Mendadak Kamboja

This post is about Cambodia

Bagian 1: Menyeberang di Bavet

Akhir Januari lalu saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya: bepergian tanpa itinerary. Saya berangkat hanya membawa kaus empat potong, sejumlah uang USD yang bisa ditukar dari pengambilan maksimum di ATM dalam sehari, tiket boleh booking dua hari sebelum berangkat, dan paspor. Ibu saya sampai bilang bahwa saya seperti anak kecil yang ngambek dan kabur dari rumah. Tapi yaaah semakin usia Anda bertambah *uhuk*, semakin berkuranglah kesempatan Anda untuk melakukan hal semacam ini. Kapan lagi kalau bukan sekarang?

Perhentian pertama saya adalah Saigon, Vietnam. Saigon yang saya tahu ternyata sudah jauuuuh sekali berbeda. Ia sekarang bersolek: kota yang penuh dengan bangunan menjulang dan kendaraan. Mungkin satu yang tidak berubah, yaitu poster Bac Ho (Paman Ho) di mana-mana. Yah tapi paling tidak belum sampai taraf Pyongyang dan poster keluarga Kim-nya deh. Beberapa hari di Saigon, saya mulai mati gaya. Mau ngapain lagi ya?

Cap-cip-cup-kembang-kuncup, akhirnya saya putuskan untuk menyeberang ke Kamboja saja. Sialnya, karena saya di Saigon pada saat musim liburan dan masih dalam  suasana libur Imlek (yang bisa berlangsung selama dua minggu), tiket bus langka. Saya harus berkeliling Pham Ngu Lao, De Tham, dan Bui Vien di Quan (Distrik) 1 untuk mencari selembar tiket dan akhirnya dapatlah tiket seharga 11 USD untuk rute Saigon-Phnom Penh.

Jalan Pham Ngu Lao, Saigon. Bus lintas negara biasanya parkir di sini.

Bus yang saya naiki untuk masuk Kamboja adalah bus milik Sorya, salah satu operator bus tersenior di Kamboja. Bus lintas Negara semacam ini biasanya bus berpendingin udara dengan karoseri penumpang di atas dan kargo di bawah. Bus berangkat dari Pham Ngu Lao pukul 9:00. Setelah sekitar dua jam, sampailah bus di Bavet, kota perbatasan Vietnam dan Kamboja yang terkenal dengan kasino-kasinonya. Paspor penumpang dikumpulkan oleh petugas bus, diserahkan kepada petugas di dalam balai imigrasi, dan penumpang diminta mengantri untuk mengambil paspornya. Pemegang paspor non-ASEAN wajib menyediakan 20 USD sebagai pembayaran visa. Di sini saya mendapat kejutan menyenangkan, yaitu tidak perlu membayar visa. Hidup Indonesia!

Balai Imigrasi di Bavet. Kalau Anda dari Vietnam, Anda tidak perlu menurunkan bawaan dari bagasi karena tidak ada pemeriksaan dari pihak Kamboja. Namun, bersiaplah melakukan hal sebaliknya kalau Anda dari Kamboja dan ingin masuk Vietnam.

Di dalam Balai Imigrasi, saya harus pasang telinga dengan cermat. Pasalnya, petugas pemeriksa paspor memanggil nama pemilik paspor tanpa pengeras suara. Secara umum, proses imigrasi hanya memakan waku sekitar 20 menit. Mungkin kalau tidak sedang musim liburan, bisa lebih cepat lagi ya?

Selepas dari Bavet, bus menyeberangi sebuah sungai kecil dengan menggunakan feri. Jangan khawatir, penumpang tidak perlu turun lagi kok. Beberapa penumpang yang sempat menggerutu langsung menghembuskan napas lega karena tidak harus menggotong-gotong tas mereka lagi. Saya? Lha wong cuma bawa satu ransel sekolah, hehehe. Nah, kalau Anda orang yang hobi tidur seperti saya, silakan menikmati kursi empuk bus dan memejamkan mata selama kurang lebih empat jam sampai bus tiba di Phnom Penh.

Dari arah sebaliknya, secara garis besar perjalanan dengan bus akan serupa. Namun, saya mencoba menggunakan bus malam untuk perjalanan kembali ke Saigon. Bus malam lintas negara umumnya tidak memiliki kursi, melainkan tempat tidur sebagai seat-nya. Sekali lagi, harganya seharusnya tidak banyak berbeda dengan bus siang hari. Jadi, kalau Anda membeli tiket, pastikan kisaran harganya antara 17-18 USD. (Saya termakan silat lidah petugas travel dan membayar 20 USD, 3 dolar lebih mahal dari tiket berangkat, grrr.)

Bus malam yang saya naiki. Dioperasikan oleh Virak Buntham. Sama seperti perjalanan berangkat, bus akan transit di Phnom Penh dan penumpang ditransfer ke bus yang lebih kecil.

Bagian dalam bus malam, seat 2-1. Seat-nya kurang lapang untuk orang yang tinggi seperti teman perjalanan saya, Alex, guru asal California yang bekerja di Shanghai. (Tapi lumayan ada eyecandy, hehehe.)

Bagian 2: (Nyaris) Terdampar di Phnom Penh

Apakah Anda pernah ngemper di Blok M atau terlunta-lunta di Kampung Rambutan demi menunggu bus yang tak pasti? *azeeek* Nah, demikian pula yang saya alami selepas turun bus yang membawa saya dari Saigon ke Phnom Penh. Kok bisa?

Pertama, saya datang ke Phnom Penh tanpa rencana jelas. Booking hotel tak ada, KHR pun tak punya. Uang kecil saya pun tinggal 8 USD. Mau tinggal di Phnom Penh dulu, saya kok ngeri melihat kerumunan pengendara tuktuk yang langsung semangat ’45 begitu melihat penumpang turun dari bus. Ketika sedang mencari ide di salah satu pojokan pool bus Sorya, mata saya menangkap tulisan Siem Reap di papan jadwal bus. Siem Reap, Siem Reap, Siem Reap… sepertinya pernah baca… Aha! Angkor! Ke sana saja!

Suasana di pool bus Sorya, Phnom Penh. Hampir semua bus lintas negara punya pool sendiri dengan tampilan seperti ini.

Saya pun membeli selembar tiket bus ke Siem Reap seharga 6 USD. Oh ya, Anda juga bisa membeli kartu SIM (telepon) yang bisa dipakai di Vietnam dan Kamboja dengan mudah di Phnom Penh. Salah satu kebodohan saya adalah baru mengetahui hal ini ketika sudah ada di atas bus ke Siem Reap.

Menunggu di pool bus di Phnom Penh (total saya dua kali melakukannya) bukanlah hal yang menyenangkan. Tempatnya defisit tempat duduk, penumpang bersaing dengan kargo, dan nyaris tidak ada prasarana bersantap dengan nyaman. Jajanan yang ada di tempat semacam ini tidak jauh-jauh dari rujak buah, kacang atau jagung rebus, dan roti segede lengan (mirip baguette Perancis yang disebut banh di Vietnam). Snack dalam kemasan biasanya impor dari Vietnam, hanya dijual di minimarket, dan harganya antara 0.5-1 USD. Namun, kalau Anda tipe orang yang kurang kerjaan seperti saya, Anda bisa membunuh bosan dengan mengamati orang di sekitar Anda.

Bus ke Siem Reap baru berangkat sekitar pukul 16:00 dari Phnom Penh. Itupun pakai menunggu bus di depannya penuh (siapa bilang ngetem cuma ada di Indonesia?) dan memutar dulu memasuki sebuah perkampungan Muslim, Khan Russey Keo, tanpa sebab yang jelas. Supirnya ingin pipis, mungkin. Bus Sorya kali ini lebih kecil dan lebih tidak nyaman dibandingkan bus dari Saigon ke Phnom Penh—mungkin karena hitungannya sudah bukan bus lintas negara.

Sebuah masjid di perkampungan Muslim di luar Phnom Penh.

Satu hal tentang Phnom Penh yang menarik perhatian saya adalah keberadaan taman-taman kota yang sangat memanusiakan warganya. Di seputaran Charles de Gaulle Boulevard, misalnya, trotoar-trotoarnya rapi dan bersih. Alat-alat kebugaran seperti sepeda statis dan slider banyak tersedia di taman. Sedikit banyak, hal tersebut mengingatkan saya pada taman di Pham Ngu Lao, tempat saya nongkrong pada sore hari dan memandangi cowok-cowok bersimbah peluh sedang berlatih semacam sepak takraw ala Vietnam. Yum!

Taman kota di dekat Night Market, Phnom Penh.

Tapi Tuhan memang baik. Ketika berhenti makan malam, ada seorang penumpang berkewarganegaraan Indonesia menyapa saya karena melihat kaus saya (kaus wajib jalan-jalan saya yang bertuliskan “I Survive Indonesia” :D). Jadilah selama dalam 6 jam perjalanan saya memiliki teman ngobrol. Siem Reap, here I come!

Saran #1: kalau Anda ke Phnom Penh dan tahan miris, sempatkanlah mengunjungi Museum Genosida Tuol Sleng, bukti kekejaman rezim paranoid Khmer Merah yang membantai hampir dua juta warganya sendiri pada periode 1970-an.

 Saran #2: sekarang ini sudah banyak operator bus yang mengoperasikan bus ekspres Saigon-Siem Reap via jalur baru. Jadi, Anda menghemat waktu sekitar empat jam karena tidak perlu berhenti di Phnom Penh untuk transfer bus. Tiketnya dapat diperoleh melalui berbagai operator tur di Saigon, misalnya di Tuan Travel (Bui Vien) dan Friends Tour (Pham Ngu Lao).

Bagian 3: Tuktuk Tengah Malam

Normalnya, bus dari Phnom Penh ke Siem Reap hanya akan memakan waktu sekitar 6 jam. Sekali lagi, normalnya. Nah, karena perjalanan saya adalah perjalanan yang tidak normal, durasi 6 jam tersebut molor menjadi hampir 8 jam. Alhasil, saya sampai di Siem Reap nyaris tengah malam. Apes? You bet.

Apes pertama: setibanya di pool bus Sorya di Phsar Leu, luar Siem Reap, saya bingung bagaimana mau menghubungi penginapan. Apalagi, saya ketempelan seorang pelancong dari China, Xu Yuan, dan dari Irlandia, Timothy. Nah, mereka berdua ini sama nekatnya dengan saya: datang ke Siem Reap pada saat arus liburan sedang tinggi tanpa persiapan booking hotel sama sekali. Teman ngobrol saya, Stevan, sudah booking kamar di Bou Savy Guesthouse, dan tuktuk penjemputnya sudah menunggu di pool. Saya pun meminjam ponsel Stevan untuk menelepon Jasmine Lodge, penginapan saya. Naaah, ternyata Jasmine Lodge membatalkan pemesanan kamar saya karena saya tidak datang pada hari tersebut dan tidak mengabari. Tapi karena sadar bahwa sebagian dari kekacauan ini adalah kekurangsiapan saya juga, saya cuma minta pihak Jasmine Lodge mentransfer saya ke penginapan lain. Alhasil, pergilah saya, Xu Yuan (yang memanggil dirinya sendiri Kitty—dari idolanya, Hello Kitty), dan Tim ke Number 9 Guesthouse dengan tuktuk.

Phsar Leu pada siang hari. Titipan motornya tak kalah dengan Indonesia ya. 🙂

Apes kedua: Number 9 Guesthouse ternyata terletak tidak jauh dari Sivutha Boulevard, pusat kota Siem Reap. Karena tidak tahu jalan, saya sempat ketar-ketir ketika tuktuk berbelok ke La Paix Hotel. Wuidiiih mewah nih, pikir saya, dan pasti menguras dompet. Entah untung atau apes (lagi), ternyata La Paix hanya patokan. Number 9 terletak di gang di belakangnya.

Tapiii.. ternyata hanya ada satu kamar tersisa di sana. Saya dan Kitty tidak ada masalah kalau harus berbagi kamar, tapi Tim? Akhirnya kami berdua menunggui Tim sampai berhasil menghubungi temannya yang sudah sampai sehari sebelumnya… dengan menggunakan wi-fi gratisan di lobi. Begitu Tim pergi, saya dan Kitty masuk ke kamar di lantai dua. Seperti kata pepatah, gembel tak bisa memilih (*uhuk* terjemahan bebas *uhuk*), kamar kami tipe kamar double bed berkipas angin. Saking capeknya, kami langsung nggeblak tidur dan baru menyadari masalah genting keesokan paginya: koneksi wi-fi tidak sampai ke kamar kami dan air kamar mandi macet!

Sekali lagi, ada hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini. Pengendara tuktuk yang mengantar dari Phsar Leu sampai ke Number 9 ternyata sigap membantu begitu tahu saya dan Kitty berencana untuk mengeksplorasi kompleks Angkor. Antara scam dan tidak, dia menyatakan kenal betul kompleks Angkor. Maka, siap deh saya memulai petualangan Angkor bersama Chhrong dan tuktuk saktinya.

Ta-da! Ini Chhrong, pengendara tuktuk saya. Teman-teman saya sih bilang dia pantas jadi—minimal—bintang sinetron di sini. 😀

 Saran: sepertinya hampir semua orang (kecuali saya ^^;) tahu bahwa bisnis tuktuk di Kamboja adalah bisnis yang penuh persaingan dan scam. Berhati-hatilah ketika bernegosiasi dengan pengendara tuktuk. Kalau pengendara tuktuk Anda menawarkan paket, sesuaikan dengan keinginan Anda. Rata-rata sewa harian tuktuk untuk eksplorasi Angkor selama sehari adalah 10-12 USD. Anda juga bisa meminta penginapan Anda menguruskan booking tuktuk. Oh, dan kalau Anda berminat menggunakan jasa Chhrong, silakan hubungi saya melalui japri.

‘I am not pushy and I am honest’ – Bahkan pengendara tuktuk pun sebenarnya sadar seperti apa pandangan turis terhadap mereka.

Bagian 4: Siem Reap Minus Angkor?

Selain menjelajahi Angkor, apalagi yang bisa dilakukan di Siem Reap?

Karena selama di Siem Reap saya tinggal di pusat kota, saya dengan mudah dapat berjalan kaki ke mana-mana. Bagi yang suka bersepeda, bisa juga menyewa sepeda dengan tarif 1-2 USD perhari. Banyak galeri seni dan tempat pertunjukan yang membuka hari gratis di Siem Reap, jadi Anda tinggal mengecek jadwal mereka saja. Misalnya, Rumah Sakit Anak Kantha Bopha memiliki pertunjukan Beatocello setiap Sabtu dan Minggu. Hasil penjualan tiket dan donasi diberikan kepada para pasien. (Waktu saya datang, donasi ditujukkan kepada anak-anak penderita demam berdarah dan tuberkulosis).

Turis bersepeda di kawasan Angkor. Kalau niat, silakan manjakan mata Anda dengan mantengin bule-bule bertelanjang dada berkeliling Angkor Wat pada tengah hari.

Gabungan antara kuat jalan kaki seharian dan sok jadi Dora the Explorer membuat saya blusukan ke pasar di Siem Reap. Ada dua pasar yang cukup ramai di pusat kota, yaitu Phsar Kandal (Central Market) dan Phsar Chas (Old Market). Pasar yang pertama lebih mirip pasar modern di Indonesia. Lokasinya tepat di Sivutha Boulevard dan kebanyakan barangnya ditujukan untuk konsumsi turis. Setelah itu, silakan bersantai di bagian food court-nya yang juga menyediakan wi-fi gratis.

Food court di Phsar Kandal. Bersih, pakai kipas angin, dan sedia wi-fi gratis.

Phsar Kandal pada malam hari.

Phsar Chas, di lain pihak, adalah pasar tradisional dengan penjual yang lebih heterogen. Favorit saya sih petak-petak makanan di bagian dalam dan kios-kios camilan di bagian luar. Turis juga suka blusukan di sini. Saya sendiri sampai menahan geli melihat beberapa ibu-ibu Perancis membeli dandang dan bokor. Kapan lagi Anda bisa melihat bule jadi begitu ndeso? *third world pride* Nah, berhubung saya doyan makan, Phsar Chas juga menjadi magnet tersendiri dengan banyaknya restoran dan kedai di sekitarnya. Dari gelatto Italia sampai kari India, dari tukang daging sampai tukang bumbu ada di sini. Oh, atau kalau mau sok santai seperti saya, cukup jajan camilan—dari pancake pisang sampai manisan kelapa—dan nongkrong di taman-taman bantaran kali di belakang Phsar Chas.

Phsar Chas. Di sini sih enaknya jalan sambil jajan.

Penyuka kegiatan berbau alam bisa juga pergi ke Danau Tonle Sap untuk menikmati desa terapung atau pusat konservasi burung di sana. Namun, berhati-hatilah dengan scam harga tiket yang dijual di gerbang masuknya. Hampir semua pengendara tuktuk yang membawa turis ke sana (termasuk Chhrong, grrr) berkongkalikong dan dapat persenan dari pihak penyedia jasa wisata di Danau Tonle Sap. Saya sempat ditagih 20 USD untuk biaya masuk dan 10 USD untuk biaya perahu. Jelas saya tolak dong. Dear officer, you’re dealing with Auntie Scrooge here. Eh kemudian dia memberitahu bahwa harga tiketnya cukup 15 USD saja. Hiih, minta dijitak banget deh bapaknya! (Kadung kesal, saya pun batal ke Tonle Sap.)

Ini gerbang kedatangan sebelum naik perahu di Danau Tonle Sap. Waspadai pembangunan yang belum selesai, toilet tanpa flush, dan scam harga tiket. Kecuali Anda memang sangat tertarik, silakan datang.

Di negara yang mayoritas penduduknya Buddhis seperti Kamboja, Anda akan dengan mudah menemukan pesantren biksu di dekat wihara. Mendengarkan para biksu novis nyantri melantunkan sutra dapat menjadi pengalaman tersendiri yang mengesankan.

Saran #1: Sebagai negara yang masih dalam proses pemulihan dari ekses perang dan genosida, Kamboja memiliki banyak lembaga kemanusiaan yang menyediakan kesempatan untuk partisipasi sukarela. Beberapa penginapan juga bersedia membantu Anda juga Anda ingin menjadi sukarelawan.

Saran #2: Ada satu lagi pasar di Siem Reap yang tidak sempat saya datangi, yaitu Night Market. Lokasinya dekat La Paix Hotel, tapi karena lorong menuju tempat tersebut sepi, saya tidak akan mencobanya tanpa menguasai ilmu kebal terlebih dulu.

Saran #3: Jangan lupa untuk mempraktekkan jutsu Bargain to the End di pasar-pasar Siem Reap. Tawar habis! Misalnya, tawar saja kaus seharga 5 USD menjadi 2 USD atau 5 USD untuk 3 kaus. Yang saya sukai dari para pedagang di Phsar Kandal adalah mereka selalu tersenyum. “OK, I want to make you happy, so please buy from me. I’ll give you good price, but not cheaper or I will cry,” begitu kata mereka. 🙂

Bagian 5: Berhati-hatilah Dengan Makanan Pesanan Anda di Siem Reap

Peringatan: tidak halal.

Salah satu hal yang menjadi nilai plus Kamboja buat saya adalah rasa masakannya yang dekat dengan selera orang Indonesia dan disajikan dalam porsi besar. Catat baik-baik: porsi besar. Menurut Chhuong, pengendara tuktuk saya, laki-laki Kamboja biasa makan dua piring nasi untuk sekali makan. Itu standarnya lho!

Beberapa favorit saya selama di Kamboja mengandung bahan-bahan yang bahkan saya belum pernah makan di Indonesia seperti aneka sayuran yang bahkan namanya saja membuat lidah kesrimpet. Enaknya, sebagian besar buah di sana adalah buah yang familiar untuk orang Indonesia. Maka, jangan kaget kalau dalam salad buah pesanan Anda ada lengkeng, jambu air, dan bahkan kedondong.

Saya cenderung menghindari kopi terutama yang asam dan tidak ramah-lambung, tapi kopi tetes semacam ini selalu jadi pelengkap sarapan saya selama di Vietnam dan Kamboja. Super!

Beginilah peralatan makan disediakan: direndam dalam gelas berisi air panas.

Tak ada yang memberitahu saya bahwa pork sandwich segede gaban dengan isi membludak inilah yang diberikan ketika saya memesan.

Salah satu favorit saya: amok. Ini semacam kari yang isinya ikan atau ayam. Dimakan panas-panas… hemmm! Jangan lupa beli bumbu siap masaknya kalau mampir di pasar.

Lolek (atau lolak atau lok lai) dari Phsar Chas. Semacam stew daging sapi atau ayam dengan kuah asin sebagai pelengkap. Meskipun sudah pakai kentang goreng, Anda akan tetap disuguhi nasi juga. Satu porsi lolek ini cukup untuk dua-tiga orang.

Favorit lain: prahok. Cacahan ikan atau ayam atau daging lain yang difermentasi lalu ditumis. Sayur-sayurannya mentah atau direbus. Seumur-umur ini pertama kalinya saya makan leunca dan kembang lotus. Ternyata lalapan tak cuma privilese Sunda ya.

Oh iya, godaan terbesar untuk saya selama berada di Siem Reap adalah murahnya harga bir di sana. Satu tumbler besar bir curah cukup dengan 0.5 USD saja! Saya sampai terpikir untuk melewatkan makan dan cukup minum bir sampai kembung.

Tagline: national pride, national beer.

Ini dia bir curah seharga 0.5 USD. Tagline: my country, my beer. Kalau diurut-urut berdasarkan harga, bir terekomendasi di Siem Reap adalah Tiger, Beerlao, Angkor, Cambodia, Anchor.

Bagian 6: Politik di Kamboja

Kalau di Vietnam ada poster Bac Ho di mana-mana, di Kamboja ada poster partai di setiap sudut. Sejauh yang saya lihat, partai yang posternya rajin berjamaah di jalan-jalan adalah Cambodian People’s Party (partai PM Hun Sen), Funcinpec (partai adik raja), dan Sam Rainsy Party. Kalau Anda sinis terhadap politik, Anda memiliki pandangan yang sama seperti hampir semua orang Kamboja yang saya temui dan ajak bicara. Tapi yaah, dengan demokrasi yang masih awut-awutan seperti di Indonesia, paling tidak masih ada yang bisa kita syukuri tanpa harus mengecilkan penderitaan bangsa lain. Perang dengan Vietnam? Yep. Pembantaian oleh Khmer Merah? Yep. Raja yang tidak tinggal di negerinya sendiri? Yep. Rebutan aset di perbatasan? Yep.

Vinn, pengendara tuktuk dari operator bus Virak Buntham jurusan Siem Reap-Saigon yang menjemput saya dari penginapan ke pool bus, bilang bahwa generasinya punya cita-cita untuk bekerja di luar Kamboja. Saya tanya apakah dia tidak ingin jadi pegawai negeri—cita-cita standar lulusan universitas di sana. Si Vinn yang doyan tertawa ini cuma bilang, “If I can live for my country, I should be able to live from my country, too.”

Dalem, Vinn. Daleeem.

Salah satu poster partai yang banyak terlihat di Siem Reap.

Bagian 7: Siem Reap Sehari-hari

Sebagian besar warga Siem Reap masih tinggal di perkampungan. Waktu saya berkeliling seluruh kompleks Angkor sampai ke Banteay Srey dan Roluos atau di dekat Museum Ranjau Darat, di kiri-kanan mudah sekali dijumpai rumah dengan sumber air hasil donasi. Nama donatornya terpampang di papan. Friends of Cambodia, misalnya, banyak bergerak untuk membantu kebutuhan sanitasi warga Siem Reap. Padahal ini salah satu jalan utama di daerah wisata utama. Karena saya ndeso, yang terpikir malah Pantura.

Bensin mahal di sini, itu jelas. Seliter 1.25 USD (sekitar 5000 KHR). Tapi berbanding terbalik dengan harga bensin, nyaris semua mobil di Siem Reap adalah mobil ber-cc besar. Toyota Fortuner adalah pegangan standar kebanyakan penginapan di Siem Reap. Sisanya didominasi Toyota Fortuner dan beberapa tipe karavan Hyundai. Oh, dan untuk pertama kalinya, saya menemukan sebuah negeri tanpa Avanza-Xenia! Rasanya jadi semacam penyegaran setelah setiap hari berpapasan dengan Avanza-Xenia di jalanan Indonesia.

Bensin ngecer di Siem Reap.

Penguasa jalanan di Kamboja? Motor! Bukan cuma jadi tuktuk atau ojek, motor juga disambung ke kereta mini, kendaraan mirip odong-odong, bahkan gerobak yang bisa mengangkut orang se-RT!

Motor dan tuktuk.

Motor dan kandang portabel.

Motor dan… tukang kasur.

Motor dan kereta jenazah. Ngomong-ngomong, musik pemakaman Kamboja enak di kuping lho.

Oh iya, buat yang suka anak kecil, banyak anak kecil yang berjualan di kompleks Angkor. Paling banyak berjualan kartu pos (1 USD untuk 10 kartu pos). Yang unik (atau menyebalkan—tergantung sudut pandang), kalau ditolak dengan kata-kata “No, thanks,” mereka akan membalas dengan “Yes, thanks” dan kembali mengejar-ngejar turis untuk membeli dagangan mereka.

Saya jadi ingat pengalaman bapak saya yang sempat tinggal cukup lama di Saigon. Bapak saya pernah cerita bahwa di Saigon, turis tidak didukung untuk membeli dari atau memberi sedekah buat anak-anak yang mencari nafkah di jalanan. Kalau ada turis yang ketahuan, bisa ditegur kamtib. “Kami tidak mau mendidik generasi peminta,” begitu alasannnya. Entah benar atau tidak, saya pikir Kamboja perlu menerapkan hal tersebut.

Indonesia? Wah, nanti dulu deh. Didik para orangtua untuk tidak begitu antusias buat anak saja dulu. 🙂

Nantikan kelanjutan petualangan Tukang Kesasar di Angkor Wat!

Written and photographed by Tukang Kesasar

http://twitter.com/thranduilion

GoHalalPlanet

Teman-teman Muslim yang gemar lompat-lompat, sekarang ada situs baru nih, namanya GoHalalPlanet.  Pengelolanya adalah salah seorang teman kami yang tinggal di Vietnam.  Situs ini bertujuan menyediakan informasi mengenai tempat makan halal, tempat penginapan yang nyaman, dan tempat ibadah yang tersedia bagi pelancong Muslim.  Cakupan utamanya adalah negara-negara Asia Tenggara yang mayoritas bukan dihuni kaum Muslim, dan saat ini informasi yang sudah tersedia cukup banyak adalah untuk Vietnam.

Teman kami ini teliti sekali lho memeriksa restoran-restoran halal, sampai memeriksa dapurnya langsung.

Semoga bisa membantu ya…

Supershow 3 Vietnam: Antiklimaks di Tengah Guyuran Hujan

This post is about Vietnam

Penunjuk suhu di dalam taksi menunjukkan 40 derajat Celcius.  Wah, kalau benar, gila betul.  Apa betul dengan suhu sepanas ini, Supershow 3 Vietnam akan diselenggarakan di stadion luar-ruang?  Apa tidak kasihan pada Super Junior yang akan tampil menghibur para penggemarnya di konser terakhir dalam rangkaian SS3?

Suhu itu sebenarnya saat siang hari, ketika kami menuju Lotte Mart di Distrik 7 Ho Chi Minh City untuk mengambil tiket SS3 kami.  Ini pertama kali saya menjejak Distrik 7, dan kesan pertama saya tidak mengesankan.  Dulunya daerah ini rawa-rawa, lantas sekarang merupakan monster urban yang sedang dibangun.  Bangunan modern tanpa kekhasan mencolok, menjamur di sana-sini.  Banyak lahan kosong yang sudah dibuka namun kini baru ditumbuhi rumput saja.

Tempat pengambilan tiket di Lotte Mart Q7.

Sebenarnya para fans SuJu (akrab disebut ELF) memperoleh cukup banyak kemudahan untuk menonton SS3 Vietnam.  Tiket bisa dibeli dengan mudah melalui situs internet dengan pembayaran kartu kredit.  Fans bisa juga menitip beli ke fanbase yang berpangkalan di Vietnam.  Bukti pembelian tiket ditukarkan sejak H-7 di Lotte Mart Q7 atau pada hari-H di stadion Go Dau yang terletak di Binh Duong, sebuah kota kecil dekat HCMC.

Tidak ada antrian di tempat pengambilan tiket, barangkali selain karena masa pengambilan tiket yang cukup panjang, loket yang tersedia juga cukup banyak, sesuai kelas tiket yang dibeli.  Dan satu alasan lagi: kali ini konser SuJu gagal sold-out.  Konon dari 11.000 lembar karcis yang tersedia, tersisa 60% yang tak dilirik pembeli.  Apakah penyelenggara kelewat optimistis memperhitungkan jumlah penonton, dan mematok harga terlampau mahal?

Selain mengambil tiket pertunjukan, kami juga membeli tiket bis pulang-pergi seharga 95.000 VND (Dong) menuju stadion Go Dau.  Setelahnya, kami harus ke bandara untuk mengambil koper anggota rombongan kami yang kemarin sempat ‘lenyap’ namun telah ditemukan kembali.  Kebetulan waktunya bersamaan dengan tibanya pesawat yang membawa Eeteuk, Heechul, Yesung, dan Shindong dari Korea.  Wah, ELF tampak menyemut di pintu keluar kedatangan.  Sebentar-sebentar mereka berseru-seru meneriakkan nama Super Junior.  Para wisatawan yang tidak ada sangkut-pautnya dan baru tiba, tampak keheranan ketika melihat sedemikian banyak orang, terutama remaja perempuan, mengerubung.  Bahkan ada yang memotret dan memfilmkan segala kerumunan itu!

Bersyukurlah foto ini tidak bisa memancarkan bau.

I’m waiting outside!  There are so many young girls!  It’s dangerous, dangerous!”  Tanpa sengaja saya mendengar seorang pria berbicara di telepon genggam kepada rekan yang ia jemput.  Hahaha, memang cukup ‘mengerikan’ sih melihat orang sebanyak ini, yang tampak antusias sekali.  Sebagian bahkan menunggu dari malam, meskipun pesawat para anggota SuJu yang tidak tergabung dalam subunit SuJu M dijadwalkan baru tiba pukul 2 lewat.  Bau kerumunan sudah tidak keruan—kebayang kan, HCMC sedang panas-panasnya.

Sorak-sorai semakin keras ketika layar pengumuman menyatakan pesawat dari Seoul telah mendarat.  Namun kegelisahan terasa semakin meruak ketika menit demi menit berlalu dan para anggota SuJu tak muncul juga batang hidungnya.  Mendadak ada yang meneriakkan sesuatu, dan tangis sejumlah fans kontan pecah.  Oh la la.  Ternyata ada yang mendapat kabar, yang dinanti-nanti sudah berada di hotel.  Mereka keluar dari pintu kedatangan domestik.  Kecele, deh.  (Petang harinya, SuJu M juga berhasil mengecoh fans dengan keluar dari pintu VIP.)

Keesokan hari, kami minta diantar taksi ke tempat bis-bis khusus SS3 menanti.  Kami dan juga supir taksi sempat kebingungan mencari alamat yang dimaksud, karena ternyata ada nomor salah pada alamat yang tertera di tiket.  Untung panitia yang telah berjaga di sekitar terminal-sementara itu siap membantu mengarahkan kami.  Meski bis dijadwalkan berangkat pukul 4, ketika bis sudah cukup terisi, pukul 3  bis kami sudah bertolak, menelusuri jalan-jalan HCMC yang sempit.

Jarak yang kami tempuh ternyata cukup jauh, memakan waktu kira-kira sejam dari HCMC.  Pendingin udara yang menebarkan udara sejuk membuat mengantuk.  Uh, syukurlah kami memutuskan naik bis, bukan taksi.  Harus bayar berapa kalau kami memilih taksi?  Dan kami jadi bertanya-tanya, mengapa harus pilih tempat sejauh ini dari HCMC, padahal ada sejumlah stadion di dalam kota tersebut?

Kesan pertama kami atas Go Dau tidaklah mengesankan.  Astaga.  Rasanya di Indonesia masih banyak stadion yang jauh lebih bagus.  Hmm.  Rasanya Tennis Indoor Senayan pun jauh lebih meyakinkan daripada stadion ini.  Kondisi diperparah dengan petugas dan panitia yang kerap kebingungan atau tidak tanggap menghadapi pertanyaan penonton, seperti di mana harus mengantri dan lain sebagainya.

Sudut curcol.

Sambil menanti gerbang-gerbang dibuka, kami melihat-lihat barang-barang yang dijajakan di depan stadion (tidak ada yang ofisial) dan menengok spanduk-spanduk yang dipasang fanbase di pagar sekeliling.  Ada pula penggemar yang membagi-bagikan karya yang disiapkan untuk proyek.  Kami juga bertemu sejumlah ELF Indonesia lain.

Orangnya sudah nggak ada, spanduknya saja. EH NGGAK KOK, MAAF HAN GENG.

Ketika akhirnya gerbang dibuka, penonton berhamburan masuk.  Kami yang di tribun agak santai, namun saya sempat tegang juga ketika tiket saya diperiksa oleh petugas berseragam yang sepertinya sok sekali membolak-balik tiket saya.  Sebenarnya dia mengerti tidak ya seharusnya tiket yang benar seperti apa?  Jahat memang, tapi tak pelak saya berpikir begitu.

Ya, mendingan foto bareng di sini saja. Di dalam nanti jauh sekali.

Sewaktu melangkahkan kaki ke dalam stadion… walah, apa-apaan ini?  Stadion ternyata berbentuk melingkar.  Panggung SS yang biasanya sampai mengelilingi tempat penyelenggaraan, ‘disunat’ jadi di tengah-tengah saja.  Yang lebih konyol, semua kelas yang duduk, jauh sekali letaknya dari panggung!  Bahkan zona A yang paling mahal pun, ada sekitar 4 meteran jauhnya dari bibir panggung!  Hanya kelas free standing yang dekat dengan panggung, itu pun relatif sepi.

Pemegang tiket duduk paling murah nyaris tak bisa melihat panggung, saking miringnya letak kursi mereka.  Namun rupanya karena menyadari penonton bakal ‘bolong-bolong’, panitia meminta semua yang ada di zona E dan G untuk bergeser memasuki zona D dan F yang tiketnya lebih mahal.  Nah lho!  Kalau saya beli zona D & F, saya bakalan kesal, tuh.  Tahu begitu buat apa saya mengeluarkan uang lebih banyak, coba?

Barangkali pengaturan posisi penonton terkonyol yang pernah saya lihat.

Pertanyaan-pertanyaan kembali bermunculan: kenapa ya zona-zona duduk di bagian samping tidak ditiadakan saja, dan lebih banyak tiket free standing dijual sehingga sekeliling panggung terpenuhi penonton?  Kasihan penonton, kasihan SuJu yang jadi sulit berinteraksi dengan para fans.  Singkatnya, pertunjukan jadi rada ‘garing’.  Sudah jauh, gelap sekali pula, sehingga segala proyek yang sudah capai-capai disiapkan menjadi sia-sia.  Bagaimana SuJu mau lihat?

SuJu sendiri tampil memukau seperti biasa.  Meski hawa panas mencekik, mereka tetap tampil dengan kostum yang mereka kenakan di konser-konser SS3 lain—tapi dikabarkan mereka tidak memakai make-up agar tidak luntur.  Hhhh, ya iyalah!  Kami saja kegerahan, apalagi mereka yang biasa hidup dalam iklim Korea.  Peralatan panggung yang diboyong dari Malaysia sih cukup lengkap, mulai dari rangkaian layar melingkar yang bisa naik-turun, sling untuk membuat para personil SuJu melayang di udara, hingga layar khusus untuk Rinaldo.

It’s a bird, it’s a plane, it’s… kayaknya SuJu deh…

Sadar jarak yang memisahkan mereka dengan sebagian besar penonton amat besar, para personil SuJu bergantian mendekati ujung-ujung panggung dan melambai-lambai bersemangat ke arah para fans yang duduk di seberang lautan.  Ini sukses membangkitkan kembali semangat para penonton yang berkali-kali tampak agak lemas.  Namun keadaan memburuk ketika hujan mulai turun.  Sejak pertunjukan belum mulai memang guntur terdengar beberapa kali,  dan yah… kejadian deh.  Jangankan penonton, SuJu pun basah kuyup.  Yang lebih mengesalkan lagi, gara-gara hujan, dua layar di kanan-kiri panggung ditutupi terpal.  Terpaksa hanya mengandalkan layar tengah, yang tidak terlihat jelas dari sebagian zona.

Yang agak membuat risih bagi saya dan teman-teman adalah fanbase Only-13 yang amat kuat di Vietnam.  Henry Lau dengan penampilan manisnya membawakan Baby Justin Bieber masih cukup mendapat sambutan.  Namun ketika giliran Zhou Mi—yang tampil sangat energik—banyak light stick yang dimatikan, dan nyaris tak ada yang meneriakkan namanya.  Auch!  Fans Indonesia langsung bertekad tak akan membiarkan hal itu terulang di Jakarta!

Ketika pertunjukan nyaris berakhir dan SuJu berusaha melemparkan bola-bola ke arah penonton… uh, ya, pada awalnya, tak ada satu pun lemparan mereka yang sampai.  Lha wong jauh sekali!  Namun para anggota berusaha lebih keras melempar hingga mencapai kursi penonton zona A dan B.  Zona-zona lain ya kebagian melihat saja.  Kalau SuJu punya meriam, baru mungkin bola-bola mereka bisa mencapai zona D sampai G.

Akhirnya SuJu pun menutup pertunjukan mereka.  Sepertinya sih Eeteuk mengakhiri salamnya dengan mengatakan sesuatu tentang Indonesia, tapi tidak seorang pun di rombongan kami menangkapnya dengan jelas.  Barangkali ada yang mendengar?

Kami pulang dengan basah dan kelelahan menggunakan bis dari panitia.  Tiba di HCMC, hujan masih terus mengguyur.  Agak lama baru kami bisa memperoleh taksi yang mengantar kami pulang ke penginapan.  Haduh.  Benar-benar pengalaman tak terlupakan, deh.  Para fans Indonesia pun memutuskan untuk menonton SS4 di tempat lain saja—syukur-syukur di Jakarta.  Bahkan teman saya, ELF Vietnam, mengatakan sudah mulai menabung, karena khawatir SS4 tak akan mampir lagi ke negaranya.

SS3 Vietnam terasa seperti antiklimaks bagi seluruh rangkaian konser SuJu kali ini.  Saya sih bersyukur bisa menonton SS3 Vietnam, namun tetap saja saya berharap: Semoga lain kali kita semua bisa menonton SuJu dalam kondisi dan dengan fasilitas yang jauh lebih baik!

Sebagian foto diambil oleh Ayu Palar.

Mencicipi Hidup Gerilyawan di Terowongan Cu Chi

This post is about Vietnam

Masih ingat pemandu kami, Mr Hai, yang membawa kami ke Kuil Cao Dai di luar Ho Chi Minh City, Vietnam? Kali ini saya akan melanjutkan kisah perjalanan kami bersamanya.

Perut yang kini kenyang usai makan siang, penyejuk udara yang dinginnya mengalahkan udara panas di luar, membuat kami mengantuk.  Sebagian besar penumpang terlelap sewaktu bis bergerak menuju tujuan kami berikutnya: terowongan Cu Chi (bacanya: ku ci), sisa perang Vietnam yang terkenal, simbol perlawanan sengit rakyat Cu Chi terhadap pasukan pendudukan Amerika Serikat.  Biaya masuk terowongan Cu Chi adalah 80.000 Dong.  Di sebelah depan, ada toko yang menjual suvenir, makanan kecil, dan minuman, juga toilet.  Nantinya saya menyesal tidak membeli air mineral terlebih dahulu di toko tersebut.

Sebelum memasuki kompleks terowongan Cu Chi yang sebenarnya, Mr Hai menunjukkan suatu ’pemandangan unik’ bagi turis-turis bule: …pohon nangka.  Ups!  ”Kalian selama ini makan buahnya, belum pernah kan lihat pohonnya?”  Hmmm, kami paling-paling terkagum-kagum pada jumlah buah nangka yang dihasilkan pohon tersebut.  Banyak sekali!

Jalan masuk ke kompleks Cu Chi berupa terowongan yang besar dan lega—sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan ’neraka’ terowongan sungguhan para gerilyawan.  Selama di kompleks tersebut, setiap rombongan didampingi pemandu setempat, yang berpakaian hijau-hijau seperti tentara Vietnam Utara zaman dahulu, lengkap dengan pin bergambar bintang di atas latar separuh merah-separuh biru tersemat di topinya.  Mr Hai menjelaskan bahwa itu lambang Vietnam semasa perang.  ”Merah itu melambangkan Utara, biru itu melambangkan Selatan.  Sejak Utara menang dan kami bersatu lagi, hanya satu warna: merah,” papar Mr Hai.

Terowongan Cu Chi terdiri atas ratusan cabang yang membentang berkilo-kilometer di bawah tanah.  Fungsinya bukan sekadar tempat persembunyian, melainkan juga basis perlawanan terhadap tentara Amerika Serikat.  Terowongan-terowongan dilengkapi bagian untuk makan, beristirahat, menyelenggarakan rapat, dan juga pabrik yang menyulap barang-barang bekas menjadi perlengkapan baru bagi tentara perlawanan.  Ban mobil bekas dijadikan sandal, bom AS yang gagal meledak disulap menjadi senjata, dan lain sebagainya.  Tentara perlawanan memanfaatkan apa pun yang bisa mereka peroleh dan pergunakan.  Bahkan besi tua sisa tank dan pesawat pun dijual ke negara lain seperti Jepang, yang ”mengubahnya menjadi mobil dan dikirim kembali ke Vietnam, bikin polusi”, tutur Mr Hai dengan gaya melawaknya yang datar.

Mr Hai dan dua patung yang mengenakan pakaian gerilyawan dan gerilyawati Vietnam di masa Perang Vietnam.

Kita dapat melihat beberapa petugas yang berpura-pura menjadi anggota pasukan perlawanan sedang bekerja mengolah barang-barang bekas menjadi perlengkapan yang bisa digunakan lagi.  Tidak hanya proses pembuatan ala zaman tersebut, kita pun disuguhi salah satu santapan utama yang tersedia bagi para pejuang saat itu—singkong rebus, dengan bumbu kacang tumbuk yang manis.

Ukuran asli lorong-lorong di Cu Chi luar biasa kecil—bukan hal istimewa menurut Mr Hai, karena dahulu toh para prajurit itu kekurangan makan, sehingga tubuh mereka kecil-kecil sekali.  ”Kalau sekarang sih sudah pada kegendutan, tidak muat,” Lagi-lagi pemandu kami itu menceletuk.  Pemandu setempat kami, yang tubuhnya agak gempal, menunjukkan salah satu pintu masuk rahasia ke lorong yang, astaga, memang luar biasa kecilnya.  Ia memperagakan cara memasuki pintu yang hanya berupa petak kecil di tanah itu.  Melihatnya saja sudah membuat kami merasa seram.

Mas ini terhitung gempal. Dia hanya bisa masuk sejauh itu.

”Nanti kita masuk ke lorong yang sudah disiapkan buat wisatawan.  Tenang saja, sudah dibesarkan dua kali lipat dari aslinya,” kata Mr Hai.  Lorong yang boleh dimasuki itu juga dijamin bebas jebakan.  Dahulu, untuk membuat kapok para tunnel rat—julukan bagi para prajurit AS yang dapat tugas berat mencari dan memetakan terowongan-terowongan itu—sejumlah jebakan maut terpasang di berbagai tempat di lorong.  Bila kita tidak tahu, habis sudah.

’Hidangan utama’ kawasan terowongan Cu Chi memang lorong yang boleh dimasuki itu.  Namun bila Anda tak benar-benar berminat untuk menjajal pengalaman yang bisa menimbulkan panick attack itu, tetap cukup banyak hal yang bisa Anda lihat di situ.  Misalnya saja, koleksi berbagai macam jebakan maut (’tiger trap’) yang dahulu dipakai para pejuang.  Harus diakui, jebakan-jebakan mereka itu cukup inovatif, meskipun sadis.  Mr Hai dan pemandu setempat kami menggunakan tongkat bambu untuk mengaktifkan jebakan-jebakan tersebut.  Ada yang menjeblak terbuka kalau terinjak, dan prajurit AS naas itu akan terjatuh ke dalam lubang yang dasarnya ditanami besi-besi tajam.  Tertancap di situ pasti bukan perasaan menyenangkan—salah satu adegan Tour of Duty yang menggambarkan hal itu melekat dalam ingatan saya.  Ada yang dipasang di pintu, dan akan mengayun menghantam siapa pun yang membuka pintu yang…

”…bakal jadi steril dan pindah ke Thailand jadi ladyboy,” Lagi-lagi Mr Hai melontarkan gurauannya yang seenaknya dan membuat kami terkekeh geli.  ”Jadi itulah sejarah awal-mula para ladyboy di sana!”

Kelihatan tidak berbahaya…

Tapi coba saja Anda injak!

Bila Anda berpikiran sungguh kejam taktik para pejuang Vietnam itu, pikirkan ini: pasukan AS menghujani kawasan mereka dengan berkilo-kilo bom dan senjata kimia beracun yang menghancurkan alam mereka—sungguh tidak seimbang.  Dan efek dari segala senjata maut itu hingga kini masih terasa di Vietnam.  Sejumlah sumber air di wilayah Da Nang, misalnya, diklaim masih tercemar zat kimia yang digunakan AS semasa perang, dan menimbulkan cacat pada bayi dan anak-anak di daerah tersebut.

Selain koleksi beraneka rupa jebakan, ada juga tank-tank AS yang dirusak pejuang dan pameran berbagai tipe senjata api yang digunakan semasa perang.  Anda juga boleh mencoba menembakkan salah satu senjata api di lapangan tembak dengan membeli pelurunya saja.  Tak seorang pun dari rombongan kami yang menerima tawaran itu, namun sebagian besar mengiyakan untuk masuk ke dalam lorong.

Mr Hai menjelaskan bahwa panjang lorong itu 100 meter.  Ada sejumlah pintu keluar, tapi tidak semua dibuka, kecuali satu yang terletak di 25 meter pertama.  Apabila ada yang berubah pikiran, Mr Hai menyarankan mereka keluar duluan melalui pintu itu.  Awalnya saya agak ragu-ragu ikut ke dalam, tapi kepercayaan diri saya mendadak tumbuh.  Setelah pemandu setempat kami turun, sepasang orang Prancis mengikutinya, dan saya di belakang mereka, diikuti Mel, Ephi, dan sisa rombongan kami yang juga turun dengan pede.  Sebagian anggota rombongan untuk tetap berada di atas tanah saja dan akan menemui kami di pintu keluar.

Dua puluh lima meter pertama lorong masih cukup lebar, dan masih ada cukup banyak cahaya, dari lampu maupun lubang keluar.  Lantai lorong juga halus.  Semua itu membuat saya nekad: ah, kalau begini terus ya tidak apa-apalah, terus saja sampai 100 meter!  Maka dari itu, saya peringatkan sekali lagi, kalau-kalau Anda juga tipe orang yang tahu-tahu nekad seperti saya: jangan, sekali lagi jangan, menelusuri lorong ini bila Anda mudah panik di dalam gelap dan tempat sempit, karena apa yang akan Anda rasakan di bawah sana bisa jadi sangat menyiksa.

Perjalanan dalam lorong ternyata tak semulus 25 meter pertama.  Di beberapa bagian, lorong sangat sempit, dan kerap kali tidak ada cahaya sama sekali!  Memang sih, tidak akan tersesat, hanya tinggal maju terus, tapi tetap saja menyeramkan!  Berkali-kali kami harus berjalan jongkok atau bahkan merangkak.  Yang paling membuat saya kesal, laki-laki yang tepat di depan saya sama sekali tidak memberi peringatan mengenai apa pun yang ia lewati, dan ia melesat saja meninggalkan kami, mungkin karena mau menyusul kekasih atau istrinya yang bergerak lebih dahulu.  Sering kali saya kaget karena ternyata kita tiba-tiba harus turun lagi ke bawah melalui lubang, atau ketika dalam gelap saya terbentur dinding setinggi dada yang harus dipanjat.  Walhasil, sayalah yang mulai berteriak-teriak ke belakang memberi peringatan—”We’re going up!  Watch out, we’re going down!” dan lain sebagainya—dan pesan itu diteruskan berantai ke belakang.

Tak terkira rasa lega yang meledak di hati saya ketika akhirnya saya tiba di pintu keluar, dan dengan dengkul lemas kembali muncul di atas tanah yang masih diterangi matahari!  Saya baru sadar jantung saya berdetak demikian cepat, dan saya nyaris dehidrasi.  Menyesal betul rasanya tidak beli minuman botolan tadi, padahal minum yang saya beli di HCMC ditinggal di bis.  Sambil menunggu seluruh anggota rombongan keluar, saya duduk menenangkan diri.  Gila.  Sungguh pengalaman yang tak akan terlupakan.  Tak terbayangkan rasanya, dahulu lorong-lorong itu, dalam ukuran asli yang jauh lebih sempit, menjadi tempat hidup sedemikian banyak orang untuk waktu yang cukup lama. Sekarang sih kami tertawa kalau melihat foto wajah-wajah stres kami saat baru keluar dari terowongan.  Waktu itu sih, haduh!

Namun meskipun menyeramkan dan membuat depresi, lorong-lorong gelap itu dulu juga menjadi latar kisah-kisah romantis yang bersemi dalam kehidupan yang serba susah.  ”Wanita yang menjaga kedai kopi di sebelah depan itu lahir di dalam terowongan ini,” kata Mr Hai, nada bangga terselip dalam suaranya.  ”Dan dia cantik, kan?”

Tentu ada juga kisah-kisah tragis—salah satu yang paling sering diulang-ulang adalah kisah seorang ibu yang baru saja melahirkan dan terpaksa membunuh bayinya agar tidak menangis, karena pasukan AS sedang berkeliaran di sebelah atas.  Wanita itu menjadi gila, namun perbuatannya yang lebih memilih mengabaikan insting keibuannya demi menyelamatkan lebih banyak orang yang bersembunyi dalam terowongan, dianggap sebagai tindakan kepahlawanan.

Mr Hai sendiri adalah veterang perang tersebut—saya tak sengaja menguping pembicaraannya dengan salah seorang turis yang menanyainya karena penasaran dengan jari-jemari tangan kiri Mr Hai yang tidak sempurna.  Saya sendiri baru memperhatikan itu setelah sang turis menyinggungnya.  ”Saya dulu perwira bagian komunikasi,” Mr Hai menjelaskan.  Ah, itukah salah satu sebabnya ia bisa berbahasa Inggris sejak lama?

Tur di Cu Chi ditutup dengan menyaksikan film dokumentasi dan penjelasan diorama mengenai terowongan-terowongan itu.  Isi dokumentasi yang jelas-jelas menggambarkan pasukan Amerika sebagai penjahat tak berperikemanusiaan rupa-rupanya membuat sepasang turis Amerika cukup gerah.  Berkali-kali mereka bertukar pandangan dengan alis terangkat.  Yang menggelikan, ketika DVD dokumentasi usai diputar, layar TV menampilkan merk pemutar DVD: California.

