Georgetown: Warisan Budaya Dunia di Penang

This post is about Malaysia

Mengapa orang Indonesia bepergian ke Penang, yang, ngomong-ngomong, dibaca pinang?

“Kebanyakan untuk berobat, Mbak,” kata seorang penjaga minimarket tak jauh dari tempat saya menginap.  Si mas penjaga ini berasal dari Jawa.  Seperti juga banyak tenaga kerja asal Indonesia lain yang cukup mudah ditemukan di Penang, ia datang mengadu nasib ke negeri jiran karena merasa sudah sulit menemukan pekerjaan yang cocok baginya di tanah air.

Berobat – atau bekerja.  Sekilas memang itulah dua tujuan utama orang Indonesia berkunjung ke pulau yang terletak di lepas pantai sebelah barat Malaysia Barat ini.  Namun semakin banyak yang datang untuk berwisata, apalagi sejak AirAsia membuka penerbangan langsung dari Medan, Surabaya, dan Jakarta ke Penang.  Jadi tidak perlu ke Kuala Lumpur dulu baru naik bis atau kereta selama beberapa jam menuju pulau tersebut.  Bahkan frekuensi terbang AA dari Jakarta telah ditambah menjadi dua kali sehari, sehingga cukup nyaman untuk yang merencanakan perjalanan.

Pembatas buku dari Cheong Fatt Tze; contoh tiket bis Penang; kupon taksi bandara; gantungan kunci gratis dari Owl Museum; kartu nama Coob Cafe yang berbentuk seperti tiket kereta Japan Railways; kartu pos gratis dari Kongsi Khoo; tiket masuk Owl Museum; tiket trem Bukit Bendera.

More

Benteng Heritage Museum, Tangerang

This post is about Indonesia

Di sisi Jakarta, ada tiga wilayah yang menyandang nama ‘Tangerang’.  Dua di antaranya kota: Tangerang dan Tangerang Selatan; sementara satu lagi berstatus kabupaten.  Kadang-kadang ini memang membingungkan.  Apabila saya secara singkat menyebutkan rumah saya ada di Tangerang (dan yang saya maksudkan adalah Tangerang Selatan), banyak yang mengira rumah saya ada di Kota Tangerang.  Namun kedua wilayah ini berbeda, dan jaraknya dari ujung ke ujung lumayan jauh pula.  Setidaknya, jarak dari rumah saya ke kawasan kota tua Tangerang, di mana Benteng Heritage Museum (BHM) terdapat.

Kawasan kota tua Tangerang dikenal juga sebagai kawasan ‘Benteng’, asal-muasal sebutan ‘ciben’ alias ‘Cina Benteng’ untuk orang-orang Tionghoa yang sejak lama bermukim di daerah tersebut.  Konon dahulu memang ada benteng yang berdiri di wilayah yang kini menjadi kota tua Tangerang.

Trotoar dan taman yang banyak ditemukan di Kota Tangerang.

Malangnya, di masa lalu, meskipun telah berabad-abad tinggal di  Tangerang sejak nenek moyang mereka pertama kali mendarat di Teluk Naga, para ‘ciben’ kerap mendapat diskriminasi dan pelecehan, dan beberapa kali pula terjadi tragedi berdarah.  Misalnya, pada 1942, di masa penjajahan Jepang, rumah-rumah warga Tionghoa Tangerang dijarah.  Berbagai benda berharga hilang, termasuk warisan keluarga seperti guci abu leluhur dan papan nama leluhur.  Tahun 1946, di masa awal republik ini, fitnah bahwa ada orang Tionghoa menurunkan bendera merah-putih di Tangerang berbuntut pembantaian besar-besaran terhadap ‘ciben’.  Diperkirakan ada 600 orang tewas.

Kaum peranakan ini pun dahulu dianggap lebih ‘rendah’ oleh orang-orang Tionghoa yang bermukim di Jakarta, karena kulit mereka yang lebih gelap dan dialek mereka yang dianggap ‘aneh’, hasil percampuran dengan suku-suku bangsa lainnya di sekitar Tangerang.  Sampai sekarang, bila Anda bertandang ke Kota Tangerang, Anda akan bertemu dengan orang-orang Tionghoa yang berbicara dengan logat Sunda, juga beberapa logat lain yang digunakan penduduk Banten.

Berbagai kisah masa lalu masyarakat Tionghoa Tangerang, juga contoh artefak dan produk budaya mereka hingga kini, bisa kita nikmati di museum yang baru resmi dibuka tahun 2011 lalu, yaitu Benteng Heritage Museum yang terletak di Pasar Lama Tangerang.  Awalnya, museum ini adalah dua rumah bersisian yang berhasil dibeli oleh Bapak Udaya Halim dan direstorasi besar-besaran oleh tim beliau.  Pak Udaya bertumbuh besar di Pasar Lama Tangerang, dan berniat menyelamatkan warisan budaya Tionghoa Tangerang termasuk bangunan-bangunannya.  Masih ada beberapa rumah lagi yang hendak beliau selamatkan, termasuk rumah ketiga yang sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian rumah yang dijadikan museum.

Sejumlah rumah lama yang masih bisa Anda lihat di kawasan Pasar Lama Tangerang – yang dulu juga disebut ‘Petak Sembilan’, seperti kawasan pecinan di Jakarta.

Dari Cikokol, saya naik angkot berwarna biru-kuning dan meminta supir angkot menurunkan saya di Pasar Lama.  Ia menurunkan saya di depan sebuah gang kecil.  “Betul di sini, Bang?”  tanya saya.

“Betul.  Lewat gang ini saja, nanti tembus di Pasar Lama.”

Pertama-tama saya agak ragu, namun sang supir angkot memang tidak berbohong.  Gang itu betul tembus ke Pasar Lama.  Namun meski saya sebut ‘gang’, jangan kira wujudnya adalah jalan kecil yang kotor dan becek.  Di Kota Tangerang, gang-gang sekalipun sebagian besar sudah berlapis conblock sehingga enak disusuri.  Dan berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kecil ini, sambil memperhatikan rumah-rumah tua dan kesibukan masyarakat Tangerang, terasa menyenangkan.

Di dekat tempat saya turun, ada sebuah gerbang merah yang digantungi lampion.  Di balik gerbang itu ada tangga yang menuju ke pelataran yang tidak seberapa luas, dengan sebuah altar kecil tempat orang-orang bisa bersembahyang.  Dulu di sini berdiri apa yang disebut Tangga Djamban, hasil sumbangan 81 orang warga Tionghoa Tangerang.  Pada tahun 2009, tangga tersebut telah hancur total, namun pada tahun 2010 didirikan lagi atas inisiatif masyarakat, dan toapekong kali pun diletakkan di situ.  Prasasti yang memuat nama ke-81 penyumbang Tangga Djamban diangkut ke Benteng Heritage Museum, dibersihkan dan kini dipajang di lantai dua bangunan tersebut.  Pengunjung yang datang seringkali antusias ketika melihat nama marganya juga tercantum di prasasti itu.

Tangga Djamban.

Toapekong kali.

Plakat peresmian toapekong kali tahun 2010.

Pemandangan Sungai Cisadane yang lebar dan relatif bersih meski airnya berwarna kecokelatan sungguh membuai mata.  Memang satu lagi kelebihan Kota Tangerang adalah kawasan bantaran sungainya yang cukup terawat, dilengkapi kawasan hijau dan trotoar.  Masih terlihat sampan-sampan dan para pemancing di sungai tersebut, juga orang-orang yang berjalan-jalan menikmati pemandangan sungai.  Bila sedang perayaan Peh Cun, di sungai ini diselenggarakan perlombaan perahu naga.

(Trotoar dan taman memang merupakan kelebihan lain Kota Tangerang.  Di sebagian ruas jalan, trotoar berdampingan dengan taman-taman yang dilengkapi bangku, tempat sampah, landasan bermain skateboard, lapangan basket, dan sarana  permainan gimnastik.)

Saya mengikuti gang yang ditunjukkan sang supir angkot menuju Pasar Lama.  Tidak jauh kok jalannya.  Pasar Lama sampai saat ini memang masih berfungsi sebagai pasar tradisional di pagi hari.  Mungkin karena itulah BHM juga buka siang hari, sejak pukul 1 di hari biasa dan pukul 11 di akhir minggu, namun tutup di hari Senin.  Ketika saya tiba, pasar tersebut sudah sepi.  Hanya tersisa beberapa pedagang yang sedang membereskan dagangan.

Tampak depan Benteng Heritage Museum.

Rumah di sebelah kiri belum berhasil dibeli oleh museum, namun direncanakan demikian, agar museum menjadi kesatuan utuh.

BHM mudah ditemukan karena tampak mencolok dengan cat dinding dan daun pintu serta kusen jendelanya yang masih terlihat mengilap.  Kita akan disambut oleh sepasang patung singa – jantan dan betina – yang berdiri mengapit pintu depan.  Gagang pintu tampak dihias diagram patkwa.

Salah satu patung singa penjaga pintu museum.

Gagang pintu depan.

Ruang depan merupakan tempat penyambutan tamu, di mana kita bisa membeli minum untuk melegakan haus, membeli karcis, dan memotret.  Ya, soalnya setelah melewati tempat penjualan karcis, kita tidak boleh mengambil foto.  Namun di ruang depan ini, juga ada sejumlah pajangan yang menunjukkan kehidupan Kota Tangerang di masa lalu, untuk semakin menggelitik rasa ingin tahu kita.

Lantai dasar berlapis ubin kuno berwarna merah pudar.  Ketika lantai dibongkar sewaktu restorasi, penggalian sedalam 20 meter ternyata menemukan sejumlah artefak yang menunjukkan bahwa lama sebelum rumah tersebut didirikan, daerah Pasar Lama telah digunakan sebagai pemukiman.  Artefak-artefak itu kini dipamerkan di lantai dua BHM.

Di lantai bawah ini, disimpan sejumlah perabotan dan peralatan hidup sehari-hari seperti penggiling beras dari batu.  Juga ada gerbang bulan yang indah, namun sebenarnya bukan merupakan bagian asli dari rumah, melainkan ditambahkan saat restorasi.

Lantai bawah saja sudah cukup membuat tercengang.  Namun lantai dua BHM sungguh luar biasa!  Untuk naik ke lantai berikutnya, kita terlebih dahulu harus mencopot sepatu, sebab penggunaan alas kaki dikhawatirkan menggores lantai atas yang terbuat dari kayu.  Setelah mendaki tangga kayu yang cukup curam, kita pun tiba di lantai yang menyimpan sedemikian banyak harta warisan budaya.

Ada begitu banyak benda yang bisa kita lihat di lantai dua:

Mulai dari dachin (timbangan) dari yang kecil sampai yang bergagang panjang, sebab bisa digunakan merangkap sebagai pikulan;

kumpulan mesin tik, sempoa, jam dinding tua (salah satu di antaranya masih setia berdetak);

koleksi kain dan pakaian tradisional yang dipengaruhi budaya Tionghoa, misalnya kebaya encim;

Prasasti Tangga Djamban;

artefak berupa pecahan porselin, uang kuno, paku, dan lain sebagainya yang ditemukan tertanam di bawah museum;

sepatu-sepatu khusus yang dahulu dipakai oleh perempuan-perempuan yang kakinya diikat agar berukuran kecil, terkadang hanya sepanjang 3 inci (‘lotus feet’);

berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk upacara-upacara tradisional;

arca dan ikon berbagai dewa dan sang Buddha;

perabotan dan peralatan hidup sehari-hari; serta banyak lagi.

Loket pembelian tiket.

Ada pula ruang tempat menyimpan koleksi kamera kuno, gramofon, dan piringan hitam milik Pak Udaya, namun ruang ini hanya bisa kita masuki bila sang pemilik sedang berada di BHM.

Akan tetapi, barangkali harta paling berharga rumah ini adalah relief potongan cerita Sam Kok yang menghiasi bagian pinggir penunjang atap di sekeliling void rumah.  Relief yang menunjukkan kehebatan kriya kayu dan tempel-keramik ini mungkin tidak akan kita sadari seandainya kita tidak mendongak.  Keberadaannya sepertinya merupakan bukti bahwa museum dahulu merupakan rumah kongsi, karena tidak sembarang rumah boleh dipasangi relief seperti itu.  Keindahannya seperti mencuri napas saya sejenak.

Ruang depan museum.

Hal seru lain yang bisa kita lakukan di museum ini adalah mencoba membuka papan gerendel pintu menuju balkon di lantai dua.  Meski kelihatannya sederhana dan hanya terbuat dari kayu, jangan salah!  Bila kita tidak tahu caranya, sampai bego juga kita tidak akan bisa menggeser kedua gerendel itu sampai terbuka.  Sungguh karya pertukangan yang brilian!  (Kalau kita menyerah, pemandu akan memberi tahu kita cara membuka pintu, kok.  Contekannya tidak saya beri, ya… hehehe. )  Dari balkon, kita bisa melihat-lihat ruas jalan Pasar Lama yang merupakan urat nadi perdagangan Tangerang masa lalu.

Setelah puas melihat-lihat lantai dua, kita akan dituntun menuruni tangga yang berbeda, menuju ruang di mana kita dapat membeli berbagai buku dan kecap tradisional buatan Tangerang.  Nantinya ruang suvenir ini diharapkan bisa menjual lebih banyak lagi ragam cenderamata.

Kelar mengunjungi museum yang menyimpan kekayaan budaya ini, kita bisa berjalan sedikit ke arah kanan saat keluar dari rumah dan menengok Vihara Padumuttara/Kelenteng Boen Tek Bio, tempat sebagian penduduk lokal beribadah.  Bau dupa yang meruap meninggalkan kesan kuat dalam ingatan akan Kota Tua Tangerang yang begitu kental dengan budaya peranakan.

Bila kita mendekati dari samping, bangunan ini adalah Vihara Padumuttara…

…dari depan, Kelenteng Boen Tek Bio.

Informasi penting mengenai Benteng Heritage Museum

Jl. Cilame No. 18/20, Pasar Lama

Tangerang 15111, Banten, Indonesia

Telepon: +62 21 445.445.29

e-mail: info@bentengheritage.com

www.bentengheritage.com

Tur di Museum Benteng Heritage adalah tur berpemandu, berlangsung selama 45 menit, dengan jumlah setiap rombongan dibatasi 20 peserta.

Harga tiket umum Rp 20.000; mahasiswa/pelajar (wajib menunjukkan kartu pelajar) Rp 10.000; tur berbahasa Inggris Rp 50.000.

Museum buka Selasa – Jumat 13.00 – 18.00, Sabtu – Minggu 11.00 – 19.00, Senin tutup

Heritage Waroeng Kopi 10.00 – 20.00, menyediakan berbagai makanan/minuman khas babah/peranakan Tangerang (halal)

Sejarah Bangsa di Intramuros

This post is about The Philippines

“Maaf, saya terlalu banyak berbicara ya?”

Saya hanya tertawa mendengar pertanyaan supir taksi ramah yang nyaris tanpa putus mengajak saya mengobrol sedari bandara.  Berbagai hal ia tanyakan, mulai dari wajah saya yang menurutnya mirip wajah orang Filipina, sampai agama mayoritas di Indonesia.  Sebagai balasan, ia juga memberi tahu saya mengenai berbagai hal yang bagi saya baru sama sekali di Manila, misalnya bagaimana menumpangi jeepney, angkot ala Filipina yang menjadi salah satu ‘trademark’ negara tersebut.

Padahal sewaktu akan berangkat ke Filipina, saya sempat was-was juga.  Saya datang ke Manila untuk suatu urusan, namun ternyata acara tersebut batal, sementara tiket pesawat dan hotel tidak bisa saya gugurkan.  Akhirnya saya memutuskan tetap berangkat, sendirian, karena sayang betul kalau semua pesanan saya hangus.  Lagipula, tidak ada salahnya menapaki negara yang belum pernah saya kunjungi, kan?

Sedikit pemandangan Manila – tepatnya di Pasay City.

More

Menikmati Kontras Macau

This post is about China

“Macau is very very small.  It’s difficult to get lost in Macau, but it’s easy to lose.”

 

 

 

Macau Tower

Macau Tower.

 

 

 

Ucapan dalam salah satu pidato pembukaan konferensi penerjemah yang saya hadiri di Macau seolah merangkum pandangan orang banyak mengenai wilayah mungil yang merupakan bagian dari Republik Rakyat Cina tersebut.   Dalam benak umum, Macau (atau ada juga yang mengejanya Macao) hanyalah sebuah pulau kecil yang menjadi tempat berkumpul utama para penjudi Asia Tenggara dan Asia Timur.  (Sebetulnya, selain pulau Macau, ada pula pulau Taipa.  Kedua pulau ini dihubungkan oleh sejumlah jembatan megah.)

Bandara Macau

Bandara Macau di malam hari

Mosaik bandara Macau

Mosaik yang menghiasi bandara internasional Macau

Sepintas untuk pelancong yang tidak punya dana banyak, Macau bukan tempat yang menjanjikan.  Barangkali Hong Kong – yang hanya berjarak sejam naik feri dari Macau – tampak sebagai tempat wisata yang lebih menarik.  Namun sebenarnya, banyak hal lain yang ditawarkan Macau selain kemewahan kasino. Dan bahkan meskipun Anda tak niat berjudi, kemewahan itu bisa tetap Anda cicipi dengan gratis!

Salah satu sudut Macau

Lampion-lampion Cina menghiasi bangunan lama bergaya Portugis.

Macau memang telah lama menjadi tempat kontras hadir berdampingan: hidup bersama, tak saling menghancurkan, malah saling mendukung.  Lama menjadi jajahan Portugis, Macau memperoleh pengaruh yang berbeda dari Hong Kong yang dipegang Inggris berabad-abad sebelum dikembalikan ke Cina.  Pengaruh Portugis ini, dari segi arsitektur sampai makanan, paling terasa di kota tua Macau.

St Paul dari depan

Ya, saya tahu sudah ada ribuan foto seperti ini, tapi barangkali memang wajib memotret St Paul dari depan bila Anda mengunjungi Macau.

Oya, meskipun bahasa resmi di Macau adalah bahasa Kanton dan Portugis, hanya sedikit sekali orang Macau yang bisa berbahasa Portugis.  Yang bisa berbahasa Inggris dan bahkan membaca huruf Latin pun tidak banyak, meskipun di kalangan anak muda jumlah tersebut meningkat.  Oleh karena itu sebaiknya perlengkapi diri Anda dengan peta atau alamat dalam bahasa Kanton/tulisan Cina.

Papan nama jalan di Macau

Hati-hati, belum tentu semua penduduk Macau bisa membaca nama jalan yang tertera dalam huruf Latin.

Sebelum bercerita lebih lanjut tentang kota tua, saya akan berbagi info terlebih dahulu mengenai Macau secara umum.  Dari Jakarta, cara termudah menuju Macau adalah dengan maskapai penerbangan Mandala.  Kalau Anda senang bepergian dengan AirAsia, Anda harus ke Kuala Lumpur, Penang, atau Bangkok dulu untuk menumpang pesawat ke Macau.  Karena pesawat Mandala tiba larut malam di Macau, biasanya orang-orang menyarankan kepada Anda untuk bermalam di bandara saja.  Namun kalau sempat, tumpangi saja shuttle bus gratis ke Venetian Macau, kompleks kasino dan hiburan mahabesar yang terletak tak jauh dari bandara.  Habiskan malam di sana untuk melihat-lihat, bila Anda lebih memilih untuk tidak langsung bermalam.  Saya sendiri lebih memilih langsung ke hotel, Ole London, yang tergolong murah untuk ukuran Macau, dan juga strategis karena banyak atraksi wisata, termasuk kota tua, yang bisa tercapai dengan jalan kaki.

Shuttle bus Macau

Contoh shuttle bus yang disediakan oleh Venetian Macau

Ngomong-ngomong soal shuttle bus, nah ini tip yang sangat bermanfaat untuk Anda:  Persaingan bebas dan sengit antara berbagai kasino dan hotel mewah mendatangkan keuntungan berupa penyediaan shuttle bus gratis dari/ke bandara dan terminal feri.  Pandai-pandai saja memanfaatkan bis-bis tersebut untuk menghemat pengeluaran.

Bis Macau

Bis umum di Macau.

Kalaupun Anda harus naik bis umum, tarifnya cukup murah dan flat.  Bila Anda berputar-putar di Macau saja, tarifnya 3,20 dolar Hongkong atau pataca Macau (kedua mata uang ini dianggap setara, meskipun sebenarnya dolar Hongkong sedikit lebih mahal daripada pataca).  Bila menyeberang ke Taipa, tarif menjadi 4,20; bila sampai ke Coloane, 5,00; dan jika sampai ke Hac Sa, 6,40.

Taksi Macau

Taksi Macau biasanya men-charge lebih dari yang ditunjukkan argo.

Bila terpaksa menggunakan taksi, hati-hati.  Anda biasanya akan membayar lebih banyak dari yang tertunjuk di argo.  Bukannya para supir itu nembak harga, melainkan memang ada peraturan dari perusahaan, bahwa Anda harus membayar tarif tambahan bila menyeberang dari Macau ke Taipa atau Coloane dan bila meletakkan barang di bagasi.  Dengan tarif buka pintu (flagfall) 13 HKD, memang taksi terasa agak mahal, kecuali bila Anda beramai-ramai.

Akan tetapi, dengan modal kaki saja, banyak atraksi wisata yang bisa Anda sambangi.  Apalagi desain kota Macau sangat enak untuk ditelusuri dengan berjalan kaki, dengan trotoar-trotoar lebar yang dihiasi mosaik cantik.  Di sana-sini pun terdapat taman, sering kali dilengkapi peralatan kebugaran, yang bisa Anda gunakan untuk beristirahat bila lelah.

Trotoar Macau

Mosaik hitam-putih cantik menyusun trotoar-trotoar di Macau.

Yang lebih cerdas lagi, deretan pertokoan modern yang menempati bangunan-bangunan lama yang dilestarikan menghubungkan beberapa bangunan bersejarah di Macau, yang sebenarnya terletak agak berjauhan.  Dengan demikian, berjalan dari satu tempat ke tempat lain tidak terasa melelahkan, dan malah jadi ajang memanjakan mata dan, mungkin, menipiskan dompet.

Senado Square

Warna-warni Senado Square.

Peninggalan budaya paling terkenal di Macau adalah Senado Square atau Alun-alun Senat.   Gedung-gedung peninggalan Portugis yang masih dalam kondisi sangat baik mengundang decak kekaguman dan jepretan kamera.  Datanglah di sore dan malam hari, apalagi di akhir minggu, maka tak bisa tidak, Anda akan bersikut-sikutan dengan ribuan orang lain yang memadati alun-alun tersebut.  Namun datanglah pagi-pagi, dan Senado Square pun sunyi senyap: paling-paling hanya ada penduduk setempat yang membawa anjing mereka jalan-jalan, atau menuju Monte Fort untuk senam t’ai-chi.

Lorong menuju Senado

Salah satu lorong menuju Senado Square, senyap di pagi hari.

Menyusuri lorong-lorong yang bercabang-cabang dari Senado Square, kita bisa menemukan gereja St. Dominic yang berwarna kuning cerah, Katedral, Kantor Pos Pusat, dan berbagai bangunan bersejarah lain yang masih difungsikan.

St Dominic

St Dominic di persimpangan jalan.

Bagian dalam St Dominic

Bagian dalam St Dominic.

Pintu St Dominic

Dinding kuning St Dominic berpadu kontras dengan daun pintu dan jendela yang berwarna hijau.

Tengoklah kiri dan kanan, dan Anda akan menjumpai sejumlah kedai kue yang menjual penganan kebanggaan Macau, portuguese egg tart, dengan harga berkisar dari 5-6 dolar.  Guyur juga kerongkongan dengan berbagai jenis minuman teh dan kopi yang menyegarkan.  Harganya mulai dari 10 dolar, dengan ukuran yang cukup besar.  Bila ingin karbohidrat, boleh coba Ireland’s Potato yang menjual semangkuk kentang goreng seharga 10 dolar yang bisa dibubuhi bumbu bawang putih atau kari.

Kedai egg tart

Salah satu kedai yang menjajakan egg tart.

Egg tart dan teh

Egg tart hangat dan teh dingin, mmm…

Ireland's Potato

Karbohidrat praktis!

Sebuah cabang 7-Eleven juga menyempil di lorong menuju St Paul.  Untuk yang ingin menghemat biaya makan, 7-Eleven sungguh membantu.  Harga seporsi nasi dan lauk mulai dari 14 dolar, namun jangan keburu berpikir ini mahal: karena ukuran porsinya 2 kali ukuran porsi di Indonesia, alias besar sekali!  Kalau buat saya, cukup untuk makan siang dan makan malam sekaligus.

St Paul dari sudut lain

Undak-undakan di depan St Paul.

Dekat St Paul.

Alun-alun di antara St Paul dan Monte Fort.

Ikutilah tuntunan papan-papan petunjuk jalan dwibahasa menuju landmark Macau: reruntuhan gereja St Paul yang nyaris habis digempur saat Perang Dunia II, dan hanya menyisakan bagian depan yang tegak di atas undak-undakan.  Lalu, jangan sampai kalah dengan para kakek dan nenek Macau: dakilah tangga demi tangga menuju puncak benteng.   Pandanglah Macau berkeliling, dan nikmati kontras bangunan-bangunan tua yang berdempet-dempetan dengan kasino raksasa Grand Lisboa yang berbentuk unik di latar belakang.  Bagian dalam benteng kini merupakan Museum Macau, yang menyimpan banyak pajangan dan sajian mengenai sejarah Macau.

Sudut benteng Macau

Salah satu sudut benteng Monte Fort.

Latihan Taichi

Berlatih t’ai-chi di puncak benteng.

Meriam puncak benteng

Membidik Grand Lisboa dengan meriam di puncak benteng. Eh…

Museum Macau

Pintu masuk Museum Macau.

Selain yang sudah saya sebutkan di atas, masih banyak peninggalan bersejarah Macau yang bisa Anda nikmati, seperti Kuil A Ma, Barak Moor, dan lain-lain.  Sebagian bahkan mungkin tidak tercantum di peta wisata – tidakkah menyenangkan, tahu-tahu menemukan objek menarik terselip di tempat yang tidak Anda duga?  Dan bila Anda butuh keriaan, selalu ada berbagai macam festival dan acara menarik di Macau sepanjang tahun.  Berjalan kaki suatu malam dari Macau Tower menuju Grand Lisboa, saya mendapati dua festival – 1 festival makanan, 1 festival amal – sedang berlangsung disirami semarak cahaya warna-warni.

Festival makanan.

Festival makanan semarak warna-warni neon.

Puas menikmati bagian tua Macau, kini berpindahlah ke bagian baru yang bergelimang uang, namun tetap bisa kita nikmati tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.  Dari Senado Square, misalnya, Anda bisa berjalan kaki ke Grand Lisboa.  Masuk saja dengan percaya diri, dan tenggelamkan diri dalam pameran sejumlah karya seni yang indah di lantai dasar.

Pameran di Grand Lisboa.

Salah satu karya seni yang dipamerkan di Grand Lisboa.

Kemudian menyeberanglah melalui lorong bawah tanah ke Wynn.  Di kasino ini, mulai pukul 10 pagi, ada pertunjukan gratis Dragon of Fortune dan Tree of Prosperity setiap sejam sekali – sebenarnya berlangsung di tempat yang sama, hanya saja setiap setengah jam, pertunjukan yang ditampilkan berbeda.  Sebuah kubah di lantai akan membuka, memunculkan seekor naga atau pohon raksasa, yang masing-masing tampil selama sekitar 4 menit.  Selain itu, sejak jam 11 siang, setiap 15 menit sekali, di kolam di depan pintu utama hotel  ditampilkan pertunjukan air mancur dan api yang cukup menggetarkan.

Kubah naga

Dari dalam kubah di lantai itu, akan muncul naga raksasa…

Air dan api

Pertunjukan air dan api di depan Wynn.

Pertunjukan akrobat dan seni gratis juga Anda bisa nikmati di Venetian Macau, Taipa.  Venetian Macau menyediakan sejumlah teater untuk berbagai macam pertunjukan, dari stand up comedy sampai konser musik, dan juga Cirque du Soleil yang terkenal.  Anda juga bisa iseng melihat-lihat orang berjudi di dalam kasino, meskipun tidak boleh memotret.  Ada ketakjuban tersendiri mengamati betapa cepat uang hilang di atas meja-meja judi Macau – saya jadi teringat lagi penggalan pidato sambutan yang saya kutip di atas.

MU Experience

Manchester United Experience Store, Venetian Macau.

Penggemar  Manchester United boleh bersuka-ria di Manchester United Experience Store, yang tidak hanya menjual merchandise klub sepakbola tersebut, melainkan juga menawarkan pengalaman berada di kamar ganti dan lorong menuju lapangan seperti di Old Trafford.  Bila punya uang agak lebih, habiskan 15 menit menyusuri kanal-kanal buatan di dalam Venetian Macau dengan gondola, ditemani pengayuh gondola yang tak hanya tampan-tampan dan cantik-cantik, melainkan juga pandai bernyanyi.  Pengayuh gondola saya, Agostino, bahkan bisa mendendangkan Bengawan Solo!  Mengingat selama ini cukup banyak juga turis dari Indonesia, para pengayuh gondola ini rupanya sudah mempelajari sejumlah sapaan seperti ‘selamat datang’, ‘apa kabar’… dan bahkan memuji ‘cantik’!

Bagian dalam Venetian

Salah satu kanal yang merentang di dalam Venetian Macau.

Bila agak lelah dengan kebisingan Macau atau Taipa, tumpangilah bis bernomor 15, 21, 21A, 26, atau 26A (sebagian di antaranya bisa Anda naiki dari halte bis dekat Senado Square) menuju daerah pedesaan di Coloane, yang masih senyap dan santai.  Udaranya lebih sejuk dan bersih karena terletak lebih tinggi daripada kota Macau.

Alun-alun Coloane.

Di tengah hari pun, Coloane sunyi-senyap, tak seperti Macau.

Di alun-alun Vila de Coloane (Desa Coloane), terdapat salah satu toko kue merangkap kafe yang menjadi tujuan utama orang mendatangi desa tersebut: Lord Stow’s.  Toko kue yang dirintis seorang Inggris, Andrew, yang mendapat julukan ‘Lord Stow’, menjual portuguese egg tart yang konon paling lezat di seluruh Macau, hasil racikan sang ‘tuan’.  Tak heran, Lord Stow’s berani menjual setiap potong egg tart buatan mereka seharga 8 dolar.  Sayang Andrew telah berpulang secara mendadak pada tahun 2006 akibat asma, namun kini keluarga dekatnya meneruskan usahanya.  Ada beberapa cabang di negara lain, seperti Hong Kong dan Taiwan, namun di Macau, Lord Stow’s hanya ada di Vila de Coloane.

Lord Stow's.

Papan nama Lord Stow’s Garden Cafe.

Bagian dalam Lord Stow's.

Meja layan Lord Stow’s.

Egg tart Lord Stow’s – juga buatan toko-toko lain di sekitar Senado Square – bisa tahan 3 hari, sehingga sebelum pulang ke Indonesia, Anda bisa membeli beberapa kotak untuk oleh-oleh.  Oya, makanan dan minuman lain di Lord Stow’s juga memanjakan lidah, misalnya saja homemade lemonade mereka yang kecut dan segar.  Waktu itu kami dilayani pelayan yang sangat fasih berbahasa Inggris, sehingga semakin senang saja kami kepada Lord Stow’s.

Hidangan Lord Stow's.

Sandwich tuna dan homemade lemonade Lord Stow’s.

Macau boleh kecil-mungil, namun banyak pengalaman yang bisa Anda dapatkan tanpa menguras banyak biaya, dan tanpa perlu menggulirkan dadu.

Warung Macau

Berbelanjalah di warung tepi jalan saat mengitari Macau…

Taman Macau

…dan bila lelah, beristirahatlah di salah satu taman atau alun-alun seperti ini.

Hue, Ibukota Kekaisaran Lama Vietnam

This post is about Vietnam

Wilayah Hue sudah didiami manusia sejak lebih dari 2.000 tahun lalu.  Hue modern kini dibelah oleh Perfume River yang teramat bersih (sewaktu nantinya melayari sungai ini, kami hanya melihat kurang dari lima sampah yang mengapung!).  Bagian utara merupakan benteng kota tua kekaisaran dinasti Nguyen, sementara bagian selatan banyak dihiasi bangunan modern dan bergaya Prancis dari zaman kolonial.  Di dalam dan di sekitar Hue, banyak peninggalan bersejarah, bangunan keagamaan, dan keindahan alam yang patut dikunjungi.  Bahkan duduk-duduk di pelabuhan ‘perahu naga’ atau tepian sungai yang beralas rumput hijau saat pagi, sore, atau malam hari pun sungguh terasa menyenangkan.  Dan meskipun sama-sama terletak di Vietnam Tengah, tak seperti Da Nang, Hue tidak banyak tertimpa kerusakan akibat badai tropis, meskipun katanya kalau sedang banjir, orang pun tidak bisa keluar-keluar.

Incense stick di Hue

Warna-warni seperti ini menanti Anda di Hue!

Kami tiba di Hue tanpa terlebih dahulu memesan penginapan, alias memutuskan go show.  Banyak yang sering ragu melakukan hal ini karena takut tertipu supir taksi yang malah akan membawa kita ke tempat yang mahal sekali.  Nah, kami punya taktik sendiri.  Caranya, cari informasi di jalan mana banyak terdapat penginapan atau hotel.  Pilih saja salah satu penginapan, dan tunjukkan alamatnya kepada supir taksi.  Meskipun belum dapat, atau malah tidak dapat, kamar di situ, yang penting kita seolah-olah punya tujuan jelas.  Yang penting kan sampai di satu tempat yang aman, jadi menginap di situ atau tidak kan urusan lain.  Banyak sih hotel besar dan megah di Hue, namun kami memilih mencari yang sederhana saja.

Maka kepada supir taksi (dari perusahaan taksi Mailinh) kami meminta diantar ke sebuah hotel yang tertera dalam buku panduan yang kami bawa.  Jalan kecil tempat hotel itu terletak ternyata hanya beberapa menit jauhnya dari stasiun kereta api.  Yah, namanya juga bukan kota besar dan tidak ada kemacetan.  Kami hanya melintasi satu ruas jalan utama dari stasiun kereta sampai daerah hotel, yaitu Le Loi, yang memang panjang sekali.  Waktu sejenak di dalam taksi pun sudah menjadi tur yang cukup berharga untuk melihat-lihat Hue.

Di sebelah kiri kami, berjejer di tepian Perfume River, adalah sejumlah bangunan penting bergaya kolonial.  Ada museum, gedung kesenian, gedung panitia festival Hue, dan lain sebagainya.  Rumah sakit pusat Hue juga terletak di jalan tersebut.  Di sebelah kanan, supir taksi dengan bangga menunjukkan, “Sekolah saya dulu!”

Ada dua kompleks sekolah yang berdampingan, terpisahkan oleh jalan kecil.  Yang satu, Hai Ba Trung, untuk siswi, sementara yang satu lagi, Quoc Hoc untuk siswa.  Kedua kompleks yang cukup luas itu diteduhi pohon-pohon besar, dan terdiri atas sekumpulan bangunan gaya Eropa berwarna merah gelap.  Bedanya, di sekolah putri, bangunan-bangunan lebih besar dan mengelompok, sementara di sekolah putra, bangunan-bangunan berukuran lebih kecil dan lebih berjauh-jauhan, dihubungkan oleh jalan setapak.

Hue sebelah selatan dihubungkan dengan Hue sebelah utara di seberang Perfume River oleh sejumlah jembatan besar.  Bila malam, lampu-lampu bersinar lembut aneka warna menjadikan jembatan-jembatan itu pemandangan tersendiri yang menemani jalan-jalan kita di tepi sungai.

Jalan yang kami beri tahukan kepada pak supir ternyata sebuah jalan kecil yang diapit berbagai penginapan dan hotel di kanan-kiri.  Seorang pria menawarkan kamar di Hotel Phoenix (66/3 Le Loi)—saya ingat nama ini pernah saya temukan di salah satu situs web ketika saya mencari-cari informasi soal Hue.  Ada kamar dobel dan tripel, yang lumayan juga sewaktu kami tengok, meski jangan harapkan ada lift.

Setelah beristirahat sejenak, pukul 7, saat udara beranjak semakin dingin, kami keluar untuk mencari makan sekaligus memesan tempat di tur esok hari.  Banyak biro pariwisata yang terorganisasi rapi menawarkan paket-paket murah—hanya sekitar 60 sampai 100 ribu rupiah per orang—untuk menyambangi tempat-tempat tersebut, atau bahkan mencicipi hidup bersama penduduk asli Vietnam.  Kendaraan umum kecuali ojek dan siklo (sejenis becak) masih jarang di Hue, sehingga mengambil paket tur itu merupakan pilihan baik bagi turis.

Restoran di Hue

Restoran di Hue tempat kami menanti rombongan tur berangkat, dan juga nantinya makan siang.

Paket Thang Long City Tour (16 Pham Ngu Lao Street, telepon (84) 054.3838666), misalnya, dengan harga sedemikian murah menyediakan bis ber-AC dan pemandu berbahasa Inggris yang baik untuk mengunjungi 5 titik wisata dan melayari Perfume River dengan ‘perahu naga’, serta makan siang prasmanan dengan 50 menu.  Hanya saja, tiket masuk untuk beberapa tempat yang dikunjungi, sebesar 55 ribu Dong per orang, harus dibayar sendiri.  “Hari ini, angka keberuntungan kalian 55, ya,” demikian canda Mr Dang, yang keesokan harinya menjadi pemandu kami.  Paket inilah yang kami ambil dengan membayar 120.000 dong/orang di biro wisata dekat hotel.  Saya mengambil peta Hue keluaran Asiana Travel Mate, yang seharusnya gratis, namun diminta membayar 10.000 Dong oleh mbak-mbak penjaga biro tersebut.  Berhubung petanya bagus, saya menurut saja.

Hue, meski masih kalah pamor dari HCMC atau Ha Noi, sebetulnya amat menjanjikan sebagai surga belanja dan makanan bagi turis.  Restoran yang menjadi pilihan kami malam itu terhitung mewah untuk ukuran Hue, namun harga makanannya tetap saja murah dibandingkan harga di HCMC, apalagi kalau dirupiahkan.  Tapi memang pendapatan per kapita di Hue masih rendah.  Kaum mudanya berbondong-bondong meninggalkan kota yang damai itu, mencari penghidupan yang lebih baik terutama di HCMC di Selatan.

Di restoran Khai Hoan (90 Le Loi), Mel memesan menu yang paling menarik malam itu: queen’s royal tea dan kue khas Hue.  Yang disebut queen’s tea ternyata mirip jamu, campuran berbagai bagian tumbuhan yang lantas diseduh.  Rasanya?  Huek, pahit!  Mungkin berkhasiat, tapi kalau untuk teman makan, terima kasih, deh.  Untungnya, kue yang berisi kacang merah sangat nikmat dan legit.  Kalau ke Hue jangan lupa mencicipi kue ini, karena belakangan saat kami tanyakan kepada Mr Vu, kue tersebut susah ditemukan di HCMC.  Keragaman kuliner Vietnam Selatan dan Vietnam Tengah (juga Vietnam Utara) berbeda.  Di HCMC, mereka tidak terlalu suka memakan kacang-kacangan, sehingga kue kacang merah Hue bukan hal lazim di kota terbesar di selatan itu.

Usai makan, kami mendatangi beberapa toko yang masih buka.  Ada toko kain sutra yang juga menawarkan jahit cepat—4 jam jadi.  Suvenir tergolong murah, sehingga kami yang tadinya tidak betul-betul berniat membeli apa-apa akhirnya malah jadi memborong banyak.  Salah satu jenis barang yang kami beli adalah syal rajutan yang cukup tebal—popular untuk menghalau hawa dingin di Hue, namun tidak akan banyak gunanya di tempat panas seperti HCMC.  Kalau mau buat bergaya di mal-mal Jakarta yang AC-nya ganas sih, oke juga.

Suvenir di Hue

Sejumlah cenderamata hasil kerajinan tangan rakyat yang dijual di salah satu toko di daerah Hue.

Kelar berbelanja, kami duduk-duduk cukup lama di tembok batu dingin yang membatasi taman dengan dermaga dragon boat di tepi Perfume River.  Hanya ada beberapa penjaja kaki lima yang sedang berbenah-benah, namun suasana taman jauh dari menyeramkan.  Hawa dingin cukup menggigit, sementara suasana senyap—rasanya sungguh menyegarkan, jauh berbeda dari hiruk-pikuk HCMC.

Keesokan pagi, kami check out dari hotel, karena akan mengikuti tur sampai sore dan setelah itu langsung menuju stasun kereta untuk naik kereta malam ke Da Nang.  Eh, ternyata ibu-ibu di bagian penerimaan tamu mencoba mengerjai kami.  Atau, entah ya, mungkin sekadar ia salah ingat, karena mukanya kok polos sekali.  Dia bilang, kami kurang bayar untuk satu orang.  Mel bersikeras bahwa kemarin itu harga yang ia berikan kepada kami—dan sudah kami bayar—ia nyatakan sebagai harga kamar untuk 5 orang.  Untunglah akhirnya ia mengalah dan berhenti meminta uang lebih.  Hmmm… mungkin lain kali kalau ke Hue, coba cari hotel lain saja barangkali ya.

Terlebih dahulu kami pergi ke stasiun kereta untuk membeli tiket kereta malam.  Kali ini, kami memperoleh tiket kereta SE7 yang akan bertolak pukul 19.58 dari Hue dan tiba pukul 22.40 di Da Nang.  Penjual karcis sempat bertanya apakah tidak apa-apa kami duduk terpisah-pisah, karena ternyata sebagian besar tiket sudah habis terjual.  Hmm, ya, tidak apa-apalah, yang penting kami bisa berangkat dan tidak ketinggalan pesawat dari Da Nang esok hari!

Setelahnya, kami mendatangi cabang biro wisata tempat kami membeli paket wisata hari sebelumnya.  Petugas menjemput dan membawa kami berjalan kaki sedikit ke jalan Pham Ngu Lao, yang sepertinya merupakan urat nadi pariwisata backpacking di Hue.  Mirip Bui Vien di HCMC, hanya berkali-kali lipat lebih sepi.  Kami diminta menunggu di kantor pusat biro wisata sampai bis yang akan membawa kami datang.  Seperti juga bis kami di HCMC, bis di Hue nyaman dan bagus.  Hanya saja kami membuat bis itu jadi seperti bis antarkota, gara-gara kami berlima heboh membawa barang bawaan berlimpah, sementara tamu-tamu lain santai-santai saja dengan bawaan ringan.

Pemandu kami kali ini, Mr Dang, masih cukup muda dan tidak kalah humoris dengan Mr Hai.  Bahasa Inggrisnya juga bagus.  Dari dialah kami tahu banyak hal mengenai Hue dan sekitarnya.  Pertama-tama, ia membawa kami ke sebuah sentra kerajinan barang-barang khas Vietnam, dan kami pun bisa melihat cara pembuatan caping serta dupa.  Membeli juga boleh, atau sekadar memanfaatkan toilet yang bersih.  Sayang, sepertinya ada sejumlah turis asing yang tidak paham bahwa di beberapa negara seperti Vietnam dan Indonesia, toilet tidak bisa dipakai membuang tisu.  Akibatnya, di dalam toilet ada saja tisu yang menyangkut.

Setelah dari sentra tersebut, kami menuju tujuan utama kami di pagi itu.  Di sekeliling Hue, terdapat sejumlah kompleks makam para kaisar dinasti Nguyen.  Sebagian di antaranya masih direstorasi, sebagian di antaranya tidak terlalu popular di kalangan wisatawan.  Tiga kompleks makam yang paling kerap dikunjungi, dan juga yang paling memukau dari segi arsitektur, adalah makam Kaisar Tu Duc, makam kakeknya, Kaisar Minh Mang, dan makam kaisar boneka Prancis, Khai Dinh.  Sulit menghafal nama-nama kaisar ini?  Mr Dang punya julukan bagi masing-masing raja agar mudah diingat: Smallpox King (Tu Duc), Sexy King (Minh Mang), dan Homosexual King (Khai Dinh).  Alasannya?  Nanti kita tengok satu-satu.

Makam Tu Duc

Salah satu bagian kompleks makam Tu Duc di Hue. Terlihatkah oleh Anda anggota Tim Lompat-lompat?

Meskipun judulnya makam, kompleks-kompleks ini dihiasi bangunan-bangunan megah, pelataran luas, dan taman.  Begitu kami memasuki kompleks makam Tu Duc, misalnya, kami disambut rimbunan pepohonan dan danau, dan harus menyusuri jalan setapak yang cukup jauh sebelum mencapai kumpulan berbagai bangunan.  Kompleks makam ini sudah digunakan bahkan sebelum yang empunya wafat, yaitu sebagai tempat tinggal, meskipun sebetulnya istana kekaisaran Hue ada di benteng kota tua.  Tu Duc pun silih-berganti tinggal di kompleks makam dan benteng tua sesuai tanggal genap atau ganjil.  Wah, apa malah tidak merepotkan, ya, apalagi di zaman dahulu yang belum mengenal mobil?

Malang, meski selirnya banyak, Tu Duc tidak punya keturunan, akibat cacar api parah yang menyerangnya dan membuat tak hanya wajahnya rusak, melainkan juga kemampuannya menghasilkan anak jadi nol.  Tak heran ia selalu dirundung kesedihan, dan ia juga lemah sehingga selain bolak-balik ke makam dan benteng, biasanya ia tidak ke mana-mana lagi.  Makamnya pun dibangun dengan segala sumber kesenangan tersedia baginya.  Ia bisa memancing di danau, berburu di pulau kecil yang ada di tengah danau, menonton teater, dan lain sebagainya.  Bahkan di kompleks tersebut ada istana bagi keseratus selirnya, meski kini yang bisa kita lihat tinggal reruntuhan menyedihkan.  Sayang juga sedang tidak musim bunga teratai, padahal danau Tu Duc pasti indah sekali bila teratai sedang bermekaran.

Jumlah selir yang banyak memang tidak terhindarkan karena pernikahan-pernikahan itu juga bagian dari intrik politik istana.  Para mandarin (yang artinya hulubalang, bukan orang Cina) dan para pembesar lain berlomba-lomba menawarkan putri mereka untuk dinikahi sang kaisar demi mengamankan kedudukan sang ayah.  Kaisar menerima demi menjalin persatuan dan dukungan dari pejabat-pejabat tersebut.

“Zaman dahulu perempuan tidak bisa memilih,” kata Mr Dang, separuh curhat, “tapi sekarang berbeda.  Sekarang mereka yang berkuasa.  Dan saya beberapa bulan lalu memilih untuk mengikuti salah satu di antaranya…”  Ia pun memamerkan cincin pernikahan yang terselip di jari manisnya, memancing suara ‘oooh’ dari sebagian anggota kelompok kami.  “Kalau ditelepon dan disuruh pulang dalam 15 menit, saya harus pulang dalam 15 menit…”  Kami pun tertawa mendengar ceritanya itu.

Pojok lain makam Tu Duc

Pekarangan makam Tu Duc, lengkap dengan mandarin batu.

Berhubung tidak punya anak, Tu Duc menulis sendiri teks yang tertera di prasasti riwayat hidupnya.  Di setiap makam kaisar memang ditegakkan prasasti berukuran raksasa yang menuturkan riwayat sang kaisar, dan berdasarkan tradisi, teksnya seharusnya digubah oleh putra mahkota.  Prasasti-prasasti itu masih dituliskan dalam aksara Cina, yang lantas tak lagi digunakan oleh bangsa Vietnam.  Di pelataran di depan prasasti, terdapat patung batu sejumlah mandarin, kuda, dan gajah.  Ada mandarin militer dan mandarin urusan sosial, seperti bisa terlihat dari jenis pakaian yang mereka kenakan.

Kita juga bisa melihat berbagai hiasan naga—simbol kekuasaan—yang terpasang di atap istana.  Naga adalah motif favorit yang banyak menghiasi bangunan pemerintahan zaman kekaisaran.  Ada pula patung binatang mitos yang disebut ‘unicorn’ oleh Mr Dang, meski bentuknya lebih mirip singa.  Unicorn ini yang lazim dikenal dengan nama qilin di Cina.

Hal lain yang unik dari makam para kaisar adalah posisi tepat tempat peti mati mereka dikuburkan ternyata dirahasiakan.  Jadi, meskipun di dalam kompleks ada berbagai macam bangunan mewah, tak ada satu pun tanda yang dengan jelas menunjukkan makam sesungguhnya sang kaisar.  Ini untuk mencegah orang-orang yang berniat jahat terhadap jenazah almarhum.  Posisi peti mati kaisar yang diketahui dengan pasti adalah peti Khai Dinh, yang makamnya kami kunjungi berikutnya.

Makam Khai Dinh

Undak-undakan berjumlah cukup banyak di bagian depan kompleks pemakaman Khai Dinh.

Makam Khai Dinh, yang disebut Mr Dang ‘Raja Homoseksual’ berbeda dalam hal struktur dari makam-makam lain.  Apabila yang lain sangat dipengaruhi gaya Cina, bahkan meniru Kota Terlarang di Beijing, makam Khai Dinh merupakan campuran berbagai gaya, termasuk Eropa.  Dan alih-alih melebar, makamnya bertingkat-tingkat ke atas, dan dari puncak, digali lubang dalam tempat petinya lantas diturunkan.  Meskipun demikian, di makam ini juga terdapat prasasti riwayat hidup sang kaisar (yang digubah oleh salah seorang mandarin-nya) dan jejeran patung mandarin.

Lumayan juga energi yang harus dihabiskan untuk menapaki semua undak-undakan sampai ke atas.  Tapi kita akan memperoleh imbalan setimpal: dari tingkat-tingkat sebelah atas, kita bisa menyaksikan pemandangan alam yang menakjubkan, dan juga melihat ruang-ruang tempat berbagai foto dan benda lain milik sang kaisar dipamerkan.  Kita juga bisa melihat tahta emas dengan hiasan matahari terbenam—melambangkan kaisar yang wafat—yang tersimpan di makam ini.

Lucunya, saya melihat sebuah patung putih menjulang di kejauhan, di antara pepohonan yang lebat.  Awalnya saya kira itu patung raksasa Yesus atau Bunda Maria yang kerap kita jumpai di wilayah-wilayah mayoritas Katolik.  Eh, ternyata menurut Mr Dang, itu patung Buddha berwujud perempuan (ataukah maksudnya Kwan Im?), yang harus dicapai dengan mendaki tangga yang cukup tinggi.

Oh ya, mengapa Khai Dinh disebut ‘Raja Homoseksual’?  Rupa-rupanya, meskipun punya 4 istri, sang raja lebih senang bersenang-senang bersama para pelayan prianya.  Ia juga senang berdandan, dan di foto-foto hitam putihnya yang masih ada, bisa terlihat ia mengenakan lipstik dan komestik lain.  “Lihat saja, susah kan membedakan yang mana raja, yang mana ratu, dan yang mana ibu suri?”  Mr Dang bertanya seolah menantang kami membuktikan.

Mandarin makam Khai Dinh

Jejeran mandarin batu di makam Khai Dinh.

Mr Dang juga menjelaskan bahwa sebetulnya rakyat Vietnam tidak menyenangi Khai Dinh.  Ia adalah kaisar lemah yang diangkat oleh Prancis justru karena Prancis tahu ia bakal manut saja kepada para penjajah dan tidak menghasilkan keturunan.  Khai Dinh juga amat menggemari hal-hal berbau Eropa.  Dalam salah satu kunjungannya ke Prancis, ia memesan patung dirinya seukuran asli yang kini lantas dipajang di makamnya.  Namun Khai Dinh tetap menginginkan kekuasaan: di makamnya, di mana-mana dipajang naga, seolah ia berharap bahwa dengan semakin banyak hiasan naga yang ada, kelemahannya bisa tertutupi.  Sang kaisar memang tidak popular di kalangan rakyat, namun kini kompleks makamnya menjadi salah satu tujuan pariwisata terkemuka di Hue.  (Kekurangan yang kami dapati di sini: mbak-mbak penjaga kios makanan sungguh jutek, dan harga barang yang dijual juga jadi mahal sekali!)

Kami kemudian menuju kompleks makam Minh Mang yang berusia paling tua di antara ketiga kompleks yang kami singgahi hari itu.  Ia dijuluki Sexy King karena selirnya luar biasa banyak.  “Makanya hidupnya tidak panjang,” Mr Dang berkomentar.  “Satu istri saja, masalah banyak.  Apalagi banyak!”

Bayangkan, pemilihan putra mahkota saja bisa ruwetnya minta ampun.  Pertama-tama, raja akan memilih istri favorit untuk dijadikan ratu.  Kalau sang ratu melahirkan anak laki-laki, beres urusan, itulah putra mahkota.  Kalau tidak?  Ya, raja harus mencari lagi di antara istri-istri favorit tingkat kedua, siapa yang punya anak laki-laki duluan.  Kalau ternyata ada yang melahirkan bersamaan?  Nantinya akan diuji, siapa yang lebih cerdas dan pantas sebagai pemimpin di antara anak-anak itu.  Yang gawat kalau ketika besar, mereka tidak menerima keputusan itu dan bertarung memperebutkan tahta.  Alamak!

Untuk mencapai gerbang masuk kompleks Minh Mang, kami harus berjalan memutari tembok luar yang melingkar.  Beberapa anak dan wanita dengan memelas menawarkan pisang dan buah-buahan lain dengan bahasa Inggris terpatah-patah.  Agak tidak tega melihatnya, tapi saya tidak membeli apa-apa—entah apakah mereka punya izin berjualan di situ atau tidak.

Makam Minh Mang

Jembatan yang melintasi salah satu danau di pemakaman Minh Mang. Pria bertopi adalah pemandu wisata kami.

Makam Minh Mang juga tidak kalah luas, lengkap dengan danau dan taman yang memukau, meskipun dari segi kelengkapan bangunan, makam Tu Duc yang juga merangkap tempat tinggal masih tak terkalahkan.  Di makam Minh Mang, bila kita terus menelusuri jalan sampai ke sebelah belakang, maka kita akan mentok di sederet anak tangga yang berujung di depan sebuah gerbang bergembok di sebelah atas.  Di balik gerbang, terdapat bukit kecil yang rupanya menjadi tempat peti mati si Raja Seksi dikuburkan—meski posisi pastinya juga tak jelas di mana.  Gerbang hanya dibuka setahun sekali, ketika para keturunan raja-raja dinasti Nguyen datang untuk bebersih-bersih.

Ngomong-ngomong, kalau istri dan selir kaisar banyak, tentunya keturunan mereka juga banyak dong ya?  Oh, ternyata menurut Mr Dang, saat ini ada sekitar satu juta orang yang bernama keluarga Nguyen di dunia ini.  (Dua tentara yang dulu menabrakkan tank ke Reunification Palace, HCMC, ngomong-ngomong, bernama Nguyen Van Tap dan Nguyen Van Ky.  Anda juga mungkin ingat bintang film dan komikus Amerika Dustin Nguyen?)

“Nama saya juga Nguyen,” Mr Dang menunjukkan kartu pengenalnya sebagai pemandu wisata, “tapi saya bukan keturunan kaisar.  Mungkin dahulu kakek saya mengganti namanya, supaya bisa dekat dengan kaisar atau dapat keistimewaan karena dikira keluarga raja.”  Ah!  Jadi mungkinkah di antara satu juta manusia yang menyandang nama Nguyen itu juga banyak keturunan orang-orang yang sekadar latah memakai nama keluarga Nguyen?

Dalam sunyi, kompleks-kompleks makam para kaisar menguarkan nuansa kemegahan Vietnam di masa lalu, zaman kekaisaran yang berakhir ketika kaisar Bao Dai mengundurkan diri tahun 1945.  Sang kaisar terakhir terkenal karena kata-katanya “Lebih baik saya menjadi warga sebuah negara yang merdeka daripada menjadi kaisar bangsa yang terjajah”.  Ia beserta keluarganya mengungsi ke Paris, dan akhirnya wafat serta dimakamkan di sana.  Bahkan hingga sekarang, sepertinya tak ada usaha mengembalikan jenazah Bao Dai ke Vietnam, dan keluarganya juga belum pulang ke tanah air.

“Saya tidak mengerti apakah mereka yang tidak menginginkan Vietnam, atau Vietnam yang tidak menginginkan mereka,” sesal Mr Dang, “Padahal bagi saya, mereka silakan datang kapan saja.  Mereka juga orang Vietnam.”  Ah, rupanya itu juga salah satu luka Vietnam yang belum sembuh.

Saat makan siang, kami kembali ke kantor pusat biro wisata yang juga mencakup sebuah restoran.  Kami dijamu dengan 50 macam makanan secara prasmanan, termasuk santapan asli Hue, meskipun air minum harus beli sendiri.  Kesempatan ini kami manfaatkan mengisi perut yang ternyata lapar sekali setelah terakhir diisi pagi tadi, meski kami harus berhati-hati karena sebagian makanan yang terhidang mengandung daging babi. Tapi kalau Anda tidak berpantang sih, sikat saja!

Usai bersantap, biro pariwisata mengajukan dua pilihan.  Pertama, yang sudah mengunjungi benteng Hue, boleh langsung naik dragon boat menyusuri Perfume River.  Kedua, untuk yang belum, akan kembali ikut bis ke benteng Hue, baru nanti berkumpul kembali dengan rombongan pertama di Pagoda Thien Mu dan pulang dengan dragon boat.  Kami ikut rombongan kedua dan kembali naik ke atas bis.

Citadel Hue 5 Phoenix

Bagian dalam Citadel Hue, terlihat dari Paviliun Lima Phoenix.

Kota kekaisaran lama—termasuk benteng (citadel) Hue—adalah tempat yang wajib dikunjungi saat berada di Hue.  Kompleks kekaisaran dikelilingi oleh parit besar dan tembok pertahanan tinggi yang masih terlihat kokoh.  Saat ini, kompleks kekaisaran masih menjalani proses restorasi besar-besaran, karena sebagian bangunan dalam kompleks tersebut hancur saat perang dalam peristiwa yang disebut Serangan Tet.  Akan tetapi, saat ini pun sudah cukup banyak yang bisa kita lihat di situ, mulai dari tiruan Kota Terlarang di Cina, Menara Bendera, Paviliun Hien Lam dengan sembilan tempayan raksasa, Paviliun Ngu Phun, dan banyak lagi.  Kompleks ini sangat luas, dan barangkali perlu waktu berjam-jam untuk meneliti setiap sudutnya dengan berjalan kaki menapaki jalan berbatu apik yang dinaungi rimbunan pohon.

Bis tidak bisa masuk melalui gerbang kota lama, sehingga diparkir di tempat parkir merangkap pasar kecil yang jaraknya lumayan jauh juga dari benteng.  Belum-belum keringat sudah kembali bercucuran!  Kami disambut oleh empat dari sembilan meriam suci yang melambangkan ruh dinasti Nguyen penjaga kota.  (Lima meriam lagi ada di sisi barat kota lama.)  Kemudian dari kejauhan, bisa terlihat Menara Bendera (Ky Dai) bersusun tiga.  Di puncaknya, berkibar bendera Vietnam raksasa, sementara di tingkat-tingkat sebelah bawah terpasang foto Paman Ho dan sejumlah spanduk.  Rupa-rupanya Hue sedang bersiap-siap menyambut peringatan ke-35 penyatuan kembali Vietnam, dan akan ada acara besar yang digelar di kota tua minggu depan.

Parit sekitar Citadel Hue

Parit pertahanan yang mengelilingi Citadel Hue.

Rombongan kami masuk melalui Gerbang Selatan—pintu utama bagi turis untuk keluar-masuk—dan lantas terpencar-pencar.  Aneh juga rasanya, meski berpuluh-puluh menit waktu yang kami habiskan di benteng, tak sekali pun kami berpapasan dengan anggota rombongan kami yang lain!  Barangkali inilah bukti betapa luas bagian dalam benteng—keliling luarnya adalah 2 km x 2 km—dan betapa banyak yang bisa dilihat serta dilakukan.  Kita bisa berfoto ala raja dan ratu Vietnam zaman dahulu dengan pakaian sewaan, mengendarai atau sekadar berfoto bersama gajah, sampai memberi makan ratusan ekor ikan koi di danau di depan tiruan Istana Terlarang.

Ukiran naga timbul Citadel Hue

Ukiran naga timbul yang amat indah di salah satu sudut Citadel Hue.

Saya dan Mel juga sangat antusias melihat kesembilan tempayan raksasa yang lagi-lagi melambangkan kesembilan pelindung kota dari dinasti Nguyen.  Kami juga menyempatkan naik ke Paviliun Ngu Phun (Lima Phoenix) yang mengungkungi Gerbang Selatan.  Dari paviliun tempat genderang raksasa terpasang itu, kita juga bisa memperoleh pemandangan luas dan indah ke arah dalam benteng sekaligus ke arah Menara Bendera dan parit keamanan di sekeliling benteng.

Oleh karena lelah, kami memutuskan kembali ke bis untuk mencuri-curi sholat di bis mumpung turis-turis lain belum kembali untuk kembali melanjutkan perjalanan.  Sejumlah pengemudi siklo dengan bersemangat menawarkan mengantar kami berkeliling kota kekaisaran tua.  Sayang sekali, kami tidak punya waktu, meskipun tawaran mereka itu sangat menarik.

Sambil berjalan kaki menuju bis, saya dan Mel membeli kaus Hue yang dijajakan di pinggir jalan.  Harganya membuat kami melotot saking murahnya, yaitu 20.000 Dong.  Nah, ini juga bisa jadi oleh-oleh yang lumayan ekonomis dari Hue.

Yang juga tak boleh luput didatangi adalah Pagoda Thien Mu (Heavenly Lady), yang terletak di tepi Perfume River.  Kapal rombongan kami sudah tiba sewaktu bis kami sampai di sana, dan karena kami tidak akan menggunakan bis lagi, saya dan teman-teman menurunkan tas-tas kami yang berat dan meletakkannya di atas kapal.  Baru kemudian kami mendaki undak-undakan di sebelah depan kompleks pagoda yang dibangun oleh tuan tanah Nguyen pertama yang menguasai wilayah tersebut setelah memperoleh ramalan dari seorang wanita tua misterius.

Thien Mu istimewa bukan hanya karena bangunan-bangunannya yang menarik, melainkan juga karena merupakan tempat asal biarawan Thich Quang Duc yang membakar diri di Sai Gon tahun 1963 sebagai protes terhadap penindasan agama Buddha oleh pemerintahan Katolik Vietnam Selatan.  Foto peristiwa menggemparkan itu mungkin masih terekam di benak Anda saat ini.  Konon saat membakar diri, tak sepatah pun keluhan atau erang kesakitan yang keluar dari mulut sang biarawan.  Jantungnya pun ternyata utuh, tidak terbakar.  Aksi Thich Quang Duc yang menggetarkan ini bahkan ditiru sejumlah pemrotes anti-perang Vietnam.

Kompleks biara Hue

Salah satu bangunan di kompleks Biara Thien Mu.

Di kompleks biara itu masih tersimpan mobil yang membawa sang biarawan ke Sai Gon, simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan pihak yang berkuasa.  Repro foto pembakaran diri Thich Quang Duc juga dipajang.  Kebetulan saat peristiwa itu, hanya satu jurnalis dan pewarta foto asing yang hadir.  Sebetulnya maksud beserta lokasi yang direncanakan Thich Quang Duc sudah diumumkan sebelumnya, namun pada saat itu, sudah terlalu banyak berita mengenai perang yang berseliweran sehingga pengumuman itu tak terlalu dipedulikan kecuali oleh kedua wartawan itu.  Merekalah yang lantas menjadi corong yang menyuarakan kesaksian keteguhan sang biarawan renta.

Hal lain yang menarik untuk dilakukan di Thien Mu adalah berfoto bersama patung-patung kura-kura raksasa.  Kura-kura adalah salah satu hewan mitos paling penting di Vietnam, yang berkaitan dengan asal-muasal negeri tersebut, seperti yang bisa kita tonton sebagai salah satu kisah yang dipentaskan sebagai wayang air.  Konon, kalau ingin kembali ke Vietnam lagi, jangan lupa menyempatkan diri berfoto bersama salah satu patung kura-kura itu.

Mobil di Thien Mu

Mobil yang membawa Thich Quang Duc ke Saigon untuk membakar diri, dipamerkan di Thien Mu.

Kini, Thien Mu terasa teduh dan damai, tempat para biksu muda menuntut ilmu dan melatih diri.  Air kolam yang disemarakkan teratai nyaris tak beriak.  Thich Quang Duc barangkali akan bahagia bila bisa melihat bahwa protesnya tidak sia-sia: kehidupan beragama yang damai telah kembali ke negeri yang ia cintai.

Kami kembali ke Hue menggunakan dragon boat yang menyusuri Perfume River yang, duhai, alangkah bersihnya, sampai membuat kami iseng menghitung jumlah sampah buatan manusia yang terlihat (jawab: tiga).  Nahkoda kapal santai sekali, hampir sepanjang waktu mengendalikan kemudi dengan kakinya saja.  Perfume River lebar, tenang, dan bersih, sehingga tidak banyak gangguan yang memaksa ia bersusah-payah.  Tepiannya tampak landai, dan di banyak bagian dilapisi rumput yang terlihat lembut dan nyaman untuk diduduki.  Sungguh beruntung para penduduk Hue, memiliki kota yang demikian indah!

Perjalanan berakhir di dermaga tempat semalam kami duduk-duduk.  Mr Dang betul-betul pemandu wisata yang mengurusi tamu-tamunya sampai akhir: ia menunjukkan jalan kembali ke hotel masing-masing bagi yang belum kenal jalan.  Oleh karena jadwal keberangkatan kereta masih lama, dan tubuh sudah lengket akibat cucuran keringat seharian, kami menanyakan kepada Mr Dang apakah ia tahu di mana kami bisa menyewa kamar untuk beberapa jam saja agar kami bisa mandi dan beristirahat.  Ia tampak berpikir keras, lantas meminta maaf karena tidak tahu.  Akhirnya kami mengucapkan terima kasih dan berpisah darinya.

Kami menyusuri trotoar, mencari-cari restoran atau penginapan untuk rehat sejenak.  Baru hendak duduk di sebuah restoran di depan Century Riverside Hotel, tiba-tiba Mr Dang muncul lagi, mendatangi kami dengan terburu-buru.  “Teman-teman, saya temukan tempat di mana kalian bisa mandi!  Ayo, ikuti saya!”

Astaga!  Kami tercengang.  Saking bertanggung-jawabnya ia, Mr Dang menanyai sejumlah penginapan, dan bergegas menyusul kami untuk memberitahukan tempat sesuai keinginan kami yang ia temukan.  Betul-betul pemandu wisata jempolan!  Kami pun segera mengikuti ia.

“Di sana tidak bisa menginap jam-jaman, sih, tapi bisa menumpang mandi,” Mr Dang menjelaskan sambil berjalan.  “Kalian juga bisa makan dan minum.”  Sungguh tak terkira rasa terima kasih kami bagi Mr Dang!

Dragon boat di Perfume River.

Perjalanan menyusuri Perfume River yang damai di atas dragon boat.

Tempat yang dimaksud Mr Dang adalah Backpacker’s Hostel (10 Pham Ngu Lao street) Lantai bawah bangunan itu adalah restoran, sementara bagian atas adalah kamar-kamar yang disewakan untuk backpacker.  Hanya dengan membayar 10.000 dong untuk handuk bersih (meski agak belel), kami bebas menggunakan kamar mandi bersih berpancuran di lantai bawah untuk membersihkan diri.  Sambil bergantian mandi, kami juga makan dan minum sekadarnya di restoran hostel.

Eh, waktu saya mandi, teman-teman saya dihampiri bule-bule ganteng yang rupanya penasaran melihat tampang-tampang dan juga mungkin bahasa kami.  Rupa-rupanya mereka pernah menghabiskan sebulan di Indonesia, dan mereka pun memuji-muji negeri kita.  Bangga sih mendengarnya, tapi mbok ya ngobrolnya bukan pas saya mandi!

Puas mandi, kami kembali ke restoran yang tadinya hendak kami singgahi sewaktu Mr Dang memanggil kami.  Soalnya, makanan di situ relatif lebih murah.  Setelah mengisi perut, kami menghentikan sebuah taksi untuk mengantar kami ke stasiun kereta.  Supir kami kali ini juga baik sekali.  Dengan bahasa Inggris yang lancar, ia bertanya kami berasal dari mana.  Ia bahkan meminta kami menyanyikan lagu Indonesia!  Akhirnya taksinya pun ramai oleh dendangan.  Keramahan orang-orang seperti Mr Dang dan supir taksi inilah yang membuat pengalaman di Hue sungguh berkesan.  Terlupa deh perlakuan agak tidak mengenakkan sewaktu check-out dari hotel.  Eh, barusan saya mengingatnya lagi!

Alam Vietnam dari makam Khai Dinh

Pemandangan permai alam Vietnam Tengah yang terlihat dari kompleks pemakaman Khai Dinh.