Benteng Heritage Museum, Tangerang

This post is about Indonesia

Di sisi Jakarta, ada tiga wilayah yang menyandang nama ‘Tangerang’.  Dua di antaranya kota: Tangerang dan Tangerang Selatan; sementara satu lagi berstatus kabupaten.  Kadang-kadang ini memang membingungkan.  Apabila saya secara singkat menyebutkan rumah saya ada di Tangerang (dan yang saya maksudkan adalah Tangerang Selatan), banyak yang mengira rumah saya ada di Kota Tangerang.  Namun kedua wilayah ini berbeda, dan jaraknya dari ujung ke ujung lumayan jauh pula.  Setidaknya, jarak dari rumah saya ke kawasan kota tua Tangerang, di mana Benteng Heritage Museum (BHM) terdapat.

Kawasan kota tua Tangerang dikenal juga sebagai kawasan ‘Benteng’, asal-muasal sebutan ‘ciben’ alias ‘Cina Benteng’ untuk orang-orang Tionghoa yang sejak lama bermukim di daerah tersebut.  Konon dahulu memang ada benteng yang berdiri di wilayah yang kini menjadi kota tua Tangerang.

Trotoar dan taman yang banyak ditemukan di Kota Tangerang.

Malangnya, di masa lalu, meskipun telah berabad-abad tinggal di  Tangerang sejak nenek moyang mereka pertama kali mendarat di Teluk Naga, para ‘ciben’ kerap mendapat diskriminasi dan pelecehan, dan beberapa kali pula terjadi tragedi berdarah.  Misalnya, pada 1942, di masa penjajahan Jepang, rumah-rumah warga Tionghoa Tangerang dijarah.  Berbagai benda berharga hilang, termasuk warisan keluarga seperti guci abu leluhur dan papan nama leluhur.  Tahun 1946, di masa awal republik ini, fitnah bahwa ada orang Tionghoa menurunkan bendera merah-putih di Tangerang berbuntut pembantaian besar-besaran terhadap ‘ciben’.  Diperkirakan ada 600 orang tewas.

Kaum peranakan ini pun dahulu dianggap lebih ‘rendah’ oleh orang-orang Tionghoa yang bermukim di Jakarta, karena kulit mereka yang lebih gelap dan dialek mereka yang dianggap ‘aneh’, hasil percampuran dengan suku-suku bangsa lainnya di sekitar Tangerang.  Sampai sekarang, bila Anda bertandang ke Kota Tangerang, Anda akan bertemu dengan orang-orang Tionghoa yang berbicara dengan logat Sunda, juga beberapa logat lain yang digunakan penduduk Banten.

Berbagai kisah masa lalu masyarakat Tionghoa Tangerang, juga contoh artefak dan produk budaya mereka hingga kini, bisa kita nikmati di museum yang baru resmi dibuka tahun 2011 lalu, yaitu Benteng Heritage Museum yang terletak di Pasar Lama Tangerang.  Awalnya, museum ini adalah dua rumah bersisian yang berhasil dibeli oleh Bapak Udaya Halim dan direstorasi besar-besaran oleh tim beliau.  Pak Udaya bertumbuh besar di Pasar Lama Tangerang, dan berniat menyelamatkan warisan budaya Tionghoa Tangerang termasuk bangunan-bangunannya.  Masih ada beberapa rumah lagi yang hendak beliau selamatkan, termasuk rumah ketiga yang sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian rumah yang dijadikan museum.

Sejumlah rumah lama yang masih bisa Anda lihat di kawasan Pasar Lama Tangerang – yang dulu juga disebut ‘Petak Sembilan’, seperti kawasan pecinan di Jakarta.

Dari Cikokol, saya naik angkot berwarna biru-kuning dan meminta supir angkot menurunkan saya di Pasar Lama.  Ia menurunkan saya di depan sebuah gang kecil.  “Betul di sini, Bang?”  tanya saya.

“Betul.  Lewat gang ini saja, nanti tembus di Pasar Lama.”

Pertama-tama saya agak ragu, namun sang supir angkot memang tidak berbohong.  Gang itu betul tembus ke Pasar Lama.  Namun meski saya sebut ‘gang’, jangan kira wujudnya adalah jalan kecil yang kotor dan becek.  Di Kota Tangerang, gang-gang sekalipun sebagian besar sudah berlapis conblock sehingga enak disusuri.  Dan berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kecil ini, sambil memperhatikan rumah-rumah tua dan kesibukan masyarakat Tangerang, terasa menyenangkan.

Di dekat tempat saya turun, ada sebuah gerbang merah yang digantungi lampion.  Di balik gerbang itu ada tangga yang menuju ke pelataran yang tidak seberapa luas, dengan sebuah altar kecil tempat orang-orang bisa bersembahyang.  Dulu di sini berdiri apa yang disebut Tangga Djamban, hasil sumbangan 81 orang warga Tionghoa Tangerang.  Pada tahun 2009, tangga tersebut telah hancur total, namun pada tahun 2010 didirikan lagi atas inisiatif masyarakat, dan toapekong kali pun diletakkan di situ.  Prasasti yang memuat nama ke-81 penyumbang Tangga Djamban diangkut ke Benteng Heritage Museum, dibersihkan dan kini dipajang di lantai dua bangunan tersebut.  Pengunjung yang datang seringkali antusias ketika melihat nama marganya juga tercantum di prasasti itu.

Tangga Djamban.

Toapekong kali.

Plakat peresmian toapekong kali tahun 2010.

Pemandangan Sungai Cisadane yang lebar dan relatif bersih meski airnya berwarna kecokelatan sungguh membuai mata.  Memang satu lagi kelebihan Kota Tangerang adalah kawasan bantaran sungainya yang cukup terawat, dilengkapi kawasan hijau dan trotoar.  Masih terlihat sampan-sampan dan para pemancing di sungai tersebut, juga orang-orang yang berjalan-jalan menikmati pemandangan sungai.  Bila sedang perayaan Peh Cun, di sungai ini diselenggarakan perlombaan perahu naga.

(Trotoar dan taman memang merupakan kelebihan lain Kota Tangerang.  Di sebagian ruas jalan, trotoar berdampingan dengan taman-taman yang dilengkapi bangku, tempat sampah, landasan bermain skateboard, lapangan basket, dan sarana  permainan gimnastik.)

Saya mengikuti gang yang ditunjukkan sang supir angkot menuju Pasar Lama.  Tidak jauh kok jalannya.  Pasar Lama sampai saat ini memang masih berfungsi sebagai pasar tradisional di pagi hari.  Mungkin karena itulah BHM juga buka siang hari, sejak pukul 1 di hari biasa dan pukul 11 di akhir minggu, namun tutup di hari Senin.  Ketika saya tiba, pasar tersebut sudah sepi.  Hanya tersisa beberapa pedagang yang sedang membereskan dagangan.

Tampak depan Benteng Heritage Museum.

Rumah di sebelah kiri belum berhasil dibeli oleh museum, namun direncanakan demikian, agar museum menjadi kesatuan utuh.

BHM mudah ditemukan karena tampak mencolok dengan cat dinding dan daun pintu serta kusen jendelanya yang masih terlihat mengilap.  Kita akan disambut oleh sepasang patung singa – jantan dan betina – yang berdiri mengapit pintu depan.  Gagang pintu tampak dihias diagram patkwa.

Salah satu patung singa penjaga pintu museum.

Gagang pintu depan.

Ruang depan merupakan tempat penyambutan tamu, di mana kita bisa membeli minum untuk melegakan haus, membeli karcis, dan memotret.  Ya, soalnya setelah melewati tempat penjualan karcis, kita tidak boleh mengambil foto.  Namun di ruang depan ini, juga ada sejumlah pajangan yang menunjukkan kehidupan Kota Tangerang di masa lalu, untuk semakin menggelitik rasa ingin tahu kita.

Lantai dasar berlapis ubin kuno berwarna merah pudar.  Ketika lantai dibongkar sewaktu restorasi, penggalian sedalam 20 meter ternyata menemukan sejumlah artefak yang menunjukkan bahwa lama sebelum rumah tersebut didirikan, daerah Pasar Lama telah digunakan sebagai pemukiman.  Artefak-artefak itu kini dipamerkan di lantai dua BHM.

Di lantai bawah ini, disimpan sejumlah perabotan dan peralatan hidup sehari-hari seperti penggiling beras dari batu.  Juga ada gerbang bulan yang indah, namun sebenarnya bukan merupakan bagian asli dari rumah, melainkan ditambahkan saat restorasi.

Lantai bawah saja sudah cukup membuat tercengang.  Namun lantai dua BHM sungguh luar biasa!  Untuk naik ke lantai berikutnya, kita terlebih dahulu harus mencopot sepatu, sebab penggunaan alas kaki dikhawatirkan menggores lantai atas yang terbuat dari kayu.  Setelah mendaki tangga kayu yang cukup curam, kita pun tiba di lantai yang menyimpan sedemikian banyak harta warisan budaya.

Ada begitu banyak benda yang bisa kita lihat di lantai dua:

Mulai dari dachin (timbangan) dari yang kecil sampai yang bergagang panjang, sebab bisa digunakan merangkap sebagai pikulan;

kumpulan mesin tik, sempoa, jam dinding tua (salah satu di antaranya masih setia berdetak);

koleksi kain dan pakaian tradisional yang dipengaruhi budaya Tionghoa, misalnya kebaya encim;

Prasasti Tangga Djamban;

artefak berupa pecahan porselin, uang kuno, paku, dan lain sebagainya yang ditemukan tertanam di bawah museum;

sepatu-sepatu khusus yang dahulu dipakai oleh perempuan-perempuan yang kakinya diikat agar berukuran kecil, terkadang hanya sepanjang 3 inci (‘lotus feet’);

berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk upacara-upacara tradisional;

arca dan ikon berbagai dewa dan sang Buddha;

perabotan dan peralatan hidup sehari-hari; serta banyak lagi.

Loket pembelian tiket.

Ada pula ruang tempat menyimpan koleksi kamera kuno, gramofon, dan piringan hitam milik Pak Udaya, namun ruang ini hanya bisa kita masuki bila sang pemilik sedang berada di BHM.

