Menambah Berat Badan di Penang

This post is about Malaysia

Sewaktu mengetahui saya akan berkunjung ke Penang, teman-teman saya yang berkebangsaan Malaysia langsung dengan bersemangat mempromosikan… makanan di sana.  Ya, Penang memang tenar sebagai ‘gudang makanan enak’ di Malaysia, dari yang murah sampai mahal, dari yang halal sampai tidak.  Berikut ini kami membahas sejumlah tempat makan yang sempat kami jajal di Georgetown dan sekitarnya.

Kaki lima dan kedai di Lebuh Chulia

Saat malam menjelang, sebagian ruas Lebuh Chulia berubah menjadi tempat mangkal para pedagang makanan kaki lima.  Wujudnya, ya seperti di Indonesia, dengan gerobak dorong, kursi-kursi plastik, dan meja kecil.  Berbagai macam makanan bisa dipilih,  tapi yang membuat kami penasaran malam itu adalah sate ayamnya.  Meski malam itu tidak tersedia lontong ataupun nasi, kami tetap memesan 20 tusuk sate.  Seingat saya, 10 tusuk harganya 6 RM.  Bumbu satenya berbeda dengan di Indonesia –  sepertinya ada pengaruh bumbu India – tapi sama lezatnya.  Ditemani potongan timun dan bawang merah yang besar-besar… hmmm!

Makan malam tepi jalan di Lebuh Chulia.

Sebagai penggemar bawang merah, pelengkap sate ayam ini sungguh membuat saya bahagia.

Malam lain, kami makan nasi dengan lauk-pauk yang kami pilih sendiri di sebuah kedai tepat di samping salah satu Banana Guesthouse.  Sederhana, murah-meriah, mungkin sebanding lah dengan warteg di Indonesia – namun kelezatannya membuat kami ‘kurang percaya’ hanya perlu membayar beberapa ringgit saja.

Ini belum terbukti sih, tapi dugaan saya adalah kedai atau gerobak mana pun yang Anda hampiri di Lebuh Chulia ini (atau jangan-jangan di seluruh Penang?), makanannya enak semua…

Sup Hameed

Ke Penang jangan lupa mencicipi nasi kandar.  Salah satu tempat yang menjualnya adalah Sup Hameed yang terletak di Jalan Penang, tak jauh dari perempatan dengan Jalan Sultan Ahmad Shah.  Tempatnya biasa saja, tidak mewah, dan sama sekali tidak dirancang untuk menarik turis.  Tapi justru di tempat-tempat seperti ini kan biasanya kita menemukan santapan khas paling lezat di suatu daerah?  Nasi putih hangat dan pulen ditemani ayam goreng, udang, kerang, dan cumi, disertai teh manis hangat pas betul jadi pengisi perut setelah kami terguyur hujan hari itu.  Saking lapar dan lahapnya kami makan hari itu, kami tidak sempat memotret tempat ini.

Tapi tolong ingatkan saya lain kali bila mengunjungi Malaysia atau Singapura lagi untuk 1) minum bandong lagi (lupa melulu), dan 2) belajar harus bilang apa bila ingin memesan teh manis, teh dengan susu, teh tarik… Teh O artinya teh kosong, bukan?  Hah.  Duh.  Payah.  Selalu lupa dan bingung.

Bukan. Ini bukan foto Sup Hameed.

Latar belakang: KOMTAR. Lebih ke depan: KOMTAR Walk.

Georgetown White Coffee

Sejumlah kota besar di Indonesia mungkin sudah kenal dengan kafe waralaba Old Town dari Malaysia.  Di Georgetown rupanya ada ‘kembarannya’, bahkan dengan arsitektur bangunan dan lambang yang mirip.  Namun hidangan yang disajikan Georgetown White Coffee bertitik berat pada kekayaan kuliner Penang.  Setiap hari, ada promo harga murah untuk jenis hidangan yang berbeda.  White coffee-nya sebagai andalannya juga tidak mengecewakan.  Tapi saya penasaran sih dengan white coffee dari Ipoh.  Lebih enakkah dari yang di Penang?  Oke… Ipoh masuk bucket list.

Cabang Georgetown White Coffee di KOMTAR Walk.

Coob Coffee

Letak kafe kecil ala Jepang ini masih di KOMTAR Walk juga.  Selain menjual minuman, Coob Coffee menyediakan juga sejumlah hidangan, yang tidak semuanya halal.  Namun jenis-jenis minuman yang disediakan sungguh membuat kerongkongan mendadak seret!  Pemilik kafe ini juga sangat ramah dan akan menanggapi obrolan kita dengan akrab.  Ia pernah beberapa kali datang ke Jakarta untuk urusan bisnis, dan… yah, malu juga ya ketika ia bertanya apakah Jakarta masih sering macet atau tidak.  Royal milk tea dan cake yang  saya cicipi, ditambah suasana kafe yang nyaman, membuat saya menandai tempat ini sebagai ‘tempat wajib kunjung kembali’ seandainya ke Penang lagi.

Oh ya, soal KOMTAR, meskipun sebagai pusat perbelanjaan tempat ini tidak ada istimewanya, namun di sini ada supermarket di mana Anda bisa membeli oleh-oleh berupa produk makanan dan minuman buatan Malaysia.  Teh tarik, white coffee, cokelat, teh berwujud daun ataupun kantong…  Tinggal sedia uang yang cukup saja.

Kopitan

Sehabis terpanggang matahari gara-gara berjalan kaki dari City Hall, terus ke Fort Cornwallis dan Menara Jam, saya merasa girang betul saat menemukan kedai di Lebuh Pantai ini.  Kopitan terletak di bangunan lama yang direvitalisasi menjadi pertokoan dan rumah makan, Whiteaways.  Untuk memperoleh seporsi nasi dan lauknya, kita harus merogoh saku guna mengeluarkan sedikitnya 9 RM.  Sayang meski nama tempat ini ‘Kopitan’, kami tidak sempat mencicipi kopinya karena menyisakan jatah kafein hari itu untuk Coob Coffee.  Kami lebih memilih variasi teh dingin yang menyegarkan tubuh yang sudah separo kering akibat keringat yang terkuras.  Oya, kecepatan Wi-Fi yang tersedia di tempat ini luar biasa.  Lumayan, sambil bersantai makan, kami bisa mengunggah sejumlah foto dan mengunduh pembaruan untuk apps telepon genggam kami.

Foodcourt Queensbay Mall, Bayan Lepas

Berhubung kami memilih penerbangan malam untuk kembali ke Jakarta, ada waktu cukup lama yang harus kami habiskan setelah check out dari hotel.  Kami pun meminta supir van yang kami sewa dari hotel untuk mengantarkan kami ke Queensbay Mall.  Ini adalah pusat perbelanjaan mewah yang memajang deretan berbagai tempat makan dan toko merk internasional (termasuk J.Co).  Namun pilihan kami untuk bersantap adalah foodcourt alias ‘medan selera’-nya.  Di foodcourt yang terletak di lantai tiga ini, berbagai penjual makanan lokal bercokol.  Tidak pakai kartu-kartuan, sehingga kita cukup memesan dan membayar di kedai yang kita pilih.

Hanya saja, meski pusat perbelanjaan ini tidak kalah mewah dengan sejumlah pusat perbelanjaan sejenis di Jakarta, wah, kalau soal mushola dan toiletnya, mal-mal di Jakarta masih menang jauh.  Heran juga, kok mal semewah ini ternyata toiletnya rada mirip yang ada di stasiun bis.

Winter Warmers, Queensbay Mall

Di Queensbay, ada satu lagi tempat makan yang kami tuju: kedai teh bernama Winter Warmers.  Berbagai macam teh dan kopi bisa kita pilih dari menunya.  Bisa juga kita memesan paket high tea sejak pukul 2 siang, yang berisikan teh pilihan kita dan kue-kue yang ditata dalam baki tiga tingkat – ada biskuit, scone, muffin, brownies, dan sandwich.  Menggoda!

It is not nice,” kata pelayan langsung ketika saya mencoba memesan teh lavender.  Hah?  Saya agak kurang mengerti.  Ia lantas menyarankan teh mawar atau teh susu bila ingin yang ‘nice’.  Hmm.  Sepertinya yang ia maksudkan dengan kata ‘nice’ itu adalah ‘sweet’.  Baiklah, untuk menghargai si mbak yang telah berusaha memperingatkan saya dengan bahasa Inggrisnya yang seadanya, saya pun ganti memesan teh mawar.  Tapi untuk biskuitnya, tetap memesan biskuit lavender.

Untuk menambah pengalaman minum teh ala Inggris, interior kedai ini sengaja bergaya negara asal Pangeran William itu.  Hanya seragam pelayannya rasanya terlalu kasual, sehingga agak merusak suasana ‘high tea’ ala Inggris.  Tapi ya sudahlah.  Teh dan kue-kuenya juara!  Apalagi biskuitnya yang disajikan hangat.  Yang saya cicipi adalah biskuit cokelat dan lavender.  Sungguh penutup menyenangkan bagi pengalaman berwisata kuliner di Penang.

(Untuk menuju bandara dari Queensbay Mall, kami menaiki taksi yang ogah memasang argometer dan lebih memilih tarif ‘argo kuda’ sebesar 20 RM.  Oleh karena malas berdebat, kami setujui saja.  Taksi bertarif ‘nembak’ adalah hal umum di Penang, dan juga tempat lain di Malaysia yang telah saya kunjungi, sehingga ingatlah untuk menyetujui tarif terlebih dahulu sebelum menaiki sebuah taksi.  Tentu yang paling aman adalah memilih taksi yang patuh menyalakan argometer.)

Selamat menikmati berbagai hidangan lezat di Penang.  Secara umum, Penang cukup aman untuk pelancong, meskipun tetap harus waspada.  Terutama di Georgetown, sesuai pesan dari pemilik 47 Moontree, jagalah tas Anda baik-baik karena sering ada penjambret.

Berat badan bertambah?  Itu sih, risiko pergi ke Penang.

2 Comments (+add yours?)

  1. bruziati
    Jul 01, 2012 @ 02:58:59

    Wah, dulu aku ke Penang cuma mampir sebentaar, nggak sempat wisata kuliner

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: