Ringkasan 2013: Singapura, Hong Kong, Lembang, Beijing

Ah.  Sudah lama juga saya tidak menulis di blog ini.  Bukan karena tidak punya cerita, atau tidak bepergian ke mana-mana.  Cerita sih, ada saja.  Tapi beberapa kesibukan lain yang menyita perhatian membuat saya alpa menuangkan cerita-cerita itu ke dalam bentuk tertulis.  Oleh karena itu, sekarang saya sajikan versi ringkas dari apa yang saya jumpai dalam beberapa perjalanan saya tahun ini.

Singapura

Ada saja ya, alasan ke Singapura.  Alasan utama saya adalah beberapa konser yang hanya mampir ke Singapura namun tidak digelar di negeri sendiri.  Ada kesenangan tersendiri bila konser itu digelar di loka yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.  Selalu senang rasanya ‘berkenalan’ dengan loka baru, apalagi bila loka itu ternyata sungguh memuaskan.  Kali ini lokanya adalah The Star Theater, hanya berjalan kaki dari stasiun MRT Buona Vista.

sg-2013-01

More

Hong Kong Museum of Art: Oktober 2012

This post is about China

Akhirnya, setelah beberapa kali hanya lewat saja di depan Hong Kong Museum of Art dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya ke Hong Kong, pada bulan Oktober 2012 ini saya berkesempatan juga berkunjung.  Kebetulan pameran istimewa yang sedang diselenggarakan cukup menarik, yaitu ‘The Secret Garden of Emperor Qianlong’, selain sejumlah pameran lainnya di gedung yang sama.

Keluar dari stasiun kereta MTR Tsim Sha Tsui, Kowloon, saya menyusuri jalanan ke arah Museum Seni, menyeberang jalan besar melalui lorong bawah tanah sampai muncul tepat di samping museum tersebut.  Hari itu, karena masih terlalu pagi dan museum belum buka, saya melipir dulu menyusuri Avenue of Stars.  Entah mengapa, kalau belum ke daerah ini dan melihat laut serta pemandangan pulau utama Hong Kong di seberang sana, rasanya ada yang kurang saat mengunjungi Hong Kong.  Setelah ngopi-ngopi sejenak di Starbucks Avenue of Stars yang merupakan salah satu tempat favorit saya, saya kembali ke Museum Seni dan membayar harga tiket khusus, 20 HKD, agar memperoleh akses ke semua pameran yang digelar di museum hari itu.

Bila dilihat sekilas dari luar, Museum Seni tidak tampak terlalu menarik, bahkan bangunannya cenderung kaku dan kuno.  Namun yang saya sukai dari arsitekturnya adalah keterbukaan dan keleluasaan yang dihadirkan sebagai bagian dari koridor tepi laut Kowloon.  Bagian dalam museum memang tak bisa sembarang dimasuki, namun sekelilingnya dan bahkan teras di lantai dua bebas-bebas saja dilewati dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang hendak bersantai atau berolahraga.

Pameran-pameran pun ditunjang oleh pamflet-pamflet dan multimedia yang sangat membantu, bahkan menggelitik pengunjung.  Khusus pameran taman Kaisar Qianlong yang tidak boleh difoto, kita jadi bisa mencicipi sedikit kedamaian dan keindahan taman yang aslinya berada di salah satu pojok Kota Terlarang, Beijing.  (Waktu ke Kota Terlarang, sayangnya seingat saya, saya juga tidak sempat mengunjungi taman ini.  Sekarang juga taman tersebut tidak bisa dilihat pengunjung karena sedang direnovasi.)  Pameran berbagi artifak tidak hanya mengajak kita menengok sekejap taman yang berada ribuan kilometer jauhnya itu, melainkan juga kepribadian dan riwayat sang kaisar serta kehidupan istana pada masanya.

Di bagian-bagian lain museum itu, memotret dibolehkan, asalkan tidak menggunakan lampu kilat demi menjaga agar barang-barang yang dipamerkan tidak rusak.   Tanpa terasa, di museum yang sepertinya tidak begitu besar itu, saya melihat dan mempelajari banyak hal hanya dalam beberapa jam.  Mulai dari kaligrafi Cina, representasi hewan dalam karya-karya seni Cina, berbagai bentuk keramik Cina dari berbagai masa – sungguh menakjubkan rasanya melihat sebuah artifak utuh yang berasal dari abad ke-3 M, bahkan dari masa yang lebih tua lagi – hingga pameran hasil karya pelukis-pelukis Cina yang berguru pada para pelukis Barat.

Dalam pameran terakhir itu, ternyata meskipun menggunakan teknik-teknik yang sama, representasi objek yang sama dari mata pelukis Cina dan pelukis Barat bisa berbeda sekali.  Misalnya, tatkala pelukis Barat menggambarkan penderitaan tawanan yang dipasung, pelukis Cina menggambarkan tawanan dengan dingin, dengan wajah yang lempeng-lempeng saja.

Puas melihat-lihat dan belajar, kita bisa bersantai sejenak di kafe museum, ataupun melihat berbagai pernak-pernik dan suvenir yang dijual di toko museum.  Sebenarnya ingin juga menikmati pagi yang tinggal secuil itu di kafe tersebut, namun hari itu saya ada agenda lain di siang hari.  Setelah membeli beberapa barang kecil di toko museum untuk kenang-kenangan seadanya, saya pun melesat pergi, dalam hati bertekad untuk mencek pameran apa yang sedang digelar di Museum Seni Hong Kong setiap kali saya kebetulan ada di kota tersebut.

 

 

Panduan ringkas menonton konser Laruku di Hong Kong dan Bangkok

This post is about China This post is about Thailand

Band rock raksasa Jepang, L’arc-en-Ciel alias Laruku, menggelar tur dunia!  Sayang sepertinya negara kita belum kebagian menjadi bagian dari tur mereka ini.  Namun bagi yang berniat mengejar mereka ke dua kota terdekat tempat konser Laruku tahun ini diselenggarakan – Hong Kong dan Bangkok – semoga tulisan kami berikut ini membantu.  Siapa tahu, kalaupun bukan Laruku, suatu hari Anda berkesempatan menonton konser bintang lain di kedua kota tersebut.

HONG KONG

Tempat penyelenggaraan: Asia-World Expo

Untuk melihat panduan umum kami mengenai Hong Kong, silakan cek artikel kami yang ini.

Di mana membeli tiket?

Anda bisa membeli tiket pertunjukan melalui HK Ticketing.  Desain situsnya memang agak ‘jadul’ dan tidak begitu enak dilihat, namun cukup mudah untuk pembelian tiket dengan menggunakan kartu kredit.  Cetak bukti pembelian, dan nanti setelah sampai di Hong Kong, tukarkan bukti pembelian dengan tiket sungguhan di cabang Tom Lee Music mana saja.  (Bisa Anda cek di Google di mana cabang TLM terdekat dengan tempat Anda menginap.)

Contoh tiket asli hasil penukaran bukti pembelian melalui HK Ticketing di Tom Lee Music.

Di mana sebaiknya menginap?

Di sekitar Expo dan bandara sebenarnya ada beberapa hotel, namun semuanya tergolong mahal.  Bila Anda tidak keberatan sih tidak apa-apa.  Namun untuk yang mencari penginapan murah-meriah, carilah penginapan di daerah Kowloon.  Cari yang sedekat mungkin dengan jaringan kereta MTR (ya, bukan MRT, yang ini singkatan dari Mass Transit Railway), misalnya di sekitar Mongkok.  Di Mongkok juga mudah memperoleh berbagai kebutuhan dan dekat dengan beberapa objek wisata lain Hong Kong, seandainya Anda ada waktu lebih untuk menjelajahi kota tersebut selain menonton konser.

Bagaimana mendatangi tempat konser?

Bisa dengan taksi (yang jelas akan menyita banyak uang), bis (biasanya ada rute dan potongan harga khusus bila ada acara di Asia-World Expo), atau kereta bandara (Airport Express).  Cek sebelum konser, barangkali ke situs Asia-World Expo, apakah ada potongan harga untuk pemegang tiket konser yang ingin menggunakan Airport Express!  Biasanya untuk memperoleh potongan harga itu, selain tiket konser, Anda juga harus memegang Kartu Octopus.  (Lihat artikel kami soal Hong Kong yang kami tautkan di atas untuk mengetahui tentang Kartu Octopus, ya!)  Misalnya,  kami pernah memperoleh potongan harga tiket Airport Express bolak-balik dari 100 HKD menjadi 48 HKD saja dengan menunjukkan tiket konser kami.  Bahkan yang naik dari Stasiun Tsing Yi waktu itu dibolehkan menumpang Airport Express dengan gratis!  Cepat, nyaman, dan tergolong murah, bila dibandingkan dengan taksi.

Airport Express ini bisa Anda naiki dari beberapa stasiun saja: Hong Kong, Kowloon, dan Tsing Yi.  Bila Anda menginap di Mongkok, naiklah MTR ke stasiun Central, lalu berjalankakilah mengikuti petunjuk ke stasiun Hong Kong (tidak perlu keluar ke atas tanah).

Namun harap diingat bahwa MTR tidak berjalan 24 jam!  Biasanya antara jam 11-12 malam, kereta-kereta terakhir meninggalkan stasiun keberangkatan paling ujung.  Dulu saya dan teman juga terpaksa berlari-lari demi mendapatkan kereta terakhir menuju Kowloon!  Kalau sampai ketinggalan, persiapkan diri mempergunakan moda transportasi lain.

Pemandangan di dalam Asia-World Expo.

BANGKOK

Tempat penyelenggaraan: Impact Arena

Untuk melihat panduan umum kami mengenai Bangkok, silakan cek artikel kami yang ini.

Di mana membeli tiket?

Manfaatkan situs pembelian tiket daring Thai Ticket Major.  Seperti juga HK Ticketing, nantinya bukti pembelian Anda harus ditukarkan dengan tiket asli di salah satu cabang atau outlet TTM.  Salah satunya ada di mal Siam Paragon yang terletak di pusat kota Bangkok dan mudah dicapai dengan kereta BTS.

Di mana sebaiknya menginap?

Meskipun backpacker banyak yang menyenangi Khao San Road, bila Anda ingin mudah berkeliling dengan sky train/BTS dan subway, saya menyarankan Anda mencari penginapan yang tidak jauh dari rangkaian kereta-kereta tersebut.  Saya biasanya mencari penginapan di daerah Sukhumvit.

Bila ingin mencoba apart’hotel yang tergolong murah untuk fasilitas yang tersedia, cobalah salah satu cabang Citadines yang ada di daerah Nana.  Apart’hotel ini sangat nyaman, dan cabang-cabang Citadines terletak tak jauh dari stasiun BTS Nana, dikelilingi sejumlah tempat keramaian termasuk yang hanya ramai kala malam.  Mudah mencari makanan dan berbelanja ini-itu di daerah tersebut.  Pilihan lain, bisa coba Hi-Sukhumvit, guest house yang sederhana namun bersih yang juga terletak tidak jauh dari stasiun BTS Thong Lo.  Daerah di sekitar Hi-Sukhumvit lebih tenang dan tidak ‘seajeb-ajeb’ Nana.

Di apart’hotel semacam Citadines, selain kamar yang luas dan perlengkapan dasar yang lengkap, ada pula dapur dengan peralatan memasak dan makan yang komplit sehingga Anda bisa menyiapkan makanan sendiri.

Selain dua alternatif yang kami tawarkan, masih banyak penginapan menarik, aman, bersih dengan harga terjangkau di Bangkok.

Bagaimana mendatangi tempat konser?

Sebenarnya, Impact Arena tidak terletak di dalam kota Bangkok, melainkan cukup jauh keluar di sebelah utara.  Bila tidak mau repot, apalagi kalau bersama teman-teman, bisa naik taksi langsung dari tempat menginap ke Arena.  Taksi di Bangkok tidak begitu mahal apalagi bila dibayar bersama oleh beberapa orang.  Atau, biar tidak repot mencari kendaraan pulang, cobalah menyewa mobil yang akan menunggu sampai konser usai.  Anda mungkin harus melewati jalan tol.

Bila ingin lebih murah, naiklah BTS ke stasiun Mo Chit (stasiun tujuan yang sama dengan bila Anda ingin mengunjungi Pasar Chatuchak).  Dari sini bisa naik taksi, atau menumpang shuttle bus yang harganya hanya beberapa puluh baht.

Semoga tulisan pendek kami membantu Anda yang hendak menonton konser ke dua kota tersebut.  Bagi-bagi cerita ya tentang pengalaman Anda nanti!

Mencari yang Halal di Beijing

This post is about China

Salah satu pertanyaan yang paling kerap diajukan pemeluk Islam yang hendak bepergian ke Cina barangkali adalah, “Di sana makannya susah nggak sih?”  Terbayang dalam benak berbagai hidangan Cina yang menggunakan daging atau lemak babi sebagai bahannya.  Ada pula yang mengkhawatirkan  daging hewan lain yang disembelih tidak dengan menyebut nama Allah.  Lalu, oleh-oleh makanan apa yang aman untuk dibawa pulang dari Cina, untuk dibagikan kepada teman-teman dan handai-taulan?

Agama Islam telah cukup lama menjadi bagian dari kehidupan bangsa Cina.  Beberapa suku minoritas, misalnya Uighur, hingga kini memeluk Islam.  Di Beijing ada satu kawasan – Niujie, dengan niu berarti kerbau – yang merupakan pusat warga Beijing yang beragama Islam.  Letaknya juga tidak jauh-jauh amat dari pusat kota tua.  Bila naik metro, bisa turun di Caishikou, Taoranting, dan Changchunjie, lalu berjalan kaki.  Agak jauh sih, tapi anggap saja sekalian melihat-lihat kiri dan kanan.

Barangkali kalau Anda sangat berhati-hati soal makanan, carilah tempat menginap di kawasan ini, karena mudah sekali menemukan kedai dan restoran hidangan halal.  Meskipun demikian, jangan kaget bila tempat-tempat ini juga menjual bir, minuman. yang banyak dikonsumsi warga Cina non-Muslim.

Papan nama supermarket Muslim Niujie.

More

Beijing, Tanpa Paket Tur

This post is about China

Pergi ke Beijing tanpa paket tur, praktis tidak sih?  Ya, bisa-bisa saja, asal Anda tidak keberatan berjalan jauh, naik-turun kereta atau bis, dan bersusah-payah sedikit.  Dengan perencanaan yang bagus, Anda bisa menghemat uang cukup banyak namun tetap dapat mengunjungi tempat-tempat yang sama dengan yang didatangi paket tur, bahkan mungkin dengan jadwal yang lebih leluasa.

Lapangan Tian’anmen dan Kota Terlarang

Sepertinya siapa pun yang berkunjung ke Beijing tak akan mau melewatkan kedua tempat yang berseberangan jalan ini.  Bila naik metro, Anda bisa turun di stasiun Tian’anmen West ataupun East.  Ikuti petunjuk menuju Lapangan Tian’anmen, yang terabadikan dalam foto-foto menggetarkan protes mahasiswa tahun 1989.  Siapa yang tak tergerak hatinya melihat seorang pemuda berdiri dengan gagah berani di depan tank yang siap melindasnya?  Namun kini untuk memasuki Lapangan Tian’anmen, jangan harap bisa membawa bahkan sekadar niat berdemo.  Pemeriksaan ketat terhadap tas dengan mesin sinar-X, dan juga pemeriksaan tubuh bila perlu, akan dilakukan oleh aparat yang berjaga-jaga di pintu-pintu masuk menuju Lapangan Tian’anmen.

More

Pengantar: Beijing

This post is about China

Beijing sedang diterpa angin kencang yang datang dari Mongolia.  Terkadang tiupan angin begitu laju, nyaris menyeret saya serta entah ke mana ia pergi.  Tapi teman-teman berkata: justru sekarang ini musimnya enak untuk berkunjung ke Beijing.  Tidak terlalu dingin, tidak terlalu panas.  Yang penting: kepala tetap dingin.

“Jangan harapkan orang sini minta maaf kalau mereka menabrak kita,” kata seorang teman yang telah 11 tahun bermukim di Beijing.  “Bukannya mereka tidak sopan.  Karena dengan orang sebanyak ini, bagi mereka bertabrakan itu hal yang tidak bisa dihindarkan, tidak perlu dibesar-besarkan.”

Saya mengingat-ingat nasihatnya itu, dan selama beberapa hari di Beijing, saya juga berusaha menjadi orang yang lebih cuek dari biasanya: diam saja ketika ditabrak, meski kalau saya yang menabrak, saya otomatis berkata “Sorry.”

Tak perlu pula emosi bila pelayan seolah melemparkan sumpit, tisu, dan piring ke meja Anda.  Meskipun mungkin rasanya agak risih bagi kita, memang begini gaya mereka, bukannya mereka sedang berlaku tidak sopan.

Teman saya itu juga berkata untunglah saya datang ke Beijing sekarang, setelah Olimpiade.  “Dulu sewaktu gue datang pertama ke sini, meski pakai you-can-see, cewek-ceweknya tidak cukur bulu ketiak,”  Ia tertawa geli mengenang.  “Namun sekarang mereka modis-modis sekali.”

Saya memandang berkeliling dan mengiyakan.  Yang saya tak habis pikir, beberapa gadis tampak mengenakan stiletto – padahal mereka harus berjalan kaki jauh bila menaiki metro, entah itu menuju bangunan tujuan mereka atau berpindah jalur, dan seringkali harus mendaki tangga yang cukup tinggi.  Wow.  Apa mereka tidak merasa kerepotan?  Namun jelas keberadaan 15 jalur metro telah sangat membantu pergerakan mereka – dan juga para penghuni Beijing yang berbelas-belas juta.  Seandainya tidak ada jalur-jalur kereta bawah tanah ini, entah bagaimana kacaunya ketika mereka semua harus berangkat sekolah atau bekerja dan pulang pada waktu nyaris bersamaan.

Metro, bis, atau taksi?

Bagi pengunjung seperti saya, keberadaan kereta bawah tanah juga amat membantu.  Bepergian ke berbagai tempat yang jauh dari tempat saya menginap, dan yang tentunya tak pernah saya datangi sebelumnya, menjadi mudah.  Cukup cek jalur kereta (misalnya di situs ini), mana yang paling dekat dengan tujuan kita, rencanakan perpindahan jalur yang efektif kalau perlu, dan, voila, tidak perlu takut tersesat.  Papan-papan petunjuk arah yang dilengkapi tulisan Latin siap membantu kita.  Pengumuman dan petunjuk di kereta juga dilengkapi transliterasi.

Kartu sekali jalan Metro Beijing.

Berkat subsidi, harga tiket kereta bawah tanah di Beijing menjadi amat murah.  Dengan 2 CNY (yuan), selama kita tidak keluar dari stasiun, kita bebas bepergian ke stasiun mana saja.  Kalau di Jakarta, miriplah dengan sistem karcis Transjakarta: harganya flat, tidak seperti subway Singapura atau Hongkong yang menghitung berdasarkan jarak.

Anda bisa membeli tiket langsung dari loket, ataupun melalui mesin yang menerima uang logam pecahan 1 CNY dan uang kertas mulai dari 5 CNY.  Bila tidak mengerti bahasa Cina, ubah saja bahasa yang terpampang di mesin menjadi bahasa Inggris.  Sebelum memasuki peron, bila Anda membawa tas atau kantong belanja, segala bawaan Anda itu harus dilewatkan di dalam mesin sinar-X terlebih dahulu untuk pemeriksaan.  Ya, soal ini memang pemerintah Beijing sangat ketat dan berhati-hati.

Sorongkan tiket Anda ke mesin pembaca di gerbang masuk, dan simpan tiket tersebut, karena harus Anda masukkan ke mesin pembuka gerbang di tempat tujuan akhir Anda nanti.

Bagaimana dengan bis umum?  Harga karcis bis dalam kota juga flat, 1 CNY.  Jadi bila hendak ke mana-mana, siapkanlah uang receh yang siap dimasukkan ke dalam kotak di depan pintu masuk bis.  Sayangnya, meskipun di bis biasanya ada petunjuk nama-nama halte yang dilengkapi dalam transliterasi Latin, di halte sendiri petunjuk rute bis hanya menyertakan transliterasi untuk tempat awal dan tujuan akhir bis.  Sebaiknya bila Anda memang memutuskan untuk naik bis ke tempat tertentu, ceklah di situs internet (atau tanyakan kepada orang yang mengerti) untuk mengetahui nomor bis dan di halte mana saja bis itu bisa Anda peroleh.  Ada baiknya juga Anda mencatat atau menandai peta nama tempat tujuan Anda dalam tulisan Cina, agar mudah ditunjukkan kepada orang ketika menanyakan jalan.

Halte-halte di Beijing dilengkapi petunjuk nomor dan rute bis yang singgah di halte tersebut.

Taksi di Beijing juga tidak terlalu mahal, meskipun biaya flagfall (buka pintu)-nya cukup besar, 10 CNY.  Namun bila Anda memang harus menggunakan taksi, dan apalagi bila perginya tidak sendirian sehingga tarif taksi bisa dibagi bersama, kantong Anda tak akan terlalu diberati.  Oya, jangan marah-marah kalau supir taksi menambahkan 2 CNY ke tarif akhir Anda, karena ini memang peraturan di sana.  Tambahan ini bisa berubah-ubah setiap waktu.  Hanya beberapa hari sebelum saya tiba di Beijing, besarnya hanya 1 CNY.

Toilet umum

Ah, ya.  Masalah ini juga harus saya bahas, karena banyak juga yang penasaran soal kabar-kabar yang beredar mengenai toilet umum di Beijing.  Apa benar sedemikian parahnya?  Kalau soal ini, lagi-lagi teman saya berkata, “Untung lu datangnya setelah Olimpiade.”  Ya, karena dalam rangka persiapan besar-besaran menyambut Olimpiade, pemerintah Cina merombak banyak fasilitas umum di Beijing demi kenyamanan para pengunjung.  Toilet-toilet umum berubah menjadi toilet kering, baik yang duduk ataupun yang jongkok, dengan tisu, wastafel, dan sabun tersedia.

Fasilitas boleh berganti—kebiasaan yang susah diubah.  Siap-siap saja ‘mematirasakan’ indra bila Anda memasuki toilet umum di Beijing.  Rata-rata memang bersih, namun beberapa kali juga saya dapat ‘jackpot’, mendapati WC bekas buang air besar yang tidak disiram.  Di berbagai tempat (bahkan di dalam pesawat terbang!) pemerintah atau pengelola bangunan juga harus memasang peringatan yang kira-kira berbunyi ‘Demi kenyamanan, harap kunci pintu toilet Anda’.  Dan, ya, bahkan di pesawat terbang, ada saja yang menggunakan toilet tanpa mengunci pintu, membuat pramugari dan orang yang mengantri kebingungan.   Cerita heboh datang dari seorang rekan: ia mendapati 2 orang perempuan duduk di toilet yang berhadap-hadapan, dengan pintu terbuka, sambil mengobrol!

Jadi, yah, seperti juga di mana pun, tengok-tengok saja dulu toilet umumnya sebelum masuk: terlihat meyakinkan atau tidak?  Kalau rasanya tidak, ya, masih banyak kok toilet umum di Beijing yang bisa dimanfaatkan, misalnya di pusat-pusat perbelanjaan menengah ke atas yang tentunya lebih terjamin.  Gratis ini, hehehe.

Kebiasaan lain: meludah

Ini kebiasaan lain penduduk Beijing yang cukup mengganggu untuk orang yang tidak terbiasa.  Mereka gemar meludah di mana pun, termasuk di dalam ruangan: dan sebelum diludahkan, mereka ‘mengocok’ dahulu dahak itu dalam tenggorokan sehingga mengeluarkan bunyi keras.  Pokoknya jangan menyender ke dinding atau duduk di lantai, deh.  Bercak-bercaknya saja sudah mencurigakan.

Eh, tapi jangan karena kisah-kisah kami ini, Anda jadi malas berkunjung ke Beijing, karena kota ini sebenarnya menawarkan banyak hal yang mengesankan.  Ini sekadar agar Anda bersiap-siap dan tidak malah marah-marah mendapati penduduk Beijing melakukan banyak hal secara berbeda dengan kita.  Di bagian lain dari seri laporan Lompat-lompat ke Beijing, kami akan menampilkan cara mengunjungi sejumlah tempat terkenal di Beijing tanpa mengambil paket tur dari biro perjalanan, dan juga melihat sisi kehidupan Cina Muslim di Beijing.

Mengurus Visa Cina

This post is about China

Halo teman-teman melompat, apa kabar?  Maaf kalau kami agak jarang memperbarui isi blog kami ini akhir-akhir ini.  Masing-masing anggota sibuk sekali, selain pekerjaan, juga sibuk mempersiapkan sejumlah lompatan ke beberapa negara di bulan April sampai Juli.  Ke mana saja?  Nantikan kabar dari kami ya.  Tapi barangkali post berikut ini memberikan petunjuk untuk kalian.

Mengurus visa Cina tergolong cukup mudah dan tidak ribet.  Bila tujuan kita hanya berwisata, cukup menyerahkan formulir aplikasi yang telah diisi lengkap, selembar pasfoto terbaru dengan latar belakang terang, dan paspor kita.  Bahkan tidak perlu bukti pembelian tiket pesawat dan hotel terlebih dahulu.  Bila Anda ke sana untuk training, gunakan visa kunjungan bisnis.  Untuk informasi selengkapnya tentang jenis visa yang harus atau bisa Anda ambil, silakan lihat di sini.

Kedutaan Besar Cina juga menyediakan pelayanan beberapa jenis visa, tergantung dari apakah kita ingin masuk sekali saja, dua kali, atau berkali-kali, dan apakah kita membutuhkan visa jadi hari ini, esok hari, atau tidak terburu-buru sehingga tidak mengapa visa baru jadi beberapa hari kemudian.  Untuk daftar biaya pengurusan visa sesuai jenis yang kita kehendaki, silakan cek di sini.  Pembayaran dilakukan sewaktu mengambil visa yang telah selesai.

Oya, yang perlu jadi perhatian:

1.  Kita tidak mengurus visa di Kedutaan Besar Cina yang terletak di Mega Kuningan, melainkan di gedung The East yang terletak tidak jauh dari kedubes tersebut.  Visa Application Center terletak di lantai dua mezanin.

2.  Harga yang tertera di situs yang tautannya saya berikan di atas adalah harga dari kedubes.  Namun karena pengurusan visa diserahkan kepada Visa Application Center yang terletak di The East itu, ada biaya tambahan 240 ribu rupiah.  Jadi kalau Anda berniat mengambil visa wisata single-entry, total yang harus dibayar (menurut harga saat ini) adalah (300 + 240) = 540 ribu rupiah.

Nah, semoga informasi dari kami ini membantu Anda yang berniat mengajukan aplikasi visa ke Cina.  Sekian dulu, dan tunggu kabar terbaru dari kami ya!

Panduan Ringkas Mengunjungi Hong Kong

This post is about China

Kapan sebaiknya mengunjungi Hong Kong?

Pokoknya, asal jangan musim badai.  Panas dan dingin relatif masih bisa diatasi, tapi tidak badai.  Segala kegiatan bisa-bisa terhenti bila badai sedang melanda Hong Kong dan sekitarnya.  Jadi, cek terlebih dahulu apakah pada tanggal yang Anda kehendaki musim badai sedang berlangsung atau tidak – kecuali bila memang gejolak adrenalin Anda membuat Anda ingin merasakan seperti apa sih badai di Hong Kong itu.  November-Desember mungkin bisa jadi pilihan bagus.  Atau, bila sasaran utama Anda adalah Disneyland, coba cari tanggal di sekitar/saat peristiwa penting macam Hallowe’en dan Natal, karena Disneyland akan semakin mempercantik diri agar sesuai dengan tema hari tersebut.

Langit musim dingin Hong Kong

Suasana Natal di Main Avenue Disneyland

Untuk merasakan pengalaman budaya yang juga unik, pastikan Anda ada di Hong Kong pada hari Minggu, ketika wilayah ini berubah menjadi ‘Indonesia Mini’.  Saat itu, saudara-saudari kita yang bekerja di sana memperoleh hari libur dan keluar beramai-ramai untuk beraktivitas bersama dan bersilaturahmi.  Bahasa-bahasa dari Indonesia mudah terdengar di dalam kereta, bis, Victoria Park, Masjid Kowloon, dan lain sekitarnya.  Ini membuat saya berpikir-pikir mengenai apa betul sebuah kebudayaan baru sedang terbentuk melalui hubungan yang terjalin antara tenaga kerja Indonesia dan anak-anak yang mereka asuh.

Masjid Kowloon – hanya beberapa langkah dari salah satu pintu keluar stasiun kereta Tsim Sha Tsui.

Bagaimana mengunjungi Hong Kong?

Maskapai-maskapai seperti Garuda Indonesia dan Cathay Pacific memiliki jalur penerbangan langsung dari Jakarta ke Hong Kong.  Untuk maskapai yang lebih murah, bisa pilih Mandala Air (seperti yang saya lakukan).  Bila hendak menggunakan AirAsia, dari Jakarta harus menuju kota lain dulu seperti Kuala Lumpur.  Rencananya, tahun 2011 AirAsia akan membuka jalur langsung Medan-Hong Kong.

Mandala Air juga terbang ke Macau, dan mungkin Anda ingin mengunjungi satu lagi wilayah administrasi khusus Cina ini terlebih dahulu atau sesudah menyambangi Hong Kong.  Hong Kong dan Macau dihubungkan oleh feri dengan frekuensi antara setengah jam sampai satu jam sekali, tergantung siang ataukah malam.  Harga feri sekali jalan juga berbeda-beda tergantung waktu – malam tentunya lebih mahal.  Ada beberapa perusahaan yang melayani rute HK-Macau dengan kualitas dan harga tidak jauh berbeda.

Asal hati-hati saja memilih feri yang tepat menuju terminal yang Anda kehendaki di Hong Kong: apakah yang akan berlabuh di Hong Kong-Macau Ferry Terminal, Hong Kong Island (bila Anda hendak menuju The Peak, Museum Lilin Madame Tussaud, atau naik kereta ekspres menuju Disneyland) ataukah di China Ferry Terminal, Kowloon (di mana Anda bisa menelusuri Avenue of Stars, Museum Antariksa, Museum Seni, Museum Sejarah, Masjid Kowloon, Kowloon City, dan Mongkok).

Kecuali Anda meminta khusus, petugas karcis akan memberikan tiket feri yang paling dekat dengan waktu Anda membeli.  Pemeriksaan imigrasi di terminal feri Hong Kong dan Macau sigap memeriksa dan melewatkan penumpang, sehingga tidak perlu khawatir akan ketinggalan feri selama Anda memastikan diri tidak bermasalah.

Naik feri asyik, cepat, dan menawarkan pemandangan indah dari jendela, namun hati-hati bila Anda mudah mabuk.  Saya sendiri tidak mudah mabuk, namun pernah kombinasi dari arus laut yang kencang, feri yang ngebut, dan perut yang kosong tak urung membuat saya puyeng juga.  Keadaan saya membaik setelah lambung saya diganjal dengan mi instan yang dijual di atas feri.

Sementara dari Cina daratan, ada beraneka ragam mode transportasi seperti feri dan bis.

Bagaimana berkeliling di dalam Hong Kong?

Pertama-tama, tentu jangan lupa memastikan alamat dan mencek lokasi tempat-tempat yang ingin Anda kunjungi di Google Maps.  Dengan cara ini, Anda bisa menimbang-nimbang mode transportasi terbaik yang bisa Anda gunakan.

Manfaatkan kartu Octopus, kartu transportasi (dan belanja) yang praktis dan menawarkan potongan harga di berbagai tempat.  Contohnya, tanpa kartu Octopus, tiket sekali jalan dari stasiun Mongkok ke Tsim Sha Tsui adalah HKD 5, yang harus Anda beli di mesin tiket otomatis.  Bila menggunakan si kartu gurita, harga tiket yang akan dipotong otomatis dari kartu Anda yang disentuhkan ke layar khusus di pintu masuk dan keluar, adalah HKD 4,5.

Begitu tiba di salah satu gerbang masuk Hong Kong, carilah penjual kartu Octopus (misalnya loket layanan pelanggan di stasiun kereta atau toko waralaba).  Bila bukan edisi koleksi yang bisa disimpan terus, kartu Octopus ‘pinjaman’ (on-loan) dihargai HKD 150 pada pembelian pertama.  HKD 50 di antaranya adalah uang jaminan yang akan dikembalikan sewaktu Anda memulangkan kartu Anda, sementara 100-nya bisa Anda manfaatkan.

Bila isi kartu habis, tinggal Anda isi ulang di mesin yang tersedia di stasiun kereta atau di toko waralaba.  Bila Anda tak sempat mengisi namun kredit kartu Octopus sudah mengenaskan, kartu Anda bisa bernilai minus, kok.  Nilai minus itu akan ditambal oleh pengisian ulang berikutnya atau dipotong dari uang jaminan Anda.  Saat pemulangan kartu, ada pemotongan biaya pengembalian kartu sebesar HKD 7.

Bila Anda menggunakan feri dan tiba di terminal Hong Kong Island, bila merasa lebih sreg daripada menggunakan bis atau taksi, Anda bisa berjalan sedikit untuk mencapai stasiun kereta Sheung Wan atau Hong Kong (dan dari situ Anda bisa meneruskan melalui lorong bawah tanah ke Central).

Sementara saat mendarat di terminal feri Kowloon, Anda bisa langsung menaiki bis atau taksi yang menanti di sebelah bawah terminal.  Bila bugar dan punya banyak waktu, susuri saja tepi laut ke arah selatan, melewati menara jam, dermaga feri internal Hong Kong yaitu Star Ferry Piers dan Kowloon Public Piers (tempat Anda bisa memperoleh feri menuju pulau-pulau lain di wilayah Hong Kong), melewati Museum Seni dan Museum Antariksa, sampai tiba di Avenue of Stars, di mana Anda bisa menyaksikan cap-cap tangan para pelaku dunia perfilman Hong Kong dan patung Bruce Lee.  Dari Avenue of Stars, Anda bisa berjalan kaki (lagi) menuju salah satu dari dua stasiun MTR terdekat, Tsim Sha Tsui atau East Tsim Sha Tsui.

Star Ferry Piers

Menara Jam

Avenue of Stars

Bila Anda tiba melalui bandar udara HKIA, saya tidak menyarankan taksi bila ingin berhemat.  Misalnya saja, dari HKIA ke Kowloon bisa habis HKD 300 sekali jalan.  Manfaatkan bis – jaringan bis dan bis mini Hong Kong sangat baik.  Informasi rute yang tersedia di situs perusahaan-perusahaan bis sangat terperinci, termasuk memaparkan foto masing-masing halte tempat setiap bis berhenti dan harga yang harus Anda bayarkan.  Huruf depan kode bis biasanya adalah A atau E, namun bis-bis ini beroperasi hanya sampai tengah malam.  Selepas tengah malam, Anda harus mencari bis malam dengan kode N.  Misalnya, pukul 1 siang, dari bandara ke Mongkok Anda bisa menggunakan bis A21, sementara pada pukul 1 malam Anda harus mencari bis N21.

Peringatan bila menggunakan bis: sediakan uang pas, karena di bis tidak ada kembalian.  Kalau tiket bis adalah HKD 23 sementara Anda hanya punya pecahan HKD 30, ya HKD 7 itu akan melayang.  Pesan moralnya: di Hong Kong, uang receh sangat penting.

Di dalam salah satu gerbong Airport Express.

Cara praktis lain menuju kota dari bandara adalah menggunakan Airport Express.  Kereta khusus ini hanya berhenti di 5 perhentian, yaitu Asia World-Expo, HKIA, Tsing Yi, Kowloon, dan Hong Kong Station.  Harga tiket bolak-balik adalah HKD 100 tanpa kartu Octopus dan HKD 72 dengan kartu Octopus.  Biasanya juga ada potongan harga lagi untuk hadirin acara di Asia World-Expo (cek saja laman transportasi di situs loka tersebut).  Saya pernah dapat tiket bolak-balik Hong Kong Station-Asia World-Expo (berlaku satu hari) dengan harga hanya HKD 48 dengan kartu Octopus.

Bila Anda hendak menuju Disneyland Resort,  naikilah MTR jalur Hong Kong Station-Tung Chung.  Turun di Sunny Bay, berpindah ke kereta ekspres Disney dengan wujud yang pasti langsung memikat hati para penggemar Disney.  Anda bisa menggunakan kartu Octopus, ataupun membeli tiket bolak-balik seharga HKD 50 yang bisa disimpan sebagai kenang-kenangan.

Menanti Disneyland Express di stasiun Sunny Bay.

Anda pasti kenal siapa yang punya kepala berbentuk seperti jendela itu!

Peta jaringan kereta Hong Kong bisa Anda peroleh di situs resmi perusahaan kereta dalam-kota HK, MTR (Mass Transit Railway).

Bila sasaran Anda adalah The Peak, di mana Anda bisa mengamati HK dari ketinggian dan memuaskan rasa tak kesampaian bertemu langsung bintang terkenal di Madame Tussaud, Anda bisa naik bis yang menyusuri jalan menanjak berliku-liku, atau naik tram khusus The Peak.  Perhatikan tiket yang Anda beli, dan jangan keburu mengomel ketika harus membayar mahal, karena tiket ada bermacam-macam.  Ada tiket yang untuk naik tram The Peak saja, atau yang sekaligus dipaketkan dengan tiket masuk ke Sky Terrace, Madame Tussaud, ataupun tiket bis wisata hop on-hop off sepuasnya di Hong Kong Island.

The Peak, yang sebetulnya tidak di puncak-puncak banget.

Hong Kong dilihat dari bis yang sedang mendaki menuju The Peak.

B-beb-beb-beb Bruuuuce!

Trem dan taksi di Hong Kong.

Bagaimana dengan taksi?  Taksi yang beroperasi di wilayah HK berbeda-beda , ditandai oleh tiga macam warna bodi:

  • merah, yaitu taksi perkotaan.
  • hijau, taksi New Territories.
  • biru, taksi wilayah Lantau.

Yang perlu Anda ingat, tak semua supir taksi HK:

  1. bisa berbahasa Inggris,
  2. (boro-boro berbahasa Inggris) bisa membaca huruf Latin pun tidak,
  3. cukup ramah untuk tak mengomel di hadapan Anda dengan bahasa Kanton/Putonghua yang tak Anda mengerti.

Pernah saya menunjukkan sebuah alamat ke supir taksi.  Pertama-tama saya mengajaknya berbicara dalam bahasa Inggris, dan dia menyahut ‘no English’.  Oh, oke.  Toh saya sudah menyiapkan alamat yang saya tuju dalam tulisan Cina.  Dia mengomel sedikit, tampak kesal karena harus repot mengeluarkan kacamatanya untuk membaca.  Setelah membaca, eh dia terus mengomel dalam bahasa Kanton dengan nada keras.  Mungkin kesal karena ternyata tempat tujuan saya itu dekat, tak sampai HKD 40 biayanya.  Saya juga ikut sebal, karena merasa si supir kok tidak sopan sekali.  “Kalau ini supir taksi Jakarta, sudah saya ajak berantem, nih,” pikir saya.  Yah, mungkin ini hanya beda budaya, dan kita sebaiknya siap-siap saja menghadapi yang beginian, tak perlu dimasukkan ke hati atau dipakai menjadi acuan menilai Hong Kong secara keseluruhan.

Di mana sebaiknya menginap di Hong Kong?

Kalau ingin berhemat, banyak hotel, guest house, atau hostel murah bertebaran di Hong Kong, terutama di sekitar jalur stasiun Tsim Sha Tsui sampai Prince Edward.  Jangan kaget dulu bila alamat hostel yang telah Anda pesan ternyata mengantarkan Anda ke sebuah gedung tinggi yang tampak agak kumuh dan tidak meyakinkan.  Oleh karena tanah di Hong Kong sudah langka, mau tak mau pembangunan harus diarahkan ke atas.  Satu bangunan bisa ditempati oleh sejumlah hostel berbeda, mungkin juga bersama-sama toko, tempat tinggal, dan kantor.  Meski bagian luar gedung barangkali membikin hati agak ciut, hostel-hostel ini biasanya , aman, dan berfasilitas cukup lengkap.

Ya toh? Sekilas tidak meyakinkan…

Hostel yang bisa saya sarankan adalah Ah Shan Hostel yang terletak di Argyle Street, dekat sekali dengan stasiun MTR Mongkok (keluar-masuk lewat pintu D1).  Hostel ini dimiliki sepasang suami-istri Indonesia yang masih bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, sehingga  memudahkan komunikasi.  Harga kamar terhitung murah untuk ukuran Hong Kong, antara HKD 250 sampai 350, tergantung kapasitas dan sedang peak season atau tidak.

Fasilitas hostel ini antara lain: di setiap kamar ada jaringan Wi-Fi gratis, televisi (meski mungkin saluran berbahasa Inggris hanya ada satu atau dua, tapi apa Anda datang ke HK demi menonton TV?), air panas untuk mandi, sabun dan sampo, serta AC.  Handuk bersih bisa Anda pinjam, gratis.  Di lobi juga ada 2 PC yang bisa dipakai bergantian untuk berinternet-ria.  Air minum bebas Anda ambil dari dispenser.

Makan apa nih di Hong Kong?

Bila mau murah, 7-Eleven akan selalu menjadi penyelamat Anda.  Seporsi nasi di HK terhitung besar untuk ukuran orang Indonesia, sehingga bisa dimakan berdua.  Lumayan kan, HKD 16 dibagi berdua untuk sekali makan?  Hanya saja, yang perlu diingat: toko waralaba di HK tak selalu memberikan sumpit, sendok, atau kantong belanja, sehingga Anda sebaiknya selalu membawa peralatan makan sendiri.  Kantong plastik dihargai 50 sen selembar di 7-Eleven – agar lebih murah dan ramah lingkungan, mengapa tak membawa tas belanja sendiri?

Ada sejumlah (jaringan) restoran berlabel halal, antara lain Popeye.  Restoran atau kedai halal juga banyak terdapat di sekitar Masjid Kowloon.

Kalau kita pandai-pandai mengatur anggaran, Hong Kong bisa jadi tempat tujuan wisata yang lebih murah daripada Singapura.  Paling-paling yang lebih mahal adalah tiket pesawat ke sana, namun ini pun bisa disiasati dengan membeli tiket penawaran murah.

Pemandangan dari Starbucks di Avenue of Stars.

Menikmati Kontras Macau

This post is about China

“Macau is very very small.  It’s difficult to get lost in Macau, but it’s easy to lose.”

 

 

 

Macau Tower

Macau Tower.

 

 

 

Ucapan dalam salah satu pidato pembukaan konferensi penerjemah yang saya hadiri di Macau seolah merangkum pandangan orang banyak mengenai wilayah mungil yang merupakan bagian dari Republik Rakyat Cina tersebut.   Dalam benak umum, Macau (atau ada juga yang mengejanya Macao) hanyalah sebuah pulau kecil yang menjadi tempat berkumpul utama para penjudi Asia Tenggara dan Asia Timur.  (Sebetulnya, selain pulau Macau, ada pula pulau Taipa.  Kedua pulau ini dihubungkan oleh sejumlah jembatan megah.)

Bandara Macau

Bandara Macau di malam hari

Mosaik bandara Macau

Mosaik yang menghiasi bandara internasional Macau

Sepintas untuk pelancong yang tidak punya dana banyak, Macau bukan tempat yang menjanjikan.  Barangkali Hong Kong – yang hanya berjarak sejam naik feri dari Macau – tampak sebagai tempat wisata yang lebih menarik.  Namun sebenarnya, banyak hal lain yang ditawarkan Macau selain kemewahan kasino. Dan bahkan meskipun Anda tak niat berjudi, kemewahan itu bisa tetap Anda cicipi dengan gratis!

Salah satu sudut Macau

Lampion-lampion Cina menghiasi bangunan lama bergaya Portugis.

Macau memang telah lama menjadi tempat kontras hadir berdampingan: hidup bersama, tak saling menghancurkan, malah saling mendukung.  Lama menjadi jajahan Portugis, Macau memperoleh pengaruh yang berbeda dari Hong Kong yang dipegang Inggris berabad-abad sebelum dikembalikan ke Cina.  Pengaruh Portugis ini, dari segi arsitektur sampai makanan, paling terasa di kota tua Macau.

St Paul dari depan

Ya, saya tahu sudah ada ribuan foto seperti ini, tapi barangkali memang wajib memotret St Paul dari depan bila Anda mengunjungi Macau.

Oya, meskipun bahasa resmi di Macau adalah bahasa Kanton dan Portugis, hanya sedikit sekali orang Macau yang bisa berbahasa Portugis.  Yang bisa berbahasa Inggris dan bahkan membaca huruf Latin pun tidak banyak, meskipun di kalangan anak muda jumlah tersebut meningkat.  Oleh karena itu sebaiknya perlengkapi diri Anda dengan peta atau alamat dalam bahasa Kanton/tulisan Cina.

Papan nama jalan di Macau

Hati-hati, belum tentu semua penduduk Macau bisa membaca nama jalan yang tertera dalam huruf Latin.

Sebelum bercerita lebih lanjut tentang kota tua, saya akan berbagi info terlebih dahulu mengenai Macau secara umum.  Dari Jakarta, cara termudah menuju Macau adalah dengan maskapai penerbangan Mandala.  Kalau Anda senang bepergian dengan AirAsia, Anda harus ke Kuala Lumpur, Penang, atau Bangkok dulu untuk menumpang pesawat ke Macau.  Karena pesawat Mandala tiba larut malam di Macau, biasanya orang-orang menyarankan kepada Anda untuk bermalam di bandara saja.  Namun kalau sempat, tumpangi saja shuttle bus gratis ke Venetian Macau, kompleks kasino dan hiburan mahabesar yang terletak tak jauh dari bandara.  Habiskan malam di sana untuk melihat-lihat, bila Anda lebih memilih untuk tidak langsung bermalam.  Saya sendiri lebih memilih langsung ke hotel, Ole London, yang tergolong murah untuk ukuran Macau, dan juga strategis karena banyak atraksi wisata, termasuk kota tua, yang bisa tercapai dengan jalan kaki.

Shuttle bus Macau

Contoh shuttle bus yang disediakan oleh Venetian Macau

Ngomong-ngomong soal shuttle bus, nah ini tip yang sangat bermanfaat untuk Anda:  Persaingan bebas dan sengit antara berbagai kasino dan hotel mewah mendatangkan keuntungan berupa penyediaan shuttle bus gratis dari/ke bandara dan terminal feri.  Pandai-pandai saja memanfaatkan bis-bis tersebut untuk menghemat pengeluaran.

Bis Macau

Bis umum di Macau.

Kalaupun Anda harus naik bis umum, tarifnya cukup murah dan flat.  Bila Anda berputar-putar di Macau saja, tarifnya 3,20 dolar Hongkong atau pataca Macau (kedua mata uang ini dianggap setara, meskipun sebenarnya dolar Hongkong sedikit lebih mahal daripada pataca).  Bila menyeberang ke Taipa, tarif menjadi 4,20; bila sampai ke Coloane, 5,00; dan jika sampai ke Hac Sa, 6,40.

Taksi Macau

Taksi Macau biasanya men-charge lebih dari yang ditunjukkan argo.

Bila terpaksa menggunakan taksi, hati-hati.  Anda biasanya akan membayar lebih banyak dari yang tertunjuk di argo.  Bukannya para supir itu nembak harga, melainkan memang ada peraturan dari perusahaan, bahwa Anda harus membayar tarif tambahan bila menyeberang dari Macau ke Taipa atau Coloane dan bila meletakkan barang di bagasi.  Dengan tarif buka pintu (flagfall) 13 HKD, memang taksi terasa agak mahal, kecuali bila Anda beramai-ramai.

Akan tetapi, dengan modal kaki saja, banyak atraksi wisata yang bisa Anda sambangi.  Apalagi desain kota Macau sangat enak untuk ditelusuri dengan berjalan kaki, dengan trotoar-trotoar lebar yang dihiasi mosaik cantik.  Di sana-sini pun terdapat taman, sering kali dilengkapi peralatan kebugaran, yang bisa Anda gunakan untuk beristirahat bila lelah.

Trotoar Macau

Mosaik hitam-putih cantik menyusun trotoar-trotoar di Macau.

Yang lebih cerdas lagi, deretan pertokoan modern yang menempati bangunan-bangunan lama yang dilestarikan menghubungkan beberapa bangunan bersejarah di Macau, yang sebenarnya terletak agak berjauhan.  Dengan demikian, berjalan dari satu tempat ke tempat lain tidak terasa melelahkan, dan malah jadi ajang memanjakan mata dan, mungkin, menipiskan dompet.

Senado Square

Warna-warni Senado Square.

Peninggalan budaya paling terkenal di Macau adalah Senado Square atau Alun-alun Senat.   Gedung-gedung peninggalan Portugis yang masih dalam kondisi sangat baik mengundang decak kekaguman dan jepretan kamera.  Datanglah di sore dan malam hari, apalagi di akhir minggu, maka tak bisa tidak, Anda akan bersikut-sikutan dengan ribuan orang lain yang memadati alun-alun tersebut.  Namun datanglah pagi-pagi, dan Senado Square pun sunyi senyap: paling-paling hanya ada penduduk setempat yang membawa anjing mereka jalan-jalan, atau menuju Monte Fort untuk senam t’ai-chi.

Lorong menuju Senado

Salah satu lorong menuju Senado Square, senyap di pagi hari.

Menyusuri lorong-lorong yang bercabang-cabang dari Senado Square, kita bisa menemukan gereja St. Dominic yang berwarna kuning cerah, Katedral, Kantor Pos Pusat, dan berbagai bangunan bersejarah lain yang masih difungsikan.

St Dominic

St Dominic di persimpangan jalan.

Bagian dalam St Dominic

Bagian dalam St Dominic.

Pintu St Dominic

Dinding kuning St Dominic berpadu kontras dengan daun pintu dan jendela yang berwarna hijau.

Tengoklah kiri dan kanan, dan Anda akan menjumpai sejumlah kedai kue yang menjual penganan kebanggaan Macau, portuguese egg tart, dengan harga berkisar dari 5-6 dolar.  Guyur juga kerongkongan dengan berbagai jenis minuman teh dan kopi yang menyegarkan.  Harganya mulai dari 10 dolar, dengan ukuran yang cukup besar.  Bila ingin karbohidrat, boleh coba Ireland’s Potato yang menjual semangkuk kentang goreng seharga 10 dolar yang bisa dibubuhi bumbu bawang putih atau kari.

Kedai egg tart

Salah satu kedai yang menjajakan egg tart.

Egg tart dan teh

Egg tart hangat dan teh dingin, mmm…

Ireland's Potato

Karbohidrat praktis!

Sebuah cabang 7-Eleven juga menyempil di lorong menuju St Paul.  Untuk yang ingin menghemat biaya makan, 7-Eleven sungguh membantu.  Harga seporsi nasi dan lauk mulai dari 14 dolar, namun jangan keburu berpikir ini mahal: karena ukuran porsinya 2 kali ukuran porsi di Indonesia, alias besar sekali!  Kalau buat saya, cukup untuk makan siang dan makan malam sekaligus.

St Paul dari sudut lain

Undak-undakan di depan St Paul.

Dekat St Paul.

Alun-alun di antara St Paul dan Monte Fort.

Ikutilah tuntunan papan-papan petunjuk jalan dwibahasa menuju landmark Macau: reruntuhan gereja St Paul yang nyaris habis digempur saat Perang Dunia II, dan hanya menyisakan bagian depan yang tegak di atas undak-undakan.  Lalu, jangan sampai kalah dengan para kakek dan nenek Macau: dakilah tangga demi tangga menuju puncak benteng.   Pandanglah Macau berkeliling, dan nikmati kontras bangunan-bangunan tua yang berdempet-dempetan dengan kasino raksasa Grand Lisboa yang berbentuk unik di latar belakang.  Bagian dalam benteng kini merupakan Museum Macau, yang menyimpan banyak pajangan dan sajian mengenai sejarah Macau.

Sudut benteng Macau

Salah satu sudut benteng Monte Fort.

Latihan Taichi

Berlatih t’ai-chi di puncak benteng.

Meriam puncak benteng

Membidik Grand Lisboa dengan meriam di puncak benteng. Eh…

Museum Macau

Pintu masuk Museum Macau.

Selain yang sudah saya sebutkan di atas, masih banyak peninggalan bersejarah Macau yang bisa Anda nikmati, seperti Kuil A Ma, Barak Moor, dan lain-lain.  Sebagian bahkan mungkin tidak tercantum di peta wisata – tidakkah menyenangkan, tahu-tahu menemukan objek menarik terselip di tempat yang tidak Anda duga?  Dan bila Anda butuh keriaan, selalu ada berbagai macam festival dan acara menarik di Macau sepanjang tahun.  Berjalan kaki suatu malam dari Macau Tower menuju Grand Lisboa, saya mendapati dua festival – 1 festival makanan, 1 festival amal – sedang berlangsung disirami semarak cahaya warna-warni.

Festival makanan.

Festival makanan semarak warna-warni neon.

Puas menikmati bagian tua Macau, kini berpindahlah ke bagian baru yang bergelimang uang, namun tetap bisa kita nikmati tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.  Dari Senado Square, misalnya, Anda bisa berjalan kaki ke Grand Lisboa.  Masuk saja dengan percaya diri, dan tenggelamkan diri dalam pameran sejumlah karya seni yang indah di lantai dasar.

Pameran di Grand Lisboa.

Salah satu karya seni yang dipamerkan di Grand Lisboa.

Kemudian menyeberanglah melalui lorong bawah tanah ke Wynn.  Di kasino ini, mulai pukul 10 pagi, ada pertunjukan gratis Dragon of Fortune dan Tree of Prosperity setiap sejam sekali – sebenarnya berlangsung di tempat yang sama, hanya saja setiap setengah jam, pertunjukan yang ditampilkan berbeda.  Sebuah kubah di lantai akan membuka, memunculkan seekor naga atau pohon raksasa, yang masing-masing tampil selama sekitar 4 menit.  Selain itu, sejak jam 11 siang, setiap 15 menit sekali, di kolam di depan pintu utama hotel  ditampilkan pertunjukan air mancur dan api yang cukup menggetarkan.

Kubah naga

Dari dalam kubah di lantai itu, akan muncul naga raksasa…

Air dan api

Pertunjukan air dan api di depan Wynn.

Pertunjukan akrobat dan seni gratis juga Anda bisa nikmati di Venetian Macau, Taipa.  Venetian Macau menyediakan sejumlah teater untuk berbagai macam pertunjukan, dari stand up comedy sampai konser musik, dan juga Cirque du Soleil yang terkenal.  Anda juga bisa iseng melihat-lihat orang berjudi di dalam kasino, meskipun tidak boleh memotret.  Ada ketakjuban tersendiri mengamati betapa cepat uang hilang di atas meja-meja judi Macau – saya jadi teringat lagi penggalan pidato sambutan yang saya kutip di atas.

MU Experience

Manchester United Experience Store, Venetian Macau.

Penggemar  Manchester United boleh bersuka-ria di Manchester United Experience Store, yang tidak hanya menjual merchandise klub sepakbola tersebut, melainkan juga menawarkan pengalaman berada di kamar ganti dan lorong menuju lapangan seperti di Old Trafford.  Bila punya uang agak lebih, habiskan 15 menit menyusuri kanal-kanal buatan di dalam Venetian Macau dengan gondola, ditemani pengayuh gondola yang tak hanya tampan-tampan dan cantik-cantik, melainkan juga pandai bernyanyi.  Pengayuh gondola saya, Agostino, bahkan bisa mendendangkan Bengawan Solo!  Mengingat selama ini cukup banyak juga turis dari Indonesia, para pengayuh gondola ini rupanya sudah mempelajari sejumlah sapaan seperti ‘selamat datang’, ‘apa kabar’… dan bahkan memuji ‘cantik’!

Bagian dalam Venetian

Salah satu kanal yang merentang di dalam Venetian Macau.

Bila agak lelah dengan kebisingan Macau atau Taipa, tumpangilah bis bernomor 15, 21, 21A, 26, atau 26A (sebagian di antaranya bisa Anda naiki dari halte bis dekat Senado Square) menuju daerah pedesaan di Coloane, yang masih senyap dan santai.  Udaranya lebih sejuk dan bersih karena terletak lebih tinggi daripada kota Macau.

Alun-alun Coloane.

Di tengah hari pun, Coloane sunyi-senyap, tak seperti Macau.

Di alun-alun Vila de Coloane (Desa Coloane), terdapat salah satu toko kue merangkap kafe yang menjadi tujuan utama orang mendatangi desa tersebut: Lord Stow’s.  Toko kue yang dirintis seorang Inggris, Andrew, yang mendapat julukan ‘Lord Stow’, menjual portuguese egg tart yang konon paling lezat di seluruh Macau, hasil racikan sang ‘tuan’.  Tak heran, Lord Stow’s berani menjual setiap potong egg tart buatan mereka seharga 8 dolar.  Sayang Andrew telah berpulang secara mendadak pada tahun 2006 akibat asma, namun kini keluarga dekatnya meneruskan usahanya.  Ada beberapa cabang di negara lain, seperti Hong Kong dan Taiwan, namun di Macau, Lord Stow’s hanya ada di Vila de Coloane.

Lord Stow's.

Papan nama Lord Stow’s Garden Cafe.

Bagian dalam Lord Stow's.

Meja layan Lord Stow’s.

Egg tart Lord Stow’s – juga buatan toko-toko lain di sekitar Senado Square – bisa tahan 3 hari, sehingga sebelum pulang ke Indonesia, Anda bisa membeli beberapa kotak untuk oleh-oleh.  Oya, makanan dan minuman lain di Lord Stow’s juga memanjakan lidah, misalnya saja homemade lemonade mereka yang kecut dan segar.  Waktu itu kami dilayani pelayan yang sangat fasih berbahasa Inggris, sehingga semakin senang saja kami kepada Lord Stow’s.

Hidangan Lord Stow's.

Sandwich tuna dan homemade lemonade Lord Stow’s.

Macau boleh kecil-mungil, namun banyak pengalaman yang bisa Anda dapatkan tanpa menguras banyak biaya, dan tanpa perlu menggulirkan dadu.

Warung Macau

Berbelanjalah di warung tepi jalan saat mengitari Macau…

Taman Macau

…dan bila lelah, beristirahatlah di salah satu taman atau alun-alun seperti ini.