Bangkok Juni 2012

This post is about Thailand

Wah, akhirnya saya punya waktu juga untuk menuliskan sedikit tentang perjalanan saya ke Bangkok pada bulan Juni 2012 kemarin.  Dari perjalanan yang kesekian kali ini, saya akan ceritakan beberapa hal yang belum pernah saya bahas sebelumnya ya.  Soalnya, ada beberapa tempat yang saya kunjungi lagi dan memang tidak bisa tidak saya kunjungi kalau ke Bangkok, seperti daerah Siam Central dengan MBK, Siam Paragon, pusat seni dan lain-lain.  Sedikit pembaruan kabar: sewaktu saya ke sana, Siam Discovery masih beroperasi seperti biasa.  Tetapi sekarang pusat perbelanjaan itu sedang ditutup untuk renovasi sampai akhir tahun, sehingga sedang tidak bisa dikunjungi.

Di berbagai penjuru, kita bisa temukan seni.

Kabar lain, akhirnya saya mencicipi juga naik jalur kereta layang terbaru, yang menghubungkan bandara dengan Phaya Thai.  (Dari Phaya Thai ini kita bisa meneruskan naik kereta ke arah Mo Chit/Chatuchak atau ke arah Siam Central dan lain-lain.)  Jalur kereta ini, selain mempermudah transportasi bagi para penduduk Bangkok, tentu saja membuat akses ke beberapa daerah Bangkok semakin gampang bagi para wisatawan.  Salah satu stasiun kereta yang terletak di jalur ini hanya berjarak selemparan batu dari Pratunam Market (tempat berbelanja tekstil dan pakaian jadi yang ternama di Bangkok, semacam Tanah Abang) dan Hotel Baiyoke Sky, bangunan tertinggi di Bangkok.  Ngomong-ngomong nama hotel itu dibaca ‘baiyok’.

Saya juga sempat mengunjungi lagi Chulalongkorn University, universitas kenamaan se-Thailand, yang menempati kompleks luas dan lengkap tak jauh dari daerah Siam Central.  Seperti di universitas-universitas lain, para mahasiswa dan mahasiswi di universitas dengan warna kebesaran ini mengenakan seragam.  Mahasiswa tahun pertama bisa dikenali karena beberapa ciri, misalnya rok yang panjangnya seragam, selutut.  Nanti setelah tahun kedua, meski tetap mengenakan seragam hitam-putih, seragam tersebut bebas mereka modifikasi.

Eh, di universitas ini saya melihat salah sebuah bis yang memajang wajah Nichkhun Horvejkul, idola Thailand yang merupakan anggota boyband Korea 2PM.  Hayo hayo siapa mau naik…

Wat yang saya kunjungi kali ini adalah Wat Traimit Wittayaram di daerah Yaowarat alias Pecinan Bangkok.  Wat yang buka Selasa-Minggu (Senin tutup) dari pukul 8 pagi sampai 5 sore ini kerap dikunjungi wisatawan untuk melihat patung Buddha emas yang diletakkan di lantai paling atas.  Bila Anda hanya hendak melakukan ini, maka wat tidak memungut biaya untuk masuk.  Penduduk setempat masih aktif beribadah di wat ini, sehingga tolong hormatilah mereka bila Anda ingin melihat-lihat dan mengambil gambar di dalam ruang penyimpanan patung Buddha tersebut.

Wat ini penting karena suatu alasan lain yang sering terlewatkan oleh wisatawan, yaitu dilengkapi dengan museum kecil yang tidak hanya menceritakan tentang sejarah patung Buddha emas dan pendirian wat, melainkan juga sejarah Yaowarat dan warga Thai keturunan Cina secara umum.  Museum tersebut terletak di dua lantai di bawah ruang patung Buddha emas.  Cukup membayar 100 baht (sekitar Rp 30 ribu saja) untuk memperoleh akses ke dua lantai itu.  Lepaskan sepatu, masukkan ke dalam kantong khusus tas, dan bawalah sepatu Anda seraya melihat-lihat di sebelah dalam.

Tiketnya hanya sekecil ini lho. Awas hilang.

Di lantai yang pertama, kita bisa menelusuri sejarah warga Thai keturunan Cina melalui berbagai model, pajangan, dan diorama.  Ada ruangan yang dibuat menyerupai palka kapal-kapal yang dulu membawa mereka ke Thailand.  Bagian yang seharusnya merupakan jendela tingkap ke geladak sebenarnya adalah layar-layar yang seolah-olah menampilkan langit, yang berubah-ubah dari cerah hingga berbadai.  Kita pun bisa merasakan sekelumit pengalaman para pemberani yang menempuh pelayaran sulit di masa lalu, sehingga tiba di tanah yang lantas menjadi rumah bagi mereka dan keturunan mereka.

Sementara di lantai dua, kita bisa mempelajari sejarah wat dan patung Buddha emas.  Ternyata dulu patung tersebut terselubung cat yang menyebabkan orang banyak tidak mengetahui betapa besar nilai ekonomi patung itu.  Sewaktu patung tersebut sedang dalam proses dipindahkan ke tempat yang baru, turun hujan badai dan ada tali penahan yang putus.  Patung Buddha tersebut tergesek dan terungkaplah emas yang tadinya disembunyikan.

Sedikit catatan, beberapa bagian museum ini sebenarnya agak menyeramkan bila ditempuh sendirian, saking riilnya model-model manusia yang menampakkan kehidupan sehari-hari nenek-moyang warga Thai keturunan Cina.  Kalau bulu kuduk mudah merinding, mendingan ajak teman yah.

Soal makanan, seperti biasa saya tidak pernah bermasalah di Thailand.  Saya sempat mencicipi beberapa restoran, di antaranya restoran Muslim halal Sophia.  Sayang saya lupa mencatat alamatnya, dan saya ke situ pun diantarkan orang.

Hotel yang saya tempati selama perjalanan kali ini adalah Royal View Resort (BTS terdekat: Victory Monument) dan Indra Regent di Hotel.  Royal View Resort terletak di daerah yang lebih tenang, jauh dari keramaian, dan bahkan kita harus memasuki jalan kecil untuk menemukannya.  Sementara Indra Regent terletak di Pratunam yang ramai, bahkan tersambung dengan pusat perbelanjaan.  Namun keduanya buat saya sama nyamannya.  Kamar-kamarnya luas, tidak mahal, dan sudah dilengkapi dengan buffet sarapan yang bisa memberikan energi untuk seharian menjelajahi Bangkok.

Advertisements

Panduan ringkas menonton konser Laruku di Hong Kong dan Bangkok

This post is about China This post is about Thailand

Band rock raksasa Jepang, L’arc-en-Ciel alias Laruku, menggelar tur dunia!  Sayang sepertinya negara kita belum kebagian menjadi bagian dari tur mereka ini.  Namun bagi yang berniat mengejar mereka ke dua kota terdekat tempat konser Laruku tahun ini diselenggarakan – Hong Kong dan Bangkok – semoga tulisan kami berikut ini membantu.  Siapa tahu, kalaupun bukan Laruku, suatu hari Anda berkesempatan menonton konser bintang lain di kedua kota tersebut.

HONG KONG

Tempat penyelenggaraan: Asia-World Expo

Untuk melihat panduan umum kami mengenai Hong Kong, silakan cek artikel kami yang ini.

Di mana membeli tiket?

Anda bisa membeli tiket pertunjukan melalui HK Ticketing.  Desain situsnya memang agak ‘jadul’ dan tidak begitu enak dilihat, namun cukup mudah untuk pembelian tiket dengan menggunakan kartu kredit.  Cetak bukti pembelian, dan nanti setelah sampai di Hong Kong, tukarkan bukti pembelian dengan tiket sungguhan di cabang Tom Lee Music mana saja.  (Bisa Anda cek di Google di mana cabang TLM terdekat dengan tempat Anda menginap.)

Contoh tiket asli hasil penukaran bukti pembelian melalui HK Ticketing di Tom Lee Music.

Di mana sebaiknya menginap?

Di sekitar Expo dan bandara sebenarnya ada beberapa hotel, namun semuanya tergolong mahal.  Bila Anda tidak keberatan sih tidak apa-apa.  Namun untuk yang mencari penginapan murah-meriah, carilah penginapan di daerah Kowloon.  Cari yang sedekat mungkin dengan jaringan kereta MTR (ya, bukan MRT, yang ini singkatan dari Mass Transit Railway), misalnya di sekitar Mongkok.  Di Mongkok juga mudah memperoleh berbagai kebutuhan dan dekat dengan beberapa objek wisata lain Hong Kong, seandainya Anda ada waktu lebih untuk menjelajahi kota tersebut selain menonton konser.

Bagaimana mendatangi tempat konser?

Bisa dengan taksi (yang jelas akan menyita banyak uang), bis (biasanya ada rute dan potongan harga khusus bila ada acara di Asia-World Expo), atau kereta bandara (Airport Express).  Cek sebelum konser, barangkali ke situs Asia-World Expo, apakah ada potongan harga untuk pemegang tiket konser yang ingin menggunakan Airport Express!  Biasanya untuk memperoleh potongan harga itu, selain tiket konser, Anda juga harus memegang Kartu Octopus.  (Lihat artikel kami soal Hong Kong yang kami tautkan di atas untuk mengetahui tentang Kartu Octopus, ya!)  Misalnya,  kami pernah memperoleh potongan harga tiket Airport Express bolak-balik dari 100 HKD menjadi 48 HKD saja dengan menunjukkan tiket konser kami.  Bahkan yang naik dari Stasiun Tsing Yi waktu itu dibolehkan menumpang Airport Express dengan gratis!  Cepat, nyaman, dan tergolong murah, bila dibandingkan dengan taksi.

Airport Express ini bisa Anda naiki dari beberapa stasiun saja: Hong Kong, Kowloon, dan Tsing Yi.  Bila Anda menginap di Mongkok, naiklah MTR ke stasiun Central, lalu berjalankakilah mengikuti petunjuk ke stasiun Hong Kong (tidak perlu keluar ke atas tanah).

Namun harap diingat bahwa MTR tidak berjalan 24 jam!  Biasanya antara jam 11-12 malam, kereta-kereta terakhir meninggalkan stasiun keberangkatan paling ujung.  Dulu saya dan teman juga terpaksa berlari-lari demi mendapatkan kereta terakhir menuju Kowloon!  Kalau sampai ketinggalan, persiapkan diri mempergunakan moda transportasi lain.

Pemandangan di dalam Asia-World Expo.

BANGKOK

Tempat penyelenggaraan: Impact Arena

Untuk melihat panduan umum kami mengenai Bangkok, silakan cek artikel kami yang ini.

Di mana membeli tiket?

Manfaatkan situs pembelian tiket daring Thai Ticket Major.  Seperti juga HK Ticketing, nantinya bukti pembelian Anda harus ditukarkan dengan tiket asli di salah satu cabang atau outlet TTM.  Salah satunya ada di mal Siam Paragon yang terletak di pusat kota Bangkok dan mudah dicapai dengan kereta BTS.

Di mana sebaiknya menginap?

Meskipun backpacker banyak yang menyenangi Khao San Road, bila Anda ingin mudah berkeliling dengan sky train/BTS dan subway, saya menyarankan Anda mencari penginapan yang tidak jauh dari rangkaian kereta-kereta tersebut.  Saya biasanya mencari penginapan di daerah Sukhumvit.

Bila ingin mencoba apart’hotel yang tergolong murah untuk fasilitas yang tersedia, cobalah salah satu cabang Citadines yang ada di daerah Nana.  Apart’hotel ini sangat nyaman, dan cabang-cabang Citadines terletak tak jauh dari stasiun BTS Nana, dikelilingi sejumlah tempat keramaian termasuk yang hanya ramai kala malam.  Mudah mencari makanan dan berbelanja ini-itu di daerah tersebut.  Pilihan lain, bisa coba Hi-Sukhumvit, guest house yang sederhana namun bersih yang juga terletak tidak jauh dari stasiun BTS Thong Lo.  Daerah di sekitar Hi-Sukhumvit lebih tenang dan tidak ‘seajeb-ajeb’ Nana.

Di apart’hotel semacam Citadines, selain kamar yang luas dan perlengkapan dasar yang lengkap, ada pula dapur dengan peralatan memasak dan makan yang komplit sehingga Anda bisa menyiapkan makanan sendiri.

Selain dua alternatif yang kami tawarkan, masih banyak penginapan menarik, aman, bersih dengan harga terjangkau di Bangkok.

Bagaimana mendatangi tempat konser?

Sebenarnya, Impact Arena tidak terletak di dalam kota Bangkok, melainkan cukup jauh keluar di sebelah utara.  Bila tidak mau repot, apalagi kalau bersama teman-teman, bisa naik taksi langsung dari tempat menginap ke Arena.  Taksi di Bangkok tidak begitu mahal apalagi bila dibayar bersama oleh beberapa orang.  Atau, biar tidak repot mencari kendaraan pulang, cobalah menyewa mobil yang akan menunggu sampai konser usai.  Anda mungkin harus melewati jalan tol.

Bila ingin lebih murah, naiklah BTS ke stasiun Mo Chit (stasiun tujuan yang sama dengan bila Anda ingin mengunjungi Pasar Chatuchak).  Dari sini bisa naik taksi, atau menumpang shuttle bus yang harganya hanya beberapa puluh baht.

Semoga tulisan pendek kami membantu Anda yang hendak menonton konser ke dua kota tersebut.  Bagi-bagi cerita ya tentang pengalaman Anda nanti!

Beberapa Gagasan Menghabiskan Waktu di Bangkok

Tulisan berikut ini saya tulis atas permintaanTitin yang akan mengunjungi Bangkok di bulan Oktober.  Semoga tulisan ini membantu, ya!

This post is about Thailand

Bangkok pada khususnya dan Thailand pada umumnya telah menjadi salah satu tujuan pariwisata luar negeri utama wisatawan Indonesia, terutama semenjak maskapai penerbangan AirAsia membuka jalur langsung dari beberapa kota Indonesia menuju Bangkok.  Dalam tulisan berikut ini, saya menjabarkan beberapa gagasan kegiatan yang bisa Anda lakukan di Bangkok.

Telusuri Chao Phraya

Kami pernah menjabarkan cara menelusuri sungai yang menjadi nadi utama kota Bangkok lama ini di tulisan ini.  Nikmati semarak aktivitas penghuni Bangkok di Chao Phraya saat siang hari.  Perhatikanlah keanekaragaman bangunan lama bersejarah maupun bangunan baru bergaya modern, juga bermacam-macam tempat peribadahan berbagai agama yang berdiri mengapit Chao Phraya.  Tampak wat, masjid, dan gereja tegak berselang-seling.  Susuri pula sungai ini di malam hari, ketika lampu-lampu sengaja menyoroti bangunan-bangunan utama sehingga terlihat dramatis.

Suasana di feri untuk turis.

Salah satu sudut Maharaj Pier. Turunlah di sini bila hendak menuju Grand Palace.

Kunjungi Grand Palace dan Vinmanmek Mansion

Rasanya kalau ke Bangkok tapi belum ke Grand Palace, agak kurang afdol, ya.  Di kompleks istana berukuran 218.000 meter persegi ini terdapat sejumlah bangunan penting, baik yang masih berfungsi sebagai kantor pemerintah, museum, tempat peribadahan, maupun tempat tinggal kerabat raja.  (Raja sudah tidak lagi tinggal di Grand Palace.)  Tidak hanya bergaya khas Thailand atau Indocina, ada pula bangunan-bangunan bergaya Barat, ataupun yang campuran.

Yang perlu diingat, berpakaianlah yang sopan bila hendak memasuki Grand Palace.  Bila pakaian Anda (baik laki-laki ataupun perempuan) terlalu terbuka, misalnya mengenakan celana pendek, maka Anda akan diminta mengenakan pakaian tertutup yang disediakan pihak istana.  Selain itu, bila Anda datang tepat di hari ulang tahun raja (5 Desember), maka di pagi hari Anda tak boleh memasuki kompleks istana tersebut, yang dijadikan tempat pusat perayaan.  Siang harinya, Anda boleh masuk dengan gratis, tetapi hanya ke bagian tempat wat-wat berada, ini pun menumpangi keistimewaan yang diberikan kepada warga Thailand untuk mengunjungi The Royal Monastery of the Emerald Buddha secara gratis agar bisa berdoa untuk sang raja.

Di area Royal Monastery, tak hanya menyambangi sang Buddha Jamrud yang  tersohor, kita juga bisa melihat, antara lain, Phra Siratana Chedi, Phra Mondop, dan model Angkor Wat.  (Sekadar info: nama kota di Kamboja tempat Angkor Wat berada saat ini, Siem Reap, berarti ‘Siam Ditaklukkan’.  Dan keberadaan model Angkor Wat ini di kompleks Grand Palace kiranya juga menjadi jejak hubungan antara Thailand dan Kamboja yang kerap sulit, bahkan hingga kini.)

The Royal Monastery menampilkan keunikan agama Buddha yang dianut oleh sebagian besar penduduk Thailand.  Perhatikanlah patung-patung raksasa yang menjulang, dan juga mural Ramakien (Ramayana) berhias emas yang terpajang di tembok yang mengelilingi Wat Phra Kaeo.  Tunggu sebentar.  Ramayana?  Lalu… patung dewa-dewa ini… tidakkah lebih Hindu daripada Buddha?

Ya, memang benar.  Agama Buddha di Thailand dipengaruhi  agama Hindu.  Bahkan berdasarkan hasil bincang-bincang saya dengan seorang kenalan yang berasal dari Goa, India, Thailand adalah satu dari hanya dua tempat di dunia ini di mana terdapat kuil yang dikhususkan untuk Brahma, godhead dalam trimukti agama Hindu.

Ngomong-ngomong, perhatikanlah patung-patung yang menghiasi sejumlah bangunan di kompleks Royal Monastery.  Bisakah Anda bedakan, yang mana yang demon, yang mana yang monyet?  Kalau setelah ke sana Anda belum tahu juga, silakan hubungi kami ya…

Yang juga tidak bisa dilewatkan saat berada di Grand Palace adalah… mencicipi susu segar dan dingin yang dijual tak jauh dari Aula Amarindra Winitchai dan Chakri Maha Prasat (yang bagian bawahnya difungsikan sebagai museum senjata).   Apalagi kalau Anda mengunjungi Grand Palace ketika cuaca sedang panas-panasnya—misalnya, saat bulan Juli—susu berbagai rasa dari peternakan kerajaan ini terasa sungguh menyegarkan dan memompa semangat kembali!

Chakri Maha Prasat

Pergantian penjaga juga bisa menjadi atraksi menarik di Grand Palace.

Oya, sekeluar dari Grand Palace, jangan keburu membuang tiket Anda, karena masih ada satu tempat lagi yang bisa Anda datangi dengan tiket tersebut, yaitu Vinmanmek Mansion.  Jaraknya agak jauh dari Grand Palace, sehingga gunakanlah taksi atau tuktuk menuju tempat tersebut.  Hati-hati, taksi yang mangkal di sekeliling Grand Palace biasanya memang mengincar wisatawan dan ogah pasang argo.  Atau, mereka mau mengantarkan dengan harga murah asalkan kita mau mereka bawa mampir-mampir dulu ke sejumlah toko atau tempat pembelanjaan.  Alasannya, agar mereka mendapat cap dari masing-masing toko untuk mendapatkan bensin gratis.  Kalau punya waktu banyak, coba saja ikut mereka ke toko-toko itu, yang terkadang menawarkan barang-barang bagus dengan harga murah.  Tidak beli juga tidak apa-apa.  Namun bila ingin langsung ke Vinmanmek Mansion, bersikeraslah minta diantar langsung.  Mungkin mereka akan minta 100 Baht untuk menuju kompleks tersebut.

Ini bukanlah Vinmanmek Mansion, melainkan salah satu gedung di dalam kompleksnya. Mansion-nya sendiri sulit untuk dipotret.

Vinmanmek adalah istana dari kayu jati emas bergaya Eropa yang dahulu menjadi tempat tinggal keluarga raja.  Bangunan beserta segala perabot dan barang-barang yang tersimpan di dalamnya sungguh indah.  Namun untuk memasukinya, peraturan cukup ketat.  Yang pertama, Anda harus meninggalkan tas dan kamera di dalam locker berkunci otomatis yang tersedia.  Hati-hati, sekali buka pintu locker, biayanya 30 Baht.  Saya pernah ketinggalan mengambil sesuatu dari tas, dan harus kembali merogoh 30 Baht dari kocek untuk membuka pintu sekali lagi!

Wisatawan diizinkan keluar-masuk dengan selang waktu tertentu, antara 30-45 menit sekali.  Waktu masuk wisatawan berbahasa Thailand dan berbahasa asing juga dipisah, seturut ketersediaan pemandu.  Kita harus menunggu dengan sabar sampai pintu dibuka lagi untuk wisatawan—yang harus melewati pemeriksaan sinar X.  Sejumlah petugas siap memandu kita dan memberikan berbagai informasi mengenai Vinmanmek Mansion, termasuk sejarah koleksi barang wastu tersebut yang mengundang decak kagum.  Bahkan saat cuaca panas mengamuk di luar, bagian dalam wastu dan taman sekelilingnya tetap sejuk.

Bila sempat, kunjungi juga beberapa museum kecil yang masih terletak di kawasan Vinmanmek Mansion.

Berbelanja

Bagi yang hobi berbelanja, memang Bangkok tempat yang pas untuk memuaskan kegemaran Anda itu.  Kalaupun Anda hanya berniat mencari oleh-oleh, tidak usah khawatir karena banyak cenderamata unik, murah, dan meriah yang bisa Anda peroleh.

Bila melewatkan akhir minggu di Bangkok, kunjungilah pasar Chatuchak yang hanya buka Sabtu dan Minggu.  Cara mudah menuju tempat tersebut adalah naik BTS, turun di stasiun Mo Chit.  Setelahnya, tinggal keluar dari stasiun dan berjalan sedikit, dan voila, Anda telah tiba di pasar tradisional yang luas dan berpotensi cukup besar menyesatkan orang ini.  Telusurilah lorong demi lorong, menawarlah bila bisa, yang penting… tetap waspada, karena pencopet dan penjambret berkeliaran mengincar para wisatawan yang lengah.

Kalau tidak sempat menyambangi Chatuchak, jangan khawatir.  Di pasar malam dan kawasan-kawasan wisatawan seperti Nana Sukhumvit, mudah ditemukan toko atau kios kaki lima yang menjajakan barang-barang yang sama dengan yang dijual di Chatuchak.

Ingin berbelanja ‘gaya modern’?  Pusat-pusat perbelanjaan siap menyambut Anda.  Yang saya paling doyan kunjungi adalah kawasan Pathumwan Junction (naik BTS bisa turun di Siam Square atau National Stadium).  Sejumlah pusat perbelanjaan ternama yaitu MBK, Siam Paragon, dan Discovery Center merubung persimpangan tersebut.  MBK terutama sangat popular karena berbagai barang murah berkualitas bagus dan foodcourt yang memikat.  Di sini juga ada mushola untuk yang perlu menunaikan salat di tengah-tengah berwisata.

Siam Paragon lebih mewah daripada MBK, dan menjadi favorit saya antara lain karena di sinilah terletak salah satu cabang Kinokuniya Bangkok.  Saya juga menyenangi Paragon karena di bawah tanahnya terdapat foodcourt yang menyediakan makanan halal.  Terlebih dulu, tukarkan deposit uang (misalnya 200 Baht) dengan kartu magnetik, yang lantas Anda berikan kepada penjaga kedai makanan.  Deposit Anda akan dipotong sesuai harga makanan dan minuman yang Anda pesan.  Setelah selesai makan, tukarkan kembali kartu untuk memperoleh sisa uang.

Daya tarik lain Paragon adalah hypermarket Gourmet Market (tempat berbelanja kebutuhan sehari-hari ataupun oleh-oleh seperti cokelat) beserta kios-kios makanannya yang menggugah selera.  Ada pula Siam Ocean World yang memungkinkan kita seolah memasuki laut untuk melihat-lihat kehidupan di dalamnya.

Jembatan pejalan kaki yang menghubungkan MBK dengan stasiun BTS National Stadium dan Siam Paragon/Discovery.

Kalau soal makanan, jika Anda lapar saat sedang berjalan-jalan namun tidak ingin makanan berat, cobalah kunjungi kedai-kedai makanan di stasiun-stasiun BTS.  Macam-macam yang mereka tawarkan, mulai dari kue-kue manis sampai sushi siap makan.  Pokoknya, asal jangan disantap di dalam kereta.

Untuk yang ogah barang palsu atau KW2, produk bermerk asli Thailand yang saya rekomendasikan adalah Jim Thompson (kain, tas, dompet, dan lain-lain) serta arloji Link Graphix, yang menampilkan karya para desainer muda Thailand.

Menonton bioskop

Menonton bioskop?  Hmmm… apa istimewanya?  Ada sensasi tersendiri, lho.  Yang pernah saya coba adalah menonton di bioskop Paragon Cineplex.  Ukuran bioskopnya besar sekali.  Dan yang unik, sebelum pemutaran setiap film, terlebih dahulu diputar video yang berisikan kegiatan sang raja, diiringi lagu yang menyanjung-nyanjung beliau.  Selama video diputar, semua pengunjung, termasuk orang asing, harus berdiri sebagai tanda penghormatan.  Pengalaman ini cukup meninggalkan kesan bagi saya, yang berasal dari negeri yang tidak mengenal tata cara semacam ini.

Menonton pertunjukan malam

Nama Bangkok memang juga lekat dengan hiburan malam.  Sebagian orang mungkin akan langsung terkikik geli mengingat hiburan ‘nakal’ yang marak di sejumlah kawasan Bangkok, misalnya Patpong.  Namun jangan keburu menganggap hiburan malam Bangkok negatif semuanya, meski dibawakan oleh para waria yang sering dicap buruk di Indonesia.  Jangan salah, di Thailand, waria bisa memperoleh pekerjaan biasa seperti orang-orang lainnya, misalnya menjadi penjaga toko, tidak melulu sebagai penghibur jalanan atau tukang salon seperti yang menjadi stereotipe di Indonesia.  Dan kabaret waria adalah pertunjukan terhormat yang disiapkan dan diselenggarakan dengan serius, meski isinya bisa jadi mengocok perut Anda habis-habisan.

Teater kabaret waria yang terkenal di Bangkok adalah Calypso, yang menggelar pertunjukan setiap malam di Hotel Asia (naik BTS, turun di stasiun Ratchatewi, ada pintu keluar langsung ke dalam hotel tersebut).  Cobalah minta hotel memesankan tiket untuk Anda, atau coba pesan online di ThaiTicketMajor.  Tanpa makan malam, harga 1 tiket adalah 900 Baht termasuk first drink (ada teh atau kopi juga).  Tersedia pula merchandise Calypso yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan, misalnya DVD pertunjukan mereka.

Seusai pertunjukan, para pemeran kabaret akan berjejer rapi mengapit jalan menuju pintu keluar.  Anda boleh berfoto dengan mereka, namun jangan lupa selipkan sedikit uang tip ke tangan para artis.  Mereka ramah-ramah dan baik-baik, kok.  Tidak perlu merasa seram hanya karena mereka ‘waria’.  Ups, sebagian di antara mereka bahkan lebih cantik dari perempuan asli, lho!

Yang juga boleh dicoba adalah menonton pertunjukan Siam Niramit yang gegap-gempita.

Bersantailah

Jangan terlalu terburu-buru menyusuri Bangkok gara-gara bernafsu mengunjungi tempat sebanyak-banyaknya.  Temukan tempat yang nyaman, dan bersantailah sejenak, menikmati irama kota ini.  Saya punya dua tempat favorit untuk beristirahat sambil mencicipi minuman dan penganan di Bangkok.  Yang pertama adalah cabang Au Bon Pain di persimpangan  dekat Grand Palace.  Setelah berterik-terik menjelajahi Grand Palace, selalu menyenangkan rasanya memasuki gedung kecil berarsitektur Eropa ini dan memesan minuman dingin.

Bagian dalam Au Bon Pain dekat Grand Palace.

Tempat kedua favorit saya adalah cabang Subway merangkap Coffee World di dekat stasiun BTS Nana.  Meskipun meja dan kursinya bergaya restoran cepat saji yang tidak terlalu menghiraukan kenyamanan jangka panjang pengunjung, restoran yang buka 24 jam ini cukup menyenangkan untuk dijadikan tempat nongkrong.

Carrot cake juara dari Coffee World!

Kunjungi beraneka ragam wat

Saat berlayar di Chao Phraya, sempatkan meninjau Wat Arun alias ‘Kuil Fajar’, tempat Buddha Jamrud dahulu disimpan sebelum dipindahkan ke Wat Phra Kaeo di Grand Palace.  Dengan kapal, turunlah di Maharaj Pier, lalu ambil feri menyeberang sungai (tidak ada dermaga khusus feri turis di depan Wat Arun).  Bila Anda tidak gampang gamang, cobalah mendaki tangga yang curam sampai ke puncaknya.

Wat Arun alias ‘Temple of Dawn’

Di dekat kompleks Grand Palace, juga ada Wat Po yang bisa dicapai dengan berjalan kaki.  Di sinilah terdapat patung raksasa Buddha tidur, dan juga patung prajurit farang (orang asing) yang terlihat unik dengan penutup kepala mereka yang bergaya Barat.

Kepala sang Buddha tidur.

Genta di Wat Po.

Perhatikan betapa kecilnya manusia dibandingkan ukuran sang Buddha tidur.

Salah satu prajurit ‘farang’.

Jejeran patung Buddha di Wat Po.

Selain wat-wat yang popular tersebut, banyak pula wat lain bertebaran di seantero Bangkok.  Sebagian di antaranya tidak banyak dikenal wisatawan sehingga sepi pengunjung – yang justru membuat kita lebih bisa meresapi kekhidmatan tempat-tempat suci tersebut.  Kami pernah beruntung memperoleh seorang supir tuktuk yang mengantarkan kami ke beberapa wat yang jarang dikunjungi turis. Ia membawa kami ke Wat Ratchanatdaram Worawihan dan Wat Srakes Rajavaramahavihara.

Sampai-sampai biarawan di Wat Srakes Rajavaramahavihara bertanya kepada kami, “Dari mana tahu tempat kami ini ?”  Kami pun dipersilakan duduk agak lama di aula utama, di mana terpajang arca Buddha raksasa yang berwarna emas.  Orang yang memberi kami petunjuk menuju wat ini menyebutnya ‘Happy Buddha’.  Konon arca Buddha yang satu ini mendatangkan kebahagiaan dan keberuntungan bagi yang mengunjunginya.

Arca yang disebut ‘Happy Buddha’.

Tak hanya wat-wat ‘tersembunyi’, masih banyak tempat yang bisa Anda kunjungi dan kegiatan yang bisa Anda lakukan selama di Bangkok.   Ini hanyalah beberapa sumbangan gagasan kami saja.  Jangan segan berbagi pengalaman Anda di Bangkok dengan kami, ya!

Angkutan Umum Dalam-Kota Bangkok

This post is about Thailand

Saya ini belum khatam soal Bangkok. Masih banyak seluk, beluk, dan lekuk kota menawan itu yang belum saya kunjungi. Namun saya ingin berbagi beberapa hal mengenai cara berpindah dari satu tempat ke tempat lain di Bangkok, siapa tahu bisa membantu rekan-rekan yang hendak bepergian juga ke sana.

TAKSI
Bila tiba di suatu tempat yang belum pernah dikunjungi, kendaraan umum yang rasanya paling aman dan meyakinkan barangkali ya taksi. Taksi di Bangkok umumnya bagus-bagus, meskipun terkadang mobilnya sudah agak tua. Selain mobil sedan biasa, ada pula van, yang tentunya lebih nyaman bagi Anda yang pergi berombongan atau belanja banyak sekali.

Hanya saja, hati-hati. Seringkali taksi di Bangkok—seperti juga di Jakarta—ogah pakai argo. Mereka biasanya akan menawarkan harga tetap. Kalau Anda orangnya sangat hitung-hitungan, coba saja bersikukuh menggunakan argometer. Namun kalau Anda memang terbiasa memberi tip atau semacamnya kepada supir taksi, iyakan saja. Apa pasal? Kalau dikurs ke dalam rupiah, taksi di Bangkok sangat murah!

Misalnya saja, dari Shuvarnabhumi (bandara terbaru Bangkok yang keren sekali) ke Nana, Sukhumvit (daerah di tengah Bangkok yang menyenangkan sebagai tempat menginap) atau sebaliknya, supir bisa meminta 400-500 Baht. Dihitung-hitung, sekitar 120-150 ribu rupiah, padahal jarak yang ditempuh lumayan jauh. Pernah juga ketika kami naik taksi sehabis berpuas-puas mengarungi sungai di waktu malam, hendak pulang ke Nana yang cukup jauh dari hotel tempat kapal berlabuh, supir sengaja melambat-lambatkan taksi dan bahkan masuk jalur macet agar argonya menunjukkan 100 Baht… alias 30 ribu rupiah!

Yang perlu diwaspadai dari pengendara taksi (juga dari pengendara tuktuk) adalah tidak semua mengerti bahasa Inggris dengan cukup baik ataupun bisa membaca aksara Latin. Atau, kalaupun Anda merasa cukup percaya diri untuk membacakan alamat kepada supir, bisa-bisa Anda tidak dimengerti karena transliterasi aksara Thailand tidak bisa menggambarkan dengan tepat cara membaca dan cengkok bahasa Thai. Pernah saya mau bilang ‘Nana’ saja, supir taksi agak lama kebingungan, karena membaca ‘Nana’ itu ada cengkoknya sendiri (yang bisa Anda coba tiru dari suara pengumuman di BTS—lihat bawah).

Untuk amannya, carilah peta yang beraksara ganda (Latin dan Thai), atau sewaktu baru tiba di Bangkok, minta bagian informasi atau pengatur taksi untuk menuliskan alamat tempat Anda menginap dalam aksara Thai.

Pemandangan dari kursi belakang tuk-tuk.

TUK-TUK

Tuk-tuk adalah semacam bajaj, namun biasanya kanan-kiri dan belakangnya terbuka, hanya terlindungi atap. Ini angkutan khas Thailand, dan juga salah satu cara menyenangkan untuk menjelajahi Bangkok. Supir biasanya bisa berbahasa Inggris meski secukupnya, dan mereka juga tahu banyak tempat kunjungan wisata yang pantas disinggahi. Dan yang jelas, tuk-tuk murah. Kami, bertiga, pernah diantar berkeliling ke sejumlah tempat dari Grand Palace sampai ke stasiun BTS Victory Monument hanya dengan harga 70 Baht alias 21 ribu-an—pengalaman ini akan saya kisahkan kali lain.

Hotel seringkali menyediakan tuk-tuk gratis ke stasiun BTS terdekat, jadi coba saja cek kalau-kalau layanan ini tersedia di hotel/penginapan Anda.

Hanya saja, bila Anda tidak tahan naik kendaraan kecil yang ngebut gila-gilaan, sebaiknya hindari saja tuk-tuk, bisa-bisa Anda mual gara-gara manuver luar biasa supirnya!

Salah satu stasiun BTS.

BTS DAN SUBWAY

Bangkok pernah—dan masih—terkenal karena kemacetannya yang luar biasa. Namun sejak kehadiran BTS (layanan skytrain Bangkok) dan subway, keadaan itu lumayan bisa teratasi. Buat wisatawan, kedua kereta dalam kota ini bisa menjadi cara mudah dan murah berkeliling Bangkok ke beberapa tempat, karena stasiun-stasiun BTS dan subway ditempatkan di lokasi-lokasi strategis. Anda bisa mencapai tempat-tempat seperti Lumpini Park, pasar akhir minggu Chatuchak, mal superbesar Siam Paragon (salah satu tempat andalan kami mencari makanan halal), Hotel Asia tempat pertunjukan musikal waria, ataupun dermaga kapal hanya dengan menaiki BTS dan subway dan turun di stasiun-stasiun yang tepat. Saat ini ada dua jalur BTS (Sukhumvit dan Silom) dan satu jalur subway yang berpotongan di beberapa stasiun.

Saya ingat ada kisah tentang orang-orang Indonesia yang pergi ke Singapura namun tidak pernah menaiki MRT karena tidak tahu caranya. Nah, dengan tulisan ini, saya harap saya bisa membantu Anda yang hendak menaiki BTS ataupun subway.

Pertama-tama, tentu saja, datangi stasiun terdekat. Stasiun BTS terletak di atas jalanan, sehingga Anda perlu menaiki tangga atau eskalator dulu, yang terkadang lumayan tinggi. Stasiun subway, sebaliknya, berada di bawah tanah. Hati-hati, ada eskalator yang bergeraknya cepat sekali. Di stasiun-stasiun seringkali banyak jajanan yang menggoda untuk dicoba, dan peta terbaru jalur BTS dan sekitarnya juga tersedia gratis. Di beberapa stasiun juga ada kantor pariwisata yang bisa membantu Anda yang kebingungan sekaligus menjual kartu pos menarik (prangkonya bisa Anda beli di kantor pos atau 7 Eleven).

Sampai di stasiun BTS, lihat kode nomor yang diberikan untuk stasiun tujuan Anda. Semakin jauh tempat tujuan, semakin mahal harga tiket yang Anda harus bayar. Misalnya, katakanlah dari stasiun X ke Y Anda perlu membayar 15 Baht, dengan kode nomor 3. Di mesin tiket, tekan angka 3, lalu masukkan koin sejumlah 15 Baht. Jika Anda tidak punya koin, bisa tukar dulu di kasir. Akan keluar tiket magnetik yang harus Anda masukkan ke slot di pintu masuk. Tiket itu akan keluar lagi, dan harus Anda pegang sampai tiba di tempat tujuan, jangan sampai hilang. Di tempat tujuan, masukkan tiket itu lagi di pintu keluar agar pintu bisa terbuka. Kali ini, tiket tidak kembali ke tangan Anda, kecuali bila Anda pemegang kartu tiket terusan (yang juga bisa Anda beli di kasir).

Sistem pertiketan subway mirip BTS, hanya saja bentuk tiketnya adalah token bulat dan kecil. Saya justru ngeri betul dengan token ini, karena terasa mudah jatuh menggelinding dan hilang. Subway merupakan cara bagus untuk mengunjungi tempat-tempat seperti Queen Sirikit National Convention Centre, tapi maklum, namanya juga subway, tidak akan banyak pemandangan yang bisa Anda lihat selama perjalanan.

Salah satu pemandangan yang bisa terlihat dari kapal yang melintasi Chao Praya.

RIVER CRUISE

Kalau mau gampang, dari tempat menginap naik taksi atau tuk-tuk saja ke Grand Palace, salah satu objek wisata wajib kunjung di Bangkok. Namun kalau mau pengalaman tersendiri yang tidak bakal terlupakan, cobalah tiket wisatawan untuk menyusuri Chao Praya!

Chao Praya, sungai terbesar di Bangkok, adalah urat nadi kota Bangkok sejak zaman dahulu kala. Banyak orang yang lebih memilih bepergian lewat sungai untuk menghindari macet. Bangunan-bangunan bersejarah, hotel-hotel nyaman, dan gedung-gedung penting banyak yang dibangun di kedua sisi Chao Praya. Oleh karena itu, memang kurang afdol rasanya ke Bangkok tanpa mencoba menyusuri sungai ini dan melihat pemandangan mengagumkan di kiri dan kanan sungai.

Naiklah BTS ke stasiun Saphan Taksin (kode stasiun S6). Turun dan keluar dari stasiun, langsung menuju dermaga dengan berjalan kaki. Di dermaga, Anda bisa membeli tiket untuk kapal yang berbeda-beda, namun untuk wisatawan, ada baiknya membeli tiket terusan sehari seharga 150 Baht (kurang-lebih 45 ribu). Dengan tiket tersebut, sejak pukul 9.30 sampai 15.00 Anda boleh berulang-kali naik-turun kapal dari satu dermaga ke dermaga lain. Bersama tiket, Anda juga akan memperoleh peta dan buku panduan yang menunjukkan objek-objek apa saja yang bisa Anda datangi di setiap dermaga.

Misalnya, bila ingin ke Grand Palace, naiklah dari Saphan Taksin menuju dermaga Maharaj/Tha Chang. Turun, tembuslah pasar yang ada di depan dermaga (sambil berbelanja juga, mungkin? Adik saya menemukan fedora berkualitas bagus dengan harga murah di situ), sampai di jalan besar, jalan ke kanan beberapa ratus meter, dan Anda sudah akan berada di kompleks Grand Palace, yang kapan-kapan akan saya ceritakan lebih lanjut.

Bila Anda tidak ada kegiatan khusus di malam hari, boleh juga berlayar sambil makan malam. Anda bisa mencoba bantuan orang hotel atau birowisata untuk memesankan tempat (yang, ngomong-ngomong, cukup mahal, namun sepadanlah dengan pengalaman yang Anda peroleh). Kapal biasanya akan berlayar bolak-balik menyusuri Chao Praya (dengan jarak tempuh yang lebih jauh daripada kapal turis siang hari), dan Anda bisa bersantap malam di dek atas sambil menyaksikan pemandangan malam yang mengesankan. Tidak perlu khawatir tidak bisa melihat apa-apa, karena bangunan-bangunan penting di sepanjang sungai sengaja disinari lampu sorot di malam hari, memberikan nuansa magis; perasaan yang Anda dapatkan akan berbeda dengan saat siang hari.

KERETA API
Direncanakan akan ada jalur kereta dari Shuvarnabhumi sampai ke dalam kota Bangkok, bersambung dengan BTS, namun sayang terakhir kali saya ke sana, jalur tersebut belum dioperasikan secara resmi. Mungkin kapan-kapan saya, atau Anda, bisa mencobanya.

BIS
Satu-satunya moda angkutan umum yang belum saya coba di Bangkok adalah bis, namun konon buat wisatawan memang bis umum kurang disarankan. Selain masalah keamanan, juga masalah kenyamanan. Mungkin Anda sudah pernah menaiki bis di Bangkok? Bagaimana menurut Anda?

Bagaimana? Semoga pengalaman yang saya bagi ini membantu Anda untuk berani menyusuri Bangkok sendiri dengan angkutan umum.

O ya, jangan lupa—senyum! Memperlihatkan kemarahan adalah tabu di Thailand. Dan seharusnya, mengingat di Bangkok kejahatan serius yang banyak terjadi paling-paling prostitusi dan pencopetan, masih lebih banyak alasan bagi Anda untuk terus tersenyum selama kunjungan Anda di Bangkok.