Hamamatsu, November 2014 (Bagian 2): Kastil Tokugawa Ieyasu

Esok paginya, setelah menikmati sarapan di hotel, kami check out dan melangkah lagi ke stasiun bis di depan stasiun utama. Pertama-tama kami hendak menuju Kastil Hamamatsu. Dari terminal bis yang ada di sebelah utara stasiun, kami lagi-lagi menaiki bis ke arah Kanzanji Onsen. Ngomong-ngomong, di Hamamatsu ini banyak penyeberangan di bawah tanah, termasuk yang menuju ke terminal bis. Lorong-lorongnya bersih, tidak menyeramkan. Kadang-kadang ada juga pemusik jalanan yang meramaikan suasana, mempertegas kesan Hamamatsu sebagai kota musik. More

Shibazakura di Hitsujiyama, Mei 2015

This post is about JapanSebenarnya, saya sudah gatal ingin menulis tentang Jepang di musim dingin. Namun, saya pikir ada baiknya menyelesaikan dulu tulisan tentang Jepang di awal musim panas (2015) ini. Setelah sebelumnya membahas soal Jogasaki Kaigan dan kota Ito di Semenanjung Izu, kini saya ingin bercerita soal sungai dan pegunungan di Saitama.

hitsujiyama02Memang sih, kalau mendengar kata ‘Saitama’, banyak yang teringat akan karakter sebuah serial manga dan anime populer… bukan, bukan dia yang saya maksud! Kebanyakan orang mengaitkan prefektur ‘Saitama’ sebagai prefektur tetangga Tokyo yang ‘biasa banget’, karena bayangannya lebih kepada ibukotanya, yang namanya juga Saitama. Penggemar musik mungkin mengenal Saitama Super Arena, namun selain itu, apa lagi hayo yang kita tahu dari Saitama? Oke, ada Kawagoe, ‘Little Edo’, yang sebelumnya pernah saya bahas. Selain itu? Daerah Saitama yang merupakan suburban Tokyo tidak terasa istimewa-istimewa amat, bahkan bila kita menyambanginya, kita mungkin belum merasa keluar dari Tokyo karena kotanya ya mirip-mirip saja dengan Tokyo.

More

Taman Showa Kinen, Tachikawa (2) – musim gugur 2014

This post is about Japan

Setelah menengok Taman Showa Kinen di musim semi dan musim panas, sekarang kita lihat yuk bagaimana keadaannya di musim gugur.

Salah seorang sensei saya memberi tahu bahwa di Showa Kinen terdapat deretan pohon ginkgo yang tampak sangat cantik pada puncak musim gugur. Terpikat oleh warna keemasan daun ginkgo yang nyaris gugur, saya pun kembali ke taman itu di pertengahan November 2014.

Wah, benar saja. Bahkan sebelum memasuki gerbang pun sudah terlihat pemandangan yang didominasi warna kuning dan merah pepohonan yang telah menarik klorofil mereka ke dalam batang, demi menghadapi musim dingin.

showakinen-autumn-01

Saya datang di hari yang tepat: langit sedemikian biru cerah, tidak berawan. Kontras warna kuning daun dengan langit tampak cantik sekali!

showakinen-autumn-02

More

Taman Showa Kinen, Tachikawa (1) – musim semi dan musim panas 2014

This post is about Japan

Masih dalam rangka memperkenalkan tempat-tempat wisata di sekitar Tokyo, kali ini saya akan memperkenalkan Showa Kinen Kouen, alias Taman Showa Kinen. Letaknya di Tachikawa, salah satu daerah suburban Tokyo. Stasiun Tachikawa adalah sebuah stasiun yang cukup besar, tempat pertemuan 3 jalur kereta JR: Chuo Line, Ome Line, dan Nambu Line. Selain itu, terdapat dua stasiun Tama Monorail yang mengapit stasiun JR: Kita-Tachikawa di sebelah utara dan Minami-Tachikawa di sebelah selatan.

Sebagai daerah penyangga Tokyo, Tachikawa memiliki fasilitas yang lengkap, termasuk beraneka pusat perbelanjaan, yang mencakup juga salah satu cabang IKEA. Berbagai toko dan restoran bisa ditemukan di sekitar stasiun, dan berjalan-jalan di situ bisa menjadi kegiatan yang cukup menyenangkan, apalagi Tachikawa belum seramai daerah-daerah dalam Tokyo seperti Shibuya atau Shinjuku. Oleh karena letaknya masih terhitung cukup jauh di luar kota (meskipun dengan kereta sebenarnya tidak sampai sejam dari Shinjuku, waktu yang terhitung singkat bagi komuter Jabodetabek!), udara di Tachikawa masih bersih dan segar. Pegunungan pun mudah terlihat, langit juga terasa luas.

showakinen-spring-02

More

Kisah Tercecer tentang Manila

This post is about The Philippines

Saat sedang terkapar sakit di rumah dan tidak melakukan apa-apa, saya teringat bahwa saya belum menyelesaikan rangkaian cerita saya mengenai Manila.  Ah, ya.  Lama betul tertunda.  Baiklah sebelum terlupa dari ingatan, saya ceritakan di sini.  Selain Intramuros, ini beberapa tempat lain yang saya kunjungi.

Manila senja hari terlihat dari gedung tinggi.

More

Tanah Tingal: Setitik Kesegaran di Ciputat

This post is about Indonesia

Dipikir-pikir, lucu memang.  Saat langkah kaki (dan kereta api, dan kapal, dan pesawat terbang) telah jauh membawa saya ke berbagai tempat, ternyata saya belum pernah mengunjungi Tanah Tingal, yang dengan berjalan kaki saja tercapai dari rumah saya.  Kalau teringat ini, saya sering malu.  Maka itu, suatu hari Minggu belum lama ini, dengan niat berolahraga pagi, saya dan seorang teman pun menyambangi tempat tersebut.

Sayangnya, berhubung niat saya pagi itu adalah berolahraga, saya tidak membawa kamera.  Oleh karena itu, hanya beberapa foto yang bisa saya berikan di sini, yang saya ambil dengan telepon genggam saya.

Tanah Tingal adalah tanah pribadi yang dibuka untuk umum (dengan biaya masuk 15 ribu rupiah) sebagai tempat outbond, dilengkapi pula dengan arena futsal, kolam renang, dan danau kecil di mana pengunjung bisa berdayung perahu.  Untuk melakukan sejumlah aktivitas, Anda perlu membayar lagi.  Selain berolahraga pribadi, Tanah Tingal juga bisa disewa untuk kegiatan kelompok, termasuk perhelatan seperti pernikahan.  Untuk anak-anak sekolah, juga tersedia berbagai kegiatan khusus lengkap dengan instrukturnya, mulai dari membatik sampai membuat gula merah.

Keunikan lain dari Tanah Tingal adalah keberadaan sekolah alam di dalamnya.  Saat ini, ada taman kanak-kanak dan sekolah dasar, yang baru mencapai kelas 5.  Bangunan-bangunan sekolah sungguh unik, karena kelas-kelas terbuka ke udara bebas dan segar, tidak berdinding; penutup yang tersedia bila diperlukan sewaktu-waktu paling-paling kerai yang bisa digulung ke atas.  Bahan bangunan yang mendominasi adalah kayu dan gedek.

Di depan setiap kelas, ada rak sepatu dengan bot-bot berjejer, yang tentunya digunakan anak-anak ketika bermain di halaman atau berkebun.  Ya, ada petak-petak kebun yang ditandai dengan papan yang menunjukkan kelas yang bertanggung jawab atas masing-masing petak.  Saya asyik sendiri membayangkan seperti apa bersekolah di sini.

Pagi itu, kami cukup puas berjalan-jalan sejenak di Tanah Tingal.  Tempatnya memang tidak terlalu luas, namun saat berada di dalamnya, dikelilingi pepohonan tinggi, rerumputan menghijau, dan berbagai tumbuhan lain, sejenak saya lupa saya berada di Ciputat, kawasan padat penduduk dan sesak perumahan – yang terus mengalami degradasi lingkungan, dengan diubahnya lahan-lahan basah menjadi perumahan gugus.