Dua Hari, Semalam di Semarang – Februari 2013 (bagian I)

This post is about Indonesia

Azan subuh belum lagi berkumandang di Semarang dan sekitarnya ketika saya menapak turun dari kereta yang beberapa jam sebelumnya bertolak dari Jakarta.  Sendirian saya mendatangi kota ini di bulan Februari 2013 untuk menghadiri pernikahan teman.  Sendirian, karena teman-teman lain kebetulan tidak bisa menyesuaikan jadwal dengan undangan tersebut.  Saya nekad saja, padahal belum pernah sekalipun ke Semarang.

Saya membeli tiket kereta Gambir-Semarang Tawang secara daring melalui Tiket.  Prosedurnya menurut saya cukup mudah, bisa memilih kursi pula.  Dengan semangat saya memilih kursi di tepi jendela dengan maksud menikmati pemandangan… Lalu baru kemudian ingat hal itu percuma saja, karena saya memilih kereta yang berjalan di malam hari, haha.  Di hari keberangkatan, saya cukup mendatangi loket penukaran bukti pembelian daring dan memperoleh tiket saya di situ.

semarang02

Singkat cerita, kini saya telah berada di Tawang.  Hari masih gelap-gulita, dan daripada keburu keluar serta sulit menemukan tempat untuk solat, saya memutuskan mengisi perut dengan minuman hangat terlebih dahulu di Dunkin Donuts.  Kebetulan cabang DD yang pintunya menghadap ke peron ini sudah buka, sementara tempat makan lain rata-rata masih tutup.

Usai subuh, barulah saya melangkah keluar dari peron.  Dan wuih, langsung didekati beberapa orang yang menawarkan jasa becak.  Sesopan mungkin saya menolak.  Seorang di antaranya masih cukup keukeuh mengikuti saya beberapa lama, berharap saya berubah pikiran mungkin.  Kasihan juga, tetapi saya memang berniat berjalan kaki saja pagi itu.

semarang01

Setelah sejenak melihat-lihat stasiun yang cukup tua usianya ini (karena saya akan pulang naik pesawat, tidak akan kembali ke stasiun ini) saya pun mencari jalan menuju tempat yang saya tuju: Gereja Immanuel, populer sebagai ‘Gereja Blenduk’.  Benar-benar tanpa tahu arah, tidak pegang peta, hanya sempat melihat-lihat peta Semarang melalui Google Maps.  Hanya mengandalkan bertanya.  Untunglah bapak-bapak yang saya tanya menjawab meyakinkan, “Tidak jauh kok mbak, lurus saja sampai mentok, lalu belok kiri.  Dekat kok, tuh dari sini juga kelihatan…”  Baiklah.

semarang03

Saya melintasi polder yang airnya berwarna kehijauan di depan stasiun, lantas tanpa terlalu pikir-pikir menyusuri jalan-jalan kota tua Semarang yang diapit bangunan-bangunan tua.  Banyak yang tampak megah dan cantik, namun tidak sedikit pula yang terlihat kurang terawat.  Terkadang, bau kurang sedap meruah dari saluran-saluran air yang tampak nyaris kepenuhan oleh air berwarna hitam, mungkin sisa limpahan rob, yang memang sering membanjiri wilayah ini.

semarang04

Seandainya lebih terurus lagi daripada kondisinya sekarang, pasti kawasan kota tua ini semakin menarik.  Saya sendiri sangat menyukai bangunan-bangunan era kolonial sehingga sangat menikmati jalan-jalan pagi saya ini.  Seorang bapak menegur ramah, bertanya saya dari mana, kok pagi-pagi sudah jalan-jalan, rumahnya di mana.  Saya jawab saja saya baru dari stasiun (tidak bohong, kan?).

semarang05

Puas menemukan dan mengagumi arsitektur Gereja Blenduk dan beberapa gedung di sekitarnya dari luar, saya meneruskan ke jalan-jalan kecil di kawasan itu.  Saya coba bayangkan seperti apa dahulu kawasan ini, ketika kehidupan kota Semarang masih ramai terpusat di sini.

semarang06

Saya kembali ke titik awal, Stasiun Tawang, dan meminta sebuah taksi Blue Bird untuk mengantarkan saya ke tujuan berikutnya, kelenteng Sam Poo Kong, yang agak jauh letaknya dari stasiun.  Sang supir mengira saya orang Tionghoa yang hendak beribadah di kelenteng.  Saya tertawa dan berkata, Bukan, ayah saya orang Manado, makanya mungkin wajah saya terlihat seperti orang Tionghoa.  Kami pun jadi bercakap-cakap di sepanjang perjalanan.

“Saya dari kecil tinggal di sini.  Kalau saya bilang, kota ini perkembangannya lambat,” katanya.

“Tapi tentram toh Pak?” Saya berkomentar.

“Iya, tentram.”  Tahu saya dari Jakarta, ia berkata, “Maaf ya Mbak, saya memang orang Indonesia.  Tapi saya tidak berniat pindah ke Jakarta.  Saya memang belum pernah ke sana.  Tapi kalau lihat di TV, orangnya kelihatan banyak sekali.  Kali Ciliwung juga tampak kotor.  Habis banjir-banjir gitu kan Mbak?  Rumah Mbak kena nggak?”

Yah, saya sendiri secara pribadi berpendapat tinggal di kota yang tidak terlalu besar seperti Semarang atau Balikpapan tampaknya lebih menyenangkan daripada setiap hari disergap kemacetan dan polusi di Jakarta.  Toh kalau yang kita khawatirkan adalah segala kenyamanan kota besar modern seperti restoran-restoran cepat saji atau kafe-kafe internasional, kini mereka pun sudah mudah ditemukan di ibukota-ibukota provinsi berukuran sedang.  Saya tidak merasa pak supir perlu meminta maaf karena lebih memilih berdiam di Semarang yang mungkin bagi banyak orang Jakarta bukan kota yang perlu dilirik sebagai tempat tinggal.

semarang08

Meskipun tadi telah mengulur-ulur waktu di kota tua, saya tiba kepagian di Sam Poo Kong.  Loket belum buka, namun penjaga di situ membolehkan kami—saya dan beberapa wisatawan lain—masuk.  “Silakan saja, bayarnya nanti saja,” ucapnya ramah.  Saya melewati gerbang dan langsung disambut keteduhan pepohonan yang menaungi sejumlah meja batu beserta kursi-kursinya.  Beberapa lama saya duduk di depan salah satu meja, menikmati pagi, memandang ke arah bangunan-bangunan dalam kompleks kelenteng, baik yang telah lama selesai dibangun maupun yang sedang dibangun.  Saya bertanya-tanya apa kegunaan bangunan yang belum selesai itu nantinya: panggung sandiwara Cina kah?  Aula untuk peribadahan?

semarang09

Hampir sejam setelahnya baru saya berdiri dan mulai berjalan-jalan berkeliling.  Tampak sekelompok pria yang sepertinya petugas keamanan tengah di-briefing dan kemudian berlatih.  Bangunan-bangunan utama peribadahan kelenteng dipisahkan oleh saluran air yang ditata bagai sungai kecil dari pelataran luas di depannya.  Berbekalkan tiket khusus ke bagian itu, saya pun menyeberang dan mengamati bangunan-bangunan tersebut dari dekat.  Warna merah terang tentu mendominasi, namun juga ada warna hijau, dan bila saya tidak salah, sentuhan Jawa pada arsitektur atap bangunan utama.  Beberapa bagian tidak bisa dimasuki oleh orang yang tidak berniat beribadah, dan di beberapa bagian kita harus mencopot sepatu.  Aturan-aturan ini tentu harus kita hormati.

semarang07

Figur paling dihormati di kelenteng ini adalah sang pelaut Muslim dari negeri Cina,  Cheng Ho.  Patung raksasanya gagah berdiri di depan bangunan utama peribadahan.  Di kelenteng ini pun terdapat beberapa relik yang berhubungan dengan dunia maritim.  Kura-kura, si perlambang usia panjang, juga banyak menghiasi kelenteng ini, baik kura-kura sungguhan maupun yang dari batu.

semarang10

Saya lalu mendatangi sekumpulan bapak-bapak yang duduk di bawah pepohonan tempat saya sempat bercokol sekitar sejam tadi.  Dengan ramah mereka melayani pertanyaan saya mengenai cara pergi ke Pagoda Buddhagaya Watugong.  Berdasarkan petunjuk mereka, saya menyeberang di depan kelenteng, dan menaiki bis kecil – seukuran Metro Mini – ke arah Banyumanik.  Cukup jauh juga perjalanan ke pagoda tersebut, namun buat saya sama sekali tidak membosankan, karena ini kali pertama saya melihat semua yang terpampang di hadapan mata.

Tiba di Pagoda Buddhagaya Watugong, terlintas sebuah pikiran konyol di benak saya yang rupanya telah terpenjara kehidupan bertahun-tahun di Jakarta: Wah, rasanya seperti bukan di Indonesia, seperti di negara asing saja.  Ini konyol.  Tentu saja ini Indonesia.  Indonesia yang merupakan keseharian bagi penduduk daerah ini.  Indonesia yang berbeda dari Jakarta ,tapi tidak kurang Indonesia-nya.

semarang11

semarang12

Di pagoda ini pun penjaganya sungguh ramah.  Ia mempersilakan saya masuk.  Untuk mencapai pagoda, kita harus mendaki undak-undakan.  Sebelum sampai di bangunan utama pagoda, kita disambut patung Dewi Kwam In di tengah-tengah pelataran, sementara tak jauh darinya, sebuah patung Buddha berwarna keemasan bersemayam damai di bawah sebatang pohon boddhi yang rindang.

semarang14

semarang13

Di bagian belakang kelenteng terdapat kamar mandi yang cukup bersih.  Saya manfaatkan untuk mencuci muka yang sejak kemarin belum tersentuh air mandi.  Segar rasanya.  Saya lantas meneruskan mengelilingi pagoda yang sebenarnya tidak seberapa luas, mengamati sebanyak mungkin detail: patung-patung dan ukiran-ukiran naga, kura-kura, singa, pita-pita merah yang diikat di berbagai objek.

semarang15

Hari sudah siang sekali ketika saya meninggalkan pagoda, naik angkot ke terminal Banyumanik, dilanjutkan dengan bis Trans Semarang yang nyaman.  Saya turun di halte SMA 5 Pemuda, tepat di seberang hotel Amaris Pemuda, tempat saya menginap.  Saya memilih hotel ini karena melihat letaknya yang cukup dekat ke beberapa objek wisata di Semarang, seperti Lawang Sewu, selain harganya yang memadai untuk kantong saya dan pengalaman saya selama ini di cabang-cabang lain yang tidak mengecewakan.  Ternyata beberapa keuntungan lain menginap di hotel ini adalah: hanya selemparan batu dari halte Trans Semarang; di bagian bawah hotel ada cabang Dunkin Donuts dan Gramedia; kalau perlu apa-apa juga mal Paragon dan Carrefour bisa didatangi dengan berjalan kaki.

semarang20

Setelah beristirahat sejenak di kamar hotel, saya keluar lagi untuk mencari makan di Carrefour, sekalian menuju Lawang Sewu.  Karena lapar, saya pilih saja sebuah restoran cepat saji yang menyajikan makanan Asia.  Hmmm… rasanya biasa saja sih, harganya pun setara dengan restoran cepat saji lain alias ‘harga Jakarta’, tapi ya sudahlah.  Namanya orang lapar.  Tapi saya bertekad, sehabis ini kalau mau makan harus di luar mal!

Ah, tapi sebelumnya saya perlu bicarakan dulu tentang betapa enaknya berjalan kaki di banyak bagian Semarang.  Trotoar luas, rapi, kerap kali dinaungi pohon rindang.  Dari hotel ke Lawang Sewu, saya melewati kantor walikota dan DPRD yang megah, dan juga papan-papan di mana surat kabar hari itu ditempelkan, bebas dibaca oleh warga yang kebetulan lewat.  Kota-kota Indonesia perlu lebih banyak trotoar semacam ini!

semarang19

Tiba di Lawang Sewu, yang mungkin merupakan ikon paling kenamaan Kota Semarang, saya pun membeli tiket dan magnet kulkas berbentuk Lawang Sewu.  Selain itu, saya harus membayar pemandu yang mengantar saya menyambangi berbagai pojok Lawang Sewu yang sudah dibuka untuk umum (karena sebagian bangunan masih berada dalam tahap renovasi, termasuk bagian di mana terdapat jendela kaca patri yang indah).   Pak pemandu menemani saya dengan berbagai kisah sejarah maupun ‘urban legend’ yang juga membuat kompleks bangunan ‘berpintu seribu’ ini terkenal.  Pasti semua juga sudah pernah kan mendengar tentang kejadian-kejadian seram yang konon terjadi di Lawang Sewu?

semarang16

Dalam hati, saya sendiri merasa seandainya gedung-gedung di kompleks ini terawat baik semuanya, dan juga digunakan secara aktif, tentu tidak terasa (terlalu) menyeramkan.  Atmosfernya tidak akan ‘wingit’, tidak akan jadi lokasi favorit ‘uji nyali’ (kalau mau, Anda bisa lho ikut tur malam hari di gedung ini).  Malah gedung-gedung tersebut pastilah cantik sekali di masa jayanya, ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang, sibuk dengan berbagai aktivitas mereka.

Di bagian yang sudah direnovasi dan dijadikan museum PT KAI, saya belajar banyak tentang sejarah dan kondisi perkereta-apian di Indonesia sekarang.  Wah, ternyata di Sumatra masih ada lokomotif yang menjalankan tugas luar biasa, menarik 40 sampai 60 gerbang sekaligus!  Sedihnya, tersaji pula peta rute-rute daerah-daerah operasional KAI, yang juga menunjukkan stasiun-stasiun yang sudah ‘dimatikan’ alias ditutup.  Ah!  Padahal dulu kereta merupakan salah satu alat transportasi utama yang menghubungkan kota-kota di Sumatra dan Jawa.

semarang18

Saya sempat ditawari masuk ke lorong-lorong bawah tanah, tempat difilmkannya video hantu yang popular di TV maupun Youtube.  Saya menolak sambil tertawa.

“Kenapa?  Kan sayang sudah jauh-jauh ke sini,” kata penjaga di depan tangga turun ke lorong-lorong tersebut.  (Untuk turun, kita harus membayar lagi biaya masuk yang juga mencakup penyewaan sepatu bot, karena di bawah sana air kerap menggenang.)

“Nggak ah Pak.  Saya tidur sendirian di hotel dekat sini,” saya berseloroh.

Beberapa kali mereka mencoba membujuk saya, namun gagal.  Bener deh, saya tidak ada niat turun ke bawah, meskipun katanya di bawah sana sedang ramai oleh pengunjung, tidak menakutkan.  Memang sih masih siang.  Saya hanya malas saja kalau malam nanti jadi terbayang-bayang suasana di lorong-lorong itu.

semarang17

Bukannya percaya takhayul ya, tapi kebetulan sekali malam harinya saat saya pulang dari Simpang Lima usai makan malam, saya kembali melintas di samping Lawang Sewu saat berjalan kaki menuju hotel.  Tanpa diduga, di depan saya cabang pohon yang cukup besar tahu-tahu jatuh ke trotoar di depan saya!  Seandainya saya tadi tidak melambatkan langkah karena menengok layar telepon genggam, mungkin cabang pohon yang tumbuh di tepi kompleks Lawang Sewu itu bakal menimpa saya.

Ups.

Anggaplah sambutan pertanda saya diterima di Semarang!  Hehehe.

Bersambung ke bagian kedua…

Akhir Minggu di Banyumas

This post is about Indonesia

Waktu menunjukkan pukul 8 malam ketika akhirnya kami meninggalkan restoran padang di dekat pintu tol Cikampek.  Bulan setengah naik di atas sawah-sawah yang gelap.  Hampir tak ada tanda-tanda kehidupan, selain kafe-kafe Pantura bersponsor minuman keras yang justru baru saja buka dan mulai ramai.  Saat itu hari Jumat, dan seusai kerja kami bertolak dari Jakarta menuju Purwokerto, bersaing dengan berbagai truk dan bis besar yang meluncur kencang di Jalur Pantura.  Kami hendak menghadiri acara ‘ngunduh mantu’ seorang rekan yang sedianya akan dilangsungkan hari Sabtu keesokan harinya di Purbalingga.  Meskipun demikian, kami memutuskan untuk bermalam di Purwokerto, sekitar 45 menit jauhnya dari tempat penyelenggaraan acara.

Pukul dua, kami tiba di Purwokerto.  Jalanan telah sepi, namun di depan gedung RRI Purwokerto, masih ada kerumunan orang ramai.  Ah, ternyata sedang ada pagelaran wayang!  Seandainya belum lelah sekali, sebenarnya saya ingin sekali bergabung dengan mereka.  Apa mau dikata, tubuh sudah pegal-pegal dan mata sudah kriyep-kriyep.

Setelah agak ‘tersesat’ sedikit, kami berhasil menemukan Hotel Wisata Niaga.  Gedungnya megah juga, namun yang tak kami sangka adalah harga kamarnya yang tergolong murah untuk fasilitas yang dihargai setidaknya 500 ribu di Jakarta.  Harga kamar twin bed di akhir minggu itu adalah 275 ribu, ditambah biaya sarapan sepuasnya 25 ribu/orang.  Dua botol air minum, sabun, dan sampo disediakan gratis, tapi untuk fasilitas lainnya, harus membeli (ada drugstore di lantai dasar hotel ini) atau menyewa (misalnya ketel listrik untuk memanaskan air, bonus teh dan kopinya).

Setelah bebersih-bersih, kami pun berangkat tidur.  Hhhh, leganya akhirnya tubuh bisa lurus di kasur!  Ngomong-ngomong, selain Hotel Wisata Niaga ini, di Purwokerto juga sudah ada sebuah cabang Hotel Aston, yang menjulang dengan cukup mencolok di salah satu perempatan.  Perkembangan kota ini rupanya memang cukup pesat, sehingga membuat pangling anggota rombongan kami yang sebelumnya telah berkali-kali ke Purwokerto.

Pagi harinya, setelah sarapan mengenyangkan di ruang makan hotel, kami pun check out.  Saya baru perhatikan benar-benar bahwa seluruh fasad muka hotel ini tidak berdinding, mulai dari lobi sampai ruang makan.  Udara kota Purwokerto yang masih segar pun mengalir masuk dengan bebas.  Tidak dibutuhkan pendingin udara.

Kami tiba di tempat acara, dekat Lapangan Udara Wirasaba, sekitar pukul sepuluh.  Kami disambut dengan ramah, dan diberikan tempat duduk di salah satu meja.  Rupanya acara ngunduh mantu ini ‘all-seating’, tidak ada tamu yang berdiri, semuanya duduk seperti jamuan makan malam.

Seluruh acara, yang diiringi musik karawitan, dibawakan dalam bahasa Jawa, yang hanya saya mengerti sedikit-sedikit.  Dalam sambutannya, salah seorang tamu yang berwibawa – kepala desa, mungkin? – menyampaikan bahwa Lanud Wirasaba akan diubah menjadi bandara komersil tak beberapa lama lagi.  Suatu hari nanti, kita bisa terbang langsung ke Purwokerto!

Soto Sukaraja, yang kami santap di acara ngunduh mantu.

Kami berkesempatan juga menyaksikan acara adat Banyumasan, Begalan, yang diselenggarakan bila kedua pengantin sama-sama anak sulung atau anak bungsu, atau yang satunya sulung sementara satunya lagi bungsu.  Dua orang bertukar lawakan penuh petuah berumah tangga dan beragama.  Mereka menjabarkan simbolisasi berbagai barang rumah tangga yang diikat di sebuah pikulan.  Setelah usai, pikulan dibawa ke luar dari tempat acara.  Baru selangkah keluar dari pintu depan, pikulan langsung diserbu oleh hadirin yang menanti.  Mereka pun melangkah pergi dengan puas, membawa barang-barang yang sigap mereka renggut dari pikulan.

Setelah rangkaian acara usai, pasangan pengantin berdiri di dekat pintu keluar, dan undangan yang bukan merupakan kerabat dekat bersalaman dengan mereka sekaligus berangkat pulang.  Hanya kerabat dekat dan tamu undangan dari jauh yang masih tinggal untuk berfoto-foto.

Tujuan kami berkutnya adalah Baturraden yang tidak terlalu jauh dari Purbalingga.  Perjalanan menanjak membawa kami ke tempat yang berselimutkan suhu cukup dingin dan telah lama menjadi tempat tujuan wisata itu.  Biaya masuk per orang di akhir minggu adalah Rp 10.000 (di hari biasa Rp 8.000), masih ditambah dengan tarif masuk untuk kendaraan bermotor yang dibawa, sesuai ukurannya.

Sebelum masuk ke kawasan wisata Baturraden, anggota rombongan kami terlebih dahulu salat di masjid di seberang lapangan parkir.  Ada juga yang memanfaatkan WC umum yang bersih di samping masjid, cukup dengan Rp 1.000 saja per orang.

Beres semua, kami pun melangkahi gerbang masuk Baturraden, dan langsung disambut oleh taman yang ditata apik mengikuti kontur lereng.  Air mengalir di sela-sela bebatuan, dan jatuh membentuk air terjun alias ‘pancuran’.  Namun, berhubung musim kemarau, aliran air sedang tidak begitu deras ataupun dalam.  Sepintas, kalau kita tidak perhatikan aliran air ini, Baturraden sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda musim kering.  Semua tanaman masih menghijau, bunga-bunga bermekaran berwarna-warni.  Jembatan-jembatan melengkung indah, atau membentang lurus menantang, jauh dari permukaan tanah.

Selain sekadar berjalan-jalan dan menikmati pemandangan, cukup banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan di Baturraden.  Misalnya, menonton film di dalam badan pesawat asli yang dipajang di dekat gerbang masuk, menonton film 4D, berenang, mandi air panas, dipijat, main perahu bebek-bebekan, sampai di-‘terapi ikan’ yang geli-geli menyakitkan.  Enaknya di-‘terapi ikan’ di Baturraden, bukan hanya cukup murah (Rp 5.000 per 30 menit), melainkan juga bisa sambil duduk menikmati pemandangan di bawah langit terbuka, karena letak kolam-kolamnya yang cukup tinggi di lereng.  Jasa tukang foto juga ada.  Dengan harga mulai dari Rp 10.000/lembar untuk ukuran 4R, hasil cetak foto bisa kita ambil di kios fotografer Baturraden.

Makanan yang banyak dijajakan di sini adalah bakso, yang kuahnya tentu mujarab menghalau dingin, serta sate ayam dan kelinci.  Tak tega memakan kelinci, saya memilih sate ayam saja.  Yang membuat hidangan ini makin mantap adalah potongan-potongan bawang merahnya yang segar dan ‘nendang’ rasanya!  Beberapa kali makan di daerah ini, saya perhatikan memang bawang merahnya lezat sekali.  Mungkin berasal langsung dari sentra-sentra perkebunan bawang di sekitarnya.

Sayang kami tidak sempat mengitar-kitar terlalu jauh.  Kami tidak punya waktu untuk mencapai Pancuran 3 dan Pancuran 7, air terjun-air terjun yang katanya lebih menarik lagi daripada yang ada di bagian depan Baturraden.  Namun kami harus berjalan cukup jauh untuk mencapai kedua pancuran tersebut, padahal hari sudah beranjak sore.  Kami juga membatalkan niat menginap di Baturraden, meskipun di situ banyak tersedia hotel atau penginapan yang cukup murah, karena memutuskan untuk pulang malam itu juga ke Jakarta.

Kami turun ke Purwokerto, dan menumpang beristirahat serta mandi di rumah mertua salah seorang anggota rombongan.  Udara sejuk, dan saya tidak digigit nyamuk sekali pun.  Lepas Maghrib, kami pergi mencari oleh-oleh dan makan malam.  Sempat mencoba di pasar raya Rita, kami lantas dibawa ke toko penganan dan oleh-oleh Banyumas dan sekitarnya, Aneka Sari, yang terletak di jalan di belakang pusat perbelanjaan Moro.  Selain penganan kering seperti nopia, kerupuk tahu pong, dan lain-lain, Aneka Sari ini bersebelahan dengan kedai Aneka Sari 999 yang tidak hanya menjual mendoan matang, melainkan juga paket mendoan mentah.  Dengan harga Rp 30.000/paket, kita akan memperoleh 24 lembar tempe mendoan, lengkap dengan terigu, bumbu, dan kecap.  Oleh-oleh mendoan mentah ini tahan dua hari.

Tujuan kami berikutnya adalah Gelanggang Olahraga alias GOR.  Di trotoar depan GOR, berjajar warung-warung makan lesehan yang memikat selera.  Di malam minggu itu, GOR juga ramai bukan hanya karena para pengejar selera, melainkan para penonton dan pebalap motor.  Mereka berbondong-bondong memasuki kawasan GOR, dan bunyi berisik motor-motor yang dipacu pun menemani kami makan seafood di lesehan.

Saya makan ditemani segelas ‘black choco’ dingin dan nikmat dari Grék, penjual minuman cokelat asli Cilacap dan kopi yang membuka gerai mobil di samping warung seafood yang kami sambangi.  Belum puas mengisi perut, kami pun membeli jagung bakar yang sudah kami idam-idamkan sejak di Baturraden tadi.  Jagung yang segar, yang dipetik sendiri dari kebun oleh sang penjual di pagi hari sebelum kemudian dijual dalam kondisi terbakar, dengan tiga rasa yang bisa dipilih, manis, asin, atau pedas.

Sambil menunggu si bapak mengipasi jagung yang kami pesan di atas bara, kami pun mengobrol dengannya.  Menurutnya, adu balap motor di GOR  biasanya akan dibubarkan polisi sekitar pukul 9 atau 10 malam.  Sementara itu, ya, suara bising bersahut-sahutan dari mesin-mesin yang digeber pun menjadi penghangat malam minggu di Purwokerto.

Pukul setengah sebelas malam, kami telah kembali meluncur ke Jakarta.  Tak sampai 24 jam di Banyumas, tapi cukup banyak hal menarik yang kami lihat dan alami.  Semakin besar niat saya ‘bertualang’ menyusuri kota-kota di Jawa dengan mobil.

Georgetown: Warisan Budaya Dunia di Penang

This post is about Malaysia

Mengapa orang Indonesia bepergian ke Penang, yang, ngomong-ngomong, dibaca pinang?

“Kebanyakan untuk berobat, Mbak,” kata seorang penjaga minimarket tak jauh dari tempat saya menginap.  Si mas penjaga ini berasal dari Jawa.  Seperti juga banyak tenaga kerja asal Indonesia lain yang cukup mudah ditemukan di Penang, ia datang mengadu nasib ke negeri jiran karena merasa sudah sulit menemukan pekerjaan yang cocok baginya di tanah air.

Berobat – atau bekerja.  Sekilas memang itulah dua tujuan utama orang Indonesia berkunjung ke pulau yang terletak di lepas pantai sebelah barat Malaysia Barat ini.  Namun semakin banyak yang datang untuk berwisata, apalagi sejak AirAsia membuka penerbangan langsung dari Medan, Surabaya, dan Jakarta ke Penang.  Jadi tidak perlu ke Kuala Lumpur dulu baru naik bis atau kereta selama beberapa jam menuju pulau tersebut.  Bahkan frekuensi terbang AA dari Jakarta telah ditambah menjadi dua kali sehari, sehingga cukup nyaman untuk yang merencanakan perjalanan.

Pembatas buku dari Cheong Fatt Tze; contoh tiket bis Penang; kupon taksi bandara; gantungan kunci gratis dari Owl Museum; kartu nama Coob Cafe yang berbentuk seperti tiket kereta Japan Railways; kartu pos gratis dari Kongsi Khoo; tiket masuk Owl Museum; tiket trem Bukit Bendera.

More

Pulang ke Sumatera Utara (2)

This post is about Indonesia

Kami meneruskan perjalanan ke Medan, dengan singgah di Brastagi untuk sekadar menengok pasar yang berhias warna-warni bunga dan buah-buahan, serta menyantap jagung bakar yang hangat dan meneguk air tebu yang manis.  Kota tetirah ini bersuhu sejuk dan sepertinya nyaris selalu berada dalam bayang-bayang hujan.  Atau mungkin kebetulan saja setiap kali ke kota ini saya selalu kebagian cuaca seperti itu.

Berbagai buah segar menanti pembeli di pasar Brastagi.

Jagung bakar dan air tebu yang nikmat disantap di udara dingin.

Sebenarnya di Brastagi ada sejumlah resor yang cukup terkenal, di antaranya Mikie Holiday yang pernah menjadi tempat fanmeeting dan konser band Korea U-KISS pada Maret 2011.  Seandainya ada waktu, ingin saya mampir… tapi rupanya kali ini tidak bisa.  Saya hanya lewat saja di depan Mikie yang tampak megah dan mengundang.  Selepas Brastagi, mobil menyusuri jalan berkelok-kelok yang membelah Hutan Raya.  Bila gampang mabuk darat, rute ini pasti cukup ‘meninggalkan kesan’.  Tidak heran salah satu hal yang paling teringat oleh anggota U-KISS adalah perjalanan yang harus mereka tempuh dari Medan ke Brastagi (dan tentunya balik lagi!)

Kami singgah lagi untuk mencicipi makan durian di salah satu pondok khusus penjual buah berduri itu di tepi jalan.  Harganya 25 ribu sebuah, terhitung mahal untuk ukuran Sumatera.  Namun ini dengan jaminan bahwa bila durian-nya tidak enak, bisa kita tukar tanpa menambah biaya.  Hanya saja…  kalau menurut saya kok rasa durian-nya kurang mantap.  Untuk memuaskan rasa penasaran saja sih, lumayanlah.

Jejeran durian. Tampang cukup menggoda… tapi yang ini kebetulan rasanya tidak terlalu istimewa.

Sepanjang perjalanan, terlihat rumah-rumah tua yang kelihatan termakan usia.  Sayang sekali, padahal bila diperbaiki dan dirawat, pasti rumah-rumah itu cantik dan bisa memikat hati wisatawan yang sekadar lewat sekali pun.  Umumnya pemilik rumah-rumah itu tidak lagi berdomisili di Sumatera Utara, melainkan pindah ke Jawa, barangkali ke Jakarta, tempat di mana sedemikian banyak uang berputar.  Generasi ‘muda’ yang meninggalkan kota asal setelah generasi ‘tua’ tiada itu rata-rata tidak ingin menjual rumah peninggalan orang tua, namun juga tak ingin meninggalinya.  Akhirnya banyak yang disewakan dengan murah, bahkan hanya dengan harga puluhan ribu per tahun, semata agar rumah-rumah itu tidak kosong dan ada yang merawat meski seadanya.

Saat tiba di Medan hari sudah petang.  Bukannya langsung hotel, kami terlebih dahulu mendatangi Merdeka Walk untuk mencari makan.  Ini adalah jejeran tempat makan yang menempel di salah satu sisi Lapangan Merdeka dengan konsep ruang terbuka.  Meskipun kita bisa bersantap di dalam bangunan utama masing-masing restoran, banyak yang lebih memilih duduk di meja-meja di luar, di bawah pepohonan yang memayungi pelataran memanjang yang diberi sebutan ‘walk’ itu.  Mulai dari restoran waralaba asing sampai jago-jago dalam negeri ada di sini.

Sepenggal Merdeka Walk.

Di Merdeka Walk, juga terdapat kantor informasi pariwisata.

Lapangan Merdeka sendiri menjadi salah satu tempat pilihan warga Medan untuk berolahraga dan bersantai, berkat fasilitasnya yang cukup memadai dan keteduhan yang ditawarkan sebagai penghilang lelah di tengah kota yang ramai.  Di sekeliling Lapangan Merdeka, selain Merdeka Walk, terdapat sejumlah bangunan menarik yang usianya sudah puluhan bahkan mungkin lebih dari seratus tahun, yang dibangun ketika Medan sedang bersinar terang sebagai kota utama di ‘sabuk perkebunan’ Sumatera. Contohnya adalah kantor pos pusat dan sejumlah bangunan yang masih difungsikan oleh Bank Mandiri.  Di salah satu sisi Lapangan Merdeka juga terdapat pasar buku, yang sayangnya sore itu telah tutup dan beralih fungsi sebagai tempat sejumlah orang berolahraga sore.

Gedung kantor pos tua Medan.

Aston City Hall yang menggabungkan gedung baru dengan gedung warisan masa lalu.

Suasana sore di Lapangan Merdeka.

Seusai makan, baru kami menuju Hotel Garuda, hotel berukuran cukup besar yang cukup terkenal di Medan.  Saat kami di sana, begitu banyak orang yang keluar-masuk hotel untuk berbagai urusan.  Papan di lobi menandakan bahwa sebagian besar ruang fungsi hotel sudah disewa untuk macam-macam acara, dari pesta kelulusan akademi sampai rapat kantor.  Kami mendapat kamar di bangunan hotel yang lama, namun bersih, lega, dan nyaman, serta berlantai parket – jenis lantai kesukaan saya.  Harga sewa kamar sudah mencakup sarapan.  Sarapan ala Medan memang agak terlalu berat untuk perut saya, namun juga tersedia menu gaya lain seperti roti dan bubur.

