Ringkasan 2013: Singapura, Hong Kong, Lembang, Beijing

Ah.  Sudah lama juga saya tidak menulis di blog ini.  Bukan karena tidak punya cerita, atau tidak bepergian ke mana-mana.  Cerita sih, ada saja.  Tapi beberapa kesibukan lain yang menyita perhatian membuat saya alpa menuangkan cerita-cerita itu ke dalam bentuk tertulis.  Oleh karena itu, sekarang saya sajikan versi ringkas dari apa yang saya jumpai dalam beberapa perjalanan saya tahun ini.

Singapura

Ada saja ya, alasan ke Singapura.  Alasan utama saya adalah beberapa konser yang hanya mampir ke Singapura namun tidak digelar di negeri sendiri.  Ada kesenangan tersendiri bila konser itu digelar di loka yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.  Selalu senang rasanya ‘berkenalan’ dengan loka baru, apalagi bila loka itu ternyata sungguh memuaskan.  Kali ini lokanya adalah The Star Theater, hanya berjalan kaki dari stasiun MRT Buona Vista.

sg-2013-01

Beberapa lantai di bawah The Star Theater, bangunan yang dikenal sebagai The Star Vista, sebagian besar difungsikan sebagai tempat makan dan minum, dengan restoran dan bar berjejer-jejer.  Ada juga panggung terbuka yang, karena waktu itu sedang dalam suasana Tahun Baru Cina, digunakan sebagai tempat mementaskan sejumlah bentuk kesenian tradisional Cina.  Tepat di belakang The Star, juga terdapat cabang Starbucks Rochester Park yang menempati sebuah bekas gedung tua.  Tempatnya sangat nyaman, enak untuk dijadikan tempat bercengkerama!  Kadang-kadang, cabang Starbucks ini sedemikian ramai, sehingga pengunjung diminta untuk tidak berlama-lama atau serakah mengambil tempat.

Starbucks di belakang The Star Vista

sg-2013-03

Nilai plus dari perjalanan menonton konser saya kali ini adalah… jadi ‘tamu tak diundang’ after party band yang saya tonton saat itu.  Tempatnya?  Tidak seberapa jauh dari Star Theater.  Semua berkat teman saya yang entah bagaimana berhasil dapat bocoran tentang tempat after party tersebut.  Kami memang tidak ikut ambil bagian secara aktif dalam pesta itu, alias jadi penonton saja.  Terkadang cengar-cengir tak jelas dan melambai-lambai ke anggota-anggota band.  Lumayanlah, ditanggapi positif dan ramah oleh mereka.

Berhubung sedang tahun baru Cina, kami berkunjung juga dong ke Chinatown untuk melihat-lihat.  Seperti bisa diduga, Chinatown semarak oleh berbagai dekor.  Kelenteng-kelenteng dipenuhi orang-orang yang hendak memanjatkan doa, mengharap tahun yang baru pun akan membawa keberuntungan.

sg-2013-05

sg-2013-06

sg-2013-07

Salah satu keuntungan datang ke Singapura saat tahun baru Cina adalah museum-museum gratis dimasuki!  Semacam keistimewaan bagi orang-orang yang tidak ikut merayakan Tahun Baru dan bingung hendak berkeliaran ke mana karena rata-rata tempat perbelanjaan tutup.

Kami pertama-tama mengunjungi Museum Filateli (kali kedua untuk saya).  Museum ini memang tidak besar, namun saya menyenanginya.

sg-2013-08

Setelahnya kami melangkahkan kaki ke Museum Peranakan yang terletak tidak jauh dari Museum Filateli.  Di sini kita bisa menyaksikan berbagai pajangan yang mengisahkan seluk-beluk kaum peranakan di Singapura.  Yang paling saya senangi adalah ‘telepon dari masa lalu’.  Ada sejumlah telepon antik, yang bila kita angkat akan memperdengarkan suara seorang peranakan yang menggunakan dialek dari masa ketika telepon itu digunakan.

sg-2013-09

sg-2013-10

Satu lagi pengalaman tak terlupakan di Singapura!

sg-2013-04

sg-2013-11

Hong Kong

Lagi-lagi saya menginap di Ah Shan Hostel saat bertandang ke Hong Kong.  Bagaimana, ya?  Saya sudah ‘nyambung’ betul dengan tempat ini, yang letaknya sangat strategis.  Tidak jauh dari stasiun MRT, dekat halte bis ke bandara, terletak di kawasan di mana berbagai keperluan dan suvenir mudah diperoleh, murah (untuk ukuran Hong Kong) dan bersih, pemiliknya orang Indonesia-Hong Kong.  Paling-paling kekecewaan saya hanya karena kebodohan saya sendiri: baru sadar bahwa di gedung yang sama, di lantai berbeda, ada sebuah kafe kucing.  Dan sadarnya telat, ketika saya sudah hampir check-out untuk berangkat ke bandara!

Nasi jamur dan ayam di Popeye Hong Kong yang bersertifikat halal.

Nasi jamur dan ayam di Popeye Hong Kong yang bersertifikat halal.

Tujuan utama saya ke Hong Kong adalah menonton konser di Asia World-Expo, sehingga saya tidak punya banyak waktu untuk berjalan-jalan.  Namun saya menyempatkan diri melihat-lihat bagian kota yang lain, yang sebelumnya tidak pernah sempat saya datangi dalam kunjungan-kunjungan saya ke Hong Kong dahulu.  Saya penasaran ingin melihat yang namanya Central Promenade, Expo Promenade dan Hong Kong Exhibition and Convention Center dari dekat.

Sayang, pagi itu hujan mengguyur lumayan deras.  Saya hanya bisa berjalan sampai mentok ke HKECC, sejauh yang ternaungi atap.  Ya, meski lumayan juga jarak yang harus saya tempuh dengan berjalan kaki dari stasiun Wan Chai, namun saya tidak perlu khawatir kehujanan ataupun tertabrak kendaraan bermotor, karena saya cukup menyusuri walkway alias jembatan-jembatan beratap untuk pejalan kaki.  Walkway ini ada juga yang menembus beberapa gedung, yang rupanya memang membuka satu lantai khusus untuk digunakan berlalu-lalang para pejalan kaki.  Kalau bukan karena koordinasi yang baik dengan pemerintah dan keamanan yang terjamin, mana bisa begini ya?

Dinding stasiun MRT Admiralty yang berhias tegel kecil-kecil warna biru.

Dinding stasiun MRT Admiralty yang berhias tegel kecil-kecil warna biru.

Masih pagi, sehingga tidak banyak kegiatan di HKECC.  Saya juga hanya mengagumi apa yang bisa terlihat dari lobi bawah saja. Sepertinya sih asyik nih menonton konser atau pertunjukan lain di sini.  Karena sulit meneruskan ke Promenade dalam kondisi hujan, saya malah melipir ke cabang Pacific Coffee di Great Eagle Center.  Tempat yang nyaman, dengan barista yang ramah, yang sepertinya mengenal nyaris semua pelanggannya.  Mungkin memang setiap pagi sebelum berangkat kerja, mereka mampir ke situ untuk meneguk secangkir kopi hangat.

Pacific Coffee

Pacific Coffee

Setelahnya, saya mencoba berjalan kaki di sekitar Wan Chai, tapi hujan tak kunjung reda sementara saya tak punya payung.  Akhirnya saya hanya berjalan-jalan sedikit di sekitar stasiun, lalu kembali lagi.

Yang ini stasiun MRT Wan Chai. Dindingnya hijau. Di stasiun ini ada hotspot Wi-Fi gratis lho!

Yang ini stasiun MRT Wan Chai. Dindingnya hijau. Di stasiun ini ada hotspot Wi-Fi gratis lho!

Saya juga, seperti biasa, berkunjung ke Avenue of Stars.  Rasanya belum ke Hong Kong kalau belum ke sini dan menghabiskan waktu sejenak.  Eksibisi di Museum Seni sedang tidak menarik bagi saya, sehingga saya meneruskan langkah sampai ke terminal feri Star.  Eh!  Bebek!  Si bebek raksasa!  Proyek seni menggemaskan berwarna kuning ini mengambang-ngambang dengan santainya, tidak kalah pede dari kapal-kapal pesiar dan feri yang berlalu-lalang atau berlabuh di terminal tersebut.  Seluruh Hong Kong sedang demam si rubber duck!  Karya-karya seni yang terbuka bagi publik seperti ini dan secara teratur berganti (terakhir saya ke sini, kawasan terminal feri Star memajang patung-patung Doraemon) memberi kesegaran bagi penduduk yang hidup berimpit-impitan di kota mereka yang sangat ramai.

BEBEK!

BEBEK!

Tahun lalu sekitar bulan Oktober, yang dipajang di sini adalah patung-patung Doraemon berbagai pose.

Tahun lalu sekitar bulan Oktober, yang dipajang di sini adalah patung-patung Doraemon berbagai pose.

Sempat juga saya kembali ke Avenue of Stars saat malam.  Iseng saja ingin melihat permainan ‘teater cahaya’ gedung-gedung di Pulau Hong Kong yang sebenarnya tidak terlalu spektakular.  Tapi lumayanlah, tontonan gratisan sambil menikmati angin semilir yang menghambur dari selat.  Kebetulan sedang bulan purnama pula.

Magis.

Magis.

Cumi bakar di Avenue of Stars. Mengantrinya lama, tapi saya penasaran. Ternyata rasanya seperti... juhi kering.

Cumi bakar di Avenue of Stars. Mengantrinya lama, tapi saya penasaran. Ternyata rasanya seperti… juhi kering.

Malam-malam saya juga sempat menyambangi SoHo, kawasan yang terkenal karena berbagai tempat makan dan toko yang ‘hip’.  Penasaran saja, karena terakhir kali ke Hong Kong (saat siang) saya mencoba mendatangi wilayah tersebut, tapi malah tersesat.  Padahal ternyata saya waktu itu sudah dekat dengan SoHo, hanya saja terlanjur bingung!  Untuk ke SoHo ternyata hanya perlu berjalan kaki sedikit dari Stasiun Central ke eskalator Mid-Level, lalu menaikinya.  Eskalator?  Ya, untuk mempermudah penduduk menaiki kontur sekitar Central yang berbukit-bukit, pemerintah Hong Kong mengoperasikan sejumlah eskalator, termasuk yang mencapai SoHo.  Tapi eskalator-eskalator ini hanya bergerak ke atas, kalau untuk turun kita harus menggunakan undak-undakan biasa.

Sudut luar Museum Seni.

Sudut luar Museum Seni.

Sebenarnya kawasan SoHo cukup menarik, dengan berbagai restoran, klub, dan bar yang menyajikan berbagai dekorasi eksterior maupun interior memikat.  Hanya saja, karena saya sendirian, kok rasanya cengo’ kalau mau mencoba bergabung dengan keramaian di tempat-tempat nongkrong itu, yang didominasi oleh ‘ekspat bule’ pula.  Rasanya ke SoHo lebih asyik kalau ada temannya, deh.  Jadi bisa memilih tempat makan yang nyangkut di hati, ambil satu meja bersama teman-teman, lantas asyik mengobrol dan tertawa sambil bersantap.  Lain kali, lain kali!

Lembang

Akhirnya, setelah bertahun-tahun hanya mendengar tentang Kampung Daun, saya berkunjung juga ke tempat tersebut bulan Juni lalu.  Hehe, ketinggalan banget nggak?  Terus terang, saya sebenarnya sebelumnya agak meremehkan restoran yang dikonsep bernuansa alam ini.  Saya pikir, ah paling-paling tempatnya seperti apa sih, jangan-jangan cuma sawung-sawung yang didirikan di halaman yang ditata seadanya menyerupai ‘alam’.  Dan yah, memang, saya harus telan bulat-bulat segala perilaku meremehkan saya itu.

lb-2013-01

Berkendara ke ‘atas’, kata orang Bandung, ke arah Lembang, lantas membelok ke Jalan Sersan Bajuri, cukup lama juga perjalanan kami di tengah sore hari yang gelap karena mendung sebelum akhirnya kami tiba di Kampung Daun.  Dari bagian depannya pun saya sudah terkesima, melihat sebuah toko cenderamata dan oleh-oleh dengan dinding dari kayu berwarna muda, dan terang bermandikan cahaya lampu.  Ketika melangkah masuk ke area makan, wah, rasa kagum saya berlebih-lebih lagi.

lb-2013-02

lb-2013-03

Sawung-sawung ditata mengikuti kontur daerah tersebut, dihubungkan oleh jalan setapak.  Semakin ke belakang, jalan setapak itu semakin menanjak, terkadang berubah menjadi tangga.  Sebagian tamu yang kebagian sawung di sebelah belakang, atau memang menginginkan sawung di tempat yang lebih ke atas atau lebih sepi, harus mau bersusah-payah mendaki.  Tapi banyak juga tamu yang iseng saja, tidak keberatan berlelah-lelah sedikit naik ke atas demi melihat-lihat pemandangan.  Sebuah kali berair jernih mengalir membelah kawasan Kampung Daun, menimpali aktivitas tamu dengan suara gemericik atau bahkan berdebur.  Nikmat sekali, apalagi kalau dapat sawung tepat di samping kali, beuh!

lb-2013-05

lb-2013-04

Harga makanannya memang agak mahal, namun saya rasa itu harga yang pantas untuk hidangan yang kita santap sambil menikmati suasana ‘hutan’ yang masih asri.  Dengar-dengar terkadang ada ular yang masih suka memunculkan diri dari rerimbunan.  Yah, menambah-nambah bumbu ‘bersantap di alam’ lah ya.