Akan tetapi, barangkali harta paling berharga rumah ini adalah relief potongan cerita Sam Kok yang menghiasi bagian pinggir penunjang atap di sekeliling void rumah.  Relief yang menunjukkan kehebatan kriya kayu dan tempel-keramik ini mungkin tidak akan kita sadari seandainya kita tidak mendongak.  Keberadaannya sepertinya merupakan bukti bahwa museum dahulu merupakan rumah kongsi, karena tidak sembarang rumah boleh dipasangi relief seperti itu.  Keindahannya seperti mencuri napas saya sejenak.

Ruang depan museum.

Hal seru lain yang bisa kita lakukan di museum ini adalah mencoba membuka papan gerendel pintu menuju balkon di lantai dua.  Meski kelihatannya sederhana dan hanya terbuat dari kayu, jangan salah!  Bila kita tidak tahu caranya, sampai bego juga kita tidak akan bisa menggeser kedua gerendel itu sampai terbuka.  Sungguh karya pertukangan yang brilian!  (Kalau kita menyerah, pemandu akan memberi tahu kita cara membuka pintu, kok.  Contekannya tidak saya beri, ya… hehehe. )  Dari balkon, kita bisa melihat-lihat ruas jalan Pasar Lama yang merupakan urat nadi perdagangan Tangerang masa lalu.

Setelah puas melihat-lihat lantai dua, kita akan dituntun menuruni tangga yang berbeda, menuju ruang di mana kita dapat membeli berbagai buku dan kecap tradisional buatan Tangerang.  Nantinya ruang suvenir ini diharapkan bisa menjual lebih banyak lagi ragam cenderamata.

Kelar mengunjungi museum yang menyimpan kekayaan budaya ini, kita bisa berjalan sedikit ke arah kanan saat keluar dari rumah dan menengok Vihara Padumuttara/Kelenteng Boen Tek Bio, tempat sebagian penduduk lokal beribadah.  Bau dupa yang meruap meninggalkan kesan kuat dalam ingatan akan Kota Tua Tangerang yang begitu kental dengan budaya peranakan.

Bila kita mendekati dari samping, bangunan ini adalah Vihara Padumuttara…

…dari depan, Kelenteng Boen Tek Bio.

Informasi penting mengenai Benteng Heritage Museum

Jl. Cilame No. 18/20, Pasar Lama

Tangerang 15111, Banten, Indonesia

Telepon: +62 21 445.445.29

e-mail: info@bentengheritage.com

www.bentengheritage.com

Tur di Museum Benteng Heritage adalah tur berpemandu, berlangsung selama 45 menit, dengan jumlah setiap rombongan dibatasi 20 peserta.

Harga tiket umum Rp 20.000; mahasiswa/pelajar (wajib menunjukkan kartu pelajar) Rp 10.000; tur berbahasa Inggris Rp 50.000.

Museum buka Selasa – Jumat 13.00 – 18.00, Sabtu – Minggu 11.00 – 19.00, Senin tutup

Heritage Waroeng Kopi 10.00 – 20.00, menyediakan berbagai makanan/minuman khas babah/peranakan Tangerang (halal)

Kirab Perdana Tjong Tek Bio

This post is about Indonesia

Pagi tadi, hujan – berkah dari langit – turun cukup deras semenjak pagi.  Hal itu tak menciutkan tekad saya menghadiri kirab perdana Tjong Tek Bio yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Cap Go Meh 2562 sekaligus hari ulang tahun ke-18 Kota Tangerang.  Dan memang, hujan tak menyurutkan persiapan kirab.

Kota Tangerang adalah salah satu kota satelit Jakarta, tempat Bandara Soekarno-Hatta terletak.  Kota kecil yang cukup nyaman, dengan trotoar rapi dan dinaungi pepohonan di sepanjang nyaris seluruh jalan utama.  Di beberapa tempat, kawasan pejalan kaki bahkan dilengkapi bangku-bangku yang masing-masing didampingi sebuah tempat sampah.  Sungai Cisadane yang lebar membelah kota ini, yang sepertinya sadar betul betapa pentingnya Cisadane bagi mereka.  Bila ingin berjalan santai menyusuri Cisadane, tersedia jalan setapak yang dinaungi pepohonan.

Namun Kelenteng Hok Tek Tjeng Sin/Wihara Mahabodhi tempat kirab dipusatkan, tidak terletak di jalan utama.  Malah, saya nyaris melewatkan mulut jalan kecil yang mengarah ke kelenteng tersebut, dan supir angkot harus buru-buru merem kendaraannya sewaktu ia ingat saya tadi diminta diturunkan di Wihara Mahabodhi.  Jalan kecil itu dilapisi conblock, seperti juga jalan-jalan kecil lain di Kota Tangerang.  Pelapisan jalan dengan conblock ini memang salah satu program pemda setempat.

Saya tiba terlalu pagi, disambut senyum dan tawa.  Penjaga dari pihak panitia mempersilakan saya menuju ke lapangan belakang, tempat tandu-tandu toapekong ditempatkan, dan para peserta bersiap-siap.  Di lapangan yang sedang becek itu juga berdiri tenda-tenda penjual makanan dan minuman, termasuk makanan khas Betawi seperti kerak telor.

Bila menutup mata dan mengabaikan suara musik yang bertalu-talu, mungkin takkan terasa saya sedang berada di tengah persiapan perayaan tradisi Cina.  Yang terdengar adalah orang-orang yang bercakap-cakap dengan salah satu logat Betawi: inilah cara orang-orang Cina Benteng berbicara.  Mereka bukan sekadar ‘bagian’ dari masyarakat Tangerang.  Bisa dibilang merekalah penduduk asli daerah ini.  Bolehlah dikata nenek-moyang mereka tiba di negeri ini lebih lambat daripada nenek-moyang banyak suku bangsa lain.  Namun mereka berakulturasi dengan baik – dan alamiah – tanpa melupakan tradisi yang dibawa dari tanah leluhur.  Mereka bukan ‘orang asing’.  Mereka orang Indonesia.

Sewaktu melihat-lihat, lagi-lagi saya disapa ramah.  “Dari wihara mana?”  Saya berusaha menjelaskan, saya hanya datang untuk menonton, bukan perwakilan wihara.  Senyum pria itu tak menghilang.  Ia malah menyuruh saya makan dulu di belakang kelenteng.  Rupa-rupanya memang disediakan makanan untuk peserta kirab.  Saya hanya tersenyum dan berterima kasih.  Tak enak rasanya mengambil jatah orang.

Setiap kali ada barongsai atau liong datang, mereka terlebih dahulu menghatur sembah di kelenteng.  Mereka selalu disambut oleh dua barongsai milik kelenteng setempat.  Kadang sampai empat barongsai beramah-ramah di depan kelenteng.  Seru dan lucu!  Akan tetapi ada pula barongsai yang terlihat gahar.  Barongsai yang paling berbeda ini dibawa sebuah kelompok dari Sukabumi.  Bukan hanya bentuknya yang berbeda, melainkan juga cara geraknya.  Beringas!

Para naga atau liong juga mengundang decak kagum.  Warna dan corak naga milik masing-masing kelompok berbeda-beda.  Salah satu naga dibuat dari motif bercorak seragam belang TNI.  Oalah, pantas saja, rupanya milik klub barongsai/liong polisi militer.  Memang anggota kelompok-kelompok barongsai kini bukan hanya orang Tionghoa, melainkan juga dari berbagai latar-belakang.  Seorang wanita berjilbab terlihat sebagai bagian dari salah satu kelompok barongsai.

Beberapa lama sebelum pembukaan kirab, dewa-dewi masing-masing kelenteng/wihara yang tadinya diletakkan di dalam Hok Tek Tjeng Sin dibawa dengan penuh hormat menuju tandu masing-masing.  Yang masih ingin menghaturkan sembah, berdoa, ataupun menerima kertas jimat boleh langsung mendatangi tandu-tandu tersebut di lapangan belakang.  Musik terus menggelegar.  Ada yang menari-nari, tertawa-tawa – mengasyikkan sekali melihat semua itu.

Kirab dibuka oleh sambutan ketua panitia dan walikota Tangerang, yang disambut riuh oleh hadirin.  Tadinya panitia agak sulit menenangkan suasana agar pidato-pidato itu bisa terdengar.  Maklum, para peserta bersemangat sekali memainkan musik.  Namun, akhirnya, perhatian para peserta dan hadirin pun tercurah ke panggung.  Walikota, yang memberikan sambutan singkat tanpa teks, menekankan bahwa kita semua bersaudara, sekaligus mengajak warga terus membangun Kota Tangerang.

Diiringi tepuk tangan ramai, kirab pun dimulai, dengan barisan ibu-ibu marawis berjalan paling depan.  Kemudian iring-iringan toapekong Hok Tek Tjeng Sin lewat.  Luar biasa keras tandu-tandu itu digoyang, sampai saya bertanya-tanya apa para pengusungnya tidak keberatan.  Apalagi jarak yang akan mereka tempuh agak jauh, sampai ke Pintu Air dan Mapolres sebelum berputar kembali ke kelenteng.

Setelahnya, satu demi satu barongsai, liong, dan tandu pun lewat, meliuk-liuk, diiringi tambur bertalu-talu. Mengagumkan.  Saya berdiri di tengah begitu banyak orang yang rata-rata berpakaian merah.  Agak sulit mengambil gambar, karena saya juga tidak enak bila harus menerobos kawanan orang yang ingin beribadah.

Namun tahukah Anda, bagi saya, hal terindah yang saya foto hari itu adalah tawa dan senyum orang-orang.  Di hati saya pun kembali terbit rasa bangga melihat bendera merah putih berkibar-kibar diusung para peserta kirab.  Semoga acara kirab ini bisa menjadi bagian dari agenda rutin tahunan Kota Tangerang, dan semoga kerukunan di Tangerang (dan juga Indonesia) bisa terus terjaga.

Tanah Tingal: Setitik Kesegaran di Ciputat

This post is about Indonesia

Dipikir-pikir, lucu memang.  Saat langkah kaki (dan kereta api, dan kapal, dan pesawat terbang) telah jauh membawa saya ke berbagai tempat, ternyata saya belum pernah mengunjungi Tanah Tingal, yang dengan berjalan kaki saja tercapai dari rumah saya.  Kalau teringat ini, saya sering malu.  Maka itu, suatu hari Minggu belum lama ini, dengan niat berolahraga pagi, saya dan seorang teman pun menyambangi tempat tersebut.

Sayangnya, berhubung niat saya pagi itu adalah berolahraga, saya tidak membawa kamera.  Oleh karena itu, hanya beberapa foto yang bisa saya berikan di sini, yang saya ambil dengan telepon genggam saya.

Tanah Tingal adalah tanah pribadi yang dibuka untuk umum (dengan biaya masuk 15 ribu rupiah) sebagai tempat outbond, dilengkapi pula dengan arena futsal, kolam renang, dan danau kecil di mana pengunjung bisa berdayung perahu.  Untuk melakukan sejumlah aktivitas, Anda perlu membayar lagi.  Selain berolahraga pribadi, Tanah Tingal juga bisa disewa untuk kegiatan kelompok, termasuk perhelatan seperti pernikahan.  Untuk anak-anak sekolah, juga tersedia berbagai kegiatan khusus lengkap dengan instrukturnya, mulai dari membatik sampai membuat gula merah.

Keunikan lain dari Tanah Tingal adalah keberadaan sekolah alam di dalamnya.  Saat ini, ada taman kanak-kanak dan sekolah dasar, yang baru mencapai kelas 5.  Bangunan-bangunan sekolah sungguh unik, karena kelas-kelas terbuka ke udara bebas dan segar, tidak berdinding; penutup yang tersedia bila diperlukan sewaktu-waktu paling-paling kerai yang bisa digulung ke atas.  Bahan bangunan yang mendominasi adalah kayu dan gedek.

Di depan setiap kelas, ada rak sepatu dengan bot-bot berjejer, yang tentunya digunakan anak-anak ketika bermain di halaman atau berkebun.  Ya, ada petak-petak kebun yang ditandai dengan papan yang menunjukkan kelas yang bertanggung jawab atas masing-masing petak.  Saya asyik sendiri membayangkan seperti apa bersekolah di sini.

Pagi itu, kami cukup puas berjalan-jalan sejenak di Tanah Tingal.  Tempatnya memang tidak terlalu luas, namun saat berada di dalamnya, dikelilingi pepohonan tinggi, rerumputan menghijau, dan berbagai tumbuhan lain, sejenak saya lupa saya berada di Ciputat, kawasan padat penduduk dan sesak perumahan – yang terus mengalami degradasi lingkungan, dengan diubahnya lahan-lahan basah menjadi perumahan gugus.

Mencari Blue Fish

This post is about Indonesia

Selamat tahun baru!  Bagaimana perayaan tahun baru Anda?  Dua anggota Tim Lompat-lompat menghabiskan malam tahun baru di rumah saja, sementara satu lagi berada di Manila.

Namun beberapa hari sebelum Natal, saya sempat berkunjung ke Tanjung Lesung (lagi).  Kali ini saya bertekad: niat saya menemukan Blue Fish harus kesampaian!  Blue Fish yang ini bukan ikan, melainkan salah satu hotel dalam kawasan wisata Tanjung Lesung (yang luas sekali) yang konon disukai para ekspat.  Dulu saya pernah mencoba bersepeda lewat pantai untuk mendatangi Blue Fish dari Kalicaa, namun gagal.  Medan berat, sementara rupa-rupanya jarak ke Blue Fish terhitung jauh.

Sewaktu meminjam sepeda dari Kalicaa, saya pun mencoba memperoleh jawaban meyakinkan dari sang penjaga penyewaan sepeda.

“Blue Fish itu jauh nggak Mas?”

“Wo, jauh!” jawabnya langsung.

“Tapi bisa naik sepeda ke sana?”

“Bisa.”

Hmmm… okelah!  Saya berangkat saja kalau begitu, mumpung masih pagi.  Saya kembali ke vila untuk mengambil botol minum, namun ternyata yang membawa kunci kamar sedang keluar.  Ya sudahlah, pikir saya.  Sejauh apa sih Blue Fish?  Barangkali sebelum haus lagi saya sudah tiba di sana.

Belajar dari pengalaman lalu, sekarang saya mengambil jalan aspal yang menghubungkan Kalicaa dengan bagian-bagian lain Tanjung Lesung dan juga dengan dunia luar.  Udara hangat dan langit cerah—kebahagiaan tersendiri karena hari sebelumnya hujan terus turun 12 jam tanpa henti, membuat kami lebih memilih main-main di kolam renang vila saja dan meringkuk sambil mengobrol setelahnya.

Benar-benar enak rasanya bersepeda di bawah naungan pepohonan yang besar dan teduh.  Di balik deretan pepohonan, bisa terlihat tambak, hutan bakau, ataupun sawah.  Oleh karena berjarak hanya beberapa ratus meter dari pantai, tumbuh-tumbuhan yang menghiasi persawahan—selain padi tentunya—juga berciri khas daerah pantai.  Di kejauhan terlihat sejumlah gunung.  Langit terasa sedemikian luas.

Papan penunjuk jalan membimbing saya untuk membelok ke kiri.  Saya pun meninggalkan jalanan aspal, dan kini harus memeras tenaga lebih banyak untuk membuat ban-ban sepeda saya berputar di jalan tanah yang berpasir.  Yang lebih parah, jalan itu berhias kubangan di sana-sini.  Terkadang kubangan menutup seluruh lebar jalanan di depan saya, dan tak ada jalan lain selain menerabas air yang entah berapa dalamnya itu.  Ngeri juga saya kalau sampai tersangkut di lumpur.  Untunglah segala susah-payah itu terbayar oleh udara yang segar, pemandangan sawah yang permai beserta para petani yang sedang giat bekerja.

Menit demi menit berlalu, tak kunjung juga saya jumpai si Blue Fish.  Sempat terbersit niat untuk balik badan dan pulang saja.  Namun akhirnya saya kembali bertemu persimpangan jalan: cabang jalan yang satu menuju ‘Dadap Village’ sementara yang satu lagi menuju Blue Fish.  Hmmm… perasaan ingin tahu saya tergelitik untuk menengok Desa Dadap, yang mungkin merupakan tempat tinggal para petani penggarap sawah ini.  Namun saya membulatkan hati: niat saya kan melihat Blue Fish!  Saya pun mengambil cabang ke kanan.

Jalanan tidak lagi berlapis pasir putih, melainkan bebatuan kecil berwarna kelabu.  Sama saja merepotkannya.  Saya bertanya-tanya, apakah jalanan ini memang dibiarkan seperti ini, ya?  Biar terasa lebih alami atau bernuansa pedesaan.  Saya pun membayangkan: kalau saya seorang ekspat dari Eropa atau Amerika, mungkin rasanya unik sekali, berkendara di atas jalanan yang bopeng-bopeng, diapit persawahan yang tak pernah saya lihat di negeri saya.  Apalagi kalau padi sedang merunduk keemasan, pasti indah sekali!

Ketika akhirnya tiba di Blue Fish, wuiiiihhh!  Lega sekali!  Saya disambut pegawai hotel yang dengan berbaik hati mengajak saya melihat-lihat kamar hotel yang sedang dibersihkan.  Dibandingkan vila di Kalicaa, hotel Blue Fish memang amat sederhana, namun apik dan bersih.  Saat ini total hanya bisa menampung 48 orang secara bersamaan, rata-rata adalah ekspat atau tamu yang berniat memancing.  Tarif hotel per malam sudah termasuk voucher untuk berkegiatan di pantai-pantai Tanjung Lesung.  Selain itu, kini sedang ada penambahan fasilitas berupa kolam renang, agar tamu tak perlu melulu jauh-jauh ke Beach Club atau resor untuk bermain air.  Tepi laut di depan Blue Fish sendiri cenderung tenang, namun kurang ideal untuk berenang.

Puas melihat-lihat, saya pun berpamitan.  Belum lagi separuh perjalanan, mendadak saja langit menggelap.  Waduh!  Awan yang tadinya putih beriringan, kini kelabu mengancam.  Saya berusaha mempercepat kayuhan sepeda.  Para petani dan orang-orang yang berseliweran dengan sepeda motor pun tampak bergegas-gegas.  Namun awan hujan lebih cepat dari kami semua.  Saya pun harus pasrah basah-kuyup ditimpa badai yang tidak setengah-setengah.  Pepohonan yang rimbun pun tak kuasa menahan hantaman air hujan ke badan saya.

Ada-ada saja memang pengalaman saya bersepeda di Tanjung Lesung.  Tapi semuanya seru!  Setelah mengembalikan sepeda, saya meminum teh hangat sisa sarapan yang masih terhidang di restoran untuk menghalau dingin.  Kadung basah, saya pun menuju Beach Club untuk bermain pasir dan air.

Itulah perjalanan terakhir saya di tahun 2010.  Semoga tahun 2011 ini  semakin banyak perjalanan dan pengalaman seru yang kami dan Anda alami yang bisa kita bagi bersama.  Sekali lagi, Selamat Tahun Baru!

Tanjung Lesung: Tempat Sejenak Rehat Melepas Penat

This post is about Indonesia

Di dunia modern sekarang ini, jarak memang menjadi relatif. Singapura, salah satu tempat tujuan wisata favorit penduduk Jakarta, sebenarnya terletak beribu-ribu kilometer jauhnya – namun bisa dicapai hanya dalam satu-dua jam dengan pesawat terbang. Sementara sejumlah tempat tujuan wisata yang di atas peta terletak lebih dekat dari Jakarta tercapai dalam waktu berjam-jam menggunakan mobil. Salah satunya adalah Tanjung Lesung yang terletak di provinsi Banten.  Gambar kode negara untuk Indonesia yang kami gunakan (seperti di atas) saya ambil di kawasan wisata ini.

Dalam brosur-brosur kawasan yang sengaja dikembangkan secara terkoordinasi sebagai tempat tujuan wisata ini, disebutkan butuh waktu 3,5 jam untuk mencapai Tanjung Lesung dari Jakarta. Dari pengalaman saya beberapa kali, waktu yang dibutuhkan bervariasi, biasanya lebih lama, tergantung pada beberapa hal. Pertama, Anda bisa memilih lewat Cilegon-Anyer ataupun lewat jalan raya Serang-Pandeglang. Kedua, Anda mungkin merasa harus mampir beberapa kali, entah itu untuk mengisi bensin, membuang hajat, atau mampir membeli sesuatu (misalnya Durian Jatuhan Haji Arief).

Dekat Beach Club, Tanjung Lesung

Biru dan putih menghiasi Tanjung Lesung

Saya sarankan Anda pastikan bahwa semua yang Anda butuhkan untuk berlibur di Tanjung Lesung sudah dibawa semua, sebab di kawasan itu sulit memperoleh macam-macam benda, karena yang ada paling-paling warung kecil, itu pun cukup jauh dari hotel atau resor. Oleh karena itu mungkin inilah alasan Anda untuk mampir dalam perjalanan – dan percayalah, Anda tak akan kekurangan toko waralaba kecil yang ada di mana-mana sepanjang perjalanan menuju Tanjung Lesung. Saya sendiri menikmati perjalanan melintasi kota-kota kecil Banten, mengamati kegiatan penduduk dan juga iklan berbagai macam rokok lokal yang terkadang mengundang senyum.

Kawasan Tanjung Lesung luas sekali, dan saat ini masih banyak yang dibiarkan liar, belum tergarap, atau entahlah, mungkin sengaja dibiarkan begitu. Ada beberapa macam akomodasi di kawasan tersebut, mulai dari penginapan yang relatif murah di Sailing Club, maupun hotel Bay Villas dan resor Kalicaa yang lebih mahal. Ukuran vila-vila di Kalicaa lebih besar, dengan halaman lebih luas, dan sebagian memiliki kolam pribadi yang sangat nyaman, sementara kamar-kamar Bay Villas – yang juga berbentuk rumah-rumah kecil – terletak lebih berdempetan, dan hanya ada satu kolam renang bersama (yang amat indah dan menghadap pantai).

Kalicaa sangat cocok bila Anda pergi bersama keluarga atau teman-teman, karena Anda bisa menyewa satu vila untuk rombongan Anda saja.  Anda pun dapat bersenang-senang, berpesta barbekyu, ataupun berenang sampai larut malam, bahkan kalau perlu dini hari.  Di setiap vila terdapat dapur, bale bengong, dan ruang duduk bersama.  Bila tidak ingin memasak sendiri di vila, tersedia Restoran Bale-bale di kawasan Kalicaa dan juga restoran di Bay Villas—bila menyewa vila, Anda bisa sekaligus memesan sepaket dengan sarapan/makan siang/makan malam.

Anda bisa memilih dari beberapa macam vila, antara lain yang fotonya ditampilkan di bawah ini:

Bay Villas

Dua dari sejumlah kamar/vila yang bisa Anda sewa di Bay Villas.

Vila Bora-bora

Salah satu vila tipe Bora-bora, dengan kolam renang dan tiga kamar tidur + tiga kamar mandi

Vila Fiji

Salah satu vila tipe Fiji, dengan dua kamar tidur + satu kamar mandi, dan kolam renang

Kamar Kalicaa

Kamar tidur di salah satu vila Kalicaa

Bak mandi Kalicaa

Rasakan sensasi mandi beratapkan langit dan bintang di Kalicaa!

Anda juga bisa membeli lahan dan membangun vila sendiri di Kalicaa. Vila itu nantinya bisa Anda sewakan sewaktu sedang tidak Anda gunakan dengan sistem bagi hasil dengan pengelola kawasan. Menurut pengamatan saya, setiap kali kembali ke Tanjung Lesung, ada saja vila pribadi atau milik perusahaan yang baru berdiri. Rupanya minat terhadap kawasan ini semakin besar.

Ada beberapa macam kegiatan luar ruang yang bisa dilakukan di kawasan Tanjung Lesung, mulai dari yang santai seperti sekadar bengong mengamati ombak atau berjalan-jalan menyusuri pantai, sampai olahraga aktif yang memeras keringat. Tersedia rumah pohon, flying fox, arena permainan anak yang cukup luas, dan lapangan untuk bermain sepak bola, voli, atau kegiatan kelompok.

Restoran Bale-bale

Pemandangan laut dari Restoran Bale-bale.

Tapi Anda datang ke pantai untuk bermain pasir dan air, bukan? Pantai di depan Restoran Bale-bale menarik untuk dijelajahi saat air sedang surut. Cobalah mencari berbagai hidupan liar yang hidup di daerah antarpasang, yang mungkin bersembunyi saat air menjauh dari daratan. Sebuah pantai lagi di Kalicaa berpasir putih cukup halus dengan ombak yang tidak terlalu besar, enak untuk mencari cangkang hewan laut atau sekadar bermain air sedikit. Ombak di depan Bay Villas terlalu besar dan berbahaya untuk direnangi, namun menelusuri jalan setapak melewati Bay Villas akan membawa Anda ke Beach Club.

Beach Club

Beach Club dilihat dari kejauhan, dari atas jembatan kayu.

Di Beach Club, Anda bisa berenang, bermain banana boat, berolahraga pantai, atau menyelam mengamati ikan-ikan yang berseliweran semarak di bawah jembatan kayu. Anda juga bisa mengamati ikan-ikan itu dari atas jembatan, saking jernihnya air laut di sekitar Tanjung Lesung.  Bila gemar memancing, bisa juga Anda mencoba peruntungan di jembatan tersebut.

Air jernih Tanjung Lesung

Air yang luar biasa jernih di dekat Beach Club.

Bila Anda senang menyelam, Anda bisa menuju tempat yang lebih dalam, atau ke Pulau Liwungan, sebuah pulau kecil dekat pantai Tanjung Lesung, menggunakan kapal kecil. Pantai pulau yang hanya dihuni satu keluarga penjaga ini memiliki pasir yang putih, dan menjanjikan pengalaman berenang yang mengasyikkan di sisi pulau yang terlindung dari arus laut lepas. Ngomong-ngomong, pulau yang juga berhutan ini sempat menjadi tempat syuting sebuah film horor lho… Tapi jangan biarkan film itu membuat Anda berpikir Tanjung Lesung adalah tempat menyeramkan!

Pulau Liwungan

Kapal-kapal nelayan yang membawa kami membuang sauh di Pulau Liwungan.

Pasir putih Pulau Liwungan

Pasir putih di Pulau Liwungan.

Dari Tanjung Lesung, Anda juga bisa mengikuti wisata ke Krakatau atau Pulau Peucang. Harga yang disediakan biasanya adalah untuk rombongan. Anda juga bisa mendatangi pasar-pasar di sekitar kawasan untuk berbelanja kerajinan atau makanan khas setempat.

Salah satu kegiatan favorit saya di Tanjung Lesung adalah bersepeda. Segar sekali rasanya mengayuh sepeda menyusuri pantai, memenuhi paru-paru dengan udara bersih, suatu hal yang langka di Jakarta. Anda bisa membawa sepeda sendiri ataupun menyewa sepeda tunggal/tandem dari tempat penyewaan di depan restoran. Saya pernah nekad mencoba bersepeda lebih jauh dari Beach Club. Niatnya sih, menemukan Sailing Club dan mercusuar. Walaaah, ternyata selepas Beach Club, lingkungannya masih amat liar! Susah payah saya mengayuh, sampai turun-naik untuk menuntun sepeda, melintasi daerah yang hanya dibelah jalan tanah yang sering kali becek dan berlumpur. Suasana sepi, ilalang tinggi sekali, tetumbuhan yang tak saya kenal, langit biru, dan matahari terik menyengat—melelahkan, tapi sangat mengasyikkan! Sayang, saya gagal mencapai tempat tujuan. Saya hanya mencapai sebuah pelabuhan tradisional di mana beberapa kapal kayu berlabuh. Astaga, rupanya kawasan pariwisata ini benar-benar luas! Akhirnya saya memutuskan kembali saja.

Pantai putih Tanjung Lesung

Bayangkan, bersepeda sedekat ini dengan laut dan pantai berpasir putih!

Terutama untuk yang membawa rombongan anak sekolah atau keperluan MICE, tersedia pula jasa instruktur team building dan kegiatan penanaman terumbu karang disertai pelajaran ekologi dan lingkungan yang tentunya lebih menarik karena dilakukan di alam bebas. Bila cuaca memungkinkan, murid-murid juga bisa dibawa mengamati cara para nelayan menjaring ikan. Murid-murid bisa diajak mengenali hewan-hewan yang terjaring, dan bahkan boleh mencicipi sebagian di antaranya mentah-mentah. Ini bisa jadi pengalaman seru tak terlupakan!

Sayang, saya mencatat beberapa hal yang agak mengganjal. Pertama, setiap kali ke Tanjung Lesung, kok rasanya jalan ke dalam kawasan semakin buruk saja. Lubangnya semakin besar dan membahayakan untuk kendaraan. Kedua, di Kalicaa tidak tersedia sambungan telepon ke resepsionis. Sehingga Anda harus menelepon menggunakan telepon pribadi atau mendatangi resepsionis langsung untuk memperoleh layanan. Ketiga, tentunya adalah jauhnya jarak tempat perbelanjaan dan layanan kesehatan terdekat. Pastikan kendaraan Anda selalu prima dan berbahan bakar cukup sewaktu-waktu diperlukan.

Kolam renang Bay Villas

Ombak di pantai Bay Villas terlalu kuat – bukan alasan untuk tidak berenang dengan pemandangan laut.

Bila Anda perlu rehat sejenak dari Jakarta yang melelahkan, atau memang sedang ingin menyepi, mungkin Tanjung Lesung bisa jadi pilihan lompatan menyegarkan untuk Anda.

Durian Jatuhan Haji Arief

This post is about Indonesia

Apabila berkesempatan ke atau kebetulan melewati Baros dalam perjalanan menuju tempat lain, cobalah sempatkan mampir di Durian Jatuhan Haji Arief, KM 14 Jalan Raya Pandeglang, Baros, Serang.  Di sinilah Anda bisa menikmati durian asli Indonesia yang nikmat sekali!

Duren Jatuhan Haji Arief

Bangunan utama terbuat dari kayu dan bambu yang terbuka hingga angin sepoi-sepoi bisa masuk, dan di dalamnya diletakkan sejumlah bale-bale tempat bersantai sambil menyantap durian.  Tempat-tempat sampah berukuran besar dengan cap Pemda Banten menandakan dukungan pemerintah bagi tempat ini sebagai salah satu tujuan pariwisata (makan-makan?).

Durian bisa dipilih berdasarkan ukuran dan kualitas, yang juga tentunya berpengaruh pada harganya.  Ada yang semurah 30 ribu per buah, ada juga yang sampai 150 ribu per buah.

Dengan tempat parkir yang cukup luas, serta ditunjang musholla dan toilet yang bersih (baru pertama kali saya lihat toilet umum dengan bak mandi sebesar di sana!), DJHA bisa menjadi tempat beristirahat yang menyenangkan, apalagi bila Anda harus berkendara cukup jauh.