Terkurung taifun di K’s House Ito Onsen, Mei 2015

This post is about Japan

Awan semakin hitam dan tebal saja ketika kami akhirnya mendapatkan kereta yang bergerak meninggalkan Jogasaki Kaigan menuju Ito. Butir-butir hujan pun mulai turun ketika kami berada di dalam kereta. Wah, gawat. Taifun sudah tiba rupanya.

Di stasiun Ito, saya dan Riris berpisah. Saya akan menginap di Ito semalam, sementara Riris langsung pulang ke Tokyo untuk masuk hotel bersama adiknya dan dua orang teman kami yang lain. Saya separuh bercanda mengingatkan dia agar jangan sampai salah naik kereta. Riris juga beberapa kali memastikan rute yang harus ditempuhnya kepada saya.

ito-20

Riris meneruskan dengan kereta ke Atami, saya melangkah keluar dari Stasiun Ito (yang di sini saya tampilkan dalam foto yang saya ambil setelah taifun berlalu). Astaga. Hujan yang tadinya masih rintik-rintik sekarang sudah mengamuk. Nyaris tak ada orang lagi di jalanan; semua sudah berlindung di dalam bangunan yang aman. Hanya beberapa orang yang rupa-rupanya masih belum sampai ke tujuan seperti saya yang nekad membelah tirai hujan yang berat untuk ditembus. Bagi saya, kesulitan bertambah karena payung yang belum lama saya beli di Ameyoko, Tokyo, langsung rusak tak lama setelah saya buka, terhajar angin! Dengan erat-erat memegang apa yang tersisa dari payung itu, saya melangkah cepat, kadang berlari, melompat dari satu tempat ternaung atap ke tempat ternaung atap berikutnya di jalan yang saya susuri, berhenti sejenak untuk sedikit menghindari hujan, lalu melanjutkan lagi perjalanan. Begitu terus, sampai akhirnya saya tiba di K’s House Ito Onsen, tempat menginap pilihan saya. Payung yang rusak saya lipat dan letakkan begitu saja di rak payung di sebelah depan. Nanti lah saya buang, pikir saya.

Para staf langsung menyambut saya dengan ramah dan hangat. Duh, leganya kembali berada di tempat yang hangat dan kering. Saya juga langsung kegirangan begitu melihat betapa menariknya guest house yang satu ini. Aslinya, guest house ini adalah ryokan (penginapan ala Jepang) dengan tempat pemandian air panas tradisional, yang lantas diubah menjadi penginapan yang lebih modern dengan tetap mempertahankan bangunan aslinya. Walhasil, jadilah guest house berfasilitas modern yang menawarkan pengalaman menginap tradisional dengan harga terjangkau – lengkap tempat mandi air panas dari yang ramai-ramai sampai yang untuk pribadi! (Tempat mandi pribadi inilah yang menjadi alasan utama saya memilih K’s House Ito!) Benar lho, bila dibandingkan dengan ryokan berpemandian air panas yang ‘full service’ – yang mengharuskan kita merogoh kocek setidaknya sejuta rupiah per orang – guest house ini terhitung murah sekali. Ya, tentunya tidak dapat pelayanan pribadi dan santap pagi/malam pribadi di kamar, sih.

Beginilah tampak depan K’s House Ito Onsen:

ito-01

Staf mengingatkan kepada saya agar, kalau bisa, jangan keluar-keluar lagi malam itu kecuali terpaksa karena badai sudah semakin dekat. Selain itu, semua staf akan pulang pukul sembilan malam, sehingga saya harus ingat untuk selalu menutup pintu depan bila keluar, dan memasukkan kode kunci pintu bila hendak masuk kembali.

Saya diantar ke kamar saya yang terletak di lantai tiga melalui tangga-tangga kayu berwarna gelap. Meski diperuntukkan untuk satu orang, kamar saya terdiri atas dua ruangan. (Ya, ini juga hal bagus dari guest house ini – ada kamar untuk yang menginap tanpa pendamping.) Ruang pertama adalah ‘ruang depan’ yang bisa dimasuki melalui pintu geser yang bisa dikunci. Di ruang inilah kita bisa mencopot dan meletakkan sepatu. Ruang kedua adalah ruang tidur itu sendiri, dengan futon yang harus digelar sendiri untuk tidur, meja pendek, dan lemari dinding (oshiire). Lantainya berlapis tatami. Nyaman dan aman rasanya, terlindung dari angin yang meraung-raung di luar!

ito-02

Guest house juga dilengkapi dengan wi-fi berkecepatan tinggi. Baru saja telepon genggam saya tersambung dengan wi-fi itu, eeeeh Riris sudah menelepon saya. “Kak, aku salah naik kereta!” Wuaduh! Saya jadi agak panik. Rupa-rupanya sewaktu bertukar kereta, Riris malah naik kereta ke arah Hamamatsu, alias semakin menjauhi Tokyo. Setelah saya dan Riris memastikan kesalahan itu dan juga solusinya (yaitu: turun di stasiun berikutnya dan menunggu kereta ke arah sebaliknya), barulah saya memikirkan hal apa yang harus saya lakukan berikutnya sebelum mengurung diri menanti badai lewat.

Pertama-tama, biar sekalian basah, ditambah lagi saya memang lapar, saya memutuskan untuk berbelanja makanan dan minuman. Dengan payung pinjaman dari guest house dan kaki basah terendam becek, saya menuju kombini terdekat yang jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun jarak yang mungkin bisa ditempuh dengan menggelinding kalau sedang tidak hujan lebat itu, jadi terasa seperti menyeberang lautan. Ya iya sih, memang sedang banyak air di mana-mana.

Yang lebih saya takutkan daripada hujan yang lebat sebenarnya adalah angin yang sepertinya memang bertekad tidak ingin meninggalkan payung yang utuh sambil lewat. Ngeri juga saya kalau sampai terdorong angin dan tercebur ke dalam sungai atau kanal yang membelah-belah Ito. Amit-amit!

ito-04

Setelah mendapatkan makanan panas, juga sejumlah makanan dan minuman ringan, bergegas saya pulang ke K’s House. Rasanya seperti habis memenangkan maraton ketika akhirnya saya kembali berada dalam guest house yang hangat. (Saya tidak pernah ikut maraton, tapi saya yakin pelari maraton pasti merasakan lega yang serupa saat mereka berhasil melintasi garis finis.)

Sampai sini, saya lupa, apakah saya bersantap malam dulu dengan hidangan yang saya beli di kombini, atau saya berendam terlebih dulu di pemandian air panas. Urutannya tidak begitu penting, yang jelas begitu kelar melaksanakan dua-duanya, saya sudah tidak lagi peduli bahwa malam itu kami semua berstatus ‘tahanan rumah’.

ito-35

Kembali ke soal pemandian air panas. Sebenarnya di guest house ini juga ada kamar mandi dengan pancuran air (shower), untuk tamu-tamu yang butuh kepraktisan. Buat saya sih, aduuuh, sudah jauh-jauh menginap di onsen, biaya menginapnya juga sudah termasuk mandi-mandi sepuasnya, masak sih saya mandinya pakai pancuran juga. Dan karena ada pemandian pribadi di lantai dua, jelas itu dong yang saya pilih, bukan pemandian ramai-ramai di lantai satu. Kedinginan, penat, lelah, hilang semua setelah berendam di air panas.

Sisa malam saya habiskan dengan bersantai-santai saja di kamar. Ya, mau apa lagi? Sebenarnya mungkin asyik juga malam-malam jalan-jalan ke pantai, tapi tidak dengan ancaman terseret taifun dong.

ito-03

Akhirnya pagi tiba juga. Taifun sudah lenyap tak berbekas. Langit biru cerah, meski kecepatan angin masih cukup kencang. Tapi matahari yang bersinar terang adalah bukti nyata bahwa daerah ini sudah dilewati oleh taifun. Suasana sekitar K’s House – bahkan bangunan K’s House sendiri – yang semalam terlihat gelap dan suram, kini tampak hangat dan ramah. Interior K’s House yang didominasi kayu berwarna terang terasa sangat homey. Di lantai dua, ada ruang bersama yang luas, yang dipakai untuk macam-macam kegiatan oleh penghuni guest house. Misalnya, pagi itu ruang tersebut dimanfaatkan sebagai tempat yoga.

Ruang makan dan ruang duduk bersama terlihat masih diramaikan oleh tamu-tamu yang sedang sarapan, jadi saya berpikir untuk nanti saja melihat-lihat kedua ruangan itu dan terlebih dahulu berjalan-jalan. Ngomong-ngomong, ruang duduk bersama menawarkan pemandangan permai Sungai Matsukawa yang mengalir di belakang guest house ini. Tidak salah kan kalau sudut ini langsung menjadi favorit saya?

ito-34

Dengan bersemangat, meski belum lagi sarapan, saya menenteng kamera keluar dari guest house. Tujuan utama saya tentu saja ke pantai, dan setelah check-out saya berencana untuk meramban lebih jauh lagi.

Jadi, mari kita mulai lompat-lompat di Ito…. di post berikutnya, ya!

4 Comments (+add yours?)

  1. nyonyasepatu
    Oct 08, 2015 @ 10:32:16

    setelah badai langsung dapat cuaca cerah ya🙂

    Reply

  2. mysukmana
    Oct 08, 2015 @ 17:46:20

    Keren tempatnya..asik klo buat menyendiri..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: