Ringkasan 2013: Singapura, Hong Kong, Lembang, Beijing

Ah.  Sudah lama juga saya tidak menulis di blog ini.  Bukan karena tidak punya cerita, atau tidak bepergian ke mana-mana.  Cerita sih, ada saja.  Tapi beberapa kesibukan lain yang menyita perhatian membuat saya alpa menuangkan cerita-cerita itu ke dalam bentuk tertulis.  Oleh karena itu, sekarang saya sajikan versi ringkas dari apa yang saya jumpai dalam beberapa perjalanan saya tahun ini.

Singapura

Ada saja ya, alasan ke Singapura.  Alasan utama saya adalah beberapa konser yang hanya mampir ke Singapura namun tidak digelar di negeri sendiri.  Ada kesenangan tersendiri bila konser itu digelar di loka yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.  Selalu senang rasanya ‘berkenalan’ dengan loka baru, apalagi bila loka itu ternyata sungguh memuaskan.  Kali ini lokanya adalah The Star Theater, hanya berjalan kaki dari stasiun MRT Buona Vista.

sg-2013-01

More

Menambah Berat Badan di Penang

This post is about Malaysia

Sewaktu mengetahui saya akan berkunjung ke Penang, teman-teman saya yang berkebangsaan Malaysia langsung dengan bersemangat mempromosikan… makanan di sana.  Ya, Penang memang tenar sebagai ‘gudang makanan enak’ di Malaysia, dari yang murah sampai mahal, dari yang halal sampai tidak.  Berikut ini kami membahas sejumlah tempat makan yang sempat kami jajal di Georgetown dan sekitarnya.

More

GoHalalPlanet

Teman-teman Muslim yang gemar lompat-lompat, sekarang ada situs baru nih, namanya GoHalalPlanet.  Pengelolanya adalah salah seorang teman kami yang tinggal di Vietnam.  Situs ini bertujuan menyediakan informasi mengenai tempat makan halal, tempat penginapan yang nyaman, dan tempat ibadah yang tersedia bagi pelancong Muslim.  Cakupan utamanya adalah negara-negara Asia Tenggara yang mayoritas bukan dihuni kaum Muslim, dan saat ini informasi yang sudah tersedia cukup banyak adalah untuk Vietnam.

Teman kami ini teliti sekali lho memeriksa restoran-restoran halal, sampai memeriksa dapurnya langsung.

Semoga bisa membantu ya…

Pesona Lanna di Chiang Mai

This post is about Thailand

“Lagi di Chiang Mai? Di Cina, ya?”

Kenyataan bahwa sebuah keluarga panda telah menjadi maskot Chiang Mai semakin tidak membantu banyak orang menempatkan letak geografis kota ini dengan benar.  Kota yang pernah menjadi tuan rumah SEA GAMES tahun 1995 ini sebenarnya terletak di utara Thailand, dekat perbatasan dengan Laos dan Myanmar.

Bila Anda berpikir, “Ada apa sih di Chiang Mai?  Jangan-jangan sama saja dengan Bangkok atau Phuket?”, moga-moga tulisan kami berikut ini bisa mengubah pikiran Anda.  Chiang Mai adalah sebuah kota yang layak dikunjungi dan menawarkan berbagai kekhasan, baik dari segi budaya, arsitektur, maupun alam.  Salah satu penyebabnya adalah Chiang Mai tadinya bukan merupakan bagian dari kerajaan Siam yang menjadi pondasi negara Thailand modern, melainkan kerajaan Lanna, yang memiliki kebudayaan tersendiri.  Baru tahun 1932 Lanna resmi menjadi bagian Thailand.

Pemandangan yang kami lihat dari pesawat

Tengoklah ke luar saat pesawat akan mendarat…

Ada sejumlah maskapai yang melayani penerbangan ke dan dari Chiang Mai, antara lain AirAsia, Bangkok Airways, dan Nok Air.  Sewaktu pesawat akan mendarat, di depan mata telah terpampang pemandangan menggetarkan yang langsung membuat saya yakin bahwa Chiang Mai pasti akan memberikan hal yang berbeda dibandingkan Bangkok yang terletak di dataran rendah: deretan pegunungan hijau.  Melihatnya saja sudah membuat hati adem.

Bila Anda hendak mencoba sarana transportasi lain menuju Chiang Mai, Anda bisa mencoba bis (dengan harga karcis sekitar 500 Baht) atau kereta api dengan tiket berkisar 700-an sampai 1300-an Baht, tergantung tipe kereta atau gerbong yang Anda pilih.  Dalam sehari, ada beberapa kali kereta meninggalkan Bangkok menuju Chiang Mai dan sebaliknya.

Sepotong tembok Chiang Mai

Sepotong tembok pelindung Chiang Mai tua yang masih ada.

Sesampainya di bandara internasional Chiang Mai, kami menggunakan taksi menuju penginapan kami.  Oleh karena Chiang Mai merupakan kota kecil, taksi bermeter dari bandara menetapkan tarif flat 120 Baht menuju kota.  Taksi ini tak banyak dijumpai di jalanan, sehingga untuk berkeliling Chiang Mai atau menuju atraksi-atraksi wisata yang agak jauh seperti Kebun Binatang, lebih baik menggunakan songthaew, angkot berwarna merah yang untuk gampangnya diinggriskan sebagai ‘taxi’.

Songthaew

Songthaew, si ‘taksi’ merah

Kami memesan kamar di Montrara Happy House, sebuah penginapan yang membuat kami tertarik lewat foto-fotonya.  Junior suite untuk tiga orang dihargai antara 1100-1200 Baht (tergantung apakah weekdays atau weekend, dan sedang peak season atau tidak), alias sekitar 380 ribu rupiah, termasuk sarapan Continental.  Dan kami sungguh tidak dikecewakan oleh pelayanan penginapan ini, yang meski terhitung sederhana dan murah namun tidak kalah dari hotel-hotel yang lebih mahal.  (Namun bila Anda merasa lebih nyaman menginap di hotel berbintang, di Chiang Mai juga sudah tersedia sejumlah hotel dari jaringan internasional.)

Pertama-tama yang membuat kami menyenangi Montrara adalah desain interiornya yang artistik, menampilkan berbagai pernak-pernik khas Lanna/Thailand.  Dari jendela kamar kami di lantai 4 pun terlihat pegunungan di kejauhan dan kanal yang mengelilingi Chiang Mai.  Ada AC, kulkas, TV kabel, dan kamar mandi yang bersih serta unik.  Rasanya enak sekali pulang ke kamar kami yang nyaman setelah lelah seharian berpetualang di sekitar Chiang Mai.

Ruang depan Montrara

Ruang depan Montrara, dilihat dari ruang makan

Tempat tidur utama di junior suite Montrara

Tempat tidur utama di junior suite Montrara

Tempat tidur tambahan

Tempat tidur tambahan di junior suite Montrara.

Kamar mandi Montrara

Kamar mandi junior suite Montrara – meja rias dengan kaca besar di sebelah kiri WC tidak terlihat.

Sarapan yang disediakan juga sehat dan mengenyangkan, cukup memberi kami energi untuk berkeliaran setengah hari.  Sang pemilik dan istrinya pun turun tangan sendiri melayani para tamu.  Staf penginapan selalu sigap membantu wisatawan-wisatawan yang rada culun seperti kami.

Sarapan di Montrara

Aduuuh… boleh nambah nggak ya sarapannya…

Bila hendak mencuci pakaian, ada dua binatu di dekat Montrara.  Satu terletak tepat di seberangnya, namun tutup pada hari Minggu.  Satu lagi terletak beberapa puluh meter jauhnya, setelah Hotel Amora.  Biaya binatu di Chiang Mai cukup murah, rata-rata 20 Baht tanpa setrika per kilo dan 35 Baht dengan setrika per kilo.  (Coba bandingkan dengan di Phuket, yang mematok harga 50 Baht tanpa setrika dan 80 Baht dengan setrika per kilo….) Waktu mencuci kira-kira 10 jam, sehingga bila Anda menyerahkan pakaian kotor pukul 8 pagi, kira-kira pukul 6 sore sudah bisa Anda ambil kembali dalam kondisi terlipat rapi dan harum.

