Mencari kopi putih ke Ipoh, Agustus 2017 (Bagian 4)

Hari Sabtu! Sesuai rencana kami, kami akan berpindah ke Kuala Lumpur agar keesokan harinya tidak terburu-buru saat harus ke bandara. Sebelumnya, kami menikmati jatah sarapan, kali ini di kafe Old Town yang menyajikan sejumlah pilihan sarapan ala Malaysia. Pilihan saya adalah roti bakar, telur setengah matang, dan jus jeruk.

Kami langsung check out membawa barang-barang, karena kami pikir repot kalau harus bolak-balik ke hotel lagi untuk mengambil barang. Toh kami akan berkeliaran tidak jauh dari stasiun. Kami berjalan kaki menembus kawasan kota lama sampai tiba di Stasiun Ipoh, bangunan megah bergaya kolonial. Di bagian depannya ada taman yang sangat luas, dihiasi sebuah kompas raksasa di pelataran.

Kami membeli tiket kereta sore hari menuju KL. Setelahnya, kami mencari-cari loker untuk menitipkan barang. Ada, sih. Tapi ternyata mesin tokennya rusak…. alias lokernya tidak bisa dipakai. Untungnya, polisi stasiun yang ramah membolehkan kami menitip tas-tas kami yang lumayan besar di kantor mereka. Duh, leganya. Tidak terbayang kalau harus membawa-bawa tas-tas itu ke mana-mana.

Kami kembali ke kota lama, dan akhirnya…. Lim Ko Pi buka! Kesampaian juga niat kami mampir di sini. Apalagi kan memang tujuan awal saya ke Ipoh adalah mencari kopi putihnya! Lucunya, keluarga pemilik Lim Ko Pi mempelajari rasa bangga terhadap seni tradisional dan toleransi sewaktu mereka bertumbuh besar di Balikpapan, Indonesia, demikian tutur mereka kepada The Malay Mail Online.

Lim Ko Pi menunjukkan semangat mereka melestarikan masa lalu Ipoh, tidak hanya dari pilihan menu tradisional yang bisa mengingatkan pengunjung kepada masa kecil mereka, melainkan juga penampilan kedai tersebut. Muka kedai berselaput warna merah, warna yang baik bagi keturunan Cina. Sebelah dalam diramaikan oleh meja dan kursi yang bergaya lama, lampion-lampion merah besar, dan ubin yang dipakai menghiasi dinding.

Kami memesan kopi putih (yang harganya hanya 3,7 ringgit kalau dingin, dan 3,3 ringgit kalau panas), mantao polos, dan pao pumpkin creamy custard. Hmmmm, terpenuhi juga misi utama kami ke Ipoh—dan seandainya bisa sih, kami ingin sering-sering nongkrong di sini!

Berikutnya, satu lagi tempat yang masih tersisa dalam daftar tempat untuk kami kunjungi di Ipoh: Yasmin at Kong Heng, museum untuk sutradara Yasmin Ahmad dan karya-karyanya. Oleh karena museum ini hanya buka Sabtu dan Minggu, dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore, pastikan kunjungan Anda ke Ipoh mencakup akhir minggu.

Harga tiket masuknya 3 ringgit. Oleh penjaga loket, kita akan diminta memilih cap salam beberapa bahasa yang ditulis tangan oleh Yasmin, yang akan diterakan ke atas tiket kita beserta tanda tangan Yasmin. Saya memilih tulisan dalam bahasa Jepang.

Museum ini tidak terlalu besar, tapi sangat menarik. Menempati sejumlah ruangan di bangunan tua di kompleks Kong Heng, museum itu pertama-tama menyambut kita dengan sebuah ruang yang sangat nyaman. Di ruangan itu ada sejumlah tempat duduk dan bean bag, ditata menghadap sebuah TV layar besar. TV tersebut memutarkan iklan-iklan buatan Yasmin. Saya tidak ingat ada berapa tepatnya yang ditayangkan, tapi sepertinya bisalah setengah jam-45 menit sendiri Anda habiskan di hadapan TV itu untuk menonton. Siapkan sapu tangan atau tisu, karena iklan-iklan buatan Yasmin bisa menguras air mata.

Yasmin, orang asli Ipoh, sangat jeli menangkap perasaan, keresahan, dan interaksi ‘orang-orang biasa’. Karya-karya beliau membumi dan menyentuh, yang menampakkan semangat kemanusiaan dan persatuan Malaysia yang kental tanpa menggurui.

Di sebuah ruangan lain, kita bisa melihat meja kerja Yasmin. Mac Yasmin masih bekerja, dan kita dipersilakan membuka sejumlah berkas yang tersedia di komputer itu, misalnya rekaman suaranya membacakan puisi-puisinya dan skrip-skrip untuk berbagai iklan dan film yang ia buat. Kita juga bisa melihat berbagai memorabilia dan kutipan beliau beserta orang-orang yang kenal beliau di museum tersebut.

Oh ya, di sekitar museum ini, seekor kucing bernama Tiger sering terlihat bersantai-santai. Bila bertemu Tiger, jangan lupa menyapa dia ya!

Puas menggali banyak hal tentang Yasmin Ahmad, figur yang monumental, kami kembali mengayunkan kaki, berniat menghabiskan jam-jam terakhir kami di Ipoh sebaik-baiknya. Kami mendatangi Concubine Lane, yang ramai oleh manusia kala siang. Berbagai barang diperdagangkan di kiri-kanan jalan, mulai dari jajanan lokal yang sulit ditemukan di daerah lain sampai kartu pos karya seniman jalanan.

Pilihan kami jatuhkan pada sebuah tempat makan bernama Second Mama Red Bean Ice untuk beristirahat sejenak. Di situ kami menikmati caramel custard dan es longan, yang ternyata tidak terlalu manis, sehingga tidak menimbulkan rasa eneg.

Dari Concubine Lane, kami menuju jalan kecil lain, yaitu Market Lane. Di sini kita bisa jumpai sejumlah mural dan karya seni lain yang membuat jalan ini juga kesohor sebagai salah satu spot berfoto-foto di Ipoh.

Di ujung jalan tersebut terdapat sebuah tempat makan yang menawarkan lam mee—bisa berisikan udang atau ayam. Di situlah kami duduk menyantap makan siang. Lagi-lagi makan ya? Yah, justifikasi kami adalah 1) mumpung ada di Ipoh, lah, 2) kan dari tadi jalan melulu, energi habis dong!

Sayangnya hari-hari menyenangkan kami di Ipoh ditutup dengan agak kurang asyik. Gara-garanya kereta kami ke Kuala Lumpur tertunda sampai dua jam. Gangguan rupanya telah terjadi sejak pagi. Walhasil saat tiba di Kuala Lumpur, hari sudah mulai gelap. Kami sudah terlalu lelah untuk jalan-jalan, sehingga memutuskan untuk makan dan menghabiskan sisa uang di Seven Eleven di dekat-dekat hotel saja (hotel kesayangan saya bila ke Kuala Lumpur, yaitu Hotel Sentral di Brickfields, berseberangan dengan stasiun kereta api pusat KL Sentral).

Esok harinya, kami pun menumpangi bis dari KL Sentral menuju bandara. Perjalanan yang dilandasi keinginan mencicipi kopi putih di tempat asalnya ternyata membuat kami bisa melihat banyak sekali hal di Ipoh yang kaya budaya. Ini saja ada beberapa tempat yang kami lewatkan karena keterbatasan waktu—disimpan dulu deh dalam daftar untuk kali lain.

Dan akhirnya, selesai juga rangkaian tulisan saya yang tertunda lama mengenai Ipoh. Sebaiknya, apa lagi yang saya tulis setelah ini ya? Taipei? Cirebon? Ataukah daerah lain Jepang yang pernah saya kunjungi namun belum sempat saya ceritakan—mungkin Hiroshima, Nagasaki, Kumamoto, Ehime? Kalau ada yang punya usul, silakan tinggalkan di kolom komentar, ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Lompat hari

September 2018
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Arsip Lompat-lompat

%d bloggers like this: