Sapporo, ibukota prefektur paling utara (1) Maret 2015

sapporo-14

Apakah saya terlalu cepat meninggalkan Otaru, ya?

This post is about JapanSaya bertanya-tanya dalam hati sembari memandangi kota Sapporo yang membentang di luar jendela bis. Setelah menikmati Otaru yang kecil dan cantik, Sapporo jadi terlihat hambar. Jalan-jalan lurus dan besar, gedung-gedung bertingkat, toko dan restoran berantai yang bisa ditemukan di bagian-bagian lain Jepang. Bila dilihat sepintas saja, Sapporo tampak seperti kota-kota Jepang pada umumnya, tak tampak istimewa.

Saya menggeleng. Masa, menjejakkan kaki pun belum, sudah berpikiran begitu sih tentang Sapporo. Kan belum tentu juga bis ini melewati rute yang menarik di Sapporo (setelah sebelumnya melewati jalanan di lereng bukit di pesisir, yang menampakkan biru laut dan langit membaur menjadi satu tanpa batas yang jelas).

More

Otaru, winter wonder-port (2) Maret 2015

This post is about Japan

Hari kedua di Otaru! (Kalau belum baca cerita hari pertamanya, ada di sini, ya.)

otaru-22

Setelah mandi pagi (dengan air panas tentunya), saya turun untuk menikmati sarapan di ruang makan bersama. Seperti juga di kebanyakan hotel lain yang menyediakan sarapan, kita bisa mengambil roti dengan berbagai olesan, juga beraneka minuman seperti kopi, teh, dan jus. Bedanya adalah, di hotel ini, setelah kita memperoleh tempat duduk, seorang pelayan akan menghampiri dan memberikan sebutir telur ceplok dan sosis untuk kita. Saya kaget karena tidak meminta, dan saya pikir memang di hotel ini tidak disediakan telur untuk sarapan, namun rupanya begitulah cara mereka melayani. Sosisnya… sosis apa ya? Saya mau bertanya juga tidak enak, menyisakan pun rasanya tidak sopan. Akhirnya saya bismillah saja… More

Jogasaki Kaigan di Ambang Taifun, Mei 2015

This post is about Japan

Saya mendadak sangat ingin menulis tentang Jogasaki Kaigan gara-gara komik Narita Minako, Hana yori mo hana no gotoku (di Indonesia diterbitkan sebagai More flower than a flower—meski judul yang  lebih enak sepertinya adalah Beauty beyond flower).  Saya baru membaca beberapa volume terbaru karena ketinggalan penerbitannya di Indonesia selama berada di Jepang. Dalam volume 11, karakter utamanya, Kento, berkunjung ke Gunung Takao (sudah pernah saya bahas sebelumnya di sini) . Ini sudah membuat saya senyum-senyum sendiri, ditambah lagi ketika di volume 12 Kento ternyata mendatangi sebuah tempat lain yang masih segar sekali dalam ingatan saya karena baru saya sambangi bulan Mei lalu: Jogasaki Kaigan di Izu.

jogasaki-23

More

Owara tamaten: kenikmatan bersahaja di Takayama

This post is about Japan

Yuk, kita kembali membahas Jepang. Kali ini, saya akan membahas satu makanan yang, bisa dibilang secara tidak sengaja, saya jumpai dalam perjalanan saya di Jepang. Kebetulan, foodpanda, jasa hantaran makanan Indonesia, sedang mengadakan kompetisi Summer Travel Blogger Contest, yang meminta kita menceritakan tentang makanan terenak yang pernah kita temui sewaktu melawat.

Oleh karenanya, marilah kita buka Lompat-lompat kita kali ini dengan sebuah pertanyaan: Di manakah kita bisa memperoleh santapan terlezat sedunia?

Di restoran mewah bertempat di gedung pencakar langit, yang mempekerjakan chef ternama yang telah banyak disorot oleh majalah dan tampil di acara TV sendiri?

Bisa jadi, bisa jadi.

Tapi bisa juga santapan lezat itu kita temukan di warung sederhana yang jauh dari glamor di tepi jalan. Itulah yang saya temukan di Takayama.

owara-tamaten-01 More

Fukuoka, Februari 2014

This post is about Japan

Ini dia satu lagi kisah yang sangat tercecer: perjalanan saya tahun lalu ke Fukuoka. Sebagai catatan awal, saya cukup kaget mendapati begitu sedikitnya foto-foto dari Fukuoka di kamera maupun di telepon genggam saya. Saya ngapain saja ya, kok foto-fotonya tidak banyak? Ah, kemudian saya ingat, sewaktu saya berjalan-jalan di sana, beberapa kali turun hujan, membuat saya tidak bisa mengeluarkan kamera maupun telepon untuk mengambil foto. Semoga saja foto-foto yang saya sajikan di sini bisa cukup membantu visualisasi cerita saya, ya.

fukuoka-26

Saya sangat menyukai Tokyo, namun kadang-kadang perasaan bosan menghinggapi juga, apalagi kalau sedang libur panjang antarsemester. Rasanya ingin pergi ke tempat yang jauh, yang belum pernah saya datangi sebelumnya, yang jauh dari hiruk-pikuk Tokyo. Akhirnya di bulan Februari 2014 saya memutuskan membeli tiket pesawat Jetstar ke Fukuoka. Saya tidak benar-benar tahu Fukuoka itu di mana (selain tahu bahwa letaknya di Pulau Kyushu, berbeda dari pulau tempat Tokyo berada), tidak tahu benar di sana ada apa. Pokoknya saya lihat ada rute pesawat ke sana, cukup murah pula, dan saya belum pernah pergi sampai sejauh itu dari Tokyo, jadi ya sudahlah, berangkat!

More

Ringkasan 2013: Singapura, Hong Kong, Lembang, Beijing

Ah.  Sudah lama juga saya tidak menulis di blog ini.  Bukan karena tidak punya cerita, atau tidak bepergian ke mana-mana.  Cerita sih, ada saja.  Tapi beberapa kesibukan lain yang menyita perhatian membuat saya alpa menuangkan cerita-cerita itu ke dalam bentuk tertulis.  Oleh karena itu, sekarang saya sajikan versi ringkas dari apa yang saya jumpai dalam beberapa perjalanan saya tahun ini.

Singapura

Ada saja ya, alasan ke Singapura.  Alasan utama saya adalah beberapa konser yang hanya mampir ke Singapura namun tidak digelar di negeri sendiri.  Ada kesenangan tersendiri bila konser itu digelar di loka yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.  Selalu senang rasanya ‘berkenalan’ dengan loka baru, apalagi bila loka itu ternyata sungguh memuaskan.  Kali ini lokanya adalah The Star Theater, hanya berjalan kaki dari stasiun MRT Buona Vista.

sg-2013-01

More

Balikpapan, Setelah Hampir 20 Tahun Lewat

This post is about Indonesia

Butuh waktu berbulan-bulan bagi saya sebelum akhirnya bisa menulis tentang perjalanan saya ke kota tempat saya sempat dibesarkan dulu ini.

Bukan apa-apa, tetapi perjalanan kali ini memang sangat emosional untuk saya.  Setelah nyaris 20 tahun berlalu, saya kembali ke Balikapapan, untuk menjenguk nenek saya, yang kini sudah sangat tua sehingga pikun dan nyaris tidak bisa melakukan apa-apa.  Bukan pengalaman baru yang menyenangkan untuk ditumpukkan di atas kenangan saya tentang saat beliau masih sehat-walafiat, sibuk membuat kue nastar dengan oven model lama di dapur rumahnya di Balikapapan.

Toh akhirnya jadi juga saya terbang ke Balikpapan dengan Citilink dari Jakarta.  Hari sudah gelap ketika saya tiba, dan saya disambut oleh Bandara Sepinggan yang rasa-rasanya tak banyak berubah, masih seperti dulu.  Hei, tapi… tunggu dulu.  Ada bangunan terminal baru yang terlihat modern, baru digunakan oleh satu maskapai saja.  Selain terminal baru itu, Sepinggan juga sedang menjalani renovasi menyeluruh.  Saya hanya berharap bentuk bandara yang baru tidak sekadar modern namun generik, melainkan tetap menampilkan unsur-unsur budaya setempat yang khas.

(Oh ya, namanya juga di bandara Kalimantan, di Sepinggan ada sejumlah peringatan bahwa penumpang yang membawa mandau – senjata tajam khas Kalimantan – diharapkan menitipkannya ke pilot, demi keamanan penerbangan.)

Saya dijemput oleh paman dan sepupu saya, dan diajak ke Boncafe untuk makan malam.  Ini restoran yang sudah berusia cukup tua, banyak menyajikan hidangan Barat atau fusi, dan sepertinya punya kalangan penggemar tersendiri.  Saya melihat setidaknya satu kelompok ekspat yang sedang makan malam di situ bersama kami.  Dan para pelanggan ini bisa membawa pulang pecah-belah yang dibuat khusus untuk peringatan – kalau saya tidak salah – tiga dasawarsa Boncafe.

Sedari awal, paman saya jelas-jelas menunjukkan kebanggaan pada kotanya.  Ia heran kepada saudara-saudara yang memutuskan pergi menuju Tanah Jawa demi mencari penghidupan.  “Di sini pekerjaan ada, uang banyak.  Mau apa-apa juga ada.  Mall saja banyak.”

Ah, iya.  Betul.  Ingatan saya tentang Balikpapan memang tidak banyak, tapi jelas tidak melibatkan pusat-pusat perbelanjaan dan hotel-hotel besar yang kini tumbuh menjamur di kota tepi pantai itu.  Pasar Rapak tempat saya kerap dibawa ayah saya berbelanja sewaktu kecil dulu pun telah berubah menjadi ‘trade center’.  Bangunan-bangunan modern sebelah-menyebelah dengan deretan ruko-ruko lama kecil yang masih terpelihara.  Saya bahkan masih mengenali sejumlah toko yang sering saya singgahi sewaktu anak-anak.  Dan meskipun sudah mulai ada ‘taksi’ seperti yang biasa kita kenal di Jakarta, angkutan umum yang disebut ‘taksi’ – kalau di Jakarta kita sebut omprengan – juga masih berkeliaran.

Sejak lama memang Balikpapan, meskipun bukan ibukota provinsi, menjadi gerbang masuk ke Kalimantan Timur.  Kota ini adalah salah satu pangkalan pengolahan Pertamina: perusahaan minyak negara tersebut adalah salah satu faktor yang berpengaruh paling besar dalam pembentukan kota ini.  Kini pun Balikpapan merupakan kota yang banyak dikunjungi pebisnis: untuk merekalah sedemikian banyak hotel-hotel itu dibangun.

Balikpapan memang bukan tempat tujuan wisata utama, bila tempat wisata yang ada dalam benak kita adalah sebuah daerah dengan pemandangan alam luar biasa dan/atau berbagai produk budaya yang menunjukkan adat-istiadat yang kuat.  Namun, dari Balikpapan, kita bisa menuju tempat-tempat seperti itu di Kalimantan Timur, sementara kota itu sendiri berjaya sebagai daerah bisnis dan industri.  Terlepas dari itu, Balikpapan punya daya tarik tersendiri – mungkin bukan sebagai tempat berwisata, melainkan sebagai tempat tinggal.

Bukan hanya masalah pekerjaan dan uang seperti yang disebutkan paman saya.  Namun kota ini masih mempertahankan pesonanya sebagai kota kecil yang nyaman dan bersahabat bagi penghuni.  Kelengkapan sarana berbelanja dan bersenang-senang, termasuk bioskop Blitz Megaplex yang akan segera buka, bukan segalanya.  Balikpapan juga punya taman-taman yang menyenangkan, lapangan-lapangan luas yang siap menampung aktivitas warga, dan trotoar-trotoar yang enak ditelusuri.  Di akhir minggu ketika saya ke sana, sedang ada ramai-ramai berupa senam dan jalan kaki bersama yang diikuti orang dewasa maupun anak-anak.  Bayangkan menyenangkannya melakukan itu semua di bawah langit biru yang bersih, dinaungi pepohonan rindang, dan diterpa angin pantai yang segar.

Ingatan saya yang bolong-bolong tentang Balikpapan juga gagal mengingat kalau kota ini berbukit-bukit.  Ingat, sih, dulu saya pernah tinggal di ‘Gunung Polisi’, dan juga di ‘Panorama’ yang juga berwujud ‘gunung’.  Tapi ternyata ada juga ‘gunung-gunung’ lain, termasuk salah satunya di mana rumah keluarga paman saya berdiri.  Ketika pagi hari tiba dan saya melangkah ke halaman belakang, saya disambut matahari yang masih malu-malu timbul, udara yang sejuk, dan pemandangan menuruni lereng bukit.

Saya juga lupa bahwa kompleks Pertamina dan Stadion Persiba sebenarnya terletak agak jauh dari pusat keramaian kota.  Menyusuri jalanan tepat di samping laut, melewati Pelabuhan Semayang, melalui jalan yang diapit pepohonan yang tak terusik, kami pun tiba juga di kompleks Pertamina yang masih dihiasi rumah-rumah lama, seperti yang dulu keluarga saya huni bertahun-tahun lalu.  Rumah di Parikesit dan Panorama yang pernah kami tinggali sama-sama masih ada.  Sebagian rumah Pertamina tampak masih atau bahkan bertambah bagus, namun sebagian justru tampak tidak terawat.  Gedung Banua Patra dan Gelora Patra yang kerap menjadi tempat penyelenggaraan berbagai acara, terlihat mulai reyot.  Dan saya lupa, apakah dulu kompleks Pertamina sesepi ini?  Ataukah memang dulu penghuninya lebih banyak?

Paman saya mengajak sarapan nasi kuning di Karangjati, di sebuah warung sederhana yang ia klaim dulu tempat merupakan favorit ayah dan ibu saya.  Hidangan sederhana, berupa teh hangat dan nasi kuning di atas kertas pelapis yang dengan repot-repot dibuat berbentuk bunga, dengan lauk pendamping yang bisa kita pilih sendiri, menjadi pengganjal perut yang menyenangkan.  Orang-orang bergantian datang, mengejar rasa yang telah mereka akrabi berpuluh-puluh tahun.   Saya juga sempat mencicipi untuk-untuk, penganan yang dulu hampir setiap hari bisa mampir ke perut saya.

Di depan deretan toko-toko tempat kedai nasi kuning ini terdapat, berjajar sejumlah rumah panggung kuno milik Pertamina yang telah dijadikan cagar budaya.  Ah, kota ini memang seperti ‘berwajah dua’.  Di sana-sini, ditunjukkan tanda-tanda kemakmuran modern yang belum lama hinggap, namun masih banyak pula sudut kota yang seolah tak pernah berubah meski jangka waktu 20 tahun memisahkan saya saat terakhir melihat mereka dulu dan saya yang sekarang.   Di sejumlah tempat waktu seperti berjalan cepat sekali, menyongsong status Balikpapan sebagai ‘kota modern’ – seperti yang tampak di ‘Balikpapan Baru’ yang dibangun dengan keseragaman gaya dan bentuk, membuatnya tak jauh beda dari ‘kota-kota baru’ lain di Indonesia, Serpong misalnya.  Akan tetapi di sejumlah bagian lain kota, waktu seolah berjalan demikian lambat, enggan bergerak maju.

Sebelum saya ke bandara untuk pulang ke Jakarta, Paman membawa saya ke restoran kepiting saos favoritnya, Kenari, yang menyajikan aneka macam masakan seafood dan ayam, tentu saja dengan kepiting sebagai bintangnya.  Para pelayan dengan sigap akan membungkus-khusus kepiting bila kita memberi tahu bahwa pesanan kita itu akan dibawa terbang ke kota lain.  Tak heran hidangan kepiting ini menjadi salah satu oleh-oleh yang dinanti dari Balikpapan.  Paman saya bahkan membawakannya untuk dokter langganan atasannya di Singapura setiap kali ia menemani sang bos berobat ke sana.

Terminal keberangkatan yang digunakan maskapai saya masih sama dengan yang dulu – berlangit-langit rendah, dengan berderet-deret tempat duduk tanpa pemisah khusus untuk setiap gate.  Tapi sebuah kedai Starbucks tampak mencolok dengan warna logonya yang hijau dan putih, sementara di sudut lain kini ada tempat khusus untuk mengisi ulang baterai telepon genggam.  Ah, perubahan memang tidak terhindarkan.  Akan tetapi, dengan perasaan lega karena akhirnya bisa juga mencolokkan charger telepon genggam saya, diam-diam saya berharap, semoga kali lain saya mengunjungi Balikpapan, kota ini masih bisa saya kenali…

Bangkok Juni 2012

This post is about Thailand

Wah, akhirnya saya punya waktu juga untuk menuliskan sedikit tentang perjalanan saya ke Bangkok pada bulan Juni 2012 kemarin.  Dari perjalanan yang kesekian kali ini, saya akan ceritakan beberapa hal yang belum pernah saya bahas sebelumnya ya.  Soalnya, ada beberapa tempat yang saya kunjungi lagi dan memang tidak bisa tidak saya kunjungi kalau ke Bangkok, seperti daerah Siam Central dengan MBK, Siam Paragon, pusat seni dan lain-lain.  Sedikit pembaruan kabar: sewaktu saya ke sana, Siam Discovery masih beroperasi seperti biasa.  Tetapi sekarang pusat perbelanjaan itu sedang ditutup untuk renovasi sampai akhir tahun, sehingga sedang tidak bisa dikunjungi.

Di berbagai penjuru, kita bisa temukan seni.

Kabar lain, akhirnya saya mencicipi juga naik jalur kereta layang terbaru, yang menghubungkan bandara dengan Phaya Thai.  (Dari Phaya Thai ini kita bisa meneruskan naik kereta ke arah Mo Chit/Chatuchak atau ke arah Siam Central dan lain-lain.)  Jalur kereta ini, selain mempermudah transportasi bagi para penduduk Bangkok, tentu saja membuat akses ke beberapa daerah Bangkok semakin gampang bagi para wisatawan.  Salah satu stasiun kereta yang terletak di jalur ini hanya berjarak selemparan batu dari Pratunam Market (tempat berbelanja tekstil dan pakaian jadi yang ternama di Bangkok, semacam Tanah Abang) dan Hotel Baiyoke Sky, bangunan tertinggi di Bangkok.  Ngomong-ngomong nama hotel itu dibaca ‘baiyok’.

Saya juga sempat mengunjungi lagi Chulalongkorn University, universitas kenamaan se-Thailand, yang menempati kompleks luas dan lengkap tak jauh dari daerah Siam Central.  Seperti di universitas-universitas lain, para mahasiswa dan mahasiswi di universitas dengan warna kebesaran ini mengenakan seragam.  Mahasiswa tahun pertama bisa dikenali karena beberapa ciri, misalnya rok yang panjangnya seragam, selutut.  Nanti setelah tahun kedua, meski tetap mengenakan seragam hitam-putih, seragam tersebut bebas mereka modifikasi.

Eh, di universitas ini saya melihat salah sebuah bis yang memajang wajah Nichkhun Horvejkul, idola Thailand yang merupakan anggota boyband Korea 2PM.  Hayo hayo siapa mau naik…

Wat yang saya kunjungi kali ini adalah Wat Traimit Wittayaram di daerah Yaowarat alias Pecinan Bangkok.  Wat yang buka Selasa-Minggu (Senin tutup) dari pukul 8 pagi sampai 5 sore ini kerap dikunjungi wisatawan untuk melihat patung Buddha emas yang diletakkan di lantai paling atas.  Bila Anda hanya hendak melakukan ini, maka wat tidak memungut biaya untuk masuk.  Penduduk setempat masih aktif beribadah di wat ini, sehingga tolong hormatilah mereka bila Anda ingin melihat-lihat dan mengambil gambar di dalam ruang penyimpanan patung Buddha tersebut.

Wat ini penting karena suatu alasan lain yang sering terlewatkan oleh wisatawan, yaitu dilengkapi dengan museum kecil yang tidak hanya menceritakan tentang sejarah patung Buddha emas dan pendirian wat, melainkan juga sejarah Yaowarat dan warga Thai keturunan Cina secara umum.  Museum tersebut terletak di dua lantai di bawah ruang patung Buddha emas.  Cukup membayar 100 baht (sekitar Rp 30 ribu saja) untuk memperoleh akses ke dua lantai itu.  Lepaskan sepatu, masukkan ke dalam kantong khusus tas, dan bawalah sepatu Anda seraya melihat-lihat di sebelah dalam.

Tiketnya hanya sekecil ini lho. Awas hilang.

Di lantai yang pertama, kita bisa menelusuri sejarah warga Thai keturunan Cina melalui berbagai model, pajangan, dan diorama.  Ada ruangan yang dibuat menyerupai palka kapal-kapal yang dulu membawa mereka ke Thailand.  Bagian yang seharusnya merupakan jendela tingkap ke geladak sebenarnya adalah layar-layar yang seolah-olah menampilkan langit, yang berubah-ubah dari cerah hingga berbadai.  Kita pun bisa merasakan sekelumit pengalaman para pemberani yang menempuh pelayaran sulit di masa lalu, sehingga tiba di tanah yang lantas menjadi rumah bagi mereka dan keturunan mereka.

Sementara di lantai dua, kita bisa mempelajari sejarah wat dan patung Buddha emas.  Ternyata dulu patung tersebut terselubung cat yang menyebabkan orang banyak tidak mengetahui betapa besar nilai ekonomi patung itu.  Sewaktu patung tersebut sedang dalam proses dipindahkan ke tempat yang baru, turun hujan badai dan ada tali penahan yang putus.  Patung Buddha tersebut tergesek dan terungkaplah emas yang tadinya disembunyikan.

Sedikit catatan, beberapa bagian museum ini sebenarnya agak menyeramkan bila ditempuh sendirian, saking riilnya model-model manusia yang menampakkan kehidupan sehari-hari nenek-moyang warga Thai keturunan Cina.  Kalau bulu kuduk mudah merinding, mendingan ajak teman yah.

Soal makanan, seperti biasa saya tidak pernah bermasalah di Thailand.  Saya sempat mencicipi beberapa restoran, di antaranya restoran Muslim halal Sophia.  Sayang saya lupa mencatat alamatnya, dan saya ke situ pun diantarkan orang.

Hotel yang saya tempati selama perjalanan kali ini adalah Royal View Resort (BTS terdekat: Victory Monument) dan Indra Regent di Hotel.  Royal View Resort terletak di daerah yang lebih tenang, jauh dari keramaian, dan bahkan kita harus memasuki jalan kecil untuk menemukannya.  Sementara Indra Regent terletak di Pratunam yang ramai, bahkan tersambung dengan pusat perbelanjaan.  Namun keduanya buat saya sama nyamannya.  Kamar-kamarnya luas, tidak mahal, dan sudah dilengkapi dengan buffet sarapan yang bisa memberikan energi untuk seharian menjelajahi Bangkok.

Kisah Tercecer tentang Manila

This post is about The Philippines

Saat sedang terkapar sakit di rumah dan tidak melakukan apa-apa, saya teringat bahwa saya belum menyelesaikan rangkaian cerita saya mengenai Manila.  Ah, ya.  Lama betul tertunda.  Baiklah sebelum terlupa dari ingatan, saya ceritakan di sini.  Selain Intramuros, ini beberapa tempat lain yang saya kunjungi.

Manila senja hari terlihat dari gedung tinggi.

More

Selasar Sunaryo, Bandung

This post is about Indonesia

Bandung memang telah lama menjadi kota favorit warga Jabodetabek untuk melarikan diri sejenak kala akhir minggu atau libur panjang.  Kini, berkat dibukanya sejumlah penerbangan dari dan ke bandara kota ini, Bandung semakin ramai saja dengan pelancong-pelancong yang berseliweran.  Namun selain menjelajahi factory outlet, toko-toko, dan berbagai tempat makan di kota Bandung, ada keasyikan tersendiri mencari tempat-tempat yang lebih tenang karena posisinya yang tersembunyi di sekitar Bandung.  Tempat-tempat semacam itu sering kali terletak di jalan-jalan yang sedemikian sempit sehingga bahkan tak bisa dilewati dua mobil berlawanan arah dengan leluasa.

Salah satunya adalah Selasar Sunaryo yang berlokasi di Bukit Pakar Timur no 100.  Tempat ini dimaksudkan sebagai semacam pusat berkesenian, namun tak dikehendaki menyandang nama galeri atau museum, melainkan ‘art space’.  Kedua ruang pamer yang tersedia menampilkan berbagai karya bergantian, tergantung tema atau acara khusus yang sedang berlangsung.  Bahkan saat kami sedang di sana, belum ada apa-apa yang bisa dilihat di ruang pamer, karena keduanya sedang dibereskan untuk pameran berikutnya.

Akhirnya, selain melihat-lihat arsitektur art space ini beserta taman-tamannya – yang tampaknya dipengaruhi ‘gaya’ Zen – kami pun memilih untuk bersantai di Kopi Selasar, kedai yang merupakan bagian dari Selasar Sunaryo.  Tempat makan ini tak hanya menjual makanan dan minuman, melainkan juga suasana dan pemandangan.  Di sini pengunjung juga bisa mengisi ulang baterai telepon genggam di rak-rak khusus yang tersedia.

Sayangnya karena perut saya waktu itu masih agak penuh, saya hanya ‘sanggup’ memesan secangkir kopi dan kentang goreng berbumbu pedas.  Dihidangkan hangat-hangat, keduanya pas betul jadi hidangan  pengusir dingin.

Ada sebuah toko kecil di art space ini, yang menjual buku-buku dan sejumlah cenderamata yang bisa dibeli.  Sebagian cenderamata adalah buatan tangan sejumlah seniman, sehingga tidak ada duanya.  Selasar juga menyediakan perpustakaan yang terbuka bagi umum.

Oya, Selasar Sunaryo juga menyediakan amfiteater dan pendopo untuk pertunjukan atau diskusi.  Silakan cek selalu pameran dan kegiatan yang sedang atau akan berlangsung di situs mereka ini.

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 76 other followers