Lompat-lompat dari Museum ke Museum di Seoul (Agustus 2019) – Bagian Pertama

Awal Agustus lalu, saya mendapat kesempatan jalan-jalan murah ke Seoul selama tiga hari. Ets, sebelum Anda bertanya “Wah, dapat promo dari mana Kak?” saya harus menjelaskan bahwa saya tidak bisa menjawab. Itu karena kali ini, alhamdulillah, saya hanya perlu membayar visa dan pengeluaran pribadi di sana. Pesawat dan hotel ada yang menanggung – yaitu tempat kerja adik saya yang mengganjarnya dengan hadiah jalan-jalan karena berhasil mencapai predikat ‘terbaik’.

Maka Kamis malam tanggal 8 Agustus, kami terbang dengan Korean Air dari Soekarno-Hatta Terminal 3. Pesawatnya sih oke. Ruang kakinya lega, sehingga saya tidak lekas pegal. Pramugaranya ganteng (hehe), hiburannya juga lumayan (selama penerbangan saya kelar menonton film Jepang, Soratobu Tire, dan satu dokumenter soal Bauhaus). Tapi…. jam menghidangkan makannya kok agak aneh, ya? Pesawat berangkat pukul sepuluh lewat dan tiba pagi hari di Seoul. Tapi makanan berat justru dihidangkan selewat tengah malam. Saat itu banyak penumpang lebih memilih tidur, dan yang bangun untuk makan pun sepertinya karena enggan melewatkan makanan gratis. Eh, itu sih saya, hehe. Akhirnya jadi makan berat di jam yang aneh. Kenapa tidak dihidangkan sekitar pukul empat atau lima sebagai sarapan, ya? Entahlah.

Singkat cerita (karena Anda juga tentunya tidak butuh sinopsis film-film yang saya tonton selama penerbangan di sini, kan) kami tiba di Bandara Incheon, Seoul. Penunjuk suhu mengatakan bahwa suhu pagi itu di luar sekitar 26 derajat. Wah, lumayan lah, tidak panas-panas amat……… tapi ya itu catatannya. Pagi. Ternyata kemudian di siang hari kami harus menghadapi panas dan kelembapan yang menggila, bahkan jauh melebihi Jakarta.

Tempat pertama yang kami tuju setelah lepas imigrasi adalah 7 Eleven, untuk membeli kartu transportasi/uang elektronik untuk saya. Adik saya kebetulan sudah pernah ke Korea sebelumnya, sehingga sudah punya kartu tersebut. Dari beberapa desain yang ditawarkan, eh ada desain Moomin! Jelas desain yang itu dong yang saya sambar.

Kami kemudian ke Paris Baguette terlebih dahulu untuk menikmati sarapan sederhana berupa roti dan kopi. Sebenarnya sih saya ingin roti gurih berisi sosis atau daging, tapi dagingnya ya rata-rata ham atau bacon, dan sosisnya juga tidak meyakinkan. Akhirnya roti isi keju cukuplah ditemani kopi.

Setelahnya, kami menuju terminal bis. Kami memutuskan menggunakan bis untuk menuju hotel, karena agak malas bila harus naik-turun kereta untuk berganti jalur sambil membawa-bawa koper. Kebetulan juga hotel tempat kami akan menginap terletak dekat sekali dengan salah satu halte bis bandara.

Setelah memastikan nomor bis yang harus kami tumpangi, kami mencari nomor bis tersebut di layar-layar di atas pintu-pintu menuju platform-platform tempat naik-turun penumpang. Harga tiket bis menuju Stasiun Yeoksam 15 ribu won bila beli langsung di loket tiket, tapi bila kita menggunakan kartu transportasi, harganya menjadi 13 ribu won saja. Lumayan banget, kan!

Kira-kira lima belas menit setelah mulai menunggu, bis kami tiba. Kami pun bergegas naik. Kursinya nyaman, dan pendingin udara juga berhasil mengusir suhu panas di luar yang terus naik seiring matahari bergerak semakin tinggi. Walhasil, kami sempat tertidur agak lama selama perjalanan – yang juga memakan waktu tidak sebentar itu. Pada momen-momen saya terbangun, saya memandang ke luar dan melihat sebuah negeri yang masih asing bagi saya. Kami melewati jembatan-jembatan dan padang-padang kosong menghijau, sampai akhirnya tiba juga kami di Seoul, di mana gedung-gedung tumbuh meraksasa dan merapat. Namun yang paling saya suka justru bangunan toko-toko yang kecil dan ramping bersisi-sisian.

Sewaktu melangkah turun dari bis yang sejuk di halte dekat Stasiun Yeoksam, blaaaarrrr! Jelas sudah bahwa suhu 26 derajat pagi tadi telah lenyap tak bersisa. Siang hari teramat terik, dengan udara yang terasa berat menggantung. Inilah musim panas ala Seoul. Sekali lagi, untung hotel kami hanya beberapa puluh meter jauhnya dari halte tersebut.

Hotel yang kami tempati bernama Mercure Seoul Ambassador Gangnam Sodowe. Saat itu baru pukul 12, sementara waktu check-in pukul 2 siang. Resepsionis hotel meminta kami menunggu karena akan mencek dulu apakah ada kamar yang sudah siap. Sayangnya, entah dia lupa atau apa, sampai setengah jam kami tidak juga diberi kabar. Ya duduk-duduk di lobi hotel itu nyaman, sih, tapi waktu setengah jam itu kan lumayan bila digunakan beristirahat di kamar atau ya, sekalian berjalan-jalan mencari makan siang. Adik saya perlu mendatangi lagi resepsionis, barulah sepertinya ia ingat dan mencarikan kamar untuk kami. Fiuh, lega betul akhirnya bisa masuk ke kamar dan meluruskan badan sambil berbaring di tempat tidur. Kamar tidur dan tempat tidurnya sih jangan ditanya. Bagus, nyaman, dan bersih. Kamar mandinya juga lega.

Berhubung dari kemarin belum mandi, saya dan adik pun memanfaatkan waktu beberapa jam untuk mandi, juga beristirahat dan salat. Setelah merasa sudah siap lagi untuk jalan-jalan, kami keluar hotel mencari makan siang. Tapi ternyata daerah di sekitar hotel kami, selain kurang mengakomodasi turis yang tidak bisa berbahasa Korea, juga tergolong kawasan mahal. Melihat harga makanan yang dipampangkan di etalase atau buku menu membuat kami cengar-cengir saja. Akhirnya, jalan terakhir: beli makan siang dari minimarket, lalu kembali ke hotel untuk menikmatinya. Baru setelah itu kami keluar hotel lagi untuk menuju tujuan pertama kami: pameran interaktif Van Gogh.

Adik saya sebelumnya sudah pernah berlibur ke Korea, dan kali ini ia justru menghindari destinasi-destinasi yang terlalu touristy. Ia pun merancang kunjungan ke berbagai pameran, dan jadilah tema perjalanan kami: lompat-lompat dari museum ke museum. Saya sih senang-senang saja.

Kami pun menaiki kereta menuju stasiun City Hall. Jalur lingkar kereta yang kami naiki rupanya meliputi banyak sekali stasiun – alias perjalanan kami cukup jauh. Mana penyejuk udara di stasiun dan di kereta kerap kalah dari udara luar yang memanggang. Tiba di City Hall, kami keluar melalui Exit 8, dan berjalan menuju Woojung Art Center, tempat pameran diadakan.

Meet van Gogh. Sesuai namanya, pameran ini mengajak kita ‘menemui van Gogh’ sendiri, bukan karya-karyanya. Kita diajak meresapi dunia van Gogh, tempatnya menelurkan lukisan demi lukisan yang dikagumi dan dihargai mahal hingga kini, meskipun hidupnya sendiri sayangnya tragis. Yang seru, berbagai pajangan yang ada di pameran ini boleh dipegang-pegang atau diduduki. Berfoto-foto juga bebas. Semuanya agar kita lebih bisa merasakan dunia van Gogh itu dengan berbagai indera kita, termasuk sentuhan.

Tentu saja, informasi tentang perjalanan hidup van Gogh juga ditampilkan secara tertulis (dalam bahasa Korea dan bahasa Inggris) dan video mapping. Tapi pajangan-pajangan interaktif adalah kunci pameran ini. Terdapat berbagai replika 3D karya-karya Gogh, dengan tekstur lukisan yang menyerupai aslinya dan boleh kita pegang-pegang. Wah, ternyata seperti inilah rasanya lapis demi lapis cat minyak yang dibubuhkan van Gogh di kanvasnya. Sungguh pengalaman yang tidak akan mungkin didapatkan dalam pameran karya asli.

Ada pula replika kamar tidur van Gogh (yang mungkin Anda kenali sebagai salah satu objek lukisannya yang terkenal), sudut ladang gandum, dan kedai yang kerap ia kunjungi. Semuanya seukuran aslinya, dan kita boleh-boleh saja duduk di kursi, gerobak, atau tumpukan jerami buatan untuk benar-benar menghayati hari-hari yang dilewati van Gogh. Video mapping – termasuk di bagian awal yang memperkenalkan kita kepada ladang gandum berwarna kekuningan, warna yang banyak dipakai van Gogh dalam lukisan-lukisannya. Kita juga diajak menonton reka adegan pertengkaran van Gogh dan sahabatnya, Gauguin.

Ingin mencoba coret-coret seperti van Gogh? Disediakan pula kertas dan pensil di area-area tertentu bagi siapa pun yang ingin menjajal kemampuan menggambar.

Oya, tersedia audio guide berbahasa Inggris. Kerennya, kita tidak perlu memencet tombol apa pun di alat pandu ini. Ia mendeteksi sendiri posisi kita dan akan secara otomatis memutar panduan dari karya atau area pameran yang sedang kita sambangi. Praktis dan sangat memudahkan pengunjung.

Puas sekali rasanya berkunjung ke pameran ini – begitu banyak yang bisa dipelajari dari pameran tersebut. Saya sih berpikir kalau pameran semacam ini ada di Indonesia, tentu seru. Apalagi mengingat orang-orang Indonesia senang berfoto-foto dan memegang-megang barang pameran (hehe…). Pameran semacam ini mengakomodasi dan memanfaatkan kegemaran-kegemaran itu sebagai sarana belajar.

Kelar dari pameran itu, kami memutuskan untuk menjelajahi daerah sekitar stasiun City Hall. Kebetulan ada salah satu istana, Istana Deosukgung. Teman memang menyarankan pergi Deosukgung ini bila ingin melihat istana bekas kerajaan Korea, karena istana yang satu ini tidak begitu ramai.

Kami berhenti sejenak untuk mampir di salah satu kedai bubble tea. Lumayan untuk sedikit meredakan panas. Seperti juga di Jakarta, di Seoul bertebaran kedai-kedai kopi dan bubble tea. Ke mana pun kaki melangkah, tidak akan sulit rasanya menemukan kedai semacam itu, baik yang kecil di pojokan maupun yang besar yang bisa menampung banyak pelanggan sekaligus.

Benar kata teman, Istana Deosukgung tidak ramai, setidak-tidaknya Jumat sore itu. Hanya ada segelintir wisatawan lain, baik asing maupun setempat, yang sedang melihat-lihat istana yang dibangun pada awal abad kedua puluh itu. Oleh karenanya, kami cukup leluasa melihat-lihat, tentu sejauh yang diizinkan. Terdapat beberapa bangunan yang terpencar-pencar di dalam kompleks itu, baik yang berarsitektur tradisional Korea maupun yang bergaya Eropa. Brosur yang disediakan membantu kita mempelajari sejarah Korea—yang, terus terang, nyaris tidak saya ketahui sama sekali.

Matahari semakin tergelincir ke barat. Kami kembali menaiki kereta (yang rasanya lamaaa sekali, mungkin karena saya belum mengakrabinya) menuju COEX, tempat perusahaan hiburan Korea, SM, membuka museum. Ehem…. Ya, bagaimana pun, kami masih penggemar Kpop.

Memang sih, kami tidak masuk ke museumnya, mengingat harga tiketnya cukup mahal untuk anggaran kami. Delapan belas ribu won, sih. Namun berhubung esok harinya kami sudah punya rencana mengunjungi beberapa pameran lagi, kami memutuskan untuk mengalokasikan sumber daya (alias uang) untuk pameran-pameran yang sifatnya sementara itu. Hmm… oke, memang ada kabar santer bahwa SM akan menutup museum dan toko di COEX ini, jadi mungkin ini kesempatan terakhir kami berkunjung ke museum SM. Tetap saja, akhirnya kami memilih untuk menikmati area-area gratis saja. Dan yang bisa dilihat di area-area itu juga banyak, kok!

Pertama-tama, di halaman luar, ada dinding yang memajang cetakan tangan para artis yang bernaung di bawah SM beserta tanda tangan mereka. Kita boleh mencoba mengepaskan tangan kita dengan cetakan tangan mereka. Kaget juga mendapati beberapa artis laki-laki yang badannya lebih tinggi dari saya, ternyata tangannya lebih kecil dari tangan saya. Tebersit juga rasa haru ketika melihat cetakan tangan almarhum Jonghyun dari SHINee.

Kami kemudian menuju ke toko pernak-pernik SMTOWN sambil mengademkan diri di ruangan ber-AC. Cukup banyak pajangan yang bisa dilihat di area-area gratis, mulai dari kostum panggung yang pernah dikenakan para artis SM sampai piala-piala yang pernah mereka menangkan. Kalau tokonya sih… masuknya ya gratis, tapi kalau ada benda yang Anda taksir, tentu saja harus merogoh kocek. Untungnya sih saya sudah tidak segila dulu lagi terhadap Kpop. Kalau masih penggemar berat seperti dulu, bisa-bisa saya kalap membeli banyak barang, melihat sedemikian banyak pernak-pernik menggoda di toko!

Selain sejumlah toko di lantai-lantai berbeda, ada pula kafe SM. Kafenya menarik, dengan desain interior yang manis dan lebih banyak lagi pajangan terkait artis-artis SM. Hanya saja harganya agak miring…. ke atas. Yah, tentunya bagi penggemar berat, harga segitu worth it lah, bisa untuk teman nongkrong di meja atau kursi yang berhiaskan tanda tangan oppa atau eonnie.

Senja sudah hampir tuntas saat kami meninggalkan COEX dan kembali ke hotel untuk makan malam dan beristirahat. Pelataran COEX masih ramai oleh orang-orang yang berkerumun menyaksikan sejumlah anak muda-belia memamerkan bakat mereka. Mungkin, suatu hari nanti, foto dan cetakan tangan anak-anak itulah yang akan terpajang di dinding COEX. Siapa tahu?

Cerita tentang perjalanan saya ke Seoul bersambung ke bagian kedua, ya!

5 Comments (+add yours?)

  1. 101monkeymagic
    Sep 09, 2019 @ 10:32:52

    cafenya unyu, museumnya keren. UGH ngiri bisa liat pameran Van Gogh

    Reply

  2. ftmhzahra
    Sep 10, 2019 @ 06:11:48

    mantap kak , liburan yang mengedukasi namun bisa melepas penat.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Lompat hari

September 2019
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Arsip Lompat-lompat

%d bloggers like this: