Danau Haruna yang tertidur, Februari 2016

Di kereta yang melaju ke arah Gunma siang itu, saya menatap ke luar, bertanya-tanya kepada diri sendiri kenapa saya sebelumnya tidak pernah mendatangi Gunma. Padahal prefektur yang dikelilingi daratan itu adalah tetangga Tokyo, tempat saya tinggal dulu. Barangkali yang dekat-dekat justru sering kali tidak terasa mendesak untuk dikunjungi.

Dan, yah, saking dekatnya, perjalanan kereta ke Takasaki—salah satu kota di Gunma—itu tidak terasa seperti perjalanan ke luar kota. Bentangan urban Tokyo menjalar ke mana-mana, nyaris tak terputus rasanya sampai ke Takasaki. Ketika tiba di Takasaki, seolah-olah saya hanya habis naik kereta dari satu titik ke titik lain di Tokyo, apalagi saya hanya menggunakan kereta biasa. Perjalanan kira-kira memakan waktu satu setengah jam dari stasiun keberangkatan saya di Tokyo—kalau tidak salah, Ikebukuro. Lucu memang, ingatan saya tentang kereta mana yang saya naiki kabur sekali. Habisnya, ya itu, rasanya seperti naik kereta dalam kota saja.

More

Advertisements

Hannou, Februari 2015: Yang turut mekar berkat bunga Edo

This post is about Japan

Halo, apa kabar? Selamat tahun baru 2017! Lama tidak bersua. Sudah lama juga ya saya tidak menulis di blog ini. Selain karena tingkat kesibukan pekerjaan yang lumayan tinggi dalam beberapa bulan terakhir di tahun 2016, saya juga barusan kembali dari Jepang setelah berkeliaran di sejumlah daerah di Pulau Kyushu dan Pulau Shikoku. Nanti tentunya saya juga akan bercerita tentang perjalanan terbaru saya itu, tapi sekarang saya akan berbagi cerita tentang perjalanan-perjalanan saya sebelumnya, ya. Kali ini saya ingin bercerita tentang Hannou.

hannou11 More

Istana Akasaka, Februari 2016

akasaka04

Sebenarnya masih banyaaak sekali ‘tabungan’ cerita saya tentang Jepang dari tahun 2014-2015. Tapi kali ini kita melompat dulu ya ke tahun ini, tepatnya ke bulan Februari 2016. Soalnya, bulan lalu, berkat info dari seorang teman (thanks, Dira!) saya berkesempatan mengunjungi Istana Akasaka, yang hanya dibuka untuk umum pada waktu-waktu tertentu. Jadi saya tulis ini cepat-cepat, agar kalau-kalau Anda akan mengunjungi Jepang, Anda bisa cek apakah istana ini sedang terbuka untuk umum atau tidak.This post is about Japan

Oya, foto-foto yang saya hadirkan di sini hanya foto-foto dari sebelah luar istana. Di dalam istana, tidak boleh mengambil foto. Barangkali untuk menjaga kerahasiaan juga. Maklumlah, istana ini sebenarnya masih menjalankan fungsi penting, yaitu sebagai tempat penginapan tamu negara.

More

Tepi sungai dan es serut di Nagatoro, Mei 2015

This post is about Japan

Saya belum pernah sebelumnya mendengar tentang Nagatoro. Kota kecil di prefektur Saitama ini hanya berpenduduk 8.000-an orang, dan rasa-rasanya tidak banyak diperbincangkan di antara turis asing. Namun bagi turis domestik, terutama yang bertempat tinggal di sekitar Kanto, Nagatoro cukup populer, apalagi saat musim panas.

iwadatani02

More

Shibazakura di Hitsujiyama, Mei 2015

This post is about JapanSebenarnya, saya sudah gatal ingin menulis tentang Jepang di musim dingin. Namun, saya pikir ada baiknya menyelesaikan dulu tulisan tentang Jepang di awal musim panas (2015) ini. Setelah sebelumnya membahas soal Jogasaki Kaigan dan kota Ito di Semenanjung Izu, kini saya ingin bercerita soal sungai dan pegunungan di Saitama.

hitsujiyama02Memang sih, kalau mendengar kata ‘Saitama’, banyak yang teringat akan karakter sebuah serial manga dan anime populer… bukan, bukan dia yang saya maksud! Kebanyakan orang mengaitkan prefektur ‘Saitama’ sebagai prefektur tetangga Tokyo yang ‘biasa banget’, karena bayangannya lebih kepada ibukotanya, yang namanya juga Saitama. Penggemar musik mungkin mengenal Saitama Super Arena, namun selain itu, apa lagi hayo yang kita tahu dari Saitama? Oke, ada Kawagoe, ‘Little Edo’, yang sebelumnya pernah saya bahas. Selain itu? Daerah Saitama yang merupakan suburban Tokyo tidak terasa istimewa-istimewa amat, bahkan bila kita menyambanginya, kita mungkin belum merasa keluar dari Tokyo karena kotanya ya mirip-mirip saja dengan Tokyo.

More

Gunung Takao: rumah para Tengu 2013

This post is about Japan

Terutama di akhir minggu, saya kerap menjumpai orang-orang yang berpenampilan siap mendaki gunung menaiki kereta Chuo Line ke arah luar Tokyo. Mereka adalah penduduk ibukota yang ingin menghabiskan hari libur dengan hiking di beberapa gunung yang mudah tercapai dari Tokyo – salah satunya adalah Takao-san, alias Gunung Takao. Gunung ini populer di kalangan orang Tokyo bukan hanya karena pemandangannya yang mengesankan, terutama di musim semi dan musim gugur, melainkan juga karena mudah dijangkau. Dari Tokyo atau Shinjuku, cukup naik Chuo Line menuju stasiun Takao. Gunungnya juga tidak terlalu tinggi, hanya 600 meter kurang semeter, sehingga seluruh kunjungan ke sana bisa dituntaskan dalam satu hari.

takaosan-02

Saya sendiri ke Takao karena tidak mau kalah. Ceritanya, asosiasi yang mempertemukan mahasiswa Jepang dan mahasiswa asing di kampus saya akan mengadakan acara jalan-jalan ke Takao beramai-ramai. Saya kok ya malas kalau perginya bersama rombongan besar, tapi saya juga tidak mau kalau hanya kebagian cerita saja. Akhirnya sebelum jadwal keberangkatan mereka, saya berangkat sendirian ke Takao!

More

Festival Sejuta Cahaya Kawagoe 2014

This post is about Japan

Prak prok, prak prok, terdengar suara langkah kaki prajurit-prajurit Romawi menyusuri jalan aspal yang panas membara diterpa sinar matahari bulan Juli yang gila-gilaan. Lho… tapi… tunggu sebentar. Memangnya saya saat ini sedang berada di mana, dan kapan?

kawagoe01

Yah, sebenarnya saya sedang berada di Kawagoe (川越), sebuah kota kecil yang terletak tidak begitu jauh dari Tokyo. Julukannya adalah Koedo – Edo kecil, karena ada sejumlah bagian kota dengan bangunan-bangunan zaman Edo (nama lama Tokyo) yang masih terlestarikan dengan baik di kota ini. Kawagoe memang memiliki nuansa Edo yang cukup kental, karena di zaman Edo (1603-1867) kota ini memang punya peran penting dan hubungan baik dengan Edo.

kawagoe02

Jadi lucu juga ya, hendak melihat wajah lama Tokyo, justru harus pergi agak ke luar kota sedikit. Tapi dengan lama perjalanan hanya sekitar tiga puluh menit dari kota Tokyo, Kawagoe terhitung tidak jauh kok, dan bisa dijadikan salah satu pilihan daytrip yang menghadirkan nuansa berbeda dari Tokyo. More

Yokohama (1): Yamate dan Motomachi

This post is about Japan

Sewaktu sedang membaca-baca tulisan-tulisan terdahulu di blog ini untuk memeriksa daerah-daerah Jepang mana saja yang sudah pernah saya bahas, saya terkejut sendiri menyadari saya belum pernah menulis secara mendalam tentang Yokohama. Kok lucu ya, saya membatin sendiri, padahal Yokohama adalah salah satu kota yang paling saya senangi di Jepang. Dibandingkan Tokyo yang terasa agak klaustrofobik dengan gedung-gedung tingginya yang berdiri rapat-rapat, Yokohama terasa lebih lega. Udaranya berhawa laut yang menyegarkan, mengalir melalui jalan-jalan entah itu yang lebar dan terbuka dengan gedung-gedung modern menjulang yang berdiri renggang satu sama lain di kanan kirinya, ataupun yang kecil dengan trotoar batu yang luas dan tempat-tempat makan kecil yang nyaman.

yokohama2014-25

Namun sewaktu saya mengutarakan pujian mengenai kota tersebut kepada teman yang berdiam di Yokohama, lekas ia menukas, “Ah, ya itu kan di bagian-bagian situ-situ saja yang bagus. Di Minato Mirai dan sekitarnya itu kan? Yang banyak dikunjungi wisatawan. Kalau kayak di daerah tempat aku tinggal ya biasa-biasa saja.”

More

Kebun Binatang Tama Mei 2014

This post is about Japan

Ya ampun.

Sewaktu saya membuka kumpulan foto saya, dengan maksud untuk (akhirnya) melanjutkan menulis pengalaman saya di blog ini, terperanjat saya menyadari bahwa sudah setahun berlalu sejak saya mengunjungi Kebun Binatang Tama – alias Tama Zoo, alias Tama Doubutsuen. Sedemikian banyakkah waktu saya yang tersisa oleh kehidupan sehari-hari sampai-sampai foto-foto ini menanti sampai setahun sebelum saya tengok lagi?

Baiklah, memang pada dasarnya tidak akan ada tulisan yang jadi bila saya tidak menggerakkan jari-jari saya untuk menulis – atau tepatnya, mengetik. Jadi, sambil meminum Lipton Royal Tea Latte di sebuah apartemen di Tokyo, marilah saya bercerita tentang kebun binatang yang satu ini.

tamazoo-03

More

Taman Showa Kinen, Tachikawa (2) – musim gugur 2014

This post is about Japan

Setelah menengok Taman Showa Kinen di musim semi dan musim panas, sekarang kita lihat yuk bagaimana keadaannya di musim gugur.

Salah seorang sensei saya memberi tahu bahwa di Showa Kinen terdapat deretan pohon ginkgo yang tampak sangat cantik pada puncak musim gugur. Terpikat oleh warna keemasan daun ginkgo yang nyaris gugur, saya pun kembali ke taman itu di pertengahan November 2014.

Wah, benar saja. Bahkan sebelum memasuki gerbang pun sudah terlihat pemandangan yang didominasi warna kuning dan merah pepohonan yang telah menarik klorofil mereka ke dalam batang, demi menghadapi musim dingin.

showakinen-autumn-01

Saya datang di hari yang tepat: langit sedemikian biru cerah, tidak berawan. Kontras warna kuning daun dengan langit tampak cantik sekali!

showakinen-autumn-02

More

Previous Older Entries