Art and Science Museum, Gardens by the Bay, Asian Civilizations Museum Singapura, September 2013

This post is about Singapore

Seperti yang telah saya beritahukan di post saya sebelum ini, kini saya tinggal di Jepang, setidaknya untuk satu setengah tahun.  Namun sebelum berangkat ke Jepang, saya menyempatkan diri untuk bepergian ke Singapura ,bertemu sejumlah teman dan terutama mengunjungi Asian Civilizations Museum yang sedari lama saya ingin kunjungi tapi belum sempat-sempat juga.

Agar lebih murah dan lebih banyak waktu santai bagi saya untuk berjalan-jalan di Singapura, saya memilih penerbangan yang tiba paling malam di Changi.  Setelahnya, saya tidak keluar dari bandara, namun tidak juga memilih untuk menginap di hotel bandara.  Soalnya, hotel bandara lumayan mahal!  Saya lebih memilih mencari sudut untuk tidur di Terminal 2 yang memang disiapkan di bandara Changi.  Penerangan di sudut tersebut dibiarkan temaram, dan ada sejumlah kursi panjang yang disiapkan untuk yang ingin tidur-tiduran atau bahkan tidur betulan.  Buat saya sih sebenarnya kursinya tidak terlalu nyaman untuk tidur.  Bila mau, tidur saja di lantai yang berkarpet empuk.  Tidak akan dimarahi, kok, karena memang sudut itu disediakan untuk kita-kita yang rela tidur seadanya.  Akan jadi pengalaman luar biasa, kok, tidur berhadapan dengan dinding kaca yang menghadirkan pemandangan landasan bandara.  Ditambah lagi waktu itu hujan deras sedang turun, dan ada beberapa pesawat baik yang sudah terparkir maupun baru mendarat atau hendak bertolak.  ‘Kamar tidur’ yang dramatis, hehe.

Paginya, saya mengarah ke kota, namun tidak dalam keadaan kucel dong.  Saya menuju Rainforest Lounge di Changi untuk menumpang mandi dengan membayar harga yang cukup murah dan memperoleh segala perlengkapan seperti handuk, sampo, sabun, sikat gigi, dan odol.  Segar lagi, deh, setelah semalam hanya sempat tidur beberapa jam.

DSC09555

Saya mendatangi Art and Science Museum di Marina Bay Sands terlebih dahulu, karena berdasarkan info dari teman, sedang berlangsung pameran mumi dan foto-foto National Geographic.  Ternyata ada satu lagi pameran yang sedang digelar, yaitu pameran karya-karya suami-istri Eames.  Ya sudah, sekalian saja saya beli tiket terusan untuk ketiganya.

DSC09559

DSC09616

Pameran pertama yang saya masuki adalah pameran mumi (betulan!) yang dibawa beserta berbagai artifak Mesir Kuno lainnya dari British Museum.  Sayangnya, di dalam pameran kami tidak boleh memotret, jadi saya hanya bisa cerita, ya.  Sewaktu masuk, kami diberi kacamata 3D, karena untuk setiap rombongan turis yang masuk diputarkan terlebih dahulu sebuah dokumenter 3D yang dinarasikan Patrick Stewart mengenai mumi.  Banyak hal menarik yang dipelajari dari film tersebut, misalnya bagaimana cara para pembalsem mumi mengeluarkan organ dalam mumi (prosedurnya memancing komentar ‘yiakkks’ dari sebagian hadirin), metode apa yang kini digunakan ilmuwan untuk mempelajari mumi tanpa membongkar perban atau bahkan petinya, bagaimana membaca hieroglif, dan lain-lain.  Kita pun diberi gambaran mengenai kehidupan sehari-hari pendeta di zaman Mesir Kuno.  Ada pula hal lucu yang menjelaskan mengapa ada sebuah objek aneh yang ditemukan di kepala salah satu mumi—yang tampaknya merupakan cetakan tanah liat yang tak sengaja ditinggalkan para pembalsem!

DSC09563

Sesudah film selesai, pintu menuju aula pameran terbuka, dan pengunjung pun dibebaskan mengeksplorasi  ruang-ruang tempat berbagai peninggalan Mesir Kuno ditata.  Untuk pertama kali dalam hidup saya, saya berada sedemikian dekat dengan mumi sungguhan, meski tentu tak bisa disentuh karena dibatasi peti kaca.  Banyak pula patung-patung dan objek-objek pembuatan mumi yang dipamerkan, misalnya guci-guci yang fungsinya menampung organ-organ dalam mumi sementara jenazah dipersiapkan.  Semuanya dilengkapi keterangan yang singkat dan padat.  Entah mengapa, yang paling membuat saya terkesima adalah sebuah patung Dewa Seth yang justru mungkin berukuran paling kecil di pameran tersebut.  Warnanya cokelat tua, dengan detail kecil yang terlihat tajam.  Aneh saja rasanya, dewa yang terkenal menyeramkan, ternyata patungnya kecil sekali, meskipun tetap menggetarkan.

DSC09565

Di pintu keluar, pengunjung disambut toko kecil yang menjual berbagai pernak-pernik pameran mumi, British Museum, dan National Geographic.  Saya harus kuat menahan diri agar kantong tidak jebol, karena kali ini saya tidak membawa terlalu banyak uang.  Toh saya tidak kuasa juga menolak godaan membeli sampul paspor hitam-putih bercorak batu Rosetta.  Habisnya, sudah sedari SD saya tergelitik oleh batu Rosetta yang telah membantu para ahli menguak masa lalu dengan membaca berbagai macam aksara berbeda yang tertera di batu itu.

Kelar dengan pameran mumi, saya menuju pameran foto-foto istimewa National Geographic.  Bukan hanya melihat sejumlah foto National Geographic yang sangat terkenal bahkan melegenda, kita juga diberi pelajaran-pelajaran singkat mengenai dasar-dasar fotografi (melalui pajangan-pajangan yang ada).   Foto-foto yang dipamerkan juga disertai kisah di balik pengambilannya, juga kutipan para fotografernya.

DSC09572

DSC09579

DSC09580

Pameran yang terakhir, Essential Eames, berfokus pada sepasang suami-istri yang, jujur saja, asing bagi saya.  Baru belakangan saya diberi tahu teman betapa terkenal dan berpengaruhnya mereka di bidang desain, terutama desain kursi.  Yah, saat berada dalam pameran, saya memang hanya bisa meraba-raba ketenaran mereka dari keterangan-keterangan yang tersedia (dan kenyataan bahwa mereka cukup penting sampai dibuat pameran seperti ini!), namun yang jelas karya-karya mereka yang dipamerkan memang membuat saya terkesima!

DSC09583

DSC09586

DSC09591

Mulai dari rancangan rumah, rancangan kursi, pajangan pameran yang ditata suami-istri tersebut, still photos, mainan, semuanya menarik.  Di ruangan tempat kursi-kursi dipamerkan, kita bahkan bisa mencoba mencicipi seperti apa rasanya duduk di bangku hasil desain suami-istri Eames.  Saya yang tadinya masih agak sangsi mengapa tampaknya kursi-kursi mereka sangat dipuji-puji, jadi terdiam ketika menyenderkan diri di salah satu kursi malas Eames.  Nyaman sekali!  Kalau begitu tidak heran lagi deh mengapa nama mereka sungguh mencorong.

DSC09596

DSC09599

DSC09606

Puas menjelajahi ketiga pameran di Art & Science Museum, saya menuju Gardens by the Bay yang bisa dicapai dengan berjalan kaki dari Marina Bay Sands.  Ini adalah salah satu atraksi terbaru di Singapura yang langsung melejit namanya karena menghadirkan bukan hanya suasana taman melainkan juga alam bebas di antara gedung-gedung tinggi dari beton dan baja.  Menara-menara yang dirancang menyerupai pohon dan menjulang di Gardens by the Bay entah mengapa menghadirkan suasana primitif.

DSC09625

Di beberapa sudut Gardens by the Bay, sungguh terasa suasana alam liar, tidak seperti di tengah-tengah kota besar.  Danau dan sungai yang mengaliri kebun raya ini juga dihuni oleh sejumlah spesies hewan air termasuk yang merupakan khas Singapura, seperti satu jenis terapin (semacam kura-kura).  Yang jelas, banyak capung—penanda keberadaan air bersih!  Sosok capung pun diabadikan dalam wujud beberapa patung berukuran besar di kebun raya tersebut.

DSC09650

Gardens by the Bay sungguh luas, sehingga saya tidak sempat mendatangi seluruh penjuru maupun atraksinya.  Apalagi saya sendirian, agak planga-plongo.  Lain kali kalau kembali ke sini, harus ada temannya, deh.  Namun yang sempat saya lihat dalam kunjungan solo itu juga sudah cukup membuat hati tentram, terutama ketika saya berjalan di jembatan papan terbuka (tanpa pagar di kiri-kanannya, jadi hati-hati ya!) di sepanjang tepi danau.

DSC09642

Satu lagi yang membuat saya ternganga adalah salah satu dari sekian banyak karya seni yang diletakkan di Gardens by the Bay, yaitu patung bayi raksasa putih berjudul Planet.  Desain patung ini hebat sekali, karena patung sebesar itu bisa dibuat tampak melayang di udara, hanya disangga oleh tangan kanan si bayi yang menempel ke tanah.

DSC09658

Keesokan harinya barulah saya berkunjung ke Asian Civilizations Museum yang terletak di tepian Sungai Singapura.  (Berjalan-jalan di tepi sungai ini juga enak sekali!)  Eh, ternyata sedang ada acara festival budaya Melayu, sehingga hari itu pengunjung dibebaskan dari biaya masuk museum.  Saya agak terheran-heran juga , karena sudah beberapa kali ke Singapura dan berkunjung ke museum, kok ya pas museumnya sedang gratis.  Lumayan banget, kan.

DSC09680

Sesuai namanya, museum ini menyimpan dan memamerkan berbagai artifak dan produk budaya dari berbagai peradaban di Asia, mulai dari Cina, India, Arab dan peradaban Islam, Asia Tenggara, dan lain-lain.  Hari itu, selain festival budaya Melayu dan pajangan yang biasa, juga ada pameran Lacquer Across Asia dan Desire and Devotion.  Sebetulnya rasanya perlu waktu setidaknya seharian untuk mengamati  lekat-lekat semua objek yang dipamerkan, belum lagi mengikuti aktivitas-aktivitas yang disediakan, namun tentu saja saya tidak punya waktu sebanyak itu.  Beberapa pajangan akhirnya hanya saya amati sebentar, dan lebih banyak waktu yang saya curahkan untuk benda-benda lain.

DSC09683

DSC09705

DSC09692

Saya terutama tertarik kepada artifak-artifak hasil persilangan budaya di Asia yang dipamerkan di bawah tajuk Desire and Devotion.  Ada patung malaikat Michael dari Filipina yang dibuat dengan gaya setempat, patung hasil perpaduan budaya India dan Hellenistik (Yunani), lukisan-lukisan penghias manuskrip-manuskrip Persia Kuno, dan lain-lain.  Yang membuat pameran semakin menyenangkan (dan memang seharusnya demikian!) adalah brosur berdesain menarik yang dilengkapi aktivitas bagi pengunjung.  Untuk Desire and Devotion disediakan tiga macam brosur lipat, yaitu yang bertemakan Power, Adventure, dan Love.  Ada bagian-bagian yang bisa dirobek dan ditulisi di brosur-brosur itu, untuk digantung di tempat yang sesuai di pintu keluar pameran.  Gantungan-gantungan tersebut menjadi tempat pengunjung bebas menuangkan imajinasi dalam menjawab sejumlah pertanyaan pengandaian yang berhubungan dengan isi pameran.

DSC09723

DSC09733

DSC09740

Di Asian Civilizations Museum juga ada pameran khusus objek-objek dari kawasan Indonesia , termasuk tiruan rumah Toraja yang meskipun mini, tetap bisa kita masuki untuk merasakan bagaimana rasanya hidup di dalam tongkonan.  Agak sedih sih rasanya memikirkan barangkali benda-benda ini lebih terawat di museum negara tetangga ini daripada di museum-museum atau tempat-tempat asal mereka di negeri kita sendiri.  Bukan bermaksud membuat Anda bosan dengan keluhan semacam ini, tapi sayangnya ya memang masih beginilah kenyataannya.

DSC09744

DSC09692

DSC09751

Puas sekali rasanya akhirnya bisa mengunjungi Asian Civilizations Museum yang sudah sedari lama saya ingin singgahi.  Saya juga jadi tidak penasaran lagi mengapa teman saya yang berkebangsaan Singapura menyatakan bahwa inilah salah satu tempat favoritnya untuk menghabiskan waktu.  Bila tulisan saya ini juga membuat Anda penasaran, jangan lupa menyempatkan mengunjungi museum ini ya kali lain Anda berada di Singapura!

Advertisements

Ringkasan 2013: Singapura, Hong Kong, Lembang, Beijing

Ah.  Sudah lama juga saya tidak menulis di blog ini.  Bukan karena tidak punya cerita, atau tidak bepergian ke mana-mana.  Cerita sih, ada saja.  Tapi beberapa kesibukan lain yang menyita perhatian membuat saya alpa menuangkan cerita-cerita itu ke dalam bentuk tertulis.  Oleh karena itu, sekarang saya sajikan versi ringkas dari apa yang saya jumpai dalam beberapa perjalanan saya tahun ini.

Singapura

Ada saja ya, alasan ke Singapura.  Alasan utama saya adalah beberapa konser yang hanya mampir ke Singapura namun tidak digelar di negeri sendiri.  Ada kesenangan tersendiri bila konser itu digelar di loka yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.  Selalu senang rasanya ‘berkenalan’ dengan loka baru, apalagi bila loka itu ternyata sungguh memuaskan.  Kali ini lokanya adalah The Star Theater, hanya berjalan kaki dari stasiun MRT Buona Vista.

sg-2013-01

More

Ketika Sebuah Kenangan Tak Jadi Ditulis: Singapura

This post is about Singapore

Setiap kali habis bepergian, rasanya ingin segera menuangkan kenangan menjadi tulisan.  Tetapi seringkali, kesibukan yang langsung menyergap membuat semua bahan yang telah disiapkan menjadi terbengkalai.

Yang berikut ini contohnya.

Tahun 2012 lalu di bulan Juli saya melawat ke Singapura bersama kedua adik saya.  Tujuan utamanya menonton konser The Stone Roses, sekaligus mengunjungi pameran Harry Potter dan Andy Warhol di ArtScience Museum.

Untuk yang hendak menonton di National Indoor Stadium Singapura, menginap di daerah Sultan Mosque/Kampong Glam nyaman sekali.  Daerah ini hanya berjarak satu stasiun dari NIS, banyak penginapan dan tempat makan murah (dan halal).

Ketika sebuah kenangan tak jadi ditulis, untunglah masih ada foto-foto.  Bila satu foto mengandung seribu kata, maka berapa banyakkah kenangan yang urung tertuang dalam huruf-huruf itu?

Pameran Tintin, cheongsam, dan Raden Saleh

This post is about Singapore This post is about Indonesia

Pada bulan Mei dan Juni 2012 saya menghadiri dua pameran khusus – Tintin di Singapura dan Raden Saleh di Jakarta.  Oya, juga pameran busana cheongsam di Museum Nasional Singapura.  Bagaimana kalau kita tengok pameran-pameran tersebut, sekaligus juga museum-museumnya?

Yang pertama, pameran komik legendaris Belgia, Tintin, yang dilangsungkan di Museum Filateli Singapura.  Museum dengan bangunan bergaya Eropa ini bisa tercapai dengan berjalan kaki dari stasiun MRT City Hall ataupun Dhoby Ghaut.  Museum ini sebenarnya tidak seberapa besar, namun tertata dengan sangat baik dan memikat.

Taktik memajang memorabilia Tintin – yang sebenarnya jumlahnya hanya memenuhi satu ruangan saja – di museum ini merupakan strategi yang cerdas untuk menarik minat pengunjung.  Penggemar Tintin yang kebetulan sedang berada di Singapura tentu tidak ingin melewatkan kesempatan melihat pameran tersebut.  Malah ada saja yang jauh-jauh datang ke Singapura demi Tintin.  Tak heran jumlah pengunjung ke museum tersebut meningkat.  Namun memang kekuatan museum itu bukan hanya pameran Tintin yang bersifat sementara.  Saya mendengar sepasang suami-istri bule berbicara kepada penjaga museum, memuji museum yang ternyata bagusnya di luar dugaan mereka.

Sebelum mendatangi ruang pamer Tintin di lantai dua, terlebih dahulu kami memasuki ruangan-ruangan lain di lantai bawah, di mana kita bisa mempelajari sejarah dan rupa-rupa prangko dan pengiriman surat.  Tampilan dan alat peraga yang ada sungguh menarik.  Misalnya, kita dapat membuka laci-laci di dinding dan menemukan berbagai informasi tentang prangko di balik pintunya.

Sayang kami tidak boleh mengambil gambar tepat di dalam ruang pamer Tintin.  Kami pun berkonsentrasi mengamati berbagai memorabilia – mulai dari sketsa sampai prangko – yang dipajang di ruangan tersebut.  Yang paling saya senangi sebenarnya adalah berbagai figur dan diorama yang sesuai dengan adegan-adegan dalam komik.

Puas melihat-lihat, kami membeli suvenir Tintin di lantai bawah.  Ada kartu pos, gantungan kunci, dan figur.  Toko suvenir kecil di bagian depan juga menyediakan berbagai pernik yang berhubungan dengan dunia filateli.

Saat ini, pameran Tintin sudah selesai.  Tapi bila Anda berminat kepada filateli, museum ini selalu siap menyambut Anda.  Khusus untuk tahun naga ini, ada pameran khusus sepanjang tahun dari serba-serbi naga.  (Banyak sekali prangko bergambar naga yang sungguh indah di dunia ini!)  Atau, bila Tintin-lah yang Anda rindukan, Anda bisa mendatangi toko cenderamatanya di Chinatown (dekat Exit A).

Hari itu kami sekalian berjalan kaki menuju Museum Nasional Singapura.  Ini salah satu museum favorit saya.  Bertempat di bangunan yang mulai dibangun tahun 1887 berdasarkan rancangan Henry McCallum, Museum Nasional memuat berbagai pajangan yang merekam jejak perkembangan Singapura jauh sebelum pulau tersebut dikembangkan oleh Britania.  Eh, kok ya kebetulan, ternyata hari itu pengunjung tidak dikenai biaya sama sekali!  Semua galeri bebas dimasuki!  Ini juga taktik bagus untuk menarik lebih banyak orang ke museum, bukan?

Di museum yang terbagi dalam ruang-ruang pamer permanen dan tidak permanen ini, ruangan favorit saya adalah yang menampilkan keanekaragaman makanan Singapura.  Yang dipajang mungkin bisa memancing komentar ‘ada-ada saja’.  Mulai dari gerobak sate, cangkir milik berbagai kopitiam, cetakan kue, sampai kaleng kerupuk.

Namun justru pameran ini menawan karena kesan bersahajanya itu.  Kita jadi disadarkan betapa urusan lidah pun sebenarnya menunjukkan jejak bangsa pula.  Ragam makanan yang disantap orang-orang Singapura menunjukkan keanekaragaman latar belakang mereka.  Bahkan berbagai bumbu – yang dipajang secara menarik dalam toples kaca aneka warna – membawa kisah sendiri-sendiri.  Ada beberapa contoh bumbu yang bisa kita tes baunya dengan menekan tombol yang menyemprotkan aroma ke hidung kita.  Tidak hanya mata dan hidung, telinga kita pun dimanjakan suara-suara yang menghadirkan suasana orang memasak dan bertransaksi makanan di pasar.

Galeri utama yang menghadirkan sejarah Singapura secara kronologis juga wajib dikunjungi.  Setelah menuruni jalur spiral dari lantai dua, kita pun bebas menjelajahi lorong demi lorong yang gelap, bertemankan pemandu elektronik yang kita kalungkan di leher.  Setiap berjumpa bagian pameran tertentu, tinggal cek nomor kode panduan yang ditunjukkan di lantai dan masukkan ke alat pemandu, dan kita pun bisa mendengarkan rekaman penjelasan bagian tersebut.  Di satu titik, kita akan menemui percabangan: kita bisa menempuh ‘jalur peristiwa’ ataupun ‘jalur personal’.  Kita dapat mempelajari sejarah Singapura secara umum, ataupun melihatnya dari kacamata figur-figur penting.  Jangan khawatir, kita bisa kok berpindah dari satu jalur ke jalur lain di titik-titik tertentu.  Dan selalu rasanya ada bagian yang ‘tertinggal’, yang tak terlihat pada kunjungan-kunjungan sebelumnya.

Bagaimana dengan pameran cheongsam?  Nah, ini adalah pameran tidak permanen yang sedang berlangsung saat kami ke Museum Nasional dalam kesempatan itu.  Yang dijadikan fokus kali ini adalah perkembangan model, corak, dan bahan cheongsam dalam hubungannya dengan perkembangan sejarah dan perempuan di Singapura.  Sungguh menarik betapa zaman meninggalkan ciri-ciri nyata pada pakaian, termasuk si cheongsam ini.  Potongan sederhana di kala perang, digantikan potongan glamor zaman kemakmuran.  Potongan bagi perempuan yang bekerja di rumah, dan potongan berbeda ketika perempuan mulai memasuki lapangan kerja.  Sejumlah cheongsam figur masyarakat juga turut dipajang, lengkap dengan riwayat hidup para pemiliknya dahulu—lengkap dengan foto-foto dan bahkan lukisan potret Christina Loke buatan Basuki Abdullah.

Harga tiket normal adalah 10 SGD.  Di museum ini juga terdapat toko suvenir (dua buah, di depan dan di sebelah tengah) dan kafe.

Dari Singapura, mari loncat ke Jakarta.  Tepatnya di Galeri Nasional, sampai 17 Juni lalu juga berlangsung pameran (tidak permanen) terkurasi yang menampilkan sejumlah karya maestro (pra-)Indonesia, Raden Saleh.

Kami datang di hari terakhir, dan untunglah saat hari masih cukup pagi.  Saat siang sampai sore, wiih!  Panjang sekali antriannya, bahkan sampai ke gerbang depan.  Antusiasme ini mungkin tidak hanya disebabkan oleh rasa penasaran yang berhasil ditimbulkan promosi ‘dari mulut ke mulut’.  Sinisnya, pameran tersebut telah menjadi ajang membuktikan diri sebagai ‘anak gaul’.  Alasan satu lagi yang mungkin turut membuat pengunjung menyemut adalah… pameran ini gratis.

Bila melihat daftar nama yang dipajang, tampaknya panitia yang menyiapkan pameran ini masih didominasi orang asing, mulai dari kurator sampai arsiteknya.  Pameran ini memang disponsori oleh Goethe Institut, dengan koleksi yang berasal dari seluruh dunia, termasuk milik istana (Indonesia) dan para kolektor pribadi.  Mau tak mau harus diakui kerja keras mereka telah mewujudkan sebuah pameran yang tak hanya enak dinikmati namun juga informatif, yang bisa jadi bahan pelajaran bagi para calon penyelenggara pameran lainnya di Indonesia.

Kita jadi bisa menikmati berbagai lukisan, sketsa, dan litograf karya Raden Saleh, yang banyak di antaranya biasanya tersembunyi jauh dari pandangan awam.  Ini mulai dari lukisan-lukisan monumental seperti yang menggambarkan penangkapan Pangeran Diponegoro dan perburuan singa, sampai ilustrasi-ilustrasi contoh untuk pelajaran menggambar yang menggambarkan kepiawaian Raden Saleh menangkap dan menggoreskan detail.

Kalau soal pameran ini jadi ajang gaul, kiranya terbukti dengan sedemikian banyaknya pengunjung yang lebih sibuk berfoto-foto di depan lukisan tanpa benar-benar memperhatikan isi pameran, sampai-sampai mengganggu kenyamanan pengunjung lain.  Yah, mungkin ini bagian dari proses pembelajaran bagi rakyat Indonesia agar mereka menyadari betapa asyiknya mendatangi pameran dan museum.  Semoga saja ada yang akhirnya ‘nyantol’ di benak dan hati mereka selain kebanggaan bahwa mereka pernah menghadiri pameran ‘ngehits’ di ibukota.  Semoga mereka jadi betul-betul menyukai museum dan seni.

Dan yah, sedikit catatan lagi sebagai penutup.  Sungguh, menjadi ‘berbudaya’ bukan sekadar ‘telah datang menonton pameran seni’, namun juga terwujud dalam hal-hal seperti tidak menyerobot antrian, tidak melanggar aturan seperti melangkahi batas jarak minimum dengan lukisan, dan lain sebagainya.  Kalau semua taat, semua pasti sama-sama senang, kok!

 

5foot Way Inn dan Sekitarnya, Chinatown Singapura

This post is about Singapore

Bila ditanya kawasan mana yang paling saya gemari di Singapura, saya mungkin akan memilih Chinatown.  Saya menyenangi jalan-jalan dan lorong-lorongnya yang kecil, dengan berbagai toko dan tempat makan menarik.  Ada yang mencolok, seperti toko yang menjual pernak-pernik Tintin karya Herge, namun ada pula di antaranya yang ‘tersembunyi’ dan tidak banyak diketahui turis asing.  Suasananya juga terasa lebih ramah bila dibandingkan dengan kawasan perbelanjaan berbau ‘modern’.  Tempat menginap untuk pelancong yang beranggaran hemat pun cukup mudah ditemukan.

Exit A Stasiun MRT Chinatown.

The Tintin Shop di Chinatown.

Kali ini, yang ingin saya ulas adalah hostel 5foot Way Inn.  Letaknya hanya selemparan batu dari Exit A Stasiun MRT Chinatown.  Dua kali sudah saya menginap di sini, pertama sewaktu masih soft opening – dan masih banyak bagian hostel yang masih dipoles – dan kedua ketika hostel sudah betul-betul siap untuk tamu.  (Yang saya maksudkan di sini adalah cabang pertama 5foot Way Inn.  Mereka membuka cabang baru dekat Sultan Mosque di bulan April 2012, dan hostel kedua di daerah Chinatown akan menyusul.)

Pertama kali mencarinya, saya agak bingung.  Sebabnya, hostel ini menempati lantai-lantai atas sebuah ruko yang terletak di sebelah kanan saat kita keluar dari Exit A.  Di bawahnya ada toko yang menjual suvenir, yang jamak berjejer-jejer di sepanjang jalan tersebut.  Jalan masuk ke hostel adalah pintu di bagian samping depan ruko tersebut.

Begitu pintu terbuka, kita langsung berhadapan dengan tangga bercat gelap yang agak curam.  Boks neon meyakinkan kita bahwa memang betul ini hostel yang dicari-cari.

Salah satu karya seni yang dipamerkan di 5foot Way Inn.

Resepsionis berada di lantai dua.  Tapi, untuk masuk, terlebih dahulu kita harus mencopot alas kaki dan meletakkannya di rak di samping pintu masuk.  (Mungkin untuk tamu-tamu dari negara-negara ‘Barat’, berkeliaran bertelanjang kaki di hostel ini juga pengalaman tersendiri, ya.)

Berhubung namanya ‘hostel’, kamar-kamar yang tersedia bisa diisi oleh 4 atau 6 orang, dan biasanya yang kita sewa adalah ‘tempat tidur’-nya.  Jadi jangan heran bila Anda akan tidur seruangan bersama orang-orang yang tidak Anda kenal.  Untuk perempuan, ada ‘dorm’ khusus perempuan, sekiranya Anda risih bila harus berbagi dengan laki-laki.  Kamar mandi juga digunakan bersama, dengan kamar mandi khusus perempuan di lantai dua.  Maklum digunakan bersama-sama, jadi bila harus menunggu giliran, ya harus sabar.

Kebetulan, dua kali saya menginap di 5foot Way Inn, selalu bersama teman-teman, sehingga kami bisa menyewa kamar untuk berempat hanya untuk rombongan kami.  Lucunya, saya selalu dapat kamar yang sama, yang terletak selantai dengan resepsionis.  Kamar tersebut menghadap Pagoda Street yang di siang hari ramai oleh kegiatan perdagangan dan suara orang yang lalu-lalang.  Bahkan bila hanya mendengar suara saja, mungkin Anda tidak akan merasa berada di Singapura… Karena yang banyak terdengar adalah percakapan dengan menggunakan Bahasa Indonesia.  Tapi jangan khawatir, di malam hari, Pagoda Street amat sunyi, karena bukan merupakan daerah hiburan malam ‘ajeb-ajeb’.

Kamar untuk 4 orang.

Kepala tempat tidur dengan stopkontak dan rak kecil.

Kamar tidur, perabot, dan seprei semuanya serba putih.  Di kepala masing-masing tempat tidur, ada stopkontak dan rak kecil khusus untuk sang penyewa, sehingga kita bisa mengisi baterai peralatan elektronik kita tanpa perlu bergiliran dengan orang lain.  Masing-masing penyewa juga mendapatkan laci yang berukuran cukup besar di bagian bawah tempat tidur, dengan gantungan kunci yang merangkap sebagai kunci elektronik untuk membuka pintu depan hostel.a.

Hanya saja memang ukuran kamarnya tergolong sempit.  Kamar-kamar ini memang tidak didesain untuk orang-orang yang ingin menghabiskan banyak waktu di dalamnya.

Di lantai dua, juga terdapat ruang makan bersama yang terbuka, menghadap ke sudut lain Chinatown.  Minuman disediakan gratis sepanjang waktu, termasuk dari mesin minuman yang siap menghadirkan kopi, teh tarik, atau minuman cokelat.  Peralatan makan lengkap disediakan, asal kita mencucinya sendiri usai bersantap.  Nikmat sekali rasanya malam-malam duduk-duduk di bangku-bangku kayu yang tersedia sambil menyeruput minuman hangat, atau ketika pagi-pagi sekali kita sarapan sebelum Chinatown benar-benar terbangun.  Kita juga bisa banyak berinteraksi dengan penghuni lain hostel di sini.

Ruang makan di lantai dua.

Pemandangan dari ruang makan 5foot Way Inn.

Lebih banyak kamar dan kamar mandi ada di lantai tiga.  Sementara loteng yang berlangit-langit miring dimanfaatkan sebagai ruang santai yang nyaman dan artistik.  Sofa-sofa dan bantal-bantal yang ditata sedemikian rupa sungguh menggoda kita untuk merebahkan tubuh setelah seharian menjelajahi Singapura.  Di sini kita juga bisa menggunakan dua buah komputer secara gratis untuk berselancar di internet, seandainya sambungan Wi-Fi hostel tidak cukup untuk kita.

Loteng 5foot Way Inn Chinatown.

Kalau soal makanan, tidak usah khawatir.  Banyak restoran dan kedai yang mudah ditemukan di sekitar 5foot Way Inn, dari yang murah sampai yang mahal.  Restoran-restoran waralaba internasional juga ada.  Tapi kalau yang satu ini, Crazy World Cafe di Temple Street, tidak semua orang tahu, meskipun hanya berselisih satu jalan dengan Pagoda Street.  Saya juga mengetahui tempat ini dari seorang teman yang bekerja di Singapura.

Bagian depan Crazy World Cafe.

Crazy World cukup nyaman, dengan desain interior yang menarik dan stylish.  Pemiliknya adalah seorang penggemar musik Mandarin, sehingga ia juga memajang berbagai memorabilia di kafenya ini.  Bahkan pertunjukan musik cukup rutin diadakan di kafe ini yang juga menjual sejumlah cenderamata yang unik.  Kalau soal makanan, saya sangat menyarankan Anda mencicipi brownies ‘home-made’-nya.  Tampilannya saja langsung menerbitkan air liur!

Lucunya, di daftar menu ada tulisan yang menyatakan bahwa pihak kafe berusaha sekerasnya untuk menyajikan hidangan tanpa dikenai pajak.  Oleh karena itu, mereka memohon pengunjung untuk tidak hanya memesan air putih yang gratis.  Lho?  Ternyata orang Singapura ada juga ya yang doyan ‘ngadem doang’ sambil minum air putih?

Kalau malam sudah tiba, meskipun banyak ruko yang sudah tutup, justru tiba saatnya para pedagang makanan malam di Food Street beraksi.  Meja-kursi digelar, dan para pedagang siap memasakkan dan menyajikan berbagai makanan jalanan ala Singapura untuk Anda.  Yang patut dicoba adalah ‘carrot cake yang kenamaan, yang jangan dibayangkan merupakan penganan kecil dari wortel.  Hidangan ini juga tidak mengandung wortel, karena sebutan ‘carrot cake’ itu berasal dari salah pemilihan padanan kata ‘chai tao’ yang sebetulnya merujuk kepada ‘lobak’.  Porsi yang dijual cukup besar, sehingga bila perut Anda tidak besar-besar amat, satu piring hidangan bisa dibagi untuk dua orang.

Carrot cake – yang tidak mengandung wortel.

Jangan sampai seperti kami waktu itu: dengan begitu percaya diri masing-masing memesan satu porsi makanan.  Akibatnya, aduh mak…  Kami separuh merayap pulang ke hostel dengan perut kepenuhan.  Satu lagi hal yang tampaknya sulit dihindarkan bila menghabiskan waktu di Chinatown Singapura!

Renungan: Sampah di Sentosa Island

This post is about Singapore

Dalam perjalanan, memang tak selalu pengalaman indah yang kami temui.  Ada yang membuat sebal, bikin gemas, dan lain sebagainya.  Sekali waktu saat saya ke Singapura, saya mengernyit melihat sampah yang mengambang di sekitar pantai Sentosa Island, padahal banyak turis yang bersemangat berceburan di air yang dingin dan butek.  (Dalam hati, saya berpikir, Aduh, kasihan deh, ke Indonesia aja, pantainya banyak yang bagus dan bersih… hehehe.)

Iseng, saya foto sampah-sampah itu dari salah satu jembatan.

Sampah mengambang di sekitar pantai Sentosa Island.

Setelah saya perhatikan baik-baik… aduh, apa itu di sebelah kiri?  Coba, saya zoom…

Lho... itu kan... bungkus...

Aduh.  Jadi malu.  Saya pun menyingkir diam-diam…

 

Adam Lambert di F1 GP Singapura 2010

This post is about Singapore

Setelah menonton F1 GP Singapura 2009 dan Travis tahun lalu, tahun ini pun anggota tim Lompat-lompat hadir di F1 GP Singapura 2010 untuk menyaksikan berbagai macam keriaan yang berlangsung selama perhelatan akbar tahunan itu.  Tujuan utama tahun ini adalah… konser Adam Lambert!  Penasaran dengan kisah lengkapnya?  Ingin tahu hotel murah apa yang boleh dijajal di Singapura?  Silakan klik foto Adam di bawah ini untuk menuju laporan yang ditulis Mel dalam bahasa Inggris di blognya.

Adam Lambert di Singapura

Adam Lambert di Singapura – dan tautan menuju kisah lengkapnya!

Club Street dan BooksActually

This post is about Singapore

Biasanya, bila ke Singapura, para wisatawan tidak lepas dari tempat-tempat seperti Orchard Road dan Sentosa Island.  Meskipun tempat-tempat itu memang bagus, Singapura masih menyimpan sejumlah ‘harta tersembunyi’ yang tidak kalah menawan, salah satunya adalah Club Street.

Club Street, Singapura

Salah satu sudut Club Street

Jalan ini kecil saja, juga sempit, tidak lebar seperti Orchard Road.  Bangunan-bangunannya kebanyakan adalah bangunan lama yang dipugar dan ‘disulap’ menjadi berbagai toko, kantor, restoran, dan kafe cantik.

Cara termudah mendatangi Club Street apabila Anda mengandalkan MRT di Singapura adalah: naik MRT jalur North East, yang di peta biasa ditampilkan sebagai jalur hijau, turun di stasiun Chinatown.  Keluar lewat gerbang menuju Pagoda Street, dan tembuslah China Square seraya mencoba menahan diri untuk tidak memborong berbagai barang-barang murah (untuk ukuran Singapura) yang ditawarkan para pedagang di kiri-kanan jalan.  (Ngomong-ngomong, saya sendiri lebih menyenangi suasana dan para pedagang di Chinatown, yang menurut saya lebih ramah daripada di pusat kota.)

Sri Mariamman Temple

Kuil Sri Mariamman di South Bridge Road

Di ujung jalan utama pasar, ada kuil Hindu, Sri Mariamman, yang dihiasi warna-warni indah.  Mungkin Anda ingin berhenti sejenak untuk mengaguminya.  Setelahnya, seberangi jalan (South Bridge Road), dan berbeloklah ke Mohamed Ali Lane. Susuri jalan kecil ini, dan di ujungnya Anda akan melihat sebuah bangunan yang – menurut tahun yang tertera di atas pintu utamanya – dibangun tahun 1928.  Gedung ini kini berfungsi sebagai apartemen.  Dan di sisi lain apartemen ini adalah Club Street.

Trotoar di Club Street

Trotoar di Club Street

Berkat arsitektur bangunan dengan bagian depan yang menaungi trotoar, kita pun bisa menyusuri jalan ini tanpa takut kepanasan atau kehujanan.

Tujuan utama kami hari itu adalah mengunjungi toko BooksActually, yang kami ketahui dari sebuah majalah yang kami baca di fX.  Untuk Anda yang gemar buku, toko yang mungil dan nyaman ini bisa jadi alternatif untuk toko-toko buku besar seperti Kinokuniya di Takashimaya, Borders di Wheelock Place, atau Page One di Vivo City.

Bagian depan BooksActually

Bagian depan BooksActually

Buku-buku sastra dan berbagai pernak-pernik lucu yang kebanyakan dibuat sendiri oleh Birds & Co, ditawarkan di lantai dasar.  Anda juga bisa menaiki tangga menuju lantai 2 & 3, tempat buku-buku non-sains dan barang-barang vintage dipajang.  Dengan 1.5 SGD Anda bisa membawa pulang pensil bertuliskan nama pengarang, dengan 2 SGD Anda bisa memboyong kartu pos berhiaskan foto pengarang favorit Anda atau ilustrasi dari buku-buku klasik.

Lantai dasar BooksActually

Lantai dasar BooksActually (ngomong-ngomong, yang di gambar ini bukan anggota Tim Lompat-lompat)

Di samping pintu depan, ada puisi-puisi yang dicetak pada lembaran-lembaran kertas.  Silakan mengambil dan memasukkan sumbangan serelanya ke dalam kotak yang disediakan, untuk membantu BooksActually menjalankan misinya memasyarakatkan sastra.

Kartu pos dan pensil dari BooksActually

Contoh kartu pos dan pensil bertuliskan nama pengarang yang bisa Anda beli di BooksActually

Lain waktu Anda ke Singapura, cobalah kunjungi jalan dan toko buku yang menawan ini, dan rasakan sekelumit kehidupan berbeda di Singapura yang jauh dari hiruk-pikuk Orchard Road.

F1 GP Singapore 2009

This post is about Singapore
Tahun ini, 24-26 September 2010, akan berlangsung F1 GrandPrix Singapore lagi. Bila berminat, mungkin sudah dari jauh-jauh hari ini Anda harus merencanakan perjalanan, dan barangkali memesan tiket, untuk seri GP yang memikat dan unik karena berlangsung malam hari ini.  Tahun lalu, saya dan teman-teman memesan tiket F1 melalui salah satu biro di Jakarta yang memang biasa membantu memesankan tiket untuk para peminat F1.

Tiket F1 GP Singapore 2009

Kami langsung memesan tiket terusan untuk tiga hari, yang tiba dalam wujud kartu dari plastik keras (cocok sekali untuk dikoleksi) sekaligus tali gantungan leher.  Sebenarnya, dari pengalaman kami, pada hari-H pun masih banyak tiket yang dijual (baik untuk harian maupun untuk 2-3 hari sekaligus), sehingga mungkin ada kemungkinan bila Anda datang tanpa memesan tiket terlebih dahulu, Anda masih tetap bisa dapat tiket.  Tapi, yah, kami ambil aman saja saat itu.  Sebetulnya ada pula yang menyediakan paket sekaligus pesawat dan hotel, namun kami memilih untuk mencari sendiri tiket pesawat dan tempat menginap untuk menghemat biaya.

(Hotel pilihan kami adalah Value Hotel di Balestier Road: baru, bersih, dan cukup murah, meskipun agak jauh dari tempat-tempat atraksi utama Singapura.  Nilai plusnya adalah: daerah tempat kami menginap itu tenang, karena bukan daerah lampu merah atau perbelanjaan.)

Pemandangan dari Bay Granstand

Pemandangan dari Bay Grandstand

Kami memilih duduk di Bay Grandstand, yang tiketnya tergolong murah – meski sambil tetap menatap iri orang-orang yang duduk di bagian-bagian yang lebih mahal tiketnya, hehehe.  Meskipun murah, bukan artinya pelayanan yang diberikan sembarangan saja.  Semua teratur rapi.

Di tiket, misalnya, ditunjukkan tempat kami duduk yang diberi nomor dan kode warna.  Jadi, tidak bisa sembarangan duduk (seperti yang kami alami saat menonton A1 GP di Sentul).  Kami pun tetap mendapat akses untuk berbagai pertunjukan hiburan yang diadakan gratis bagi para pemegang tiket menonton F1.  Daftar musisi atau seniman yang turut memeriahkan GP ini juga bisa jadi salah satu alasan kita bergegas membeli tiket GP.

Travis di The Padang, 26 September 2009

Travis di The Padang, 26 September 2009

Salah satu penampil tahun lalu adalah Travis, band asal Skotlandia yang saya sukai sejak 1990-an.  Begitu balapan usai, kami tergopoh-gopoh menempuh jalan yang cukup jauh menuju The Padang, tempat Travis berpentas malam itu.  Pertunjukan band kesayangan di tempat terbuka di bawah langit malam sungguh ini menambah kegembiraan hati saya sebagai penonton GP.

Pemerintah Singapura pun all-out dalam mendukung acara yang jelas mendatangkan mereka banyak devisa ini.  Rute bis diatur ulang dengan rapi, bahkan ada bis yang tersedia gratis untuk penonton, yang amat berguna bila kita hendak pulang ke hotel namun hari sudah terlalu malam sehingga sulit memperoleh angkutan umum.  (Maklum, namanya juga GP malam hari.  Kami betul-betul jadi kalong selama penyelenggaraan GP ini.)  MRT beroperasi lebih lama dari biasa.  Pokoknya, penonton GP tidak perlu pusing-pusing memikirkan hal lain selain bersenang-senang.

Jejak siapa ini hayo?

Jejak siapa ini hayo?

Nah, bila Anda datang ke Singapura pada saat GP F1 berlangsung namun tidak hendak menonton acara olahraga ini, mungkin sebaiknya diingat: banyak akses jalan yang ditutup selama penyelenggaraan GP, termasuk yang menuju tempat-tempat kenamaan di Singapura seperti Merlion di depan Fullerton Hotel.  Kebetulan trek balapan ini menggunakan jalanan yang sehari-harinya dipakai untuk kepentingan umum, bukan trek khusus.  Jadi, sebaiknya rancang perjalanan Anda dengan berhati-hati, agar tidak ‘kecele’ nantinya.  Dan meski bukan penonton yang memegang karcis, Anda juga bisa menikmati berbagai sajian seperti pameran foto F1 di Orchard Road, pameran mobil F1, atau sekadar belanja oleh-oleh F1 mulai dari gantungan kunci sampai kaos.