Melaka, Kota Antik yang Menawan

This post is about Malaysia

Bila bepergian ke Malaysia, jangan hanya tinggal di Kuala Lumpur (KL).  Untuk merasakan suasana yang ‘lebih Malaysia’ atau ‘beda’, datangilah daerah-daerah atau kota-kota lain.  Kali ini, kami mengajak Anda mengunjungi Melaka, sebuah kota kecil yang terletak 2 jam jauhnya naik bis dari KL.  Melaka, atau Malacca, juga bisa Anda capai dengan bis dari Singapura.  Kota ini terletak di posisi strategis di Selat Melaka, sehingga tak heran bangsa-bangsa penjajah dulu menjadikan kota tersebut tempat bercokol.  Tak heran, Melaka menunjukkan tidak hanya warisan Melayu, India, dan Cina, melainkan juga Belanda, Portugis, dan Inggris.

Christ Church

Bagian depan Christ Church

Oleh karena terminal bis utama KL, Puduraya, sedang ditutup untuk renovasi, kami harus ke tempat parkir F Bukit Jalil, terminal darurat untuk bis-bis yang menuju ke utara atau selatan KL.  Tidak perlu khawatir, ada LRT (jalur Ampang) yang berhenti di Bukit Jalil, stadium nasional yang juga sering digunakan sebagai tempat penyelenggaraan konser.

Loket-loket karcis sementara berjejer rapi di dalam tenda besar.  Hanya saja, seperti di terminal bis di Indonesia, ada saja orang-orang perusahaan bis yang telah menanti penumpang sejak keluar dari stasiun LRT bukit Jalil, berusaha menyeret mereka ke loket perusahaan tertentu.  Kami membeli karcis untuk bis Damai, namun nomor polisi yang tertera di karcis adalah nomor polisi bis perusahaan Jebat—mungkin satu kongsi dengan bis Damai.  Kualitas bisnya biasa-biasa saja, malah boleh dibilang agak jelek.  Interiornya sudah gembel, AC-nya juga pas-pasan, jarak antarkursi agak sempit, namun masih lumayanlah.  Paling tidak, kami hanya harus bertahan 2 jam di dalam bis itu.  (Sewaktu pulang ke KL, kami menumpangi bis Metrobus, yang jauh lebih baru, bagus, lega, dan sejuk.)

Dalam perjalanan ke Melaka, tak banyak yang bisa dilihat—di kiri dan kanan jalan, kebanyakan kelapa sawit melulu.  Membosankan dan mengkhawatirkan secara ekologis.  Namun, semakin dekat Melaka, banyak rumah-rumah tradisional mungil dari kayu yang tampak menarik.

Sewaktu memasuki kawasan kota Melaka, pada awalnya saya agak kecewa.  Kota itu di luar bayangan saya—terlalu modern, dengan baris demi baris rumah susun atau apartemen yang seragam, serta pusat-pusat perbelanjaan yang berukuran raksasa namun tanpa selera.  Akan tetapi ini adalah bagian Melaka yang baru.  Bagian tua Melaka adalah kota kecil yang menawan dan menyenangkan.  Jendela-jendela kayu yang tua terasa memberikan sapaan yang lebih ramah daripada jendela-jendela kaca modern yang seragam.

Salah satu sudut Melaka dan beberapa becak khas Melaka

Salah satu sudut Melaka dan beberapa becak khas Melaka

Untuk mencapai kota tua Melaka, dari Melaka Sentral—terminal bis dan pasar tempat bis-bis domestik maupun ‘antarnegeri’ (kalau di Indonesia, bis AKAP) bermuara—ambil bis-bis yang melewati kota tua.  Bis-bis itu ada di platform (peron) 6, 7, dan 8.  Pilih saja bisnya.  Karena tak mau kecele seperti sewaktu berangkat dari KL, saya memilih untuk melihat-lihat bis yang tersedia dulu.  Hal ini mudah dilakukan karena terminal keberangkatan Melaka Sentral berbentuk melingkar dengan dinding dari kaca.  Penumpang bisa pilih-pilih bis dari dalam ruang tunggu yang ber-AC, dan setelah hati merasa cocok, baru keluar mendatangi bis itu melalui pintu yang berhadapan dengan platform yang dimaksud.

Oya, sebelum menaiki bis, coba datangi pusat informasi pariwisata di bagian tengah Melaka Sentral.  Belilah peta pariwisataMelaka seharga 5 RM.  Mungkin sepertinya agak mahal, namun membantu sekali.

Bis domestik yang kami pilih adalah bis perusahaan Panorama, dengan biaya 1,5 RM.  Bis tidak ber-AC yang sudah tua dan jelek juga ada, kalau-kalau Anda ingin yang lebih murah.  Bis Panorama tersebut membawa kami ke depan Mahkota Parade, sebuah tempat belanja besar berwarna cokelat yang tampaknya tidak punya jendela.  Pusat perbelanjaan ini terletak tidak jauh dari pantai, menghadap jejeran hotel dan apartemen raksasa.  Namun, jalan kaki sedikit ke belakang Mahkota Parade, membawa kami ke bagian tua kota Melaka yang langsung membuat siapa pun jatuh hati.

Zheng He Tea House

Zheng He Tea House

Kami juga lewat dekat Menara Taming Sari, menara tinggi dengan bagian cincin yang bisa berputar sambil naik-turun sehingga kita bisa melihat berkeliling kota Melaka dari ketinggian.  Bila Anda tidak mengidap vertigo atau mudah mabuk, menara ini boleh dicoba.  Di kejauhan juga terlihat karusel raksasa, Eyes on Malaysia, yang juga cocok sekali untuk yang tidak takut ketinggian.

Bangunan-bangunan tua kota Melaka terkenal karena warnanya yang merah gelap—konon dulu dicat seperti itu karena banyak pemakan sirih yang gemar meludah dan mengotori dinding.  Warna khas itu dipertahankan, meski tentu sudah tidak banyak orang yang main ludah sembarangan.  Bangunan-bangunan merah itu dibangun mengelilingi kaki bukit St Paul, tempat Gereja St Paul bercokol di puncaknya.  Bila kesehatan Anda cukup prima, silakan mencoba memanjat bukit itu untuk melihat-lihat gereja itu beserta reruntuhan gereja lama.

Gereja St Francis Xavier

Gereja St Francis Xavier

Sementara, bangunan-bangunan di kaki bukit telah disulap menjadi macam-macam ‘muzium’ alias museum, mulai dari Museum Kecantikan, Museum Islam, Museum UMNO, sampai Stadthuys (Museum Sejarah & Etnografi) serta Christ Church.  Christ Church Melaka masih difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan misa.  Anda boleh memasukinya untuk melihat-lihat ataupun duduk sejenak menikmati keteduhan bagian dalam gereja, namun tidak boleh memotret.  Di depan Christ Church, ada jejeran kios suvenir dan Victoria Fountain.  Bila meneruskan perjalanan ke arah utara, Anda akan menyusuri jalanan yang diapit pertokoan antik yang juga berwarna merah, dengan batas daerah historis berupa Gereja St Francis Xavier (seorang penyebar agama Katolik terkemuka, yang juga mengabdi di kawasan Nusantara).

Nah, bila menyeberang jalan dari Christ Church, ada tiruan kincir angin mini (sebagai penanda warisan Belanda di Melaka), kincir air raksasa dari kayu, reruntuhan benteng, dan sejumlah museum lagi, termasuk Museum Maritim I yang berbentuk kapal antik.

Kincir Air Raksasa di Melaka

Kincir air raksasa di Melaka

Setelah puas melihat-lihat sisi jalan di seberang Christ Church, sekali lagi kami menyeberang, kali ini melintasi jembatan Tan Kim Seng, menyeberangi sungai yang bisa juga Anda susuri dengan kapal pariwisata.  Di seberang sungai inilah terletak jalan terkenal yang menjadi urat nadi perekonomian wisata Melaka, Jonker Street (alias Jalan Hang Jebat).  Jalan ini juga termasuk kawasan warisan budaya dunia yang diakui dan dilindungi oleh UNESCO.  Jalannya tidak lebar, namun diapit oleh jejeran berbagai toko, restoran, hotel, kuburan, dan kuil tua yang terdokumentasi dengan baik.  Tidak perlu khawatir mengenai oleh-oleh, karena ada berbagai barang dan jajanan yang dijajakan, menggoda para turis yang melihat-lihat.  Toko San Shu Gong misalnya, selain menjual makanan jadi, juga menjual oleh-oleh seperti racikan kopi putih instan, gula tumbuk, dan fruit dumpling.

Di ujung jalan Jonker yang berpotongan dengan jalan Kubu, ada dua hotel bersejarah, Jonker Boutique Hotel dan Tang House.  Bila anggaran berlebih, Anda bisa coba menginap di kedua tempat itu.  Bila tidak, jangan khawatir, karena ada banyak hotel dan penginapan dari berbagai kelas di kota tua Melaka dan sekitarnya.  Bahkan ada yang menyewakan rumah dengan 4 kamar tidur dan 4 kamar mandi, siapa tahu Anda datang berombongan.

Tang House, Melaka

Tang House di Jonker Street

Bila agak lelah dengan Jonker Street yang ramai, cobalah masuki jalan-jalan lain yang bersebelahan.  Meski juga dijejeri bangunan-bangunan bersejarah, jalan-jalan itu tidak serusuh Jonker Street.  Jalan Tokong dan Tukang Emas misalnya, yang lebih sepi dan justru jadi lebih nyaman untuk pelancong yang ingin menikmati pemandangan sekeliling dengan santai.  Salah satu tempat menarik adalah Masjid Keling, dengan menaranya yang khas.  Bagian dalamnya pun sejuk sekali, sangat menenangkan di tengah hari Melaka yang terik menyengat.

Masjid Keling

Salah satu sudut Jalan Tukang Emas, dengan menara Masjid Keling di latar belakang.

Ada pula kuil Hindu Sri Poyyatha Vinayagar Moorthi, kelenteng Cheng Hoon Teng, dan Kampung Ketek.  Entah bagaimana cara membaca nama kampung tersebut, dan apakah artinya memang ketek yang ada di bawah bahu, yang jelas pelancong Indonesia pasti tertawa melihatnya.

Kampung Ketek

Pic or hoax? See, it’s not a hoax.

Kalau soal makanan, Melaka menawarkan hidangan dengan berbagai cita rasa, dari yang berbasis Asia, Eropa, sampai peranakan.  Salah satu yang saya cicipi adalah kue-kue yang dijual kedai Tart & Tart  Bakery yang terletak di Lorong Hang Jebat, di sebelah Museum Budaya Cheng Ho.  Kedai tersebut menjual berbagai jenis portuguese egg dan cheese tart.  Rasanya berupa-rupa, dari portuguese egg tart klasik, hingga campuran yang terkadang membuat bertanya-tanya, seperti peppermint cheese, blueberry cheese, mocha cheese, dan durian cheeseBaba Kopitiam yang terletak di dekat jembatan  juga boleh menjadi tempat perhentian yang menawarkan makanan berat dan ringan serta minuman dingin yang menyegarkan dengan pemandangan langsung ke arah Stadthuys dan reruntuhan Benteng Middelsburg (plus, toiletnya bersih, namun hanya untuk pengunjung saja!).

Tart & Tart Bakery

Tart & Tart Bakery, yang menjual portuguese egg tart dan cheese tart dengan berbagai rasa.

Sehari saja rasanya tak cukup menjelajahi seluruh seluk-beluk Melaka.  Bila ingin menginap, selain beberapa pilihan yang saya sebutkan di atas, ada juga lho program bermalam di museum.  Siapa tahu Anda berminat berkenalan tidak hanya dengan penghuni Melaka yang aktif di kala siang, melainkan juga yang berkeliaran kala malam, hehehe…

Orang Utan House

Orang Utan House, yang menjual beragam kaos dan lukisan.

Kalau Anda ingin berkeliling Melaka tapi tidak kuat berjalan kaki, boleh mencoba naik becak khas Melaka.  Becak-becak Melaka tidak hanya dihiasi ramai sekali, melainkan juga berlomba-lomba memamerkan kehebatan speaker dengan memutar musik keras-keras.  Musik yang diputar mulai dari musik India, Melayu, sampai… Project Pop dan Wali!

2 Comments (+add yours?)

  1. Nurul
    Dec 16, 2010 @ 02:28:25

    Hi Tyas,
    Ini mengingatkan waktu dulu pernah ke Melaka tahun 1997. Celakanya sampai sekarang sebagian besar perjalananku selalu gratisan demi ikutan conference. Tapi memang dari perjalanan ke luar negeri pertama ini, saya jadi belajar bahwa persiapan perjalananan adalah penting. Hehe… tentu saja terkait dgn mempelajari historical context dari daerah yg dikunjungi. Dgn demikian perjalanan menjadi jauh lebih berarti. Kalau tidak salah, selain benteng portugis, saya juga sempat mampir ke kebun binatangnya dan untuk pertama kalinya lihat yang namanya kancil (Tragulus javanicus), si binatang yang sering didakwa mencuri ketimun dan saudaranya si Napu (Tragulus napu). Kebun binatangnya memang punya koleksi beberapa individu. Setelah kembali ke Indonesia dan menginjak hutan Sumatra, barulah saya berhasil melihat sendiri kancil dan napu yang liar. Jadi ternyata gak cuma dari peninggalan sejarah saja kita bisa belajar dari sebuah perjalanan. Selalu ada hal-hal lain……

    Reply

    • lompatlompat
      Dec 16, 2010 @ 02:37:53

      Wah, iya tuh! Saya malah belum sempat ke kebun binatangnya. Soalnya waktu itu cuma punya waktu sehari, dan itu dimaksimalkan menjelajahi kota tua. Setelah dipikir-pikir… saya juga rasanya belum pernah lihat kancil ‘hidup’ di depan mata. Malah panda yang pernah, hehehe.

      Terima kasih infonya soal kebun binatang Melaka!🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: