125.660 Spesimen Sejarah Alam, Jakarta

This post is about Indonesia

Lagi-lagi, kita break dulu yah dari rangkaian tulisan saya mengenai Jepang. Soalnya, saya gatal ingin menulis soal pameran 125.660 Spesimen Sejarah Alam yang dilangsungkan sampai 15 September 2015 di Komunitas Salihara, Jakarta. Bukan gatal karena ada hal yang membuat kesal, melainkan karena senang ada pameran semacam ini dilangsungkan di Indonesia. Meski sebenarnya sih memang sudah ‘seharusnya’ pameran tersebut digelar di sini, mengingat di Kepulauan Nusantara-lah naturalis Inggris Alfred Russel Wallace melakukan pengumpulan spesimen dan memperoleh ilham untuk teori evolusi tentang seleksi alam. Ini juga, saya kira, salah satu alasan mengapa Wallace popular di Indonesia. Saya yakin Anda pasti pernah mendengar namanya (dalam istilah ‘Garis Wallace’) disebutkan dalam buku pelajaran sekolah ketika membahas perbedaan flora dan fauna Indonesia Timur dan Barat.

sejarahalam-salihara06

More

Ringkasan 2013: Singapura, Hong Kong, Lembang, Beijing

Ah.  Sudah lama juga saya tidak menulis di blog ini.  Bukan karena tidak punya cerita, atau tidak bepergian ke mana-mana.  Cerita sih, ada saja.  Tapi beberapa kesibukan lain yang menyita perhatian membuat saya alpa menuangkan cerita-cerita itu ke dalam bentuk tertulis.  Oleh karena itu, sekarang saya sajikan versi ringkas dari apa yang saya jumpai dalam beberapa perjalanan saya tahun ini.

Singapura

Ada saja ya, alasan ke Singapura.  Alasan utama saya adalah beberapa konser yang hanya mampir ke Singapura namun tidak digelar di negeri sendiri.  Ada kesenangan tersendiri bila konser itu digelar di loka yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.  Selalu senang rasanya ‘berkenalan’ dengan loka baru, apalagi bila loka itu ternyata sungguh memuaskan.  Kali ini lokanya adalah The Star Theater, hanya berjalan kaki dari stasiun MRT Buona Vista.

sg-2013-01

More

Dua Hari, Semalam di Semarang – Februari 2013 (bagian II)

This post is about Indonesia

Usai Maghrib, saya turun ke lobi dan bertanya ke resepsionis, bagaimana cara menuju ke Simpang Lima.  Jauhkah?  Bisakah berjalan kaki, atau naik bis?

“Wah, lumayan jauh.  Bis (Trans Semarang) sudah tidak jalan jam segini.  Sebaiknya naik taksi,” jawab sang resepsionis.

semarang24

Saya akhirnya mengambil alternatif: berjalan kaki ke depan Lawang Sewu, dan mengambil angkot ke arah Simpang Lima dari situ.  Kebetulan malam Minggu.  Simpang Lima, dengan lapangan luas yang dikelilingi oleh berbagai pusat perbelanjaan dan masjid agung, diramaikan oleh warga Semarang yang menghabiskan malam.  Menyenangkan sekali melihatnya.  Tua, muda, bapak, ibu, anak, nongkrong di warung-warung di tepi jalan atau di tembok-tembok rendah di trotoar, asyik mengobrol dan bercanda.  Ada juga yang menyewa sepeda berhiaskan lampu warna-warni untuk mengelilingi Lapangan Simpang Lima.  Ada yang asyik bermain, berkejar-kejaran di lapangan.

semarang22

Saya tiba-tiba kembali merasakan ‘spirit’, ‘ruh’ sebuah kota, yang seharusnya betul-betul merupakan sebuah ‘tempat tinggal’ bagi warganya.  ‘Tinggal’ yang merupakan sesuatu yang melampaui totalitas kegiatan-kegiatan yang bisa kita lakukan di sebuah kota seperti bekerja, makan, dan tidur.  Hubungan antarmanusia, suasana nyaman yang memanusiakan, seharusnya juga jadi unsur sebuah kota.

semarang21

Saya memilih sebuah warung di tepi jalan yang menjual – sebutannya apa ya?  Istilah yang biasa saya pakai sih ‘nasi kucing’.  Sedikit nasi, dibungkus dengan sejumput lauk atau sesendok-dua sendok sayur, dibungkus kecil-kecil, dijual dengan harga murah.  Yang punya uang hanya sedikit masih bisalah membeli sebungkus untuk diri sendiri.  Yang tidak kenyang hanya memakan satu atau ingin kombinasi beberapa lauk/sayur, bisa membeli beberapa bungkus, masih ditambah gorengan kalau perlu.  Bersama secangkir teh hangat manis, malam yang agak gerimis pun terasa lengkap sempurna!

semarang23

Usai makan, saya mengarah ke Istana Brilian, pusat oleh-oleh yang masih buka.  Saya membeli sejumlah penganan khas Semarang sebelum kembali pulang ke hotel dengan angkot.  Atau tepatnya, sampai ke dekat Lawang Sewu, dan dari situ berjalan kaki lagi ke hotel.  Itu, kisah di bagian sebelumnya, sewaktu saya nyaris tertimpa cabang pohon.  Lawang Sewu masih terlihat agak ramai oleh para pengunjung yang berwisata malam.

semarang25

Keesokan paginya, karena masih ada beberapa jam sebelum waktu check-out dari hotel dan menghadiri pesta pernikahan, saya kembali menggerakkan kaki.  Pertama-tama saya mencoba menengok Museum Perjuangan Mandala Bhakti, yang terletak di seberang Lawang Sewu.  Untuk mencapainya saya harus melewati Tugu Pemuda beserta taman yang mengelilinginya.  Museum terlihat sepi, hanya ada beberapa orang pria dan wanita yang sedang berkumpul di sampingnya.  Melihat saya, salah seorang ibu-ibu menggerakkan tangan memanggil saya mendekat.  Meskipun kecurigaan otomatis timbul di hati saya yang bertahun-tahun ditempa ibukota, saya menurut.  Ah, ternyata ibu-ibu itu bukan bermaksud apa-apa.  Hanya menanyakan kepada saya mau apa, dan apakah saya salah seorang yang hendak mengikuti acara di museum itu (entah apa) hari ini.  Sambil diam-diam kesal kepada diri saya sendiri yang begitu pencuriga sekarang, saya mengobrol sedikit dengan sang ibu dan rekan-rekannya.  Dari mereka saya tahu museum tidak selalu buka.  Akhirnya saya hanya menikmati bagian luarnya saja.  Teringat seloroh si pemandu Lawang Sewu teriring tawa kemarin, “Museum di depan itu iri pada Lawang Sewu.  Dia yang museum, tapi Lawang Sewu-lah yang banyak dikunjungi orang.”

semarang26

Setelah itu, saya pun meneruskan perjalanan ke arah Pandanaran, di mana berjejer toko-toko dan kedai-kedai yang menjual jajanan basah khas Semarang seperti lumpia, bandeng presto, wingko.  Sebetulnya ingin juga membeli untuk dibawa pulang ke Tangerang, tapi mengingat bawaan saya sudah lumayan merepotkan dengan segala oleh-oleh yang saya beli semalam, niat itu saya urungkan.  Saya cukup membeli satu untuk dinikmati sendiri.

Saya pun berjalan balik ke hotel, menikmati Minggu pagi yang damai dengan matahari yang masih malu-malu (ah, memang seharusnya begini Minggu pagi!).  Melihat sebuah bis menuju Ambarawa melintas, saya jadi bertekad dalam hati, lain kali kalau ke Semarang harus lebih lama lagi, dan menyempatkan diri ke kota-kota lain di sekitarnya!

semarang27

Depan Lawang Sewu telah kembali ramai, kini oleh gerobak-gerobak penjaja makanan.  Saya membeli dawet dicampur durian.  Hmm, segar sekali menutup acara jalan-jalan pagi dengan minuman dingin ini!