lb-2013-06

lb-2013-07

Beijing

Sebenarnya sih saya bukan tipe yang senang mengeluh dalam perjalanan, apalagi kalau perjalanannya dibayari alias gratis.  Kalau kesal pasti ada saja, hanya saja biasanya tidak saya endapkan di hati terlalu lama.  Paling saya kenang saja dengan perasaan geli.  Namun yang saya alami di Beijing kali ini, sungguh bikin jera rasanya, dan membuat tidak ada perasaan ingin kembali ke Beijing dalam waktu dekat, entah itu sendirian ataupun bersama biro travel.  Terutama bersama biro travel.

bj-2013-01

Memang, kalau yang namanya ikut biro travel, ya setelan default-nya adalah patuh dan pasrah pada jadwal yang disusun biro travel.  Sebelumnya saya juga sudah beberapa kali ikut perjalanan bersama biro travel, dan baik-baik saja.  Nyaris tidak ada keluhan.  Namun kali ini, haduh, terus terang jadwalnya membosankan sekali, malah bikin kesal.  Di tempat pariwisata yang diincar, diburu-buru, bahkan sampai kami tidak bisa berjalan-jalan bebas di hutong (kawasan kota tua bangsa Manchuria).  Kami dinaikkan ke becak-becak yang lantas ngebut melintasi jalan-jalan sempit hutong.  Padahal banyak toko, restoran, dan kafe menarik yang sepertinya pantas dikunjungi!   Kami malah berkali-kali digiring ke toko-toko yang pastinya sudah menjalin kerjasama dengan biro travel ybs, dilimpahi bujukan dan bahkan tipuan, agar mau membeli barang-barang yang harganya dipatok kelewatan.

Bayangkan becak seperti ini ngebut.

Bayangkan becak seperti ini ngebut.

Aaah! Padahal mau dong jalan santai di hutong seperti ini!

Aaah! Padahal mau dong jalan santai di hutong seperti ini!

Bagaimana tipuannya?  Antara lain: kami diajak masuk ke sebuah toko mutiara air tawar.  Setiap kelompok digiring memasuki ruang duduk tertentu.  Rombongan kami terpencar-pencar menjadi tiga kelompok di ruang-ruang yang agak berjauhan.  Pertama-tama kami disuguhi penjelasan tentang produk-produk yang dijual toko tersebut.  (Ini dilakukan di toko mana pun, entah itu teh, sutera, dan lain sebagainya, dan sebenarnya cukup menarik dan informatif, dengan sampel-sampel gratis yang boleh dicicip atau dibawa pulang.)

Toko-toko penjebak turis dilengkapi sajian informatif seperti ini. Manfaatkan saja sajian gratis ini, awas tertipu taktik dagang yang licik.

Toko-toko penjebak turis dilengkapi sajian informatif seperti ini. Manfaatkan saja sajian gratis ini, awas tertipu taktik dagang yang licik.

Tak berapa lama, masuklah seorang gadis yang manis sekali ke ruangan kami.  Dengan gaya lucu dan kekanak-kanakan, ia mengaku sebagai salah seorang putri direktur yang dipaksa ayahnya ikut melayani di toko karena mereka sedang kewalahan.  Ia mau karena bisa melatih bahasa Inggris-nya.  Namun ia berkali-kali minta maaf karena bukan instruktur yang sebenarnya, sehingga ia hanya bisa memberitahukan informasi yang terbatas.  Di sela-sela penjelasannya soal budidaya kerang mutiara air tawar, ia mengucapkan hal-hal manis seperti tidak akan lupa pada kami yang telah menjadi temannya, ingin berkunjung ke Indonesia, dan lain sebagainya.

bj-2013-03

Puncaknya, ia membagikan kepada kami masing-masing sebuah cincin.  Ia bisa melakukan itu sebagai putri direktur.  Lantas ia bilang, kala keluar dari ruangan ini dan melihat-lihat ke sekeliling toko, kalau ada barang yang dimau, bilang saja kami temannya, agar diberi diskon!  Kalau diingat-ingat lagi rasanya memang too good to be true ya semua itu.  Tapi ada saja lho yang nyaris tertipu mengeluarkan ribuan yuan untuk barang yang pasti kurang daripada itu harganya, karena merasa tersanjung sekali disukai sang putri direktur.  Kami dengan cepat mengetahui tipuan ini ketika, setelah kami ‘dilepas’ ke dalam toko, kami lekas-lekas mendatangi rombongan lain dan menanyakan apakah mereka memperoleh cerita yang sama.  Iya, betul, ternyata mereka pun didatangi perempuan yang mengaku putri direktur, dengan kisah yang sama, dengan janji diskon yang sama.  Ups!

Kalau pertunjukan kung fu di the Red Theater, nah itu keren. Pantas sekali ditonton!

Kalau pertunjukan kung fu di the Red Theater, nah itu keren. Pantas sekali ditonton!

Yah, sebetulnya bagi saya taktik ini sungguh disayangkan, hanya mendatangkan keuntungan sekejap.  Padahal para ‘korban’ menjadi tidak percaya lagi terhadap para pedagang, bahkan pariwisata, Cina atau setidak-tidaknya Beijing.  Anggota-anggota rombongan saya berbisik-bisik, “Nggak lagi-lagi deh, balik ke sini…”  Saya sendiri sih masih ingin kembali ke Istana Musim Panas, karena belum puas melihat-lihat dengan waktu hanya 45 menit yang diberikan biro travel.  Namun di sana pun harus hati-hati, jangan berbelanja di penjaja pinggir jalan dengan uang pecahan besar.  Bisa-bisa Anda mendapatkan kembalian mata uang Rusia, Taiwan, atau negara lain yang nilainya kurang daripada kembalian yang seharusnya Anda terima dalam yuan.  Bahkan, tak jarang turis malah menerima kembalian uang palsu!

Berikut ini beberapa foto dari kawasan Istana Musim Panas.

bj-2013-04

bj-2013-07

bj-2013-06

bj-2013-05

Untungnya sih saya sempat, atas seizin atasan, ‘meloloskan diri’ dari jadwal menyebalkan ala biro travel.  Saya berkeliaran sendiri dan menonton sebuah band Jepang di salah satu loka di Beijing, di daerah yang belum pernah saya singgahi sebelumnya.  Nah, kalau jalan-jalan sendiri seperti ini, saya suka!

Dan ini beberapa foto lainnya dari Beijing.

Sebagian dari aneka ragam jajanan yang tersedia di Wangfujing,

Sebagian dari aneka ragam jajanan yang tersedia di Wangfujing,

Mesin otomat perpustakaan.

Di Beijing terdapat tempat makan yang menawarkan hidangan dari berbagai penjuru Cina. Beda-beda lho bahan, bumbu, dan tentu rasanya! Yang ini hidangan khas Sichuan.

Di Beijing terdapat tempat makan yang menawarkan hidangan dari berbagai penjuru Cina. Beda-beda lho bahan, bumbu, dan tentu rasanya! Yang ini hidangan khas Sichuan.

8 Comments (+add yours?)

  1. omnduut
    Aug 04, 2013 @ 20:58:19

    Gak ada foto putri direkturnya ya? Hihihi. Aduuuh ada-ada aja ya. Btw, foto2nya cakep2. Keren perjalanannya ^^

    Reply

  2. gingerbreadandtea
    Aug 08, 2013 @ 03:34:13

    Hahaha, mbak saya sering banget denger cerita ga enak ikutan tour yang tujuannya cina/beijing. Ceritanya hampir sama kayak gini juga. Btw itu yang Soho HongKong kayak lokasi shooting Running Man :))

    Reply

    • lompatlompat
      Sep 04, 2013 @ 04:53:41

      Haloooo! Aduh gara-gara sibuk saya baru ngeh euy ada komentar di post saya *menundukkan kepala malu*

      Eh iya, ternyata setelah dapat pengalaman nggak mengenakkan di Cina itu, saya coba browse, banyak yah yang dapat pengalaman serupa >__< Sebal jadinya. Bisnis kok dijalankan begini… apalagi bisnis pariwisata.

      Eh? Saya nggak ada pajang foto SoHo deh… yang mana tuh maksudnya yang kayak lokasi syuting Running Man? Saya belum nonton episode yang itu berarti hehehe

      Reply

  3. totoryan
    Jan 12, 2015 @ 14:54:06

    dari segini banyak yg Ka Tyas tulis di sini, yang paling berkesan buatku kok kata-kata “juhi kering” ya?
    *ngakak jumpalitan*

    Ahhh aku pengen ke Hong Kong!

    Reply

    • lompatlompat
      Jan 14, 2015 @ 09:48:53

      *teringat lagi rasa juhi kering itu* Tidaaaaak :”)

      Eeh eh yuk ayuk. Aku sama Ayu bercita2 balik ke sana, sekalian jalan2 ke Macau. Kalau bareng2 bisa seru nih!

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: