Menengok Jepang yang lain di Shirakawa-go, Maret 2015

Sungai berwarna kehijauan berkelok cantik di luar sana, di balik kaca jendela kereta. Sambil menatapnya, saya membatin: Ini perjalanan kereta yang paling indah yang pernah saya tempuh, setelah Danang-Hue di Vietnam. Namun saya tidak sedang berada di Vietnam, melainkan bagian tengah Jepang, di atas kereta ekspres yang membawa saya dan seorang teman menuju Takayama, sebuah kota di Gifu.

Saya dan teman sedang memanfaatkan libur kuliah. Kami menggunakan Seishun 18 kippu—tiket yang memungkinkan kita menggunakan kereta-kereta lokal JR sebebas-bebasnya di musim liburan—menjelajahi Osaka, Kobe, Kyoto, Nagoya, dan kini ke Takayama. Kereta yang kami naiki dari Nagoya mentok rutenya di salah satu kota kecil yang namanya sayang sekali saya lupa. Saya mencoba menelusuri peta jalur yang menghubungkan Nagoya-Takayama dan mencoba mengingat-ingat nama kota tersebut, tapi gagal. Mungkin Mino-ota? Pokoknya, sewaktu turun dan mengecek jadwal kereta lokal berikutnya, alamak, masih lama benar. Baru berjam-jam lagi kami bisa tiba di Takayama. Saya memutuskan untuk bertanya ke petugas stasiun. Tidak lama lagi akan ada kereta ekspres ke Takayama, pria muda itu menjelaskan. Namun Seishun 18 kippu tidak berlaku di kereta tersebut, sehingga kami harus membayar lagi. Saya celingukan mencari mesin tiket di peron stasiun itu. Tidak ada. Beli tiketnya di mana?

More

Advertisements

Hamamatsu, November 2014 (Bagian 2): Kastil Tokugawa Ieyasu

Esok paginya, setelah menikmati sarapan di hotel, kami check out dan melangkah lagi ke stasiun bis di depan stasiun utama. Pertama-tama kami hendak menuju Kastil Hamamatsu. Dari terminal bis yang ada di sebelah utara stasiun, kami lagi-lagi menaiki bis ke arah Kanzanji Onsen. Ngomong-ngomong, di Hamamatsu ini banyak penyeberangan di bawah tanah, termasuk yang menuju ke terminal bis. Lorong-lorongnya bersih, tidak menyeramkan. Kadang-kadang ada juga pemusik jalanan yang meramaikan suasana, mempertegas kesan Hamamatsu sebagai kota musik. More

Hamamatsu, November 2014 (Bagian 1): Kota asal piano Yoshiki

Saya dan teman saya, sebut saja K-chan, senang tinggal di Tokyo. Namun ada kalanya kami sumpek juga, entah karena urusan pekerjaan atau sekolah. Suatu hari K-chan berkata kepada saya, “Kita jalan-jalan yuk ke luar kota? Menginap. Sudah dari lama aku ingin ke Hamamatsu.” Akhirnya, kami pun ‘mengorbankan’ satu akhir minggu tidak menonton band kesayangan kami, dan alih-alih bertolak menuju Hamamatsu. Kami janjian bertemu di Stasiun Tokyo pagi-pagi, lantas menumpangi kereta shinkansen menuju Hamamatsu yang terletak di Prefektur Shizuoka. Kami berangkat tanpa memesan hotel terlebih dahulu, karena kami pikir di kota sekecil Hamamatsu tentunya cukup mudah menemukan hotel yang masih punya kamar kosong.

hamamatsu18

More

Kofu Akhir Desember 2014 (2): Menengok Gunung Fuji dari Panorama-dai

Setelah berpisah dengan teman baru saya di halte bis di depan Museum Kage-ei no mori, saya menyeberangi sungai lagi, kembali ke jalan yang dijuluki ‘Crystal Road’. Di jalan yang diapit oleh berbagai toko yang menawarkan produk batu dan kristal ini, saya melangkahkan kaki ke utara. Banyak toko yang tidak buka, karena akhir tahun. Toh sedang tidak banyak pengunjung juga. Saya hanya berpapasan dengan mungkin empat-lima orang.

kofu27

Pandangan saya tertumbuk ke salah satu toko yang berukuran lebih besar dibandingkan rata-rata toko lain. CRYSTAL SOUND, demikian nama yang terpampang. Rupa-rupanya toko itu merangkap sebagai museum gratis. Saya jadi teringat toko-toko batu/kristal di Thailand yang menawarkan atraksi semisal pameran diorama penambangan dan pengolahan batu. Kira-kira sama tidak, ya? Hmmm, nanti deh kalau masih ada waktu saya akan coba masuk. Sekarang saya bergegas untuk naik ropeway ke Panorama-dai. More

Kofu Akhir Desember 2014 (1): Menelusuri Ngarai Shosenkyo

Pagi menjelang. Sambil menikmati sarapan di hotel, saya memikirkan betapa sayangnya harus meninggalkan prefektur Nagano yang bersalju, kembali ke prefektur Yamanashi yang tidak tampak seperti telah memasuki musim dingin. Namun keputusan saya kemarin untuk berganti haluan menuju Matsumoto terlebih dahulu ternyata merupakan pilihan tepat. Pasalnya, hari ini matahari bersinar cerah sekali dan tak ada tanda-tanda awan gelap. Cocok untuk hiking!

kofu02

Dari stasiun Matsumoto, saya menumpangi kereta Jalur Chuo menuju Kofu. Cukup banyak juga orang yang turun di stasiun utama Kofu, dan mereka semua merubung ke jalur yang sama dThis post is about Japani terminal bis, membuat saya yakin bahwa mereka semua juga hendak mendatangi Ngarai Shosenkyo seperti saya. Ada sedikit rasa ngeri bis berikutnya yang datang tidak akan bisa memuat kami semua, dan saya (yang berdiri agak di belakang barisan) mungkin ditinggal dan harus menunggu bis berikutnya. Bis menuju Shosenkyo tidak terlalu rapat jadwalnya, dan di musim libur akhir tahun ini, frekuensi bis juga dipangkas. Untunglah, kami semua masih terangkut oleh bis yang datang, dan saya juga masih mendapat tempat duduk. More

Matsumoto Mendekati Pergantian Tahun 2014-2015 (2)

Yak, ini dia lanjutan cerita saya berjalan-jalan di akhir tahun di Matsumoto.

matsumoto16

Menempuh jalan-jalan kecil yang permai di tengah udara dingin dan segar, akhirnya saya tiba juga di Kastil Matsumoto. Pekarangan di sekelilingnya tidak begitu luas, dan bangunan-bangunan hunian hanya berjarak selemparan batu saja dari kastil. Kalau dibandingkan dengan kastil lain, misalnya Kastil Himeji yang dikelilingi pekarangan yang luas sekali, Kastil Matsumoto nyaris tak berjarak dengan sekitarnya. Hanya saja ada parit yang cukup lebar mengelilingi kastil tersebut, membuat fungsinya sebagai benteng yang sulit ditembus tetap terjaga.

matsumoto17

This post is about JapanMenurut catatan sejarah, kastil ini berasal dari masa Sengoku, dan aslinya bernama Kastil Fukashi ketika dibangun pada tahun 1504. Kastil ini berpindah-pindah tangan, dari trah Ogasawara, ke trah Takeda, dan akhirnya ke sang pemimpin besar Tokugawa Ieyasu. Dengan didirikannya Domain Matsumoto di masa keshogunan Tokugawa, kastil tersebut pun menjadi tempat bernaung penguasa Matsumoto, total sebanyak 23 orang dari enam keluarga berbeda.

More

Matsumoto Mendekati Pergantian Tahun 2014-2015 (1)

matsumoto14

Yak, mari terlontar kembali ke lebih dari setahun lalu, menjelang masa pergantian tahun 2014 menjadi 2015. Ketika asrama kampus saya menjadi sepi karena banyak mahasiswa yang pulang ke kampung halaman masing-masing, atau pada cabut semua memanfaatkan liburan ekstra di tengah semester itu. Saya juga tidak mau kalah. Tepatnya, ih malas juga di asrama yang sepi melulu. Lebih baik main ke kota-kota lain di Jepang dengan biaya hemat. Apalagi di masa liburan akhir tahun, kita bisa menggunakan tiket Seishun 18! Untuk yang belum pernah mendengar tentang tiket istimewa ini, saya pernah menuliskannya di sini.

This post is about JapanDua kota menjadi pilihan saya, yaitu Matsumoto di prefektur Nagano dan Kofu di prefektur Yamanashi. Kedua prefektur ini bersebelahan, dan bisa tercapai dengan kereta lokal di Jalur Chuo. Kebetulan stasiun terdekat dengan asrama saya adalah Musashi-Koganei yang berada di jalur yang sama. Tinggal naik kereta ke arah luar Tokyo! Sebenarnya ada sih kereta cepat Azusa dan Kaiji yang menuju ke Matsumoto, namun harus bayar ekstra. Ah, pikir saya. Tidak perlu lah. Dengan kereta lokal ke Matsumoto paling-paling 5 jam. Pokoknya, dinikmati saja! Pasti banyak hal yang bisa dilihat dalam perjalanan. More

Ito selepas taifun, Mei 2015

This post is about Japan

Matahari bersinar cerah, langit tampak biru terang, yes! Taifun sudah berlalu dari Chubu, tepatnya dari Ito. Para ‘tahanan rumah’ akibat taifun lepas sudah. Hanya ekor taifun berupa angin yang masih cukup kencang yang tertinggal. Tidak masalah, ayo kita mulai lompat-lompat!

ito-08

More

Terkurung taifun di K’s House Ito Onsen, Mei 2015

This post is about Japan

Awan semakin hitam dan tebal saja ketika kami akhirnya mendapatkan kereta yang bergerak meninggalkan Jogasaki Kaigan menuju Ito. Butir-butir hujan pun mulai turun ketika kami berada di dalam kereta. Wah, gawat. Taifun sudah tiba rupanya.

Di stasiun Ito, saya dan Riris berpisah. Saya akan menginap di Ito semalam, sementara Riris langsung pulang ke Tokyo untuk masuk hotel bersama adiknya dan dua orang teman kami yang lain. Saya separuh bercanda mengingatkan dia agar jangan sampai salah naik kereta. Riris juga beberapa kali memastikan rute yang harus ditempuhnya kepada saya.

ito-20

More

Jogasaki Kaigan di Ambang Taifun, Mei 2015

This post is about Japan

Saya mendadak sangat ingin menulis tentang Jogasaki Kaigan gara-gara komik Narita Minako, Hana yori mo hana no gotoku (di Indonesia diterbitkan sebagai More flower than a flower—meski judul yang  lebih enak sepertinya adalah Beauty beyond flower).  Saya baru membaca beberapa volume terbaru karena ketinggalan penerbitannya di Indonesia selama berada di Jepang. Dalam volume 11, karakter utamanya, Kento, berkunjung ke Gunung Takao (sudah pernah saya bahas sebelumnya di sini) . Ini sudah membuat saya senyum-senyum sendiri, ditambah lagi ketika di volume 12 Kento ternyata mendatangi sebuah tempat lain yang masih segar sekali dalam ingatan saya karena baru saya sambangi bulan Mei lalu: Jogasaki Kaigan di Izu.

jogasaki-23

More

Previous Older Entries