Belajar sejarah dengan seru lewat Festival Sekigahara 2018

Bulan Oktober lalu, saya berhasil mewujudkan salah satu keinginan saya sejak lama: menyaksikan Festival Sekigahara. Festival ini diselenggarakan tiap Oktober untuk memperingati Pertempuran Sekigahara yang berlangsung pada tahun 1600 Masehi dan sangat menentukan sejarah Jepang ke depannya. Di medan yang kini terletak di Prefektur Gifu, pasukan-pasukan dari berbagai daerah di Jepang yang terbagi ke dalam dua kubu—umum disebut Kubu Timur dan Kubu Barat—berhadapan dalam pertempuran yang menelan sedemikian banyak korban. Para penggemar sejarah pun berkumpul setiap tahun di Sekigahara untuk menyaksikan reka adegan pertempuran tersebut dan memberi semangat ‘jagoan’ masing-masing.

Jepang sekarang memang sudah bersatu, namun sah-sah saja punya kubu atau jagoan favorit dalam peringatan perang saudara tersebut. Mau suka Kubu Timur? Boleh. Mau suka Kubu Barat? Boleh juga. Suka dua-duanya? Atau mungkin hanya suka salah satu pasukan atau pemimpinnya yang turun dalam pertempuran itu, taruhlah keluarga Shimadzu dari Satsuma (sekarang Kagoshima)? Ya boleh. Malah saya memang tertarik datang ke festival tersebut karena saya menyukai Shimadzu Toyohisa seperti yang digambarkan dalam manga dan anime DRIFTERS.

Sekigahara sendiri adalah kota kecil. Di sekeliling stasiunnya, yang juga tidak besar, hanya ada beberapa bisnis kecil. Kalau mau menginap, ada beberapa kota yang lebih besar yang ada di sekitarnya. Yang paling dekat sebenarnya adalah Oogaki, namun saya dan teman memilih untuk menginap di Nagoya demi kepraktisan. Maklum, rencana kami dalam perjalanan di bulan Oktober itu tak hanya Sekigahara, melainkan terus ke arah selatan sampai Kagoshima. Oleh karena itu, kami tidak meninggalkan jalur utama Shinkansen dalam memilih tempat menginap.

Nagoya sendiri tidak begitu jauh kok dari Sekigahara. Naik kereta sekitar 30-45 menit saja, tergantung dapat kereta biasa atau kereta cepat yang menyinggahi stasiun-stasiun tertentu saja. Oh ya, rute perjalanan kami pada Oktober itu adalah mendarat di Tokyo di pagi hari, berjalan-jalan di Tokyo, lantas sore harinya menuju Nagoya. Keesokan harinya kami menghabiskan waktu di Sekigahara, lalu hari berikutnya lagi menuju ke Kagoshima, dilanjutkan dengan Saga sebelum kemudian kembali lagi ke Tokyo. Tentu saya juga akan bercerita nanti soal Kagoshima dan Saga.

Sewaktu kereta tiba di Sekigahara, demikian banyak orang yang turun. Pengunjung pun harus mengantri untuk keluar dari stasiun yang biasanya hanya digunakan oleh penduduk lokal sehingga hanya punya satu gerbang kecil itu. Berkat arahan petugas dan pengunjung yang tertib, antrian bergerak cepat. Di luar stasiun, sejumlah sukarelawan membantu memberikan info dan mengarahkan para pengunjung ke lokasi-lokasi peringatan pertempuran.

Dengan berjalan kaki (jaraknya tidak begitu jauh), kami menuju ke lokasi pertama, yaitu di depan gedung budaya Sekigahara. Tidak akan tersesat, karena deretan panji-panji kamon (lambang keluarga) dari pihak-pihak yang terlibat dalam pertempuran menunjukkan arah yang harus ditempuh dari stasiun. Tidak hanya itu, di pagar-pagar yang menghalangi pandangan ke jalur kereta, dipasang informasi dalam bahasa Jepang dan Inggris mengenai pertempuran tersebut. Ada keterangan tentang masing-masing pemimpin dan pasukannya, lengkap dengan gambar-gambar dan peta pergerakan pasukan itu. Jadi, fans pemimpin atau pasukan tersebut bisa menapak tilas jagoan mereka di Sekigahara, yang kini telah menjadi kota kecil yang tentram.

Sekeliling gedung budaya ramai manusia dan stan. Berbagai macam yang dijual di stan-stan tersebut, mulai dari makanan sampai berbagai suvenir dan produk lokal. Di bagian dalam gedung budaya juga diselenggarakan berbagai kegiatan, mulai dari bincang-bincang, pameran, sampai belajar membuat macam-macam kerajinan tangan untuk anak-anak.

Karya budaya popular yang menjadi fokus tahun ini adalah gim Sengoku Basara dan Sengoku Ikusa. Tepat di depan gedung budaya, berdiri stan gim tersebut. Bila berfoto di situ, kita akan mendapatkan kartu dan camilan Umai edisi Sengoku. Kami tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sebenarnya juga ada bincang-bincang mengenai seri Sengoku, namun kami tidak mengikutinya dan lebih memilih untuk menelusuri gambar demi gambar yang dipajang dalam pameran Sengoku di gedung tersebut. Pengunjung dilarang memotret di dalam pameran Sengoku tersebut, tapi tidak mengapa. Kami puas bisa melihat langsung berbagai ilustrasi yang dipamerkan.

Di belakang gedung budaya, terdapat Sekigahara Coffee Stand yang menawarkan kamon latte seharga 350 yen, yaitu kopi yang di bagian atasnya dihiasi latte art berupa lambang keluarga yang terlibat dalam Pertempuran Sekigahara. Kita dipersilakan memilih mau kamon yang mana, dan tentu saja saya memilih Shimadzu. Nah, kamon Shimadzu ini bentuknya cukup sederhana, seperti tanda + dikelilingi lingkaran. Masih terbayanglah cara membuatnya. Saya jadi bertanya-tanya, kalau kamon yang lebih rumit, bagaimana ya membuatnya?

Kami duduk menikmati minuman kami, juga satsuma-age (semacam otak-otak goreng) dari Prefektur Kagoshima, di salah satu meja panjang yang tersedia. Kami berbagi meja itu dengan seorang nenek dan dua cucunya. Si nenek dengan ramah mengajak kami berbincang-bincang sedikit. Komplit dengan cuaca cerah dan angin sepoi-sepoi, kami langsung merasa senang sekali bisa datang ke Festival Sekigahara. Padahal kami belum lagi melihat reka adegan pertempurannya, lho.

Seusai makan, kami naik bis kecil yang disediakan menuju ke tempat perkemahan pertama Ishida Mitsunari, karena di sana akan dilangsungkan perkenalan para pemeran yang turun tahun ini. Di lapangan cukup luas yang menempel ke perbukitan, telah berkumpul banyak orang, baik pemeran maupun pengunjung. Sejumlah pemeran tampaknya sudah punya fans, yang menyapa mereka dengan kata-kata seperti “Sudah lama tidak bertemu” dan mengajak berfoto bersama. Resminya memang acara perkenalan belum dimulai, namun pengunjung sudah boleh memfoto-foto para pemeran yang mengenakan perlengkapan tempur dan membawa panji-panji beberapa kelompok berbeda. Sayangnya tahun ini tidak ada yang memerankan klan Shimadzu. Yang ada adalah pasukan klan Fukushima, Ishida, Ieyasu, Kuroda, Takenaka, Kobayakawa, Ukita, dan Ootani.

Kami terlebih dahulu mendaki bukit ke lokasi tepatnya perkemahan Ishida. Lumayan melelahkan juga, apalagi yang tersedia hanya undak-undakan tanah, walaupun ada pegangan yang disediakan. Namun ketika tiba di atas, senang sekali rasanya bisa memandang Sekigahara dari atas sampai jauh. Di atas semacam panggung, seorang pemandu menjelaskan tentang pasukan Ishida dan perkemahan mereka itu kepada pengunjung.

Berhubung acara perkenalan sudah hampir dimulai, kami pun turun lagi ke lapangan di bawah. Pembawa acara sudah mulai memanggil para pemeran untuk berkumpul sesuai pasukannya masing-masing di atas salah satu lereng bukit yang berperan sebagai panggung alami. Para hadirin juga langsung mengambil posisi di bawah lereng, siap dengan kamera atau telepon pintar masing-masing.

Awalnya pembawa acara bertanya, “Siapa yang mendukung Kubu Timur?” Ternyata yang mengangkat tangan sedikit sehingga si MC kaget sendiri. “Siapa yang mendukung Kubu Barat?” Banyak yang mengangkat tangan sambil bersorak, termasuk saya. Wah, ternyata kalau dari segi dukungan hadirin, Kubu Barat menang! (Meski dalam pertempuran aslinya sih, mereka kalah, hehehe.)

Setiap pasukan lalu diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri masing-masing. Mereka pun berlomba-lomba agar tidak kalah heboh dari pasukan yang lain. Terkadang mereka saling melontarkan ledekan. Suasana riang-gembira, mempertegas kenyataan bahwa mereka tidak benar-benar bermusuhan. Salah satu pemeran yang paling mencuri perhatian barangkali adalah pemeran Kobayakawa, seorang perempuan. Memang konon Kobayakawa ini laki-laki cantik. Sayangnya, Kobayakawa lantas menjadi salah satu penyebab Kubu Barat kalah karena ia menyeberang (alias berkhianat) ke Kubu Timur.

Saya juga girang melihat pemeran Ootani, yang saya sukai sejak menonton Sekigahara dalam sebuah penerbangan. Ootani nyaris buta akibat sakit yang ia derita dan harus dibawa-bawa dengan tandu selama pertempuran, namun ia tetap turun membela Ishida. Sampai akhirnya kekalahan mendekat dan ia pun melakukan seppuku alias mengambil nyawa sendiri secara terhormat.

Usai perkenalan pasukan yang dipenuhi gelak-tawa, pengunjung berangsur-angsur bergerak kembali ke gedung budaya rakyat Sekigahara. Di lapangan di depan gedung itulah akan digelar drama reka ulang Pertempuran Sekigahara tahun ini. Kali ini reka ulang berfokus pada persahabatan antara Fukushima Masanori dan Ishida Mitsunari yang berseberangan dalam Pertempuran Sekigahara.

Sebelumnya, ada demo teppo alias bedil kuno di lapangan depan gedung. Sejumlah orang yang berpakaian seperti prajurit zaman Perang Sekigahara menunjukkan keterampilan mereka menggunakan teppo dengan berbagai formasi. Bunyinya, wuih! Menggelegar. Sekitar setengah jam mereka bergantian unjuk kebolehan, membuat hadirin merasakan sedikit keriuhan pertempuran di masa itu, yang tidak lagi hanya menggunakan senjata tradisional seperti pedang dan panah.

Setelah jeda beberapa lama, para pemeran reka adegan berbaris ke sisi-sisi lapangan yang akan menjadi titik awal mereka masuk. Penonton yang sudah menyemut, namun tetap tertib, langsung menyiagakan mata atau kamera mereka. Daaaan…. reka adegan pun dimulai! Dari tempat kami berdiri, Kubu Barat menempati sisi lapangan di sebelah kiri kami, sementara Kubu Timur di sebelah kanan. Para pemain pun dengan gesit dan penuh semangat mementaskan reka adegan tersebut. Terkadang mereka bertempur, bahkan sampai terjatuh atau tersungkur; terkadang mereka berdialog dengan emosional. Sosok Ishida yang terpekur menghadapi kenyataan ia tersudut dan bahkan dikhianati sungguh menggugah hati penonton.

Penampilan keren mereka semua disambut tepuk tangan meriah oleh segenap hadirin. Setelahnya, pidato walikota yang berterima kasih kepada semua orang yang terlibat dan juga hadirin menutup rangkaian acara di hari yang alhamdulillah cerah itu.

Sebenarnya sehabis itu ada acara menari bersama, namun kami menuju deretan stan cenderamata dan malah menghabiskan terlalu banyak waktu di sana sampai-sampai kelewatan tariannya. Tidak menyesal juga sih, karena kami bisa melihat polah nakal sejumlah maskot (yuruchara) di zona stan tersebut dan berbelanja macam-macam pernak-pernik dengan desain memikat. Dapat banyak gratisan, lagi. Di stan klan Shimadzu dari Satsuma/Kagoshima, misalnya, kami mendapatkan kartu pos Shimadzu Toyohisa dari DRIFTERS karena masing-masing membeli lebih dari 1.000 yen. Dan, secara tidak disangka, di situ kami juga bertemu beberapa fans DRIFTERS lainnya yang selama ini hanya saya kenal dari Internet!

Kami lantas berkeliling-keliling melihat-lihat stan-stan lainnya. Duh, barang yang memikat hati sih, banyak. Namun kami sadar diri bahwa ini baru awal perjalanan kami kali ini. Kalau duit langsung amblas banyak, bisa gawat ke depannya!

Ada juga museum kecil Sekigahara yang sayangnya jam bukanya hanya tinggal tiga puluh menit lagi. Kami mengurungkan niat masuk ke museum itu dan memilih untuk kembali ke stasiun kereta api. Di dekat stasiun, kami melihat-lihat lagi sebuah toko suvenir, dan mendapati bahwa loker-loker yang terletak di dalam toko tersebut dihiasi dengan kamon keluarga-keluarga yang terlibat Pertempuran Sekigahara.

Puas, lelah, kami menaiki kereta untuk pulang ke Nagoya. Wajah-wajah girang berbagai usia, dengan tangan-tangan yang memegang hasil belanjaan, terlihat di sekeliling kami. Kami ikut senang rasanya melihat banyak anak-anak juga terlibat dan menikmati festival ini, mulai dari yang ikut pawai sampai yang menonton ‘saja’. Sejarah pun terbukti bisa dipelajari dengan cara yang asyik dan menjadi keriangan yang dinikmati seluruh keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Lompat hari

December 2018
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Arsip Lompat-lompat

%d bloggers like this: