Mencari kopi putih ke Ipoh, Agustus 2017 (Bagian 2)

Akhirnya…. saya kembali ada waktu untuk melanjutkan menulis blog soal Ipoh. Waduh, ternyata sudah setahun lewat sejak saya ke sana, ya. Moga-moga pengalaman saya ini belum terlalu basi untuk dibaca.

Setelah beristirahat sejenak di hotel, kami pun memberanikan diri keluar untuk berjalan-jalan meskipun Matahari siang masih terik memancar tanpa kenal ampun. Ternyata dugaan saya, yang mengira bahwa udara Ipoh cukup sejuk karena kalau dari foto-fotonya tampak terletak di pegunungan, keliru adanya. Setidak-tidaknya selama beberapa hari di sana, Matahari cukup ganas membakar kami. Untungnya sih udaranya terhitung bersih, sehingga tidak terlalu menambah beban kami.

Belum begitu jauh berjalan pun, mata kami sudah dimanjakan oleh pemandangan kota tua Ipoh yang menyenangkan. Bangunan-bangunan tua, baik yang masih terawat, yang tampak baru direvitalisasi, ataupun yang dibiarkan sebagian besar apa adanya terlihat cantik di bawah langit yang biru terang.

Lorong-lorong kecil pun menantang untuk dimasuki, dan di dalamnya kita juga bisa menemukan detail-detail seperti lukisan-lukisan mural yang mengundang orang untuk menjepretkan kamera.

Pertama-tama, kami mendatangi Birch Memorial Clock Tower. Menara ini diresmikan pada 1909—lebih dari seratus tahun lalu—dan dihiasi panel-panel yang menggambarkan perkembangan peradaban. Bila tuturan pada panel-panel itu masih terasa Barat atau kolonial sekali, tentunya kita tidak perlu merasa heran, mengingat saat itu Semenanjung Malaya masih dikuasai oleh Britania. Figur-figur yang ditampilkan pun menggambarkan keempat “Nilai Kebaikan Pemerintahan Britania”—Kesetiaan, Keadilan, Kesabaran, dan Keberanian.

Di seberang jalan, kami bisa melihat Masjid Sultan Idris Shah II. Masjid yang dibangun pada tahun 1968 ini menampilkan puluhan kubah dan sebuah minaret (menara) yang tinggi. Kami tidak masuk dan hanya mengagumi keindahan masjid yang bisa menampung ribuan jemaah itu dari luar.

Di dekat menara ini, ada sederetan kedai yang menawarkan berbagai makanan khas etnis-etnis yang menghuni Ipoh. Namun kami tidak sempat duduk-duduk di situ, dan memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan.

Kami kembali ke jantung kota tua Ipoh, menikmati deretan bangunan tua. Banyak di antaranya yang diperbaiki bagian dalamnya namun bagian luarnya dibiarkan menampilkan usia uzurnya, kerap kali berhias sulur-suluran yang tumbuh begitu saja. Hasilnya adalah perpaduan yang menggoda, indah namun liar, seolah menantang gagasan modernitas tentang kecantikan yang bersih dan steril. Kalau saya perhatikan, konsep seperti ini pun mulai diterapkan di beberapa daerah di Indonesia, misalnya di Kota Tua Jakarta.

Salah satu bangunan paling penting di Ipoh yang mengadopsi konsep ini adalah Kong Heng, bangunan tua yang sebelah luarnya nyaris tidak diubah, lantang menampakkan usia yang termakan cuaca. Di Kong Heng ini ada kafe Plan b yang cukup kesohor (bahkan salah satu supir Uber kami sempat menyarankan kami untuk mendatanginya) dan sejumlah toko. Sebagian di antara toko yang berlokasi di kompleks itu bahkan benar-benar terlihat nyaris hancur dan agak menyeramkan dari luar, saking rusaknya bagian luar bangunannya. Tapi justru di situlah daya tariknya. Orang-orang justru dengan antusias bergantian berfoto-foto di berbagai sudut Kong Heng.

Di kompleks Kong Heng ini juga ada museum sutradara fenomenal Malaysia, Yasmin Ahmad. Kami sangat tertarik, namun museum itu ternyata hanya dibuka Sabtu-Minggu. Kami memutuskan untuk mengunjunginya di hari terakhir kami di Ipoh, yang kebetulan jatuh di hari Sabtu.

Kami pun kembali meneruskan perjalanan, sekehendak hati melangkah. Sangat banyak toko dan kedai atau restoran yang tampak memikat di kiri-kanan jalan, namun tentu saja kami tidak bisa menyinggahi semuanya. Kami hanya mampir sejenak untuk membeli kopi ala Thailand yang dijual dalam kantong-kantong yang mudah dibawa-bawa, dan beristirahat sejenak di semacam gazebo yang terletak di dekat sebuah masjid.

Kami menyeberangi sungai, menuju sisi lain kota Ipoh. Di sini, di sebelah timur sungai Kinta, yang pertama-tama menarik perhatian kami adalah Masjid Panglima Kinta. Warnanya yang putih dan biru membuatnya seakan bagian dari langit hari itu. Menurut yang saya baca, masjid tersebut mulai dibangun pada tahun 1898, dan dipersembahkan oleh Dato’ Panglima Kinta Muhammad Yusuff untuk mengenang almarhumah istrinya. Semacam Taj Mahal versi Perak.

Saat itu sudah cukup sore, dan waktu jemaah Ashar sudah lewat, sehingga masjid itu sepi menanti Maghrib. Kami memutuskan untuk langsung menuju Mural Art Lane saja, wilayah yang kaya seni lukis dinding yang menggambarkan keanekaragaman Malaysia.

Seni lukis dinding ini di Ipoh diprakarsai oleh guru seni Eric Lai yang mengelola sekolah seni Artgene Studio di Bercham. Jumlah, ragam, dan keindahan mural-mural itu bisa membuat blingsatan penyuka seni. Objek yang ditampilkan mulai dari adegan sehari-hari seperti seorang ayah memayungi anaknya, sampai sejumlah bentuk kesenian tradisi beraneka etnis di Malaysia.

Berikut ini sejumlah mural yang paling menarik perhatian kami:

Sebetulnya kami berniat untuk bersantap di salah satu kedai paling tenar seantero Ipoh, Lim Ko Pi. Sayangnya ternyata petang hari itu Lim Ko Pi sedang tutup. Kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel dan bersantap saja di kafe Old Town yang merupakan bagian dari hotel. Hidangan yang saya pilih adalah Ipoh Hor Fun, mi tebal khas Ipoh yang disertai sejumlah udang berukuran besar.

Sisa malam itu kami habiskan untuk beristirahat saja di kamar. Masih ada hari esok untuk menjelajahi Ipoh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Lompat hari

September 2018
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Arsip Lompat-lompat

%d bloggers like this: