Perjalanan ke Hokkaido, Desember 2017 (2)

Sebulan lebih berlalu, belum juga cerita saya tentang Penang berlanjut, ya. Padahal garis besarnya sih sudah ada. Bahan sudah dikumpulkan sebagian. Namun kesibukan lain sungguh menyita waktu…

Akan tetapi, saya sempat kok melanjutkan tulisan saya tentang kunjungan ke Hokkaido di blog yang satu lagi, yang berbahasa Inggris. Di sini saya berikan tautannya, ya.

Bagian 5: Menengok museum divisi penjaga Hokkaido di Asahikawa

Kami sempat mampir ke kota terbesar kedua di Hokkaido ini untuk bertandang ke sebuah museum yang dikhususkan untuk menampilkan sejarah divisi ke-7 Angkatan Darat Jepang dan divisi ke-2 Pasukan Bela Diri Jepang yang bertugas mengamankan Hokkaido.

Bagian 6: Mengunjungi museum penjara Abashiri

Lho, ngapain ke penjara jauh-jauh di kota kecil nun jauh di ujung timur Hokkaido ini? Banyak lho, sejarah yang bisa dipelajari dari kompleks bekas penjara yang namanya pun bisa menciutkan hati. Menyenangkan juga pergi ke kota kecil yang tenang, jauh dari keramaian.

Kisah petualangan di Hokkaido pun bersambung lagi…

Advertisements

Mencari kopi putih ke Ipoh, Agustus 2017 (Bagian 1)

Eeeetsss… belok sedikit yuk dari Jepang, dan mampir ke Malaysia. Jadi saya pernah bercerita kan, kalau saya dan teman saya P (di sini marilah kita sebut dia secara lebih lengkap, yaitu Pila…) pergi berlibur ke Malaysia pada Agustus 2017? Nah, saya belum menjabarkan lagi pengalaman kami di sana. Jadi marilah saya mulai cicil…

Kami tiba di KLIA 2 tanggal 17 Agustus pukul 04.35 waktu setempat, alias sewaktu masih pagi buta. Ini memang kami sengaja karena selain tiket pesawatnya lebih murah, kami juga jadi menghemat waktu: Tidak perlu cuti hari sebelumnya, tidak perlu menginap di bandara, dan lebih banyak waktu yang bisa kami habiskan pada tanggal 17 Agustus itu. Apalagi untuk pergi ke Ipoh, kami masih harus menaiki bis beberapa jam lamanya. Kalau baru 17 Agustus pagi berangkat dari Jakarta, dilanjutkan naik bis ke Ipoh, bisa-bisa pagi dan siang habis di jalan.

More

Musim semi datang terlambat di Takayama, Maret 2015 (Bagian 2)

Lanjut lagi yuk, cerita tentang Hida no Sato?

Ada sekitar 30 bangunan di kawasan Hida no Sato. Bangunan-bangunan itu berasal dari sejumlah tempat lain dan dipindahkan utuh ke sini, ditata menyerupai kampung organik. Sebagai contoh, ada rumah Wakayama, yang berasal dari Shoukawa-machi dan dibangun pada tahun 1751. Bangunan ini dianggap berharga karena menunjukkan dua ciri sekaligus, yaitu atap bergaya gassho yang curam sekaligus tonjolan atap gaya Shoukawa.

More

Musim semi datang terlambat di Takayama, Maret 2015 (Bagian 1)

Pagi di Takayama!

Sebenarnya agak malas juga keluar dari tempat tidur yang nyaman di K’s House, tempat menginap pilihan kami di Hida Takayama. Apalagi pagi hari itu dingin. Akan tetapi, sayang waktunya bila saya hanya bermalas-malas di kamar yang cukup luas untuk dua orang. Kalau di daerah begini, ukuran kamar-kamar penginapan biasanya jauh lebih lega daripada penginapan dengan kategori yang sama dan harga yang sering kali lebih mahal di Tokyo. Bahkan bila dibandingkan dengan sesama K’s House di Tokyo, terasa benar bedanya ukuran kamar di cabang di Takayama.

More

Perjalanan ke Hokkaido, Desember 2017 (1)

Halo, semuanya! Maaf kalau saya lama tidak menulis di sini ya. Sebenarnya saya tetap menulis kok, tapi kisah perjalanan saya kali ini ke Hokkaido pada akhir tahun lalu dituangkan di salah satu tempat lain yang juga saya urus.

Sejauh ini sudah ada empat bagian, dan masih akan berlanjut lagi.

Bagian 1: Mempersiapkan perjalanan ke Hokkaido

hokkaido2017-01

Bagian 2: Historical Museum of Hokkaido di Sapporo

hokkaido2017-03

Bagian 3: Menonton pertandingan bola Hokkaido Consadole Sapporo vs Sagan Tosu di Sapporo

hokkaido2017-02

Bagian 4: Kembali ke Otaru!

Kalau sudah ada bagian-bagian yang baru, saya akan update lagi, ya. Untuk kali ini, selamat menikmati!

Menengok Jepang yang lain di Shirakawa-go, Maret 2015

Sungai berwarna kehijauan berkelok cantik di luar sana, di balik kaca jendela kereta. Sambil menatapnya, saya membatin: Ini perjalanan kereta yang paling indah yang pernah saya tempuh, setelah Danang-Hue di Vietnam. Namun saya tidak sedang berada di Vietnam, melainkan bagian tengah Jepang, di atas kereta ekspres yang membawa saya dan seorang teman menuju Takayama, sebuah kota di Gifu.

Saya dan teman sedang memanfaatkan libur kuliah. Kami menggunakan Seishun 18 kippu—tiket yang memungkinkan kita menggunakan kereta-kereta lokal JR sebebas-bebasnya di musim liburan—menjelajahi Osaka, Kobe, Kyoto, Nagoya, dan kini ke Takayama. Kereta yang kami naiki dari Nagoya mentok rutenya di salah satu kota kecil yang namanya sayang sekali saya lupa. Saya mencoba menelusuri peta jalur yang menghubungkan Nagoya-Takayama dan mencoba mengingat-ingat nama kota tersebut, tapi gagal. Mungkin Mino-ota? Pokoknya, sewaktu turun dan mengecek jadwal kereta lokal berikutnya, alamak, masih lama benar. Baru berjam-jam lagi kami bisa tiba di Takayama. Saya memutuskan untuk bertanya ke petugas stasiun. Tidak lama lagi akan ada kereta ekspres ke Takayama, pria muda itu menjelaskan. Namun Seishun 18 kippu tidak berlaku di kereta tersebut, sehingga kami harus membayar lagi. Saya celingukan mencari mesin tiket di peron stasiun itu. Tidak ada. Beli tiketnya di mana?

More

Mencari jalan termudah ke Ipoh

Kejenuhan kerja yang melanda membuat saya memutuskan untuk berlibur ke Ipoh, Malaysia ketika ada ‘hari kejepit nasional’ Agustus lalu. Teman saya, mari kita sebut saja P, bertanya apakah dia boleh ikut. Ya, tentu saja boleh. Yuk.

Mengapa Ipoh? Kota ini sudah lama dipromosikan oleh seorang teman saya sebagai kota yang sangat santai dan ‘nyeni’. Semangat saya untuk melawat ke situ semakin bertambah setelah mengetahui kota yang terletak ke arah utara dari Kuala Lumpur ini merupakan tempat asal white coffee, salah satu jenis kopi kesukaan saya.

More

Danau Haruna yang tertidur, Februari 2016

Di kereta yang melaju ke arah Gunma siang itu, saya menatap ke luar, bertanya-tanya kepada diri sendiri kenapa saya sebelumnya tidak pernah mendatangi Gunma. Padahal prefektur yang dikelilingi daratan itu adalah tetangga Tokyo, tempat saya tinggal dulu. Barangkali yang dekat-dekat justru sering kali tidak terasa mendesak untuk dikunjungi.

Dan, yah, saking dekatnya, perjalanan kereta ke Takasaki—salah satu kota di Gunma—itu tidak terasa seperti perjalanan ke luar kota. Bentangan urban Tokyo menjalar ke mana-mana, nyaris tak terputus rasanya sampai ke Takasaki. Ketika tiba di Takasaki, seolah-olah saya hanya habis naik kereta dari satu titik ke titik lain di Tokyo, apalagi saya hanya menggunakan kereta biasa. Perjalanan kira-kira memakan waktu satu setengah jam dari stasiun keberangkatan saya di Tokyo—kalau tidak salah, Ikebukuro. Lucu memang, ingatan saya tentang kereta mana yang saya naiki kabur sekali. Habisnya, ya itu, rasanya seperti naik kereta dalam kota saja.

More

Mengurus paspor dengan aplikasi ‘Antrian Paspor’

Kali ini saya bukan menulis tentang tempat-tempat yang saya kunjungi, melainkan pengalaman baru-baru ini mengurus paspor menggunakan aplikasi ‘Antrian Paspor’. Sebelumnya saya sempat menuangkan pengalaman saya sebagai rangkaian kicauan langsung di Twitter, namun saya pikir sebaiknya semuanya itu saya rangkum menjadi satu tulisan utuh.

Kebetulan saya memang harus memperpanjang paspor yang akan habis di awal tahun depan. Sewaktu sedang berpikir-pikir kapan sebaiknya memperbarui paspor, saya mendapatkan informasi dari akun Twitter Direktorat Jenderal Imigrasi mengenai dua hal:

  • Mulai 9 Mei 2017, ada kebijakan bahwa perpanjangan paspor hanya membutuhkan paspor lama dan KTP.
  • Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, salah satu kantor imigrasi paling sibuk, tidak lagi menerima pembuatan ataupun perpanjangan paspor dengan datang langsung tanpa mendaftar terlebih dahulu melalui aplikasi.

More

Hamamatsu, November 2014 (Bagian 2): Kastil Tokugawa Ieyasu

Esok paginya, setelah menikmati sarapan di hotel, kami check out dan melangkah lagi ke stasiun bis di depan stasiun utama. Pertama-tama kami hendak menuju Kastil Hamamatsu. Dari terminal bis yang ada di sebelah utara stasiun, kami lagi-lagi menaiki bis ke arah Kanzanji Onsen. Ngomong-ngomong, di Hamamatsu ini banyak penyeberangan di bawah tanah, termasuk yang menuju ke terminal bis. Lorong-lorongnya bersih, tidak menyeramkan. Kadang-kadang ada juga pemusik jalanan yang meramaikan suasana, mempertegas kesan Hamamatsu sebagai kota musik. More

Previous Older Entries