Bagian depan Montrara

Luruuus saja ke arah sana dari depan Montrara, nanti di sebelah kiri ada binatu…

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, Chiang Mai sebenarnya kota kecil saja, kalah jauh dari Bangkok meskipun kota ini adalah kota kedua terbesar di Thailand.  Dengan berjalan kaki saja, Anda bisa puas mengelilingi Chiang Mai.  Jalan-jalan mobil tidak begitu ramai, sementara trotoar – termasuk yang lebar-lebar di tepian kanal atau sungai – sungguh membuat perjalanan menyusuri Chiang Mai nyaman. Agak mengingatkan saya kepada Hue di Vietnam, andaikan saja suhu Chiang Mai juga sedingin di Hue.

Salah satu taman dan sungai di Montrara

Tergoda tidak hendak menyentuh pantat patung gajah bahenol itu?

Sudut Chiang Mai

Salah satu penginapan/kedai di Chiang Mai

Salah satu kekhasan Chiang Mai adalah kota ini ‘banjir wat’.  Ada sekitar 30 wat (kuil) di kota lama yang dikelilingi tembok pertahanan berwarna merah, dan ada barangkali 50 lainnya di bagian kota yang lebih baru.  Ibaratnya, Anda menggelinding sedikit pun pasti ketemu wat.  Kami mengunjungi cukup banyak wat selama di sana, namun tak akan saya ceritakan semua.  Bisa-bisa jadi satu buku sendiri!  Saya akan menampilkan hanya beberapa di sini.  Dan bila Anda berpikir bahwa mengunjungi Grand Palace, Wat Pho, dan Wat Arun di Bangkok saja sudah sangat memuaskan, harap dicatat bahwa wat-wat di Chiang Mai memiliki gaya tersendiri, baik terbuat dari batu maupun kayu, dan sebagian di antaranya juga amat tua.  Sebagian bergaya Burma, karena Lanna memang pernah agak lama menjadi wilayah taklukan negara tersebut.  Dan karena bagi masyarakat Lanna menyimpan barang-barang peninggalan bangsawan membawa tulah sehingga harus disumbangkan ke wat, di sejumlah wat kita bisa menyaksikan objek-objek bersejarah itu dipamerkan.

Wat Ou Sai Kham

Wat Ou Sai Kham, yang menyimpan sejumlah patung Buddha dari giok.

Tak jauh-jauh, di jalan yang sama dengan Montrara, ada Wat Ou Sai Kham, yang menampung sejumlah patung Buddha dari giok.  Letaknya yang di jalan kecil memang membuat wat ini tidak begitu mencolok, namun Ou Sai Kham tetap saja indah dan menarik.  Senyum seorang biksu yang mempersilakan saya duduk beberapa lama dalam aula utama sungguh menyejukkan hati.

Wat paling terkenal di Chiang Mai barangkali adalah Wat Chedi Luang yang terletak kurang lebih di pusat kota (dan memang Pilar Kota juga terletak dalam kompleks ini).  Berdiri di depan bangunan utama (vihar) yang megah sudah cukup membuat diri ciut, apalagi memasuki aula besar di mana patung Buddha diletakkan.  Cobalah meresapi kekhusyukan jemaah yang datang beribadah.

Depan Wat Chedi Luang

Lampion warna-warni di depan Wat Chedi Luang.

Di belakang vihar raksasa ini, terdapat pagoda batu dari abad ke-14.  Puncaknya sayangnya sudah runtuh, namun bangunan yang tersisa masih memukau.  Ular-ular berkepala lima dari batu menguakkan mulut lebar-lebar, mengancam di kaki undak-undakan yang tak boleh didaki lagi karena kondisi.

Wat Chedi Luang

Bangunan kuno di latar depan, bangunan baru di latar belakang.

Ular kepala lima

Ular berkepala lima di kaki undak-undakan pagoda tua Wat Chedi Luang.

Di sana-sini di dalam kompleks Wat Chedi Luang, terdapat kotak-kotak sumbangan.  Anda bisa memilih menyumbang sesuai hari lahir (untuk keberuntungan), untuk membantu pengobatan biksu yang sakit, membiayai hidup anjing-anjing yang berkeliaran bebas dalam kompleks wat, dan lain sebagainya.  Wat Chedi Luang juga menyediakan program berbincang-bincang bersama para biksu.  Kita dipersilakan untuk membicarakan apa saja dengan mereka – mulai dari curhat sampai bertanya-tanya soal kebudayaan Thailand.  Wah… ada yang perlu saran mengenai cara mengatasi kesulitan hidup?

Toilet Wat Chedi Luang

Jangan lupa ganti alas kaki luar dengan sandal toilet, ya!

Satu lagi yang membuat saya terkagum-kagum adalah toilet yang tersedia di kompleks Wat ini benar-benar bersih – sampai-sampai disediakan sandal kamar mandi bagi tamu yang hendak menggunakan fasilitas yang dinaungi pepohonan rindang ini!

Di sebelah Wat Chedi Luang terdapat Wat Phan Tao, dengan vihar utama dari kayu jati.  Bagian atas pintu depan dihiasi burung merak, motif yang agak tak lazim di Lanna.  Di sebelah belakang terdapat pagoda putih bersih dan deretan lampion kertas berwarna-warni semarak.

Sebelah depan Wat Phan Tao

Vihar dari jati di bagian depan Wat Phan Tao

Pagoda putih Wat Phan Tao

Putih bersih berlatar biru langit.

Arca Buddha Wat Phan Tao

Arca Buddha Wat Phan Tao – perhatikan ubin lantainya.

Satu lagi wat yang cukup menarik adalah Wat Bupparam, yang dikelilingi patung-patung kecil binatang – termasuk sebuah patung Donal Bebek!  Bangunan-bangunan dalam kompleks ini juga terlihat berbeda dengan yang ada di Wat Chedi Luang maupun Wat Phan Tao.

Wat Bupparam

Wat Bupparam terlihat dari seberang jalan.

Wat Bupparam 2

Yah, setidaknya menara BTS di belakang itu berarti Anda tak akan kekurangan cara berkomunikasi di Chiang Mai.

Nah, itu baru sebagian wat yang kami kunjungi dan bisa kami sebutkan!  Ada banyak lagi kompleks peribadahan serupa dengan macam-macam gaya arsitektur, yang mungkin lebih menarik bila Anda cari dan temukan sendiri.  Bahkan karena ukuran Chiang Mai yang cukup kecil dan melimpahnya wat-wat itu, saya sarankan Anda tak usah terlalu mengandalkan peta atau buku panduan, termasuk tulisan saya ini.  Berjalanlah, dan temukan sendiri wat-wat yang barangkali tak tercantum di buku panduan mana pun di berbagai pelosok Chiang Mai.  Temukan wat favorit Anda sendiri – rasanya pasti akan lebih menyenangkan dan berharga!  Dan jangan khawatir tak punya informasi apa-apa mengenai wat itu, karena biasanya di masing-masing wat disediakan keterangan dalam bahasa Inggris.

Bila malam menjelang, saatnya beranjak ke pasar malam, alias ‘night bazaar’, satu lagi atraksi utama di Chiang Mai.  Pasar malam ini terletak di luar tembok kota lama, di seberang Kanal Mae Kha.  Meskipun ‘night bazaar’ yang asli berada dalam sebuah gedung khusus, di trotoar pun pedagang kaki lima bersesakan.  Banyak sekali barang menggoda yang mereka tawarkan dengan ciri khas Thailand Utara, misalnya tas, syal, kain tenunan, dan lain-lain.  Membeli produk-produk tersebut juga mendorong kemandirian ekonomi para pembuatnya, wanita-wanita desa Utara.  Selain itu ada pula produk-produk kreatif seperti kaus oblong, kartu ucapan, dan gantungan kunci, dengan desain tak kalah dari ‘kota besar’.

Night bazaar Chiang Mai

Setiap lantai night bazaar Chiang Mai dikhususkan untuk kelompok produk berbeda.

Stand night bazaar

Yak, ditawar ditawar… (saya masih kepikiran tas burung hantu itu).

Untuk yang beragama Islam, di samping bangunan pasar malam Kalare ada sebuah masjid, bila Anda perlu salat sebelum melanjutkan jalan-jalan.  (Di bandara juga ada mushola, kalau-kalau Anda hendak salat sebelum pesawat lepas landas.)

Puas melihat-lihat wat dan berbelanja di pasar malam, jangan lupa menengok panda.  Sekarang rasanya tak mungkin menyebut Chiang Mai tanpa teringat mamalia yang satu ini.  Penyebabnya adalah tiga ekor panda – Chuang-chuang dan Lin Hui serta anak mereka, Lin Ping – yang dipelihara di Kebun Binatang Chiang Mai.  Letak kebun binatang ini agak jauh dari pusat kota, sehingga tumpangilah songthaew dengan membayar 30 Baht per orang sampai ke depan pintu gerbang kebun binatang.  Menyebut ‘zoo’ pun para supir songthaew paham kok.

Depan kebun binatang

Sebelah depan kebun binatang Chiang Mai. Gajah, gajah di mana-mana!

Akuarium Chiang Mai

Akuarium Chiang Mai, yang terletak dalam kompleks kebun binatang.

Harga tiket kebun binatang bervariasi, tergantung pada apa yang hendak Anda kunjungi dan fasilitas apa yang hendak Anda gunakan.  Biaya masuk 100 Baht, bila ingin melihat panda dan snowdome tambah 100 Baht lagi, dan juga ada biaya lagi untuk masuk ke akuarium, serta 20 Baht untuk memanfaatkan tramcar.  Saran saya, tak perlu ‘sok jago’ atau ‘sok hemat’ sehingga ogah membayar biaya lebih untuk tramcar, karena kebun binatang Chiang Mai sangatlah luas, dan dibangun mengikuti kontur perbukitan.  Jarak satu kompleks ke kandang lain bisa beberapa ratus meter, naik-turun pula!  Untuk yang tak terbiasa, bisa gempor bila tidak menggunakan tramcar!

Tramcar kebun binatangP

Para supir tramcar kebun binatang tampaknya gemar bercerita lucu yang mengundang tawa penumpang. Sayangnya kami tidak mengerti bahasa Thailand.

Toko suvenir kebun binatang

Tempat tramcar ‘ngetem’ dan toko suvenir kebun binatang.

Sebagian hutan di dalam kebun binatang dijaga tetap alami.  Bagi Anda yang punya waktu cukup banyak dan lebih berjiwa petualang, Anda bisa berkemah, menyusuri jalan setapak dengan kaki ataupun menunggangi gajah.  Banyak pula kegiatan untuk anak-anak, kalau-kalau Anda membawa anggota keluarga Anda yang masih belia ke sana.

Ling Ping

Duduk saja pun, panda tuh lucu ya…

Kandang panda dan koala disponsori LOTTE – yang kebetulan punya produk-produk bernama Hello Panda dan Koala’s March.  Menyaksikan tingkah-polah lucu si panda kecil, Ping, sungguh membuat hati riang.  Bila beruntung, Anda juga bisa berfoto bersama koala.  Sayang sewaktu kami datang, si koala yang jadi bintang foto baru saja makan, dan akan tidur siang.  Padahal koala bisa tidur 20 jam!  Waduh, memang bukan keberuntungan kami nih.  Namun tak perlu khawatir kehabisan ‘tontonan’, karena masih ada gajah, marmoset pigmi, pinguin, anjing laut, dan banyak lagi.

Kafe kebun binatang

Kafe kebun binatang, yang terletak lebih rendah, dekat sungai.

Sekadar peringatan, Anda tak diizinkan merokok di mana pun dalam kawasan kebun binatang.

No smoking

Kalau yang bilang ‘no smoking’ makhluk-makhluk selucu itu, tega melanggar?

Siang hari yang melelahkan di bawah sinar matahari paling enak diakhiri dengan minum teh dingin.  Maka itu kami melangkahkan kaki menuju Raming Tea House Siam Celadon, yang bersama sejumlah toko lain berbagi lokasi berupa sebuah rumah antik dari kayu jati yang telah direnovasi.  Anda bisa memilih untuk menyeruput teh Anda di dalam ruangan yang berdekorasi ala Eropa maupun di taman belakang yang rindang.  Bila ingin, Anda bisa membawa pulang daun teh dalam kemasan, baik yang teh tanpa embel-embel ataupun beraneka teh campuran dengan khasiat masing-masing.

Depan Siam Celadon

Gedung Siam Celadon adalah salah satu bangunan kayu jati yang dilestarikan.

Area bersantap

Area bersantap di sebelah dalam. Taman terlihat dari pintu yang terbentang lebar. Di sebelah depan, terlihat bangku ayunan.

Hidangan Siam Celadon

Cake macadamia, banana brownies, dan 3 jenis teh berbeda.

Tangga Siam Celadon

Tangga, kasir, dan sejumlah buah tangan yang bisa dibawa pulang.

Bagian tengah Siam Celadon

Bagian tengah tidak beratap. Di sebelah kiri dan kanan terdapat sejumlah toko lain.

Puas makan-minum dan membeli oleh-oleh, kami pun membayar dan beranjak keluar.  Astaga, bagian depan Siam Celadon sudah gelap-gulita, dan di pintu sudah tergantung tanda CLOSED.  Ternyata mereka sudah tutup dari tadi, tapi sama sekali tak mengusir kami!

Beberapa tempat makan lain yang bisa Anda coba adalah:

–          Thais That Bind, yang terletak tepat di seberang Wat Chedi Luang.  Ayam goreng ala timur laut Thailand-nya juara!  Es teh thai-nya juga amat menyegarkan.  Kalau mau mencicip makanan panda, coba deh pesan sayuran rebungnya.  Mungkin lidah Anda suka.  Lidah saya sih kurang nyambung dengan rasanya, hehehe.

Thais That Bind

Menu yang kami cicipi di Thais That Bind: ayam goreng ala timur laut, sayur rebung, dan tentunya… thai tea!

–          Pop Coffee House, yang menyajikan hidangan paket nasi dan lauk (sudah termasuk telur ceplok) dengan harga murah dan rasa menggoyang lidah.  Es kopi susunya juga nikmat.  Pop adalah bagian dari perusahaan yang juga menyewakan sepeda motor, sepeda, dan mobil untuk berkeliling Chiang Mai.

–          Ratana’s Kitchen yang juga menyajikan makanan yang terasa ringan di kantong wisatawan yang tak berkocek tebal, namun buat saya rasanya masih kalah dari Pop.

–          The Corner yang betul-betul terletak di sudut jalan dan banyak disambangi para pencari sarapan dan kopi.

Kalau Anda kurang suka bereksperimen rasa dan lebih gemar makan-minum yang pasti-pasti saja, ada sejumlah gerai waralaba atau chain store internasional seperti McD dan Starbucks kok di Chiang Mai.

Jalan depan Montrara

Di mana-mana, terdapat toko buku bekas, bahkan yang saling menempel.

Satu lagi kekhasan Chiang Mai adalah sekian banyak toko buku bekas yang bertebaran di seantero kota.  Toko-toko itu ada di mana-mana, termasuk di jalan tempat Montrara berada.  Bila beruntung, Anda bisa menemukan buku incaran Anda dengan harga murah dan kondisi sangat bagus.

Sebenarnya masih banyak kegiatan dan tempat menarik di Chiang Mai yang belum kami jajal, tapi biarlah waktu yang terbatas menyebabkan semua itu kami simpan untuk lain kali.  Namun ternyata godaan Chiang Mai belum berhenti di bandara.  Sewaktu kami hendak terbang ke Phuket, hati melompat riang namun dompet menjerit frustrasi melihat sejumlah toko berinterior memikat mata di bandara.  Toko-toko itu menawarkan sejumlah oleh-oleh seperti penganan, teh, dan kopi.

Kanom Ban Arjarn

Toko Kanom Ban Arjarn di Bandara Internasional Chiang Mai.

Pia dan teh

Pia Kanom Ban Ajarn dengan berbagai isi… hmmm, nikmat!

Cobalah teh beraneka rasa seharga 12 Baht saja, atau belilah kue pia atau kue bunga sebagai buah tangan dari Kanom Ban Arjarn Confectionary.  Bila lebih memilih teh atau kopi, ada Lanna Tea dan Papa’s + Mama’s.  Jadi, bila ke Chiang Mai… jangan keburu habiskan lembar-lembar THB itu di kota!  Siapa tahu justru hati Anda kepincut cendera mata di bandar udara…

Arca

Cantik, seperti Chiang Mai.

Melaka, Kota Antik yang Menawan

This post is about Malaysia

Bila bepergian ke Malaysia, jangan hanya tinggal di Kuala Lumpur (KL).  Untuk merasakan suasana yang ‘lebih Malaysia’ atau ‘beda’, datangilah daerah-daerah atau kota-kota lain.  Kali ini, kami mengajak Anda mengunjungi Melaka, sebuah kota kecil yang terletak 2 jam jauhnya naik bis dari KL.  Melaka, atau Malacca, juga bisa Anda capai dengan bis dari Singapura.  Kota ini terletak di posisi strategis di Selat Melaka, sehingga tak heran bangsa-bangsa penjajah dulu menjadikan kota tersebut tempat bercokol.  Tak heran, Melaka menunjukkan tidak hanya warisan Melayu, India, dan Cina, melainkan juga Belanda, Portugis, dan Inggris.

Christ Church

Bagian depan Christ Church

More

Pasar Modern BSD

This post is about Indonesia

Pasar Modern BSD

Sisi Pasar Modern BSD dilihat dari lahan parkir.

Meskipun sekarang banyak hipermarket dan supermarket (atau haruskah saya sebut ‘pasar hiper’ dan ‘pasar super’?), tidak bisa disangkal, berbelanja di pasar tradisional memiliki nilai asyik tersendiri.  Mungkin itu kebebasan memilih-milih penjual, menawar barang, atau atmosfer yang memang tidak bisa diperoleh di hipermarket/supermarket.  Namun keluhan yang sering kita dengar adalah pasar tradisional kotor, sempit, becek, sehingga tidak menggugah selera orang (terutama dari kalangan menengah dan atas) untuk berbelanja di sana.  Barangkali menunggu pemerintah memperbaiki semua pasar tradisional yang ada juga bakalan lama sekali.

Oleh karena itu, sungguh cemerlang gagasan pengelola Bumi Serpong Damai untuk mendirikan Pasar Modern BSD.  Sebutannya memang ‘modern’, meski pada dasarnya ini adalah pasar tradisional.  Akan tetapi label itu mungkin diperlukan untuk membedakan pasar ini dari pasar yang kotor dan becek semacam itu.  Dengan pengelolaan yang cukup ketat – konon ada hukuman cukup keras bila ada pedagang yang melanggar aturan kebersihan – maka pasar ini pun menjadi tempat berbelanja yang nyaman dan digemari banyak orang.  Buktinya antara lain adalah betapa sulitnya mencari tempat parkir di pasar ini di akhir minggu.  Banyak orang terpaksa parkir di luar area pasar, meskipun Pasmod memiliki lahan parkir yang cukup luas.

Bagian dalam Pasar Modern BSD

Bagian dalam Pasar Modern BSD

Bila Anda menyenangi jajanan dari waralaba internasional, Anda tak akan menemukan satu pun di pasar ini.  Jadi pasar ini pun konsisten mendukung pedagang dan rumah makan Indonesia.  Bagian keliling luar pasar adalah ruko-ruko.  Di sini banyak terdapat restoran yang menawarkan berbagai sajian, baik halal maupun tidak, termasuk yang ‘ajaib’ seperti daging ular.  Juga ada bank dan ATM, tempat penukaran valuta asing, toko roti, toko pakaian, toko kelontong, minimarket, dan lain-lain.  Di bagian luar ini antara lain ada serabi Notosuman, pisang goreng srikaya, puding Sweet Mom dengan berbagai bentuk dan rasa, dan banyak lagi.

Di sebelah dalam bangunan pasar, terdapat pasar ‘basah’ yang berkoridor lebar dan berlangit-langit tinggi.  Pasar basah ini terbagi-bagi seturut jenis dagangan yang dijual – misalnya sayur, daging halal, daging babi.  Salah satu yang paling menarik adalah cabang restoran Oen Pao yang bergaya warung.  Suasananya santai dan enak, bahkan rasanya kok lebih menyenangkan daripada cabang Oen Pao yang lebih mewah di daerah lain Jakarta.

Oen Pao Pasar Modern BSD

Oen Pao cabang Pasar Modern BSD

Pasar pagi/siang buka sampai pukul 3 sore.  Setelahnya, pasar basah tutup meskipun ruko-ruko tetap buka, dan sebagian lahan parkir pun disulap menjadi tempat jajanan malam yang buka mulai sore hari.  Jadi, dari pagi sampai malam pun, selalu ada yang bisa Anda temukan di Pasar Modern BSD.  Pasar ini juga terletak tidak jauh dari pintu tol BSD, sehingga bila Anda ingin menyambangi tempat ini dari Jakarta, tidak sulit menjangkaunya.

Pasar Modern BSD bisa menjadi contoh bagaimana pasar tradisional yang dikelola baik bisa menjadi nyaman dan menarik, serta bahkan mungkin menjadi salah satu tujuan pariwisata yang banyak diincar turis.

Stone Garden: oasis di Ho Chi Minh City

This post is about Vietnam

Cuaca di Ho Chi Minh City (Sai Gon), seperti di Vietnam Selatan pada umumnya,  seringkali terasa panas dan sumpek.  Namun kota ini menyimpan sebuah ‘oasis’ yang sungguh sangat nyaman – Stone Garden, sebuah restoran bertema taman, barangkali salah satu best-kept secret HCMC.  Letaknya memang agak jauh dari kawasan turis (Distrik 1) sehingga mungkin belum banyak yang mendengar tentang restoran ini.

Stone Garden, HCMC

Restoran ini terletak dalam kawasan Damsen Water Park, Distrik 11, HCMC, menempati areal yang cukup luas.  Sejumlah bangunan kayu berdiri dikelilingi pepohonan dan tanaman yang memberikan suasana rindang dan sejuk.

Dan sesuai namanya, Stone Garden, di restoran ini terdapat sejumlah batu berukuran besar, baik yang terbentuk secara alami maupun sudah diubah menjadi patung, juga berbagai struktur lain yang terbuat dari batu.  Ada kali-kali buatan, jembatan, air terjun, dan kolam.

Barangkali karena jarang dikunjungi turis asing, menu di restoran ini hanya tersedia dalam bahasa Vietnam.  Jadi, sediakanlah kamus ringkas bersama Anda bila pergi ke sini, apalagi kalau Anda ada pantangan makan (misalnya berpantang makan babi).  Meskipun tempatnya kelihatan mewah dan eksklusif, jangan khawatir!  Harganya sungguh murah!  Dengan 2.000 dong (1.000 rupiah), Anda bisa memperoleh es teh hijau yang tanpa henti dituangkan ke gelas Anda.

Poin lebih lain: kamar mandinya sangat bersih, dan tidak kering (alias ada jet spray).  Sungguh pantas untuk dicoba!