun tidak gratis.  Selain kami, sejumlah penumpang lain juga tampak mencuci muka, menyikat gigi, dan berdandan di kamar mandi.

Satu per satu orang mulai bermunculan di stasiun yang masih sepi, meski tetap belum banyak kegiatan berarti.  Orang-orang belum lagi berangkat kerja atau sekolah.  Kami mampir ke McD’s cabang stasiun itu untuk sarapan.  Mata menjadi melek penuh ‘dihajar’ kopi panas yang disajikan.  Setelah perut terganjal, kami pun mencari-cari loker untuk meletakkan tas-tas kami yang berukuran besar.  Apa boleh buat, seperti juga di penginapan-penginapan lain, baru di atas pukul dua siang nanti kami boleh check-in.  Lagipula, malas juga ya rasanya bolak-balik pakai ke penginapan dulu untuk menitipkan tas sebelum cabut lagi.

Salah satu stasiun kereta di Kyoto.

More

Jogjakarta and Its Vicinity [Gallery]

This post is about Indonesia

Right.  This is a long-due post.  I made a trip to Jogjakarta last year – my second after my first time years and years ago when my cousins still lived there.  Just today, after I read about the royal wedding that will take place next week, I realised that apart from the piece about the Mendut candi and vihara, I wrote nothing more about my trip.  Guiltily, I browsed my folders to find the pictures I made there.

Not too many.  And I was using my old pocket camera so the quality of the pictures was somewhat I’m not too proud of.  But anyway, here are some of the pictures I made in Jogjakarta and its vicinity (areas like where the Borobudur is situated are parts of the Central Java province).

Jogjakarta – home of kings past and present, a sanctuary of faiths, a refugee of the Republic during its harsh times – may you live long and prosper.

Beberapa Gagasan Menghabiskan Waktu di Bangkok

Tulisan berikut ini saya tulis atas permintaanTitin yang akan mengunjungi Bangkok di bulan Oktober.  Semoga tulisan ini membantu, ya!

This post is about Thailand

Bangkok pada khususnya dan Thailand pada umumnya telah menjadi salah satu tujuan pariwisata luar negeri utama wisatawan Indonesia, terutama semenjak maskapai penerbangan AirAsia membuka jalur langsung dari beberapa kota Indonesia menuju Bangkok.  Dalam tulisan berikut ini, saya menjabarkan beberapa gagasan kegiatan yang bisa Anda lakukan di Bangkok.

Telusuri Chao Phraya

Kami pernah menjabarkan cara menelusuri sungai yang menjadi nadi utama kota Bangkok lama ini di tulisan ini.  Nikmati semarak aktivitas penghuni Bangkok di Chao Phraya saat siang hari.  Perhatikanlah keanekaragaman bangunan lama bersejarah maupun bangunan baru bergaya modern, juga bermacam-macam tempat peribadahan berbagai agama yang berdiri mengapit Chao Phraya.  Tampak wat, masjid, dan gereja tegak berselang-seling.  Susuri pula sungai ini di malam hari, ketika lampu-lampu sengaja menyoroti bangunan-bangunan utama sehingga terlihat dramatis.

Suasana di feri untuk turis.

Salah satu sudut Maharaj Pier. Turunlah di sini bila hendak menuju Grand Palace.

Kunjungi Grand Palace dan Vinmanmek Mansion

Rasanya kalau ke Bangkok tapi belum ke Grand Palace, agak kurang afdol, ya.  Di kompleks istana berukuran 218.000 meter persegi ini terdapat sejumlah bangunan penting, baik yang masih berfungsi sebagai kantor pemerintah, museum, tempat peribadahan, maupun tempat tinggal kerabat raja.  (Raja sudah tidak lagi tinggal di Grand Palace.)  Tidak hanya bergaya khas Thailand atau Indocina, ada pula bangunan-bangunan bergaya Barat, ataupun yang campuran.

Yang perlu diingat, berpakaianlah yang sopan bila hendak memasuki Grand Palace.  Bila pakaian Anda (baik laki-laki ataupun perempuan) terlalu terbuka, misalnya mengenakan celana pendek, maka Anda akan diminta mengenakan pakaian tertutup yang disediakan pihak istana.  Selain itu, bila Anda datang tepat di hari ulang tahun raja (5 Desember), maka di pagi hari Anda tak boleh memasuki kompleks istana tersebut, yang dijadikan tempat pusat perayaan.  Siang harinya, Anda boleh masuk dengan gratis, tetapi hanya ke bagian tempat wat-wat berada, ini pun menumpangi keistimewaan yang diberikan kepada warga Thailand untuk mengunjungi The Royal Monastery of the Emerald Buddha secara gratis agar bisa berdoa untuk sang raja.

Di area Royal Monastery, tak hanya menyambangi sang Buddha Jamrud yang  tersohor, kita juga bisa melihat, antara lain, Phra Siratana Chedi, Phra Mondop, dan model Angkor Wat.  (Sekadar info: nama kota di Kamboja tempat Angkor Wat berada saat ini, Siem Reap, berarti ‘Siam Ditaklukkan’.  Dan keberadaan model Angkor Wat ini di kompleks Grand Palace kiranya juga menjadi jejak hubungan antara Thailand dan Kamboja yang kerap sulit, bahkan hingga kini.)

The Royal Monastery menampilkan keunikan agama Buddha yang dianut oleh sebagian besar penduduk Thailand.  Perhatikanlah patung-patung raksasa yang menjulang, dan juga mural Ramakien (Ramayana) berhias emas yang terpajang di tembok yang mengelilingi Wat Phra Kaeo.  Tunggu sebentar.  Ramayana?  Lalu… patung dewa-dewa ini… tidakkah lebih Hindu daripada Buddha?

Ya, memang benar.  Agama Buddha di Thailand dipengaruhi  agama Hindu.  Bahkan berdasarkan hasil bincang-bincang saya dengan seorang kenalan yang berasal dari Goa, India, Thailand adalah satu dari hanya dua tempat di dunia ini di mana terdapat kuil yang dikhususkan untuk Brahma, godhead dalam trimukti agama Hindu.

Ngomong-ngomong, perhatikanlah patung-patung yang menghiasi sejumlah bangunan di kompleks Royal Monastery.  Bisakah Anda bedakan, yang mana yang demon, yang mana yang monyet?  Kalau setelah ke sana Anda belum tahu juga, silakan hubungi kami ya…

Yang juga tidak bisa dilewatkan saat berada di Grand Palace adalah… mencicipi susu segar dan dingin yang dijual tak jauh dari Aula Amarindra Winitchai dan Chakri Maha Prasat (yang bagian bawahnya difungsikan sebagai museum senjata).   Apalagi kalau Anda mengunjungi Grand Palace ketika cuaca sedang panas-panasnya—misalnya, saat bulan Juli—susu berbagai rasa dari peternakan kerajaan ini terasa sungguh menyegarkan dan memompa semangat kembali!

Chakri Maha Prasat

Pergantian penjaga juga bisa menjadi atraksi menarik di Grand Palace.

Oya, sekeluar dari Grand Palace, jangan keburu membuang tiket Anda, karena masih ada satu tempat lagi yang bisa Anda datangi dengan tiket tersebut, yaitu Vinmanmek Mansion.  Jaraknya agak jauh dari Grand Palace, sehingga gunakanlah taksi atau tuktuk menuju tempat tersebut.  Hati-hati, taksi yang mangkal di sekeliling Grand Palace biasanya memang mengincar wisatawan dan ogah pasang argo.  Atau, mereka mau mengantarkan dengan harga murah asalkan kita mau mereka bawa mampir-mampir dulu ke sejumlah toko atau tempat pembelanjaan.  Alasannya, agar mereka mendapat cap dari masing-masing toko untuk mendapatkan bensin gratis.  Kalau punya waktu banyak, coba saja ikut mereka ke toko-toko itu, yang terkadang menawarkan barang-barang bagus dengan harga murah.  Tidak beli juga tidak apa-apa.  Namun bila ingin langsung ke Vinmanmek Mansion, bersikeraslah minta diantar langsung.  Mungkin mereka akan minta 100 Baht untuk menuju kompleks tersebut.

Ini bukanlah Vinmanmek Mansion, melainkan salah satu gedung di dalam kompleksnya. Mansion-nya sendiri sulit untuk dipotret.

Vinmanmek adalah istana dari kayu jati emas bergaya Eropa yang dahulu menjadi tempat tinggal keluarga raja.  Bangunan beserta segala perabot dan barang-barang yang tersimpan di dalamnya sungguh indah.  Namun untuk memasukinya, peraturan cukup ketat.  Yang pertama, Anda harus meninggalkan tas dan kamera di dalam locker berkunci otomatis yang tersedia.  Hati-hati, sekali buka pintu locker, biayanya 30 Baht.  Saya pernah ketinggalan mengambil sesuatu dari tas, dan harus kembali merogoh 30 Baht dari kocek untuk membuka pintu sekali lagi!

Wisatawan diizinkan keluar-masuk dengan selang waktu tertentu, antara 30-45 menit sekali.  Waktu masuk wisatawan berbahasa Thailand dan berbahasa asing juga dipisah, seturut ketersediaan pemandu.  Kita harus menunggu dengan sabar sampai pintu dibuka lagi untuk wisatawan—yang harus melewati pemeriksaan sinar X.  Sejumlah petugas siap memandu kita dan memberikan berbagai informasi mengenai Vinmanmek Mansion, termasuk sejarah koleksi barang wastu tersebut yang mengundang decak kagum.  Bahkan saat cuaca panas mengamuk di luar, bagian dalam wastu dan taman sekelilingnya tetap sejuk.

Bila sempat, kunjungi juga beberapa museum kecil yang masih terletak di kawasan Vinmanmek Mansion.

Berbelanja

Bagi yang hobi berbelanja, memang Bangkok tempat yang pas untuk memuaskan kegemaran Anda itu.  Kalaupun Anda hanya berniat mencari oleh-oleh, tidak usah khawatir karena banyak cenderamata unik, murah, dan meriah yang bisa Anda peroleh.

Bila melewatkan akhir minggu di Bangkok, kunjungilah pasar Chatuchak yang hanya buka Sabtu dan Minggu.  Cara mudah menuju tempat tersebut adalah naik BTS, turun di stasiun Mo Chit.  Setelahnya, tinggal keluar dari stasiun dan berjalan sedikit, dan voila, Anda telah tiba di pasar tradisional yang luas dan berpotensi cukup besar menyesatkan orang ini.  Telusurilah lorong demi lorong, menawarlah bila bisa, yang penting… tetap waspada, karena pencopet dan penjambret berkeliaran mengincar para wisatawan yang lengah.

Kalau tidak sempat menyambangi Chatuchak, jangan khawatir.  Di pasar malam dan kawasan-kawasan wisatawan seperti Nana Sukhumvit, mudah ditemukan toko atau kios kaki lima yang menjajakan barang-barang yang sama dengan yang dijual di Chatuchak.

Ingin berbelanja ‘gaya modern’?  Pusat-pusat perbelanjaan siap menyambut Anda.  Yang saya paling doyan kunjungi adalah kawasan Pathumwan Junction (naik BTS bisa turun di Siam Square atau National Stadium).  Sejumlah pusat perbelanjaan ternama yaitu MBK, Siam Paragon, dan Discovery Center merubung persimpangan tersebut.  MBK terutama sangat popular karena berbagai barang murah berkualitas bagus dan foodcourt yang memikat.  Di sini juga ada mushola untuk yang perlu menunaikan salat di tengah-tengah berwisata.

Siam Paragon lebih mewah daripada MBK, dan menjadi favorit saya antara lain karena di sinilah terletak salah satu cabang Kinokuniya Bangkok.  Saya juga menyenangi Paragon karena di bawah tanahnya terdapat foodcourt yang menyediakan makanan halal.  Terlebih dulu, tukarkan deposit uang (misalnya 200 Baht) dengan kartu magnetik, yang lantas Anda berikan kepada penjaga kedai makanan.  Deposit Anda akan dipotong sesuai harga makanan dan minuman yang Anda pesan.  Setelah selesai makan, tukarkan kembali kartu untuk memperoleh sisa uang.

Daya tarik lain Paragon adalah hypermarket Gourmet Market (tempat berbelanja kebutuhan sehari-hari ataupun oleh-oleh seperti cokelat) beserta kios-kios makanannya yang menggugah selera.  Ada pula Siam Ocean World yang memungkinkan kita seolah memasuki laut untuk melihat-lihat kehidupan di dalamnya.

Jembatan pejalan kaki yang menghubungkan MBK dengan stasiun BTS National Stadium dan Siam Paragon/Discovery.

Kalau soal makanan, jika Anda lapar saat sedang berjalan-jalan namun tidak ingin makanan berat, cobalah kunjungi kedai-kedai makanan di stasiun-stasiun BTS.  Macam-macam yang mereka tawarkan, mulai dari kue-kue manis sampai sushi siap makan.  Pokoknya, asal jangan disantap di dalam kereta.

Untuk yang ogah barang palsu atau KW2, produk bermerk asli Thailand yang saya rekomendasikan adalah Jim Thompson (kain, tas, dompet, dan lain-lain) serta arloji Link Graphix, yang menampilkan karya para desainer muda Thailand.

Menonton bioskop

Menonton bioskop?  Hmmm… apa istimewanya?  Ada sensasi tersendiri, lho.  Yang pernah saya coba adalah menonton di bioskop Paragon Cineplex.  Ukuran bioskopnya besar sekali.  Dan yang unik, sebelum pemutaran setiap film, terlebih dahulu diputar video yang berisikan kegiatan sang raja, diiringi lagu yang menyanjung-nyanjung beliau.  Selama video diputar, semua pengunjung, termasuk orang asing, harus berdiri sebagai tanda penghormatan.  Pengalaman ini cukup meninggalkan kesan bagi saya, yang berasal dari negeri yang tidak mengenal tata cara semacam ini.

Menonton pertunjukan malam

Nama Bangkok memang juga lekat dengan hiburan malam.  Sebagian orang mungkin akan langsung terkikik geli mengingat hiburan ‘nakal’ yang marak di sejumlah kawasan Bangkok, misalnya Patpong.  Namun jangan keburu menganggap hiburan malam Bangkok negatif semuanya, meski dibawakan oleh para waria yang sering dicap buruk di Indonesia.  Jangan salah, di Thailand, waria bisa memperoleh pekerjaan biasa seperti orang-orang lainnya, misalnya menjadi penjaga toko, tidak melulu sebagai penghibur jalanan atau tukang salon seperti yang menjadi stereotipe di Indonesia.  Dan kabaret waria adalah pertunjukan terhormat yang disiapkan dan diselenggarakan dengan serius, meski isinya bisa jadi mengocok perut Anda habis-habisan.

Teater kabaret waria yang terkenal di Bangkok adalah Calypso, yang menggelar pertunjukan setiap malam di Hotel Asia (naik BTS, turun di stasiun Ratchatewi, ada pintu keluar langsung ke dalam hotel tersebut).  Cobalah minta hotel memesankan tiket untuk Anda, atau coba pesan online di ThaiTicketMajor.  Tanpa makan malam, harga 1 tiket adalah 900 Baht termasuk first drink (ada teh atau kopi juga).  Tersedia pula merchandise Calypso yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan, misalnya DVD pertunjukan mereka.

Seusai pertunjukan, para pemeran kabaret akan berjejer rapi mengapit jalan menuju pintu keluar.  Anda boleh berfoto dengan mereka, namun jangan lupa selipkan sedikit uang tip ke tangan para artis.  Mereka ramah-ramah dan baik-baik, kok.  Tidak perlu merasa seram hanya karena mereka ‘waria’.  Ups, sebagian di antara mereka bahkan lebih cantik dari perempuan asli, lho!

Yang juga boleh dicoba adalah menonton pertunjukan Siam Niramit yang gegap-gempita.

Bersantailah

Jangan terlalu terburu-buru menyusuri Bangkok gara-gara bernafsu mengunjungi tempat sebanyak-banyaknya.  Temukan tempat yang nyaman, dan bersantailah sejenak, menikmati irama kota ini.  Saya punya dua tempat favorit untuk beristirahat sambil mencicipi minuman dan penganan di Bangkok.  Yang pertama adalah cabang Au Bon Pain di persimpangan  dekat Grand Palace.  Setelah berterik-terik menjelajahi Grand Palace, selalu menyenangkan rasanya memasuki gedung kecil berarsitektur Eropa ini dan memesan minuman dingin.

Bagian dalam Au Bon Pain dekat Grand Palace.

Tempat kedua favorit saya adalah cabang Subway merangkap Coffee World di dekat stasiun BTS Nana.  Meskipun meja dan kursinya bergaya restoran cepat saji yang tidak terlalu menghiraukan kenyamanan jangka panjang pengunjung, restoran yang buka 24 jam ini cukup menyenangkan untuk dijadikan tempat nongkrong.

Carrot cake juara dari Coffee World!

Kunjungi beraneka ragam wat

Saat berlayar di Chao Phraya, sempatkan meninjau Wat Arun alias ‘Kuil Fajar’, tempat Buddha Jamrud dahulu disimpan sebelum dipindahkan ke Wat Phra Kaeo di Grand Palace.  Dengan kapal, turunlah di Maharaj Pier, lalu ambil feri menyeberang sungai (tidak ada dermaga khusus feri turis di depan Wat Arun).  Bila Anda tidak gampang gamang, cobalah mendaki tangga yang curam sampai ke puncaknya.

Wat Arun alias ‘Temple of Dawn’

Di dekat kompleks Grand Palace, juga ada Wat Po yang bisa dicapai dengan berjalan kaki.  Di sinilah terdapat patung raksasa Buddha tidur, dan juga patung prajurit farang (orang asing) yang terlihat unik dengan penutup kepala mereka yang bergaya Barat.

Kepala sang Buddha tidur.

Genta di Wat Po.

Perhatikan betapa kecilnya manusia dibandingkan ukuran sang Buddha tidur.

Salah satu prajurit ‘farang’.

Jejeran patung Buddha di Wat Po.

Selain wat-wat yang popular tersebut, banyak pula wat lain bertebaran di seantero Bangkok.  Sebagian di antaranya tidak banyak dikenal wisatawan sehingga sepi pengunjung – yang justru membuat kita lebih bisa meresapi kekhidmatan tempat-tempat suci tersebut.  Kami pernah beruntung memperoleh seorang supir tuktuk yang mengantarkan kami ke beberapa wat yang jarang dikunjungi turis. Ia membawa kami ke Wat Ratchanatdaram Worawihan dan Wat Srakes Rajavaramahavihara.

Sampai-sampai biarawan di Wat Srakes Rajavaramahavihara bertanya kepada kami, “Dari mana tahu tempat kami ini ?”  Kami pun dipersilakan duduk agak lama di aula utama, di mana terpajang arca Buddha raksasa yang berwarna emas.  Orang yang memberi kami petunjuk menuju wat ini menyebutnya ‘Happy Buddha’.  Konon arca Buddha yang satu ini mendatangkan kebahagiaan dan keberuntungan bagi yang mengunjunginya.

Arca yang disebut ‘Happy Buddha’.

Tak hanya wat-wat ‘tersembunyi’, masih banyak tempat yang bisa Anda kunjungi dan kegiatan yang bisa Anda lakukan selama di Bangkok.   Ini hanyalah beberapa sumbangan gagasan kami saja.  Jangan segan berbagi pengalaman Anda di Bangkok dengan kami, ya!

Hue, Ibukota Kekaisaran Lama Vietnam

This post is about Vietnam

Wilayah Hue sudah didiami manusia sejak lebih dari 2.000 tahun lalu.  Hue modern kini dibelah oleh Perfume River yang teramat bersih (sewaktu nantinya melayari sungai ini, kami hanya melihat kurang dari lima sampah yang mengapung!).  Bagian utara merupakan benteng kota tua kekaisaran dinasti Nguyen, sementara bagian selatan banyak dihiasi bangunan modern dan bergaya Prancis dari zaman kolonial.  Di dalam dan di sekitar Hue, banyak peninggalan bersejarah, bangunan keagamaan, dan keindahan alam yang patut dikunjungi.  Bahkan duduk-duduk di pelabuhan ‘perahu naga’ atau tepian sungai yang beralas rumput hijau saat pagi, sore, atau malam hari pun sungguh terasa menyenangkan.  Dan meskipun sama-sama terletak di Vietnam Tengah, tak seperti Da Nang, Hue tidak banyak tertimpa kerusakan akibat badai tropis, meskipun katanya kalau sedang banjir, orang pun tidak bisa keluar-keluar.

Incense stick di Hue

Warna-warni seperti ini menanti Anda di Hue!

Kami tiba di Hue tanpa terlebih dahulu memesan penginapan, alias memutuskan go show.  Banyak yang sering ragu melakukan hal ini karena takut tertipu supir taksi yang malah akan membawa kita ke tempat yang mahal sekali.  Nah, kami punya taktik sendiri.  Caranya, cari informasi di jalan mana banyak terdapat penginapan atau hotel.  Pilih saja salah satu penginapan, dan tunjukkan alamatnya kepada supir taksi.  Meskipun belum dapat, atau malah tidak dapat, kamar di situ, yang penting kita seolah-olah punya tujuan jelas.  Yang penting kan sampai di satu tempat yang aman, jadi menginap di situ atau tidak kan urusan lain.  Banyak sih hotel besar dan megah di Hue, namun kami memilih mencari yang sederhana saja.

Maka kepada supir taksi (dari perusahaan taksi Mailinh) kami meminta diantar ke sebuah hotel yang tertera dalam buku panduan yang kami bawa.  Jalan kecil tempat hotel itu terletak ternyata hanya beberapa menit jauhnya dari stasiun kereta api.  Yah, namanya juga bukan kota besar dan tidak ada kemacetan.  Kami hanya melintasi satu ruas jalan utama dari stasiun kereta sampai daerah hotel, yaitu Le Loi, yang memang panjang sekali.  Waktu sejenak di dalam taksi pun sudah menjadi tur yang cukup berharga untuk melihat-lihat Hue.

Di sebelah kiri kami, berjejer di tepian Perfume River, adalah sejumlah bangunan penting bergaya kolonial.  Ada museum, gedung kesenian, gedung panitia festival Hue, dan lain sebagainya.  Rumah sakit pusat Hue juga terletak di jalan tersebut.  Di sebelah kanan, supir taksi dengan bangga menunjukkan, “Sekolah saya dulu!”

Ada dua kompleks sekolah yang berdampingan, terpisahkan oleh jalan kecil.  Yang satu, Hai Ba Trung, untuk siswi, sementara yang satu lagi, Quoc Hoc untuk siswa.  Kedua kompleks yang cukup luas itu diteduhi pohon-pohon besar, dan terdiri atas sekumpulan bangunan gaya Eropa berwarna merah gelap.  Bedanya, di sekolah putri, bangunan-bangunan lebih besar dan mengelompok, sementara di sekolah putra, bangunan-bangunan berukuran lebih kecil dan lebih berjauh-jauhan, dihubungkan oleh jalan setapak.

Hue sebelah selatan dihubungkan dengan Hue sebelah utara di seberang Perfume River oleh sejumlah jembatan besar.  Bila malam, lampu-lampu bersinar lembut aneka warna menjadikan jembatan-jembatan itu pemandangan tersendiri yang menemani jalan-jalan kita di tepi sungai.

Jalan yang kami beri tahukan kepada pak supir ternyata sebuah jalan kecil yang diapit berbagai penginapan dan hotel di kanan-kiri.  Seorang pria menawarkan kamar di Hotel Phoenix (66/3 Le Loi)—saya ingat nama ini pernah saya temukan di salah satu situs web ketika saya mencari-cari informasi soal Hue.  Ada kamar dobel dan tripel, yang lumayan juga sewaktu kami tengok, meski jangan harapkan ada lift.

Setelah beristirahat sejenak, pukul 7, saat udara beranjak semakin dingin, kami keluar untuk mencari makan sekaligus memesan tempat di tur esok hari.  Banyak biro pariwisata yang terorganisasi rapi menawarkan paket-paket murah—hanya sekitar 60 sampai 100 ribu rupiah per orang—untuk menyambangi tempat-tempat tersebut, atau bahkan mencicipi hidup bersama penduduk asli Vietnam.  Kendaraan umum kecuali ojek dan siklo (sejenis becak) masih jarang di Hue, sehingga mengambil paket tur itu merupakan pilihan baik bagi turis.

Restoran di Hue

Restoran di Hue tempat kami menanti rombongan tur berangkat, dan juga nantinya makan siang.

Paket Thang Long City Tour (16 Pham Ngu Lao Street, telepon (84) 054.3838666), misalnya, dengan harga sedemikian murah menyediakan bis ber-AC dan pemandu berbahasa Inggris yang baik untuk mengunjungi 5 titik wisata dan melayari Perfume River dengan ‘perahu naga’, serta makan siang prasmanan dengan 50 menu.  Hanya saja, tiket masuk untuk beberapa tempat yang dikunjungi, sebesar 55 ribu Dong per orang, harus dibayar sendiri.  “Hari ini, angka keberuntungan kalian 55, ya,” demikian canda Mr Dang, yang keesokan harinya menjadi pemandu kami.  Paket inilah yang kami ambil dengan membayar 120.000 dong/orang di biro wisata dekat hotel.  Saya mengambil peta Hue keluaran Asiana Travel Mate, yang seharusnya gratis, namun diminta membayar 10.000 Dong oleh mbak-mbak penjaga biro tersebut.  Berhubung petanya bagus, saya menurut saja.

Hue, meski masih kalah pamor dari HCMC atau Ha Noi, sebetulnya amat menjanjikan sebagai surga belanja dan makanan bagi turis.  Restoran yang menjadi pilihan kami malam itu terhitung mewah untuk ukuran Hue, namun harga makanannya tetap saja murah dibandingkan harga di HCMC, apalagi kalau dirupiahkan.  Tapi memang pendapatan per kapita di Hue masih rendah.  Kaum mudanya berbondong-bondong meninggalkan kota yang damai itu, mencari penghidupan yang lebih baik terutama di HCMC di Selatan.

Di restoran Khai Hoan (90 Le Loi), Mel memesan menu yang paling menarik malam itu: queen’s royal tea dan kue khas Hue.  Yang disebut queen’s tea ternyata mirip jamu, campuran berbagai bagian tumbuhan yang lantas diseduh.  Rasanya?  Huek, pahit!  Mungkin berkhasiat, tapi kalau untuk teman makan, terima kasih, deh.  Untungnya, kue yang berisi kacang merah sangat nikmat dan legit.  Kalau ke Hue jangan lupa mencicipi kue ini, karena belakangan saat kami tanyakan kepada Mr Vu, kue tersebut susah ditemukan di HCMC.  Keragaman kuliner Vietnam Selatan dan Vietnam Tengah (juga Vietnam Utara) berbeda.  Di HCMC, mereka tidak terlalu suka memakan kacang-kacangan, sehingga kue kacang merah Hue bukan hal lazim di kota terbesar di selatan itu.

Usai makan, kami mendatangi beberapa toko yang masih buka.  Ada toko kain sutra yang juga menawarkan jahit cepat—4 jam jadi.  Suvenir tergolong murah, sehingga kami yang tadinya tidak betul-betul berniat membeli apa-apa akhirnya malah jadi memborong banyak.  Salah satu jenis barang yang kami beli adalah syal rajutan yang cukup tebal—popular untuk menghalau hawa dingin di Hue, namun tidak akan banyak gunanya di tempat panas seperti HCMC.  Kalau mau buat bergaya di mal-mal Jakarta yang AC-nya ganas sih, oke juga.

Suvenir di Hue

Sejumlah cenderamata hasil kerajinan tangan rakyat yang dijual di salah satu toko di daerah Hue.

Kelar berbelanja, kami duduk-duduk cukup lama di tembok batu dingin yang membatasi taman dengan dermaga dragon boat di tepi Perfume River.  Hanya ada beberapa penjaja kaki lima yang sedang berbenah-benah, namun suasana taman jauh dari menyeramkan.  Hawa dingin cukup menggigit, sementara suasana senyap—rasanya sungguh menyegarkan, jauh berbeda dari hiruk-pikuk HCMC.

Keesokan pagi, kami check out dari hotel, karena akan mengikuti tur sampai sore dan setelah itu langsung menuju stasun kereta untuk naik kereta malam ke Da Nang.  Eh, ternyata ibu-ibu di bagian penerimaan tamu mencoba mengerjai kami.  Atau, entah ya, mungkin sekadar ia salah ingat, karena mukanya kok polos sekali.  Dia bilang, kami kurang bayar untuk satu orang.  Mel bersikeras bahwa kemarin itu harga yang ia berikan kepada kami—dan sudah kami bayar—ia nyatakan sebagai harga kamar untuk 5 orang.  Untunglah akhirnya ia mengalah dan berhenti meminta uang lebih.  Hmmm… mungkin lain kali kalau ke Hue, coba cari hotel lain saja barangkali ya.

Terlebih dahulu kami pergi ke stasiun kereta untuk membeli tiket kereta malam.  Kali ini, kami memperoleh tiket kereta SE7 yang akan bertolak pukul 19.58 dari Hue dan tiba pukul 22.40 di Da Nang.  Penjual karcis sempat bertanya apakah tidak apa-apa kami duduk terpisah-pisah, karena ternyata sebagian besar tiket sudah habis terjual.  Hmm, ya, tidak apa-apalah, yang penting kami bisa berangkat dan tidak ketinggalan pesawat dari Da Nang esok hari!

Setelahnya, kami mendatangi cabang biro wisata tempat kami membeli paket wisata hari sebelumnya.  Petugas menjemput dan membawa kami berjalan kaki sedikit ke jalan Pham Ngu Lao, yang sepertinya merupakan urat nadi pariwisata backpacking di Hue.  Mirip Bui Vien di HCMC, hanya berkali-kali lipat lebih sepi.  Kami diminta menunggu di kantor pusat biro wisata sampai bis yang akan membawa kami datang.  Seperti juga bis kami di HCMC, bis di Hue nyaman dan bagus.  Hanya saja kami membuat bis itu jadi seperti bis antarkota, gara-gara kami berlima heboh membawa barang bawaan berlimpah, sementara tamu-tamu lain santai-santai saja dengan bawaan ringan.

Pemandu kami kali ini, Mr Dang, masih cukup muda dan tidak kalah humoris dengan Mr Hai.  Bahasa Inggrisnya juga bagus.  Dari dialah kami tahu banyak hal mengenai Hue dan sekitarnya.  Pertama-tama, ia membawa kami ke sebuah sentra kerajinan barang-barang khas Vietnam, dan kami pun bisa melihat cara pembuatan caping serta dupa.  Membeli juga boleh, atau sekadar memanfaatkan toilet yang bersih.  Sayang, sepertinya ada sejumlah turis asing yang tidak paham bahwa di beberapa negara seperti Vietnam dan Indonesia, toilet tidak bisa dipakai membuang tisu.  Akibatnya, di dalam toilet ada saja tisu yang menyangkut.

Setelah dari sentra tersebut, kami menuju tujuan utama kami di pagi itu.  Di sekeliling Hue, terdapat sejumlah kompleks makam para kaisar dinasti Nguyen.  Sebagian di antaranya masih direstorasi, sebagian di antaranya tidak terlalu popular di kalangan wisatawan.  Tiga kompleks makam yang paling kerap dikunjungi, dan juga yang paling memukau dari segi arsitektur, adalah makam Kaisar Tu Duc, makam kakeknya, Kaisar Minh Mang, dan makam kaisar boneka Prancis, Khai Dinh.  Sulit menghafal nama-nama kaisar ini?  Mr Dang punya julukan bagi masing-masing raja agar mudah diingat: Smallpox King (Tu Duc), Sexy King (Minh Mang), dan Homosexual King (Khai Dinh).  Alasannya?  Nanti kita tengok satu-satu.

Makam Tu Duc

Salah satu bagian kompleks makam Tu Duc di Hue. Terlihatkah oleh Anda anggota Tim Lompat-lompat?

Meskipun judulnya makam, kompleks-kompleks ini dihiasi bangunan-bangunan megah, pelataran luas, dan taman.  Begitu kami memasuki kompleks makam Tu Duc, misalnya, kami disambut rimbunan pepohonan dan danau, dan harus menyusuri jalan setapak yang cukup jauh sebelum mencapai kumpulan berbagai bangunan.  Kompleks makam ini sudah digunakan bahkan sebelum yang empunya wafat, yaitu sebagai tempat tinggal, meskipun sebetulnya istana kekaisaran Hue ada di benteng kota tua.  Tu Duc pun silih-berganti tinggal di kompleks makam dan benteng tua sesuai tanggal genap atau ganjil.  Wah, apa malah tidak merepotkan, ya, apalagi di zaman dahulu yang belum mengenal mobil?

Malang, meski selirnya banyak, Tu Duc tidak punya keturunan, akibat cacar api parah yang menyerangnya dan membuat tak hanya wajahnya rusak, melainkan juga kemampuannya menghasilkan anak jadi nol.  Tak heran ia selalu dirundung kesedihan, dan ia juga lemah sehingga selain bolak-balik ke makam dan benteng, biasanya ia tidak ke mana-mana lagi.  Makamnya pun dibangun dengan segala sumber kesenangan tersedia baginya.  Ia bisa memancing di danau, berburu di pulau kecil yang ada di tengah danau, menonton teater, dan lain sebagainya.  Bahkan di kompleks tersebut ada istana bagi keseratus selirnya, meski kini yang bisa kita lihat tinggal reruntuhan menyedihkan.  Sayang juga sedang tidak musim bunga teratai, padahal danau Tu Duc pasti indah sekali bila teratai sedang bermekaran.

Jumlah selir yang banyak memang tidak terhindarkan karena pernikahan-pernikahan itu juga bagian dari intrik politik istana.  Para mandarin (yang artinya hulubalang, bukan orang Cina) dan para pembesar lain berlomba-lomba menawarkan putri mereka untuk dinikahi sang kaisar demi mengamankan kedudukan sang ayah.  Kaisar menerima demi menjalin persatuan dan dukungan dari pejabat-pejabat tersebut.

“Zaman dahulu perempuan tidak bisa memilih,” kata Mr Dang, separuh curhat, “tapi sekarang berbeda.  Sekarang mereka yang berkuasa.  Dan saya beberapa bulan lalu memilih untuk mengikuti salah satu di antaranya…”  Ia pun memamerkan cincin pernikahan yang terselip di jari manisnya, memancing suara ‘oooh’ dari sebagian anggota kelompok kami.  “Kalau ditelepon dan disuruh pulang dalam 15 menit, saya harus pulang dalam 15 menit…”  Kami pun tertawa mendengar ceritanya itu.

Pojok lain makam Tu Duc

Pekarangan makam Tu Duc, lengkap dengan mandarin batu.

Berhubung tidak punya anak, Tu Duc menulis sendiri teks yang tertera di prasasti riwayat hidupnya.  Di setiap makam kaisar memang ditegakkan prasasti berukuran raksasa yang menuturkan riwayat sang kaisar, dan berdasarkan tradisi, teksnya seharusnya digubah oleh putra mahkota.  Prasasti-prasasti itu masih dituliskan dalam aksara Cina, yang lantas tak lagi digunakan oleh bangsa Vietnam.  Di pelataran di depan prasasti, terdapat patung batu sejumlah mandarin, kuda, dan gajah.  Ada mandarin militer dan mandarin urusan sosial, seperti bisa terlihat dari jenis pakaian yang mereka kenakan.

Kita juga bisa melihat berbagai hiasan naga—simbol kekuasaan—yang terpasang di atap istana.  Naga adalah motif favorit yang banyak menghiasi bangunan pemerintahan zaman kekaisaran.  Ada pula patung binatang mitos yang disebut ‘unicorn’ oleh Mr Dang, meski bentuknya lebih mirip singa.  Unicorn ini yang lazim dikenal dengan nama qilin di Cina.

Hal lain yang unik dari makam para kaisar adalah posisi tepat tempat peti mati mereka dikuburkan ternyata dirahasiakan.  Jadi, meskipun di dalam kompleks ada berbagai macam bangunan mewah, tak ada satu pun tanda yang dengan jelas menunjukkan makam sesungguhnya sang kaisar.  Ini untuk mencegah orang-orang yang berniat jahat terhadap jenazah almarhum.  Posisi peti mati kaisar yang diketahui dengan pasti adalah peti Khai Dinh, yang makamnya kami kunjungi berikutnya.

Makam Khai Dinh

Undak-undakan berjumlah cukup banyak di bagian depan kompleks pemakaman Khai Dinh.

Makam Khai Dinh, yang disebut Mr Dang ‘Raja Homoseksual’ berbeda dalam hal struktur dari makam-makam lain.  Apabila yang lain sangat dipengaruhi gaya Cina, bahkan meniru Kota Terlarang di Beijing, makam Khai Dinh merupakan campuran berbagai gaya, termasuk Eropa.  Dan alih-alih melebar, makamnya bertingkat-tingkat ke atas, dan dari puncak, digali lubang dalam tempat petinya lantas diturunkan.  Meskipun demikian, di makam ini juga terdapat prasasti riwayat hidup sang kaisar (yang digubah oleh salah seorang mandarin-nya) dan jejeran patung mandarin.

Lumayan juga energi yang harus dihabiskan untuk menapaki semua undak-undakan sampai ke atas.  Tapi kita akan memperoleh imbalan setimpal: dari tingkat-tingkat sebelah atas, kita bisa menyaksikan pemandangan alam yang menakjubkan, dan juga melihat ruang-ruang tempat berbagai foto dan benda lain milik sang kaisar dipamerkan.  Kita juga bisa melihat tahta emas dengan hiasan matahari terbenam—melambangkan kaisar yang wafat—yang tersimpan di makam ini.

Lucunya, saya melihat sebuah patung putih menjulang di kejauhan, di antara pepohonan yang lebat.  Awalnya saya kira itu patung raksasa Yesus atau Bunda Maria yang kerap kita jumpai di wilayah-wilayah mayoritas Katolik.  Eh, ternyata menurut Mr Dang, itu patung Buddha berwujud perempuan (ataukah maksudnya Kwan Im?), yang harus dicapai dengan mendaki tangga yang cukup tinggi.

Oh ya, mengapa Khai Dinh disebut ‘Raja Homoseksual’?  Rupa-rupanya, meskipun punya 4 istri, sang raja lebih senang bersenang-senang bersama para pelayan prianya.  Ia juga senang berdandan, dan di foto-foto hitam putihnya yang masih ada, bisa terlihat ia mengenakan lipstik dan komestik lain.  “Lihat saja, susah kan membedakan yang mana raja, yang mana ratu, dan yang mana ibu suri?”  Mr Dang bertanya seolah menantang kami membuktikan.

Mandarin makam Khai Dinh

Jejeran mandarin batu di makam Khai Dinh.

Mr Dang juga menjelaskan bahwa sebetulnya rakyat Vietnam tidak menyenangi Khai Dinh.  Ia adalah kaisar lemah yang diangkat oleh Prancis justru karena Prancis tahu ia bakal manut saja kepada para penjajah dan tidak menghasilkan keturunan.  Khai Dinh juga amat menggemari hal-hal berbau Eropa.  Dalam salah satu kunjungannya ke Prancis, ia memesan patung dirinya seukuran asli yang kini lantas dipajang di makamnya.  Namun Khai Dinh tetap menginginkan kekuasaan: di makamnya, di mana-mana dipajang naga, seolah ia berharap bahwa dengan semakin banyak hiasan naga yang ada, kelemahannya bisa tertutupi.  Sang kaisar memang tidak popular di kalangan rakyat, namun kini kompleks makamnya menjadi salah satu tujuan pariwisata terkemuka di Hue.  (Kekurangan yang kami dapati di sini: mbak-mbak penjaga kios makanan sungguh jutek, dan harga barang yang dijual juga jadi mahal sekali!)

Kami kemudian menuju kompleks makam Minh Mang yang berusia paling tua di antara ketiga kompleks yang kami singgahi hari itu.  Ia dijuluki Sexy King karena selirnya luar biasa banyak.  “Makanya hidupnya tidak panjang,” Mr Dang berkomentar.  “Satu istri saja, masalah banyak.  Apalagi banyak!”

Bayangkan, pemilihan putra mahkota saja bisa ruwetnya minta ampun.  Pertama-tama, raja akan memilih istri favorit untuk dijadikan ratu.  Kalau sang ratu melahirkan anak laki-laki, beres urusan, itulah putra mahkota.  Kalau tidak?  Ya, raja harus mencari lagi di antara istri-istri favorit tingkat kedua, siapa yang punya anak laki-laki duluan.  Kalau ternyata ada yang melahirkan bersamaan?  Nantinya akan diuji, siapa yang lebih cerdas dan pantas sebagai pemimpin di antara anak-anak itu.  Yang gawat kalau ketika besar, mereka tidak menerima keputusan itu dan bertarung memperebutkan tahta.  Alamak!

Untuk mencapai gerbang masuk kompleks Minh Mang, kami harus berjalan memutari tembok luar yang melingkar.  Beberapa anak dan wanita dengan memelas menawarkan pisang dan buah-buahan lain dengan bahasa Inggris terpatah-patah.  Agak tidak tega melihatnya, tapi saya tidak membeli apa-apa—entah apakah mereka punya izin berjualan di situ atau tidak.

Makam Minh Mang

Jembatan yang melintasi salah satu danau di pemakaman Minh Mang. Pria bertopi adalah pemandu wisata kami.

Makam Minh Mang juga tidak kalah luas, lengkap dengan danau dan taman yang memukau, meskipun dari segi kelengkapan bangunan, makam Tu Duc yang juga merangkap tempat tinggal masih tak terkalahkan.  Di makam Minh Mang, bila kita terus menelusuri jalan sampai ke sebelah belakang, maka kita akan mentok di sederet anak tangga yang berujung di depan sebuah gerbang bergembok di sebelah atas.  Di balik gerbang, terdapat bukit kecil yang rupanya menjadi tempat peti mati si Raja Seksi dikuburkan—meski posisi pastinya juga tak jelas di mana.  Gerbang hanya dibuka setahun sekali, ketika para keturunan raja-raja dinasti Nguyen datang untuk bebersih-bersih.

Ngomong-ngomong, kalau istri dan selir kaisar banyak, tentunya keturunan mereka juga banyak dong ya?  Oh, ternyata menurut Mr Dang, saat ini ada sekitar satu juta orang yang bernama keluarga Nguyen di dunia ini.  (Dua tentara yang dulu menabrakkan tank ke Reunification Palace, HCMC, ngomong-ngomong, bernama Nguyen Van Tap dan Nguyen Van Ky.  Anda juga mungkin ingat bintang film dan komikus Amerika Dustin Nguyen?)

“Nama saya juga Nguyen,” Mr Dang menunjukkan kartu pengenalnya sebagai pemandu wisata, “tapi saya bukan keturunan kaisar.  Mungkin dahulu kakek saya mengganti namanya, supaya bisa dekat dengan kaisar atau dapat keistimewaan karena dikira keluarga raja.”  Ah!  Jadi mungkinkah di antara satu juta manusia yang menyandang nama Nguyen itu juga banyak keturunan orang-orang yang sekadar latah memakai nama keluarga Nguyen?

Dalam sunyi, kompleks-kompleks makam para kaisar menguarkan nuansa kemegahan Vietnam di masa lalu, zaman kekaisaran yang berakhir ketika kaisar Bao Dai mengundurkan diri tahun 1945.  Sang kaisar terakhir terkenal karena kata-katanya “Lebih baik saya menjadi warga sebuah negara yang merdeka daripada menjadi kaisar bangsa yang terjajah”.  Ia beserta keluarganya mengungsi ke Paris, dan akhirnya wafat serta dimakamkan di sana.  Bahkan hingga sekarang, sepertinya tak ada usaha mengembalikan jenazah Bao Dai ke Vietnam, dan keluarganya juga belum pulang ke tanah air.

“Saya tidak mengerti apakah mereka yang tidak menginginkan Vietnam, atau Vietnam yang tidak menginginkan mereka,” sesal Mr Dang, “Padahal bagi saya, mereka silakan datang kapan saja.  Mereka juga orang Vietnam.”  Ah, rupanya itu juga salah satu luka Vietnam yang belum sembuh.

Saat makan siang, kami kembali ke kantor pusat biro wisata yang juga mencakup sebuah restoran.  Kami dijamu dengan 50 macam makanan secara prasmanan, termasuk santapan asli Hue, meskipun air minum harus beli sendiri.  Kesempatan ini kami manfaatkan mengisi perut yang ternyata lapar sekali setelah terakhir diisi pagi tadi, meski kami harus berhati-hati karena sebagian makanan yang terhidang mengandung daging babi. Tapi kalau Anda tidak berpantang sih, sikat saja!

Usai bersantap, biro pariwisata mengajukan dua pilihan.  Pertama, yang sudah mengunjungi benteng Hue, boleh langsung naik dragon boat menyusuri Perfume River.  Kedua, untuk yang belum, akan kembali ikut bis ke benteng Hue, baru nanti berkumpul kembali dengan rombongan pertama di Pagoda Thien Mu dan pulang dengan dragon boat.  Kami ikut rombongan kedua dan kembali naik ke atas bis.

Citadel Hue 5 Phoenix

Bagian dalam Citadel Hue, terlihat dari Paviliun Lima Phoenix.

Kota kekaisaran lama—termasuk benteng (citadel) Hue—adalah tempat yang wajib dikunjungi saat berada di Hue.  Kompleks kekaisaran dikelilingi oleh parit besar dan tembok pertahanan tinggi yang masih terlihat kokoh.  Saat ini, kompleks kekaisaran masih menjalani proses restorasi besar-besaran, karena sebagian bangunan dalam kompleks tersebut hancur saat perang dalam peristiwa yang disebut Serangan Tet.  Akan tetapi, saat ini pun sudah cukup banyak yang bisa kita lihat di situ, mulai dari tiruan Kota Terlarang di Cina, Menara Bendera, Paviliun Hien Lam dengan sembilan tempayan raksasa, Paviliun Ngu Phun, dan banyak lagi.  Kompleks ini sangat luas, dan barangkali perlu waktu berjam-jam untuk meneliti setiap sudutnya dengan berjalan kaki menapaki jalan berbatu apik yang dinaungi rimbunan pohon.

Bis tidak bisa masuk melalui gerbang kota lama, sehingga diparkir di tempat parkir merangkap pasar kecil yang jaraknya lumayan jauh juga dari benteng.  Belum-belum keringat sudah kembali bercucuran!  Kami disambut oleh empat dari sembilan meriam suci yang melambangkan ruh dinasti Nguyen penjaga kota.  (Lima meriam lagi ada di sisi barat kota lama.)  Kemudian dari kejauhan, bisa terlihat Menara Bendera (Ky Dai) bersusun tiga.  Di puncaknya, berkibar bendera Vietnam raksasa, sementara di tingkat-tingkat sebelah bawah terpasang foto Paman Ho dan sejumlah spanduk.  Rupa-rupanya Hue sedang bersiap-siap menyambut peringatan ke-35 penyatuan kembali Vietnam, dan akan ada acara besar yang digelar di kota tua minggu depan.

Parit sekitar Citadel Hue

Parit pertahanan yang mengelilingi Citadel Hue.

Rombongan kami masuk melalui Gerbang Selatan—pintu utama bagi turis untuk keluar-masuk—dan lantas terpencar-pencar.  Aneh juga rasanya, meski berpuluh-puluh menit waktu yang kami habiskan di benteng, tak sekali pun kami berpapasan dengan anggota rombongan kami yang lain!  Barangkali inilah bukti betapa luas bagian dalam benteng—keliling luarnya adalah 2 km x 2 km—dan betapa banyak yang bisa dilihat serta dilakukan.  Kita bisa berfoto ala raja dan ratu Vietnam zaman dahulu dengan pakaian sewaan, mengendarai atau sekadar berfoto bersama gajah, sampai memberi makan ratusan ekor ikan koi di danau di depan tiruan Istana Terlarang.

Ukiran naga timbul Citadel Hue

Ukiran naga timbul yang amat indah di salah satu sudut Citadel Hue.

Saya dan Mel juga sangat antusias melihat kesembilan tempayan raksasa yang lagi-lagi melambangkan kesembilan pelindung kota dari dinasti Nguyen.  Kami juga menyempatkan naik ke Paviliun Ngu Phun (Lima Phoenix) yang mengungkungi Gerbang Selatan.  Dari paviliun tempat genderang raksasa terpasang itu, kita juga bisa memperoleh pemandangan luas dan indah ke arah dalam benteng sekaligus ke arah Menara Bendera dan parit keamanan di sekeliling benteng.

Oleh karena lelah, kami memutuskan kembali ke bis untuk mencuri-curi sholat di bis mumpung turis-turis lain belum kembali untuk kembali melanjutkan perjalanan.  Sejumlah pengemudi siklo dengan bersemangat menawarkan mengantar kami berkeliling kota kekaisaran tua.  Sayang sekali, kami tidak punya waktu, meskipun tawaran mereka itu sangat menarik.

Sambil berjalan kaki menuju bis, saya dan Mel membeli kaus Hue yang dijajakan di pinggir jalan.  Harganya membuat kami melotot saking murahnya, yaitu 20.000 Dong.  Nah, ini juga bisa jadi oleh-oleh yang lumayan ekonomis dari Hue.

Yang juga tak boleh luput didatangi adalah Pagoda Thien Mu (Heavenly Lady), yang terletak di tepi Perfume River.  Kapal rombongan kami sudah tiba sewaktu bis kami sampai di sana, dan karena kami tidak akan menggunakan bis lagi, saya dan teman-teman menurunkan tas-tas kami yang berat dan meletakkannya di atas kapal.  Baru kemudian kami mendaki undak-undakan di sebelah depan kompleks pagoda yang dibangun oleh tuan tanah Nguyen pertama yang menguasai wilayah tersebut setelah memperoleh ramalan dari seorang wanita tua misterius.

Thien Mu istimewa bukan hanya karena bangunan-bangunannya yang menarik, melainkan juga karena merupakan tempat asal biarawan Thich Quang Duc yang membakar diri di Sai Gon tahun 1963 sebagai protes terhadap penindasan agama Buddha oleh pemerintahan Katolik Vietnam Selatan.  Foto peristiwa menggemparkan itu mungkin masih terekam di benak Anda saat ini.  Konon saat membakar diri, tak sepatah pun keluhan atau erang kesakitan yang keluar dari mulut sang biarawan.  Jantungnya pun ternyata utuh, tidak terbakar.  Aksi Thich Quang Duc yang menggetarkan ini bahkan ditiru sejumlah pemrotes anti-perang Vietnam.

Kompleks biara Hue

Salah satu bangunan di kompleks Biara Thien Mu.

Di kompleks biara itu masih tersimpan mobil yang membawa sang biarawan ke Sai Gon, simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan pihak yang berkuasa.  Repro foto pembakaran diri Thich Quang Duc juga dipajang.  Kebetulan saat peristiwa itu, hanya satu jurnalis dan pewarta foto asing yang hadir.  Sebetulnya maksud beserta lokasi yang direncanakan Thich Quang Duc sudah diumumkan sebelumnya, namun pada saat itu, sudah terlalu banyak berita mengenai perang yang berseliweran sehingga pengumuman itu tak terlalu dipedulikan kecuali oleh kedua wartawan itu.  Merekalah yang lantas menjadi corong yang menyuarakan kesaksian keteguhan sang biarawan renta.

Hal lain yang menarik untuk dilakukan di Thien Mu adalah berfoto bersama patung-patung kura-kura raksasa.  Kura-kura adalah salah satu hewan mitos paling penting di Vietnam, yang berkaitan dengan asal-muasal negeri tersebut, seperti yang bisa kita tonton sebagai salah satu kisah yang dipentaskan sebagai wayang air.  Konon, kalau ingin kembali ke Vietnam lagi, jangan lupa menyempatkan diri berfoto bersama salah satu patung kura-kura itu.

Mobil di Thien Mu

Mobil yang membawa Thich Quang Duc ke Saigon untuk membakar diri, dipamerkan di Thien Mu.

Kini, Thien Mu terasa teduh dan damai, tempat para biksu muda menuntut ilmu dan melatih diri.  Air kolam yang disemarakkan teratai nyaris tak beriak.  Thich Quang Duc barangkali akan bahagia bila bisa melihat bahwa protesnya tidak sia-sia: kehidupan beragama yang damai telah kembali ke negeri yang ia cintai.

Kami kembali ke Hue menggunakan dragon boat yang menyusuri Perfume River yang, duhai, alangkah bersihnya, sampai membuat kami iseng menghitung jumlah sampah buatan manusia yang terlihat (jawab: tiga).  Nahkoda kapal santai sekali, hampir sepanjang waktu mengendalikan kemudi dengan kakinya saja.  Perfume River lebar, tenang, dan bersih, sehingga tidak banyak gangguan yang memaksa ia bersusah-payah.  Tepiannya tampak landai, dan di banyak bagian dilapisi rumput yang terlihat lembut dan nyaman untuk diduduki.  Sungguh beruntung para penduduk Hue, memiliki kota yang demikian indah!

Perjalanan berakhir di dermaga tempat semalam kami duduk-duduk.  Mr Dang betul-betul pemandu wisata yang mengurusi tamu-tamunya sampai akhir: ia menunjukkan jalan kembali ke hotel masing-masing bagi yang belum kenal jalan.  Oleh karena jadwal keberangkatan kereta masih lama, dan tubuh sudah lengket akibat cucuran keringat seharian, kami menanyakan kepada Mr Dang apakah ia tahu di mana kami bisa menyewa kamar untuk beberapa jam saja agar kami bisa mandi dan beristirahat.  Ia tampak berpikir keras, lantas meminta maaf karena tidak tahu.  Akhirnya kami mengucapkan terima kasih dan berpisah darinya.

Kami menyusuri trotoar, mencari-cari restoran atau penginapan untuk rehat sejenak.  Baru hendak duduk di sebuah restoran di depan Century Riverside Hotel, tiba-tiba Mr Dang muncul lagi, mendatangi kami dengan terburu-buru.  “Teman-teman, saya temukan tempat di mana kalian bisa mandi!  Ayo, ikuti saya!”

Astaga!  Kami tercengang.  Saking bertanggung-jawabnya ia, Mr Dang menanyai sejumlah penginapan, dan bergegas menyusul kami untuk memberitahukan tempat sesuai keinginan kami yang ia temukan.  Betul-betul pemandu wisata jempolan!  Kami pun segera mengikuti ia.

“Di sana tidak bisa menginap jam-jaman, sih, tapi bisa menumpang mandi,” Mr Dang menjelaskan sambil berjalan.  “Kalian juga bisa makan dan minum.”  Sungguh tak terkira rasa terima kasih kami bagi Mr Dang!

Dragon boat di Perfume River.

Perjalanan menyusuri Perfume River yang damai di atas dragon boat.

Tempat yang dimaksud Mr Dang adalah Backpacker’s Hostel (10 Pham Ngu Lao street) Lantai bawah bangunan itu adalah restoran, sementara bagian atas adalah kamar-kamar yang disewakan untuk backpacker.  Hanya dengan membayar 10.000 dong untuk handuk bersih (meski agak belel), kami bebas menggunakan kamar mandi bersih berpancuran di lantai bawah untuk membersihkan diri.  Sambil bergantian mandi, kami juga makan dan minum sekadarnya di restoran hostel.

Eh, waktu saya mandi, teman-teman saya dihampiri bule-bule ganteng yang rupanya penasaran melihat tampang-tampang dan juga mungkin bahasa kami.  Rupa-rupanya mereka pernah menghabiskan sebulan di Indonesia, dan mereka pun memuji-muji negeri kita.  Bangga sih mendengarnya, tapi mbok ya ngobrolnya bukan pas saya mandi!

Puas mandi, kami kembali ke restoran yang tadinya hendak kami singgahi sewaktu Mr Dang memanggil kami.  Soalnya, makanan di situ relatif lebih murah.  Setelah mengisi perut, kami menghentikan sebuah taksi untuk mengantar kami ke stasiun kereta.  Supir kami kali ini juga baik sekali.  Dengan bahasa Inggris yang lancar, ia bertanya kami berasal dari mana.  Ia bahkan meminta kami menyanyikan lagu Indonesia!  Akhirnya taksinya pun ramai oleh dendangan.  Keramahan orang-orang seperti Mr Dang dan supir taksi inilah yang membuat pengalaman di Hue sungguh berkesan.  Terlupa deh perlakuan agak tidak mengenakkan sewaktu check-out dari hotel.  Eh, barusan saya mengingatnya lagi!

Alam Vietnam dari makam Khai Dinh

Pemandangan permai alam Vietnam Tengah yang terlihat dari kompleks pemakaman Khai Dinh.