Mencari kopi putih ke Ipoh, Agustus 2017 (Bagian 4)

Hari Sabtu! Sesuai rencana kami, kami akan berpindah ke Kuala Lumpur agar keesokan harinya tidak terburu-buru saat harus ke bandara. Sebelumnya, kami menikmati jatah sarapan, kali ini di kafe Old Town yang menyajikan sejumlah pilihan sarapan ala Malaysia. Pilihan saya adalah roti bakar, telur setengah matang, dan jus jeruk.

More

Advertisements

Mencari kopi putih ke Ipoh, Agustus 2017 (Bagian 3)

Di bagian pertama tulisan saya tentang Ipoh, saya sempat menyinggung bahwa M Boutique Hotel tempat kami menginap dilengkapi dua buah restoran; salah satunya adalah kafe Old Town, sementara yang satu lagi adalah Myth. Biaya menginap di hotel ini sudah mencakup sarapan yang bisa Anda pilih: ala Malaysia di Old Town, atau ala Barat di Myth. Pagi itu, kami memilih untuk sarapan di Myth dulu. Kami ditawari enam macam set hidangan sarapan. Saya memilih set yang terdiri atas roti bawang putih, ham ayam, kacang putih, kentang, telur ceplok, dan minuman panas. Tidak terlalu berat, namun cukup mengisi perut. (Oya, Myth ini juga menawarkan berbagai kreasi kue yang enak-enak, lho! Biasanya setiap malam sebelum ke kamar tidur, kami membeli kue dari situ untuk disantap di kamar.)

More

Mencari kopi putih ke Ipoh, Agustus 2017 (Bagian 2)

Akhirnya…. saya kembali ada waktu untuk melanjutkan menulis blog soal Ipoh. Waduh, ternyata sudah setahun lewat sejak saya ke sana, ya. Moga-moga pengalaman saya ini belum terlalu basi untuk dibaca.

Setelah beristirahat sejenak di hotel, kami pun memberanikan diri keluar untuk berjalan-jalan meskipun Matahari siang masih terik memancar tanpa kenal ampun. Ternyata dugaan saya, yang mengira bahwa udara Ipoh cukup sejuk karena kalau dari foto-fotonya tampak terletak di pegunungan, keliru adanya. Setidak-tidaknya selama beberapa hari di sana, Matahari cukup ganas membakar kami. Untungnya sih udaranya terhitung bersih, sehingga tidak terlalu menambah beban kami.

More

Perjalanan ke Hokkaido, Desember 2017 (2)

Sebulan lebih berlalu, belum juga cerita saya tentang Penang berlanjut, ya. Padahal garis besarnya sih sudah ada. Bahan sudah dikumpulkan sebagian. Namun kesibukan lain sungguh menyita waktu…

Akan tetapi, saya sempat kok melanjutkan tulisan saya tentang kunjungan ke Hokkaido di blog yang satu lagi, yang berbahasa Inggris. Di sini saya berikan tautannya, ya.

Bagian 5: Menengok museum divisi penjaga Hokkaido di Asahikawa

Kami sempat mampir ke kota terbesar kedua di Hokkaido ini untuk bertandang ke sebuah museum yang dikhususkan untuk menampilkan sejarah divisi ke-7 Angkatan Darat Jepang dan divisi ke-2 Pasukan Bela Diri Jepang yang bertugas mengamankan Hokkaido.

Bagian 6: Mengunjungi museum penjara Abashiri

Lho, ngapain ke penjara jauh-jauh di kota kecil nun jauh di ujung timur Hokkaido ini? Banyak lho, sejarah yang bisa dipelajari dari kompleks bekas penjara yang namanya pun bisa menciutkan hati. Menyenangkan juga pergi ke kota kecil yang tenang, jauh dari keramaian.

Kisah petualangan di Hokkaido pun bersambung lagi…

Mencari kopi putih ke Ipoh, Agustus 2017 (Bagian 1)

Eeeetsss… belok sedikit yuk dari Jepang, dan mampir ke Malaysia. Jadi saya pernah bercerita kan, kalau saya dan teman saya P (di sini marilah kita sebut dia secara lebih lengkap, yaitu Pila…) pergi berlibur ke Malaysia pada Agustus 2017? Nah, saya belum menjabarkan lagi pengalaman kami di sana. Jadi marilah saya mulai cicil…

Kami tiba di KLIA 2 tanggal 17 Agustus pukul 04.35 waktu setempat, alias sewaktu masih pagi buta. Ini memang kami sengaja karena selain tiket pesawatnya lebih murah, kami juga jadi menghemat waktu: Tidak perlu cuti hari sebelumnya, tidak perlu menginap di bandara, dan lebih banyak waktu yang bisa kami habiskan pada tanggal 17 Agustus itu. Apalagi untuk pergi ke Ipoh, kami masih harus menaiki bis beberapa jam lamanya. Kalau baru 17 Agustus pagi berangkat dari Jakarta, dilanjutkan naik bis ke Ipoh, bisa-bisa pagi dan siang habis di jalan.

