Bangkok Juni 2012

This post is about Thailand

Wah, akhirnya saya punya waktu juga untuk menuliskan sedikit tentang perjalanan saya ke Bangkok pada bulan Juni 2012 kemarin.  Dari perjalanan yang kesekian kali ini, saya akan ceritakan beberapa hal yang belum pernah saya bahas sebelumnya ya.  Soalnya, ada beberapa tempat yang saya kunjungi lagi dan memang tidak bisa tidak saya kunjungi kalau ke Bangkok, seperti daerah Siam Central dengan MBK, Siam Paragon, pusat seni dan lain-lain.  Sedikit pembaruan kabar: sewaktu saya ke sana, Siam Discovery masih beroperasi seperti biasa.  Tetapi sekarang pusat perbelanjaan itu sedang ditutup untuk renovasi sampai akhir tahun, sehingga sedang tidak bisa dikunjungi.

Di berbagai penjuru, kita bisa temukan seni.

Kabar lain, akhirnya saya mencicipi juga naik jalur kereta layang terbaru, yang menghubungkan bandara dengan Phaya Thai.  (Dari Phaya Thai ini kita bisa meneruskan naik kereta ke arah Mo Chit/Chatuchak atau ke arah Siam Central dan lain-lain.)  Jalur kereta ini, selain mempermudah transportasi bagi para penduduk Bangkok, tentu saja membuat akses ke beberapa daerah Bangkok semakin gampang bagi para wisatawan.  Salah satu stasiun kereta yang terletak di jalur ini hanya berjarak selemparan batu dari Pratunam Market (tempat berbelanja tekstil dan pakaian jadi yang ternama di Bangkok, semacam Tanah Abang) dan Hotel Baiyoke Sky, bangunan tertinggi di Bangkok.  Ngomong-ngomong nama hotel itu dibaca ‘baiyok’.

Saya juga sempat mengunjungi lagi Chulalongkorn University, universitas kenamaan se-Thailand, yang menempati kompleks luas dan lengkap tak jauh dari daerah Siam Central.  Seperti di universitas-universitas lain, para mahasiswa dan mahasiswi di universitas dengan warna kebesaran ini mengenakan seragam.  Mahasiswa tahun pertama bisa dikenali karena beberapa ciri, misalnya rok yang panjangnya seragam, selutut.  Nanti setelah tahun kedua, meski tetap mengenakan seragam hitam-putih, seragam tersebut bebas mereka modifikasi.

Eh, di universitas ini saya melihat salah sebuah bis yang memajang wajah Nichkhun Horvejkul, idola Thailand yang merupakan anggota boyband Korea 2PM.  Hayo hayo siapa mau naik…

Wat yang saya kunjungi kali ini adalah Wat Traimit Wittayaram di daerah Yaowarat alias Pecinan Bangkok.  Wat yang buka Selasa-Minggu (Senin tutup) dari pukul 8 pagi sampai 5 sore ini kerap dikunjungi wisatawan untuk melihat patung Buddha emas yang diletakkan di lantai paling atas.  Bila Anda hanya hendak melakukan ini, maka wat tidak memungut biaya untuk masuk.  Penduduk setempat masih aktif beribadah di wat ini, sehingga tolong hormatilah mereka bila Anda ingin melihat-lihat dan mengambil gambar di dalam ruang penyimpanan patung Buddha tersebut.

Wat ini penting karena suatu alasan lain yang sering terlewatkan oleh wisatawan, yaitu dilengkapi dengan museum kecil yang tidak hanya menceritakan tentang sejarah patung Buddha emas dan pendirian wat, melainkan juga sejarah Yaowarat dan warga Thai keturunan Cina secara umum.  Museum tersebut terletak di dua lantai di bawah ruang patung Buddha emas.  Cukup membayar 100 baht (sekitar Rp 30 ribu saja) untuk memperoleh akses ke dua lantai itu.  Lepaskan sepatu, masukkan ke dalam kantong khusus tas, dan bawalah sepatu Anda seraya melihat-lihat di sebelah dalam.

Tiketnya hanya sekecil ini lho. Awas hilang.

Di lantai yang pertama, kita bisa menelusuri sejarah warga Thai keturunan Cina melalui berbagai model, pajangan, dan diorama.  Ada ruangan yang dibuat menyerupai palka kapal-kapal yang dulu membawa mereka ke Thailand.  Bagian yang seharusnya merupakan jendela tingkap ke geladak sebenarnya adalah layar-layar yang seolah-olah menampilkan langit, yang berubah-ubah dari cerah hingga berbadai.  Kita pun bisa merasakan sekelumit pengalaman para pemberani yang menempuh pelayaran sulit di masa lalu, sehingga tiba di tanah yang lantas menjadi rumah bagi mereka dan keturunan mereka.

Sementara di lantai dua, kita bisa mempelajari sejarah wat dan patung Buddha emas.  Ternyata dulu patung tersebut terselubung cat yang menyebabkan orang banyak tidak mengetahui betapa besar nilai ekonomi patung itu.  Sewaktu patung tersebut sedang dalam proses dipindahkan ke tempat yang baru, turun hujan badai dan ada tali penahan yang putus.  Patung Buddha tersebut tergesek dan terungkaplah emas yang tadinya disembunyikan.

Sedikit catatan, beberapa bagian museum ini sebenarnya agak menyeramkan bila ditempuh sendirian, saking riilnya model-model manusia yang menampakkan kehidupan sehari-hari nenek-moyang warga Thai keturunan Cina.  Kalau bulu kuduk mudah merinding, mendingan ajak teman yah.

Soal makanan, seperti biasa saya tidak pernah bermasalah di Thailand.  Saya sempat mencicipi beberapa restoran, di antaranya restoran Muslim halal Sophia.  Sayang saya lupa mencatat alamatnya, dan saya ke situ pun diantarkan orang.

Hotel yang saya tempati selama perjalanan kali ini adalah Royal View Resort (BTS terdekat: Victory Monument) dan Indra Regent di Hotel.  Royal View Resort terletak di daerah yang lebih tenang, jauh dari keramaian, dan bahkan kita harus memasuki jalan kecil untuk menemukannya.  Sementara Indra Regent terletak di Pratunam yang ramai, bahkan tersambung dengan pusat perbelanjaan.  Namun keduanya buat saya sama nyamannya.  Kamar-kamarnya luas, tidak mahal, dan sudah dilengkapi dengan buffet sarapan yang bisa memberikan energi untuk seharian menjelajahi Bangkok.

5foot Way Inn dan Sekitarnya, Chinatown Singapura

This post is about Singapore

Bila ditanya kawasan mana yang paling saya gemari di Singapura, saya mungkin akan memilih Chinatown.  Saya menyenangi jalan-jalan dan lorong-lorongnya yang kecil, dengan berbagai toko dan tempat makan menarik.  Ada yang mencolok, seperti toko yang menjual pernak-pernik Tintin karya Herge, namun ada pula di antaranya yang ‘tersembunyi’ dan tidak banyak diketahui turis asing.  Suasananya juga terasa lebih ramah bila dibandingkan dengan kawasan perbelanjaan berbau ‘modern’.  Tempat menginap untuk pelancong yang beranggaran hemat pun cukup mudah ditemukan.

Exit A Stasiun MRT Chinatown.

The Tintin Shop di Chinatown.

Kali ini, yang ingin saya ulas adalah hostel 5foot Way Inn.  Letaknya hanya selemparan batu dari Exit A Stasiun MRT Chinatown.  Dua kali sudah saya menginap di sini, pertama sewaktu masih soft opening – dan masih banyak bagian hostel yang masih dipoles – dan kedua ketika hostel sudah betul-betul siap untuk tamu.  (Yang saya maksudkan di sini adalah cabang pertama 5foot Way Inn.  Mereka membuka cabang baru dekat Sultan Mosque di bulan April 2012, dan hostel kedua di daerah Chinatown akan menyusul.)

Pertama kali mencarinya, saya agak bingung.  Sebabnya, hostel ini menempati lantai-lantai atas sebuah ruko yang terletak di sebelah kanan saat kita keluar dari Exit A.  Di bawahnya ada toko yang menjual suvenir, yang jamak berjejer-jejer di sepanjang jalan tersebut.  Jalan masuk ke hostel adalah pintu di bagian samping depan ruko tersebut.

Begitu pintu terbuka, kita langsung berhadapan dengan tangga bercat gelap yang agak curam.  Boks neon meyakinkan kita bahwa memang betul ini hostel yang dicari-cari.

Salah satu karya seni yang dipamerkan di 5foot Way Inn.

Resepsionis berada di lantai dua.  Tapi, untuk masuk, terlebih dahulu kita harus mencopot alas kaki dan meletakkannya di rak di samping pintu masuk.  (Mungkin untuk tamu-tamu dari negara-negara ‘Barat’, berkeliaran bertelanjang kaki di hostel ini juga pengalaman tersendiri, ya.)

Berhubung namanya ‘hostel’, kamar-kamar yang tersedia bisa diisi oleh 4 atau 6 orang, dan biasanya yang kita sewa adalah ‘tempat tidur’-nya.  Jadi jangan heran bila Anda akan tidur seruangan bersama orang-orang yang tidak Anda kenal.  Untuk perempuan, ada ‘dorm’ khusus perempuan, sekiranya Anda risih bila harus berbagi dengan laki-laki.  Kamar mandi juga digunakan bersama, dengan kamar mandi khusus perempuan di lantai dua.  Maklum digunakan bersama-sama, jadi bila harus menunggu giliran, ya harus sabar.

Kebetulan, dua kali saya menginap di 5foot Way Inn, selalu bersama teman-teman, sehingga kami bisa menyewa kamar untuk berempat hanya untuk rombongan kami.  Lucunya, saya selalu dapat kamar yang sama, yang terletak selantai dengan resepsionis.  Kamar tersebut menghadap Pagoda Street yang di siang hari ramai oleh kegiatan perdagangan dan suara orang yang lalu-lalang.  Bahkan bila hanya mendengar suara saja, mungkin Anda tidak akan merasa berada di Singapura… Karena yang banyak terdengar adalah percakapan dengan menggunakan Bahasa Indonesia.  Tapi jangan khawatir, di malam hari, Pagoda Street amat sunyi, karena bukan merupakan daerah hiburan malam ‘ajeb-ajeb’.

Kamar untuk 4 orang.

Kepala tempat tidur dengan stopkontak dan rak kecil.

Kamar tidur, perabot, dan seprei semuanya serba putih.  Di kepala masing-masing tempat tidur, ada stopkontak dan rak kecil khusus untuk sang penyewa, sehingga kita bisa mengisi baterai peralatan elektronik kita tanpa perlu bergiliran dengan orang lain.  Masing-masing penyewa juga mendapatkan laci yang berukuran cukup besar di bagian bawah tempat tidur, dengan gantungan kunci yang merangkap sebagai kunci elektronik untuk membuka pintu depan hostel.a.

Hanya saja memang ukuran kamarnya tergolong sempit.  Kamar-kamar ini memang tidak didesain untuk orang-orang yang ingin menghabiskan banyak waktu di dalamnya.

Di lantai dua, juga terdapat ruang makan bersama yang terbuka, menghadap ke sudut lain Chinatown.  Minuman disediakan gratis sepanjang waktu, termasuk dari mesin minuman yang siap menghadirkan kopi, teh tarik, atau minuman cokelat.  Peralatan makan lengkap disediakan, asal kita mencucinya sendiri usai bersantap.  Nikmat sekali rasanya malam-malam duduk-duduk di bangku-bangku kayu yang tersedia sambil menyeruput minuman hangat, atau ketika pagi-pagi sekali kita sarapan sebelum Chinatown benar-benar terbangun.  Kita juga bisa banyak berinteraksi dengan penghuni lain hostel di sini.

Ruang makan di lantai dua.

Pemandangan dari ruang makan 5foot Way Inn.

Lebih banyak kamar dan kamar mandi ada di lantai tiga.  Sementara loteng yang berlangit-langit miring dimanfaatkan sebagai ruang santai yang nyaman dan artistik.  Sofa-sofa dan bantal-bantal yang ditata sedemikian rupa sungguh menggoda kita untuk merebahkan tubuh setelah seharian menjelajahi Singapura.  Di sini kita juga bisa menggunakan dua buah komputer secara gratis untuk berselancar di internet, seandainya sambungan Wi-Fi hostel tidak cukup untuk kita.

Loteng 5foot Way Inn Chinatown.

Kalau soal makanan, tidak usah khawatir.  Banyak restoran dan kedai yang mudah ditemukan di sekitar 5foot Way Inn, dari yang murah sampai yang mahal.  Restoran-restoran waralaba internasional juga ada.  Tapi kalau yang satu ini, Crazy World Cafe di Temple Street, tidak semua orang tahu, meskipun hanya berselisih satu jalan dengan Pagoda Street.  Saya juga mengetahui tempat ini dari seorang teman yang bekerja di Singapura.

Bagian depan Crazy World Cafe.

Crazy World cukup nyaman, dengan desain interior yang menarik dan stylish.  Pemiliknya adalah seorang penggemar musik Mandarin, sehingga ia juga memajang berbagai memorabilia di kafenya ini.  Bahkan pertunjukan musik cukup rutin diadakan di kafe ini yang juga menjual sejumlah cenderamata yang unik.  Kalau soal makanan, saya sangat menyarankan Anda mencicipi brownies ‘home-made’-nya.  Tampilannya saja langsung menerbitkan air liur!

Lucunya, di daftar menu ada tulisan yang menyatakan bahwa pihak kafe berusaha sekerasnya untuk menyajikan hidangan tanpa dikenai pajak.  Oleh karena itu, mereka memohon pengunjung untuk tidak hanya memesan air putih yang gratis.  Lho?  Ternyata orang Singapura ada juga ya yang doyan ‘ngadem doang’ sambil minum air putih?

Kalau malam sudah tiba, meskipun banyak ruko yang sudah tutup, justru tiba saatnya para pedagang makanan malam di Food Street beraksi.  Meja-kursi digelar, dan para pedagang siap memasakkan dan menyajikan berbagai makanan jalanan ala Singapura untuk Anda.  Yang patut dicoba adalah ‘carrot cake yang kenamaan, yang jangan dibayangkan merupakan penganan kecil dari wortel.  Hidangan ini juga tidak mengandung wortel, karena sebutan ‘carrot cake’ itu berasal dari salah pemilihan padanan kata ‘chai tao’ yang sebetulnya merujuk kepada ‘lobak’.  Porsi yang dijual cukup besar, sehingga bila perut Anda tidak besar-besar amat, satu piring hidangan bisa dibagi untuk dua orang.

Carrot cake – yang tidak mengandung wortel.

Jangan sampai seperti kami waktu itu: dengan begitu percaya diri masing-masing memesan satu porsi makanan.  Akibatnya, aduh mak…  Kami separuh merayap pulang ke hostel dengan perut kepenuhan.  Satu lagi hal yang tampaknya sulit dihindarkan bila menghabiskan waktu di Chinatown Singapura!

Benteng Heritage Museum, Tangerang

This post is about Indonesia

Di sisi Jakarta, ada tiga wilayah yang menyandang nama ‘Tangerang’.  Dua di antaranya kota: Tangerang dan Tangerang Selatan; sementara satu lagi berstatus kabupaten.  Kadang-kadang ini memang membingungkan.  Apabila saya secara singkat menyebutkan rumah saya ada di Tangerang (dan yang saya maksudkan adalah Tangerang Selatan), banyak yang mengira rumah saya ada di Kota Tangerang.  Namun kedua wilayah ini berbeda, dan jaraknya dari ujung ke ujung lumayan jauh pula.  Setidaknya, jarak dari rumah saya ke kawasan kota tua Tangerang, di mana Benteng Heritage Museum (BHM) terdapat.

Kawasan kota tua Tangerang dikenal juga sebagai kawasan ‘Benteng’, asal-muasal sebutan ‘ciben’ alias ‘Cina Benteng’ untuk orang-orang Tionghoa yang sejak lama bermukim di daerah tersebut.  Konon dahulu memang ada benteng yang berdiri di wilayah yang kini menjadi kota tua Tangerang.

Trotoar dan taman yang banyak ditemukan di Kota Tangerang.

Malangnya, di masa lalu, meskipun telah berabad-abad tinggal di  Tangerang sejak nenek moyang mereka pertama kali mendarat di Teluk Naga, para ‘ciben’ kerap mendapat diskriminasi dan pelecehan, dan beberapa kali pula terjadi tragedi berdarah.  Misalnya, pada 1942, di masa penjajahan Jepang, rumah-rumah warga Tionghoa Tangerang dijarah.  Berbagai benda berharga hilang, termasuk warisan keluarga seperti guci abu leluhur dan papan nama leluhur.  Tahun 1946, di masa awal republik ini, fitnah bahwa ada orang Tionghoa menurunkan bendera merah-putih di Tangerang berbuntut pembantaian besar-besaran terhadap ‘ciben’.  Diperkirakan ada 600 orang tewas.

Kaum peranakan ini pun dahulu dianggap lebih ‘rendah’ oleh orang-orang Tionghoa yang bermukim di Jakarta, karena kulit mereka yang lebih gelap dan dialek mereka yang dianggap ‘aneh’, hasil percampuran dengan suku-suku bangsa lainnya di sekitar Tangerang.  Sampai sekarang, bila Anda bertandang ke Kota Tangerang, Anda akan bertemu dengan orang-orang Tionghoa yang berbicara dengan logat Sunda, juga beberapa logat lain yang digunakan penduduk Banten.

Berbagai kisah masa lalu masyarakat Tionghoa Tangerang, juga contoh artefak dan produk budaya mereka hingga kini, bisa kita nikmati di museum yang baru resmi dibuka tahun 2011 lalu, yaitu Benteng Heritage Museum yang terletak di Pasar Lama Tangerang.  Awalnya, museum ini adalah dua rumah bersisian yang berhasil dibeli oleh Bapak Udaya Halim dan direstorasi besar-besaran oleh tim beliau.  Pak Udaya bertumbuh besar di Pasar Lama Tangerang, dan berniat menyelamatkan warisan budaya Tionghoa Tangerang termasuk bangunan-bangunannya.  Masih ada beberapa rumah lagi yang hendak beliau selamatkan, termasuk rumah ketiga yang sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian rumah yang dijadikan museum.

Sejumlah rumah lama yang masih bisa Anda lihat di kawasan Pasar Lama Tangerang – yang dulu juga disebut ‘Petak Sembilan’, seperti kawasan pecinan di Jakarta.

Dari Cikokol, saya naik angkot berwarna biru-kuning dan meminta supir angkot menurunkan saya di Pasar Lama.  Ia menurunkan saya di depan sebuah gang kecil.  “Betul di sini, Bang?”  tanya saya.

“Betul.  Lewat gang ini saja, nanti tembus di Pasar Lama.”

Pertama-tama saya agak ragu, namun sang supir angkot memang tidak berbohong.  Gang itu betul tembus ke Pasar Lama.  Namun meski saya sebut ‘gang’, jangan kira wujudnya adalah jalan kecil yang kotor dan becek.  Di Kota Tangerang, gang-gang sekalipun sebagian besar sudah berlapis conblock sehingga enak disusuri.  Dan berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kecil ini, sambil memperhatikan rumah-rumah tua dan kesibukan masyarakat Tangerang, terasa menyenangkan.

Di dekat tempat saya turun, ada sebuah gerbang merah yang digantungi lampion.  Di balik gerbang itu ada tangga yang menuju ke pelataran yang tidak seberapa luas, dengan sebuah altar kecil tempat orang-orang bisa bersembahyang.  Dulu di sini berdiri apa yang disebut Tangga Djamban, hasil sumbangan 81 orang warga Tionghoa Tangerang.  Pada tahun 2009, tangga tersebut telah hancur total, namun pada tahun 2010 didirikan lagi atas inisiatif masyarakat, dan toapekong kali pun diletakkan di situ.  Prasasti yang memuat nama ke-81 penyumbang Tangga Djamban diangkut ke Benteng Heritage Museum, dibersihkan dan kini dipajang di lantai dua bangunan tersebut.  Pengunjung yang datang seringkali antusias ketika melihat nama marganya juga tercantum di prasasti itu.

Tangga Djamban.

Toapekong kali.

Plakat peresmian toapekong kali tahun 2010.

Pemandangan Sungai Cisadane yang lebar dan relatif bersih meski airnya berwarna kecokelatan sungguh membuai mata.  Memang satu lagi kelebihan Kota Tangerang adalah kawasan bantaran sungainya yang cukup terawat, dilengkapi kawasan hijau dan trotoar.  Masih terlihat sampan-sampan dan para pemancing di sungai tersebut, juga orang-orang yang berjalan-jalan menikmati pemandangan sungai.  Bila sedang perayaan Peh Cun, di sungai ini diselenggarakan perlombaan perahu naga.

(Trotoar dan taman memang merupakan kelebihan lain Kota Tangerang.  Di sebagian ruas jalan, trotoar berdampingan dengan taman-taman yang dilengkapi bangku, tempat sampah, landasan bermain skateboard, lapangan basket, dan sarana  permainan gimnastik.)

Saya mengikuti gang yang ditunjukkan sang supir angkot menuju Pasar Lama.  Tidak jauh kok jalannya.  Pasar Lama sampai saat ini memang masih berfungsi sebagai pasar tradisional di pagi hari.  Mungkin karena itulah BHM juga buka siang hari, sejak pukul 1 di hari biasa dan pukul 11 di akhir minggu, namun tutup di hari Senin.  Ketika saya tiba, pasar tersebut sudah sepi.  Hanya tersisa beberapa pedagang yang sedang membereskan dagangan.

Tampak depan Benteng Heritage Museum.

Rumah di sebelah kiri belum berhasil dibeli oleh museum, namun direncanakan demikian, agar museum menjadi kesatuan utuh.

BHM mudah ditemukan karena tampak mencolok dengan cat dinding dan daun pintu serta kusen jendelanya yang masih terlihat mengilap.  Kita akan disambut oleh sepasang patung singa – jantan dan betina – yang berdiri mengapit pintu depan.  Gagang pintu tampak dihias diagram patkwa.

Salah satu patung singa penjaga pintu museum.

Gagang pintu depan.

Ruang depan merupakan tempat penyambutan tamu, di mana kita bisa membeli minum untuk melegakan haus, membeli karcis, dan memotret.  Ya, soalnya setelah melewati tempat penjualan karcis, kita tidak boleh mengambil foto.  Namun di ruang depan ini, juga ada sejumlah pajangan yang menunjukkan kehidupan Kota Tangerang di masa lalu, untuk semakin menggelitik rasa ingin tahu kita.

Lantai dasar berlapis ubin kuno berwarna merah pudar.  Ketika lantai dibongkar sewaktu restorasi, penggalian sedalam 20 meter ternyata menemukan sejumlah artefak yang menunjukkan bahwa lama sebelum rumah tersebut didirikan, daerah Pasar Lama telah digunakan sebagai pemukiman.  Artefak-artefak itu kini dipamerkan di lantai dua BHM.

Di lantai bawah ini, disimpan sejumlah perabotan dan peralatan hidup sehari-hari seperti penggiling beras dari batu.  Juga ada gerbang bulan yang indah, namun sebenarnya bukan merupakan bagian asli dari rumah, melainkan ditambahkan saat restorasi.

Lantai bawah saja sudah cukup membuat tercengang.  Namun lantai dua BHM sungguh luar biasa!  Untuk naik ke lantai berikutnya, kita terlebih dahulu harus mencopot sepatu, sebab penggunaan alas kaki dikhawatirkan menggores lantai atas yang terbuat dari kayu.  Setelah mendaki tangga kayu yang cukup curam, kita pun tiba di lantai yang menyimpan sedemikian banyak harta warisan budaya.

Ada begitu banyak benda yang bisa kita lihat di lantai dua:

Mulai dari dachin (timbangan) dari yang kecil sampai yang bergagang panjang, sebab bisa digunakan merangkap sebagai pikulan;

kumpulan mesin tik, sempoa, jam dinding tua (salah satu di antaranya masih setia berdetak);

koleksi kain dan pakaian tradisional yang dipengaruhi budaya Tionghoa, misalnya kebaya encim;

Prasasti Tangga Djamban;

artefak berupa pecahan porselin, uang kuno, paku, dan lain sebagainya yang ditemukan tertanam di bawah museum;

sepatu-sepatu khusus yang dahulu dipakai oleh perempuan-perempuan yang kakinya diikat agar berukuran kecil, terkadang hanya sepanjang 3 inci (‘lotus feet’);

berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk upacara-upacara tradisional;

arca dan ikon berbagai dewa dan sang Buddha;

perabotan dan peralatan hidup sehari-hari; serta banyak lagi.

Loket pembelian tiket.

Ada pula ruang tempat menyimpan koleksi kamera kuno, gramofon, dan piringan hitam milik Pak Udaya, namun ruang ini hanya bisa kita masuki bila sang pemilik sedang berada di BHM.

Akan tetapi, barangkali harta paling berharga rumah ini adalah relief potongan cerita Sam Kok yang menghiasi bagian pinggir penunjang atap di sekeliling void rumah.  Relief yang menunjukkan kehebatan kriya kayu dan tempel-keramik ini mungkin tidak akan kita sadari seandainya kita tidak mendongak.  Keberadaannya sepertinya merupakan bukti bahwa museum dahulu merupakan rumah kongsi, karena tidak sembarang rumah boleh dipasangi relief seperti itu.  Keindahannya seperti mencuri napas saya sejenak.

Ruang depan museum.

Hal seru lain yang bisa kita lakukan di museum ini adalah mencoba membuka papan gerendel pintu menuju balkon di lantai dua.  Meski kelihatannya sederhana dan hanya terbuat dari kayu, jangan salah!  Bila kita tidak tahu caranya, sampai bego juga kita tidak akan bisa menggeser kedua gerendel itu sampai terbuka.  Sungguh karya pertukangan yang brilian!  (Kalau kita menyerah, pemandu akan memberi tahu kita cara membuka pintu, kok.  Contekannya tidak saya beri, ya… hehehe. )  Dari balkon, kita bisa melihat-lihat ruas jalan Pasar Lama yang merupakan urat nadi perdagangan Tangerang masa lalu.

Setelah puas melihat-lihat lantai dua, kita akan dituntun menuruni tangga yang berbeda, menuju ruang di mana kita dapat membeli berbagai buku dan kecap tradisional buatan Tangerang.  Nantinya ruang suvenir ini diharapkan bisa menjual lebih banyak lagi ragam cenderamata.

Kelar mengunjungi museum yang menyimpan kekayaan budaya ini, kita bisa berjalan sedikit ke arah kanan saat keluar dari rumah dan menengok Vihara Padumuttara/Kelenteng Boen Tek Bio, tempat sebagian penduduk lokal beribadah.  Bau dupa yang meruap meninggalkan kesan kuat dalam ingatan akan Kota Tua Tangerang yang begitu kental dengan budaya peranakan.

Bila kita mendekati dari samping, bangunan ini adalah Vihara Padumuttara…

…dari depan, Kelenteng Boen Tek Bio.

Informasi penting mengenai Benteng Heritage Museum

Jl. Cilame No. 18/20, Pasar Lama

Tangerang 15111, Banten, Indonesia

Telepon: +62 21 445.445.29

e-mail: info@bentengheritage.com

www.bentengheritage.com

Tur di Museum Benteng Heritage adalah tur berpemandu, berlangsung selama 45 menit, dengan jumlah setiap rombongan dibatasi 20 peserta.

Harga tiket umum Rp 20.000; mahasiswa/pelajar (wajib menunjukkan kartu pelajar) Rp 10.000; tur berbahasa Inggris Rp 50.000.

Museum buka Selasa – Jumat 13.00 – 18.00, Sabtu – Minggu 11.00 – 19.00, Senin tutup

Heritage Waroeng Kopi 10.00 – 20.00, menyediakan berbagai makanan/minuman khas babah/peranakan Tangerang (halal)