Fukuoka, Februari 2014

This post is about Japan

Ini dia satu lagi kisah yang sangat tercecer: perjalanan saya tahun lalu ke Fukuoka. Sebagai catatan awal, saya cukup kaget mendapati begitu sedikitnya foto-foto dari Fukuoka di kamera maupun di telepon genggam saya. Saya ngapain saja ya, kok foto-fotonya tidak banyak? Ah, kemudian saya ingat, sewaktu saya berjalan-jalan di sana, beberapa kali turun hujan, membuat saya tidak bisa mengeluarkan kamera maupun telepon untuk mengambil foto. Semoga saja foto-foto yang saya sajikan di sini bisa cukup membantu visualisasi cerita saya, ya.

fukuoka-26

Saya sangat menyukai Tokyo, namun kadang-kadang perasaan bosan menghinggapi juga, apalagi kalau sedang libur panjang antarsemester. Rasanya ingin pergi ke tempat yang jauh, yang belum pernah saya datangi sebelumnya, yang jauh dari hiruk-pikuk Tokyo. Akhirnya di bulan Februari 2014 saya memutuskan membeli tiket pesawat Jetstar ke Fukuoka. Saya tidak benar-benar tahu Fukuoka itu di mana (selain tahu bahwa letaknya di Pulau Kyushu, berbeda dari pulau tempat Tokyo berada), tidak tahu benar di sana ada apa. Pokoknya saya lihat ada rute pesawat ke sana, cukup murah pula, dan saya belum pernah pergi sampai sejauh itu dari Tokyo, jadi ya sudahlah, berangkat!

More

Kisah Tercecer tentang Manila

This post is about The Philippines

Saat sedang terkapar sakit di rumah dan tidak melakukan apa-apa, saya teringat bahwa saya belum menyelesaikan rangkaian cerita saya mengenai Manila.  Ah, ya.  Lama betul tertunda.  Baiklah sebelum terlupa dari ingatan, saya ceritakan di sini.  Selain Intramuros, ini beberapa tempat lain yang saya kunjungi.

Manila senja hari terlihat dari gedung tinggi.

More

Mendadak Kamboja

This post is about Cambodia

Bagian 1: Menyeberang di Bavet

Akhir Januari lalu saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya: bepergian tanpa itinerary. Saya berangkat hanya membawa kaus empat potong, sejumlah uang USD yang bisa ditukar dari pengambilan maksimum di ATM dalam sehari, tiket boleh booking dua hari sebelum berangkat, dan paspor. Ibu saya sampai bilang bahwa saya seperti anak kecil yang ngambek dan kabur dari rumah. Tapi yaaah semakin usia Anda bertambah *uhuk*, semakin berkuranglah kesempatan Anda untuk melakukan hal semacam ini. Kapan lagi kalau bukan sekarang?

Perhentian pertama saya adalah Saigon, Vietnam. Saigon yang saya tahu ternyata sudah jauuuuh sekali berbeda. Ia sekarang bersolek: kota yang penuh dengan bangunan menjulang dan kendaraan. Mungkin satu yang tidak berubah, yaitu poster Bac Ho (Paman Ho) di mana-mana. Yah tapi paling tidak belum sampai taraf Pyongyang dan poster keluarga Kim-nya deh. Beberapa hari di Saigon, saya mulai mati gaya. Mau ngapain lagi ya?

Cap-cip-cup-kembang-kuncup, akhirnya saya putuskan untuk menyeberang ke Kamboja saja. Sialnya, karena saya di Saigon pada saat musim liburan dan masih dalam  suasana libur Imlek (yang bisa berlangsung selama dua minggu), tiket bus langka. Saya harus berkeliling Pham Ngu Lao, De Tham, dan Bui Vien di Quan (Distrik) 1 untuk mencari selembar tiket dan akhirnya dapatlah tiket seharga 11 USD untuk rute Saigon-Phnom Penh.

Jalan Pham Ngu Lao, Saigon. Bus lintas negara biasanya parkir di sini.

Bus yang saya naiki untuk masuk Kamboja adalah bus milik Sorya, salah satu operator bus tersenior di Kamboja. Bus lintas Negara semacam ini biasanya bus berpendingin udara dengan karoseri penumpang di atas dan kargo di bawah. Bus berangkat dari Pham Ngu Lao pukul 9:00. Setelah sekitar dua jam, sampailah bus di Bavet, kota perbatasan Vietnam dan Kamboja yang terkenal dengan kasino-kasinonya. Paspor penumpang dikumpulkan oleh petugas bus, diserahkan kepada petugas di dalam balai imigrasi, dan penumpang diminta mengantri untuk mengambil paspornya. Pemegang paspor non-ASEAN wajib menyediakan 20 USD sebagai pembayaran visa. Di sini saya mendapat kejutan menyenangkan, yaitu tidak perlu membayar visa. Hidup Indonesia!

Balai Imigrasi di Bavet. Kalau Anda dari Vietnam, Anda tidak perlu menurunkan bawaan dari bagasi karena tidak ada pemeriksaan dari pihak Kamboja. Namun, bersiaplah melakukan hal sebaliknya kalau Anda dari Kamboja dan ingin masuk Vietnam.

Di dalam Balai Imigrasi, saya harus pasang telinga dengan cermat. Pasalnya, petugas pemeriksa paspor memanggil nama pemilik paspor tanpa pengeras suara. Secara umum, proses imigrasi hanya memakan waku sekitar 20 menit. Mungkin kalau tidak sedang musim liburan, bisa lebih cepat lagi ya?

Selepas dari Bavet, bus menyeberangi sebuah sungai kecil dengan menggunakan feri. Jangan khawatir, penumpang tidak perlu turun lagi kok. Beberapa penumpang yang sempat menggerutu langsung menghembuskan napas lega karena tidak harus menggotong-gotong tas mereka lagi. Saya? Lha wong cuma bawa satu ransel sekolah, hehehe. Nah, kalau Anda orang yang hobi tidur seperti saya, silakan menikmati kursi empuk bus dan memejamkan mata selama kurang lebih empat jam sampai bus tiba di Phnom Penh.

Dari arah sebaliknya, secara garis besar perjalanan dengan bus akan serupa. Namun, saya mencoba menggunakan bus malam untuk perjalanan kembali ke Saigon. Bus malam lintas negara umumnya tidak memiliki kursi, melainkan tempat tidur sebagai seat-nya. Sekali lagi, harganya seharusnya tidak banyak berbeda dengan bus siang hari. Jadi, kalau Anda membeli tiket, pastikan kisaran harganya antara 17-18 USD. (Saya termakan silat lidah petugas travel dan membayar 20 USD, 3 dolar lebih mahal dari tiket berangkat, grrr.)

Bus malam yang saya naiki. Dioperasikan oleh Virak Buntham. Sama seperti perjalanan berangkat, bus akan transit di Phnom Penh dan penumpang ditransfer ke bus yang lebih kecil.

Bagian dalam bus malam, seat 2-1. Seat-nya kurang lapang untuk orang yang tinggi seperti teman perjalanan saya, Alex, guru asal California yang bekerja di Shanghai. (Tapi lumayan ada eyecandy, hehehe.)

Bagian 2: (Nyaris) Terdampar di Phnom Penh

Apakah Anda pernah ngemper di Blok M atau terlunta-lunta di Kampung Rambutan demi menunggu bus yang tak pasti? *azeeek* Nah, demikian pula yang saya alami selepas turun bus yang membawa saya dari Saigon ke Phnom Penh. Kok bisa?

Pertama, saya datang ke Phnom Penh tanpa rencana jelas. Booking hotel tak ada, KHR pun tak punya. Uang kecil saya pun tinggal 8 USD. Mau tinggal di Phnom Penh dulu, saya kok ngeri melihat kerumunan pengendara tuktuk yang langsung semangat ’45 begitu melihat penumpang turun dari bus. Ketika sedang mencari ide di salah satu pojokan pool bus Sorya, mata saya menangkap tulisan Siem Reap di papan jadwal bus. Siem Reap, Siem Reap, Siem Reap… sepertinya pernah baca… Aha! Angkor! Ke sana saja!

Suasana di pool bus Sorya, Phnom Penh. Hampir semua bus lintas negara punya pool sendiri dengan tampilan seperti ini.

Saya pun membeli selembar tiket bus ke Siem Reap seharga 6 USD. Oh ya, Anda juga bisa membeli kartu SIM (telepon) yang bisa dipakai di Vietnam dan Kamboja dengan mudah di Phnom Penh. Salah satu kebodohan saya adalah baru mengetahui hal ini ketika sudah ada di atas bus ke Siem Reap.

Menunggu di pool bus di Phnom Penh (total saya dua kali melakukannya) bukanlah hal yang menyenangkan. Tempatnya defisit tempat duduk, penumpang bersaing dengan kargo, dan nyaris tidak ada prasarana bersantap dengan nyaman. Jajanan yang ada di tempat semacam ini tidak jauh-jauh dari rujak buah, kacang atau jagung rebus, dan roti segede lengan (mirip baguette Perancis yang disebut banh di Vietnam). Snack dalam kemasan biasanya impor dari Vietnam, hanya dijual di minimarket, dan harganya antara 0.5-1 USD. Namun, kalau Anda tipe orang yang kurang kerjaan seperti saya, Anda bisa membunuh bosan dengan mengamati orang di sekitar Anda.

Bus ke Siem Reap baru berangkat sekitar pukul 16:00 dari Phnom Penh. Itupun pakai menunggu bus di depannya penuh (siapa bilang ngetem cuma ada di Indonesia?) dan memutar dulu memasuki sebuah perkampungan Muslim, Khan Russey Keo, tanpa sebab yang jelas. Supirnya ingin pipis, mungkin. Bus Sorya kali ini lebih kecil dan lebih tidak nyaman dibandingkan bus dari Saigon ke Phnom Penh—mungkin karena hitungannya sudah bukan bus lintas negara.

Sebuah masjid di perkampungan Muslim di luar Phnom Penh.

Satu hal tentang Phnom Penh yang menarik perhatian saya adalah keberadaan taman-taman kota yang sangat memanusiakan warganya. Di seputaran Charles de Gaulle Boulevard, misalnya, trotoar-trotoarnya rapi dan bersih. Alat-alat kebugaran seperti sepeda statis dan slider banyak tersedia di taman. Sedikit banyak, hal tersebut mengingatkan saya pada taman di Pham Ngu Lao, tempat saya nongkrong pada sore hari dan memandangi cowok-cowok bersimbah peluh sedang berlatih semacam sepak takraw ala Vietnam. Yum!

Taman kota di dekat Night Market, Phnom Penh.

Tapi Tuhan memang baik. Ketika berhenti makan malam, ada seorang penumpang berkewarganegaraan Indonesia menyapa saya karena melihat kaus saya (kaus wajib jalan-jalan saya yang bertuliskan “I Survive Indonesia” :D). Jadilah selama dalam 6 jam perjalanan saya memiliki teman ngobrol. Siem Reap, here I come!

Saran #1: kalau Anda ke Phnom Penh dan tahan miris, sempatkanlah mengunjungi Museum Genosida Tuol Sleng, bukti kekejaman rezim paranoid Khmer Merah yang membantai hampir dua juta warganya sendiri pada periode 1970-an.

 Saran #2: sekarang ini sudah banyak operator bus yang mengoperasikan bus ekspres Saigon-Siem Reap via jalur baru. Jadi, Anda menghemat waktu sekitar empat jam karena tidak perlu berhenti di Phnom Penh untuk transfer bus. Tiketnya dapat diperoleh melalui berbagai operator tur di Saigon, misalnya di Tuan Travel (Bui Vien) dan Friends Tour (Pham Ngu Lao).

Bagian 3: Tuktuk Tengah Malam

Normalnya, bus dari Phnom Penh ke Siem Reap hanya akan memakan waktu sekitar 6 jam. Sekali lagi, normalnya. Nah, karena perjalanan saya adalah perjalanan yang tidak normal, durasi 6 jam tersebut molor menjadi hampir 8 jam. Alhasil, saya sampai di Siem Reap nyaris tengah malam. Apes? You bet.

Apes pertama: setibanya di pool bus Sorya di Phsar Leu, luar Siem Reap, saya bingung bagaimana mau menghubungi penginapan. Apalagi, saya ketempelan seorang pelancong dari China, Xu Yuan, dan dari Irlandia, Timothy. Nah, mereka berdua ini sama nekatnya dengan saya: datang ke Siem Reap pada saat arus liburan sedang tinggi tanpa persiapan booking hotel sama sekali. Teman ngobrol saya, Stevan, sudah booking kamar di Bou Savy Guesthouse, dan tuktuk penjemputnya sudah menunggu di pool. Saya pun meminjam ponsel Stevan untuk menelepon Jasmine Lodge, penginapan saya. Naaah, ternyata Jasmine Lodge membatalkan pemesanan kamar saya karena saya tidak datang pada hari tersebut dan tidak mengabari. Tapi karena sadar bahwa sebagian dari kekacauan ini adalah kekurangsiapan saya juga, saya cuma minta pihak Jasmine Lodge mentransfer saya ke penginapan lain. Alhasil, pergilah saya, Xu Yuan (yang memanggil dirinya sendiri Kitty—dari idolanya, Hello Kitty), dan Tim ke Number 9 Guesthouse dengan tuktuk.

Phsar Leu pada siang hari. Titipan motornya tak kalah dengan Indonesia ya. 🙂

Apes kedua: Number 9 Guesthouse ternyata terletak tidak jauh dari Sivutha Boulevard, pusat kota Siem Reap. Karena tidak tahu jalan, saya sempat ketar-ketir ketika tuktuk berbelok ke La Paix Hotel. Wuidiiih mewah nih, pikir saya, dan pasti menguras dompet. Entah untung atau apes (lagi), ternyata La Paix hanya patokan. Number 9 terletak di gang di belakangnya.

Tapiii.. ternyata hanya ada satu kamar tersisa di sana. Saya dan Kitty tidak ada masalah kalau harus berbagi kamar, tapi Tim? Akhirnya kami berdua menunggui Tim sampai berhasil menghubungi temannya yang sudah sampai sehari sebelumnya… dengan menggunakan wi-fi gratisan di lobi. Begitu Tim pergi, saya dan Kitty masuk ke kamar di lantai dua. Seperti kata pepatah, gembel tak bisa memilih (*uhuk* terjemahan bebas *uhuk*), kamar kami tipe kamar double bed berkipas angin. Saking capeknya, kami langsung nggeblak tidur dan baru menyadari masalah genting keesokan paginya: koneksi wi-fi tidak sampai ke kamar kami dan air kamar mandi macet!

Sekali lagi, ada hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini. Pengendara tuktuk yang mengantar dari Phsar Leu sampai ke Number 9 ternyata sigap membantu begitu tahu saya dan Kitty berencana untuk mengeksplorasi kompleks Angkor. Antara scam dan tidak, dia menyatakan kenal betul kompleks Angkor. Maka, siap deh saya memulai petualangan Angkor bersama Chhrong dan tuktuk saktinya.

Ta-da! Ini Chhrong, pengendara tuktuk saya. Teman-teman saya sih bilang dia pantas jadi—minimal—bintang sinetron di sini. 😀

 Saran: sepertinya hampir semua orang (kecuali saya ^^;) tahu bahwa bisnis tuktuk di Kamboja adalah bisnis yang penuh persaingan dan scam. Berhati-hatilah ketika bernegosiasi dengan pengendara tuktuk. Kalau pengendara tuktuk Anda menawarkan paket, sesuaikan dengan keinginan Anda. Rata-rata sewa harian tuktuk untuk eksplorasi Angkor selama sehari adalah 10-12 USD. Anda juga bisa meminta penginapan Anda menguruskan booking tuktuk. Oh, dan kalau Anda berminat menggunakan jasa Chhrong, silakan hubungi saya melalui japri.

‘I am not pushy and I am honest’ – Bahkan pengendara tuktuk pun sebenarnya sadar seperti apa pandangan turis terhadap mereka.

Bagian 4: Siem Reap Minus Angkor?

Selain menjelajahi Angkor, apalagi yang bisa dilakukan di Siem Reap?

Karena selama di Siem Reap saya tinggal di pusat kota, saya dengan mudah dapat berjalan kaki ke mana-mana. Bagi yang suka bersepeda, bisa juga menyewa sepeda dengan tarif 1-2 USD perhari. Banyak galeri seni dan tempat pertunjukan yang membuka hari gratis di Siem Reap, jadi Anda tinggal mengecek jadwal mereka saja. Misalnya, Rumah Sakit Anak Kantha Bopha memiliki pertunjukan Beatocello setiap Sabtu dan Minggu. Hasil penjualan tiket dan donasi diberikan kepada para pasien. (Waktu saya datang, donasi ditujukkan kepada anak-anak penderita demam berdarah dan tuberkulosis).

Turis bersepeda di kawasan Angkor. Kalau niat, silakan manjakan mata Anda dengan mantengin bule-bule bertelanjang dada berkeliling Angkor Wat pada tengah hari.

Gabungan antara kuat jalan kaki seharian dan sok jadi Dora the Explorer membuat saya blusukan ke pasar di Siem Reap. Ada dua pasar yang cukup ramai di pusat kota, yaitu Phsar Kandal (Central Market) dan Phsar Chas (Old Market). Pasar yang pertama lebih mirip pasar modern di Indonesia. Lokasinya tepat di Sivutha Boulevard dan kebanyakan barangnya ditujukan untuk konsumsi turis. Setelah itu, silakan bersantai di bagian food court-nya yang juga menyediakan wi-fi gratis.

Food court di Phsar Kandal. Bersih, pakai kipas angin, dan sedia wi-fi gratis.

Phsar Kandal pada malam hari.

Phsar Chas, di lain pihak, adalah pasar tradisional dengan penjual yang lebih heterogen. Favorit saya sih petak-petak makanan di bagian dalam dan kios-kios camilan di bagian luar. Turis juga suka blusukan di sini. Saya sendiri sampai menahan geli melihat beberapa ibu-ibu Perancis membeli dandang dan bokor. Kapan lagi Anda bisa melihat bule jadi begitu ndeso? *third world pride* Nah, berhubung saya doyan makan, Phsar Chas juga menjadi magnet tersendiri dengan banyaknya restoran dan kedai di sekitarnya. Dari gelatto Italia sampai kari India, dari tukang daging sampai tukang bumbu ada di sini. Oh, atau kalau mau sok santai seperti saya, cukup jajan camilan—dari pancake pisang sampai manisan kelapa—dan nongkrong di taman-taman bantaran kali di belakang Phsar Chas.

Phsar Chas. Di sini sih enaknya jalan sambil jajan.

Penyuka kegiatan berbau alam bisa juga pergi ke Danau Tonle Sap untuk menikmati desa terapung atau pusat konservasi burung di sana. Namun, berhati-hatilah dengan scam harga tiket yang dijual di gerbang masuknya. Hampir semua pengendara tuktuk yang membawa turis ke sana (termasuk Chhrong, grrr) berkongkalikong dan dapat persenan dari pihak penyedia jasa wisata di Danau Tonle Sap. Saya sempat ditagih 20 USD untuk biaya masuk dan 10 USD untuk biaya perahu. Jelas saya tolak dong. Dear officer, you’re dealing with Auntie Scrooge here. Eh kemudian dia memberitahu bahwa harga tiketnya cukup 15 USD saja. Hiih, minta dijitak banget deh bapaknya! (Kadung kesal, saya pun batal ke Tonle Sap.)

Ini gerbang kedatangan sebelum naik perahu di Danau Tonle Sap. Waspadai pembangunan yang belum selesai, toilet tanpa flush, dan scam harga tiket. Kecuali Anda memang sangat tertarik, silakan datang.

Di negara yang mayoritas penduduknya Buddhis seperti Kamboja, Anda akan dengan mudah menemukan pesantren biksu di dekat wihara. Mendengarkan para biksu novis nyantri melantunkan sutra dapat menjadi pengalaman tersendiri yang mengesankan.

Saran #1: Sebagai negara yang masih dalam proses pemulihan dari ekses perang dan genosida, Kamboja memiliki banyak lembaga kemanusiaan yang menyediakan kesempatan untuk partisipasi sukarela. Beberapa penginapan juga bersedia membantu Anda juga Anda ingin menjadi sukarelawan.

Saran #2: Ada satu lagi pasar di Siem Reap yang tidak sempat saya datangi, yaitu Night Market. Lokasinya dekat La Paix Hotel, tapi karena lorong menuju tempat tersebut sepi, saya tidak akan mencobanya tanpa menguasai ilmu kebal terlebih dulu.

Saran #3: Jangan lupa untuk mempraktekkan jutsu Bargain to the End di pasar-pasar Siem Reap. Tawar habis! Misalnya, tawar saja kaus seharga 5 USD menjadi 2 USD atau 5 USD untuk 3 kaus. Yang saya sukai dari para pedagang di Phsar Kandal adalah mereka selalu tersenyum. “OK, I want to make you happy, so please buy from me. I’ll give you good price, but not cheaper or I will cry,” begitu kata mereka. 🙂

Bagian 5: Berhati-hatilah Dengan Makanan Pesanan Anda di Siem Reap

Peringatan: tidak halal.

Salah satu hal yang menjadi nilai plus Kamboja buat saya adalah rasa masakannya yang dekat dengan selera orang Indonesia dan disajikan dalam porsi besar. Catat baik-baik: porsi besar. Menurut Chhuong, pengendara tuktuk saya, laki-laki Kamboja biasa makan dua piring nasi untuk sekali makan. Itu standarnya lho!

Beberapa favorit saya selama di Kamboja mengandung bahan-bahan yang bahkan saya belum pernah makan di Indonesia seperti aneka sayuran yang bahkan namanya saja membuat lidah kesrimpet. Enaknya, sebagian besar buah di sana adalah buah yang familiar untuk orang Indonesia. Maka, jangan kaget kalau dalam salad buah pesanan Anda ada lengkeng, jambu air, dan bahkan kedondong.

Saya cenderung menghindari kopi terutama yang asam dan tidak ramah-lambung, tapi kopi tetes semacam ini selalu jadi pelengkap sarapan saya selama di Vietnam dan Kamboja. Super!

Beginilah peralatan makan disediakan: direndam dalam gelas berisi air panas.

Tak ada yang memberitahu saya bahwa pork sandwich segede gaban dengan isi membludak inilah yang diberikan ketika saya memesan.

Salah satu favorit saya: amok. Ini semacam kari yang isinya ikan atau ayam. Dimakan panas-panas… hemmm! Jangan lupa beli bumbu siap masaknya kalau mampir di pasar.

Lolek (atau lolak atau lok lai) dari Phsar Chas. Semacam stew daging sapi atau ayam dengan kuah asin sebagai pelengkap. Meskipun sudah pakai kentang goreng, Anda akan tetap disuguhi nasi juga. Satu porsi lolek ini cukup untuk dua-tiga orang.

Favorit lain: prahok. Cacahan ikan atau ayam atau daging lain yang difermentasi lalu ditumis. Sayur-sayurannya mentah atau direbus. Seumur-umur ini pertama kalinya saya makan leunca dan kembang lotus. Ternyata lalapan tak cuma privilese Sunda ya.

Oh iya, godaan terbesar untuk saya selama berada di Siem Reap adalah murahnya harga bir di sana. Satu tumbler besar bir curah cukup dengan 0.5 USD saja! Saya sampai terpikir untuk melewatkan makan dan cukup minum bir sampai kembung.

Tagline: national pride, national beer.

Ini dia bir curah seharga 0.5 USD. Tagline: my country, my beer. Kalau diurut-urut berdasarkan harga, bir terekomendasi di Siem Reap adalah Tiger, Beerlao, Angkor, Cambodia, Anchor.

Bagian 6: Politik di Kamboja

Kalau di Vietnam ada poster Bac Ho di mana-mana, di Kamboja ada poster partai di setiap sudut. Sejauh yang saya lihat, partai yang posternya rajin berjamaah di jalan-jalan adalah Cambodian People’s Party (partai PM Hun Sen), Funcinpec (partai adik raja), dan Sam Rainsy Party. Kalau Anda sinis terhadap politik, Anda memiliki pandangan yang sama seperti hampir semua orang Kamboja yang saya temui dan ajak bicara. Tapi yaah, dengan demokrasi yang masih awut-awutan seperti di Indonesia, paling tidak masih ada yang bisa kita syukuri tanpa harus mengecilkan penderitaan bangsa lain. Perang dengan Vietnam? Yep. Pembantaian oleh Khmer Merah? Yep. Raja yang tidak tinggal di negerinya sendiri? Yep. Rebutan aset di perbatasan? Yep.

Vinn, pengendara tuktuk dari operator bus Virak Buntham jurusan Siem Reap-Saigon yang menjemput saya dari penginapan ke pool bus, bilang bahwa generasinya punya cita-cita untuk bekerja di luar Kamboja. Saya tanya apakah dia tidak ingin jadi pegawai negeri—cita-cita standar lulusan universitas di sana. Si Vinn yang doyan tertawa ini cuma bilang, “If I can live for my country, I should be able to live from my country, too.”

Dalem, Vinn. Daleeem.

Salah satu poster partai yang banyak terlihat di Siem Reap.

Bagian 7: Siem Reap Sehari-hari

Sebagian besar warga Siem Reap masih tinggal di perkampungan. Waktu saya berkeliling seluruh kompleks Angkor sampai ke Banteay Srey dan Roluos atau di dekat Museum Ranjau Darat, di kiri-kanan mudah sekali dijumpai rumah dengan sumber air hasil donasi. Nama donatornya terpampang di papan. Friends of Cambodia, misalnya, banyak bergerak untuk membantu kebutuhan sanitasi warga Siem Reap. Padahal ini salah satu jalan utama di daerah wisata utama. Karena saya ndeso, yang terpikir malah Pantura.

Bensin mahal di sini, itu jelas. Seliter 1.25 USD (sekitar 5000 KHR). Tapi berbanding terbalik dengan harga bensin, nyaris semua mobil di Siem Reap adalah mobil ber-cc besar. Toyota Fortuner adalah pegangan standar kebanyakan penginapan di Siem Reap. Sisanya didominasi Toyota Fortuner dan beberapa tipe karavan Hyundai. Oh, dan untuk pertama kalinya, saya menemukan sebuah negeri tanpa Avanza-Xenia! Rasanya jadi semacam penyegaran setelah setiap hari berpapasan dengan Avanza-Xenia di jalanan Indonesia.

Bensin ngecer di Siem Reap.

Penguasa jalanan di Kamboja? Motor! Bukan cuma jadi tuktuk atau ojek, motor juga disambung ke kereta mini, kendaraan mirip odong-odong, bahkan gerobak yang bisa mengangkut orang se-RT!

Motor dan tuktuk.

Motor dan kandang portabel.

Motor dan… tukang kasur.

Motor dan kereta jenazah. Ngomong-ngomong, musik pemakaman Kamboja enak di kuping lho.

Oh iya, buat yang suka anak kecil, banyak anak kecil yang berjualan di kompleks Angkor. Paling banyak berjualan kartu pos (1 USD untuk 10 kartu pos). Yang unik (atau menyebalkan—tergantung sudut pandang), kalau ditolak dengan kata-kata “No, thanks,” mereka akan membalas dengan “Yes, thanks” dan kembali mengejar-ngejar turis untuk membeli dagangan mereka.

Saya jadi ingat pengalaman bapak saya yang sempat tinggal cukup lama di Saigon. Bapak saya pernah cerita bahwa di Saigon, turis tidak didukung untuk membeli dari atau memberi sedekah buat anak-anak yang mencari nafkah di jalanan. Kalau ada turis yang ketahuan, bisa ditegur kamtib. “Kami tidak mau mendidik generasi peminta,” begitu alasannnya. Entah benar atau tidak, saya pikir Kamboja perlu menerapkan hal tersebut.

Indonesia? Wah, nanti dulu deh. Didik para orangtua untuk tidak begitu antusias buat anak saja dulu. 🙂

Nantikan kelanjutan petualangan Tukang Kesasar di Angkor Wat!

Written and photographed by Tukang Kesasar

http://twitter.com/thranduilion

Beberapa Gagasan Menghabiskan Waktu di Bangkok

Tulisan berikut ini saya tulis atas permintaanTitin yang akan mengunjungi Bangkok di bulan Oktober.  Semoga tulisan ini membantu, ya!

This post is about Thailand

Bangkok pada khususnya dan Thailand pada umumnya telah menjadi salah satu tujuan pariwisata luar negeri utama wisatawan Indonesia, terutama semenjak maskapai penerbangan AirAsia membuka jalur langsung dari beberapa kota Indonesia menuju Bangkok.  Dalam tulisan berikut ini, saya menjabarkan beberapa gagasan kegiatan yang bisa Anda lakukan di Bangkok.

Telusuri Chao Phraya

Kami pernah menjabarkan cara menelusuri sungai yang menjadi nadi utama kota Bangkok lama ini di tulisan ini.  Nikmati semarak aktivitas penghuni Bangkok di Chao Phraya saat siang hari.  Perhatikanlah keanekaragaman bangunan lama bersejarah maupun bangunan baru bergaya modern, juga bermacam-macam tempat peribadahan berbagai agama yang berdiri mengapit Chao Phraya.  Tampak wat, masjid, dan gereja tegak berselang-seling.  Susuri pula sungai ini di malam hari, ketika lampu-lampu sengaja menyoroti bangunan-bangunan utama sehingga terlihat dramatis.

Suasana di feri untuk turis.

Salah satu sudut Maharaj Pier. Turunlah di sini bila hendak menuju Grand Palace.

Kunjungi Grand Palace dan Vinmanmek Mansion

Rasanya kalau ke Bangkok tapi belum ke Grand Palace, agak kurang afdol, ya.  Di kompleks istana berukuran 218.000 meter persegi ini terdapat sejumlah bangunan penting, baik yang masih berfungsi sebagai kantor pemerintah, museum, tempat peribadahan, maupun tempat tinggal kerabat raja.  (Raja sudah tidak lagi tinggal di Grand Palace.)  Tidak hanya bergaya khas Thailand atau Indocina, ada pula bangunan-bangunan bergaya Barat, ataupun yang campuran.

Yang perlu diingat, berpakaianlah yang sopan bila hendak memasuki Grand Palace.  Bila pakaian Anda (baik laki-laki ataupun perempuan) terlalu terbuka, misalnya mengenakan celana pendek, maka Anda akan diminta mengenakan pakaian tertutup yang disediakan pihak istana.  Selain itu, bila Anda datang tepat di hari ulang tahun raja (5 Desember), maka di pagi hari Anda tak boleh memasuki kompleks istana tersebut, yang dijadikan tempat pusat perayaan.  Siang harinya, Anda boleh masuk dengan gratis, tetapi hanya ke bagian tempat wat-wat berada, ini pun menumpangi keistimewaan yang diberikan kepada warga Thailand untuk mengunjungi The Royal Monastery of the Emerald Buddha secara gratis agar bisa berdoa untuk sang raja.

Di area Royal Monastery, tak hanya menyambangi sang Buddha Jamrud yang  tersohor, kita juga bisa melihat, antara lain, Phra Siratana Chedi, Phra Mondop, dan model Angkor Wat.  (Sekadar info: nama kota di Kamboja tempat Angkor Wat berada saat ini, Siem Reap, berarti ‘Siam Ditaklukkan’.  Dan keberadaan model Angkor Wat ini di kompleks Grand Palace kiranya juga menjadi jejak hubungan antara Thailand dan Kamboja yang kerap sulit, bahkan hingga kini.)

The Royal Monastery menampilkan keunikan agama Buddha yang dianut oleh sebagian besar penduduk Thailand.  Perhatikanlah patung-patung raksasa yang menjulang, dan juga mural Ramakien (Ramayana) berhias emas yang terpajang di tembok yang mengelilingi Wat Phra Kaeo.  Tunggu sebentar.  Ramayana?  Lalu… patung dewa-dewa ini… tidakkah lebih Hindu daripada Buddha?

Ya, memang benar.  Agama Buddha di Thailand dipengaruhi  agama Hindu.  Bahkan berdasarkan hasil bincang-bincang saya dengan seorang kenalan yang berasal dari Goa, India, Thailand adalah satu dari hanya dua tempat di dunia ini di mana terdapat kuil yang dikhususkan untuk Brahma, godhead dalam trimukti agama Hindu.

Ngomong-ngomong, perhatikanlah patung-patung yang menghiasi sejumlah bangunan di kompleks Royal Monastery.  Bisakah Anda bedakan, yang mana yang demon, yang mana yang monyet?  Kalau setelah ke sana Anda belum tahu juga, silakan hubungi kami ya…

Yang juga tidak bisa dilewatkan saat berada di Grand Palace adalah… mencicipi susu segar dan dingin yang dijual tak jauh dari Aula Amarindra Winitchai dan Chakri Maha Prasat (yang bagian bawahnya difungsikan sebagai museum senjata).   Apalagi kalau Anda mengunjungi Grand Palace ketika cuaca sedang panas-panasnya—misalnya, saat bulan Juli—susu berbagai rasa dari peternakan kerajaan ini terasa sungguh menyegarkan dan memompa semangat kembali!

Chakri Maha Prasat

Pergantian penjaga juga bisa menjadi atraksi menarik di Grand Palace.

Oya, sekeluar dari Grand Palace, jangan keburu membuang tiket Anda, karena masih ada satu tempat lagi yang bisa Anda datangi dengan tiket tersebut, yaitu Vinmanmek Mansion.  Jaraknya agak jauh dari Grand Palace, sehingga gunakanlah taksi atau tuktuk menuju tempat tersebut.  Hati-hati, taksi yang mangkal di sekeliling Grand Palace biasanya memang mengincar wisatawan dan ogah pasang argo.  Atau, mereka mau mengantarkan dengan harga murah asalkan kita mau mereka bawa mampir-mampir dulu ke sejumlah toko atau tempat pembelanjaan.  Alasannya, agar mereka mendapat cap dari masing-masing toko untuk mendapatkan bensin gratis.  Kalau punya waktu banyak, coba saja ikut mereka ke toko-toko itu, yang terkadang menawarkan barang-barang bagus dengan harga murah.  Tidak beli juga tidak apa-apa.  Namun bila ingin langsung ke Vinmanmek Mansion, bersikeraslah minta diantar langsung.  Mungkin mereka akan minta 100 Baht untuk menuju kompleks tersebut.

Ini bukanlah Vinmanmek Mansion, melainkan salah satu gedung di dalam kompleksnya. Mansion-nya sendiri sulit untuk dipotret.

Vinmanmek adalah istana dari kayu jati emas bergaya Eropa yang dahulu menjadi tempat tinggal keluarga raja.  Bangunan beserta segala perabot dan barang-barang yang tersimpan di dalamnya sungguh indah.  Namun untuk memasukinya, peraturan cukup ketat.  Yang pertama, Anda harus meninggalkan tas dan kamera di dalam locker berkunci otomatis yang tersedia.  Hati-hati, sekali buka pintu locker, biayanya 30 Baht.  Saya pernah ketinggalan mengambil sesuatu dari tas, dan harus kembali merogoh 30 Baht dari kocek untuk membuka pintu sekali lagi!

Wisatawan diizinkan keluar-masuk dengan selang waktu tertentu, antara 30-45 menit sekali.  Waktu masuk wisatawan berbahasa Thailand dan berbahasa asing juga dipisah, seturut ketersediaan pemandu.  Kita harus menunggu dengan sabar sampai pintu dibuka lagi untuk wisatawan—yang harus melewati pemeriksaan sinar X.  Sejumlah petugas siap memandu kita dan memberikan berbagai informasi mengenai Vinmanmek Mansion, termasuk sejarah koleksi barang wastu tersebut yang mengundang decak kagum.  Bahkan saat cuaca panas mengamuk di luar, bagian dalam wastu dan taman sekelilingnya tetap sejuk.

Bila sempat, kunjungi juga beberapa museum kecil yang masih terletak di kawasan Vinmanmek Mansion.

Berbelanja

Bagi yang hobi berbelanja, memang Bangkok tempat yang pas untuk memuaskan kegemaran Anda itu.  Kalaupun Anda hanya berniat mencari oleh-oleh, tidak usah khawatir karena banyak cenderamata unik, murah, dan meriah yang bisa Anda peroleh.

Bila melewatkan akhir minggu di Bangkok, kunjungilah pasar Chatuchak yang hanya buka Sabtu dan Minggu.  Cara mudah menuju tempat tersebut adalah naik BTS, turun di stasiun Mo Chit.  Setelahnya, tinggal keluar dari stasiun dan berjalan sedikit, dan voila, Anda telah tiba di pasar tradisional yang luas dan berpotensi cukup besar menyesatkan orang ini.  Telusurilah lorong demi lorong, menawarlah bila bisa, yang penting… tetap waspada, karena pencopet dan penjambret berkeliaran mengincar para wisatawan yang lengah.

Kalau tidak sempat menyambangi Chatuchak, jangan khawatir.  Di pasar malam dan kawasan-kawasan wisatawan seperti Nana Sukhumvit, mudah ditemukan toko atau kios kaki lima yang menjajakan barang-barang yang sama dengan yang dijual di Chatuchak.

Ingin berbelanja ‘gaya modern’?  Pusat-pusat perbelanjaan siap menyambut Anda.  Yang saya paling doyan kunjungi adalah kawasan Pathumwan Junction (naik BTS bisa turun di Siam Square atau National Stadium).  Sejumlah pusat perbelanjaan ternama yaitu MBK, Siam Paragon, dan Discovery Center merubung persimpangan tersebut.  MBK terutama sangat popular karena berbagai barang murah berkualitas bagus dan foodcourt yang memikat.  Di sini juga ada mushola untuk yang perlu menunaikan salat di tengah-tengah berwisata.

Siam Paragon lebih mewah daripada MBK, dan menjadi favorit saya antara lain karena di sinilah terletak salah satu cabang Kinokuniya Bangkok.  Saya juga menyenangi Paragon karena di bawah tanahnya terdapat foodcourt yang menyediakan makanan halal.  Terlebih dulu, tukarkan deposit uang (misalnya 200 Baht) dengan kartu magnetik, yang lantas Anda berikan kepada penjaga kedai makanan.  Deposit Anda akan dipotong sesuai harga makanan dan minuman yang Anda pesan.  Setelah selesai makan, tukarkan kembali kartu untuk memperoleh sisa uang.

Daya tarik lain Paragon adalah hypermarket Gourmet Market (tempat berbelanja kebutuhan sehari-hari ataupun oleh-oleh seperti cokelat) beserta kios-kios makanannya yang menggugah selera.  Ada pula Siam Ocean World yang memungkinkan kita seolah memasuki laut untuk melihat-lihat kehidupan di dalamnya.

Jembatan pejalan kaki yang menghubungkan MBK dengan stasiun BTS National Stadium dan Siam Paragon/Discovery.

Kalau soal makanan, jika Anda lapar saat sedang berjalan-jalan namun tidak ingin makanan berat, cobalah kunjungi kedai-kedai makanan di stasiun-stasiun BTS.  Macam-macam yang mereka tawarkan, mulai dari kue-kue manis sampai sushi siap makan.  Pokoknya, asal jangan disantap di dalam kereta.

Untuk yang ogah barang palsu atau KW2, produk bermerk asli Thailand yang saya rekomendasikan adalah Jim Thompson (kain, tas, dompet, dan lain-lain) serta arloji Link Graphix, yang menampilkan karya para desainer muda Thailand.

Menonton bioskop

Menonton bioskop?  Hmmm… apa istimewanya?  Ada sensasi tersendiri, lho.  Yang pernah saya coba adalah menonton di bioskop Paragon Cineplex.  Ukuran bioskopnya besar sekali.  Dan yang unik, sebelum pemutaran setiap film, terlebih dahulu diputar video yang berisikan kegiatan sang raja, diiringi lagu yang menyanjung-nyanjung beliau.  Selama video diputar, semua pengunjung, termasuk orang asing, harus berdiri sebagai tanda penghormatan.  Pengalaman ini cukup meninggalkan kesan bagi saya, yang berasal dari negeri yang tidak mengenal tata cara semacam ini.

Menonton pertunjukan malam

Nama Bangkok memang juga lekat dengan hiburan malam.  Sebagian orang mungkin akan langsung terkikik geli mengingat hiburan ‘nakal’ yang marak di sejumlah kawasan Bangkok, misalnya Patpong.  Namun jangan keburu menganggap hiburan malam Bangkok negatif semuanya, meski dibawakan oleh para waria yang sering dicap buruk di Indonesia.  Jangan salah, di Thailand, waria bisa memperoleh pekerjaan biasa seperti orang-orang lainnya, misalnya menjadi penjaga toko, tidak melulu sebagai penghibur jalanan atau tukang salon seperti yang menjadi stereotipe di Indonesia.  Dan kabaret waria adalah pertunjukan terhormat yang disiapkan dan diselenggarakan dengan serius, meski isinya bisa jadi mengocok perut Anda habis-habisan.

Teater kabaret waria yang terkenal di Bangkok adalah Calypso, yang menggelar pertunjukan setiap malam di Hotel Asia (naik BTS, turun di stasiun Ratchatewi, ada pintu keluar langsung ke dalam hotel tersebut).  Cobalah minta hotel memesankan tiket untuk Anda, atau coba pesan online di ThaiTicketMajor.  Tanpa makan malam, harga 1 tiket adalah 900 Baht termasuk first drink (ada teh atau kopi juga).  Tersedia pula merchandise Calypso yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan, misalnya DVD pertunjukan mereka.

Seusai pertunjukan, para pemeran kabaret akan berjejer rapi mengapit jalan menuju pintu keluar.  Anda boleh berfoto dengan mereka, namun jangan lupa selipkan sedikit uang tip ke tangan para artis.  Mereka ramah-ramah dan baik-baik, kok.  Tidak perlu merasa seram hanya karena mereka ‘waria’.  Ups, sebagian di antara mereka bahkan lebih cantik dari perempuan asli, lho!

Yang juga boleh dicoba adalah menonton pertunjukan Siam Niramit yang gegap-gempita.

Bersantailah

Jangan terlalu terburu-buru menyusuri Bangkok gara-gara bernafsu mengunjungi tempat sebanyak-banyaknya.  Temukan tempat yang nyaman, dan bersantailah sejenak, menikmati irama kota ini.  Saya punya dua tempat favorit untuk beristirahat sambil mencicipi minuman dan penganan di Bangkok.  Yang pertama adalah cabang Au Bon Pain di persimpangan  dekat Grand Palace.  Setelah berterik-terik menjelajahi Grand Palace, selalu menyenangkan rasanya memasuki gedung kecil berarsitektur Eropa ini dan memesan minuman dingin.

Bagian dalam Au Bon Pain dekat Grand Palace.

Tempat kedua favorit saya adalah cabang Subway merangkap Coffee World di dekat stasiun BTS Nana.  Meskipun meja dan kursinya bergaya restoran cepat saji yang tidak terlalu menghiraukan kenyamanan jangka panjang pengunjung, restoran yang buka 24 jam ini cukup menyenangkan untuk dijadikan tempat nongkrong.

Carrot cake juara dari Coffee World!

Kunjungi beraneka ragam wat

Saat berlayar di Chao Phraya, sempatkan meninjau Wat Arun alias ‘Kuil Fajar’, tempat Buddha Jamrud dahulu disimpan sebelum dipindahkan ke Wat Phra Kaeo di Grand Palace.  Dengan kapal, turunlah di Maharaj Pier, lalu ambil feri menyeberang sungai (tidak ada dermaga khusus feri turis di depan Wat Arun).  Bila Anda tidak gampang gamang, cobalah mendaki tangga yang curam sampai ke puncaknya.

Wat Arun alias ‘Temple of Dawn’

Di dekat kompleks Grand Palace, juga ada Wat Po yang bisa dicapai dengan berjalan kaki.  Di sinilah terdapat patung raksasa Buddha tidur, dan juga patung prajurit farang (orang asing) yang terlihat unik dengan penutup kepala mereka yang bergaya Barat.

Kepala sang Buddha tidur.

Genta di Wat Po.

Perhatikan betapa kecilnya manusia dibandingkan ukuran sang Buddha tidur.

Salah satu prajurit ‘farang’.

Jejeran patung Buddha di Wat Po.

Selain wat-wat yang popular tersebut, banyak pula wat lain bertebaran di seantero Bangkok.  Sebagian di antaranya tidak banyak dikenal wisatawan sehingga sepi pengunjung – yang justru membuat kita lebih bisa meresapi kekhidmatan tempat-tempat suci tersebut.  Kami pernah beruntung memperoleh seorang supir tuktuk yang mengantarkan kami ke beberapa wat yang jarang dikunjungi turis. Ia membawa kami ke Wat Ratchanatdaram Worawihan dan Wat Srakes Rajavaramahavihara.

Sampai-sampai biarawan di Wat Srakes Rajavaramahavihara bertanya kepada kami, “Dari mana tahu tempat kami ini ?”  Kami pun dipersilakan duduk agak lama di aula utama, di mana terpajang arca Buddha raksasa yang berwarna emas.  Orang yang memberi kami petunjuk menuju wat ini menyebutnya ‘Happy Buddha’.  Konon arca Buddha yang satu ini mendatangkan kebahagiaan dan keberuntungan bagi yang mengunjunginya.

Arca yang disebut ‘Happy Buddha’.

Tak hanya wat-wat ‘tersembunyi’, masih banyak tempat yang bisa Anda kunjungi dan kegiatan yang bisa Anda lakukan selama di Bangkok.   Ini hanyalah beberapa sumbangan gagasan kami saja.  Jangan segan berbagi pengalaman Anda di Bangkok dengan kami, ya!

Mencari yang Halal di Beijing

This post is about China

Salah satu pertanyaan yang paling kerap diajukan pemeluk Islam yang hendak bepergian ke Cina barangkali adalah, “Di sana makannya susah nggak sih?”  Terbayang dalam benak berbagai hidangan Cina yang menggunakan daging atau lemak babi sebagai bahannya.  Ada pula yang mengkhawatirkan  daging hewan lain yang disembelih tidak dengan menyebut nama Allah.  Lalu, oleh-oleh makanan apa yang aman untuk dibawa pulang dari Cina, untuk dibagikan kepada teman-teman dan handai-taulan?

Agama Islam telah cukup lama menjadi bagian dari kehidupan bangsa Cina.  Beberapa suku minoritas, misalnya Uighur, hingga kini memeluk Islam.  Di Beijing ada satu kawasan – Niujie, dengan niu berarti kerbau – yang merupakan pusat warga Beijing yang beragama Islam.  Letaknya juga tidak jauh-jauh amat dari pusat kota tua.  Bila naik metro, bisa turun di Caishikou, Taoranting, dan Changchunjie, lalu berjalan kaki.  Agak jauh sih, tapi anggap saja sekalian melihat-lihat kiri dan kanan.

Barangkali kalau Anda sangat berhati-hati soal makanan, carilah tempat menginap di kawasan ini, karena mudah sekali menemukan kedai dan restoran hidangan halal.  Meskipun demikian, jangan kaget bila tempat-tempat ini juga menjual bir, minuman. yang banyak dikonsumsi warga Cina non-Muslim.

Papan nama supermarket Muslim Niujie.

More

Beijing, Tanpa Paket Tur

This post is about China

Pergi ke Beijing tanpa paket tur, praktis tidak sih?  Ya, bisa-bisa saja, asal Anda tidak keberatan berjalan jauh, naik-turun kereta atau bis, dan bersusah-payah sedikit.  Dengan perencanaan yang bagus, Anda bisa menghemat uang cukup banyak namun tetap dapat mengunjungi tempat-tempat yang sama dengan yang didatangi paket tur, bahkan mungkin dengan jadwal yang lebih leluasa.

Lapangan Tian’anmen dan Kota Terlarang

Sepertinya siapa pun yang berkunjung ke Beijing tak akan mau melewatkan kedua tempat yang berseberangan jalan ini.  Bila naik metro, Anda bisa turun di stasiun Tian’anmen West ataupun East.  Ikuti petunjuk menuju Lapangan Tian’anmen, yang terabadikan dalam foto-foto menggetarkan protes mahasiswa tahun 1989.  Siapa yang tak tergerak hatinya melihat seorang pemuda berdiri dengan gagah berani di depan tank yang siap melindasnya?  Namun kini untuk memasuki Lapangan Tian’anmen, jangan harap bisa membawa bahkan sekadar niat berdemo.  Pemeriksaan ketat terhadap tas dengan mesin sinar-X, dan juga pemeriksaan tubuh bila perlu, akan dilakukan oleh aparat yang berjaga-jaga di pintu-pintu masuk menuju Lapangan Tian’anmen.

More

Menilik Manila

Ingin tahu nggak, Manila itu seperti apa? Kali ini giliran Monyet Ajaib yang bercerita!  Tengok, yuk!  (dalam bahasa Inggris)

[Travel] Philippines 23 December 2010 - 5 January 2011 For the holiday, I decide to visit my family in the Philippines with my mom and my sister. We have separate departure because my mom wants to go there first and I have to wait for my work to be done and take a break from the office. My sister decide to go to Solo and Bali first before she fly to Manila, Philippines, on the 28th. I depart on the 22 midnight and arrive at Manila Ninoy Aquino International Airport 6 am in the morning. Christmas seas … Read More

via 101 Monkey Magic

Pesona Lanna di Chiang Mai

This post is about Thailand

“Lagi di Chiang Mai? Di Cina, ya?”

Kenyataan bahwa sebuah keluarga panda telah menjadi maskot Chiang Mai semakin tidak membantu banyak orang menempatkan letak geografis kota ini dengan benar.  Kota yang pernah menjadi tuan rumah SEA GAMES tahun 1995 ini sebenarnya terletak di utara Thailand, dekat perbatasan dengan Laos dan Myanmar.

Bila Anda berpikir, “Ada apa sih di Chiang Mai?  Jangan-jangan sama saja dengan Bangkok atau Phuket?”, moga-moga tulisan kami berikut ini bisa mengubah pikiran Anda.  Chiang Mai adalah sebuah kota yang layak dikunjungi dan menawarkan berbagai kekhasan, baik dari segi budaya, arsitektur, maupun alam.  Salah satu penyebabnya adalah Chiang Mai tadinya bukan merupakan bagian dari kerajaan Siam yang menjadi pondasi negara Thailand modern, melainkan kerajaan Lanna, yang memiliki kebudayaan tersendiri.  Baru tahun 1932 Lanna resmi menjadi bagian Thailand.

Pemandangan yang kami lihat dari pesawat

Tengoklah ke luar saat pesawat akan mendarat…

Ada sejumlah maskapai yang melayani penerbangan ke dan dari Chiang Mai, antara lain AirAsia, Bangkok Airways, dan Nok Air.  Sewaktu pesawat akan mendarat, di depan mata telah terpampang pemandangan menggetarkan yang langsung membuat saya yakin bahwa Chiang Mai pasti akan memberikan hal yang berbeda dibandingkan Bangkok yang terletak di dataran rendah: deretan pegunungan hijau.  Melihatnya saja sudah membuat hati adem.

Bila Anda hendak mencoba sarana transportasi lain menuju Chiang Mai, Anda bisa mencoba bis (dengan harga karcis sekitar 500 Baht) atau kereta api dengan tiket berkisar 700-an sampai 1300-an Baht, tergantung tipe kereta atau gerbong yang Anda pilih.  Dalam sehari, ada beberapa kali kereta meninggalkan Bangkok menuju Chiang Mai dan sebaliknya.

Sepotong tembok Chiang Mai

Sepotong tembok pelindung Chiang Mai tua yang masih ada.

Sesampainya di bandara internasional Chiang Mai, kami menggunakan taksi menuju penginapan kami.  Oleh karena Chiang Mai merupakan kota kecil, taksi bermeter dari bandara menetapkan tarif flat 120 Baht menuju kota.  Taksi ini tak banyak dijumpai di jalanan, sehingga untuk berkeliling Chiang Mai atau menuju atraksi-atraksi wisata yang agak jauh seperti Kebun Binatang, lebih baik menggunakan songthaew, angkot berwarna merah yang untuk gampangnya diinggriskan sebagai ‘taxi’.

Songthaew

Songthaew, si ‘taksi’ merah

Kami memesan kamar di Montrara Happy House, sebuah penginapan yang membuat kami tertarik lewat foto-fotonya.  Junior suite untuk tiga orang dihargai antara 1100-1200 Baht (tergantung apakah weekdays atau weekend, dan sedang peak season atau tidak), alias sekitar 380 ribu rupiah, termasuk sarapan Continental.  Dan kami sungguh tidak dikecewakan oleh pelayanan penginapan ini, yang meski terhitung sederhana dan murah namun tidak kalah dari hotel-hotel yang lebih mahal.  (Namun bila Anda merasa lebih nyaman menginap di hotel berbintang, di Chiang Mai juga sudah tersedia sejumlah hotel dari jaringan internasional.)

Pertama-tama yang membuat kami menyenangi Montrara adalah desain interiornya yang artistik, menampilkan berbagai pernak-pernik khas Lanna/Thailand.  Dari jendela kamar kami di lantai 4 pun terlihat pegunungan di kejauhan dan kanal yang mengelilingi Chiang Mai.  Ada AC, kulkas, TV kabel, dan kamar mandi yang bersih serta unik.  Rasanya enak sekali pulang ke kamar kami yang nyaman setelah lelah seharian berpetualang di sekitar Chiang Mai.

Ruang depan Montrara

Ruang depan Montrara, dilihat dari ruang makan

Tempat tidur utama di junior suite Montrara

Tempat tidur utama di junior suite Montrara

Tempat tidur tambahan

Tempat tidur tambahan di junior suite Montrara.

Kamar mandi Montrara

Kamar mandi junior suite Montrara – meja rias dengan kaca besar di sebelah kiri WC tidak terlihat.

Sarapan yang disediakan juga sehat dan mengenyangkan, cukup memberi kami energi untuk berkeliaran setengah hari.  Sang pemilik dan istrinya pun turun tangan sendiri melayani para tamu.  Staf penginapan selalu sigap membantu wisatawan-wisatawan yang rada culun seperti kami.

Sarapan di Montrara

Aduuuh… boleh nambah nggak ya sarapannya…

Bila hendak mencuci pakaian, ada dua binatu di dekat Montrara.  Satu terletak tepat di seberangnya, namun tutup pada hari Minggu.  Satu lagi terletak beberapa puluh meter jauhnya, setelah Hotel Amora.  Biaya binatu di Chiang Mai cukup murah, rata-rata 20 Baht tanpa setrika per kilo dan 35 Baht dengan setrika per kilo.  (Coba bandingkan dengan di Phuket, yang mematok harga 50 Baht tanpa setrika dan 80 Baht dengan setrika per kilo….) Waktu mencuci kira-kira 10 jam, sehingga bila Anda menyerahkan pakaian kotor pukul 8 pagi, kira-kira pukul 6 sore sudah bisa Anda ambil kembali dalam kondisi terlipat rapi dan harum.

Bagian depan Montrara

Luruuus saja ke arah sana dari depan Montrara, nanti di sebelah kiri ada binatu…

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, Chiang Mai sebenarnya kota kecil saja, kalah jauh dari Bangkok meskipun kota ini adalah kota kedua terbesar di Thailand.  Dengan berjalan kaki saja, Anda bisa puas mengelilingi Chiang Mai.  Jalan-jalan mobil tidak begitu ramai, sementara trotoar – termasuk yang lebar-lebar di tepian kanal atau sungai – sungguh membuat perjalanan menyusuri Chiang Mai nyaman. Agak mengingatkan saya kepada Hue di Vietnam, andaikan saja suhu Chiang Mai juga sedingin di Hue.

Salah satu taman dan sungai di Montrara

Tergoda tidak hendak menyentuh pantat patung gajah bahenol itu?

Sudut Chiang Mai

Salah satu penginapan/kedai di Chiang Mai

Salah satu kekhasan Chiang Mai adalah kota ini ‘banjir wat’.  Ada sekitar 30 wat (kuil) di kota lama yang dikelilingi tembok pertahanan berwarna merah, dan ada barangkali 50 lainnya di bagian kota yang lebih baru.  Ibaratnya, Anda menggelinding sedikit pun pasti ketemu wat.  Kami mengunjungi cukup banyak wat selama di sana, namun tak akan saya ceritakan semua.  Bisa-bisa jadi satu buku sendiri!  Saya akan menampilkan hanya beberapa di sini.  Dan bila Anda berpikir bahwa mengunjungi Grand Palace, Wat Pho, dan Wat Arun di Bangkok saja sudah sangat memuaskan, harap dicatat bahwa wat-wat di Chiang Mai memiliki gaya tersendiri, baik terbuat dari batu maupun kayu, dan sebagian di antaranya juga amat tua.  Sebagian bergaya Burma, karena Lanna memang pernah agak lama menjadi wilayah taklukan negara tersebut.  Dan karena bagi masyarakat Lanna menyimpan barang-barang peninggalan bangsawan membawa tulah sehingga harus disumbangkan ke wat, di sejumlah wat kita bisa menyaksikan objek-objek bersejarah itu dipamerkan.

Wat Ou Sai Kham

Wat Ou Sai Kham, yang menyimpan sejumlah patung Buddha dari giok.

Tak jauh-jauh, di jalan yang sama dengan Montrara, ada Wat Ou Sai Kham, yang menampung sejumlah patung Buddha dari giok.  Letaknya yang di jalan kecil memang membuat wat ini tidak begitu mencolok, namun Ou Sai Kham tetap saja indah dan menarik.  Senyum seorang biksu yang mempersilakan saya duduk beberapa lama dalam aula utama sungguh menyejukkan hati.

Wat paling terkenal di Chiang Mai barangkali adalah Wat Chedi Luang yang terletak kurang lebih di pusat kota (dan memang Pilar Kota juga terletak dalam kompleks ini).  Berdiri di depan bangunan utama (vihar) yang megah sudah cukup membuat diri ciut, apalagi memasuki aula besar di mana patung Buddha diletakkan.  Cobalah meresapi kekhusyukan jemaah yang datang beribadah.

Depan Wat Chedi Luang

Lampion warna-warni di depan Wat Chedi Luang.

Di belakang vihar raksasa ini, terdapat pagoda batu dari abad ke-14.  Puncaknya sayangnya sudah runtuh, namun bangunan yang tersisa masih memukau.  Ular-ular berkepala lima dari batu menguakkan mulut lebar-lebar, mengancam di kaki undak-undakan yang tak boleh didaki lagi karena kondisi.

Wat Chedi Luang

Bangunan kuno di latar depan, bangunan baru di latar belakang.

Ular kepala lima

Ular berkepala lima di kaki undak-undakan pagoda tua Wat Chedi Luang.

Di sana-sini di dalam kompleks Wat Chedi Luang, terdapat kotak-kotak sumbangan.  Anda bisa memilih menyumbang sesuai hari lahir (untuk keberuntungan), untuk membantu pengobatan biksu yang sakit, membiayai hidup anjing-anjing yang berkeliaran bebas dalam kompleks wat, dan lain sebagainya.  Wat Chedi Luang juga menyediakan program berbincang-bincang bersama para biksu.  Kita dipersilakan untuk membicarakan apa saja dengan mereka – mulai dari curhat sampai bertanya-tanya soal kebudayaan Thailand.  Wah… ada yang perlu saran mengenai cara mengatasi kesulitan hidup?

Toilet Wat Chedi Luang

Jangan lupa ganti alas kaki luar dengan sandal toilet, ya!

Satu lagi yang membuat saya terkagum-kagum adalah toilet yang tersedia di kompleks Wat ini benar-benar bersih – sampai-sampai disediakan sandal kamar mandi bagi tamu yang hendak menggunakan fasilitas yang dinaungi pepohonan rindang ini!

Di sebelah Wat Chedi Luang terdapat Wat Phan Tao, dengan vihar utama dari kayu jati.  Bagian atas pintu depan dihiasi burung merak, motif yang agak tak lazim di Lanna.  Di sebelah belakang terdapat pagoda putih bersih dan deretan lampion kertas berwarna-warni semarak.

Sebelah depan Wat Phan Tao

Vihar dari jati di bagian depan Wat Phan Tao

Pagoda putih Wat Phan Tao

Putih bersih berlatar biru langit.

Arca Buddha Wat Phan Tao

Arca Buddha Wat Phan Tao – perhatikan ubin lantainya.

Satu lagi wat yang cukup menarik adalah Wat Bupparam, yang dikelilingi patung-patung kecil binatang – termasuk sebuah patung Donal Bebek!  Bangunan-bangunan dalam kompleks ini juga terlihat berbeda dengan yang ada di Wat Chedi Luang maupun Wat Phan Tao.

Wat Bupparam

Wat Bupparam terlihat dari seberang jalan.

Wat Bupparam 2

Yah, setidaknya menara BTS di belakang itu berarti Anda tak akan kekurangan cara berkomunikasi di Chiang Mai.

Nah, itu baru sebagian wat yang kami kunjungi dan bisa kami sebutkan!  Ada banyak lagi kompleks peribadahan serupa dengan macam-macam gaya arsitektur, yang mungkin lebih menarik bila Anda cari dan temukan sendiri.  Bahkan karena ukuran Chiang Mai yang cukup kecil dan melimpahnya wat-wat itu, saya sarankan Anda tak usah terlalu mengandalkan peta atau buku panduan, termasuk tulisan saya ini.  Berjalanlah, dan temukan sendiri wat-wat yang barangkali tak tercantum di buku panduan mana pun di berbagai pelosok Chiang Mai.  Temukan wat favorit Anda sendiri – rasanya pasti akan lebih menyenangkan dan berharga!  Dan jangan khawatir tak punya informasi apa-apa mengenai wat itu, karena biasanya di masing-masing wat disediakan keterangan dalam bahasa Inggris.

Bila malam menjelang, saatnya beranjak ke pasar malam, alias ‘night bazaar’, satu lagi atraksi utama di Chiang Mai.  Pasar malam ini terletak di luar tembok kota lama, di seberang Kanal Mae Kha.  Meskipun ‘night bazaar’ yang asli berada dalam sebuah gedung khusus, di trotoar pun pedagang kaki lima bersesakan.  Banyak sekali barang menggoda yang mereka tawarkan dengan ciri khas Thailand Utara, misalnya tas, syal, kain tenunan, dan lain-lain.  Membeli produk-produk tersebut juga mendorong kemandirian ekonomi para pembuatnya, wanita-wanita desa Utara.  Selain itu ada pula produk-produk kreatif seperti kaus oblong, kartu ucapan, dan gantungan kunci, dengan desain tak kalah dari ‘kota besar’.

Night bazaar Chiang Mai

Setiap lantai night bazaar Chiang Mai dikhususkan untuk kelompok produk berbeda.

Stand night bazaar

Yak, ditawar ditawar… (saya masih kepikiran tas burung hantu itu).

Untuk yang beragama Islam, di samping bangunan pasar malam Kalare ada sebuah masjid, bila Anda perlu salat sebelum melanjutkan jalan-jalan.  (Di bandara juga ada mushola, kalau-kalau Anda hendak salat sebelum pesawat lepas landas.)

Puas melihat-lihat wat dan berbelanja di pasar malam, jangan lupa menengok panda.  Sekarang rasanya tak mungkin menyebut Chiang Mai tanpa teringat mamalia yang satu ini.  Penyebabnya adalah tiga ekor panda – Chuang-chuang dan Lin Hui serta anak mereka, Lin Ping – yang dipelihara di Kebun Binatang Chiang Mai.  Letak kebun binatang ini agak jauh dari pusat kota, sehingga tumpangilah songthaew dengan membayar 30 Baht per orang sampai ke depan pintu gerbang kebun binatang.  Menyebut ‘zoo’ pun para supir songthaew paham kok.

Depan kebun binatang

Sebelah depan kebun binatang Chiang Mai. Gajah, gajah di mana-mana!

Akuarium Chiang Mai

Akuarium Chiang Mai, yang terletak dalam kompleks kebun binatang.

Harga tiket kebun binatang bervariasi, tergantung pada apa yang hendak Anda kunjungi dan fasilitas apa yang hendak Anda gunakan.  Biaya masuk 100 Baht, bila ingin melihat panda dan snowdome tambah 100 Baht lagi, dan juga ada biaya lagi untuk masuk ke akuarium, serta 20 Baht untuk memanfaatkan tramcar.  Saran saya, tak perlu ‘sok jago’ atau ‘sok hemat’ sehingga ogah membayar biaya lebih untuk tramcar, karena kebun binatang Chiang Mai sangatlah luas, dan dibangun mengikuti kontur perbukitan.  Jarak satu kompleks ke kandang lain bisa beberapa ratus meter, naik-turun pula!  Untuk yang tak terbiasa, bisa gempor bila tidak menggunakan tramcar!

Tramcar kebun binatangP

Para supir tramcar kebun binatang tampaknya gemar bercerita lucu yang mengundang tawa penumpang. Sayangnya kami tidak mengerti bahasa Thailand.

Toko suvenir kebun binatang

Tempat tramcar ‘ngetem’ dan toko suvenir kebun binatang.

Sebagian hutan di dalam kebun binatang dijaga tetap alami.  Bagi Anda yang punya waktu cukup banyak dan lebih berjiwa petualang, Anda bisa berkemah, menyusuri jalan setapak dengan kaki ataupun menunggangi gajah.  Banyak pula kegiatan untuk anak-anak, kalau-kalau Anda membawa anggota keluarga Anda yang masih belia ke sana.

Ling Ping

Duduk saja pun, panda tuh lucu ya…

Kandang panda dan koala disponsori LOTTE – yang kebetulan punya produk-produk bernama Hello Panda dan Koala’s March.  Menyaksikan tingkah-polah lucu si panda kecil, Ping, sungguh membuat hati riang.  Bila beruntung, Anda juga bisa berfoto bersama koala.  Sayang sewaktu kami datang, si koala yang jadi bintang foto baru saja makan, dan akan tidur siang.  Padahal koala bisa tidur 20 jam!  Waduh, memang bukan keberuntungan kami nih.  Namun tak perlu khawatir kehabisan ‘tontonan’, karena masih ada gajah, marmoset pigmi, pinguin, anjing laut, dan banyak lagi.

Kafe kebun binatang

Kafe kebun binatang, yang terletak lebih rendah, dekat sungai.

Sekadar peringatan, Anda tak diizinkan merokok di mana pun dalam kawasan kebun binatang.

No smoking

Kalau yang bilang ‘no smoking’ makhluk-makhluk selucu itu, tega melanggar?

Siang hari yang melelahkan di bawah sinar matahari paling enak diakhiri dengan minum teh dingin.  Maka itu kami melangkahkan kaki menuju Raming Tea House Siam Celadon, yang bersama sejumlah toko lain berbagi lokasi berupa sebuah rumah antik dari kayu jati yang telah direnovasi.  Anda bisa memilih untuk menyeruput teh Anda di dalam ruangan yang berdekorasi ala Eropa maupun di taman belakang yang rindang.  Bila ingin, Anda bisa membawa pulang daun teh dalam kemasan, baik yang teh tanpa embel-embel ataupun beraneka teh campuran dengan khasiat masing-masing.

Depan Siam Celadon

Gedung Siam Celadon adalah salah satu bangunan kayu jati yang dilestarikan.

Area bersantap

Area bersantap di sebelah dalam. Taman terlihat dari pintu yang terbentang lebar. Di sebelah depan, terlihat bangku ayunan.

Hidangan Siam Celadon

Cake macadamia, banana brownies, dan 3 jenis teh berbeda.

Tangga Siam Celadon

Tangga, kasir, dan sejumlah buah tangan yang bisa dibawa pulang.

Bagian tengah Siam Celadon

Bagian tengah tidak beratap. Di sebelah kiri dan kanan terdapat sejumlah toko lain.

Puas makan-minum dan membeli oleh-oleh, kami pun membayar dan beranjak keluar.  Astaga, bagian depan Siam Celadon sudah gelap-gulita, dan di pintu sudah tergantung tanda CLOSED.  Ternyata mereka sudah tutup dari tadi, tapi sama sekali tak mengusir kami!

Beberapa tempat makan lain yang bisa Anda coba adalah:

–          Thais That Bind, yang terletak tepat di seberang Wat Chedi Luang.  Ayam goreng ala timur laut Thailand-nya juara!  Es teh thai-nya juga amat menyegarkan.  Kalau mau mencicip makanan panda, coba deh pesan sayuran rebungnya.  Mungkin lidah Anda suka.  Lidah saya sih kurang nyambung dengan rasanya, hehehe.

Thais That Bind

Menu yang kami cicipi di Thais That Bind: ayam goreng ala timur laut, sayur rebung, dan tentunya… thai tea!

–          Pop Coffee House, yang menyajikan hidangan paket nasi dan lauk (sudah termasuk telur ceplok) dengan harga murah dan rasa menggoyang lidah.  Es kopi susunya juga nikmat.  Pop adalah bagian dari perusahaan yang juga menyewakan sepeda motor, sepeda, dan mobil untuk berkeliling Chiang Mai.

–          Ratana’s Kitchen yang juga menyajikan makanan yang terasa ringan di kantong wisatawan yang tak berkocek tebal, namun buat saya rasanya masih kalah dari Pop.

–          The Corner yang betul-betul terletak di sudut jalan dan banyak disambangi para pencari sarapan dan kopi.

Kalau Anda kurang suka bereksperimen rasa dan lebih gemar makan-minum yang pasti-pasti saja, ada sejumlah gerai waralaba atau chain store internasional seperti McD dan Starbucks kok di Chiang Mai.

Jalan depan Montrara

Di mana-mana, terdapat toko buku bekas, bahkan yang saling menempel.

Satu lagi kekhasan Chiang Mai adalah sekian banyak toko buku bekas yang bertebaran di seantero kota.  Toko-toko itu ada di mana-mana, termasuk di jalan tempat Montrara berada.  Bila beruntung, Anda bisa menemukan buku incaran Anda dengan harga murah dan kondisi sangat bagus.

Sebenarnya masih banyak kegiatan dan tempat menarik di Chiang Mai yang belum kami jajal, tapi biarlah waktu yang terbatas menyebabkan semua itu kami simpan untuk lain kali.  Namun ternyata godaan Chiang Mai belum berhenti di bandara.  Sewaktu kami hendak terbang ke Phuket, hati melompat riang namun dompet menjerit frustrasi melihat sejumlah toko berinterior memikat mata di bandara.  Toko-toko itu menawarkan sejumlah oleh-oleh seperti penganan, teh, dan kopi.

Kanom Ban Arjarn

Toko Kanom Ban Arjarn di Bandara Internasional Chiang Mai.

Pia dan teh

Pia Kanom Ban Ajarn dengan berbagai isi… hmmm, nikmat!

Cobalah teh beraneka rasa seharga 12 Baht saja, atau belilah kue pia atau kue bunga sebagai buah tangan dari Kanom Ban Arjarn Confectionary.  Bila lebih memilih teh atau kopi, ada Lanna Tea dan Papa’s + Mama’s.  Jadi, bila ke Chiang Mai… jangan keburu habiskan lembar-lembar THB itu di kota!  Siapa tahu justru hati Anda kepincut cendera mata di bandar udara…

Arca

Cantik, seperti Chiang Mai.

Ciwalk

This post is about Indonesia

Bandung sudah lama terkenal sebagai salah satu kota belanja favorit penduduk Jakarta (yang kerap membanjiri kota kecil ini dengan kendaraan berplat nomor B kala akhir minggu atau musim liburan).  Dan sejak dibukanya rute Kuala Lumpur-Bandung oleh AirAsia, tampaknya Bandung juga akan semakin diramaikan oleh pengunjung dari negeri jiran. Wajar kalau kota Bandung memang harus banyak berbenah diri, termasuk menyediakan (semakin banyak) tempat perbelanjaan yang nyaman dan bisa memikat para wisatawan.

Middle of Ciwalk
Saya langsung menyukai Ciwalk begitu mengunjungi tempat perbelanjaan di Cihampelas ini untuk pertama kali.  Dari luar, sepertinya memang tidak meyakinkan, karena yang bisa kita lihat hanyalah sepotong bagian muka yang agak tersembunyi di antara toko-toko yang bersisian rapat di Cihampelas.  Namun begitu melangkah masuk… wow!

Ciwalk front

Yang paling saya suka dari desain Ciwalk adalah pemanfaatan ruang yang tersedia dan iklim Bandung yang sejuk.  Bukan bangunan kubus besar yang ganas menjulang di tengah-tengah kota dan tampak tidak serasi dengan sekelilingnya, melainkan hanya sekumpulan bangunan yang tidak terlalu tinggi (kecuali hotel-butik di sebelah belakang).  Pohon dan tanaman bebungaan (yang sepertinya sih tak bakal kuat tumbuh di Jakarta yang panas) menyemarakkan koridor-koridor Ciwalk.  Konsep udara terbuka ini juga berarti menghemat listrik untuk AC dan penerangan, meski mungkin akan sedikit jadi masalah bila hujan.  Hei, tapi hujan seharusnya juga merupakan bagian Bandung yang harus dinikmati, bukan?

Ciwalk inside

Saat ini memang belum seluruh bagian Ciwalk selesai, namun saat ini pun sudah ada sejumlah restoran, kafe, toko, dan kios, serta cabang salah satu jaringan bioskop ternama yang sudah buka.