Tepi sungai dan es serut di Nagatoro, Mei 2015

This post is about Japan

Saya belum pernah sebelumnya mendengar tentang Nagatoro. Kota kecil di prefektur Saitama ini hanya berpenduduk 8.000-an orang, dan rasa-rasanya tidak banyak diperbincangkan di antara turis asing. Namun bagi turis domestik, terutama yang bertempat tinggal di sekitar Kanto, Nagatoro cukup populer, apalagi saat musim panas.

iwadatani02

“Kalau musim panas, orang banyak datang ke sini untuk makan kakigori,” demikian Mari-chan, pemandu kami kali ini, menjelaskan. Kakigori? Masa sih orang jauh-jauh ke sini hanya untuk makan es serut? Wah, kalau begitu, harus dibuktikan sendiri nih nikmatnya es serut buatan daerah ini. Konon, di puncak musim panas, orang-orang tak segan mengantri beratus-ratus meter, berjam-jam, demi bisa mencicipi kakigori yang ditawarkan sejumlah kedai di Nagatoro. Tak jarang, ada yang sampai pingsan. Ya bayangkan dong, berdiri di bawah terik matahari pas lagi panas-panasnya. Maka itu, ada ambulans yang siaga dan petugas keamanan yang membantu mengatur dan mengawasi antrian tersebut.

nagatoro02

Tapi itu nanti, bukan sekarang, di awal musim panas, ketika kami menjejakkan kaki di Stasiun Nagatoro, turun dari kereta yang membawa kami dari Stasiun Ohanabatake setelah melihat-lihat shibazakura di Hitsujiyama Kouen. Ketika kami keluar dari stasiun yang masih mempertahankan gayanya yang klasik (maksudnya: jadul), yang menyambut kami adalah suasana lengang.

nagatoro01

Di alun-alun di depan stasiun nyaris tidak ada orang, demikian pula di jalan-jalan mulus berlapis paving block kota itu. Kendaraan lewat pun jarang sekali. Toko-toko cendera mata buka, namun hanya satu-dua pengunjungnya. Saking sepinya, kami memanfaatkan waktu sejenak berfoto-foto di antara dua rel kereta sambil menyeberang. Belum terbayangkan, apa daya tarik kota mungil ini sehingga banyak orang berlomba-lomba datang di musim panas.

nagatoro03

Apa pun pertanyaan yang menghinggapi benak saya, Riris, dan Mbak Ocha mengenai kenapa kami dibawa ke tempat itu oleh Mari-chan, segera terjawab begitu jalan kecil yang kami susuri berujung di tempat terbuka di pinggir sungai yang menghadirkan pemandangan cantik luar biasa. Dengan bersemangat kami pun menuruni undak-undakan batu yang mengarah ke tepi sungai. Inilah Iwadatani, sepotong keajaiban alam yang tersaji berupa sungai bersih—penggalan dari Sungai Arakawa yang mengalir sampai ke Tokyo—berwarna kehijauan yang diapit oleh bebatuan besar.

iwadatani01

Sebagai anak-anak kota yang hanya mengenal sungai perkotaan yang kotor dan keruh, tak terkira girangnya hati kami mendapati sungai sebersih dan sejernih ini. Rasanya tak percaya ketika kami tiba di tepi air dan bisa memandang dasar sungai melalui air yang tembus cahaya.

iwadatani03

Kami langsung mencopot sepatu dan kaus kaki agar bisa mencelupkan kaki ke dalam air yang tampak mengundang itu. Tengoklah, begini tampaknya kedua kaki saya yang saya julurkan ke dalam air dari atas sebuah batu mulus yang saya duduki. Nyaris tidak kelihatan bahwa kaki saya sebenarnya terendam air, ya?

iwadatani05

Tidak hanya kaki yang tadi lelah dibawa berjalan yang merasa nikmat sekali dibelai air sungai, mata pun terhibur oleh pemandangan yang permai. Riris, yang salah satu bagian pekerjaannya di tanah air adalah menganalisis air, punya kebahagiaan tersendiri melihat sungai ini, apalagi bila membandingkannya dengan Ciliwung di Jakarta. Menurut Riris, kalau di hulunya sih air Ciliwung masih oke. Seiring mengalirnya kali itu menyusuri Jakarta, airnya makin tercemar, dan bahkan di muara sudah tidak bisa disaring saking banyaknya pengotor yang terkandung di dalamnya. Riris berseloroh, kerjanya bakal lebih gampang seandainya saja semua sungai di Jakarta sebersih Sungai Arakawa ini.

iwadatani04

Riris dan saya kebetulan sedang tidak salat, tapi Mbak Ocha harus salat. Pakai air apa untuk wudu? Lah, ini di sungai di hadapan kami mengalir air sungai yang tampak sedemikian bersih. Insya Allah suci dan mensucikan. Mbak Ocha pun berwudu saja dengan air sungai, dan salat di antara bebatuan besar tepat di tepi sungai. Sebenarnya sayang juga ya, saya kelewatan kesempatan untuk salat di tempat seindah ini.

iwadatani06

Kami menanti sambil duduk di bebatuan dan mengayun-ayunkan kaki, serta juga mencoba berjalan dengan kaki celana tergulung di bagian sungai yang dangkal. Sungguh, rasanya kami betah bila harus duduk berlama-lama di sini, hanya mengamati air sungai mengalir lewat, dalam suasana tenang dan damai. Tak jauh dari kami, terlihat sebuah keluarga yang terdiri dari ayah-ibu dan dua orang anak juga asyik bermain di tepi sungai.

iwadatani07

Akhirnya kami bangkit juga, kembali mengenakan alas kaki, dan melanjutkan berjalan menyusuri sungai agak jauh lagi. Terlihat sebuah perahu panjang yang membawa para turis yang ingin mencoba menyusuri langsung sungai itu. Ini memang salah satu atraksi utama yang ditawarkan di Nagatoro. Sayang kami tidak sempat mencobanya, dan saya hanya bisa mengabadikan momen indah ketika perahu itu meluncur membelah sungai. Saya lekas mengangkat kamera untuk memotret, tapi… ups! Ternyata kartu memori saya sudah kepenuhan.

iwadatani09

Untunglah Riris membawa kartu memori cadangan. Akan tetapi, karena sempat bergelut mencopot dan memasang kartu memori ke kamera, perahu itu pun keburu lewat dan hilang. Hhh… ya sudahlah, rupanya memang kali ini kesempatan yang diperoleh hanyalah merekam momen tersebut dengan mata dan ingatan.

iwadatani10

Beberapa lama kami kembali menelusuri bebatuan besar yang berselang-seling dengan tanaman menghijau dan kolam-kolam alami di Iwadatani.

iwadatani12

Sejumlah batu butuh upaya lebih besar untuk dicapai atau dipanjat. Jadi kalau mau ke tempat ini, jangan lupa pakai sepatu yang nyaman dan tidak licin.

iwadatani08

Sebelum beranjak kembali ke arah stasiun, kami sempat menyaksikan pertarungan sengit antara dua ekor gagak dan seekor elang di atas sungai. Kedua gagak itu terbang cepat mengeroyok si elang, yang beberapa kali tampak kewalahan. Sungguh, kami kaget sekali melihat bagaimana elang si predator ternyata bisa juga kelabakan akibat dua burung hitam yang berukuran cukup besar itu. Kami berseru-seru tertahan, berharap si elang bisa meloloskan diri. Akhirnya memang ia berhasil kabur, namun entah apakah ia terluka atau tidak. Tidak ada yang bisa kami lakukan untuk menengahi peristiwa alam tersebut.

iwadatani11

Kami menelusuri jalan yang sama dengan yang kami tempuh ketika datang lagi, menghampiri salah satu kedai kakigori. Sewaktu datang, kami sempat menanyakan kepada pemilik kedai, jam berapa kedai tersebut tutup.

nagatoro13

Sebenarnya saat itu kami sudah nyaris terlambat, namun pemilik kedai berbaik hati tetap membuatkan kami satu porsi kakigori yang terkenal itu. Satu porsi saja? Iya, soalnya ukurannya luar biasa besar! Bahkan kami berempat pun nyaris tidak habis menyantapnya!

nagatoro12

Sebenarnya kedai tersebut tampak menarik untuk dijadikan tempat bersantai, tapi sayang memang jam tutupnya sudah tiba. Kami hanya duduk sebentar sambil menunggu pemilik kedai membuatkan kakigori pesanan kami. Setelah memperoleh dan membayar kakigori itu (sebenarnya kami ditraktir Mari-chan), kami pun beranjak pergi.

nagatoro16

Kakigori  kami bawa ke depan stasiun, dan kami ramai-ramai lahap di sebuah bangku batu di situ sambil beristirahat dan mengobrol. Kakigorinya terasa sangat segar dan khas Jepang, dengan siraman macha yang royal dan azuki (kacang merah) di sebelah atas.

nagatoro15

Nah, kalau kami agak telat mengunjungi shibazakura namun dapat keuntungan berupa masuk gratis dan taman yang tidak lagi ramai, kami sebenarnya menikmati kakigori terlalu dini karena musim panas belum lagi mencapai puncaknya. Namun ya untungnya, kami tak perlu mengantri berjam-jam sekadar untuk mencicipi jajanan kesohor di Nagatoro ini!

nagatoro04

Usai menikmati kakigori, ternyata masih ada waktu sekitar sejam sebelum kereta berikutnya datang. Kami pun berdiri lagi, dan kini berjalan ke bagian Nagatoro yang terletak di sisi satu lagi stasiun kereta. Sama seperti di sisi  yang bersebelahan dengan sungai, sisi kota sebelah sini pun sepi. Bedanya, jalan-jalannya lebar-lebar dan beraspal mulus, bukan setapak yang dilapisi paving block.

nagatoro05

Kami berjalan menanjak menuju Hodosan Jinja, yang menurut klaim didirikan pada tahun 110 M. Gila, kalau betul, sudah tua sekali ya. Kuil Shinto yang dihiasi banyak ukiran berwarna-warni ini ditujukan untuk menghalau bahaya api dan pencurian. Katanya sampai satu juta peziarah mengunjungi Hodosan Jinja setiap tahunnya. Namun sewaktu kami berada di sana, hanya ada 2-3 pengunjung lain.

nagatoro07

Sejumlah ukiran tampak, hm, menggelitik pertanyaan di benak. Ini kira-kira apa ya ceritanya….

nagatoro06

Kami sempat menjelajahi pekarangan Hodosan, dan Mari-chan mengajak berfoto di depan tangga batu diapit toori (gerbang khas yang menandai tempat suci Shinto) yang mengarah ke sebuah bangunan? Altar? Yang tertutup rerimbunan pohon. Melihat kamera kami langsung dong berpose dengan mengacungkan jari membentuk huruf V. Setelah foto diambil, baru Mari-chan berkata, “Hmmm, sebenarnya untuk tempat seperti ini, gayanya kurang sopan ya…” Wuih, benar juga. Kami langsung meminta maaf saat itu juga. Saya tidak yakin juga sih, ‘siapa’ penghuni kuil itu kepada siapa kami harus mengalamatkan permintaan maaf, tapi saya rasa percaya atau tidak percaya, tidak ada susahnya menghormati apa yang dihormati oleh orang lain/penduduk setempat dan berlaku sopan.

nagatoro09

Mari-chan sendiri mengatakan bahwa tempat itu memiliki energi yang bagus. Katanya, rasanya sangat tenang dan lega saat berada di situ. Saya rasa, biarpun tidak percaya pada kekuatan gaib atau energi positif/negatif atau apa pun itu, siapa pun yang berada di situ akan setuju bahwa Hodosan Jinja dan daerah sekitarnya terasa sangat damai.

nagatoro10

Kami akhirnya kembali ke stasiun karena beberapa menit lagi kereta yang kami hendak tumpangi akan tiba. Di tepi jalan, kami menemukan mesin penyerut es kuno ini, yang rupanya dijadikan monumen bagi jajanan kenamaan Nagatoro. Apa yang sekilas tampak remeh seperti ‘es serut’ pun, sebenarnya bisa ya dijadikan sesuatu yang sangat istimewa dan berharga.

nagatoro11

Kami pun kembali ke Tokyo, dan berpisah setelah makan malam bersama di dalam salah satu stasiun jalur Yamanote. Hari ini benar-benar menyenangkan, karena kami mengunjungi dua daerah yang sebenarnya tak pernah ada dalam rencana untuk saya kunjungi, dan bahkan tak saya ketahui keberadaannya. Saya jadi tahu lebih banyak mengenai tujuan-tujuan daytrip lain yang menarik di Saitama. Terima kasih, Mari-chan!

Ini adalah tulisan terakhir saya dalam rangkaian tulisan tentang awal musim panas tahun ini di Jepang. Hmmm… kali berikutnya, membahas apa lagi ya? Sebetulnya saya ingin menulis tentang Kofu dan Matsumoto dulu, tapi bagaimana kalau kita lompat ke utara dan membahas Hokkaido?

8 Comments (+add yours?)

  1. totoryan
    Nov 22, 2015 @ 05:53:40

    subhanallah, cantik banget sungainyaaa… liat fotonya aja berasa adem apalagi beneran nyelupin kaki di situ hehehehehe…

    ukiran yg ka tyas foto memang menimbulkan tanda tanya hahahhahahahaha #ups

    Reply

  2. shab7400
    Nov 23, 2015 @ 01:09:16

    ano kawa wa sugooooiiii desu😮

    btw es krimnya gede amat, ma’am

    Reply

  3. Kei Nisa
    Feb 17, 2016 @ 23:32:10

    Subhanallah! Pengen k sana >_<
    Sesenyap itu kah daerah itu? Apa penduduk di situ sedikit?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: