Mencari kopi putih ke Ipoh, Agustus 2017 (Bagian 3)

Di bagian pertama tulisan saya tentang Ipoh, saya sempat menyinggung bahwa M Boutique Hotel tempat kami menginap dilengkapi dua buah restoran; salah satunya adalah kafe Old Town, sementara yang satu lagi adalah Myth. Biaya menginap di hotel ini sudah mencakup sarapan yang bisa Anda pilih: ala Malaysia di Old Town, atau ala Barat di Myth. Pagi itu, kami memilih untuk sarapan di Myth dulu. Kami ditawari enam macam set hidangan sarapan. Saya memilih set yang terdiri atas roti bawang putih, ham ayam, kacang putih, kentang, telur ceplok, dan minuman panas. Tidak terlalu berat, namun cukup mengisi perut. (Oya, Myth ini juga menawarkan berbagai kreasi kue yang enak-enak, lho! Biasanya setiap malam sebelum ke kamar tidur, kami membeli kue dari situ untuk disantap di kamar.)

Kelar sarapan, kami pun mencari tumpangan Uber. Pengendara pertama yang kami dapatkan pagi itu sangat ramah dan informatif. Ia mengajak kami mengobrol tanpa terasa ‘kepo’, dan malah menjelaskan berbagai hal tentang Ipoh dan sekitarnya. Menurutnya, makanan Ipoh enak karena airnya yang berbeda, mengandung mineral-mineral dari pegunungan kapur di sekitarnya. Selain itu, banyak kuil di Ipoh yang dibangun di samping ataupun di dalam perbukitan. Dan ke salah satu kuil itulah kami menuju pagi itu.

Pertama-tama kami ke Kwan Yin Tong, tempat banyak sekali burung dara berkumpul. Beberapa ekor anjing terlihat bermalas-malasan di pelataran kuil. Salah seekor anjing malahan terjun ke dalam kanal buatan di samping kuil, berenang dengan semangat entah mengejar apa. Mungkin biawak.

Mungkin karena masih kepagian, tidak ada siapa-siapa yang kami jumpai di kuil itu, selain seorang perempuan yang dengan agak mengagetkan melompati pagar memasuki kawasan yang tertutup untuk pengunjung luar. Entahlah, mungkin memang penghuni di situ yang santai saja masuk meskipun gerbang pagar masih dikunci.

Kami menjelajahi pekarangan kuil yang membentang cukup panjang menyusuri kaki tebing, meskipun kami tidak sampai masuk ke dalam lorong-lorong di tebing yang sebenarnya bisa membawa kita sampai ke atas. Sejumlah tulisan terlihat terpampang di dinding-dinding tebing. Suasana hening dan damai.

Kami kemudian berupaya menembus jalan menuju kuil berikutnya dalam daftar kami, Sam Poh Tong. Kalau menurut Google Map sih, seharusnya ada jalan langsung dari Kwan Yin Tong ke Sam Poh Tong. Namun ketika kami mencoba mengikuti petunjuk Google Map, ternyata jalan itu sudah hilang, tertutupi ilalang dan semak-belukar. Mungkin karena jarang digunakan, alam pun mengklaim kembali jalan tersebut.

Akhirnya kami berjalan di tepi jalan raya tanpa trotoar. Barangkali orang-orang yang lewat dalam mobil-mobil pribadi berpikir, Kasihan betul ya, pasti turis-turis nih, hehehehe. Agak berbahaya memang, tapi akhirnya kami tiba juga di Sam Poh Tong. Ini barangkali merupakan kuil dalam gua paling terkenal di Ipoh. Akan tetapi, seingat saya kami tidak masuk sampai ke dalam guanya pagi itu. Atau memang masih tutup, ya. Entahlah, saya tidak begitu ingat. Yang jelas, taman bergaya Cina di kompleks ini saja sudah membuat kami terpesona saking cantiknya. Kolam-kolam ramai direnangi ikan dan dihiasi berbagai miniatur.

Oh ya, sekadar catatan. Sam Poh Tong merupakan kompleks kuil Buddha. Daging tidak boleh dibawa ke dalam kompleks tersebut, dan hanya makanan vegetarian yang diperbolehkan. Jadi, mari hormati aturan ini ya.

Setelah cukup puas menikmati keindahan Sam Poh Tong, kami melanjutkan ke Nam Thean Tong yang terletak tepat di sampingnya. Banyak kursi untuk duduk-duduk di kompleks yang teduh ini.

Di sebelah Nam Thean Tong ada Ling Sen Tong, di mana kita bisa melihat berbagai patung Buddha—termasuk Buddha tidur, Kwan Im, Wu Kong, kedua belas shio, dan keempat karakter utama Journey to the West.

