Dua Hari, Semalam di Semarang – Februari 2013 (bagian II)

This post is about Indonesia

Usai Maghrib, saya turun ke lobi dan bertanya ke resepsionis, bagaimana cara menuju ke Simpang Lima.  Jauhkah?  Bisakah berjalan kaki, atau naik bis?

“Wah, lumayan jauh.  Bis (Trans Semarang) sudah tidak jalan jam segini.  Sebaiknya naik taksi,” jawab sang resepsionis.

semarang24

Saya akhirnya mengambil alternatif: berjalan kaki ke depan Lawang Sewu, dan mengambil angkot ke arah Simpang Lima dari situ.  Kebetulan malam Minggu.  Simpang Lima, dengan lapangan luas yang dikelilingi oleh berbagai pusat perbelanjaan dan masjid agung, diramaikan oleh warga Semarang yang menghabiskan malam.  Menyenangkan sekali melihatnya.  Tua, muda, bapak, ibu, anak, nongkrong di warung-warung di tepi jalan atau di tembok-tembok rendah di trotoar, asyik mengobrol dan bercanda.  Ada juga yang menyewa sepeda berhiaskan lampu warna-warni untuk mengelilingi Lapangan Simpang Lima.  Ada yang asyik bermain, berkejar-kejaran di lapangan.

semarang22

Saya tiba-tiba kembali merasakan ‘spirit’, ‘ruh’ sebuah kota, yang seharusnya betul-betul merupakan sebuah ‘tempat tinggal’ bagi warganya.  ‘Tinggal’ yang merupakan sesuatu yang melampaui totalitas kegiatan-kegiatan yang bisa kita lakukan di sebuah kota seperti bekerja, makan, dan tidur.  Hubungan antarmanusia, suasana nyaman yang memanusiakan, seharusnya juga jadi unsur sebuah kota.

semarang21

Saya memilih sebuah warung di tepi jalan yang menjual – sebutannya apa ya?  Istilah yang biasa saya pakai sih ‘nasi kucing’.  Sedikit nasi, dibungkus dengan sejumput lauk atau sesendok-dua sendok sayur, dibungkus kecil-kecil, dijual dengan harga murah.  Yang punya uang hanya sedikit masih bisalah membeli sebungkus untuk diri sendiri.  Yang tidak kenyang hanya memakan satu atau ingin kombinasi beberapa lauk/sayur, bisa membeli beberapa bungkus, masih ditambah gorengan kalau perlu.  Bersama secangkir teh hangat manis, malam yang agak gerimis pun terasa lengkap sempurna!

semarang23

Usai makan, saya mengarah ke Istana Brilian, pusat oleh-oleh yang masih buka.  Saya membeli sejumlah penganan khas Semarang sebelum kembali pulang ke hotel dengan angkot.  Atau tepatnya, sampai ke dekat Lawang Sewu, dan dari situ berjalan kaki lagi ke hotel.  Itu, kisah di bagian sebelumnya, sewaktu saya nyaris tertimpa cabang pohon.  Lawang Sewu masih terlihat agak ramai oleh para pengunjung yang berwisata malam.

semarang25

Keesokan paginya, karena masih ada beberapa jam sebelum waktu check-out dari hotel dan menghadiri pesta pernikahan, saya kembali menggerakkan kaki.  Pertama-tama saya mencoba menengok Museum Perjuangan Mandala Bhakti, yang terletak di seberang Lawang Sewu.  Untuk mencapainya saya harus melewati Tugu Pemuda beserta taman yang mengelilinginya.  Museum terlihat sepi, hanya ada beberapa orang pria dan wanita yang sedang berkumpul di sampingnya.  Melihat saya, salah seorang ibu-ibu menggerakkan tangan memanggil saya mendekat.  Meskipun kecurigaan otomatis timbul di hati saya yang bertahun-tahun ditempa ibukota, saya menurut.  Ah, ternyata ibu-ibu itu bukan bermaksud apa-apa.  Hanya menanyakan kepada saya mau apa, dan apakah saya salah seorang yang hendak mengikuti acara di museum itu (entah apa) hari ini.  Sambil diam-diam kesal kepada diri saya sendiri yang begitu pencuriga sekarang, saya mengobrol sedikit dengan sang ibu dan rekan-rekannya.  Dari mereka saya tahu museum tidak selalu buka.  Akhirnya saya hanya menikmati bagian luarnya saja.  Teringat seloroh si pemandu Lawang Sewu teriring tawa kemarin, “Museum di depan itu iri pada Lawang Sewu.  Dia yang museum, tapi Lawang Sewu-lah yang banyak dikunjungi orang.”

semarang26

Setelah itu, saya pun meneruskan perjalanan ke arah Pandanaran, di mana berjejer toko-toko dan kedai-kedai yang menjual jajanan basah khas Semarang seperti lumpia, bandeng presto, wingko.  Sebetulnya ingin juga membeli untuk dibawa pulang ke Tangerang, tapi mengingat bawaan saya sudah lumayan merepotkan dengan segala oleh-oleh yang saya beli semalam, niat itu saya urungkan.  Saya cukup membeli satu untuk dinikmati sendiri.

Saya pun berjalan balik ke hotel, menikmati Minggu pagi yang damai dengan matahari yang masih malu-malu (ah, memang seharusnya begini Minggu pagi!).  Melihat sebuah bis menuju Ambarawa melintas, saya jadi bertekad dalam hati, lain kali kalau ke Semarang harus lebih lama lagi, dan menyempatkan diri ke kota-kota lain di sekitarnya!

semarang27

Depan Lawang Sewu telah kembali ramai, kini oleh gerobak-gerobak penjaja makanan.  Saya membeli dawet dicampur durian.  Hmm, segar sekali menutup acara jalan-jalan pagi dengan minuman dingin ini!

Hal berikutnya yang saya lakukan adalah membeli bacaan untuk menemani kala menunggu pesawat nanti di Gramedia yang baru buka, lantas mandi dan berbenah-benah.  Saya pun siap untuk check-out.  Resepsionis menelepon memanggil taksi untuk mengantar saya ke Masjid Agung Jawa Tengah, tempat pesta pernikahan digelar.  Tak saya duga, jauh juga letaknya dari pusat kota Semarang, dan jalan menuju kompleks yang sangat luas itu ternyata kecil-kecil.

semarang29

Mengenai masjidnya sendiri, yang paling membuat terpukau memang ukurannya yang luar biasa.  Namun kesan yang saya tangkap mengenai arsitekturnya agak membingungkan.  Sepertinya menggabungkan lagam Jawa dan Turki, namun terkesan agak gagap, dengan deretan tiang dan lengkungan ala Romawi yang mengelilingi pelataran air mancur.  Sayang saat itu payung-payung raksasa yang biasa dipakai menaungi jemaah saat masjid sedang ramai sedang tidak dibuka.  Ingin saja melihat seperti apa jadinya.

semarang28

Meski waktu saya di Semarang semakin sempit, saya juga mencoba naik ke atas menara di mana kita bisa menyaksikan pemandangan Semarang dan sekitarnya dari ketinggian lumayan.  Kota, laut, sawah, pedesaan – semua terlihat.  Di menara ini juga terdapat museum sejarah Islami, yang sayangnya tidak sempat saya kunjungi.  Saya lebih memilih bersantap siang mengisi perut yang sudah keroncongan lagi di restoran berputar yang berada selantai tepat di bawah anjungan untuk melihat pemandangan.  Cukup murah dan lezat, namun sayangnya kondisi restoran seperti kurang terurus.

semarang30

Saya lantas menelepon pusat taksi Blue Bird, meminta dijemput untuk diantar ke bandara.  Tak menunggu berapa lama, taksi datang.  Belum bergerak jauh dari masjid, kami terperangkap kemacetan.  Duh, jalan-jalan kecil dengan populasi yang semakin membludak, bagaimana tidak macet, ya?  Supir taksi pun menawarkan alternatif, lewat jalan tol menuju bandara.  Lebih mahal, tapi tidak macet.  Saya setuju.  Dan ternyata memang jauh, melewati perbukitan yang hijau.  Ah, yang penting tidak sampai terlambat naik pesawat!

semarang31

Pesawat AirAsia yang membawa saya pulang ke Tangerang lepas landas sore itu, meninggalkan bandara Semarang yang tidak terlalu besar.  Menjauh dari kota yang menyajikan percampuran budaya hasil pertemuan dan dialog berabad-abad: cerminan nyata Indonesia.

Dua Hari, Semalam di Semarang – Februari 2013 (bagian I)

This post is about Indonesia

Azan subuh belum lagi berkumandang di Semarang dan sekitarnya ketika saya menapak turun dari kereta yang beberapa jam sebelumnya bertolak dari Jakarta.  Sendirian saya mendatangi kota ini di bulan Februari 2013 untuk menghadiri pernikahan teman.  Sendirian, karena teman-teman lain kebetulan tidak bisa menyesuaikan jadwal dengan undangan tersebut.  Saya nekad saja, padahal belum pernah sekalipun ke Semarang.

Saya membeli tiket kereta Gambir-Semarang Tawang secara daring melalui Tiket.  Prosedurnya menurut saya cukup mudah, bisa memilih kursi pula.  Dengan semangat saya memilih kursi di tepi jendela dengan maksud menikmati pemandangan… Lalu baru kemudian ingat hal itu percuma saja, karena saya memilih kereta yang berjalan di malam hari, haha.  Di hari keberangkatan, saya cukup mendatangi loket penukaran bukti pembelian daring dan memperoleh tiket saya di situ.

semarang02

Singkat cerita, kini saya telah berada di Tawang.  Hari masih gelap-gulita, dan daripada keburu keluar serta sulit menemukan tempat untuk solat, saya memutuskan mengisi perut dengan minuman hangat terlebih dahulu di Dunkin Donuts.  Kebetulan cabang DD yang pintunya menghadap ke peron ini sudah buka, sementara tempat makan lain rata-rata masih tutup.