Di hotel ini ada layanan unik, yaitu ‘Arman’, seorang pria yang bisa Anda hubungi melalui telepon atau jumpai di lobi hotel antara pukul 8 pagi sampai 5 sore.  Ia adalah orang yang bisa Anda tanyai apa pun mengenai Medan.  Entah apakah si Arman ini hanya satu orang atau tidak, tapi saya pikir keberadaannya adalah gagasan yang bagus.  Kelebihan lain hotel ini adalah sejumlah biro perjalanan dan perwakilan maskapai yang berkantor di lantai bawah hotel, sehingga tak perlu jauh-jauh bila Anda membutuhkan bantuan mereka.  Posisinya juga cukup strategis di tengah kota Medan – dan tepat di seberang jalan toko Bolu Meranti, salah satu oleh-oleh paling terkenal dari Medan sekarang.

Bolu gulung dengan berbagai macam rasa, mulai dari cokelat, keju, moka, blueberry, dan lain-lain bisa dibeli di sini. Tapi rebutannya, waduhhh!

Malam itu, karena iseng kami pergi ke luar hotel dan tawar-menawar dengan seorang pengemudi ‘betor’, becak bermotor.  Akhirnya setelah tawarannya sempat kami tolak, ia mau mengantar kami berkeliling dengan biaya 30 ribu rupiah.  Yak, wisata malam di Medan!  Menyenangkan rasanya duduk di atas betor dengan wajah dihantam angin malam (yang tidak terlalu dingin) sambil menggali-gali ingatan tentang kota Medan yang saya kenal.  Terus terang, tak banyak yang saya ingat.  Lucunya, meskipun dulu lebih sering ke Medan daripada ke Danau Toba, ternyata saya lebih ingat Danau Toba.

Saat kami tengah mengagumi bangunan-bangunan tua Medan, si pengemudi berkata dengan serius, “Tapi rumah-rumah ini” (Ia menyebut semua bangunan itu rumah) “banyak yang tak bisa ditinggali.  Hantunya terlalu kuat.”  Mendadak kami jadi merinding dan bangunan-bangunan kuno di sekeliling kami jadi terasa agak mencekam.  Ia menunjukkan salah satu bangunan bercat biru yang tampak kosong.  Kegelapan mengintip dari sela palang-palang yang melintangi jendela-jendela.  Bangunan itu pasti pernah megah, namun sekarang… “Gelandangan yang tidur di situ, mati dicekik hantu. Kalau pintu dibuka, ada teriakan-teriakan minta tolong dari dalam.”

Entah benar entah tidak.  Namun lega juga rasanya ketika akhirnya betor kami melewati bangunan suram itu.  Mau tidak mau cerita si pengemudi memengaruhi kami juga.  Wah, lebih baik mengisi benak dengan pemandangan malam kota Medan yang lebih menarik, deh – misalnya jejeran lesehan yang menjajakan durian.  Duh, sepertinya durian yang dijual di warung-warung itu lebih mantap daripada yang kami cicipi tadi siang.  Sayang kami tak sempat mampir.

Pengemudi betor mengantarkan kami ke salah sebuah toko bika ambon.  Toko yang menjadi satu dengan rumah sekaligus pabrik kue berwarna kuning khas Medan itu sebenarnya sudah tutup.  Namun pemilik toko bersedia membuka lagi pintu tokonya agar kami bisa masuk.  “Nanti minta cicip ya, biar saya juga dapat,” bisik si pengemudi kepada kami yang hendak melangkah memasuki toko.  Oalah!  Yah, bonus lah ya, karena sudah bersedia mengantar kami mencari bika ambon malam-malam begini.

Pemilik toko dengan sigap menanyakan kapan kami akan pulang.  Esok, jawab kami.  Ia pun menawarkan untuk menyerahkan bika ambon baru yang segar esok hari di bandara.  Malam itu memang masih ada bika ambon tersisa, yang tahan tiga hari, namun tentunya lebih enak bila memperoleh yang baru dibuat keesokan hari. “Sudah biasa kok, misalnya janjian di Dunkin’ Donuts bandara,” katanya.  Namun kami khawatir esok hari malah terburu-buru atau entah apa sehingga tidak bisa menemui ia di bandara dan memilih untuk membawa bika ambon yang ada saja.  Dua kotak pun berpindah tangan.

Oleh-oleh dari Medan memang sudah menjadi bisnis yang digarap serius oleh toko-toko penyedia buah tangan.  Bila membeli Bolu Meranti, misalnya, mereka sudah memiliki kardus-kardus khusus untuk mengemas bolu dalam jumlah tertentu agar aman meskipun dimasukkan ke bagasi pesawat sekali pun.  Ingin membeli sirup markisa namun bingung membawa botol beling ke dalam pesawat karena takut pecah?  Cukup membeli voucher saja, yang nanti ditukarkan dengan sirup markisa di perwakilan di Jakarta.  Mudah!

Keesokan hari, sebelum menuju bandara kami mendatangi dua ikon kota Medan: Masjid Al-Mashun yang terletak di salah satu sudut Simpang Raya dan Istana Maimoon yang terletak tidak begitu jauh dari situ.

Masjid Al-Mashun dibangun di masa pemerintahan penguasa Deli kesembilan, Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam pada tahun 1906.  Arsitekturnya mengagumkan, penuh detail yang menyita perhatian, dengan langit-langit tinggi dan hiasan dalam kubah yang menggoda kita menatap terus-menerus.  Saya menyempat-nyempatkan ‘mengintip’ ke bagian jemaah laki-laki demi melihat mimbar imam.

Tempat mengambil wudu di masjid raya Medan ini dibangun terpisah dari bangunan salat utama, tetap dengan koordinasi warna yang sama.  Bagus sih memang, tapi kalau hujan, bagaimana ya, apa tidak merepotkan?

Masjid Al-Mashun yang menjadi salah satu ikon Medan.

Tempat mengambil wudu.

Di dalam kompleks masjid, juga terdapat pemakaman.

Simpang Raya.

Tujuan berikutnya adalah Istana Maimoon, tempat kedudukan Sultan Deli.  Sultan Deli yang sekarang masih remaja – ia naik tahta ketika ayahandanya tewas dalam kecelakaan pesawat beberapa tahun silam.  Kini ia masih bersekolah dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibunya yang tidak berdomisili di Medan.  Duduk bersila di lantai, kami mendengarkan penjelasan dari pemandu resmi Istana Maimoon mengenai sejarah ringkas Kesultanan Deli dan Istana Maimoon.  Caranya bercerita asyik; beberapa kali diselingi pantun merayu yang seolah telah menjadi napas orang-orang Melayu.  Sambil mendengarkan sang pemandu, saya mengedarkan mata berkeliling ruangan, berusaha mencerap segala detail yang didominasi warna kuning keemasan dan hijau.

Suasana egaliter di istana ini mungkin cukup mengejutkan kita yang terbiasa membayangkan keluarga kerajaan sebagai sekelompok orang yang jauh dari rakyat.  Singgasana sultan dan permaisuri – yang ngomong-ngomong, sama tingginya – boleh-boleh saja diduduki oleh pengunjung yang notabene adalah ‘rakyat biasa’.  “Kata Sultan, singgasana itu hanya barang, kalau rusak bisa diganti.  Nilai kenangan itu yang penting ada di hati,” tutur pemandu, tanpa menjelaskan sultan mana yang dimaksud.  Tak heran pengunjung sering berlomba-lomba mencicipi duduk bagai sultan di singgasana tersebut.

Bukti lain ke-‘egaliter’-an itu adalah dihuninya sayap-sayap Istana Maimoon oleh sejumlah keluarga.  Risikonya memang bagian-bagian samping istana jadi terlihat ‘agak jorok’ – ini mungkin harus jadi perhatian lebih dari pihak-pihak yang berwenang.  Namun harus diakui keberadaaan keluarga-keluarga itu membuat istana lebih hidup.

Toko suvenir di Istana Maimoon.

Singgasana yang boleh diduduki pengunjung.

Sang pemandu juga mengutarakan mengenai betapa penduduk Medan tidak punya masalah dengan keberagaman.  Sejak lama memang kota ini terkenal sebagai sebuah melting pot, di mana hidup orang-orang dari berbagai kelompok etnik dan latar belakang kepercayaan.

“Saya kangen suasana di sini, yang tidak ada di Jakarta,” kata salah seorang ‘perantau’ dari Sumatera Utara yang serombongan dengan saya.  “Di sini, tidak masalah agama kita Kristen atau Islam atau apa.  Kalau bulan puasa dan Lebaran, kami yang Kristen ikut membantu acara buka puasa, ramai berkunjung ke yang merayakan Lebaran.  Sebaliknya kalau hari Natal.  Di Jakarta, mengucapkan selamat Natal saja tidak boleh…”  Senyum yang membiaskan kenangan dan rasa bangga akan Medan – kebanggaan yang jamak saya temui bila berbicara dengan penduduk di kota itu –  pun terulas di wajahnya.  Senyum harapan bahwa kedamaian di Medan itu juga menyebar ke kota-kota lain.

GoHalalPlanet

Teman-teman Muslim yang gemar lompat-lompat, sekarang ada situs baru nih, namanya GoHalalPlanet.  Pengelolanya adalah salah seorang teman kami yang tinggal di Vietnam.  Situs ini bertujuan menyediakan informasi mengenai tempat makan halal, tempat penginapan yang nyaman, dan tempat ibadah yang tersedia bagi pelancong Muslim.  Cakupan utamanya adalah negara-negara Asia Tenggara yang mayoritas bukan dihuni kaum Muslim, dan saat ini informasi yang sudah tersedia cukup banyak adalah untuk Vietnam.

Teman kami ini teliti sekali lho memeriksa restoran-restoran halal, sampai memeriksa dapurnya langsung.

Semoga bisa membantu ya…

Menuju Jepang!

This post is about Japan

Mari kita mulai kisah perjalanan kami dengan menceritakan bagaimana kami berangkat ke Jepang.  Tentunya dengan visa telah siap di tangan (atau tepatnya, di paspor…).

Kami mendapat kesempatan berangkat ke Jepang dengan biaya cukup murah (4 juta rupiah bolak-balik) hasil dari ‘adu cepat’ di situs AirAsia, ketika tahun lalu mereka baru membuka jalur Kuala Lumpur-Jepang.  Yang dapat lebih murah lagi juga ada.  Dari segi biaya, memang menggunakan AirAsia dapat membantu kita melakukan penekanan di sektor anggaran untuk transportasi.  Ditambah lagi AAX mendarat di dan lepas landas dari Haneda, bandara internasional lama Tokyo yang lebih dekat ke pusat kota daripada Narita.

More

Menilik Manila

Ingin tahu nggak, Manila itu seperti apa? Kali ini giliran Monyet Ajaib yang bercerita!  Tengok, yuk!  (dalam bahasa Inggris)

[Travel] Philippines 23 December 2010 - 5 January 2011 For the holiday, I decide to visit my family in the Philippines with my mom and my sister. We have separate departure because my mom wants to go there first and I have to wait for my work to be done and take a break from the office. My sister decide to go to Solo and Bali first before she fly to Manila, Philippines, on the 28th. I depart on the 22 midnight and arrive at Manila Ninoy Aquino International Airport 6 am in the morning. Christmas seas … Read More

via 101 Monkey Magic

Mencari Blue Fish

This post is about Indonesia

Selamat tahun baru!  Bagaimana perayaan tahun baru Anda?  Dua anggota Tim Lompat-lompat menghabiskan malam tahun baru di rumah saja, sementara satu lagi berada di Manila.