More

Musim semi datang terlambat di Takayama, Maret 2015 (Bagian 2)

Lanjut lagi yuk, cerita tentang Hida no Sato?

Ada sekitar 30 bangunan di kawasan Hida no Sato. Bangunan-bangunan itu berasal dari sejumlah tempat lain dan dipindahkan utuh ke sini, ditata menyerupai kampung organik. Sebagai contoh, ada rumah Wakayama, yang berasal dari Shoukawa-machi dan dibangun pada tahun 1751. Bangunan ini dianggap berharga karena menunjukkan dua ciri sekaligus, yaitu atap bergaya gassho yang curam sekaligus tonjolan atap gaya Shoukawa.

More

Musim semi datang terlambat di Takayama, Maret 2015 (Bagian 1)

Pagi di Takayama!

Sebenarnya agak malas juga keluar dari tempat tidur yang nyaman di K’s House, tempat menginap pilihan kami di Hida Takayama. Apalagi pagi hari itu dingin. Akan tetapi, sayang waktunya bila saya hanya bermalas-malas di kamar yang cukup luas untuk dua orang. Kalau di daerah begini, ukuran kamar-kamar penginapan biasanya jauh lebih lega daripada penginapan dengan kategori yang sama dan harga yang sering kali lebih mahal di Tokyo. Bahkan bila dibandingkan dengan sesama K’s House di Tokyo, terasa benar bedanya ukuran kamar di cabang di Takayama.

More

Perjalanan ke Hokkaido, Desember 2017 (1)

Halo, semuanya! Maaf kalau saya lama tidak menulis di sini ya. Sebenarnya saya tetap menulis kok, tapi kisah perjalanan saya kali ini ke Hokkaido pada akhir tahun lalu dituangkan di salah satu tempat lain yang juga saya urus.

Sejauh ini sudah ada empat bagian, dan masih akan berlanjut lagi.

Bagian 1: Mempersiapkan perjalanan ke Hokkaido

hokkaido2017-01

Bagian 2: Historical Museum of Hokkaido di Sapporo

hokkaido2017-03

Bagian 3: Menonton pertandingan bola Hokkaido Consadole Sapporo vs Sagan Tosu di Sapporo

hokkaido2017-02

Bagian 4: Kembali ke Otaru!

Kalau sudah ada bagian-bagian yang baru, saya akan update lagi, ya. Untuk kali ini, selamat menikmati!

Menengok Jepang yang lain di Shirakawa-go, Maret 2015

Sungai berwarna kehijauan berkelok cantik di luar sana, di balik kaca jendela kereta. Sambil menatapnya, saya membatin: Ini perjalanan kereta yang paling indah yang pernah saya tempuh, setelah Danang-Hue di Vietnam. Namun saya tidak sedang berada di Vietnam, melainkan bagian tengah Jepang, di atas kereta ekspres yang membawa saya dan seorang teman menuju Takayama, sebuah kota di Gifu.

Saya dan teman sedang memanfaatkan libur kuliah. Kami menggunakan Seishun 18 kippu—tiket yang memungkinkan kita menggunakan kereta-kereta lokal JR sebebas-bebasnya di musim liburan—menjelajahi Osaka, Kobe, Kyoto, Nagoya, dan kini ke Takayama. Kereta yang kami naiki dari Nagoya mentok rutenya di salah satu kota kecil yang namanya sayang sekali saya lupa. Saya mencoba menelusuri peta jalur yang menghubungkan Nagoya-Takayama dan mencoba mengingat-ingat nama kota tersebut, tapi gagal. Mungkin Mino-ota? Pokoknya, sewaktu turun dan mengecek jadwal kereta lokal berikutnya, alamak, masih lama benar. Baru berjam-jam lagi kami bisa tiba di Takayama. Saya memutuskan untuk bertanya ke petugas stasiun. Tidak lama lagi akan ada kereta ekspres ke Takayama, pria muda itu menjelaskan. Namun Seishun 18 kippu tidak berlaku di kereta tersebut, sehingga kami harus membayar lagi. Saya celingukan mencari mesin tiket di peron stasiun itu. Tidak ada. Beli tiketnya di mana?

More

Mencari jalan termudah ke Ipoh

Kejenuhan kerja yang melanda membuat saya memutuskan untuk berlibur ke Ipoh, Malaysia ketika ada ‘hari kejepit nasional’ Agustus lalu. Teman saya, mari kita sebut saja P, bertanya apakah dia boleh ikut. Ya, tentu saja boleh. Yuk.

Mengapa Ipoh? Kota ini sudah lama dipromosikan oleh seorang teman saya sebagai kota yang sangat santai dan ‘nyeni’. Semangat saya untuk melawat ke situ semakin bertambah setelah mengetahui kota yang terletak ke arah utara dari Kuala Lumpur ini merupakan tempat asal white coffee, salah satu jenis kopi kesukaan saya.

More

Previous Older Entries