Usai subuh, barulah saya melangkah keluar dari peron.  Dan wuih, langsung didekati beberapa orang yang menawarkan jasa becak.  Sesopan mungkin saya menolak.  Seorang di antaranya masih cukup keukeuh mengikuti saya beberapa lama, berharap saya berubah pikiran mungkin.  Kasihan juga, tetapi saya memang berniat berjalan kaki saja pagi itu.

semarang01

Setelah sejenak melihat-lihat stasiun yang cukup tua usianya ini (karena saya akan pulang naik pesawat, tidak akan kembali ke stasiun ini) saya pun mencari jalan menuju tempat yang saya tuju: Gereja Immanuel, populer sebagai ‘Gereja Blenduk’.  Benar-benar tanpa tahu arah, tidak pegang peta, hanya sempat melihat-lihat peta Semarang melalui Google Maps.  Hanya mengandalkan bertanya.  Untunglah bapak-bapak yang saya tanya menjawab meyakinkan, “Tidak jauh kok mbak, lurus saja sampai mentok, lalu belok kiri.  Dekat kok, tuh dari sini juga kelihatan…”  Baiklah.

semarang03

Saya melintasi polder yang airnya berwarna kehijauan di depan stasiun, lantas tanpa terlalu pikir-pikir menyusuri jalan-jalan kota tua Semarang yang diapit bangunan-bangunan tua.  Banyak yang tampak megah dan cantik, namun tidak sedikit pula yang terlihat kurang terawat.  Terkadang, bau kurang sedap meruah dari saluran-saluran air yang tampak nyaris kepenuhan oleh air berwarna hitam, mungkin sisa limpahan rob, yang memang sering membanjiri wilayah ini.

semarang04

Seandainya lebih terurus lagi daripada kondisinya sekarang, pasti kawasan kota tua ini semakin menarik.  Saya sendiri sangat menyukai bangunan-bangunan era kolonial sehingga sangat menikmati jalan-jalan pagi saya ini.  Seorang bapak menegur ramah, bertanya saya dari mana, kok pagi-pagi sudah jalan-jalan, rumahnya di mana.  Saya jawab saja saya baru dari stasiun (tidak bohong, kan?).

semarang05

Puas menemukan dan mengagumi arsitektur Gereja Blenduk dan beberapa gedung di sekitarnya dari luar, saya meneruskan ke jalan-jalan kecil di kawasan itu.  Saya coba bayangkan seperti apa dahulu kawasan ini, ketika kehidupan kota Semarang masih ramai terpusat di sini.

semarang06

Saya kembali ke titik awal, Stasiun Tawang, dan meminta sebuah taksi Blue Bird untuk mengantarkan saya ke tujuan berikutnya, kelenteng Sam Poo Kong, yang agak jauh letaknya dari stasiun.  Sang supir mengira saya orang Tionghoa yang hendak beribadah di kelenteng.  Saya tertawa dan berkata, Bukan, ayah saya orang Manado, makanya mungkin wajah saya terlihat seperti orang Tionghoa.  Kami pun jadi bercakap-cakap di sepanjang perjalanan.

“Saya dari kecil tinggal di sini.  Kalau saya bilang, kota ini perkembangannya lambat,” katanya.

“Tapi tentram toh Pak?” Saya berkomentar.

“Iya, tentram.”  Tahu saya dari Jakarta, ia berkata, “Maaf ya Mbak, saya memang orang Indonesia.  Tapi saya tidak berniat pindah ke Jakarta.  Saya memang belum pernah ke sana.  Tapi kalau lihat di TV, orangnya kelihatan banyak sekali.  Kali Ciliwung juga tampak kotor.  Habis banjir-banjir gitu kan Mbak?  Rumah Mbak kena nggak?”

Yah, saya sendiri secara pribadi berpendapat tinggal di kota yang tidak terlalu besar seperti Semarang atau Balikpapan tampaknya lebih menyenangkan daripada setiap hari disergap kemacetan dan polusi di Jakarta.  Toh kalau yang kita khawatirkan adalah segala kenyamanan kota besar modern seperti restoran-restoran cepat saji atau kafe-kafe internasional, kini mereka pun sudah mudah ditemukan di ibukota-ibukota provinsi berukuran sedang.  Saya tidak merasa pak supir perlu meminta maaf karena lebih memilih berdiam di Semarang yang mungkin bagi banyak orang Jakarta bukan kota yang perlu dilirik sebagai tempat tinggal.

semarang08

Meskipun tadi telah mengulur-ulur waktu di kota tua, saya tiba kepagian di Sam Poo Kong.  Loket belum buka, namun penjaga di situ membolehkan kami—saya dan beberapa wisatawan lain—masuk.  “Silakan saja, bayarnya nanti saja,” ucapnya ramah.  Saya melewati gerbang dan langsung disambut keteduhan pepohonan yang menaungi sejumlah meja batu beserta kursi-kursinya.  Beberapa lama saya duduk di depan salah satu meja, menikmati pagi, memandang ke arah bangunan-bangunan dalam kompleks kelenteng, baik yang telah lama selesai dibangun maupun yang sedang dibangun.  Saya bertanya-tanya apa kegunaan bangunan yang belum selesai itu nantinya: panggung sandiwara Cina kah?  Aula untuk peribadahan?

semarang09

Hampir sejam setelahnya baru saya berdiri dan mulai berjalan-jalan berkeliling.  Tampak sekelompok pria yang sepertinya petugas keamanan tengah di-briefing dan kemudian berlatih.  Bangunan-bangunan utama peribadahan kelenteng dipisahkan oleh saluran air yang ditata bagai sungai kecil dari pelataran luas di depannya.  Berbekalkan tiket khusus ke bagian itu, saya pun menyeberang dan mengamati bangunan-bangunan tersebut dari dekat.  Warna merah terang tentu mendominasi, namun juga ada warna hijau, dan bila saya tidak salah, sentuhan Jawa pada arsitektur atap bangunan utama.  Beberapa bagian tidak bisa dimasuki oleh orang yang tidak berniat beribadah, dan di beberapa bagian kita harus mencopot sepatu.  Aturan-aturan ini tentu harus kita hormati.

semarang07

Figur paling dihormati di kelenteng ini adalah sang pelaut Muslim dari negeri Cina,  Cheng Ho.  Patung raksasanya gagah berdiri di depan bangunan utama peribadahan.  Di kelenteng ini pun terdapat beberapa relik yang berhubungan dengan dunia maritim.  Kura-kura, si perlambang usia panjang, juga banyak menghiasi kelenteng ini, baik kura-kura sungguhan maupun yang dari batu.

semarang10

Saya lalu mendatangi sekumpulan bapak-bapak yang duduk di bawah pepohonan tempat saya sempat bercokol sekitar sejam tadi.  Dengan ramah mereka melayani pertanyaan saya mengenai cara pergi ke Pagoda Buddhagaya Watugong.  Berdasarkan petunjuk mereka, saya menyeberang di depan kelenteng, dan menaiki bis kecil – seukuran Metro Mini – ke arah Banyumanik.  Cukup jauh juga perjalanan ke pagoda tersebut, namun buat saya sama sekali tidak membosankan, karena ini kali pertama saya melihat semua yang terpampang di hadapan mata.

Tiba di Pagoda Buddhagaya Watugong, terlintas sebuah pikiran konyol di benak saya yang rupanya telah terpenjara kehidupan bertahun-tahun di Jakarta: Wah, rasanya seperti bukan di Indonesia, seperti di negara asing saja.  Ini konyol.  Tentu saja ini Indonesia.  Indonesia yang merupakan keseharian bagi penduduk daerah ini.  Indonesia yang berbeda dari Jakarta ,tapi tidak kurang Indonesia-nya.

semarang11

semarang12

Di pagoda ini pun penjaganya sungguh ramah.  Ia mempersilakan saya masuk.  Untuk mencapai pagoda, kita harus mendaki undak-undakan.  Sebelum sampai di bangunan utama pagoda, kita disambut patung Dewi Kwam In di tengah-tengah pelataran, sementara tak jauh darinya, sebuah patung Buddha berwarna keemasan bersemayam damai di bawah sebatang pohon boddhi yang rindang.

semarang14

semarang13

Di bagian belakang kelenteng terdapat kamar mandi yang cukup bersih.  Saya manfaatkan untuk mencuci muka yang sejak kemarin belum tersentuh air mandi.  Segar rasanya.  Saya lantas meneruskan mengelilingi pagoda yang sebenarnya tidak seberapa luas, mengamati sebanyak mungkin detail: patung-patung dan ukiran-ukiran naga, kura-kura, singa, pita-pita merah yang diikat di berbagai objek.

semarang15

Hari sudah siang sekali ketika saya meninggalkan pagoda, naik angkot ke terminal Banyumanik, dilanjutkan dengan bis Trans Semarang yang nyaman.  Saya turun di halte SMA 5 Pemuda, tepat di seberang hotel Amaris Pemuda, tempat saya menginap.  Saya memilih hotel ini karena melihat letaknya yang cukup dekat ke beberapa objek wisata di Semarang, seperti Lawang Sewu, selain harganya yang memadai untuk kantong saya dan pengalaman saya selama ini di cabang-cabang lain yang tidak mengecewakan.  Ternyata beberapa keuntungan lain menginap di hotel ini adalah: hanya selemparan batu dari halte Trans Semarang; di bagian bawah hotel ada cabang Dunkin Donuts dan Gramedia; kalau perlu apa-apa juga mal Paragon dan Carrefour bisa didatangi dengan berjalan kaki.

semarang20

Setelah beristirahat sejenak di kamar hotel, saya keluar lagi untuk mencari makan di Carrefour, sekalian menuju Lawang Sewu.  Karena lapar, saya pilih saja sebuah restoran cepat saji yang menyajikan makanan Asia.  Hmmm… rasanya biasa saja sih, harganya pun setara dengan restoran cepat saji lain alias ‘harga Jakarta’, tapi ya sudahlah.  Namanya orang lapar.  Tapi saya bertekad, sehabis ini kalau mau makan harus di luar mal!

Ah, tapi sebelumnya saya perlu bicarakan dulu tentang betapa enaknya berjalan kaki di banyak bagian Semarang.  Trotoar luas, rapi, kerap kali dinaungi pohon rindang.  Dari hotel ke Lawang Sewu, saya melewati kantor walikota dan DPRD yang megah, dan juga papan-papan di mana surat kabar hari itu ditempelkan, bebas dibaca oleh warga yang kebetulan lewat.  Kota-kota Indonesia perlu lebih banyak trotoar semacam ini!

semarang19

Tiba di Lawang Sewu, yang mungkin merupakan ikon paling kenamaan Kota Semarang, saya pun membeli tiket dan magnet kulkas berbentuk Lawang Sewu.  Selain itu, saya harus membayar pemandu yang mengantar saya menyambangi berbagai pojok Lawang Sewu yang sudah dibuka untuk umum (karena sebagian bangunan masih berada dalam tahap renovasi, termasuk bagian di mana terdapat jendela kaca patri yang indah).   Pak pemandu menemani saya dengan berbagai kisah sejarah maupun ‘urban legend’ yang juga membuat kompleks bangunan ‘berpintu seribu’ ini terkenal.  Pasti semua juga sudah pernah kan mendengar tentang kejadian-kejadian seram yang konon terjadi di Lawang Sewu?

semarang16

Dalam hati, saya sendiri merasa seandainya gedung-gedung di kompleks ini terawat baik semuanya, dan juga digunakan secara aktif, tentu tidak terasa (terlalu) menyeramkan.  Atmosfernya tidak akan ‘wingit’, tidak akan jadi lokasi favorit ‘uji nyali’ (kalau mau, Anda bisa lho ikut tur malam hari di gedung ini).  Malah gedung-gedung tersebut pastilah cantik sekali di masa jayanya, ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang, sibuk dengan berbagai aktivitas mereka.

Di bagian yang sudah direnovasi dan dijadikan museum PT KAI, saya belajar banyak tentang sejarah dan kondisi perkereta-apian di Indonesia sekarang.  Wah, ternyata di Sumatra masih ada lokomotif yang menjalankan tugas luar biasa, menarik 40 sampai 60 gerbang sekaligus!  Sedihnya, tersaji pula peta rute-rute daerah-daerah operasional KAI, yang juga menunjukkan stasiun-stasiun yang sudah ‘dimatikan’ alias ditutup.  Ah!  Padahal dulu kereta merupakan salah satu alat transportasi utama yang menghubungkan kota-kota di Sumatra dan Jawa.

semarang18

Saya sempat ditawari masuk ke lorong-lorong bawah tanah, tempat difilmkannya video hantu yang popular di TV maupun Youtube.  Saya menolak sambil tertawa.

“Kenapa?  Kan sayang sudah jauh-jauh ke sini,” kata penjaga di depan tangga turun ke lorong-lorong tersebut.  (Untuk turun, kita harus membayar lagi biaya masuk yang juga mencakup penyewaan sepatu bot, karena di bawah sana air kerap menggenang.)

“Nggak ah Pak.  Saya tidur sendirian di hotel dekat sini,” saya berseloroh.

Beberapa kali mereka mencoba membujuk saya, namun gagal.  Bener deh, saya tidak ada niat turun ke bawah, meskipun katanya di bawah sana sedang ramai oleh pengunjung, tidak menakutkan.  Memang sih masih siang.  Saya hanya malas saja kalau malam nanti jadi terbayang-bayang suasana di lorong-lorong itu.

semarang17

Bukannya percaya takhayul ya, tapi kebetulan sekali malam harinya saat saya pulang dari Simpang Lima usai makan malam, saya kembali melintas di samping Lawang Sewu saat berjalan kaki menuju hotel.  Tanpa diduga, di depan saya cabang pohon yang cukup besar tahu-tahu jatuh ke trotoar di depan saya!  Seandainya saya tadi tidak melambatkan langkah karena menengok layar telepon genggam, mungkin cabang pohon yang tumbuh di tepi kompleks Lawang Sewu itu bakal menimpa saya.

Ups.

Anggaplah sambutan pertanda saya diterima di Semarang!  Hehehe.

Bersambung ke bagian kedua…

Akhir Minggu di Banyumas

This post is about Indonesia

Waktu menunjukkan pukul 8 malam ketika akhirnya kami meninggalkan restoran padang di dekat pintu tol Cikampek.  Bulan setengah naik di atas sawah-sawah yang gelap.  Hampir tak ada tanda-tanda kehidupan, selain kafe-kafe Pantura bersponsor minuman keras yang justru baru saja buka dan mulai ramai.  Saat itu hari Jumat, dan seusai kerja kami bertolak dari Jakarta menuju Purwokerto, bersaing dengan berbagai truk dan bis besar yang meluncur kencang di Jalur Pantura.  Kami hendak menghadiri acara ‘ngunduh mantu’ seorang rekan yang sedianya akan dilangsungkan hari Sabtu keesokan harinya di Purbalingga.  Meskipun demikian, kami memutuskan untuk bermalam di Purwokerto, sekitar 45 menit jauhnya dari tempat penyelenggaraan acara.

Pukul dua, kami tiba di Purwokerto.  Jalanan telah sepi, namun di depan gedung RRI Purwokerto, masih ada kerumunan orang ramai.  Ah, ternyata sedang ada pagelaran wayang!  Seandainya belum lelah sekali, sebenarnya saya ingin sekali bergabung dengan mereka.  Apa mau dikata, tubuh sudah pegal-pegal dan mata sudah kriyep-kriyep.

Setelah agak ‘tersesat’ sedikit, kami berhasil menemukan Hotel Wisata Niaga.  Gedungnya megah juga, namun yang tak kami sangka adalah harga kamarnya yang tergolong murah untuk fasilitas yang dihargai setidaknya 500 ribu di Jakarta.  Harga kamar twin bed di akhir minggu itu adalah 275 ribu, ditambah biaya sarapan sepuasnya 25 ribu/orang.  Dua botol air minum, sabun, dan sampo disediakan gratis, tapi untuk fasilitas lainnya, harus membeli (ada drugstore di lantai dasar hotel ini) atau menyewa (misalnya ketel listrik untuk memanaskan air, bonus teh dan kopinya).

Setelah bebersih-bersih, kami pun berangkat tidur.  Hhhh, leganya akhirnya tubuh bisa lurus di kasur!  Ngomong-ngomong, selain Hotel Wisata Niaga ini, di Purwokerto juga sudah ada sebuah cabang Hotel Aston, yang menjulang dengan cukup mencolok di salah satu perempatan.  Perkembangan kota ini rupanya memang cukup pesat, sehingga membuat pangling anggota rombongan kami yang sebelumnya telah berkali-kali ke Purwokerto.

Pagi harinya, setelah sarapan mengenyangkan di ruang makan hotel, kami pun check out.  Saya baru perhatikan benar-benar bahwa seluruh fasad muka hotel ini tidak berdinding, mulai dari lobi sampai ruang makan.  Udara kota Purwokerto yang masih segar pun mengalir masuk dengan bebas.  Tidak dibutuhkan pendingin udara.

Kami tiba di tempat acara, dekat Lapangan Udara Wirasaba, sekitar pukul sepuluh.  Kami disambut dengan ramah, dan diberikan tempat duduk di salah satu meja.  Rupanya acara ngunduh mantu ini ‘all-seating’, tidak ada tamu yang berdiri, semuanya duduk seperti jamuan makan malam.

Seluruh acara, yang diiringi musik karawitan, dibawakan dalam bahasa Jawa, yang hanya saya mengerti sedikit-sedikit.  Dalam sambutannya, salah seorang tamu yang berwibawa – kepala desa, mungkin? – menyampaikan bahwa Lanud Wirasaba akan diubah menjadi bandara komersil tak beberapa lama lagi.  Suatu hari nanti, kita bisa terbang langsung ke Purwokerto!

Soto Sukaraja, yang kami santap di acara ngunduh mantu.

Kami berkesempatan juga menyaksikan acara adat Banyumasan, Begalan, yang diselenggarakan bila kedua pengantin sama-sama anak sulung atau anak bungsu, atau yang satunya sulung sementara satunya lagi bungsu.  Dua orang bertukar lawakan penuh petuah berumah tangga dan beragama.  Mereka menjabarkan simbolisasi berbagai barang rumah tangga yang diikat di sebuah pikulan.  Setelah usai, pikulan dibawa ke luar dari tempat acara.  Baru selangkah keluar dari pintu depan, pikulan langsung diserbu oleh hadirin yang menanti.  Mereka pun melangkah pergi dengan puas, membawa barang-barang yang sigap mereka renggut dari pikulan.

Setelah rangkaian acara usai, pasangan pengantin berdiri di dekat pintu keluar, dan undangan yang bukan merupakan kerabat dekat bersalaman dengan mereka sekaligus berangkat pulang.  Hanya kerabat dekat dan tamu undangan dari jauh yang masih tinggal untuk berfoto-foto.

Tujuan kami berkutnya adalah Baturraden yang tidak terlalu jauh dari Purbalingga.  Perjalanan menanjak membawa kami ke tempat yang berselimutkan suhu cukup dingin dan telah lama menjadi tempat tujuan wisata itu.  Biaya masuk per orang di akhir minggu adalah Rp 10.000 (di hari biasa Rp 8.000), masih ditambah dengan tarif masuk untuk kendaraan bermotor yang dibawa, sesuai ukurannya.

Sebelum masuk ke kawasan wisata Baturraden, anggota rombongan kami terlebih dahulu salat di masjid di seberang lapangan parkir.  Ada juga yang memanfaatkan WC umum yang bersih di samping masjid, cukup dengan Rp 1.000 saja per orang.

Beres semua, kami pun melangkahi gerbang masuk Baturraden, dan langsung disambut oleh taman yang ditata apik mengikuti kontur lereng.  Air mengalir di sela-sela bebatuan, dan jatuh membentuk air terjun alias ‘pancuran’.  Namun, berhubung musim kemarau, aliran air sedang tidak begitu deras ataupun dalam.  Sepintas, kalau kita tidak perhatikan aliran air ini, Baturraden sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda musim kering.  Semua tanaman masih menghijau, bunga-bunga bermekaran berwarna-warni.  Jembatan-jembatan melengkung indah, atau membentang lurus menantang, jauh dari permukaan tanah.

Selain sekadar berjalan-jalan dan menikmati pemandangan, cukup banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan di Baturraden.  Misalnya, menonton film di dalam badan pesawat asli yang dipajang di dekat gerbang masuk, menonton film 4D, berenang, mandi air panas, dipijat, main perahu bebek-bebekan, sampai di-‘terapi ikan’ yang geli-geli menyakitkan.  Enaknya di-‘terapi ikan’ di Baturraden, bukan hanya cukup murah (Rp 5.000 per 30 menit), melainkan juga bisa sambil duduk menikmati pemandangan di bawah langit terbuka, karena letak kolam-kolamnya yang cukup tinggi di lereng.  Jasa tukang foto juga ada.  Dengan harga mulai dari Rp 10.000/lembar untuk ukuran 4R, hasil cetak foto bisa kita ambil di kios fotografer Baturraden.

Makanan yang banyak dijajakan di sini adalah bakso, yang kuahnya tentu mujarab menghalau dingin, serta sate ayam dan kelinci.  Tak tega memakan kelinci, saya memilih sate ayam saja.  Yang membuat hidangan ini makin mantap adalah potongan-potongan bawang merahnya yang segar dan ‘nendang’ rasanya!  Beberapa kali makan di daerah ini, saya perhatikan memang bawang merahnya lezat sekali.  Mungkin berasal langsung dari sentra-sentra perkebunan bawang di sekitarnya.

Sayang kami tidak sempat mengitar-kitar terlalu jauh.  Kami tidak punya waktu untuk mencapai Pancuran 3 dan Pancuran 7, air terjun-air terjun yang katanya lebih menarik lagi daripada yang ada di bagian depan Baturraden.  Namun kami harus berjalan cukup jauh untuk mencapai kedua pancuran tersebut, padahal hari sudah beranjak sore.  Kami juga membatalkan niat menginap di Baturraden, meskipun di situ banyak tersedia hotel atau penginapan yang cukup murah, karena memutuskan untuk pulang malam itu juga ke Jakarta.

Kami turun ke Purwokerto, dan menumpang beristirahat serta mandi di rumah mertua salah seorang anggota rombongan.  Udara sejuk, dan saya tidak digigit nyamuk sekali pun.  Lepas Maghrib, kami pergi mencari oleh-oleh dan makan malam.  Sempat mencoba di pasar raya Rita, kami lantas dibawa ke toko penganan dan oleh-oleh Banyumas dan sekitarnya, Aneka Sari, yang terletak di jalan di belakang pusat perbelanjaan Moro.  Selain penganan kering seperti nopia, kerupuk tahu pong, dan lain-lain, Aneka Sari ini bersebelahan dengan kedai Aneka Sari 999 yang tidak hanya menjual mendoan matang, melainkan juga paket mendoan mentah.  Dengan harga Rp 30.000/paket, kita akan memperoleh 24 lembar tempe mendoan, lengkap dengan terigu, bumbu, dan kecap.  Oleh-oleh mendoan mentah ini tahan dua hari.

Tujuan kami berikutnya adalah Gelanggang Olahraga alias GOR.  Di trotoar depan GOR, berjajar warung-warung makan lesehan yang memikat selera.  Di malam minggu itu, GOR juga ramai bukan hanya karena para pengejar selera, melainkan para penonton dan pebalap motor.  Mereka berbondong-bondong memasuki kawasan GOR, dan bunyi berisik motor-motor yang dipacu pun menemani kami makan seafood di lesehan.

Saya makan ditemani segelas ‘black choco’ dingin dan nikmat dari Grék, penjual minuman cokelat asli Cilacap dan kopi yang membuka gerai mobil di samping warung seafood yang kami sambangi.  Belum puas mengisi perut, kami pun membeli jagung bakar yang sudah kami idam-idamkan sejak di Baturraden tadi.  Jagung yang segar, yang dipetik sendiri dari kebun oleh sang penjual di pagi hari sebelum kemudian dijual dalam kondisi terbakar, dengan tiga rasa yang bisa dipilih, manis, asin, atau pedas.

Sambil menunggu si bapak mengipasi jagung yang kami pesan di atas bara, kami pun mengobrol dengannya.  Menurutnya, adu balap motor di GOR  biasanya akan dibubarkan polisi sekitar pukul 9 atau 10 malam.  Sementara itu, ya, suara bising bersahut-sahutan dari mesin-mesin yang digeber pun menjadi penghangat malam minggu di Purwokerto.

Pukul setengah sebelas malam, kami telah kembali meluncur ke Jakarta.  Tak sampai 24 jam di Banyumas, tapi cukup banyak hal menarik yang kami lihat dan alami.  Semakin besar niat saya ‘bertualang’ menyusuri kota-kota di Jawa dengan mobil.

Jogjakarta and Its Vicinity [Gallery]

This post is about Indonesia

Right.  This is a long-due post.  I made a trip to Jogjakarta last year – my second after my first time years and years ago when my cousins still lived there.  Just today, after I read about the royal wedding that will take place next week, I realised that apart from the piece about the Mendut candi and vihara, I wrote nothing more about my trip.  Guiltily, I browsed my folders to find the pictures I made there.

Not too many.  And I was using my old pocket camera so the quality of the pictures was somewhat I’m not too proud of.  But anyway, here are some of the pictures I made in Jogjakarta and its vicinity (areas like where the Borobudur is situated are parts of the Central Java province).

Jogjakarta – home of kings past and present, a sanctuary of faiths, a refugee of the Republic during its harsh times – may you live long and prosper.

Candi dan Vihara Mendut

This post is about Indonesia

Belum lama ini, sebagian tim Lompat-lompat melompat-lompat ke Jogja.  Sayang kami hanya sebentar di sana, namun lumayanlah, kami bisa melihat berbagai tempat yang menarik, dan juga menonton sendratari Ramayana.  Memang kami tiba di saat yang kurang tepat, yaitu berbarengan dengan Muktamar Muhammadiyah.  Akibatnya, Jogja – dan juga situs-situs pariwisata di sekitarnya – sedang ramai-ramainya dengan para peserta dan penggembira muktamar.

Namun perasaan risih karena tergencet sana-sini tidak ada bandingannya dengan kemarahan menggelegak di hati kami saat melihat perilaku sejumlah ‘turis domestik’ di Candi Borobudur.  Bayangkan, warisan dunia yang dipuja jutaan orang di seluruh dunia, ternyata malah dikotori sampah oleh anak bangsa pemiliknya sendiri.  Selain itu, meski dipasangi tulisan larangan memanjat candi, ternyata justru sebagian wisatawan malah dengan sengaja menaiki candi untuk berfoto-foto – termasuk di samping papan-papan larangan!  Geram betul rasanya melihat itu semua!

Yah, terlepas dari hal menyebalkan itu, kami menikmati kunjungan kami ke sejumlah candi di sekitar Jogjakarta, termasuk Candi Mendut.  Meskipun terletak sebelum Candi Borobudur di jalan menuju candi yang luar biasa besar itu, ternyata tidak semua wisatawan berminat mengunjungi Mendut terlebih dahulu.  Barangkali karena ukurannya yang kecil, dan tidak (belum) berhasil direnovasi utuh pula.  Padahal candi ini, dan juga biara di sampingnya, sungguh menimbulkan kekaguman.  Beruntung kami menyewa jasa seorang kusir sado, yang dengan bayaran 20 ribu/penumpang bersedia mengantarkan kami ke ketiga candi yang ada di kawasan itu dan menunggui kami tanpa batas waktu.

Vihara Mendut

Salah satu bangunan dalam kompleks Vihara Mendut

Biara (vihara) di samping candi dinamai juga Mendut.  Wisatawan boleh masuk, gratis, namun tentu saja, harap jaga ketenangan dan kebersihan.  Bagaimana pun juga kompleks ini adalah tempat beribadah dan tempat tinggal para biksu.  Memasuki ruangan pun tidak boleh sembarangan, harus mencopot sepatu.

Arca di Vihara Mendut

Salah satu arca Buddha di Vihara Mendut.

Sewaktu berada di dalamnya, sejenak kami seperti lupa sedang berada di Indonesia.  Kami dikelilingi keheningan, yang makin diperkuat oleh taman yang rindang dan kolam-kolam yang tenang, serta berbagai artefak agama Buddha yang berasal dari berbagai negara, antara lain Jepang.  Ada pula sejumlah arca yang, di mata kami yang awam, terasa lebih Hindu daripada Buddha, sehingga menimbulkan kesan ‘unik’.   Mungkin ada yang bisa membantu menjelaskan hal ini kepada kami?  Hal unik lain adalah vihara ini sebelumnya merupakan biara Katolik.

Patung di Mendut

Salah satu patung yang menghiasi tepi kolam di Vihara Mendut.

Setelah melihat-lihat biara, kami menyambangi Candi Mendut di depannya.  Saat ini hanya satu struktur yang berdiri cukup utuh, itu pun tanpa puncaknya.  Sekeliling candi dihiasi berbagai relief, stupa, dan patung.  Sejumlah batu yang belum berhasil disatukan kembali menjadi bangunan dijejerkan dengan rapi di samping bangunan candi.  Sebuah pohon beringin raksasa berdiri di dalam kompleks candi.  Melihat ukurannya, pasti usianya sudah sangat tua.

Candi Mendut

Candi Mendut

Untuk mengalami perasaan paling menggetarkan saat mengunjungi Mendut, masuklah ke sebelah dalam.  Di ruangan dengan langit-langit yang membumbung jauh ke atas – sempat menimbulkan pikiran “Piramida!” dalam otak kami – berdirilah tiga arca Buddha berukuran besar dengan berbagai pose.  Mereka duduk dalam sunyi di dalam ruangan yang temaram dan dingin, saksi dari masa-masa yang telah lama berlalu.  Sungguh memalukan rasanya bila warisan tak ternilai seperti ini justru diabaikan atau bahkan dirusak oleh tangan-tangan kita sendiri.

O ya, tiket masuk Candi Mendut juga sudah mencakup biaya masuk ke Candi Pawon, jadi ada baiknya Anda juga mengunjungi candi yang bahkan berukuran lebih kecil lagi dari Mendut itu.