Hal berikutnya yang saya lakukan adalah membeli bacaan untuk menemani kala menunggu pesawat nanti di Gramedia yang baru buka, lantas mandi dan berbenah-benah.  Saya pun siap untuk check-out.  Resepsionis menelepon memanggil taksi untuk mengantar saya ke Masjid Agung Jawa Tengah, tempat pesta pernikahan digelar.  Tak saya duga, jauh juga letaknya dari pusat kota Semarang, dan jalan menuju kompleks yang sangat luas itu ternyata kecil-kecil.

semarang29

Mengenai masjidnya sendiri, yang paling membuat terpukau memang ukurannya yang luar biasa.  Namun kesan yang saya tangkap mengenai arsitekturnya agak membingungkan.  Sepertinya menggabungkan lagam Jawa dan Turki, namun terkesan agak gagap, dengan deretan tiang dan lengkungan ala Romawi yang mengelilingi pelataran air mancur.  Sayang saat itu payung-payung raksasa yang biasa dipakai menaungi jemaah saat masjid sedang ramai sedang tidak dibuka.  Ingin saja melihat seperti apa jadinya.

semarang28

Meski waktu saya di Semarang semakin sempit, saya juga mencoba naik ke atas menara di mana kita bisa menyaksikan pemandangan Semarang dan sekitarnya dari ketinggian lumayan.  Kota, laut, sawah, pedesaan – semua terlihat.  Di menara ini juga terdapat museum sejarah Islami, yang sayangnya tidak sempat saya kunjungi.  Saya lebih memilih bersantap siang mengisi perut yang sudah keroncongan lagi di restoran berputar yang berada selantai tepat di bawah anjungan untuk melihat pemandangan.  Cukup murah dan lezat, namun sayangnya kondisi restoran seperti kurang terurus.

semarang30

Saya lantas menelepon pusat taksi Blue Bird, meminta dijemput untuk diantar ke bandara.  Tak menunggu berapa lama, taksi datang.  Belum bergerak jauh dari masjid, kami terperangkap kemacetan.  Duh, jalan-jalan kecil dengan populasi yang semakin membludak, bagaimana tidak macet, ya?  Supir taksi pun menawarkan alternatif, lewat jalan tol menuju bandara.  Lebih mahal, tapi tidak macet.  Saya setuju.  Dan ternyata memang jauh, melewati perbukitan yang hijau.  Ah, yang penting tidak sampai terlambat naik pesawat!

semarang31

Pesawat AirAsia yang membawa saya pulang ke Tangerang lepas landas sore itu, meninggalkan bandara Semarang yang tidak terlalu besar.  Menjauh dari kota yang menyajikan percampuran budaya hasil pertemuan dan dialog berabad-abad: cerminan nyata Indonesia.

Dua Hari, Semalam di Semarang – Februari 2013 (bagian I)

This post is about Indonesia

Azan subuh belum lagi berkumandang di Semarang dan sekitarnya ketika saya menapak turun dari kereta yang beberapa jam sebelumnya bertolak dari Jakarta.  Sendirian saya mendatangi kota ini di bulan Februari 2013 untuk menghadiri pernikahan teman.  Sendirian, karena teman-teman lain kebetulan tidak bisa menyesuaikan jadwal dengan undangan tersebut.  Saya nekad saja, padahal belum pernah sekalipun ke Semarang.

Saya membeli tiket kereta Gambir-Semarang Tawang secara daring melalui Tiket.  Prosedurnya menurut saya cukup mudah, bisa memilih kursi pula.  Dengan semangat saya memilih kursi di tepi jendela dengan maksud menikmati pemandangan… Lalu baru kemudian ingat hal itu percuma saja, karena saya memilih kereta yang berjalan di malam hari, haha.  Di hari keberangkatan, saya cukup mendatangi loket penukaran bukti pembelian daring dan memperoleh tiket saya di situ.

semarang02

Singkat cerita, kini saya telah berada di Tawang.  Hari masih gelap-gulita, dan daripada keburu keluar serta sulit menemukan tempat untuk solat, saya memutuskan mengisi perut dengan minuman hangat terlebih dahulu di Dunkin Donuts.  Kebetulan cabang DD yang pintunya menghadap ke peron ini sudah buka, sementara tempat makan lain rata-rata masih tutup.

Usai subuh, barulah saya melangkah keluar dari peron.  Dan wuih, langsung didekati beberapa orang yang menawarkan jasa becak.  Sesopan mungkin saya menolak.  Seorang di antaranya masih cukup keukeuh mengikuti saya beberapa lama, berharap saya berubah pikiran mungkin.  Kasihan juga, tetapi saya memang berniat berjalan kaki saja pagi itu.

semarang01

Setelah sejenak melihat-lihat stasiun yang cukup tua usianya ini (karena saya akan pulang naik pesawat, tidak akan kembali ke stasiun ini) saya pun mencari jalan menuju tempat yang saya tuju: Gereja Immanuel, populer sebagai ‘Gereja Blenduk’.  Benar-benar tanpa tahu arah, tidak pegang peta, hanya sempat melihat-lihat peta Semarang melalui Google Maps.  Hanya mengandalkan bertanya.  Untunglah bapak-bapak yang saya tanya menjawab meyakinkan, “Tidak jauh kok mbak, lurus saja sampai mentok, lalu belok kiri.  Dekat kok, tuh dari sini juga kelihatan…”  Baiklah.

semarang03

Saya melintasi polder yang airnya berwarna kehijauan di depan stasiun, lantas tanpa terlalu pikir-pikir menyusuri jalan-jalan kota tua Semarang yang diapit bangunan-bangunan tua.  Banyak yang tampak megah dan cantik, namun tidak sedikit pula yang terlihat kurang terawat.  Terkadang, bau kurang sedap meruah dari saluran-saluran air yang tampak nyaris kepenuhan oleh air berwarna hitam, mungkin sisa limpahan rob, yang memang sering membanjiri wilayah ini.

semarang04

Seandainya lebih terurus lagi daripada kondisinya sekarang, pasti kawasan kota tua ini semakin menarik.  Saya sendiri sangat menyukai bangunan-bangunan era kolonial sehingga sangat menikmati jalan-jalan pagi saya ini.  Seorang bapak menegur ramah, bertanya saya dari mana, kok pagi-pagi sudah jalan-jalan, rumahnya di mana.  Saya jawab saja saya baru dari stasiun (tidak bohong, kan?).

semarang05

Puas menemukan dan mengagumi arsitektur Gereja Blenduk dan beberapa gedung di sekitarnya dari luar, saya meneruskan ke jalan-jalan kecil di kawasan itu.  Saya coba bayangkan seperti apa dahulu kawasan ini, ketika kehidupan kota Semarang masih ramai terpusat di sini.

semarang06

Saya kembali ke titik awal, Stasiun Tawang, dan meminta sebuah taksi Blue Bird untuk mengantarkan saya ke tujuan berikutnya, kelenteng Sam Poo Kong, yang agak jauh letaknya dari stasiun.  Sang supir mengira saya orang Tionghoa yang hendak beribadah di kelenteng.  Saya tertawa dan berkata, Bukan, ayah saya orang Manado, makanya mungkin wajah saya terlihat seperti orang Tionghoa.  Kami pun jadi bercakap-cakap di sepanjang perjalanan.

“Saya dari kecil tinggal di sini.  Kalau saya bilang, kota ini perkembangannya lambat,” katanya.

“Tapi tentram toh Pak?” Saya berkomentar.

“Iya, tentram.”  Tahu saya dari Jakarta, ia berkata, “Maaf ya Mbak, saya memang orang Indonesia.  Tapi saya tidak berniat pindah ke Jakarta.  Saya memang belum pernah ke sana.  Tapi kalau lihat di TV, orangnya kelihatan banyak sekali.  Kali Ciliwung juga tampak kotor.  Habis banjir-banjir gitu kan Mbak?  Rumah Mbak kena nggak?”

Yah, saya sendiri secara pribadi berpendapat tinggal di kota yang tidak terlalu besar seperti Semarang atau Balikpapan tampaknya lebih menyenangkan daripada setiap hari disergap kemacetan dan polusi di Jakarta.  Toh kalau yang kita khawatirkan adalah segala kenyamanan kota besar modern seperti restoran-restoran cepat saji atau kafe-kafe internasional, kini mereka pun sudah mudah ditemukan di ibukota-ibukota provinsi berukuran sedang.  Saya tidak merasa pak supir perlu meminta maaf karena lebih memilih berdiam di Semarang yang mungkin bagi banyak orang Jakarta bukan kota yang perlu dilirik sebagai tempat tinggal.

semarang08

Meskipun tadi telah mengulur-ulur waktu di kota tua, saya tiba kepagian di Sam Poo Kong.  Loket belum buka, namun penjaga di situ membolehkan kami—saya dan beberapa wisatawan lain—masuk.  “Silakan saja, bayarnya nanti saja,” ucapnya ramah.  Saya melewati gerbang dan langsung disambut keteduhan pepohonan yang menaungi sejumlah meja batu beserta kursi-kursinya.  Beberapa lama saya duduk di depan salah satu meja, menikmati pagi, memandang ke arah bangunan-bangunan dalam kompleks kelenteng, baik yang telah lama selesai dibangun maupun yang sedang dibangun.  Saya bertanya-tanya apa kegunaan bangunan yang belum selesai itu nantinya: panggung sandiwara Cina kah?  Aula untuk peribadahan?

semarang09

Hampir sejam setelahnya baru saya berdiri dan mulai berjalan-jalan berkeliling.  Tampak sekelompok pria yang sepertinya petugas keamanan tengah di-briefing dan kemudian berlatih.  Bangunan-bangunan utama peribadahan kelenteng dipisahkan oleh saluran air yang ditata bagai sungai kecil dari pelataran luas di depannya.  Berbekalkan tiket khusus ke bagian itu, saya pun menyeberang dan mengamati bangunan-bangunan tersebut dari dekat.  Warna merah terang tentu mendominasi, namun juga ada warna hijau, dan bila saya tidak salah, sentuhan Jawa pada arsitektur atap bangunan utama.  Beberapa bagian tidak bisa dimasuki oleh orang yang tidak berniat beribadah, dan di beberapa bagian kita harus mencopot sepatu.  Aturan-aturan ini tentu harus kita hormati.

semarang07

Figur paling dihormati di kelenteng ini adalah sang pelaut Muslim dari negeri Cina,  Cheng Ho.  Patung raksasanya gagah berdiri di depan bangunan utama peribadahan.  Di kelenteng ini pun terdapat beberapa relik yang berhubungan dengan dunia maritim.  Kura-kura, si perlambang usia panjang, juga banyak menghiasi kelenteng ini, baik kura-kura sungguhan maupun yang dari batu.

semarang10

Saya lalu mendatangi sekumpulan bapak-bapak yang duduk di bawah pepohonan tempat saya sempat bercokol sekitar sejam tadi.  Dengan ramah mereka melayani pertanyaan saya mengenai cara pergi ke Pagoda Buddhagaya Watugong.  Berdasarkan petunjuk mereka, saya menyeberang di depan kelenteng, dan menaiki bis kecil – seukuran Metro Mini – ke arah Banyumanik.  Cukup jauh juga perjalanan ke pagoda tersebut, namun buat saya sama sekali tidak membosankan, karena ini kali pertama saya melihat semua yang terpampang di hadapan mata.

Tiba di Pagoda Buddhagaya Watugong, terlintas sebuah pikiran konyol di benak saya yang rupanya telah terpenjara kehidupan bertahun-tahun di Jakarta: Wah, rasanya seperti bukan di Indonesia, seperti di negara asing saja.  Ini konyol.  Tentu saja ini Indonesia.  Indonesia yang merupakan keseharian bagi penduduk daerah ini.  Indonesia yang berbeda dari Jakarta ,tapi tidak kurang Indonesia-nya.

semarang11

semarang12

Di pagoda ini pun penjaganya sungguh ramah.  Ia mempersilakan saya masuk.  Untuk mencapai pagoda, kita harus mendaki undak-undakan.  Sebelum sampai di bangunan utama pagoda, kita disambut patung Dewi Kwam In di tengah-tengah pelataran, sementara tak jauh darinya, sebuah patung Buddha berwarna keemasan bersemayam damai di bawah sebatang pohon boddhi yang rindang.

semarang14

semarang13

Di bagian belakang kelenteng terdapat kamar mandi yang cukup bersih.  Saya manfaatkan untuk mencuci muka yang sejak kemarin belum tersentuh air mandi.  Segar rasanya.  Saya lantas meneruskan mengelilingi pagoda yang sebenarnya tidak seberapa luas, mengamati sebanyak mungkin detail: patung-patung dan ukiran-ukiran naga, kura-kura, singa, pita-pita merah yang diikat di berbagai objek.

semarang15

Hari sudah siang sekali ketika saya meninggalkan pagoda, naik angkot ke terminal Banyumanik, dilanjutkan dengan bis Trans Semarang yang nyaman.  Saya turun di halte SMA 5 Pemuda, tepat di seberang hotel Amaris Pemuda, tempat saya menginap.  Saya memilih hotel ini karena melihat letaknya yang cukup dekat ke beberapa objek wisata di Semarang, seperti Lawang Sewu, selain harganya yang memadai untuk kantong saya dan pengalaman saya selama ini di cabang-cabang lain yang tidak mengecewakan.  Ternyata beberapa keuntungan lain menginap di hotel ini adalah: hanya selemparan batu dari halte Trans Semarang; di bagian bawah hotel ada cabang Dunkin Donuts dan Gramedia; kalau perlu apa-apa juga mal Paragon dan Carrefour bisa didatangi dengan berjalan kaki.

semarang20

Setelah beristirahat sejenak di kamar hotel, saya keluar lagi untuk mencari makan di Carrefour, sekalian menuju Lawang Sewu.  Karena lapar, saya pilih saja sebuah restoran cepat saji yang menyajikan makanan Asia.  Hmmm… rasanya biasa saja sih, harganya pun setara dengan restoran cepat saji lain alias ‘harga Jakarta’, tapi ya sudahlah.  Namanya orang lapar.  Tapi saya bertekad, sehabis ini kalau mau makan harus di luar mal!

Ah, tapi sebelumnya saya perlu bicarakan dulu tentang betapa enaknya berjalan kaki di banyak bagian Semarang.  Trotoar luas, rapi, kerap kali dinaungi pohon rindang.  Dari hotel ke Lawang Sewu, saya melewati kantor walikota dan DPRD yang megah, dan juga papan-papan di mana surat kabar hari itu ditempelkan, bebas dibaca oleh warga yang kebetulan lewat.  Kota-kota Indonesia perlu lebih banyak trotoar semacam ini!

semarang19

Tiba di Lawang Sewu, yang mungkin merupakan ikon paling kenamaan Kota Semarang, saya pun membeli tiket dan magnet kulkas berbentuk Lawang Sewu.  Selain itu, saya harus membayar pemandu yang mengantar saya menyambangi berbagai pojok Lawang Sewu yang sudah dibuka untuk umum (karena sebagian bangunan masih berada dalam tahap renovasi, termasuk bagian di mana terdapat jendela kaca patri yang indah).   Pak pemandu menemani saya dengan berbagai kisah sejarah maupun ‘urban legend’ yang juga membuat kompleks bangunan ‘berpintu seribu’ ini terkenal.  Pasti semua juga sudah pernah kan mendengar tentang kejadian-kejadian seram yang konon terjadi di Lawang Sewu?

semarang16

Dalam hati, saya sendiri merasa seandainya gedung-gedung di kompleks ini terawat baik semuanya, dan juga digunakan secara aktif, tentu tidak terasa (terlalu) menyeramkan.  Atmosfernya tidak akan ‘wingit’, tidak akan jadi lokasi favorit ‘uji nyali’ (kalau mau, Anda bisa lho ikut tur malam hari di gedung ini).  Malah gedung-gedung tersebut pastilah cantik sekali di masa jayanya, ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang, sibuk dengan berbagai aktivitas mereka.

Di bagian yang sudah direnovasi dan dijadikan museum PT KAI, saya belajar banyak tentang sejarah dan kondisi perkereta-apian di Indonesia sekarang.  Wah, ternyata di Sumatra masih ada lokomotif yang menjalankan tugas luar biasa, menarik 40 sampai 60 gerbang sekaligus!  Sedihnya, tersaji pula peta rute-rute daerah-daerah operasional KAI, yang juga menunjukkan stasiun-stasiun yang sudah ‘dimatikan’ alias ditutup.  Ah!  Padahal dulu kereta merupakan salah satu alat transportasi utama yang menghubungkan kota-kota di Sumatra dan Jawa.

semarang18

Saya sempat ditawari masuk ke lorong-lorong bawah tanah, tempat difilmkannya video hantu yang popular di TV maupun Youtube.  Saya menolak sambil tertawa.

“Kenapa?  Kan sayang sudah jauh-jauh ke sini,” kata penjaga di depan tangga turun ke lorong-lorong tersebut.  (Untuk turun, kita harus membayar lagi biaya masuk yang juga mencakup penyewaan sepatu bot, karena di bawah sana air kerap menggenang.)

“Nggak ah Pak.  Saya tidur sendirian di hotel dekat sini,” saya berseloroh.

Beberapa kali mereka mencoba membujuk saya, namun gagal.  Bener deh, saya tidak ada niat turun ke bawah, meskipun katanya di bawah sana sedang ramai oleh pengunjung, tidak menakutkan.  Memang sih masih siang.  Saya hanya malas saja kalau malam nanti jadi terbayang-bayang suasana di lorong-lorong itu.

semarang17

Bukannya percaya takhayul ya, tapi kebetulan sekali malam harinya saat saya pulang dari Simpang Lima usai makan malam, saya kembali melintas di samping Lawang Sewu saat berjalan kaki menuju hotel.  Tanpa diduga, di depan saya cabang pohon yang cukup besar tahu-tahu jatuh ke trotoar di depan saya!  Seandainya saya tadi tidak melambatkan langkah karena menengok layar telepon genggam, mungkin cabang pohon yang tumbuh di tepi kompleks Lawang Sewu itu bakal menimpa saya.

Ups.

Anggaplah sambutan pertanda saya diterima di Semarang!  Hehehe.

Bersambung ke bagian kedua…

Balikpapan, Setelah Hampir 20 Tahun Lewat

This post is about Indonesia

Butuh waktu berbulan-bulan bagi saya sebelum akhirnya bisa menulis tentang perjalanan saya ke kota tempat saya sempat dibesarkan dulu ini.

Bukan apa-apa, tetapi perjalanan kali ini memang sangat emosional untuk saya.  Setelah nyaris 20 tahun berlalu, saya kembali ke Balikapapan, untuk menjenguk nenek saya, yang kini sudah sangat tua sehingga pikun dan nyaris tidak bisa melakukan apa-apa.  Bukan pengalaman baru yang menyenangkan untuk ditumpukkan di atas kenangan saya tentang saat beliau masih sehat-walafiat, sibuk membuat kue nastar dengan oven model lama di dapur rumahnya di Balikapapan.

Toh akhirnya jadi juga saya terbang ke Balikpapan dengan Citilink dari Jakarta.  Hari sudah gelap ketika saya tiba, dan saya disambut oleh Bandara Sepinggan yang rasa-rasanya tak banyak berubah, masih seperti dulu.  Hei, tapi… tunggu dulu.  Ada bangunan terminal baru yang terlihat modern, baru digunakan oleh satu maskapai saja.  Selain terminal baru itu, Sepinggan juga sedang menjalani renovasi menyeluruh.  Saya hanya berharap bentuk bandara yang baru tidak sekadar modern namun generik, melainkan tetap menampilkan unsur-unsur budaya setempat yang khas.

(Oh ya, namanya juga di bandara Kalimantan, di Sepinggan ada sejumlah peringatan bahwa penumpang yang membawa mandau – senjata tajam khas Kalimantan – diharapkan menitipkannya ke pilot, demi keamanan penerbangan.)

Saya dijemput oleh paman dan sepupu saya, dan diajak ke Boncafe untuk makan malam.  Ini restoran yang sudah berusia cukup tua, banyak menyajikan hidangan Barat atau fusi, dan sepertinya punya kalangan penggemar tersendiri.  Saya melihat setidaknya satu kelompok ekspat yang sedang makan malam di situ bersama kami.  Dan para pelanggan ini bisa membawa pulang pecah-belah yang dibuat khusus untuk peringatan – kalau saya tidak salah – tiga dasawarsa Boncafe.

Sedari awal, paman saya jelas-jelas menunjukkan kebanggaan pada kotanya.  Ia heran kepada saudara-saudara yang memutuskan pergi menuju Tanah Jawa demi mencari penghidupan.  “Di sini pekerjaan ada, uang banyak.  Mau apa-apa juga ada.  Mall saja banyak.”

Ah, iya.  Betul.  Ingatan saya tentang Balikpapan memang tidak banyak, tapi jelas tidak melibatkan pusat-pusat perbelanjaan dan hotel-hotel besar yang kini tumbuh menjamur di kota tepi pantai itu.  Pasar Rapak tempat saya kerap dibawa ayah saya berbelanja sewaktu kecil dulu pun telah berubah menjadi ‘trade center’.  Bangunan-bangunan modern sebelah-menyebelah dengan deretan ruko-ruko lama kecil yang masih terpelihara.  Saya bahkan masih mengenali sejumlah toko yang sering saya singgahi sewaktu anak-anak.  Dan meskipun sudah mulai ada ‘taksi’ seperti yang biasa kita kenal di Jakarta, angkutan umum yang disebut ‘taksi’ – kalau di Jakarta kita sebut omprengan – juga masih berkeliaran.

Sejak lama memang Balikpapan, meskipun bukan ibukota provinsi, menjadi gerbang masuk ke Kalimantan Timur.  Kota ini adalah salah satu pangkalan pengolahan Pertamina: perusahaan minyak negara tersebut adalah salah satu faktor yang berpengaruh paling besar dalam pembentukan kota ini.  Kini pun Balikpapan merupakan kota yang banyak dikunjungi pebisnis: untuk merekalah sedemikian banyak hotel-hotel itu dibangun.

Balikpapan memang bukan tempat tujuan wisata utama, bila tempat wisata yang ada dalam benak kita adalah sebuah daerah dengan pemandangan alam luar biasa dan/atau berbagai produk budaya yang menunjukkan adat-istiadat yang kuat.  Namun, dari Balikpapan, kita bisa menuju tempat-tempat seperti itu di Kalimantan Timur, sementara kota itu sendiri berjaya sebagai daerah bisnis dan industri.  Terlepas dari itu, Balikpapan punya daya tarik tersendiri – mungkin bukan sebagai tempat berwisata, melainkan sebagai tempat tinggal.

Bukan hanya masalah pekerjaan dan uang seperti yang disebutkan paman saya.  Namun kota ini masih mempertahankan pesonanya sebagai kota kecil yang nyaman dan bersahabat bagi penghuni.  Kelengkapan sarana berbelanja dan bersenang-senang, termasuk bioskop Blitz Megaplex yang akan segera buka, bukan segalanya.  Balikpapan juga punya taman-taman yang menyenangkan, lapangan-lapangan luas yang siap menampung aktivitas warga, dan trotoar-trotoar yang enak ditelusuri.  Di akhir minggu ketika saya ke sana, sedang ada ramai-ramai berupa senam dan jalan kaki bersama yang diikuti orang dewasa maupun anak-anak.  Bayangkan menyenangkannya melakukan itu semua di bawah langit biru yang bersih, dinaungi pepohonan rindang, dan diterpa angin pantai yang segar.

Ingatan saya yang bolong-bolong tentang Balikpapan juga gagal mengingat kalau kota ini berbukit-bukit.  Ingat, sih, dulu saya pernah tinggal di ‘Gunung Polisi’, dan juga di ‘Panorama’ yang juga berwujud ‘gunung’.  Tapi ternyata ada juga ‘gunung-gunung’ lain, termasuk salah satunya di mana rumah keluarga paman saya berdiri.  Ketika pagi hari tiba dan saya melangkah ke halaman belakang, saya disambut matahari yang masih malu-malu timbul, udara yang sejuk, dan pemandangan menuruni lereng bukit.

Saya juga lupa bahwa kompleks Pertamina dan Stadion Persiba sebenarnya terletak agak jauh dari pusat keramaian kota.  Menyusuri jalanan tepat di samping laut, melewati Pelabuhan Semayang, melalui jalan yang diapit pepohonan yang tak terusik, kami pun tiba juga di kompleks Pertamina yang masih dihiasi rumah-rumah lama, seperti yang dulu keluarga saya huni bertahun-tahun lalu.  Rumah di Parikesit dan Panorama yang pernah kami tinggali sama-sama masih ada.  Sebagian rumah Pertamina tampak masih atau bahkan bertambah bagus, namun sebagian justru tampak tidak terawat.  Gedung Banua Patra dan Gelora Patra yang kerap menjadi tempat penyelenggaraan berbagai acara, terlihat mulai reyot.  Dan saya lupa, apakah dulu kompleks Pertamina sesepi ini?  Ataukah memang dulu penghuninya lebih banyak?

Paman saya mengajak sarapan nasi kuning di Karangjati, di sebuah warung sederhana yang ia klaim dulu tempat merupakan favorit ayah dan ibu saya.  Hidangan sederhana, berupa teh hangat dan nasi kuning di atas kertas pelapis yang dengan repot-repot dibuat berbentuk bunga, dengan lauk pendamping yang bisa kita pilih sendiri, menjadi pengganjal perut yang menyenangkan.  Orang-orang bergantian datang, mengejar rasa yang telah mereka akrabi berpuluh-puluh tahun.   Saya juga sempat mencicipi untuk-untuk, penganan yang dulu hampir setiap hari bisa mampir ke perut saya.

Di depan deretan toko-toko tempat kedai nasi kuning ini terdapat, berjajar sejumlah rumah panggung kuno milik Pertamina yang telah dijadikan cagar budaya.  Ah, kota ini memang seperti ‘berwajah dua’.  Di sana-sini, ditunjukkan tanda-tanda kemakmuran modern yang belum lama hinggap, namun masih banyak pula sudut kota yang seolah tak pernah berubah meski jangka waktu 20 tahun memisahkan saya saat terakhir melihat mereka dulu dan saya yang sekarang.   Di sejumlah tempat waktu seperti berjalan cepat sekali, menyongsong status Balikpapan sebagai ‘kota modern’ – seperti yang tampak di ‘Balikpapan Baru’ yang dibangun dengan keseragaman gaya dan bentuk, membuatnya tak jauh beda dari ‘kota-kota baru’ lain di Indonesia, Serpong misalnya.  Akan tetapi di sejumlah bagian lain kota, waktu seolah berjalan demikian lambat, enggan bergerak maju.

Sebelum saya ke bandara untuk pulang ke Jakarta, Paman membawa saya ke restoran kepiting saos favoritnya, Kenari, yang menyajikan aneka macam masakan seafood dan ayam, tentu saja dengan kepiting sebagai bintangnya.  Para pelayan dengan sigap akan membungkus-khusus kepiting bila kita memberi tahu bahwa pesanan kita itu akan dibawa terbang ke kota lain.  Tak heran hidangan kepiting ini menjadi salah satu oleh-oleh yang dinanti dari Balikpapan.  Paman saya bahkan membawakannya untuk dokter langganan atasannya di Singapura setiap kali ia menemani sang bos berobat ke sana.

Terminal keberangkatan yang digunakan maskapai saya masih sama dengan yang dulu – berlangit-langit rendah, dengan berderet-deret tempat duduk tanpa pemisah khusus untuk setiap gate.  Tapi sebuah kedai Starbucks tampak mencolok dengan warna logonya yang hijau dan putih, sementara di sudut lain kini ada tempat khusus untuk mengisi ulang baterai telepon genggam.  Ah, perubahan memang tidak terhindarkan.  Akan tetapi, dengan perasaan lega karena akhirnya bisa juga mencolokkan charger telepon genggam saya, diam-diam saya berharap, semoga kali lain saya mengunjungi Balikpapan, kota ini masih bisa saya kenali…

Akhir Minggu di Banyumas

This post is about Indonesia

Waktu menunjukkan pukul 8 malam ketika akhirnya kami meninggalkan restoran padang di dekat pintu tol Cikampek.  Bulan setengah naik di atas sawah-sawah yang gelap.  Hampir tak ada tanda-tanda kehidupan, selain kafe-kafe Pantura bersponsor minuman keras yang justru baru saja buka dan mulai ramai.  Saat itu hari Jumat, dan seusai kerja kami bertolak dari Jakarta menuju Purwokerto, bersaing dengan berbagai truk dan bis besar yang meluncur kencang di Jalur Pantura.  Kami hendak menghadiri acara ‘ngunduh mantu’ seorang rekan yang sedianya akan dilangsungkan hari Sabtu keesokan harinya di Purbalingga.  Meskipun demikian, kami memutuskan untuk bermalam di Purwokerto, sekitar 45 menit jauhnya dari tempat penyelenggaraan acara.

Pukul dua, kami tiba di Purwokerto.  Jalanan telah sepi, namun di depan gedung RRI Purwokerto, masih ada kerumunan orang ramai.  Ah, ternyata sedang ada pagelaran wayang!  Seandainya belum lelah sekali, sebenarnya saya ingin sekali bergabung dengan mereka.  Apa mau dikata, tubuh sudah pegal-pegal dan mata sudah kriyep-kriyep.

Setelah agak ‘tersesat’ sedikit, kami berhasil menemukan Hotel Wisata Niaga.  Gedungnya megah juga, namun yang tak kami sangka adalah harga kamarnya yang tergolong murah untuk fasilitas yang dihargai setidaknya 500 ribu di Jakarta.  Harga kamar twin bed di akhir minggu itu adalah 275 ribu, ditambah biaya sarapan sepuasnya 25 ribu/orang.  Dua botol air minum, sabun, dan sampo disediakan gratis, tapi untuk fasilitas lainnya, harus membeli (ada drugstore di lantai dasar hotel ini) atau menyewa (misalnya ketel listrik untuk memanaskan air, bonus teh dan kopinya).

Setelah bebersih-bersih, kami pun berangkat tidur.  Hhhh, leganya akhirnya tubuh bisa lurus di kasur!  Ngomong-ngomong, selain Hotel Wisata Niaga ini, di Purwokerto juga sudah ada sebuah cabang Hotel Aston, yang menjulang dengan cukup mencolok di salah satu perempatan.  Perkembangan kota ini rupanya memang cukup pesat, sehingga membuat pangling anggota rombongan kami yang sebelumnya telah berkali-kali ke Purwokerto.

Pagi harinya, setelah sarapan mengenyangkan di ruang makan hotel, kami pun check out.  Saya baru perhatikan benar-benar bahwa seluruh fasad muka hotel ini tidak berdinding, mulai dari lobi sampai ruang makan.  Udara kota Purwokerto yang masih segar pun mengalir masuk dengan bebas.  Tidak dibutuhkan pendingin udara.

Kami tiba di tempat acara, dekat Lapangan Udara Wirasaba, sekitar pukul sepuluh.  Kami disambut dengan ramah, dan diberikan tempat duduk di salah satu meja.  Rupanya acara ngunduh mantu ini ‘all-seating’, tidak ada tamu yang berdiri, semuanya duduk seperti jamuan makan malam.

Seluruh acara, yang diiringi musik karawitan, dibawakan dalam bahasa Jawa, yang hanya saya mengerti sedikit-sedikit.  Dalam sambutannya, salah seorang tamu yang berwibawa – kepala desa, mungkin? – menyampaikan bahwa Lanud Wirasaba akan diubah menjadi bandara komersil tak beberapa lama lagi.  Suatu hari nanti, kita bisa terbang langsung ke Purwokerto!

Soto Sukaraja, yang kami santap di acara ngunduh mantu.

Kami berkesempatan juga menyaksikan acara adat Banyumasan, Begalan, yang diselenggarakan bila kedua pengantin sama-sama anak sulung atau anak bungsu, atau yang satunya sulung sementara satunya lagi bungsu.  Dua orang bertukar lawakan penuh petuah berumah tangga dan beragama.  Mereka menjabarkan simbolisasi berbagai barang rumah tangga yang diikat di sebuah pikulan.  Setelah usai, pikulan dibawa ke luar dari tempat acara.  Baru selangkah keluar dari pintu depan, pikulan langsung diserbu oleh hadirin yang menanti.  Mereka pun melangkah pergi dengan puas, membawa barang-barang yang sigap mereka renggut dari pikulan.

Setelah rangkaian acara usai, pasangan pengantin berdiri di dekat pintu keluar, dan undangan yang bukan merupakan kerabat dekat bersalaman dengan mereka sekaligus berangkat pulang.  Hanya kerabat dekat dan tamu undangan dari jauh yang masih tinggal untuk berfoto-foto.

Tujuan kami berkutnya adalah Baturraden yang tidak terlalu jauh dari Purbalingga.  Perjalanan menanjak membawa kami ke tempat yang berselimutkan suhu cukup dingin dan telah lama menjadi tempat tujuan wisata itu.  Biaya masuk per orang di akhir minggu adalah Rp 10.000 (di hari biasa Rp 8.000), masih ditambah dengan tarif masuk untuk kendaraan bermotor yang dibawa, sesuai ukurannya.

Sebelum masuk ke kawasan wisata Baturraden, anggota rombongan kami terlebih dahulu salat di masjid di seberang lapangan parkir.  Ada juga yang memanfaatkan WC umum yang bersih di samping masjid, cukup dengan Rp 1.000 saja per orang.

Beres semua, kami pun melangkahi gerbang masuk Baturraden, dan langsung disambut oleh taman yang ditata apik mengikuti kontur lereng.  Air mengalir di sela-sela bebatuan, dan jatuh membentuk air terjun alias ‘pancuran’.  Namun, berhubung musim kemarau, aliran air sedang tidak begitu deras ataupun dalam.  Sepintas, kalau kita tidak perhatikan aliran air ini, Baturraden sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda musim kering.  Semua tanaman masih menghijau, bunga-bunga bermekaran berwarna-warni.  Jembatan-jembatan melengkung indah, atau membentang lurus menantang, jauh dari permukaan tanah.

Selain sekadar berjalan-jalan dan menikmati pemandangan, cukup banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan di Baturraden.  Misalnya, menonton film di dalam badan pesawat asli yang dipajang di dekat gerbang masuk, menonton film 4D, berenang, mandi air panas, dipijat, main perahu bebek-bebekan, sampai di-‘terapi ikan’ yang geli-geli menyakitkan.  Enaknya di-‘terapi ikan’ di Baturraden, bukan hanya cukup murah (Rp 5.000 per 30 menit), melainkan juga bisa sambil duduk menikmati pemandangan di bawah langit terbuka, karena letak kolam-kolamnya yang cukup tinggi di lereng.  Jasa tukang foto juga ada.  Dengan harga mulai dari Rp 10.000/lembar untuk ukuran 4R, hasil cetak foto bisa kita ambil di kios fotografer Baturraden.

Makanan yang banyak dijajakan di sini adalah bakso, yang kuahnya tentu mujarab menghalau dingin, serta sate ayam dan kelinci.  Tak tega memakan kelinci, saya memilih sate ayam saja.  Yang membuat hidangan ini makin mantap adalah potongan-potongan bawang merahnya yang segar dan ‘nendang’ rasanya!  Beberapa kali makan di daerah ini, saya perhatikan memang bawang merahnya lezat sekali.  Mungkin berasal langsung dari sentra-sentra perkebunan bawang di sekitarnya.

Sayang kami tidak sempat mengitar-kitar terlalu jauh.  Kami tidak punya waktu untuk mencapai Pancuran 3 dan Pancuran 7, air terjun-air terjun yang katanya lebih menarik lagi daripada yang ada di bagian depan Baturraden.  Namun kami harus berjalan cukup jauh untuk mencapai kedua pancuran tersebut, padahal hari sudah beranjak sore.  Kami juga membatalkan niat menginap di Baturraden, meskipun di situ banyak tersedia hotel atau penginapan yang cukup murah, karena memutuskan untuk pulang malam itu juga ke Jakarta.

Kami turun ke Purwokerto, dan menumpang beristirahat serta mandi di rumah mertua salah seorang anggota rombongan.  Udara sejuk, dan saya tidak digigit nyamuk sekali pun.  Lepas Maghrib, kami pergi mencari oleh-oleh dan makan malam.  Sempat mencoba di pasar raya Rita, kami lantas dibawa ke toko penganan dan oleh-oleh Banyumas dan sekitarnya, Aneka Sari, yang terletak di jalan di belakang pusat perbelanjaan Moro.  Selain penganan kering seperti nopia, kerupuk tahu pong, dan lain-lain, Aneka Sari ini bersebelahan dengan kedai Aneka Sari 999 yang tidak hanya menjual mendoan matang, melainkan juga paket mendoan mentah.  Dengan harga Rp 30.000/paket, kita akan memperoleh 24 lembar tempe mendoan, lengkap dengan terigu, bumbu, dan kecap.  Oleh-oleh mendoan mentah ini tahan dua hari.

Tujuan kami berikutnya adalah Gelanggang Olahraga alias GOR.  Di trotoar depan GOR, berjajar warung-warung makan lesehan yang memikat selera.  Di malam minggu itu, GOR juga ramai bukan hanya karena para pengejar selera, melainkan para penonton dan pebalap motor.  Mereka berbondong-bondong memasuki kawasan GOR, dan bunyi berisik motor-motor yang dipacu pun menemani kami makan seafood di lesehan.

Saya makan ditemani segelas ‘black choco’ dingin dan nikmat dari Grék, penjual minuman cokelat asli Cilacap dan kopi yang membuka gerai mobil di samping warung seafood yang kami sambangi.  Belum puas mengisi perut, kami pun membeli jagung bakar yang sudah kami idam-idamkan sejak di Baturraden tadi.  Jagung yang segar, yang dipetik sendiri dari kebun oleh sang penjual di pagi hari sebelum kemudian dijual dalam kondisi terbakar, dengan tiga rasa yang bisa dipilih, manis, asin, atau pedas.

Sambil menunggu si bapak mengipasi jagung yang kami pesan di atas bara, kami pun mengobrol dengannya.  Menurutnya, adu balap motor di GOR  biasanya akan dibubarkan polisi sekitar pukul 9 atau 10 malam.  Sementara itu, ya, suara bising bersahut-sahutan dari mesin-mesin yang digeber pun menjadi penghangat malam minggu di Purwokerto.

Pukul setengah sebelas malam, kami telah kembali meluncur ke Jakarta.  Tak sampai 24 jam di Banyumas, tapi cukup banyak hal menarik yang kami lihat dan alami.  Semakin besar niat saya ‘bertualang’ menyusuri kota-kota di Jawa dengan mobil.

Selasar Sunaryo, Bandung

This post is about Indonesia

Bandung memang telah lama menjadi kota favorit warga Jabodetabek untuk melarikan diri sejenak kala akhir minggu atau libur panjang.  Kini, berkat dibukanya sejumlah penerbangan dari dan ke bandara kota ini, Bandung semakin ramai saja dengan pelancong-pelancong yang berseliweran.  Namun selain menjelajahi factory outlet, toko-toko, dan berbagai tempat makan di kota Bandung, ada keasyikan tersendiri mencari tempat-tempat yang lebih tenang karena posisinya yang tersembunyi di sekitar Bandung.  Tempat-tempat semacam itu sering kali terletak di jalan-jalan yang sedemikian sempit sehingga bahkan tak bisa dilewati dua mobil berlawanan arah dengan leluasa.

Salah satunya adalah Selasar Sunaryo yang berlokasi di Bukit Pakar Timur no 100.  Tempat ini dimaksudkan sebagai semacam pusat berkesenian, namun tak dikehendaki menyandang nama galeri atau museum, melainkan ‘art space’.  Kedua ruang pamer yang tersedia menampilkan berbagai karya bergantian, tergantung tema atau acara khusus yang sedang berlangsung.  Bahkan saat kami sedang di sana, belum ada apa-apa yang bisa dilihat di ruang pamer, karena keduanya sedang dibereskan untuk pameran berikutnya.

Akhirnya, selain melihat-lihat arsitektur art space ini beserta taman-tamannya – yang tampaknya dipengaruhi ‘gaya’ Zen – kami pun memilih untuk bersantai di Kopi Selasar, kedai yang merupakan bagian dari Selasar Sunaryo.  Tempat makan ini tak hanya menjual makanan dan minuman, melainkan juga suasana dan pemandangan.  Di sini pengunjung juga bisa mengisi ulang baterai telepon genggam di rak-rak khusus yang tersedia.

Sayangnya karena perut saya waktu itu masih agak penuh, saya hanya ‘sanggup’ memesan secangkir kopi dan kentang goreng berbumbu pedas.  Dihidangkan hangat-hangat, keduanya pas betul jadi hidangan  pengusir dingin.

Ada sebuah toko kecil di art space ini, yang menjual buku-buku dan sejumlah cenderamata yang bisa dibeli.  Sebagian cenderamata adalah buatan tangan sejumlah seniman, sehingga tidak ada duanya.  Selasar juga menyediakan perpustakaan yang terbuka bagi umum.

Oya, Selasar Sunaryo juga menyediakan amfiteater dan pendopo untuk pertunjukan atau diskusi.  Silakan cek selalu pameran dan kegiatan yang sedang atau akan berlangsung di situs mereka ini.

Pulang ke Sumatera Utara (2)

This post is about Indonesia

Kami meneruskan perjalanan ke Medan, dengan singgah di Brastagi untuk sekadar menengok pasar yang berhias warna-warni bunga dan buah-buahan, serta menyantap jagung bakar yang hangat dan meneguk air tebu yang manis.  Kota tetirah ini bersuhu sejuk dan sepertinya nyaris selalu berada dalam bayang-bayang hujan.  Atau mungkin kebetulan saja setiap kali ke kota ini saya selalu kebagian cuaca seperti itu.

Berbagai buah segar menanti pembeli di pasar Brastagi.

Jagung bakar dan air tebu yang nikmat disantap di udara dingin.

Sebenarnya di Brastagi ada sejumlah resor yang cukup terkenal, di antaranya Mikie Holiday yang pernah menjadi tempat fanmeeting dan konser band Korea U-KISS pada Maret 2011.  Seandainya ada waktu, ingin saya mampir… tapi rupanya kali ini tidak bisa.  Saya hanya lewat saja di depan Mikie yang tampak megah dan mengundang.  Selepas Brastagi, mobil menyusuri jalan berkelok-kelok yang membelah Hutan Raya.  Bila gampang mabuk darat, rute ini pasti cukup ‘meninggalkan kesan’.  Tidak heran salah satu hal yang paling teringat oleh anggota U-KISS adalah perjalanan yang harus mereka tempuh dari Medan ke Brastagi (dan tentunya balik lagi!)

Kami singgah lagi untuk mencicipi makan durian di salah satu pondok khusus penjual buah berduri itu di tepi jalan.  Harganya 25 ribu sebuah, terhitung mahal untuk ukuran Sumatera.  Namun ini dengan jaminan bahwa bila durian-nya tidak enak, bisa kita tukar tanpa menambah biaya.  Hanya saja…  kalau menurut saya kok rasa durian-nya kurang mantap.  Untuk memuaskan rasa penasaran saja sih, lumayanlah.

Jejeran durian. Tampang cukup menggoda… tapi yang ini kebetulan rasanya tidak terlalu istimewa.

Sepanjang perjalanan, terlihat rumah-rumah tua yang kelihatan termakan usia.  Sayang sekali, padahal bila diperbaiki dan dirawat, pasti rumah-rumah itu cantik dan bisa memikat hati wisatawan yang sekadar lewat sekali pun.  Umumnya pemilik rumah-rumah itu tidak lagi berdomisili di Sumatera Utara, melainkan pindah ke Jawa, barangkali ke Jakarta, tempat di mana sedemikian banyak uang berputar.  Generasi ‘muda’ yang meninggalkan kota asal setelah generasi ‘tua’ tiada itu rata-rata tidak ingin menjual rumah peninggalan orang tua, namun juga tak ingin meninggalinya.  Akhirnya banyak yang disewakan dengan murah, bahkan hanya dengan harga puluhan ribu per tahun, semata agar rumah-rumah itu tidak kosong dan ada yang merawat meski seadanya.

Saat tiba di Medan hari sudah petang.  Bukannya langsung hotel, kami terlebih dahulu mendatangi Merdeka Walk untuk mencari makan.  Ini adalah jejeran tempat makan yang menempel di salah satu sisi Lapangan Merdeka dengan konsep ruang terbuka.  Meskipun kita bisa bersantap di dalam bangunan utama masing-masing restoran, banyak yang lebih memilih duduk di meja-meja di luar, di bawah pepohonan yang memayungi pelataran memanjang yang diberi sebutan ‘walk’ itu.  Mulai dari restoran waralaba asing sampai jago-jago dalam negeri ada di sini.

Sepenggal Merdeka Walk.

Di Merdeka Walk, juga terdapat kantor informasi pariwisata.

Lapangan Merdeka sendiri menjadi salah satu tempat pilihan warga Medan untuk berolahraga dan bersantai, berkat fasilitasnya yang cukup memadai dan keteduhan yang ditawarkan sebagai penghilang lelah di tengah kota yang ramai.  Di sekeliling Lapangan Merdeka, selain Merdeka Walk, terdapat sejumlah bangunan menarik yang usianya sudah puluhan bahkan mungkin lebih dari seratus tahun, yang dibangun ketika Medan sedang bersinar terang sebagai kota utama di ‘sabuk perkebunan’ Sumatera. Contohnya adalah kantor pos pusat dan sejumlah bangunan yang masih difungsikan oleh Bank Mandiri.  Di salah satu sisi Lapangan Merdeka juga terdapat pasar buku, yang sayangnya sore itu telah tutup dan beralih fungsi sebagai tempat sejumlah orang berolahraga sore.

Gedung kantor pos tua Medan.

Aston City Hall yang menggabungkan gedung baru dengan gedung warisan masa lalu.

Suasana sore di Lapangan Merdeka.

Seusai makan, baru kami menuju Hotel Garuda, hotel berukuran cukup besar yang cukup terkenal di Medan.  Saat kami di sana, begitu banyak orang yang keluar-masuk hotel untuk berbagai urusan.  Papan di lobi menandakan bahwa sebagian besar ruang fungsi hotel sudah disewa untuk macam-macam acara, dari pesta kelulusan akademi sampai rapat kantor.  Kami mendapat kamar di bangunan hotel yang lama, namun bersih, lega, dan nyaman, serta berlantai parket – jenis lantai kesukaan saya.  Harga sewa kamar sudah mencakup sarapan.  Sarapan ala Medan memang agak terlalu berat untuk perut saya, namun juga tersedia menu gaya lain seperti roti dan bubur.

Di hotel ini ada layanan unik, yaitu ‘Arman’, seorang pria yang bisa Anda hubungi melalui telepon atau jumpai di lobi hotel antara pukul 8 pagi sampai 5 sore.  Ia adalah orang yang bisa Anda tanyai apa pun mengenai Medan.  Entah apakah si Arman ini hanya satu orang atau tidak, tapi saya pikir keberadaannya adalah gagasan yang bagus.  Kelebihan lain hotel ini adalah sejumlah biro perjalanan dan perwakilan maskapai yang berkantor di lantai bawah hotel, sehingga tak perlu jauh-jauh bila Anda membutuhkan bantuan mereka.  Posisinya juga cukup strategis di tengah kota Medan – dan tepat di seberang jalan toko Bolu Meranti, salah satu oleh-oleh paling terkenal dari Medan sekarang.

Bolu gulung dengan berbagai macam rasa, mulai dari cokelat, keju, moka, blueberry, dan lain-lain bisa dibeli di sini. Tapi rebutannya, waduhhh!

Malam itu, karena iseng kami pergi ke luar hotel dan tawar-menawar dengan seorang pengemudi ‘betor’, becak bermotor.  Akhirnya setelah tawarannya sempat kami tolak, ia mau mengantar kami berkeliling dengan biaya 30 ribu rupiah.  Yak, wisata malam di Medan!  Menyenangkan rasanya duduk di atas betor dengan wajah dihantam angin malam (yang tidak terlalu dingin) sambil menggali-gali ingatan tentang kota Medan yang saya kenal.  Terus terang, tak banyak yang saya ingat.  Lucunya, meskipun dulu lebih sering ke Medan daripada ke Danau Toba, ternyata saya lebih ingat Danau Toba.

Saat kami tengah mengagumi bangunan-bangunan tua Medan, si pengemudi berkata dengan serius, “Tapi rumah-rumah ini” (Ia menyebut semua bangunan itu rumah) “banyak yang tak bisa ditinggali.  Hantunya terlalu kuat.”  Mendadak kami jadi merinding dan bangunan-bangunan kuno di sekeliling kami jadi terasa agak mencekam.  Ia menunjukkan salah satu bangunan bercat biru yang tampak kosong.  Kegelapan mengintip dari sela palang-palang yang melintangi jendela-jendela.  Bangunan itu pasti pernah megah, namun sekarang… “Gelandangan yang tidur di situ, mati dicekik hantu. Kalau pintu dibuka, ada teriakan-teriakan minta tolong dari dalam.”

Entah benar entah tidak.  Namun lega juga rasanya ketika akhirnya betor kami melewati bangunan suram itu.  Mau tidak mau cerita si pengemudi memengaruhi kami juga.  Wah, lebih baik mengisi benak dengan pemandangan malam kota Medan yang lebih menarik, deh – misalnya jejeran lesehan yang menjajakan durian.  Duh, sepertinya durian yang dijual di warung-warung itu lebih mantap daripada yang kami cicipi tadi siang.  Sayang kami tak sempat mampir.

Pengemudi betor mengantarkan kami ke salah sebuah toko bika ambon.  Toko yang menjadi satu dengan rumah sekaligus pabrik kue berwarna kuning khas Medan itu sebenarnya sudah tutup.  Namun pemilik toko bersedia membuka lagi pintu tokonya agar kami bisa masuk.  “Nanti minta cicip ya, biar saya juga dapat,” bisik si pengemudi kepada kami yang hendak melangkah memasuki toko.  Oalah!  Yah, bonus lah ya, karena sudah bersedia mengantar kami mencari bika ambon malam-malam begini.

Pemilik toko dengan sigap menanyakan kapan kami akan pulang.  Esok, jawab kami.  Ia pun menawarkan untuk menyerahkan bika ambon baru yang segar esok hari di bandara.  Malam itu memang masih ada bika ambon tersisa, yang tahan tiga hari, namun tentunya lebih enak bila memperoleh yang baru dibuat keesokan hari. “Sudah biasa kok, misalnya janjian di Dunkin’ Donuts bandara,” katanya.  Namun kami khawatir esok hari malah terburu-buru atau entah apa sehingga tidak bisa menemui ia di bandara dan memilih untuk membawa bika ambon yang ada saja.  Dua kotak pun berpindah tangan.

Oleh-oleh dari Medan memang sudah menjadi bisnis yang digarap serius oleh toko-toko penyedia buah tangan.  Bila membeli Bolu Meranti, misalnya, mereka sudah memiliki kardus-kardus khusus untuk mengemas bolu dalam jumlah tertentu agar aman meskipun dimasukkan ke bagasi pesawat sekali pun.  Ingin membeli sirup markisa namun bingung membawa botol beling ke dalam pesawat karena takut pecah?  Cukup membeli voucher saja, yang nanti ditukarkan dengan sirup markisa di perwakilan di Jakarta.  Mudah!

Keesokan hari, sebelum menuju bandara kami mendatangi dua ikon kota Medan: Masjid Al-Mashun yang terletak di salah satu sudut Simpang Raya dan Istana Maimoon yang terletak tidak begitu jauh dari situ.

Masjid Al-Mashun dibangun di masa pemerintahan penguasa Deli kesembilan, Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam pada tahun 1906.  Arsitekturnya mengagumkan, penuh detail yang menyita perhatian, dengan langit-langit tinggi dan hiasan dalam kubah yang menggoda kita menatap terus-menerus.  Saya menyempat-nyempatkan ‘mengintip’ ke bagian jemaah laki-laki demi melihat mimbar imam.

Tempat mengambil wudu di masjid raya Medan ini dibangun terpisah dari bangunan salat utama, tetap dengan koordinasi warna yang sama.  Bagus sih memang, tapi kalau hujan, bagaimana ya, apa tidak merepotkan?

Masjid Al-Mashun yang menjadi salah satu ikon Medan.

Tempat mengambil wudu.

Di dalam kompleks masjid, juga terdapat pemakaman.

Simpang Raya.

Tujuan berikutnya adalah Istana Maimoon, tempat kedudukan Sultan Deli.  Sultan Deli yang sekarang masih remaja – ia naik tahta ketika ayahandanya tewas dalam kecelakaan pesawat beberapa tahun silam.  Kini ia masih bersekolah dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibunya yang tidak berdomisili di Medan.  Duduk bersila di lantai, kami mendengarkan penjelasan dari pemandu resmi Istana Maimoon mengenai sejarah ringkas Kesultanan Deli dan Istana Maimoon.  Caranya bercerita asyik; beberapa kali diselingi pantun merayu yang seolah telah menjadi napas orang-orang Melayu.  Sambil mendengarkan sang pemandu, saya mengedarkan mata berkeliling ruangan, berusaha mencerap segala detail yang didominasi warna kuning keemasan dan hijau.

Suasana egaliter di istana ini mungkin cukup mengejutkan kita yang terbiasa membayangkan keluarga kerajaan sebagai sekelompok orang yang jauh dari rakyat.  Singgasana sultan dan permaisuri – yang ngomong-ngomong, sama tingginya – boleh-boleh saja diduduki oleh pengunjung yang notabene adalah ‘rakyat biasa’.  “Kata Sultan, singgasana itu hanya barang, kalau rusak bisa diganti.  Nilai kenangan itu yang penting ada di hati,” tutur pemandu, tanpa menjelaskan sultan mana yang dimaksud.  Tak heran pengunjung sering berlomba-lomba mencicipi duduk bagai sultan di singgasana tersebut.

Bukti lain ke-‘egaliter’-an itu adalah dihuninya sayap-sayap Istana Maimoon oleh sejumlah keluarga.  Risikonya memang bagian-bagian samping istana jadi terlihat ‘agak jorok’ – ini mungkin harus jadi perhatian lebih dari pihak-pihak yang berwenang.  Namun harus diakui keberadaaan keluarga-keluarga itu membuat istana lebih hidup.

Toko suvenir di Istana Maimoon.

Singgasana yang boleh diduduki pengunjung.

Sang pemandu juga mengutarakan mengenai betapa penduduk Medan tidak punya masalah dengan keberagaman.  Sejak lama memang kota ini terkenal sebagai sebuah melting pot, di mana hidup orang-orang dari berbagai kelompok etnik dan latar belakang kepercayaan.

“Saya kangen suasana di sini, yang tidak ada di Jakarta,” kata salah seorang ‘perantau’ dari Sumatera Utara yang serombongan dengan saya.  “Di sini, tidak masalah agama kita Kristen atau Islam atau apa.  Kalau bulan puasa dan Lebaran, kami yang Kristen ikut membantu acara buka puasa, ramai berkunjung ke yang merayakan Lebaran.  Sebaliknya kalau hari Natal.  Di Jakarta, mengucapkan selamat Natal saja tidak boleh…”  Senyum yang membiaskan kenangan dan rasa bangga akan Medan – kebanggaan yang jamak saya temui bila berbicara dengan penduduk di kota itu –  pun terulas di wajahnya.  Senyum harapan bahwa kedamaian di Medan itu juga menyebar ke kota-kota lain.

Jogjakarta and Its Vicinity [Gallery]

This post is about Indonesia

Right.  This is a long-due post.  I made a trip to Jogjakarta last year – my second after my first time years and years ago when my cousins still lived there.  Just today, after I read about the royal wedding that will take place next week, I realised that apart from the piece about the Mendut candi and vihara, I wrote nothing more about my trip.  Guiltily, I browsed my folders to find the pictures I made there.

Not too many.  And I was using my old pocket camera so the quality of the pictures was somewhat I’m not too proud of.  But anyway, here are some of the pictures I made in Jogjakarta and its vicinity (areas like where the Borobudur is situated are parts of the Central Java province).

Jogjakarta – home of kings past and present, a sanctuary of faiths, a refugee of the Republic during its harsh times – may you live long and prosper.

Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri

This post is about Indonesia

Kota Jakarta sungguh perlu museum-museum berkualitas.  Memang ada museum yang sangat bagus dan terawat seperti Museum Nasional alias Museum Gajah, namun banyak juga yang masih seadanya saja.  (Berapa banyak di antara kita yang tahu dan pernah berkunjung ke Museum Tekstil?)  Oleh karena itu, kita boleh berbangga dan bersenang hati akan kehadiran museum yang satu ini: Museum Bank Indonesia, yang terletak berdampingan dengan Museum Bank Mandiri, dan terletak tidak jauh dari Museum Fatahillah dan beberapa museum lain yang terletak di kawasan Kota Tua Jakarta.

Langit-langit lobi depan Museum Bank Indonesia.

Saat ini sebenarnya Museum Bank Indonesia masih dalam tahap renovasi, belum semuanya siap menerima pengunjung.  Namun bagian-bagian yang sudah dibuka sungguh memuaskan dahaga akan museum yang menyenangkan sekaligus informatif.  Tidak hanya koleksinya, arsitektur bangunan ini juga membuat terkagum-kagum dan menuntut mata kita mengamati lekat-lekat agar dapat melihat segala detail yang terawetkan sedari zaman kolonial.

Pintu masuk ke Museum Bank Indonesia, dilihat dari dalam.

Masuk museum ini gratis, namun barang-barang bawaan harus dititipkan di bagian penitipan di dekat pintu masuk museum.  Setelah memperoleh tiket dan mengisi buku tamu, kita pun dipersilakan menuju sebuah lorong gelap dan berbelok, di mana kita disambut permainan interaktif.  Koin-koin tampak berjatuhan dari atas di dinding.  Bila kita berhasil mengurung salah satu koin dengan bayangan lengan dan tangan kita yang disatukan, maka akan keluar informasi mengenai koin yang bersangkutan.  Ingat, sewaktu di lorong ini, jangan memotret dengan flash, ya!

Tangkap koinnya, tangkap infonya!

Museum lantas akan membawa kita menyusuri masa demi masa perkembangan uang dan jasa perbankan di Indonesia, melalui lukisan, diorama, dan beraneka rupa pajangan lain. Adapula ruangan khusus yang memamerkan berbagai macam uang logam, uang kertas, dan uang dalam bentuk lain yang terkadang tak terduga dari berbagai daerah di Nusantara dan negara lain.  Yang sangat menyenangkan, di setiap lemari pajangan tersedia kaca pembesar, yang bisa kita geser-geser bila ingin mengamati koleksi tertentu secara lebih terperinci.

Nah, rangkaian foto berikut ini menunjukkan bagian dalam Museum Bank Indonesia.

Teater di bagian depan.

Diorama kegiatan ekonomi di Nusantara zaman dahulu.

Ada meneer-meneer Belanda bertransaksi!

Lantai pun menjadi tempat memajang koleksi.

Ke museum beramai-ramai, tambah seru!

Instalasi seni yang juga dipajang di Museum BI.

Gedung Museum BI juga memuaskan hati pencinta arsitektur kuno.

Rak-rak kumpulan uang kertas dari berbagai negara.

Toko yang menjual cenderamata Museum BI. Banyak yang murah-meriah, lho!

Tepat di samping Museum BI, terdapat Museum Bank Mandiri, yang juga popular sebagai tempat penyelenggaraan berbagai pameran dan acara.  Museum yang satu ini lebih berfokus pada sejarah Bank Mandiri, meski tentunya juga terkelindan sejarah umumIndonesia.  Begitu memasuki bangunan dan melangkah menaiki tangga di depan setelah tempat penitipan barang, kita akan langsung disambut aula besar di mana dahulu segala bentuk transaksi perbankan berlangsung.

Hayo, mau mengambil uang, atau menabung, atau…?

Ini petugas bank, atau inlander lagi ditahan kompeni, ya?

Ketika menaiki tangga sekali lagi menuju lantai dua, perhatian kita akan tersita oleh seni kaca patri Empat Musim karya FH Abbing, Jr. yang menghiasi jendela-jendela bagian depan.  Meski berjudul dan menampilkan keempat musim di Eropa, sebenarnya ada lima bilah – bilah yang di tengah menggambarkan alamIndonesia.  Kecantikan kaca patri raksasa ini bisa membuat yang melihatnya menahan napas.

‘Empat Musim’

Telusurilah ruang demi ruang, dan silakan berimajinasi menjadi seorang pegawai – atau malah direktur – bank di masa lalu.  Bahkan bentuk toilet pribadi di ruang-ruang kerja direktur mengundang keingintahuan, memantik kenangan akan masa-masa yang telah dilalui bangunan besar yang masih kokoh ini.

Tak pelak terucap doa dalam hati: semoga suatu hari kelak, semua museum di Indonesia bisa menjadi menarik dan terawat seperti kedua museum yang terletak bersisian ini.  Karena kita butuh museum untuk menjaga ingatan kita akan sejarah, dan seperti yang sering dikutip orang, apatah arti bangsa yang tidak menghargai sejarahnya sendiri?

Eh… muesum?

Previous Older Entries