Kami beristirahat sejenak di sebuah kedai di tepi jalan tidak jauh dari Ling Sen Tong, menikmati roti canai dan teh tarik. Belum waktu makan siang, sih, tapi sudah jauh juga kami berjalan kaki hari itu, jadi boleh dong mengisi perut sedikit.

Tujuan kami berikutnya adalah gua Kek Look Tong. Bagaimana pun kelihatannya di peta, sebenarnya kompleks yang satu ini terletak agak jauh dari jalan utama, jadi sebaiknya pakai jasa Uber saja untuk menuju ke situ.

Nah, kuil yang satu ini benar-benar membuat kaget. Bagian depannya saja sebenarnya sudah cukup membuat terpana: mulut gua yang sangat besar membawa pengunjung ke sebelah dalam yang sangat luas. Patung-patung perwujudan Boddhisatva dan berbagai figur penting lain agama Buddha menyambut kita sejauh mata memandang.

Namun kami ternganga sewaktu mengetahui bahwa gua tersebut tembus ke belakang, ke sebuah taman luas yang dikelilingi tebing tinggi perkasa. Pepohonan rimbun menghijau, dan teratai menghiasi sejumlah kolam ikan yang cukup luas. Astaga! Rasanya seperti dalam film wuxia saja. Ingin rasanya kami berlama-lama di situ menikmati suasana yang permai, namun masih ada satu tempat lagi yang kami ingin kunjungi: Perak Tong. Tapi, eh, sebelumnya, kami harus makan siang.

Kami memilih untuk pergi ke mal AEON Kinta City, sekalian mampir ke toko buku untuk membeli beberapa volume Lawak Kampus karya komikus Malaysia favorit saya, Keith. Di mal ini ada food court yang menawarkan berbagai hidangan dengan harga relatif murah. Pilihan saya adalah nasi ayam.

Berikutnya, kami mengarah ke Perak Tong, yang juga merupakan salah sebuah kuil di dalam gua. Kami disambut oleh seekor anjing lucu yang berbaring-baring saja di pintu masuk, tidak tampak terganggu oleh pengunjung yang berlalu-lalang.

Gua-gua tersebut dihiasi oleh mural keagamaan yang cantik-cantik. Kami menyambangi sebanyak mungkin ceruk yang ada, namun kami memutuskan untuk tidak memanjat lebih jauh lagi karena kelelahan. Apalagi anak-anak tangga yang mengarah ke tempat yang semakin tinggi juga tampak semakin curam. Anda yang kurang bugar dilarang untuk mendaki sampai ke atas karena beratnya perjalanan yang harus ditempuh.

Oh ya, di bagian-bagian tertentu gua, terutama untuk tempat berdoa, alas kaki harus dilepas. Dan tentunya kegiatan kita melihat-lihat jangan sampai mengusik yang sedang beribadah.

Sebelum memanggil Uber untuk kembali ke hotel, kami menikmati dulu es krim di salah satu warung di samping Perak Tong. Segar sekali!

Setelah beristirahat di hotel, kami keluar lagi untuk mencari makan malam. Niat awalnya sih di kawasan Gerbang Malam, yang diramaikan oleh pasar malam dan berbagai restoran dan kedai yang menawarkan berbagai hidangan. Kawasan ini juga terletak di kota tua Ipoh. Saat malam tiba, meja-meja dan kursi-kursi pun digelar di jalanan, dan orang-orang—biasanya berombongan—duduk menyantap berbagai makanan, termasuk ayam garam yang sebenarnya sangat direkomendasikan jika kita berkunjung ke Ipoh. Namun malam itu kami memutuskan untuk bersantap di salah satu sudut jalan tempat sejumlah pedagang makanan Melayu (yang tentunya bisa dipastikan halal) berkumpul. Kami memesan char kue tiauw kerang dan dimsum.

Kelar makan, kami berkeliling-keliling kota tua dengan berjalan kaki. Sejumlah daerah yang ramai di siang hari, Concubine Lane misalnya, sudah sepi; daerah-daerah berbeda di kota tua memang bergantian ramainya siang dan malam.

Malam itu, bagian kota tua yang didominasi keturunan India justru sedang ramai sekali, karena ada semacam pageant show yang digelar di sebuah tenda di tepi jalan. Sebetulnya saya ingin sejenak menonton karena ingin tahu, tapi alamak, penontonnya berjubel-jubel. Sepertinya tidak mungkin maju ke depan tanpa menyikut kanan-kiri. Akhirnya kami memilih untuk pulang ke hotel dan beristirahat. Masih ada satu hari lagi di Ipoh, yang akan kami manfaatkan sebaik-baiknya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Lompat hari

September 2018
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Arsip Lompat-lompat

%d bloggers like this: