Buddha Raksasa dan Rusa di Nara

This post is about Japan

Ketika kita membayangkan segenap Jepang tak ubahnya bagai megapolitan Tokyo, di mana teknologi tinggi bertubrukan ramai dengan unsur-unsur tradisional yang tampak mewah seperti Asakusa yang ramai pengunjung, terlupa oleh kita bahwa masih banyak daerah di Jepang yang berupa hutan, pedesaan, dan persawahan.  Itulah yang tampak oleh kami dalam perjalanan kereta dari Kyoto ke Nara yang tidak memakan waktu begitu lama (menurut ukuran orang Jakarta, tentu saja).  Rumah-rumah yang tampak sederhana terkadang diselingi oleh bangunan yang hanya bisa disebut gubuk.  Orang-orang berjalan kaki atau bersepeda melintasi pematang sawah.  Ini sisi Jepang yang bagi saya juga menarik.  Di luar segala hiruk-pikuk kota-kota besarnya, Jepang yang permai masih luas terhampar.  Ah, ya, meskipun satu kali terlihat oleh kami pengguna sepeda yang dengan andalnya memainkan telepon genggam dengan sebelah tangan seraya terus menggenjot sepedanya…

More

Advertisements

Orang Indonesia di Kyoto

This post is about Japan

Bukan, judul ini bukan tentang kami.  Meski, ya, benar sih.  Kami memang bepergian ke Kyoto.  Melainkan tentang seseorang yang tanpa kami duga-duga bertemu dengan kami di bekas ibukota kekaisaran Jepang tersebut.

Kami tiba di Kyoto pagi-pagi sekali.  Bis malam yang kami tumpangi dari Tokyo tiba tepat waktu sesuai perkiraan yang diberikan kepada kami.  Bis yang nyaman, jalanan yang mulus, dan cara mengemudi yang meyakinkan membuat kami tidak terlalu lelah meski telah menghabiskan waktu semalaman di bis.  Agak pegal sedikit sih iya, namanya juga naik kendaraan berjam-jam.

Kami diturunkan di seberang stasiun pusat Kyoto.  Di sini jalur-jalur kereta antarkota dan dalam kota bertemu.  Bangunannya besar dan modern.  Kami pun melangkah ke stasiun tersebut guna membersihkan diri sejenak di kamar mandi.  Hmmm… ternyata kamar mandinya biasa-biasa saja.  Jangankan washlet, tisu pun tidak gratis.  Selain kami, sejumlah penumpang lain juga tampak mencuci muka, menyikat gigi, dan berdandan di kamar mandi.

Satu per satu orang mulai bermunculan di stasiun yang masih sepi, meski tetap belum banyak kegiatan berarti.  Orang-orang belum lagi berangkat kerja atau sekolah.  Kami mampir ke McD’s cabang stasiun itu untuk sarapan.  Mata menjadi melek penuh ‘dihajar’ kopi panas yang disajikan.  Setelah perut terganjal, kami pun mencari-cari loker untuk meletakkan tas-tas kami yang berukuran besar.  Apa boleh buat, seperti juga di penginapan-penginapan lain, baru di atas pukul dua siang nanti kami boleh check-in.  Lagipula, malas juga ya rasanya bolak-balik pakai ke penginapan dulu untuk menitipkan tas sebelum cabut lagi.

Salah satu stasiun kereta di Kyoto.

More

Kiat Selamat: Jepang

This post is about Japan

Nah.  Kini kita telah berada di Jepang.  Bagaimana cara berkeliling di dalamkota, ya?  Bagaimana bila ingin bepergian ke kota-kota lain?  Makan sebaiknya di mana bila ingin yang murah, atau yang halal?  Berikut ini kami menjabarkan sejumlah ‘kiat selamat’ umum selama berada di Jepang.  Ini tentunya dari pengalaman kami sendiri – jadi kalau Anda punya kiat dan informasi lain yang bisa dibagi, silakan tuliskan sebagai komentar di halaman ini.

Keterangan lebih terperinci menyangkut tempat-tempat tertentu (misalnya, berlayar di Danau Ashi di Hakone) bisa dilihat di artikel-artikel khusus tentang daerah tersebut.

Angkutan umum dan taksi

Kereta adalah angkutan umum ‘favorit’ selama kami berada di Jepang.  Ke mana-mana kami menggunakan kereta ataupun subway, disambung jalan kaki bila perlu.  Bis dalamkota hanya kami gunakan sekali-sekali, itupun tidak diTokyo.   Kalau naik bis, perhatikan saja apakah masuk dari depan atau belakang, dan apakah membayar sewaktu naik atau turun.  Ini karena di kota yang berbeda, peraturan juga bisa berbeda.  Dan sebisa mungkin siapkan uang kecil untuk membayar bis kalau tidak memiliki kartu transportasi, agar proses keluar-masuk bis lancar.

Di sebagian bis, tarif terpampang di layar TV.

More