Yah, meskipun isi dokumentasi itu menyengat, dan perang sengit tersebut ’baru’ 35 tahun usai, orang-orang Vietnam secara umum tidak memendam dendam lama-lama.  Orang Amerika tidak perlu takut bepergian ke Vietnam—mereka tetap akan diterima dengan tangan terbuka dan keramahan.  Itu justru membuat hati saya semakin teriris—dulu, betapa tega AS membombardir rakyat yang sungguh pemaaf dan baik hati seperti ini!

Hue, Ibukota Kekaisaran Lama Vietnam

This post is about Vietnam

Wilayah Hue sudah didiami manusia sejak lebih dari 2.000 tahun lalu.  Hue modern kini dibelah oleh Perfume River yang teramat bersih (sewaktu nantinya melayari sungai ini, kami hanya melihat kurang dari lima sampah yang mengapung!).  Bagian utara merupakan benteng kota tua kekaisaran dinasti Nguyen, sementara bagian selatan banyak dihiasi bangunan modern dan bergaya Prancis dari zaman kolonial.  Di dalam dan di sekitar Hue, banyak peninggalan bersejarah, bangunan keagamaan, dan keindahan alam yang patut dikunjungi.  Bahkan duduk-duduk di pelabuhan ‘perahu naga’ atau tepian sungai yang beralas rumput hijau saat pagi, sore, atau malam hari pun sungguh terasa menyenangkan.  Dan meskipun sama-sama terletak di Vietnam Tengah, tak seperti Da Nang, Hue tidak banyak tertimpa kerusakan akibat badai tropis, meskipun katanya kalau sedang banjir, orang pun tidak bisa keluar-keluar.

Incense stick di Hue

Warna-warni seperti ini menanti Anda di Hue!

Kami tiba di Hue tanpa terlebih dahulu memesan penginapan, alias memutuskan go show.  Banyak yang sering ragu melakukan hal ini karena takut tertipu supir taksi yang malah akan membawa kita ke tempat yang mahal sekali.  Nah, kami punya taktik sendiri.  Caranya, cari informasi di jalan mana banyak terdapat penginapan atau hotel.  Pilih saja salah satu penginapan, dan tunjukkan alamatnya kepada supir taksi.  Meskipun belum dapat, atau malah tidak dapat, kamar di situ, yang penting kita seolah-olah punya tujuan jelas.  Yang penting kan sampai di satu tempat yang aman, jadi menginap di situ atau tidak kan urusan lain.  Banyak sih hotel besar dan megah di Hue, namun kami memilih mencari yang sederhana saja.

Maka kepada supir taksi (dari perusahaan taksi Mailinh) kami meminta diantar ke sebuah hotel yang tertera dalam buku panduan yang kami bawa.  Jalan kecil tempat hotel itu terletak ternyata hanya beberapa menit jauhnya dari stasiun kereta api.  Yah, namanya juga bukan kota besar dan tidak ada kemacetan.  Kami hanya melintasi satu ruas jalan utama dari stasiun kereta sampai daerah hotel, yaitu Le Loi, yang memang panjang sekali.  Waktu sejenak di dalam taksi pun sudah menjadi tur yang cukup berharga untuk melihat-lihat Hue.

Di sebelah kiri kami, berjejer di tepian Perfume River, adalah sejumlah bangunan penting bergaya kolonial.  Ada museum, gedung kesenian, gedung panitia festival Hue, dan lain sebagainya.  Rumah sakit pusat Hue juga terletak di jalan tersebut.  Di sebelah kanan, supir taksi dengan bangga menunjukkan, “Sekolah saya dulu!”

Ada dua kompleks sekolah yang berdampingan, terpisahkan oleh jalan kecil.  Yang satu, Hai Ba Trung, untuk siswi, sementara yang satu lagi, Quoc Hoc untuk siswa.  Kedua kompleks yang cukup luas itu diteduhi pohon-pohon besar, dan terdiri atas sekumpulan bangunan gaya Eropa berwarna merah gelap.  Bedanya, di sekolah putri, bangunan-bangunan lebih besar dan mengelompok, sementara di sekolah putra, bangunan-bangunan berukuran lebih kecil dan lebih berjauh-jauhan, dihubungkan oleh jalan setapak.

Hue sebelah selatan dihubungkan dengan Hue sebelah utara di seberang Perfume River oleh sejumlah jembatan besar.  Bila malam, lampu-lampu bersinar lembut aneka warna menjadikan jembatan-jembatan itu pemandangan tersendiri yang menemani jalan-jalan kita di tepi sungai.

Jalan yang kami beri tahukan kepada pak supir ternyata sebuah jalan kecil yang diapit berbagai penginapan dan hotel di kanan-kiri.  Seorang pria menawarkan kamar di Hotel Phoenix (66/3 Le Loi)—saya ingat nama ini pernah saya temukan di salah satu situs web ketika saya mencari-cari informasi soal Hue.  Ada kamar dobel dan tripel, yang lumayan juga sewaktu kami tengok, meski jangan harapkan ada lift.

Setelah beristirahat sejenak, pukul 7, saat udara beranjak semakin dingin, kami keluar untuk mencari makan sekaligus memesan tempat di tur esok hari.  Banyak biro pariwisata yang terorganisasi rapi menawarkan paket-paket murah—hanya sekitar 60 sampai 100 ribu rupiah per orang—untuk menyambangi tempat-tempat tersebut, atau bahkan mencicipi hidup bersama penduduk asli Vietnam.  Kendaraan umum kecuali ojek dan siklo (sejenis becak) masih jarang di Hue, sehingga mengambil paket tur itu merupakan pilihan baik bagi turis.

Restoran di Hue

Restoran di Hue tempat kami menanti rombongan tur berangkat, dan juga nantinya makan siang.

Paket Thang Long City Tour (16 Pham Ngu Lao Street, telepon (84) 054.3838666), misalnya, dengan harga sedemikian murah menyediakan bis ber-AC dan pemandu berbahasa Inggris yang baik untuk mengunjungi 5 titik wisata dan melayari Perfume River dengan ‘perahu naga’, serta makan siang prasmanan dengan 50 menu.  Hanya saja, tiket masuk untuk beberapa tempat yang dikunjungi, sebesar 55 ribu Dong per orang, harus dibayar sendiri.  “Hari ini, angka keberuntungan kalian 55, ya,” demikian canda Mr Dang, yang keesokan harinya menjadi pemandu kami.  Paket inilah yang kami ambil dengan membayar 120.000 dong/orang di biro wisata dekat hotel.  Saya mengambil peta Hue keluaran Asiana Travel Mate, yang seharusnya gratis, namun diminta membayar 10.000 Dong oleh mbak-mbak penjaga biro tersebut.  Berhubung petanya bagus, saya menurut saja.

Hue, meski masih kalah pamor dari HCMC atau Ha Noi, sebetulnya amat menjanjikan sebagai surga belanja dan makanan bagi turis.  Restoran yang menjadi pilihan kami malam itu terhitung mewah untuk ukuran Hue, namun harga makanannya tetap saja murah dibandingkan harga di HCMC, apalagi kalau dirupiahkan.  Tapi memang pendapatan per kapita di Hue masih rendah.  Kaum mudanya berbondong-bondong meninggalkan kota yang damai itu, mencari penghidupan yang lebih baik terutama di HCMC di Selatan.

Di restoran Khai Hoan (90 Le Loi), Mel memesan menu yang paling menarik malam itu: queen’s royal tea dan kue khas Hue.  Yang disebut queen’s tea ternyata mirip jamu, campuran berbagai bagian tumbuhan yang lantas diseduh.  Rasanya?  Huek, pahit!  Mungkin berkhasiat, tapi kalau untuk teman makan, terima kasih, deh.  Untungnya, kue yang berisi kacang merah sangat nikmat dan legit.  Kalau ke Hue jangan lupa mencicipi kue ini, karena belakangan saat kami tanyakan kepada Mr Vu, kue tersebut susah ditemukan di HCMC.  Keragaman kuliner Vietnam Selatan dan Vietnam Tengah (juga Vietnam Utara) berbeda.  Di HCMC, mereka tidak terlalu suka memakan kacang-kacangan, sehingga kue kacang merah Hue bukan hal lazim di kota terbesar di selatan itu.

Usai makan, kami mendatangi beberapa toko yang masih buka.  Ada toko kain sutra yang juga menawarkan jahit cepat—4 jam jadi.  Suvenir tergolong murah, sehingga kami yang tadinya tidak betul-betul berniat membeli apa-apa akhirnya malah jadi memborong banyak.  Salah satu jenis barang yang kami beli adalah syal rajutan yang cukup tebal—popular untuk menghalau hawa dingin di Hue, namun tidak akan banyak gunanya di tempat panas seperti HCMC.  Kalau mau buat bergaya di mal-mal Jakarta yang AC-nya ganas sih, oke juga.

Suvenir di Hue

Sejumlah cenderamata hasil kerajinan tangan rakyat yang dijual di salah satu toko di daerah Hue.

Kelar berbelanja, kami duduk-duduk cukup lama di tembok batu dingin yang membatasi taman dengan dermaga dragon boat di tepi Perfume River.  Hanya ada beberapa penjaja kaki lima yang sedang berbenah-benah, namun suasana taman jauh dari menyeramkan.  Hawa dingin cukup menggigit, sementara suasana senyap—rasanya sungguh menyegarkan, jauh berbeda dari hiruk-pikuk HCMC.

Keesokan pagi, kami check out dari hotel, karena akan mengikuti tur sampai sore dan setelah itu langsung menuju stasun kereta untuk naik kereta malam ke Da Nang.  Eh, ternyata ibu-ibu di bagian penerimaan tamu mencoba mengerjai kami.  Atau, entah ya, mungkin sekadar ia salah ingat, karena mukanya kok polos sekali.  Dia bilang, kami kurang bayar untuk satu orang.  Mel bersikeras bahwa kemarin itu harga yang ia berikan kepada kami—dan sudah kami bayar—ia nyatakan sebagai harga kamar untuk 5 orang.  Untunglah akhirnya ia mengalah dan berhenti meminta uang lebih.  Hmmm… mungkin lain kali kalau ke Hue, coba cari hotel lain saja barangkali ya.

Terlebih dahulu kami pergi ke stasiun kereta untuk membeli tiket kereta malam.  Kali ini, kami memperoleh tiket kereta SE7 yang akan bertolak pukul 19.58 dari Hue dan tiba pukul 22.40 di Da Nang.  Penjual karcis sempat bertanya apakah tidak apa-apa kami duduk terpisah-pisah, karena ternyata sebagian besar tiket sudah habis terjual.  Hmm, ya, tidak apa-apalah, yang penting kami bisa berangkat dan tidak ketinggalan pesawat dari Da Nang esok hari!

Setelahnya, kami mendatangi cabang biro wisata tempat kami membeli paket wisata hari sebelumnya.  Petugas menjemput dan membawa kami berjalan kaki sedikit ke jalan Pham Ngu Lao, yang sepertinya merupakan urat nadi pariwisata backpacking di Hue.  Mirip Bui Vien di HCMC, hanya berkali-kali lipat lebih sepi.  Kami diminta menunggu di kantor pusat biro wisata sampai bis yang akan membawa kami datang.  Seperti juga bis kami di HCMC, bis di Hue nyaman dan bagus.  Hanya saja kami membuat bis itu jadi seperti bis antarkota, gara-gara kami berlima heboh membawa barang bawaan berlimpah, sementara tamu-tamu lain santai-santai saja dengan bawaan ringan.

Pemandu kami kali ini, Mr Dang, masih cukup muda dan tidak kalah humoris dengan Mr Hai.  Bahasa Inggrisnya juga bagus.  Dari dialah kami tahu banyak hal mengenai Hue dan sekitarnya.  Pertama-tama, ia membawa kami ke sebuah sentra kerajinan barang-barang khas Vietnam, dan kami pun bisa melihat cara pembuatan caping serta dupa.  Membeli juga boleh, atau sekadar memanfaatkan toilet yang bersih.  Sayang, sepertinya ada sejumlah turis asing yang tidak paham bahwa di beberapa negara seperti Vietnam dan Indonesia, toilet tidak bisa dipakai membuang tisu.  Akibatnya, di dalam toilet ada saja tisu yang menyangkut.

Setelah dari sentra tersebut, kami menuju tujuan utama kami di pagi itu.  Di sekeliling Hue, terdapat sejumlah kompleks makam para kaisar dinasti Nguyen.  Sebagian di antaranya masih direstorasi, sebagian di antaranya tidak terlalu popular di kalangan wisatawan.  Tiga kompleks makam yang paling kerap dikunjungi, dan juga yang paling memukau dari segi arsitektur, adalah makam Kaisar Tu Duc, makam kakeknya, Kaisar Minh Mang, dan makam kaisar boneka Prancis, Khai Dinh.  Sulit menghafal nama-nama kaisar ini?  Mr Dang punya julukan bagi masing-masing raja agar mudah diingat: Smallpox King (Tu Duc), Sexy King (Minh Mang), dan Homosexual King (Khai Dinh).  Alasannya?  Nanti kita tengok satu-satu.

Makam Tu Duc

Salah satu bagian kompleks makam Tu Duc di Hue. Terlihatkah oleh Anda anggota Tim Lompat-lompat?

Meskipun judulnya makam, kompleks-kompleks ini dihiasi bangunan-bangunan megah, pelataran luas, dan taman.  Begitu kami memasuki kompleks makam Tu Duc, misalnya, kami disambut rimbunan pepohonan dan danau, dan harus menyusuri jalan setapak yang cukup jauh sebelum mencapai kumpulan berbagai bangunan.  Kompleks makam ini sudah digunakan bahkan sebelum yang empunya wafat, yaitu sebagai tempat tinggal, meskipun sebetulnya istana kekaisaran Hue ada di benteng kota tua.  Tu Duc pun silih-berganti tinggal di kompleks makam dan benteng tua sesuai tanggal genap atau ganjil.  Wah, apa malah tidak merepotkan, ya, apalagi di zaman dahulu yang belum mengenal mobil?

Malang, meski selirnya banyak, Tu Duc tidak punya keturunan, akibat cacar api parah yang menyerangnya dan membuat tak hanya wajahnya rusak, melainkan juga kemampuannya menghasilkan anak jadi nol.  Tak heran ia selalu dirundung kesedihan, dan ia juga lemah sehingga selain bolak-balik ke makam dan benteng, biasanya ia tidak ke mana-mana lagi.  Makamnya pun dibangun dengan segala sumber kesenangan tersedia baginya.  Ia bisa memancing di danau, berburu di pulau kecil yang ada di tengah danau, menonton teater, dan lain sebagainya.  Bahkan di kompleks tersebut ada istana bagi keseratus selirnya, meski kini yang bisa kita lihat tinggal reruntuhan menyedihkan.  Sayang juga sedang tidak musim bunga teratai, padahal danau Tu Duc pasti indah sekali bila teratai sedang bermekaran.

Jumlah selir yang banyak memang tidak terhindarkan karena pernikahan-pernikahan itu juga bagian dari intrik politik istana.  Para mandarin (yang artinya hulubalang, bukan orang Cina) dan para pembesar lain berlomba-lomba menawarkan putri mereka untuk dinikahi sang kaisar demi mengamankan kedudukan sang ayah.  Kaisar menerima demi menjalin persatuan dan dukungan dari pejabat-pejabat tersebut.

“Zaman dahulu perempuan tidak bisa memilih,” kata Mr Dang, separuh curhat, “tapi sekarang berbeda.  Sekarang mereka yang berkuasa.  Dan saya beberapa bulan lalu memilih untuk mengikuti salah satu di antaranya…”  Ia pun memamerkan cincin pernikahan yang terselip di jari manisnya, memancing suara ‘oooh’ dari sebagian anggota kelompok kami.  “Kalau ditelepon dan disuruh pulang dalam 15 menit, saya harus pulang dalam 15 menit…”  Kami pun tertawa mendengar ceritanya itu.

Pojok lain makam Tu Duc

Pekarangan makam Tu Duc, lengkap dengan mandarin batu.

Berhubung tidak punya anak, Tu Duc menulis sendiri teks yang tertera di prasasti riwayat hidupnya.  Di setiap makam kaisar memang ditegakkan prasasti berukuran raksasa yang menuturkan riwayat sang kaisar, dan berdasarkan tradisi, teksnya seharusnya digubah oleh putra mahkota.  Prasasti-prasasti itu masih dituliskan dalam aksara Cina, yang lantas tak lagi digunakan oleh bangsa Vietnam.  Di pelataran di depan prasasti, terdapat patung batu sejumlah mandarin, kuda, dan gajah.  Ada mandarin militer dan mandarin urusan sosial, seperti bisa terlihat dari jenis pakaian yang mereka kenakan.

Kita juga bisa melihat berbagai hiasan naga—simbol kekuasaan—yang terpasang di atap istana.  Naga adalah motif favorit yang banyak menghiasi bangunan pemerintahan zaman kekaisaran.  Ada pula patung binatang mitos yang disebut ‘unicorn’ oleh Mr Dang, meski bentuknya lebih mirip singa.  Unicorn ini yang lazim dikenal dengan nama qilin di Cina.

Hal lain yang unik dari makam para kaisar adalah posisi tepat tempat peti mati mereka dikuburkan ternyata dirahasiakan.  Jadi, meskipun di dalam kompleks ada berbagai macam bangunan mewah, tak ada satu pun tanda yang dengan jelas menunjukkan makam sesungguhnya sang kaisar.  Ini untuk mencegah orang-orang yang berniat jahat terhadap jenazah almarhum.  Posisi peti mati kaisar yang diketahui dengan pasti adalah peti Khai Dinh, yang makamnya kami kunjungi berikutnya.

Makam Khai Dinh

Undak-undakan berjumlah cukup banyak di bagian depan kompleks pemakaman Khai Dinh.

Makam Khai Dinh, yang disebut Mr Dang ‘Raja Homoseksual’ berbeda dalam hal struktur dari makam-makam lain.  Apabila yang lain sangat dipengaruhi gaya Cina, bahkan meniru Kota Terlarang di Beijing, makam Khai Dinh merupakan campuran berbagai gaya, termasuk Eropa.  Dan alih-alih melebar, makamnya bertingkat-tingkat ke atas, dan dari puncak, digali lubang dalam tempat petinya lantas diturunkan.  Meskipun demikian, di makam ini juga terdapat prasasti riwayat hidup sang kaisar (yang digubah oleh salah seorang mandarin-nya) dan jejeran patung mandarin.

Lumayan juga energi yang harus dihabiskan untuk menapaki semua undak-undakan sampai ke atas.  Tapi kita akan memperoleh imbalan setimpal: dari tingkat-tingkat sebelah atas, kita bisa menyaksikan pemandangan alam yang menakjubkan, dan juga melihat ruang-ruang tempat berbagai foto dan benda lain milik sang kaisar dipamerkan.  Kita juga bisa melihat tahta emas dengan hiasan matahari terbenam—melambangkan kaisar yang wafat—yang tersimpan di makam ini.

Lucunya, saya melihat sebuah patung putih menjulang di kejauhan, di antara pepohonan yang lebat.  Awalnya saya kira itu patung raksasa Yesus atau Bunda Maria yang kerap kita jumpai di wilayah-wilayah mayoritas Katolik.  Eh, ternyata menurut Mr Dang, itu patung Buddha berwujud perempuan (ataukah maksudnya Kwan Im?), yang harus dicapai dengan mendaki tangga yang cukup tinggi.

Oh ya, mengapa Khai Dinh disebut ‘Raja Homoseksual’?  Rupa-rupanya, meskipun punya 4 istri, sang raja lebih senang bersenang-senang bersama para pelayan prianya.  Ia juga senang berdandan, dan di foto-foto hitam putihnya yang masih ada, bisa terlihat ia mengenakan lipstik dan komestik lain.  “Lihat saja, susah kan membedakan yang mana raja, yang mana ratu, dan yang mana ibu suri?”  Mr Dang bertanya seolah menantang kami membuktikan.

Mandarin makam Khai Dinh

Jejeran mandarin batu di makam Khai Dinh.

Mr Dang juga menjelaskan bahwa sebetulnya rakyat Vietnam tidak menyenangi Khai Dinh.  Ia adalah kaisar lemah yang diangkat oleh Prancis justru karena Prancis tahu ia bakal manut saja kepada para penjajah dan tidak menghasilkan keturunan.  Khai Dinh juga amat menggemari hal-hal berbau Eropa.  Dalam salah satu kunjungannya ke Prancis, ia memesan patung dirinya seukuran asli yang kini lantas dipajang di makamnya.  Namun Khai Dinh tetap menginginkan kekuasaan: di makamnya, di mana-mana dipajang naga, seolah ia berharap bahwa dengan semakin banyak hiasan naga yang ada, kelemahannya bisa tertutupi.  Sang kaisar memang tidak popular di kalangan rakyat, namun kini kompleks makamnya menjadi salah satu tujuan pariwisata terkemuka di Hue.  (Kekurangan yang kami dapati di sini: mbak-mbak penjaga kios makanan sungguh jutek, dan harga barang yang dijual juga jadi mahal sekali!)

Kami kemudian menuju kompleks makam Minh Mang yang berusia paling tua di antara ketiga kompleks yang kami singgahi hari itu.  Ia dijuluki Sexy King karena selirnya luar biasa banyak.  “Makanya hidupnya tidak panjang,” Mr Dang berkomentar.  “Satu istri saja, masalah banyak.  Apalagi banyak!”

Bayangkan, pemilihan putra mahkota saja bisa ruwetnya minta ampun.  Pertama-tama, raja akan memilih istri favorit untuk dijadikan ratu.  Kalau sang ratu melahirkan anak laki-laki, beres urusan, itulah putra mahkota.  Kalau tidak?  Ya, raja harus mencari lagi di antara istri-istri favorit tingkat kedua, siapa yang punya anak laki-laki duluan.  Kalau ternyata ada yang melahirkan bersamaan?  Nantinya akan diuji, siapa yang lebih cerdas dan pantas sebagai pemimpin di antara anak-anak itu.  Yang gawat kalau ketika besar, mereka tidak menerima keputusan itu dan bertarung memperebutkan tahta.  Alamak!

Untuk mencapai gerbang masuk kompleks Minh Mang, kami harus berjalan memutari tembok luar yang melingkar.  Beberapa anak dan wanita dengan memelas menawarkan pisang dan buah-buahan lain dengan bahasa Inggris terpatah-patah.  Agak tidak tega melihatnya, tapi saya tidak membeli apa-apa—entah apakah mereka punya izin berjualan di situ atau tidak.

Makam Minh Mang

Jembatan yang melintasi salah satu danau di pemakaman Minh Mang. Pria bertopi adalah pemandu wisata kami.

Makam Minh Mang juga tidak kalah luas, lengkap dengan danau dan taman yang memukau, meskipun dari segi kelengkapan bangunan, makam Tu Duc yang juga merangkap tempat tinggal masih tak terkalahkan.  Di makam Minh Mang, bila kita terus menelusuri jalan sampai ke sebelah belakang, maka kita akan mentok di sederet anak tangga yang berujung di depan sebuah gerbang bergembok di sebelah atas.  Di balik gerbang, terdapat bukit kecil yang rupanya menjadi tempat peti mati si Raja Seksi dikuburkan—meski posisi pastinya juga tak jelas di mana.  Gerbang hanya dibuka setahun sekali, ketika para keturunan raja-raja dinasti Nguyen datang untuk bebersih-bersih.

Ngomong-ngomong, kalau istri dan selir kaisar banyak, tentunya keturunan mereka juga banyak dong ya?  Oh, ternyata menurut Mr Dang, saat ini ada sekitar satu juta orang yang bernama keluarga Nguyen di dunia ini.  (Dua tentara yang dulu menabrakkan tank ke Reunification Palace, HCMC, ngomong-ngomong, bernama Nguyen Van Tap dan Nguyen Van Ky.  Anda juga mungkin ingat bintang film dan komikus Amerika Dustin Nguyen?)

“Nama saya juga Nguyen,” Mr Dang menunjukkan kartu pengenalnya sebagai pemandu wisata, “tapi saya bukan keturunan kaisar.  Mungkin dahulu kakek saya mengganti namanya, supaya bisa dekat dengan kaisar atau dapat keistimewaan karena dikira keluarga raja.”  Ah!  Jadi mungkinkah di antara satu juta manusia yang menyandang nama Nguyen itu juga banyak keturunan orang-orang yang sekadar latah memakai nama keluarga Nguyen?

Dalam sunyi, kompleks-kompleks makam para kaisar menguarkan nuansa kemegahan Vietnam di masa lalu, zaman kekaisaran yang berakhir ketika kaisar Bao Dai mengundurkan diri tahun 1945.  Sang kaisar terakhir terkenal karena kata-katanya “Lebih baik saya menjadi warga sebuah negara yang merdeka daripada menjadi kaisar bangsa yang terjajah”.  Ia beserta keluarganya mengungsi ke Paris, dan akhirnya wafat serta dimakamkan di sana.  Bahkan hingga sekarang, sepertinya tak ada usaha mengembalikan jenazah Bao Dai ke Vietnam, dan keluarganya juga belum pulang ke tanah air.

“Saya tidak mengerti apakah mereka yang tidak menginginkan Vietnam, atau Vietnam yang tidak menginginkan mereka,” sesal Mr Dang, “Padahal bagi saya, mereka silakan datang kapan saja.  Mereka juga orang Vietnam.”  Ah, rupanya itu juga salah satu luka Vietnam yang belum sembuh.

Saat makan siang, kami kembali ke kantor pusat biro wisata yang juga mencakup sebuah restoran.  Kami dijamu dengan 50 macam makanan secara prasmanan, termasuk santapan asli Hue, meskipun air minum harus beli sendiri.  Kesempatan ini kami manfaatkan mengisi perut yang ternyata lapar sekali setelah terakhir diisi pagi tadi, meski kami harus berhati-hati karena sebagian makanan yang terhidang mengandung daging babi. Tapi kalau Anda tidak berpantang sih, sikat saja!

Usai bersantap, biro pariwisata mengajukan dua pilihan.  Pertama, yang sudah mengunjungi benteng Hue, boleh langsung naik dragon boat menyusuri Perfume River.  Kedua, untuk yang belum, akan kembali ikut bis ke benteng Hue, baru nanti berkumpul kembali dengan rombongan pertama di Pagoda Thien Mu dan pulang dengan dragon boat.  Kami ikut rombongan kedua dan kembali naik ke atas bis.

Citadel Hue 5 Phoenix

Bagian dalam Citadel Hue, terlihat dari Paviliun Lima Phoenix.

Kota kekaisaran lama—termasuk benteng (citadel) Hue—adalah tempat yang wajib dikunjungi saat berada di Hue.  Kompleks kekaisaran dikelilingi oleh parit besar dan tembok pertahanan tinggi yang masih terlihat kokoh.  Saat ini, kompleks kekaisaran masih menjalani proses restorasi besar-besaran, karena sebagian bangunan dalam kompleks tersebut hancur saat perang dalam peristiwa yang disebut Serangan Tet.  Akan tetapi, saat ini pun sudah cukup banyak yang bisa kita lihat di situ, mulai dari tiruan Kota Terlarang di Cina, Menara Bendera, Paviliun Hien Lam dengan sembilan tempayan raksasa, Paviliun Ngu Phun, dan banyak lagi.  Kompleks ini sangat luas, dan barangkali perlu waktu berjam-jam untuk meneliti setiap sudutnya dengan berjalan kaki menapaki jalan berbatu apik yang dinaungi rimbunan pohon.

Bis tidak bisa masuk melalui gerbang kota lama, sehingga diparkir di tempat parkir merangkap pasar kecil yang jaraknya lumayan jauh juga dari benteng.  Belum-belum keringat sudah kembali bercucuran!  Kami disambut oleh empat dari sembilan meriam suci yang melambangkan ruh dinasti Nguyen penjaga kota.  (Lima meriam lagi ada di sisi barat kota lama.)  Kemudian dari kejauhan, bisa terlihat Menara Bendera (Ky Dai) bersusun tiga.  Di puncaknya, berkibar bendera Vietnam raksasa, sementara di tingkat-tingkat sebelah bawah terpasang foto Paman Ho dan sejumlah spanduk.  Rupa-rupanya Hue sedang bersiap-siap menyambut peringatan ke-35 penyatuan kembali Vietnam, dan akan ada acara besar yang digelar di kota tua minggu depan.

Parit sekitar Citadel Hue

Parit pertahanan yang mengelilingi Citadel Hue.

Rombongan kami masuk melalui Gerbang Selatan—pintu utama bagi turis untuk keluar-masuk—dan lantas terpencar-pencar.  Aneh juga rasanya, meski berpuluh-puluh menit waktu yang kami habiskan di benteng, tak sekali pun kami berpapasan dengan anggota rombongan kami yang lain!  Barangkali inilah bukti betapa luas bagian dalam benteng—keliling luarnya adalah 2 km x 2 km—dan betapa banyak yang bisa dilihat serta dilakukan.  Kita bisa berfoto ala raja dan ratu Vietnam zaman dahulu dengan pakaian sewaan, mengendarai atau sekadar berfoto bersama gajah, sampai memberi makan ratusan ekor ikan koi di danau di depan tiruan Istana Terlarang.

Ukiran naga timbul Citadel Hue

Ukiran naga timbul yang amat indah di salah satu sudut Citadel Hue.

Saya dan Mel juga sangat antusias melihat kesembilan tempayan raksasa yang lagi-lagi melambangkan kesembilan pelindung kota dari dinasti Nguyen.  Kami juga menyempatkan naik ke Paviliun Ngu Phun (Lima Phoenix) yang mengungkungi Gerbang Selatan.  Dari paviliun tempat genderang raksasa terpasang itu, kita juga bisa memperoleh pemandangan luas dan indah ke arah dalam benteng sekaligus ke arah Menara Bendera dan parit keamanan di sekeliling benteng.

Oleh karena lelah, kami memutuskan kembali ke bis untuk mencuri-curi sholat di bis mumpung turis-turis lain belum kembali untuk kembali melanjutkan perjalanan.  Sejumlah pengemudi siklo dengan bersemangat menawarkan mengantar kami berkeliling kota kekaisaran tua.  Sayang sekali, kami tidak punya waktu, meskipun tawaran mereka itu sangat menarik.

Sambil berjalan kaki menuju bis, saya dan Mel membeli kaus Hue yang dijajakan di pinggir jalan.  Harganya membuat kami melotot saking murahnya, yaitu 20.000 Dong.  Nah, ini juga bisa jadi oleh-oleh yang lumayan ekonomis dari Hue.

Yang juga tak boleh luput didatangi adalah Pagoda Thien Mu (Heavenly Lady), yang terletak di tepi Perfume River.  Kapal rombongan kami sudah tiba sewaktu bis kami sampai di sana, dan karena kami tidak akan menggunakan bis lagi, saya dan teman-teman menurunkan tas-tas kami yang berat dan meletakkannya di atas kapal.  Baru kemudian kami mendaki undak-undakan di sebelah depan kompleks pagoda yang dibangun oleh tuan tanah Nguyen pertama yang menguasai wilayah tersebut setelah memperoleh ramalan dari seorang wanita tua misterius.

Thien Mu istimewa bukan hanya karena bangunan-bangunannya yang menarik, melainkan juga karena merupakan tempat asal biarawan Thich Quang Duc yang membakar diri di Sai Gon tahun 1963 sebagai protes terhadap penindasan agama Buddha oleh pemerintahan Katolik Vietnam Selatan.  Foto peristiwa menggemparkan itu mungkin masih terekam di benak Anda saat ini.  Konon saat membakar diri, tak sepatah pun keluhan atau erang kesakitan yang keluar dari mulut sang biarawan.  Jantungnya pun ternyata utuh, tidak terbakar.  Aksi Thich Quang Duc yang menggetarkan ini bahkan ditiru sejumlah pemrotes anti-perang Vietnam.

Kompleks biara Hue

Salah satu bangunan di kompleks Biara Thien Mu.

Di kompleks biara itu masih tersimpan mobil yang membawa sang biarawan ke Sai Gon, simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan pihak yang berkuasa.  Repro foto pembakaran diri Thich Quang Duc juga dipajang.  Kebetulan saat peristiwa itu, hanya satu jurnalis dan pewarta foto asing yang hadir.  Sebetulnya maksud beserta lokasi yang direncanakan Thich Quang Duc sudah diumumkan sebelumnya, namun pada saat itu, sudah terlalu banyak berita mengenai perang yang berseliweran sehingga pengumuman itu tak terlalu dipedulikan kecuali oleh kedua wartawan itu.  Merekalah yang lantas menjadi corong yang menyuarakan kesaksian keteguhan sang biarawan renta.

Hal lain yang menarik untuk dilakukan di Thien Mu adalah berfoto bersama patung-patung kura-kura raksasa.  Kura-kura adalah salah satu hewan mitos paling penting di Vietnam, yang berkaitan dengan asal-muasal negeri tersebut, seperti yang bisa kita tonton sebagai salah satu kisah yang dipentaskan sebagai wayang air.  Konon, kalau ingin kembali ke Vietnam lagi, jangan lupa menyempatkan diri berfoto bersama salah satu patung kura-kura itu.

Mobil di Thien Mu

Mobil yang membawa Thich Quang Duc ke Saigon untuk membakar diri, dipamerkan di Thien Mu.

Kini, Thien Mu terasa teduh dan damai, tempat para biksu muda menuntut ilmu dan melatih diri.  Air kolam yang disemarakkan teratai nyaris tak beriak.  Thich Quang Duc barangkali akan bahagia bila bisa melihat bahwa protesnya tidak sia-sia: kehidupan beragama yang damai telah kembali ke negeri yang ia cintai.

Kami kembali ke Hue menggunakan dragon boat yang menyusuri Perfume River yang, duhai, alangkah bersihnya, sampai membuat kami iseng menghitung jumlah sampah buatan manusia yang terlihat (jawab: tiga).  Nahkoda kapal santai sekali, hampir sepanjang waktu mengendalikan kemudi dengan kakinya saja.  Perfume River lebar, tenang, dan bersih, sehingga tidak banyak gangguan yang memaksa ia bersusah-payah.  Tepiannya tampak landai, dan di banyak bagian dilapisi rumput yang terlihat lembut dan nyaman untuk diduduki.  Sungguh beruntung para penduduk Hue, memiliki kota yang demikian indah!

Perjalanan berakhir di dermaga tempat semalam kami duduk-duduk.  Mr Dang betul-betul pemandu wisata yang mengurusi tamu-tamunya sampai akhir: ia menunjukkan jalan kembali ke hotel masing-masing bagi yang belum kenal jalan.  Oleh karena jadwal keberangkatan kereta masih lama, dan tubuh sudah lengket akibat cucuran keringat seharian, kami menanyakan kepada Mr Dang apakah ia tahu di mana kami bisa menyewa kamar untuk beberapa jam saja agar kami bisa mandi dan beristirahat.  Ia tampak berpikir keras, lantas meminta maaf karena tidak tahu.  Akhirnya kami mengucapkan terima kasih dan berpisah darinya.

Kami menyusuri trotoar, mencari-cari restoran atau penginapan untuk rehat sejenak.  Baru hendak duduk di sebuah restoran di depan Century Riverside Hotel, tiba-tiba Mr Dang muncul lagi, mendatangi kami dengan terburu-buru.  “Teman-teman, saya temukan tempat di mana kalian bisa mandi!  Ayo, ikuti saya!”

Astaga!  Kami tercengang.  Saking bertanggung-jawabnya ia, Mr Dang menanyai sejumlah penginapan, dan bergegas menyusul kami untuk memberitahukan tempat sesuai keinginan kami yang ia temukan.  Betul-betul pemandu wisata jempolan!  Kami pun segera mengikuti ia.

“Di sana tidak bisa menginap jam-jaman, sih, tapi bisa menumpang mandi,” Mr Dang menjelaskan sambil berjalan.  “Kalian juga bisa makan dan minum.”  Sungguh tak terkira rasa terima kasih kami bagi Mr Dang!

Dragon boat di Perfume River.

Perjalanan menyusuri Perfume River yang damai di atas dragon boat.

Tempat yang dimaksud Mr Dang adalah Backpacker’s Hostel (10 Pham Ngu Lao street) Lantai bawah bangunan itu adalah restoran, sementara bagian atas adalah kamar-kamar yang disewakan untuk backpacker.  Hanya dengan membayar 10.000 dong untuk handuk bersih (meski agak belel), kami bebas menggunakan kamar mandi bersih berpancuran di lantai bawah untuk membersihkan diri.  Sambil bergantian mandi, kami juga makan dan minum sekadarnya di restoran hostel.

Eh, waktu saya mandi, teman-teman saya dihampiri bule-bule ganteng yang rupanya penasaran melihat tampang-tampang dan juga mungkin bahasa kami.  Rupa-rupanya mereka pernah menghabiskan sebulan di Indonesia, dan mereka pun memuji-muji negeri kita.  Bangga sih mendengarnya, tapi mbok ya ngobrolnya bukan pas saya mandi!

Puas mandi, kami kembali ke restoran yang tadinya hendak kami singgahi sewaktu Mr Dang memanggil kami.  Soalnya, makanan di situ relatif lebih murah.  Setelah mengisi perut, kami menghentikan sebuah taksi untuk mengantar kami ke stasiun kereta.  Supir kami kali ini juga baik sekali.  Dengan bahasa Inggris yang lancar, ia bertanya kami berasal dari mana.  Ia bahkan meminta kami menyanyikan lagu Indonesia!  Akhirnya taksinya pun ramai oleh dendangan.  Keramahan orang-orang seperti Mr Dang dan supir taksi inilah yang membuat pengalaman di Hue sungguh berkesan.  Terlupa deh perlakuan agak tidak mengenakkan sewaktu check-out dari hotel.  Eh, barusan saya mengingatnya lagi!

Alam Vietnam dari makam Khai Dinh

Pemandangan permai alam Vietnam Tengah yang terlihat dari kompleks pemakaman Khai Dinh.

Kuil Cao Dai dan Komodifikasi Agama

This post is about Vietnam

Banyak sekali tujuan wisata yang hanya berjarak tempuh beberapa jam atau satu hari dari Ho Chi Minh City, Vietnam.  Banyak kafe turis atau biro wisata yang menawarkan paket-paket semacam itu.

Setelah berunding, kami memutuskan bahwa kami akan mengambil tur seharian ke Kuil Cao Dai (yang akan kami ceritakan di sini) dan Terowongan Cu Chi.  Kami memesan paket wisata itu dari Tropic Tour (195 Bui Vien Street, District 1). Harga paket ke Kuil Cao Dai dan Cu Chi hanya 8 USD per orang, namun tidak termasuk makan siang.

Keesokan pagi, sebelum pukul 8, kami sudah bersedia di depan kantor biro wisata tempat kami memesan tur.

Kami adalah rombongan pertama yang naik ke dalam bis berpenyejuk udara yang disediakan.  Tadinya malah kami kira hanya kami—dan 2 orang perempuan lain—yang menjadi peserta tur.  Ternyata bis lantas menjemput beberapa turis lain di sejumlah hotel berbeda, sehingga bis kami pun penuh ketika akhirnya mulai bergerak meninggalkan HCMC.

Pemandu kami sudah agak tua, namun masih lincah dan berbicara dengan bahasa Inggris yang bagus—meski dia tetap minta maaf kalau-kalau ucapannya sulit kami mengerti.  Mr Hai namanya.

Bis berkelok-kelok melewati jalan-jalan kecil HCMC, menuju ke luar kota.  Saya perhatikan, warung-warung tepi jalan jarang ada yang menyediakan bangku atau kursi.  Sebagai gantinya, mereka menyediakan deretan tempat tidur gantung alias hammock.  Wah, rasanya santai sekali, tidur-tiduran di hammock sambil menyeruput es kopi susu.  Sayang kami tak punya kesempatan mencicipi cara bersantai tepi jalan ala Vietnam itu.

Mr Hai menjelaskan bahwa kami akan berhenti satu kali untuk melihat-lihat bengkel kerja tempat para korban perang membuat barang kerajinan, wujud kepedulian pemerintah.  ”Kualitasnya paling bagus,” Ia berpromosi.  Selain itu, bengkel itu menyediakan toilet terakhir yang mudah kami kunjungi dalam perjalanan ke kuil Cao Dai.

”Dulu saya pernah membawa turis perempuan yang tidak ke toilet waktu diberi kesempatan,” Mr Hai menjelaskan.  ”Ternyata sewaktu di jalan, tidak ada WC, dia kebelet.  Terpaksa kami berhenti di tepi jalan agar dia bisa pipis di belakang bis.  Eh, anak-anak setempat ngelihatin.  Sebenarnya sih tidak apa-apa, tapi turis itu malu sekali.   Akhirnya ia saya pinjami jas hujan saya, jadi dia pipis jongkok pakai jas hujan biar tidak kelihatan.”

Suvenir Vietnam

Salah satu suvenir ‘aspal’ Tintin yang bisa Anda peroleh di Vietnam

Kisahnya itu membuat kami tertawa, tapi diam-diam ngeri juga.  Kalau sampai pengalaman itu menimpa kami, bagaimana?  Jadi sewaktu tiba di bengkel kerja para korban perang, sekitar setengah jam jauhnya dari HCMC, kami langsung mengantri toilet.  Setelahnya, kami melihat-lihat sekeliling bengkel yang juga dilengkapi toko besar dan nyaman yang memajang karya mereka, yang umumnya terbuat dari kulit telur, kerang, kayu, dan keramik.  Barangnya memang bagus-bagus, namun harganya juga gila-gilaan, sebagai pemasukan bagi para korban perang.  Panel bergambar Tintin berukuran sebesar halaman komik dihargai 24 dollar Amerika.

Saya tidak tahu apa ada anggota rombongan yang membeli sesuatu, namun saya hanya cukup melihat-lihat.  Setelah rombongan lengkap, bis beranjak menuju kuil Cao Dai yang menjadi tujuan utama kami yang pertama.  Mr Hai menjelaskan bahwa di Vietnam terdapat berbagai macam agama.  Bagi kita orang Indonesia yang selalu mengidentikkan komunisme dengan ateisme, barangkali rasanya agak aneh bahwa di negara komunis ini, kebebasan beragama dijunjung penuh.  Mayoritas orang Vietnam beragama Buddha, sementara agama terbesar kedua dari segi jumlah penganut adalah Katolik.  Ada sejumlah agama minoritas, antara lain Islam, dan termasuk juga yang rada ’nyeleneh’, yang disebut Mr Hai ’agama kelapa’. Menurutnya, penganut ’coconut religion’ beribadah dengan memakan kelapa, menyanyi, menari, pijat… ”dan kadang-kadang lebih,” ujarnya kalem.

Sementara Cao Dai (dibaca kao dai) bisa dibilang agama asli Vietnam, meskipun sebenarnya penggabungan dari 7 agama.  Para penganut Cao Dai terbatas di Vietnam Selatan, dan bangunan kuil mereka memiliki gaya yang khas. Tidak mirip kelenteng, malah mungkin dengan bentuk yang kotak memanjang dan dua menara, bentuk kuil Cao Dai lebih mirip gereja.  Meskipun demikian, arsitektur kuil Cao Dai yang umumnya berwarna salem atau merah muda tetap dihiasi atap bersusun dan berbagai ornamen Asia Timur.  Kuil Cao Dai terbesar yang hendak kami datangi terletak di dekat perbatasan dengan Kamboja, dan di kiri-kanan jalan menuju ke sana, kami bisa melihat sejumlah kuil yang lebih kecil.

Bagian luar Kuil Cao Dai dan turis

Bagian luar kuil Cao Dai, turis, dan salah seorang penganut agama yang datang hendak bersembahyang. Dapatkah Anda menemukan anggota Tim Lompat-lompat di foto ini?

Keunikan lain agama Cao Dai adalah setiap pukul 12 siang, para penganut bergegas menuju kuil untuk bersembahyang, mengenakan pakaian putih-putih.  Jadi teringat sholat Zuhur, ya?  Sewaktu kami tiba di kuil Cao Dai, terlihat mereka berbondong-bondong datang, melintasi halaman parkir dan pekarangan kuil yang luas sekali.  Sebagian di antara mereka mengenakan jubah berwarna di atas pakaian putih mereka.  Mereka adalah penganut agama lain yang juga ambil bagian dalam waktu sembahyang Cao Dai.  Misalnya, yang berjubah kuning adalah penganut Buddha, yang berjubah biru adalah penganut Taoisme, sementara yang berjubah merah adalah penganut Protestan.  Buat mereka, perbedaan keyakinan tak perlu dijadikan sumber perselisihan.

Kami diperbolehkan masuk ke kuil setelah mencopot sepatu.  Di bagian kiri dan kanan kuil, terdapat selasar yang cukup luas, dengan jendela-jendela besar berhiaskan mata raksasa yang meloloskan udara ke dalam.  Aliran udara yang baik dan langit-langit kuil yang tinggi menjadikan bagian dalam kuil terasa sejuk.  Lantai berhiaskan pola rumit, sementara dinding yang berwarna salem tenang di sebelah luar, di sebelah dalam justru berwarna kuning mencolok.  Langit-langit dilukisi gambar langit sungguhan, berwarna biru, dengan awan dan bintang, disangga oleh tiang-tiang yang dililit naga.  Berhubung ini adalah gabungan dari 7 agama, maka jangan heran melihat patung Yesus bersanding dengan patung Buddha, Kong Fu Zi, Lao Tse, Guanyin, Taishang Laojun, Guangong, dan Wenchang Di.

Bagian depan kuil Cao Dai

Bagian depan kuil Cao Dai, menunjukkan arsitektur campuran

Mr Hai telah memperingatkan bahwa tidak semua bagian kuil boleh dijejak orang luar, dan memang ada sejumlah petugas yang dengan sopan mengarahkan pengunjung agar lekas bergerak menuju balkon-balkon atas.  Maklum, upacara siang mereka sudah mau dimulai, dan lantai bawah harus bersih seluruhnya dari orang yang bukan penganut.  Dari situ sebenarnya saya sudah merasa kurang enak.  Orang mau beribadah kok kita malah asyik melihat-lihat begini, ya.

Di balkon atas pun ternyata ada sejumlah penganut yang beribadah dengan duduk bersila, juga musisi dan pendendang lagu peribadahan mereka.  Nah lho, saya jadi merasa makin tidak enak, soalnya kami kan jadi mondar-mandir di depan mereka.  Kalau buat orang Jawa, rasanya tidak sopan sekali berlalu-lalang di hadapan orang yang duduk di lantai, apalagi yang sedang beribadah!  Saya sih membungkukkan badan sedikit, kebiasaan Jawa, namun para wisatawan dari negara lain yang tidak punya tradisi semacam itu petantang-petenteng saja, bahkan berkali-kali menabrak tubuh jemaah.  Sedih saya melihatnya.  Saya sih membayangkan saja, kalau saya lagi sholat lalu ditabrak-tabrak orang begitu, jangan-jangan jadi tidak khusyuk.

Ketika upacara dimulai, para turis telah memenuhi tempat di sepanjang dinding kanan dan kiri balkon atas, memanjang-manjangkan leher agar bisa melihat ritual yang sungguh terasa asing bagi kami itu.  Diiringi musik dan lantunan doa, para penganut mulai memasuki lantai bawah, secara berurutan sesuai status mereka—apakah pendeta atau bukan.  Mereka turut bersila di lantai seperti jemaah di balkon atas, lantas rangkaian ritual sesungguhnya pun dimulai, ditingkahi alunan doa yang terasa sungguh magis.  Dan para wisatawan tetap saja berlalu-lalang, sibuk memotret.  Berulang kali ada petugas yang terpaksa memperingatkan mereka.  Saat itu saya sudah muak dan memilih untuk cabut ke balkon sebelah luar yang sepi saja.

Bagian dalam Cao Dai 4

Penganut agama memasuki aula utama untuk beribadah, sementara turis memadati balkon atas

Memandang pekarangan yang luas dari balkon luar, saya jadi merenung.  Terus-terang hati kecil saya miris melihat pemandangan di kuil tersebut: komodifikasi agama sebagai objek wisata.  Saya tidak ragu bahwa kuil Cao Dai juga memperoleh keuntungan dari banyaknya turis yang datang, dan mereka juga cukup rapi mengorganisasi kunjungan turis sehingga gangguan terhadap ritual mereka bisa diminimalisasi.  Kalau kunjungan seperti itu tidak diperbolehkan, tak mungkin juga saya ada di sini, meresapi pengalaman yang cukup langka.  Namun tetap rasanya ada kekhidmatan yang tergerus di situ.  Entahlah.

Kami tidak tinggal menyaksikan upacara sampai selesai.  Kata Mr Hai, ”Dari awal sampai akhir pada dasarnya mirip, kok.”  Kami sudah harus berpindah tempat lagi, kali ini untuk makan siang di sebuah restoran tepi jalan, yang dijanjikan Mr Hai sebagai penyedia hidangan yang sedap.

Apes, bis kami dihentikan polisi lalu-lintas, gara-gara melaju terlalu kencang di jalan kota kecil.  Penyelesaiannya?  Ya, miriplah dengan di Indonesia.  ”Korupsi,”  Mr Hai menyeringai.  Supir terpaksa membayar 300.000 dong kepada si polisi sebelum kami diperbolehkan pergi.  Sewaktu menunggu supir menuntaskan urusan itu, seorang penjual lotere naik ke bis, mencoba menjajakan karcis undiannya.  Tidak ada yang membeli, namun senyum lebar tetap terpampang di wajahnya.

Stone Garden: oasis di Ho Chi Minh City

This post is about Vietnam

Cuaca di Ho Chi Minh City (Sai Gon), seperti di Vietnam Selatan pada umumnya,  seringkali terasa panas dan sumpek.  Namun kota ini menyimpan sebuah ‘oasis’ yang sungguh sangat nyaman – Stone Garden, sebuah restoran bertema taman, barangkali salah satu best-kept secret HCMC.  Letaknya memang agak jauh dari kawasan turis (Distrik 1) sehingga mungkin belum banyak yang mendengar tentang restoran ini.

Stone Garden, HCMC

Restoran ini terletak dalam kawasan Damsen Water Park, Distrik 11, HCMC, menempati areal yang cukup luas.  Sejumlah bangunan kayu berdiri dikelilingi pepohonan dan tanaman yang memberikan suasana rindang dan sejuk.

Dan sesuai namanya, Stone Garden, di restoran ini terdapat sejumlah batu berukuran besar, baik yang terbentuk secara alami maupun sudah diubah menjadi patung, juga berbagai struktur lain yang terbuat dari batu.  Ada kali-kali buatan, jembatan, air terjun, dan kolam.

Barangkali karena jarang dikunjungi turis asing, menu di restoran ini hanya tersedia dalam bahasa Vietnam.  Jadi, sediakanlah kamus ringkas bersama Anda bila pergi ke sini, apalagi kalau Anda ada pantangan makan (misalnya berpantang makan babi).  Meskipun tempatnya kelihatan mewah dan eksklusif, jangan khawatir!  Harganya sungguh murah!  Dengan 2.000 dong (1.000 rupiah), Anda bisa memperoleh es teh hijau yang tanpa henti dituangkan ke gelas Anda.

Poin lebih lain: kamar mandinya sangat bersih, dan tidak kering (alias ada jet spray).  Sungguh pantas untuk dicoba!