Namun beberapa hari sebelum Natal, saya sempat berkunjung ke Tanjung Lesung (lagi).  Kali ini saya bertekad: niat saya menemukan Blue Fish harus kesampaian!  Blue Fish yang ini bukan ikan, melainkan salah satu hotel dalam kawasan wisata Tanjung Lesung (yang luas sekali) yang konon disukai para ekspat.  Dulu saya pernah mencoba bersepeda lewat pantai untuk mendatangi Blue Fish dari Kalicaa, namun gagal.  Medan berat, sementara rupa-rupanya jarak ke Blue Fish terhitung jauh.

Sewaktu meminjam sepeda dari Kalicaa, saya pun mencoba memperoleh jawaban meyakinkan dari sang penjaga penyewaan sepeda.

“Blue Fish itu jauh nggak Mas?”

“Wo, jauh!” jawabnya langsung.

“Tapi bisa naik sepeda ke sana?”

“Bisa.”

Hmmm… okelah!  Saya berangkat saja kalau begitu, mumpung masih pagi.  Saya kembali ke vila untuk mengambil botol minum, namun ternyata yang membawa kunci kamar sedang keluar.  Ya sudahlah, pikir saya.  Sejauh apa sih Blue Fish?  Barangkali sebelum haus lagi saya sudah tiba di sana.

Belajar dari pengalaman lalu, sekarang saya mengambil jalan aspal yang menghubungkan Kalicaa dengan bagian-bagian lain Tanjung Lesung dan juga dengan dunia luar.  Udara hangat dan langit cerah—kebahagiaan tersendiri karena hari sebelumnya hujan terus turun 12 jam tanpa henti, membuat kami lebih memilih main-main di kolam renang vila saja dan meringkuk sambil mengobrol setelahnya.

Benar-benar enak rasanya bersepeda di bawah naungan pepohonan yang besar dan teduh.  Di balik deretan pepohonan, bisa terlihat tambak, hutan bakau, ataupun sawah.  Oleh karena berjarak hanya beberapa ratus meter dari pantai, tumbuh-tumbuhan yang menghiasi persawahan—selain padi tentunya—juga berciri khas daerah pantai.  Di kejauhan terlihat sejumlah gunung.  Langit terasa sedemikian luas.

Papan penunjuk jalan membimbing saya untuk membelok ke kiri.  Saya pun meninggalkan jalanan aspal, dan kini harus memeras tenaga lebih banyak untuk membuat ban-ban sepeda saya berputar di jalan tanah yang berpasir.  Yang lebih parah, jalan itu berhias kubangan di sana-sini.  Terkadang kubangan menutup seluruh lebar jalanan di depan saya, dan tak ada jalan lain selain menerabas air yang entah berapa dalamnya itu.  Ngeri juga saya kalau sampai tersangkut di lumpur.  Untunglah segala susah-payah itu terbayar oleh udara yang segar, pemandangan sawah yang permai beserta para petani yang sedang giat bekerja.

Menit demi menit berlalu, tak kunjung juga saya jumpai si Blue Fish.  Sempat terbersit niat untuk balik badan dan pulang saja.  Namun akhirnya saya kembali bertemu persimpangan jalan: cabang jalan yang satu menuju ‘Dadap Village’ sementara yang satu lagi menuju Blue Fish.  Hmmm… perasaan ingin tahu saya tergelitik untuk menengok Desa Dadap, yang mungkin merupakan tempat tinggal para petani penggarap sawah ini.  Namun saya membulatkan hati: niat saya kan melihat Blue Fish!  Saya pun mengambil cabang ke kanan.

Jalanan tidak lagi berlapis pasir putih, melainkan bebatuan kecil berwarna kelabu.  Sama saja merepotkannya.  Saya bertanya-tanya, apakah jalanan ini memang dibiarkan seperti ini, ya?  Biar terasa lebih alami atau bernuansa pedesaan.  Saya pun membayangkan: kalau saya seorang ekspat dari Eropa atau Amerika, mungkin rasanya unik sekali, berkendara di atas jalanan yang bopeng-bopeng, diapit persawahan yang tak pernah saya lihat di negeri saya.  Apalagi kalau padi sedang merunduk keemasan, pasti indah sekali!

Ketika akhirnya tiba di Blue Fish, wuiiiihhh!  Lega sekali!  Saya disambut pegawai hotel yang dengan berbaik hati mengajak saya melihat-lihat kamar hotel yang sedang dibersihkan.  Dibandingkan vila di Kalicaa, hotel Blue Fish memang amat sederhana, namun apik dan bersih.  Saat ini total hanya bisa menampung 48 orang secara bersamaan, rata-rata adalah ekspat atau tamu yang berniat memancing.  Tarif hotel per malam sudah termasuk voucher untuk berkegiatan di pantai-pantai Tanjung Lesung.  Selain itu, kini sedang ada penambahan fasilitas berupa kolam renang, agar tamu tak perlu melulu jauh-jauh ke Beach Club atau resor untuk bermain air.  Tepi laut di depan Blue Fish sendiri cenderung tenang, namun kurang ideal untuk berenang.

Puas melihat-lihat, saya pun berpamitan.  Belum lagi separuh perjalanan, mendadak saja langit menggelap.  Waduh!  Awan yang tadinya putih beriringan, kini kelabu mengancam.  Saya berusaha mempercepat kayuhan sepeda.  Para petani dan orang-orang yang berseliweran dengan sepeda motor pun tampak bergegas-gegas.  Namun awan hujan lebih cepat dari kami semua.  Saya pun harus pasrah basah-kuyup ditimpa badai yang tidak setengah-setengah.  Pepohonan yang rimbun pun tak kuasa menahan hantaman air hujan ke badan saya.

Ada-ada saja memang pengalaman saya bersepeda di Tanjung Lesung.  Tapi semuanya seru!  Setelah mengembalikan sepeda, saya meminum teh hangat sisa sarapan yang masih terhidang di restoran untuk menghalau dingin.  Kadung basah, saya pun menuju Beach Club untuk bermain pasir dan air.

Itulah perjalanan terakhir saya di tahun 2010.  Semoga tahun 2011 ini  semakin banyak perjalanan dan pengalaman seru yang kami dan Anda alami yang bisa kita bagi bersama.  Sekali lagi, Selamat Tahun Baru!

Panduan Ringkas Mengunjungi Hong Kong

This post is about China

Kapan sebaiknya mengunjungi Hong Kong?

Pokoknya, asal jangan musim badai.  Panas dan dingin relatif masih bisa diatasi, tapi tidak badai.  Segala kegiatan bisa-bisa terhenti bila badai sedang melanda Hong Kong dan sekitarnya.  Jadi, cek terlebih dahulu apakah pada tanggal yang Anda kehendaki musim badai sedang berlangsung atau tidak – kecuali bila memang gejolak adrenalin Anda membuat Anda ingin merasakan seperti apa sih badai di Hong Kong itu.  November-Desember mungkin bisa jadi pilihan bagus.  Atau, bila sasaran utama Anda adalah Disneyland, coba cari tanggal di sekitar/saat peristiwa penting macam Hallowe’en dan Natal, karena Disneyland akan semakin mempercantik diri agar sesuai dengan tema hari tersebut.

Langit musim dingin Hong Kong

Suasana Natal di Main Avenue Disneyland

Untuk merasakan pengalaman budaya yang juga unik, pastikan Anda ada di Hong Kong pada hari Minggu, ketika wilayah ini berubah menjadi ‘Indonesia Mini’.  Saat itu, saudara-saudari kita yang bekerja di sana memperoleh hari libur dan keluar beramai-ramai untuk beraktivitas bersama dan bersilaturahmi.  Bahasa-bahasa dari Indonesia mudah terdengar di dalam kereta, bis, Victoria Park, Masjid Kowloon, dan lain sekitarnya.  Ini membuat saya berpikir-pikir mengenai apa betul sebuah kebudayaan baru sedang terbentuk melalui hubungan yang terjalin antara tenaga kerja Indonesia dan anak-anak yang mereka asuh.

Masjid Kowloon – hanya beberapa langkah dari salah satu pintu keluar stasiun kereta Tsim Sha Tsui.

Bagaimana mengunjungi Hong Kong?

Maskapai-maskapai seperti Garuda Indonesia dan Cathay Pacific memiliki jalur penerbangan langsung dari Jakarta ke Hong Kong.  Untuk maskapai yang lebih murah, bisa pilih Mandala Air (seperti yang saya lakukan).  Bila hendak menggunakan AirAsia, dari Jakarta harus menuju kota lain dulu seperti Kuala Lumpur.  Rencananya, tahun 2011 AirAsia akan membuka jalur langsung Medan-Hong Kong.

Mandala Air juga terbang ke Macau, dan mungkin Anda ingin mengunjungi satu lagi wilayah administrasi khusus Cina ini terlebih dahulu atau sesudah menyambangi Hong Kong.  Hong Kong dan Macau dihubungkan oleh feri dengan frekuensi antara setengah jam sampai satu jam sekali, tergantung siang ataukah malam.  Harga feri sekali jalan juga berbeda-beda tergantung waktu – malam tentunya lebih mahal.  Ada beberapa perusahaan yang melayani rute HK-Macau dengan kualitas dan harga tidak jauh berbeda.

Asal hati-hati saja memilih feri yang tepat menuju terminal yang Anda kehendaki di Hong Kong: apakah yang akan berlabuh di Hong Kong-Macau Ferry Terminal, Hong Kong Island (bila Anda hendak menuju The Peak, Museum Lilin Madame Tussaud, atau naik kereta ekspres menuju Disneyland) ataukah di China Ferry Terminal, Kowloon (di mana Anda bisa menelusuri Avenue of Stars, Museum Antariksa, Museum Seni, Museum Sejarah, Masjid Kowloon, Kowloon City, dan Mongkok).

Kecuali Anda meminta khusus, petugas karcis akan memberikan tiket feri yang paling dekat dengan waktu Anda membeli.  Pemeriksaan imigrasi di terminal feri Hong Kong dan Macau sigap memeriksa dan melewatkan penumpang, sehingga tidak perlu khawatir akan ketinggalan feri selama Anda memastikan diri tidak bermasalah.

Naik feri asyik, cepat, dan menawarkan pemandangan indah dari jendela, namun hati-hati bila Anda mudah mabuk.  Saya sendiri tidak mudah mabuk, namun pernah kombinasi dari arus laut yang kencang, feri yang ngebut, dan perut yang kosong tak urung membuat saya puyeng juga.  Keadaan saya membaik setelah lambung saya diganjal dengan mi instan yang dijual di atas feri.

Sementara dari Cina daratan, ada beraneka ragam mode transportasi seperti feri dan bis.

Bagaimana berkeliling di dalam Hong Kong?

Pertama-tama, tentu jangan lupa memastikan alamat dan mencek lokasi tempat-tempat yang ingin Anda kunjungi di Google Maps.  Dengan cara ini, Anda bisa menimbang-nimbang mode transportasi terbaik yang bisa Anda gunakan.

Manfaatkan kartu Octopus, kartu transportasi (dan belanja) yang praktis dan menawarkan potongan harga di berbagai tempat.  Contohnya, tanpa kartu Octopus, tiket sekali jalan dari stasiun Mongkok ke Tsim Sha Tsui adalah HKD 5, yang harus Anda beli di mesin tiket otomatis.  Bila menggunakan si kartu gurita, harga tiket yang akan dipotong otomatis dari kartu Anda yang disentuhkan ke layar khusus di pintu masuk dan keluar, adalah HKD 4,5.

Begitu tiba di salah satu gerbang masuk Hong Kong, carilah penjual kartu Octopus (misalnya loket layanan pelanggan di stasiun kereta atau toko waralaba).  Bila bukan edisi koleksi yang bisa disimpan terus, kartu Octopus ‘pinjaman’ (on-loan) dihargai HKD 150 pada pembelian pertama.  HKD 50 di antaranya adalah uang jaminan yang akan dikembalikan sewaktu Anda memulangkan kartu Anda, sementara 100-nya bisa Anda manfaatkan.

Bila isi kartu habis, tinggal Anda isi ulang di mesin yang tersedia di stasiun kereta atau di toko waralaba.  Bila Anda tak sempat mengisi namun kredit kartu Octopus sudah mengenaskan, kartu Anda bisa bernilai minus, kok.  Nilai minus itu akan ditambal oleh pengisian ulang berikutnya atau dipotong dari uang jaminan Anda.  Saat pemulangan kartu, ada pemotongan biaya pengembalian kartu sebesar HKD 7.

Bila Anda menggunakan feri dan tiba di terminal Hong Kong Island, bila merasa lebih sreg daripada menggunakan bis atau taksi, Anda bisa berjalan sedikit untuk mencapai stasiun kereta Sheung Wan atau Hong Kong (dan dari situ Anda bisa meneruskan melalui lorong bawah tanah ke Central).

Sementara saat mendarat di terminal feri Kowloon, Anda bisa langsung menaiki bis atau taksi yang menanti di sebelah bawah terminal.  Bila bugar dan punya banyak waktu, susuri saja tepi laut ke arah selatan, melewati menara jam, dermaga feri internal Hong Kong yaitu Star Ferry Piers dan Kowloon Public Piers (tempat Anda bisa memperoleh feri menuju pulau-pulau lain di wilayah Hong Kong), melewati Museum Seni dan Museum Antariksa, sampai tiba di Avenue of Stars, di mana Anda bisa menyaksikan cap-cap tangan para pelaku dunia perfilman Hong Kong dan patung Bruce Lee.  Dari Avenue of Stars, Anda bisa berjalan kaki (lagi) menuju salah satu dari dua stasiun MTR terdekat, Tsim Sha Tsui atau East Tsim Sha Tsui.

Star Ferry Piers

Menara Jam

Avenue of Stars

Bila Anda tiba melalui bandar udara HKIA, saya tidak menyarankan taksi bila ingin berhemat.  Misalnya saja, dari HKIA ke Kowloon bisa habis HKD 300 sekali jalan.  Manfaatkan bis – jaringan bis dan bis mini Hong Kong sangat baik.  Informasi rute yang tersedia di situs perusahaan-perusahaan bis sangat terperinci, termasuk memaparkan foto masing-masing halte tempat setiap bis berhenti dan harga yang harus Anda bayarkan.  Huruf depan kode bis biasanya adalah A atau E, namun bis-bis ini beroperasi hanya sampai tengah malam.  Selepas tengah malam, Anda harus mencari bis malam dengan kode N.  Misalnya, pukul 1 siang, dari bandara ke Mongkok Anda bisa menggunakan bis A21, sementara pada pukul 1 malam Anda harus mencari bis N21.

Peringatan bila menggunakan bis: sediakan uang pas, karena di bis tidak ada kembalian.  Kalau tiket bis adalah HKD 23 sementara Anda hanya punya pecahan HKD 30, ya HKD 7 itu akan melayang.  Pesan moralnya: di Hong Kong, uang receh sangat penting.

Di dalam salah satu gerbong Airport Express.

Cara praktis lain menuju kota dari bandara adalah menggunakan Airport Express.  Kereta khusus ini hanya berhenti di 5 perhentian, yaitu Asia World-Expo, HKIA, Tsing Yi, Kowloon, dan Hong Kong Station.  Harga tiket bolak-balik adalah HKD 100 tanpa kartu Octopus dan HKD 72 dengan kartu Octopus.  Biasanya juga ada potongan harga lagi untuk hadirin acara di Asia World-Expo (cek saja laman transportasi di situs loka tersebut).  Saya pernah dapat tiket bolak-balik Hong Kong Station-Asia World-Expo (berlaku satu hari) dengan harga hanya HKD 48 dengan kartu Octopus.

Bila Anda hendak menuju Disneyland Resort,  naikilah MTR jalur Hong Kong Station-Tung Chung.  Turun di Sunny Bay, berpindah ke kereta ekspres Disney dengan wujud yang pasti langsung memikat hati para penggemar Disney.  Anda bisa menggunakan kartu Octopus, ataupun membeli tiket bolak-balik seharga HKD 50 yang bisa disimpan sebagai kenang-kenangan.

Menanti Disneyland Express di stasiun Sunny Bay.

Anda pasti kenal siapa yang punya kepala berbentuk seperti jendela itu!

Peta jaringan kereta Hong Kong bisa Anda peroleh di situs resmi perusahaan kereta dalam-kota HK, MTR (Mass Transit Railway).

Bila sasaran Anda adalah The Peak, di mana Anda bisa mengamati HK dari ketinggian dan memuaskan rasa tak kesampaian bertemu langsung bintang terkenal di Madame Tussaud, Anda bisa naik bis yang menyusuri jalan menanjak berliku-liku, atau naik tram khusus The Peak.  Perhatikan tiket yang Anda beli, dan jangan keburu mengomel ketika harus membayar mahal, karena tiket ada bermacam-macam.  Ada tiket yang untuk naik tram The Peak saja, atau yang sekaligus dipaketkan dengan tiket masuk ke Sky Terrace, Madame Tussaud, ataupun tiket bis wisata hop on-hop off sepuasnya di Hong Kong Island.

The Peak, yang sebetulnya tidak di puncak-puncak banget.

Hong Kong dilihat dari bis yang sedang mendaki menuju The Peak.

B-beb-beb-beb Bruuuuce!

Trem dan taksi di Hong Kong.

Bagaimana dengan taksi?  Taksi yang beroperasi di wilayah HK berbeda-beda , ditandai oleh tiga macam warna bodi:

  • merah, yaitu taksi perkotaan.
  • hijau, taksi New Territories.
  • biru, taksi wilayah Lantau.

Yang perlu Anda ingat, tak semua supir taksi HK:

  1. bisa berbahasa Inggris,
  2. (boro-boro berbahasa Inggris) bisa membaca huruf Latin pun tidak,
  3. cukup ramah untuk tak mengomel di hadapan Anda dengan bahasa Kanton/Putonghua yang tak Anda mengerti.

Pernah saya menunjukkan sebuah alamat ke supir taksi.  Pertama-tama saya mengajaknya berbicara dalam bahasa Inggris, dan dia menyahut ‘no English’.  Oh, oke.  Toh saya sudah menyiapkan alamat yang saya tuju dalam tulisan Cina.  Dia mengomel sedikit, tampak kesal karena harus repot mengeluarkan kacamatanya untuk membaca.  Setelah membaca, eh dia terus mengomel dalam bahasa Kanton dengan nada keras.  Mungkin kesal karena ternyata tempat tujuan saya itu dekat, tak sampai HKD 40 biayanya.  Saya juga ikut sebal, karena merasa si supir kok tidak sopan sekali.  “Kalau ini supir taksi Jakarta, sudah saya ajak berantem, nih,” pikir saya.  Yah, mungkin ini hanya beda budaya, dan kita sebaiknya siap-siap saja menghadapi yang beginian, tak perlu dimasukkan ke hati atau dipakai menjadi acuan menilai Hong Kong secara keseluruhan.

Di mana sebaiknya menginap di Hong Kong?

Kalau ingin berhemat, banyak hotel, guest house, atau hostel murah bertebaran di Hong Kong, terutama di sekitar jalur stasiun Tsim Sha Tsui sampai Prince Edward.  Jangan kaget dulu bila alamat hostel yang telah Anda pesan ternyata mengantarkan Anda ke sebuah gedung tinggi yang tampak agak kumuh dan tidak meyakinkan.  Oleh karena tanah di Hong Kong sudah langka, mau tak mau pembangunan harus diarahkan ke atas.  Satu bangunan bisa ditempati oleh sejumlah hostel berbeda, mungkin juga bersama-sama toko, tempat tinggal, dan kantor.  Meski bagian luar gedung barangkali membikin hati agak ciut, hostel-hostel ini biasanya , aman, dan berfasilitas cukup lengkap.

Ya toh? Sekilas tidak meyakinkan…

Hostel yang bisa saya sarankan adalah Ah Shan Hostel yang terletak di Argyle Street, dekat sekali dengan stasiun MTR Mongkok (keluar-masuk lewat pintu D1).  Hostel ini dimiliki sepasang suami-istri Indonesia yang masih bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, sehingga  memudahkan komunikasi.  Harga kamar terhitung murah untuk ukuran Hong Kong, antara HKD 250 sampai 350, tergantung kapasitas dan sedang peak season atau tidak.

Fasilitas hostel ini antara lain: di setiap kamar ada jaringan Wi-Fi gratis, televisi (meski mungkin saluran berbahasa Inggris hanya ada satu atau dua, tapi apa Anda datang ke HK demi menonton TV?), air panas untuk mandi, sabun dan sampo, serta AC.  Handuk bersih bisa Anda pinjam, gratis.  Di lobi juga ada 2 PC yang bisa dipakai bergantian untuk berinternet-ria.  Air minum bebas Anda ambil dari dispenser.

Makan apa nih di Hong Kong?

Bila mau murah, 7-Eleven akan selalu menjadi penyelamat Anda.  Seporsi nasi di HK terhitung besar untuk ukuran orang Indonesia, sehingga bisa dimakan berdua.  Lumayan kan, HKD 16 dibagi berdua untuk sekali makan?  Hanya saja, yang perlu diingat: toko waralaba di HK tak selalu memberikan sumpit, sendok, atau kantong belanja, sehingga Anda sebaiknya selalu membawa peralatan makan sendiri.  Kantong plastik dihargai 50 sen selembar di 7-Eleven – agar lebih murah dan ramah lingkungan, mengapa tak membawa tas belanja sendiri?

Ada sejumlah (jaringan) restoran berlabel halal, antara lain Popeye.  Restoran atau kedai halal juga banyak terdapat di sekitar Masjid Kowloon.

Kalau kita pandai-pandai mengatur anggaran, Hong Kong bisa jadi tempat tujuan wisata yang lebih murah daripada Singapura.  Paling-paling yang lebih mahal adalah tiket pesawat ke sana, namun ini pun bisa disiasati dengan membeli tiket penawaran murah.

Pemandangan dari Starbucks di Avenue of Stars.

Pesona Lanna di Chiang Mai

This post is about Thailand

“Lagi di Chiang Mai? Di Cina, ya?”

Kenyataan bahwa sebuah keluarga panda telah menjadi maskot Chiang Mai semakin tidak membantu banyak orang menempatkan letak geografis kota ini dengan benar.  Kota yang pernah menjadi tuan rumah SEA GAMES tahun 1995 ini sebenarnya terletak di utara Thailand, dekat perbatasan dengan Laos dan Myanmar.

Bila Anda berpikir, “Ada apa sih di Chiang Mai?  Jangan-jangan sama saja dengan Bangkok atau Phuket?”, moga-moga tulisan kami berikut ini bisa mengubah pikiran Anda.  Chiang Mai adalah sebuah kota yang layak dikunjungi dan menawarkan berbagai kekhasan, baik dari segi budaya, arsitektur, maupun alam.  Salah satu penyebabnya adalah Chiang Mai tadinya bukan merupakan bagian dari kerajaan Siam yang menjadi pondasi negara Thailand modern, melainkan kerajaan Lanna, yang memiliki kebudayaan tersendiri.  Baru tahun 1932 Lanna resmi menjadi bagian Thailand.

Pemandangan yang kami lihat dari pesawat

Tengoklah ke luar saat pesawat akan mendarat…

Ada sejumlah maskapai yang melayani penerbangan ke dan dari Chiang Mai, antara lain AirAsia, Bangkok Airways, dan Nok Air.  Sewaktu pesawat akan mendarat, di depan mata telah terpampang pemandangan menggetarkan yang langsung membuat saya yakin bahwa Chiang Mai pasti akan memberikan hal yang berbeda dibandingkan Bangkok yang terletak di dataran rendah: deretan pegunungan hijau.  Melihatnya saja sudah membuat hati adem.

Bila Anda hendak mencoba sarana transportasi lain menuju Chiang Mai, Anda bisa mencoba bis (dengan harga karcis sekitar 500 Baht) atau kereta api dengan tiket berkisar 700-an sampai 1300-an Baht, tergantung tipe kereta atau gerbong yang Anda pilih.  Dalam sehari, ada beberapa kali kereta meninggalkan Bangkok menuju Chiang Mai dan sebaliknya.

Sepotong tembok Chiang Mai

Sepotong tembok pelindung Chiang Mai tua yang masih ada.

Sesampainya di bandara internasional Chiang Mai, kami menggunakan taksi menuju penginapan kami.  Oleh karena Chiang Mai merupakan kota kecil, taksi bermeter dari bandara menetapkan tarif flat 120 Baht menuju kota.  Taksi ini tak banyak dijumpai di jalanan, sehingga untuk berkeliling Chiang Mai atau menuju atraksi-atraksi wisata yang agak jauh seperti Kebun Binatang, lebih baik menggunakan songthaew, angkot berwarna merah yang untuk gampangnya diinggriskan sebagai ‘taxi’.

Songthaew

Songthaew, si ‘taksi’ merah

Kami memesan kamar di Montrara Happy House, sebuah penginapan yang membuat kami tertarik lewat foto-fotonya.  Junior suite untuk tiga orang dihargai antara 1100-1200 Baht (tergantung apakah weekdays atau weekend, dan sedang peak season atau tidak), alias sekitar 380 ribu rupiah, termasuk sarapan Continental.  Dan kami sungguh tidak dikecewakan oleh pelayanan penginapan ini, yang meski terhitung sederhana dan murah namun tidak kalah dari hotel-hotel yang lebih mahal.  (Namun bila Anda merasa lebih nyaman menginap di hotel berbintang, di Chiang Mai juga sudah tersedia sejumlah hotel dari jaringan internasional.)

Pertama-tama yang membuat kami menyenangi Montrara adalah desain interiornya yang artistik, menampilkan berbagai pernak-pernik khas Lanna/Thailand.  Dari jendela kamar kami di lantai 4 pun terlihat pegunungan di kejauhan dan kanal yang mengelilingi Chiang Mai.  Ada AC, kulkas, TV kabel, dan kamar mandi yang bersih serta unik.  Rasanya enak sekali pulang ke kamar kami yang nyaman setelah lelah seharian berpetualang di sekitar Chiang Mai.

Ruang depan Montrara

Ruang depan Montrara, dilihat dari ruang makan

Tempat tidur utama di junior suite Montrara

Tempat tidur utama di junior suite Montrara

Tempat tidur tambahan

Tempat tidur tambahan di junior suite Montrara.

Kamar mandi Montrara

Kamar mandi junior suite Montrara – meja rias dengan kaca besar di sebelah kiri WC tidak terlihat.

Sarapan yang disediakan juga sehat dan mengenyangkan, cukup memberi kami energi untuk berkeliaran setengah hari.  Sang pemilik dan istrinya pun turun tangan sendiri melayani para tamu.  Staf penginapan selalu sigap membantu wisatawan-wisatawan yang rada culun seperti kami.

Sarapan di Montrara

Aduuuh… boleh nambah nggak ya sarapannya…

Bila hendak mencuci pakaian, ada dua binatu di dekat Montrara.  Satu terletak tepat di seberangnya, namun tutup pada hari Minggu.  Satu lagi terletak beberapa puluh meter jauhnya, setelah Hotel Amora.  Biaya binatu di Chiang Mai cukup murah, rata-rata 20 Baht tanpa setrika per kilo dan 35 Baht dengan setrika per kilo.  (Coba bandingkan dengan di Phuket, yang mematok harga 50 Baht tanpa setrika dan 80 Baht dengan setrika per kilo….) Waktu mencuci kira-kira 10 jam, sehingga bila Anda menyerahkan pakaian kotor pukul 8 pagi, kira-kira pukul 6 sore sudah bisa Anda ambil kembali dalam kondisi terlipat rapi dan harum.

Bagian depan Montrara

Luruuus saja ke arah sana dari depan Montrara, nanti di sebelah kiri ada binatu…

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, Chiang Mai sebenarnya kota kecil saja, kalah jauh dari Bangkok meskipun kota ini adalah kota kedua terbesar di Thailand.  Dengan berjalan kaki saja, Anda bisa puas mengelilingi Chiang Mai.  Jalan-jalan mobil tidak begitu ramai, sementara trotoar – termasuk yang lebar-lebar di tepian kanal atau sungai – sungguh membuat perjalanan menyusuri Chiang Mai nyaman. Agak mengingatkan saya kepada Hue di Vietnam, andaikan saja suhu Chiang Mai juga sedingin di Hue.

Salah satu taman dan sungai di Montrara

Tergoda tidak hendak menyentuh pantat patung gajah bahenol itu?

Sudut Chiang Mai

Salah satu penginapan/kedai di Chiang Mai

Salah satu kekhasan Chiang Mai adalah kota ini ‘banjir wat’.  Ada sekitar 30 wat (kuil) di kota lama yang dikelilingi tembok pertahanan berwarna merah, dan ada barangkali 50 lainnya di bagian kota yang lebih baru.  Ibaratnya, Anda menggelinding sedikit pun pasti ketemu wat.  Kami mengunjungi cukup banyak wat selama di sana, namun tak akan saya ceritakan semua.  Bisa-bisa jadi satu buku sendiri!  Saya akan menampilkan hanya beberapa di sini.  Dan bila Anda berpikir bahwa mengunjungi Grand Palace, Wat Pho, dan Wat Arun di Bangkok saja sudah sangat memuaskan, harap dicatat bahwa wat-wat di Chiang Mai memiliki gaya tersendiri, baik terbuat dari batu maupun kayu, dan sebagian di antaranya juga amat tua.  Sebagian bergaya Burma, karena Lanna memang pernah agak lama menjadi wilayah taklukan negara tersebut.  Dan karena bagi masyarakat Lanna menyimpan barang-barang peninggalan bangsawan membawa tulah sehingga harus disumbangkan ke wat, di sejumlah wat kita bisa menyaksikan objek-objek bersejarah itu dipamerkan.

Wat Ou Sai Kham

Wat Ou Sai Kham, yang menyimpan sejumlah patung Buddha dari giok.

Tak jauh-jauh, di jalan yang sama dengan Montrara, ada Wat Ou Sai Kham, yang menampung sejumlah patung Buddha dari giok.  Letaknya yang di jalan kecil memang membuat wat ini tidak begitu mencolok, namun Ou Sai Kham tetap saja indah dan menarik.  Senyum seorang biksu yang mempersilakan saya duduk beberapa lama dalam aula utama sungguh menyejukkan hati.

Wat paling terkenal di Chiang Mai barangkali adalah Wat Chedi Luang yang terletak kurang lebih di pusat kota (dan memang Pilar Kota juga terletak dalam kompleks ini).  Berdiri di depan bangunan utama (vihar) yang megah sudah cukup membuat diri ciut, apalagi memasuki aula besar di mana patung Buddha diletakkan.  Cobalah meresapi kekhusyukan jemaah yang datang beribadah.

Depan Wat Chedi Luang

Lampion warna-warni di depan Wat Chedi Luang.

Di belakang vihar raksasa ini, terdapat pagoda batu dari abad ke-14.  Puncaknya sayangnya sudah runtuh, namun bangunan yang tersisa masih memukau.  Ular-ular berkepala lima dari batu menguakkan mulut lebar-lebar, mengancam di kaki undak-undakan yang tak boleh didaki lagi karena kondisi.

Wat Chedi Luang

Bangunan kuno di latar depan, bangunan baru di latar belakang.

Ular kepala lima

Ular berkepala lima di kaki undak-undakan pagoda tua Wat Chedi Luang.

Di sana-sini di dalam kompleks Wat Chedi Luang, terdapat kotak-kotak sumbangan.  Anda bisa memilih menyumbang sesuai hari lahir (untuk keberuntungan), untuk membantu pengobatan biksu yang sakit, membiayai hidup anjing-anjing yang berkeliaran bebas dalam kompleks wat, dan lain sebagainya.  Wat Chedi Luang juga menyediakan program berbincang-bincang bersama para biksu.  Kita dipersilakan untuk membicarakan apa saja dengan mereka – mulai dari curhat sampai bertanya-tanya soal kebudayaan Thailand.  Wah… ada yang perlu saran mengenai cara mengatasi kesulitan hidup?

Toilet Wat Chedi Luang

Jangan lupa ganti alas kaki luar dengan sandal toilet, ya!

Satu lagi yang membuat saya terkagum-kagum adalah toilet yang tersedia di kompleks Wat ini benar-benar bersih – sampai-sampai disediakan sandal kamar mandi bagi tamu yang hendak menggunakan fasilitas yang dinaungi pepohonan rindang ini!

Di sebelah Wat Chedi Luang terdapat Wat Phan Tao, dengan vihar utama dari kayu jati.  Bagian atas pintu depan dihiasi burung merak, motif yang agak tak lazim di Lanna.  Di sebelah belakang terdapat pagoda putih bersih dan deretan lampion kertas berwarna-warni semarak.

Sebelah depan Wat Phan Tao

Vihar dari jati di bagian depan Wat Phan Tao

Pagoda putih Wat Phan Tao

Putih bersih berlatar biru langit.

Arca Buddha Wat Phan Tao

Arca Buddha Wat Phan Tao – perhatikan ubin lantainya.

Satu lagi wat yang cukup menarik adalah Wat Bupparam, yang dikelilingi patung-patung kecil binatang – termasuk sebuah patung Donal Bebek!  Bangunan-bangunan dalam kompleks ini juga terlihat berbeda dengan yang ada di Wat Chedi Luang maupun Wat Phan Tao.

Wat Bupparam

Wat Bupparam terlihat dari seberang jalan.

Wat Bupparam 2

Yah, setidaknya menara BTS di belakang itu berarti Anda tak akan kekurangan cara berkomunikasi di Chiang Mai.

Nah, itu baru sebagian wat yang kami kunjungi dan bisa kami sebutkan!  Ada banyak lagi kompleks peribadahan serupa dengan macam-macam gaya arsitektur, yang mungkin lebih menarik bila Anda cari dan temukan sendiri.  Bahkan karena ukuran Chiang Mai yang cukup kecil dan melimpahnya wat-wat itu, saya sarankan Anda tak usah terlalu mengandalkan peta atau buku panduan, termasuk tulisan saya ini.  Berjalanlah, dan temukan sendiri wat-wat yang barangkali tak tercantum di buku panduan mana pun di berbagai pelosok Chiang Mai.  Temukan wat favorit Anda sendiri – rasanya pasti akan lebih menyenangkan dan berharga!  Dan jangan khawatir tak punya informasi apa-apa mengenai wat itu, karena biasanya di masing-masing wat disediakan keterangan dalam bahasa Inggris.

Bila malam menjelang, saatnya beranjak ke pasar malam, alias ‘night bazaar’, satu lagi atraksi utama di Chiang Mai.  Pasar malam ini terletak di luar tembok kota lama, di seberang Kanal Mae Kha.  Meskipun ‘night bazaar’ yang asli berada dalam sebuah gedung khusus, di trotoar pun pedagang kaki lima bersesakan.  Banyak sekali barang menggoda yang mereka tawarkan dengan ciri khas Thailand Utara, misalnya tas, syal, kain tenunan, dan lain-lain.  Membeli produk-produk tersebut juga mendorong kemandirian ekonomi para pembuatnya, wanita-wanita desa Utara.  Selain itu ada pula produk-produk kreatif seperti kaus oblong, kartu ucapan, dan gantungan kunci, dengan desain tak kalah dari ‘kota besar’.

Night bazaar Chiang Mai

Setiap lantai night bazaar Chiang Mai dikhususkan untuk kelompok produk berbeda.

Stand night bazaar

Yak, ditawar ditawar… (saya masih kepikiran tas burung hantu itu).

Untuk yang beragama Islam, di samping bangunan pasar malam Kalare ada sebuah masjid, bila Anda perlu salat sebelum melanjutkan jalan-jalan.  (Di bandara juga ada mushola, kalau-kalau Anda hendak salat sebelum pesawat lepas landas.)

Puas melihat-lihat wat dan berbelanja di pasar malam, jangan lupa menengok panda.  Sekarang rasanya tak mungkin menyebut Chiang Mai tanpa teringat mamalia yang satu ini.  Penyebabnya adalah tiga ekor panda – Chuang-chuang dan Lin Hui serta anak mereka, Lin Ping – yang dipelihara di Kebun Binatang Chiang Mai.  Letak kebun binatang ini agak jauh dari pusat kota, sehingga tumpangilah songthaew dengan membayar 30 Baht per orang sampai ke depan pintu gerbang kebun binatang.  Menyebut ‘zoo’ pun para supir songthaew paham kok.

Depan kebun binatang

Sebelah depan kebun binatang Chiang Mai. Gajah, gajah di mana-mana!

Akuarium Chiang Mai

Akuarium Chiang Mai, yang terletak dalam kompleks kebun binatang.

Harga tiket kebun binatang bervariasi, tergantung pada apa yang hendak Anda kunjungi dan fasilitas apa yang hendak Anda gunakan.  Biaya masuk 100 Baht, bila ingin melihat panda dan snowdome tambah 100 Baht lagi, dan juga ada biaya lagi untuk masuk ke akuarium, serta 20 Baht untuk memanfaatkan tramcar.  Saran saya, tak perlu ‘sok jago’ atau ‘sok hemat’ sehingga ogah membayar biaya lebih untuk tramcar, karena kebun binatang Chiang Mai sangatlah luas, dan dibangun mengikuti kontur perbukitan.  Jarak satu kompleks ke kandang lain bisa beberapa ratus meter, naik-turun pula!  Untuk yang tak terbiasa, bisa gempor bila tidak menggunakan tramcar!

Tramcar kebun binatangP

Para supir tramcar kebun binatang tampaknya gemar bercerita lucu yang mengundang tawa penumpang. Sayangnya kami tidak mengerti bahasa Thailand.

Toko suvenir kebun binatang

Tempat tramcar ‘ngetem’ dan toko suvenir kebun binatang.

Sebagian hutan di dalam kebun binatang dijaga tetap alami.  Bagi Anda yang punya waktu cukup banyak dan lebih berjiwa petualang, Anda bisa berkemah, menyusuri jalan setapak dengan kaki ataupun menunggangi gajah.  Banyak pula kegiatan untuk anak-anak, kalau-kalau Anda membawa anggota keluarga Anda yang masih belia ke sana.

Ling Ping

Duduk saja pun, panda tuh lucu ya…

Kandang panda dan koala disponsori LOTTE – yang kebetulan punya produk-produk bernama Hello Panda dan Koala’s March.  Menyaksikan tingkah-polah lucu si panda kecil, Ping, sungguh membuat hati riang.  Bila beruntung, Anda juga bisa berfoto bersama koala.  Sayang sewaktu kami datang, si koala yang jadi bintang foto baru saja makan, dan akan tidur siang.  Padahal koala bisa tidur 20 jam!  Waduh, memang bukan keberuntungan kami nih.  Namun tak perlu khawatir kehabisan ‘tontonan’, karena masih ada gajah, marmoset pigmi, pinguin, anjing laut, dan banyak lagi.

Kafe kebun binatang

Kafe kebun binatang, yang terletak lebih rendah, dekat sungai.

Sekadar peringatan, Anda tak diizinkan merokok di mana pun dalam kawasan kebun binatang.

No smoking

Kalau yang bilang ‘no smoking’ makhluk-makhluk selucu itu, tega melanggar?

Siang hari yang melelahkan di bawah sinar matahari paling enak diakhiri dengan minum teh dingin.  Maka itu kami melangkahkan kaki menuju Raming Tea House Siam Celadon, yang bersama sejumlah toko lain berbagi lokasi berupa sebuah rumah antik dari kayu jati yang telah direnovasi.  Anda bisa memilih untuk menyeruput teh Anda di dalam ruangan yang berdekorasi ala Eropa maupun di taman belakang yang rindang.  Bila ingin, Anda bisa membawa pulang daun teh dalam kemasan, baik yang teh tanpa embel-embel ataupun beraneka teh campuran dengan khasiat masing-masing.

Depan Siam Celadon

Gedung Siam Celadon adalah salah satu bangunan kayu jati yang dilestarikan.

Area bersantap

Area bersantap di sebelah dalam. Taman terlihat dari pintu yang terbentang lebar. Di sebelah depan, terlihat bangku ayunan.

Hidangan Siam Celadon

Cake macadamia, banana brownies, dan 3 jenis teh berbeda.

Tangga Siam Celadon

Tangga, kasir, dan sejumlah buah tangan yang bisa dibawa pulang.

Bagian tengah Siam Celadon

Bagian tengah tidak beratap. Di sebelah kiri dan kanan terdapat sejumlah toko lain.

Puas makan-minum dan membeli oleh-oleh, kami pun membayar dan beranjak keluar.  Astaga, bagian depan Siam Celadon sudah gelap-gulita, dan di pintu sudah tergantung tanda CLOSED.  Ternyata mereka sudah tutup dari tadi, tapi sama sekali tak mengusir kami!

Beberapa tempat makan lain yang bisa Anda coba adalah:

–          Thais That Bind, yang terletak tepat di seberang Wat Chedi Luang.  Ayam goreng ala timur laut Thailand-nya juara!  Es teh thai-nya juga amat menyegarkan.  Kalau mau mencicip makanan panda, coba deh pesan sayuran rebungnya.  Mungkin lidah Anda suka.  Lidah saya sih kurang nyambung dengan rasanya, hehehe.

Thais That Bind

Menu yang kami cicipi di Thais That Bind: ayam goreng ala timur laut, sayur rebung, dan tentunya… thai tea!

–          Pop Coffee House, yang menyajikan hidangan paket nasi dan lauk (sudah termasuk telur ceplok) dengan harga murah dan rasa menggoyang lidah.  Es kopi susunya juga nikmat.  Pop adalah bagian dari perusahaan yang juga menyewakan sepeda motor, sepeda, dan mobil untuk berkeliling Chiang Mai.

–          Ratana’s Kitchen yang juga menyajikan makanan yang terasa ringan di kantong wisatawan yang tak berkocek tebal, namun buat saya rasanya masih kalah dari Pop.

–          The Corner yang betul-betul terletak di sudut jalan dan banyak disambangi para pencari sarapan dan kopi.

Kalau Anda kurang suka bereksperimen rasa dan lebih gemar makan-minum yang pasti-pasti saja, ada sejumlah gerai waralaba atau chain store internasional seperti McD dan Starbucks kok di Chiang Mai.

Jalan depan Montrara

Di mana-mana, terdapat toko buku bekas, bahkan yang saling menempel.

Satu lagi kekhasan Chiang Mai adalah sekian banyak toko buku bekas yang bertebaran di seantero kota.  Toko-toko itu ada di mana-mana, termasuk di jalan tempat Montrara berada.  Bila beruntung, Anda bisa menemukan buku incaran Anda dengan harga murah dan kondisi sangat bagus.

Sebenarnya masih banyak kegiatan dan tempat menarik di Chiang Mai yang belum kami jajal, tapi biarlah waktu yang terbatas menyebabkan semua itu kami simpan untuk lain kali.  Namun ternyata godaan Chiang Mai belum berhenti di bandara.  Sewaktu kami hendak terbang ke Phuket, hati melompat riang namun dompet menjerit frustrasi melihat sejumlah toko berinterior memikat mata di bandara.  Toko-toko itu menawarkan sejumlah oleh-oleh seperti penganan, teh, dan kopi.

Kanom Ban Arjarn

Toko Kanom Ban Arjarn di Bandara Internasional Chiang Mai.

Pia dan teh

Pia Kanom Ban Ajarn dengan berbagai isi… hmmm, nikmat!

Cobalah teh beraneka rasa seharga 12 Baht saja, atau belilah kue pia atau kue bunga sebagai buah tangan dari Kanom Ban Arjarn Confectionary.  Bila lebih memilih teh atau kopi, ada Lanna Tea dan Papa’s + Mama’s.  Jadi, bila ke Chiang Mai… jangan keburu habiskan lembar-lembar THB itu di kota!  Siapa tahu justru hati Anda kepincut cendera mata di bandar udara…

Arca

Cantik, seperti Chiang Mai.

Previous Older Entries