Gunung Takao: rumah para Tengu 2013

This post is about Japan

Terutama di akhir minggu, saya kerap menjumpai orang-orang yang berpenampilan siap mendaki gunung menaiki kereta Chuo Line ke arah luar Tokyo. Mereka adalah penduduk ibukota yang ingin menghabiskan hari libur dengan hiking di beberapa gunung yang mudah tercapai dari Tokyo – salah satunya adalah Takao-san, alias Gunung Takao. Gunung ini populer di kalangan orang Tokyo bukan hanya karena pemandangannya yang mengesankan, terutama di musim semi dan musim gugur, melainkan juga karena mudah dijangkau. Dari Tokyo atau Shinjuku, cukup naik Chuo Line menuju stasiun Takao. Gunungnya juga tidak terlalu tinggi, hanya 600 meter kurang semeter, sehingga seluruh kunjungan ke sana bisa dituntaskan dalam satu hari.

takaosan-02

Saya sendiri ke Takao karena tidak mau kalah. Ceritanya, asosiasi yang mempertemukan mahasiswa Jepang dan mahasiswa asing di kampus saya akan mengadakan acara jalan-jalan ke Takao beramai-ramai. Saya kok ya malas kalau perginya bersama rombongan besar, tapi saya juga tidak mau kalau hanya kebagian cerita saja. Akhirnya sebelum jadwal keberangkatan mereka, saya berangkat sendirian ke Takao!

Dari tempat tinggal saya, perjalanan ke Takao tidak memakan waktu lama (karena tempat tinggal saya sendiri terletak setengah jam ke luar Tokyo dari Shinjuku). Saat itu juga bukan akhir pekan – saya sengaja memilih tanggal ketika kami kuliah hanya setengah hari. Tiba di Takao, di depan stasiun pengunjung langsung berhadapan dengan papan besar yang menunjukkan sejumlah jalur alternatif untuk mendaki sampai ke puncak Takao. Hmmm… saya sih sedang tidak berminat jalan kaki sampai atas, dan memutuskan untuk mencoba funikular (semacam trem) yang mengantar penumpang sampai ke stasiun yang lebih dekat dengan puncak. Nah, dari stasiun itu, kita bisa meneruskan berjalan kaki sampai ke bagian teratas gunung yang bisa didaki.

takaosan-01

Belum-belum, perhatian saya tersita oleh Trick Art Museum yang terletak di seberang jalan dari stasiun kereta. Sebenarnya ini tidak ada di rencana saya. Malah sebenarnya saya berangkat ke Takao asal tancap saja, pokoknya tahu transportasinya. Selanjutnya ya lihat saja di tempat tujuan ada apa. Hal ini sering saya lakukan di Jepang, dan biasanya saya jadi kewalahan sendiri karena setiap daerah ternyata memiliki banyak sekali tempat yang pantas dilihat! Tapi cara seperti ini memang cukup seru karena kita jadi terkaget-kaget dan asyik sendiri sewaktu mengetahui lebih banyak tentang daerah yang kita kunjungi.

takaosan-03

Dari luar, Trick Art Museum terlihat seperti campuran arsitektur berbagai zaman dan wilayah, namun ada nuansa Mesir Kuno yang cukup kental. Dan memang di bagian dalam, sajian utamanya adalah ruang demi ruang tipuan mata yang ditata dengan tema Mesir Kuno. Ada piramida, singa, mumi… dan yah, saya mendadak menjadi merasa agak rugi ini ke museum sendirian. Soalnya, kalau di kebanyakan museum lain ada larangan memotret, museum ini justru disiapkan agar kita bisa asyik mengambil foto yang menyajikan ilusi mata. Tapi, siapa yang akan memotret saya yang datang sorangan saat hendak berjalan di atas papan yang membentang di atas lubang yang dalam ini?

takaosan-05

Selain tipuan-tipuan bertemakan Mesir Kuno, juga ada sejumlah tipuan yang lebih umum, misalnya ruangan di mana kita bisa terlihat besar bila berdiri di satu sisi, namun akan terlihat kecil bila berdiri di sisi yang lain. Atau lubang di lantai yang dilapisi kaca, menantang kita untuk berdiri di atasnya, menatap ke kegelapan yang seolah tak berujung di sebelah bawah.

Meskipun sudah berusaha berhati-hati, saya kecele juga satu kali. Di salah satu sudut museum, terlihat selembar 1.000 yen tergeletak di lantai. Karena berpikir itu uang yang jatuh dan hendak melaporkannya ke petugas museum, saya pun membungkuk untuk mengambilnya… hanya untuk mendapati bahwa uang itu ternyata hanya lukisan di lantai yang terlihat begitu riil. Sial!

takaosan-06

Oya, sewaktu membeli tiket di pintu masuk, kita juga akan memperoleh sekeping uang ‘1 FLAVIA’. Uang ini hanya bisa digunakan di mesin otomat di pintu keluar museum. Jadi, biaya tiket kita sudah termasuk satu minuman yang bisa dinikmati di teras atas museum sebelum beranjak meninggalkan bangunan tersebut. Saya tentu saja tidak menyia-nyiakan uang itu, dan memilih minuman susu cokelat pisang dingin yang saya habiskan sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.

Cukup lama juga saya menghabiskan waktu di museum itu. Saya harus bergegas berangkat sebelum matahari tenggelam. Untungnya, saat itu sedang peralihan dari musim panas ke musim gugur, sehingga lama siang hari masih cukup panjang.

takaosan-07

Saya berjalan kaki menyusuri jalanan yang cukup sepi, sambil mengagumi sungai jernih yang mengalir agak jauh di sebelah bawah. Saya mengikuti petunjuk jalan menuju stasiun funikular, melewati sejumlah toko dan restoran bergaya tradisional yang cukup menggoda. Tampak sejumlah toko menawarkan dango berukuran besar yang merupakan kekhasan daerah ini. Namun saya menguatkan hati untuk tidak mampir dulu, karena matahari sudah semakin menggelincir ke barat.

takaosan-10

Di stasiun, saya membeli tiket bolak-balik seharga 900 yen di mesin, lalu menuju peron, menanti funikular yang berwarna kuning dan hijau mencolok tiba. Karena sudah cukup sore, tidak banyak yang hendak menumpangi funikular ke arah atas. Bagus juga, jadi saya bisa dapat tempat duduk yang enak untuk melihat-lihat pemandangan di luar.

Funikular Gunung Takao dari sebelah luar.

Funikular Gunung Takao dari sebelah luar.

Sesampainya di stasiun atas, saya pun mulai menyusuri jalan setapak berlapis batu rapi ke arah atas. Yang namanya Jepang, daerah wisata populer seperti ini pasti sudah dibuat mudah semuanya. Biarpun judulnya di gunung, jalanannya mulus, tidak bolong-bolong, mempermudah orangtua sekalipun untuk menempuhnya. Cukup banyak lho, kakek-nenek yang saya lihat hiking hari itu. Bukan hanya orang lansia yang masih tampak tegap, dan segar-bugar, melainkan juga yang punggungnya sudah bungkuk! Gila juga, batin saya. Saya yang masih muda ini jangan-jangan kalah dengan mereka.

Di saat saya sedang bimbang memikirkan apakah tidak usah terus sampai ke paling atas karena hari mulai gelap, tiba-tiba muncullah seorang kakek. Menyadari saya orang asing, kakek yang bahasa Inggrisnya lumayan ini bertanya kepada saya, “Mau ke atas?”

Nah, kalau ini sebelah dalamnya funikular.

Nah, kalau ini sebelah dalamnya funikular.

Saya masih berpikir, belum menjawab, namun rupanya si kakek berpikir jawaban saya pasti ‘ya’. Mungkin dipikirnya, ngapain juga orang ke sini kalau tidak mau naik sampai ke puncak. “Ayo, sama-sama!” Dengan gagah ia mendahului, melanjutkan perjalanan. Entah mengapa, saya tidak tega menolak dan bilang “Nggak oom, saya mau pulang saja, cukup kok sampai sini.” Mungkin ada perasaan malu dan tidak mau kalah juga dari kakek-kakek yang masih bersemangat ’45 ini. Maka dengan agak terengah-engah saya ikuti beliau. Gilanya, meski menanjak, kakek ini cepat langkahnya, membuat saya terkadang harus berlari-lari kecil agar tidak ketinggalan. Lebih gila lagi ketika saya tahu bahwa ia mencapai ketinggian itu dengan berjalan kaki dari bawah, tidak naik funikular seperti saya. Sewaktu ia bertanya, ya saya dengan malu-malu mengakui bahwa saya ‘curang’ memotong jarak tempuh dengan funikular.

Deretan toko di kaki gunung Takao.

Deretan toko di kaki gunung Takao.

Ternyata kakek ini tinggal di daerah Hachioji—yang stasiunnya terletak di antara Takao dan tempat saya tinggal—dan setiap minggu mendatangi Takao, karena ia sangat menyenangi gunung ini. Pantas saja kakek ini masih bugar dan tampak terbiasa serta mantap sekali menapaki jalan mendaki Takao!

Separo terseret-seret, akhirnya saya sampai juga di atas, di belakang kakek. Ia dengan bangga menunjukkan lampu-lampu bergaya Jepang yang berjejer di sepanjang jalan, juga dengan bersemangat menyuruh saya memotret kuil-kuil yang kami lewati. Ia juga bertanya, apakah saya suka Jepang? Saya bilang, iya, saya suka. Ia tertawa, senang.

Gunung Takao sejak zaman dahulu terkenal sebagai tempat tinggal makhluk mitologi Jepang, tengu. Tidak heran di kuil-kuil di Gunung Takao terdapat patung-patung tengu yang bertubuh manusia namun berparuh dan bersayap burung, yang konon menghubungkan para dewata dan Buddha. Di Gunung Takao ini, kita bisa melihat dua perwujudan tengu: yang wajahnya memang masih sangat serupa burung lengkap dengan paruhnya, ataupun yang berwajah manusia hanya saja dengan hidung yang luar biasa panjang.

takaosan-14

Sebagai penggemar manga Yami no matsuei yang menghadirkan dua tokoh tengu kakak-beradik yang sangat saya sukai, dalam hati pun saya jadi kegirangan sendiri berada di tempat yang keramat bagi tengu ini.

Sewaktu kami turun lagi, kedai-kedai sudah tutup. Yah, saya tidak sempat mencicipi dango raksasa. Ya sudahlah, memang belum rejeki. Toh sebagai gantinya saya jadi naik ke puncak dan melihat pemandangan memesona dari sana, meskipun awalnya sih tidak niat.

takaosan-15

Kakek menanyakan apakah saya akan turun dengan funikular lagi. Saya jawab iya. Lha iya dong, sudah terlanjur beli tiket pulang-balik, masa tidak dimanfaatkan. Ia menjabat tangan saya, mengucapkan selamat tinggal dan menyatakan senang bertemu saya hari itu. Saya balas mengucapkan terima kasih, dan bertanya beliau akan pulang lewat mana.

“Jalan turun lagi, lewat situ,” jawabnya, menunjuk ke tangga yang mengarah ke bawah di antara pepohonan. “Sudah biasa kok,” katanya menenangkan, mungkin melihat tampang saya yang setengah tidak percaya karena jalur yang ia tunjuk itu tampak sudah gelap. Ia melambai, lalu tetap dengan semangat yang sama seperti saat naik itu, menghilang di antara dedaunan yang separo menutupi jalur tersebut.

takaosan-13

Sepeninggal beliau, dan sambil berjalan kembali ke stasun funikular, saya menggeleng-geleng sedikit dan bertanya-tanya, Kakek itu nyata tidak ya? Jangan-jangan beliau tengu menyamar, lagi. Saya benar-benar berterima kasih sih kepada beliau, karena kunjungan saya ke Takao yang hanya separo direncanakan ternyata jadi seru berkat beliau.

Beberapa hari kemudian, sepucuk surat elektronik dari kakek mampir ke inbox saya, melampirkan foto-foto yang kami ambil di Gunung Takao. Ah, rupanya beliau nyata adanya.

Eh, tapi siapa bilang tengu sekarang tidak bisa pakai komputer, ya?

takaosan-09

 

Festival Sejuta Cahaya Kawagoe 2014

This post is about Japan

Prak prok, prak prok, terdengar suara langkah kaki prajurit-prajurit Romawi menyusuri jalan aspal yang panas membara diterpa sinar matahari bulan Juli yang gila-gilaan. Lho… tapi… tunggu sebentar. Memangnya saya saat ini sedang berada di mana, dan kapan?

kawagoe01

Yah, sebenarnya saya sedang berada di Kawagoe (川越), sebuah kota kecil yang terletak tidak begitu jauh dari Tokyo. Julukannya adalah Koedo – Edo kecil, karena ada sejumlah bagian kota dengan bangunan-bangunan zaman Edo (nama lama Tokyo) yang masih terlestarikan dengan baik di kota ini. Kawagoe memang memiliki nuansa Edo yang cukup kental, karena di zaman Edo (1603-1867) kota ini memang punya peran penting dan hubungan baik dengan Edo.

kawagoe02

Jadi lucu juga ya, hendak melihat wajah lama Tokyo, justru harus pergi agak ke luar kota sedikit. Tapi dengan lama perjalanan hanya sekitar tiga puluh menit dari kota Tokyo, Kawagoe terhitung tidak jauh kok, dan bisa dijadikan salah satu pilihan daytrip yang menghadirkan nuansa berbeda dari Tokyo.

kawagoe03

Dan saat itu, 26 Juli tahun 2014, saya mendorong diri saya yang sebenarnya sedang berpuasa untuk mendatangi Kawagoe karena sedang berlangsung apa yang disebut ‘Festival Sejuta Cahaya’ alias Hyakumantou-matsuri (百万灯祭り). Asal-muasal festival ini adalah tradisi rakyat menggantungkan lentera di depan rumah mereka sebagai penghormatan terhadap tuan kastil Kawagoe (yang sayangnya sekarang tinggal sisa-sisanya saja), Naritsune Matsudaira. Dan meskipun tergolong festival tradisional, festival ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan budaya tradisional, melainkan juga tari-tarian modern dan dari negara-negara lain, meskipun yang menarikannya ya orang-orang Jepang juga. Selain itu ada arak-arakan omikoshi dan pesta jajanan. Pokoknya, pesta rakyat, lah!

kawagoe08

Festival itu dilangsungkan selama dua hari, dan sayangnya saya hanya bisa memilih salah satu di antaranya. Sebenarnya saya sangat ingin menyaksikan pertunjukan bersejarah menarik yang merupakan kekhasan Kawagoe: penembakan bedil yang disebut tanegashima. Bedil kuno ini sebenarnya dibuat berdasarkan bedil yang dalam bahasa Inggris disebut matchlock, yang cara pembuatannya dipelajari penduduk pulau bernama Tanegashima dari orang-orang Portugis yang menjual dua buah di antaranya kepada mereka. Orang-orang Tanegashima lantas berhasil memproduksi tiruannya secara massal, dan bedil buatan mereka menjadi dikenal sebagai tanegashima juga. Nama lainnya adalah hinawajuu (火縄銃). Di Kawagoe, ‘seni’ menembakkan tanegashima juga dilestarikan, sama seperti bangunan-bangunan tua dari zaman Edo.

Sayangnya, ya tadi itu. Di hari yang saya pilih, tidak ada pertunjukan tanegashima. Akhirnya saya pun memuaskan diri dengan pertunjukan-pertunjukan lain yang dilangsungkan hari itu – dan mereka juga menarik kok!

kawagoe17

Untuk sampai ke Kawagoe, ada beberapa jalur yang bisa digunakan, antara lain jalur-jalur swasta Tobu Tojo dan Seibu-Shinjuku. Namun sebagai pengguna jalur JR (maklum, tempat tinggal saya terletak di jalur JR Chuo), saya lebih memilih menggunakan jalur Saikyo. Setibanya di Kawagoe, meski panas siang hari menyengat, festival sudah dipadati hadirin maupun peserta.

kawagoe11

Sambil berjalan ke arah ‘distrik pergudangan’ (alias kurazukuri no machinami, 蔵造りの町並み), saya menyaksikan pawai (termasuk pawai tentara Romawi jadi-jadian yang saya sebutkan di awal), pertunjukan seni tradisional, tari-tarian modern… namun yang membuat saya tidak habis pikir adalah tarian Hawaii yang dibawakan oleh sejumlah wanita Jepang. Bukan apa-apa… mereka tidak bersepatu, lho! Padahal bagi saya yang memakai sepatu kets saja, panasnya aspal terasa menguar sampai ke kulit telapak kaki.

kawagoe10

Nah, kalau yang di foto di bawah ini, dashi (山車) namanya. Sebenarnya, di Kawagoe ada satu festival lagi yang juga sangat meriah, yang disebut ‘Kawagoe Matsuri’. Kawagoe dilangsungkan di bulan Oktober, ketika penduduk mengarak dashi milik daerah masing-masing. Mereka saling ‘bersaing’ memamerkan keindahan dashi dan kepiawaian membawakan musik tradisional hayashi. Namun saat festival musim panas ini, dashi hanya dipamerkan saja.

kawagoe09

Berjalan-jalan di bagian kota tua Kawagoe – termasuk menyusuri jalan-jalan kecilnya – memang menyenangkan. Banyak bangunan tua, baik yang bergaya Jepang maupun Barat, yang masih terawat baik, meskipun fungsinya mungkin sudah berubah dari fungsi aslinya ketika bangunan tersebut didirikan. Kurazukuri, misalnya, adalah gudang dengan tembok dari tanah liat – yang sekarang telah beralih-fungsi terutama sebagai restoran dan toko. Ya, sah-sah saja, lebih baik kan daripada bangunan-bangunan itu hilang tak berbekas?

kawagoe07

Beberapa tetenger Edo Kecil berada di kawasan ini. Salah satunya tentu saja Toki no kane, Lonceng Waktu, sebutan untuk sebuah menara lonceng dari kayu. Lonceng ini masih dibunyikan beberapa kali sehari sebagai penanda waktu. Bangunan yang sekarang berasal dari tahun 1894, setelah bangunan sebelumnya habis terbakar di tahun sebelumnya.

kawagoe04

Di daerah ini juga terdapat Kashiya Yokochou, gang toko manis-manisan. Di sini masih bisa ditemukan kedai-kedai yang menawarkan beraneka ragam kudapan manis ala Jepang. Suasananya lebih teduh dan tenang dibandingkan jalanan besar yang hiruk-pikuk, setidaknya di kala festival ini.

kawagoe05

Nah, kalau lagi festival begini, sebenarnya yang benar-benar menggoda itu apa? Penjual jajanan yang berjejer-jejer, bahkan tumpah-ruah sampai ke jalan-jalan kecil. Saya yang masih berpuasa hanya bisa menatap kepengen tanpa sanggup berbuat apa-apa selain membuat daftar dalam benak, makanan dan minuman mana saja yang harus saya cicipi nanti ketika sudah tiba waktunya berbuka puasa. Di saat berpuasa, bahkan timun jepang (kyuri) yang dijual rata-rata 100 yen per tusuk pun terasa tampak menawan. (Waktu sudah berbuka sih, tidak lagi terasa demikian, meskipun jajanan sederhana ini tampak cukup laris diserbu pembeli.) Satu hal lagi: jajanan yang dijual saat festival mungkin lebih mahal dibandingkan hari biasa. Tangan pun bergerak miris menghitung-hitung keping-keping uang dalam dompet.

kawagoe06

Sore sedikit, pawai utama dimulai. Tua-muda, laki-perempuan, berombongan menarik gerobak berhiasan indah dengan para musisi tradisional (tak sedikit yang masih anak-anak) di atasnya, ataupun menjunjung omikoshi (‘altar portabel’). Riuhnya sorak-sorai, gelak riang, dan musik tradisional bersahut-sahutan memeriahkan suasana. Arak-arakan makin seru ketika ada yang menyiramkan air kepada kelompok pembawa omikoshi yang lewat – hal yang tidak mereka tolak, mengingat betapa panasnya hari itu! Ada kelompok-kelompok yang membawa omikoshi sungguhan, ada juga yang hanya tiruan, termasuk yang dibuat dari bahan berupa botol-botol plastik bekas.

kawagoe18

Saya akhirnya menemukan tempat enak untuk menyaksikan arak-arakan itu – duduk di atas beton pembatas jalan di salah satu perempatan besar yang ditutup bagi kendaraan bermotor selama festival berlangsung. Sialnya saat itu juga kamera saya, yang saya lupa isi ulang baterainya, kehabisan daya. Saya akhirnya hanya bisa mengambil foto dengan telepon genggam.

kawagoe12

Matahari semakin bergulir ke Barat, dan suhu semakin sejuk. Akhirnya tiba juga waktunya buka puasa. Saya lekas-lekas mencari tempat duduk untuk menenggak minuman botolan yang saya peroleh dari mesin otomat. Setelahnya, ya, apalagi yang saya lakukan selain langsung mencari makanan untuk mengisi perut?

kawagoe20

Bila Tokyo terkenal karena ubi kuningnya (serius, bukan Tokyo Banana atau apalah, kudapan tradisional Tokyo sebenarnya terbuat dari ubi kuning), maka Kawagoe membanggakan ubi ungunya. Tepat sebelum sebuah toko penjual es krim ini tutup, saya berhasil membeli satu cone es krim ubi ungu yang terasa sangat segar di kerongkongan saya yang habis berpuasa seharian. Tapi saya lupa… ini bagian yang warna kuning, es krim rasa apa ya?

kawagoe16

Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan lebih lanjut untuk mencicipi berbagai jajanan festival lainnya. Mata saya kembali terpikat jajanan yang terlihat lucu: pisang cokelat. Iya, pisang cokelat yang biasa-biasa saja, di mana-mana juga bisa ditemukan, tapi memang kalau sedang dalam suasana festival (apalagi saat suhu panas), pisang cokelat terasa sedemikian menggoda! Meijses-nya warna-warni, lagi, membuat si pisang terlihat cantik sekali.

kawagoe14

Ada satu hal yang cukup menyebalkan dalam ‘wisata kuliner’ kali ini. Sewaktu saya dan berpuluh-puluh orang lain sedang dengan sabarnya mengantri untuk membeli yakitori di sebuah kedai yang sangat laris, empat turis Thailand yang berisik datang menyelak antrian, langsung ke paling depan. Entah mereka ini betul-betul tidak menyadari bahwa ada antrian atau tidak – yang jelas, saya sering kesal kepada orang-orang yang tidak main lihat-lihat seperti itu. Penjual sempat tertegun, namun mungkin daripada berpanjang-panjang, ia layani juga keempat turis itu. Orang-orang Jepang yang mengantri diam saja, tidak berkata apa-apa, tapi pandangan mata mereka seolah-olah mengatakan “Aduh, dasar orang asing norak, tidak tahu sopan-santun!” Saya hanya bisa terdiam, merasakan secondhand embarrassment.

kawagoe13

Saya berjalan kembali ke bagian utama kota, karena di sanalah pusat penyelenggaraan fase terakhir festival. Sedang santai melangkah, mata saya tertumbuk ke sebuah dompet kartu transpor yang tergeletak di jalan. Belum beberapa lama saya juga kehilangan dompet semacam itu, dan saya teringat perasaan kesal dan bingung yang saya rasakan waktu itu. Akhirnya, dengan harapan si pemilik tidak perlu merasakan hal yang sama, saya berinisiatif membawanya ke pos polisi terdekat.

Pos polisi ini sebenarnya pos polisi sementara, berupa beberapa atap terpal yang dibentangkan di atas tiang-tiang dengan beberapa meja ternaung di bawahnya. Di pos ini, sejumlah polisi dan petugas lainnya – entah apakah polisi juga, karena tidak berseragam – berjaga-jaga, siap membantu siapa pun yang membutuhkan. Kepada seorang petugas polisi saya memberitahu bahwa saya menemukan sebuah dompet. Ia lalu mempersilakan saya menghampiri salah satu meja yang ditunggui seorang petuas perempuan. Dan dari situ dimulailah kebingungan saya. Apa pasal?

kawagoe15

Hal yang saya kira akan mudah saja – paling-paling saya ditanya menemukan dompet ini di mana, lalu sudah, saya akan disuruh pergi, begitu perkiraan saya – ternyata jadi panjang. Si mbak segera bersiap membuat catatan terperinci, sementara pak polisi yang ramah menanya-nanyai saya. Awalnya saya diminta menunjukkan lokasi tempat saya menemukan dompet itu di peta. Oke, ini masih wajar. Tapi malah saya jadi ditanya macam-macam, antara lain ditanya tinggal di mana dan sedang apa di Jepang. Saking lamanya saya ditanya-tanyai, pisang cokelat saya yang masih tersisa sedikit menjadi sedemikian lembek dan… jatuh dari tusuknya. Melihat itu, barulah pak polisi dan mbak yang mencatat jawaban-jawaban saya tampak tidak enak hati.

Akhirnya pak polisi bertanya apakah saya datang sendirian atau tidak. Saya jawab, iya. Dia bilang, Wah, keren ya, berani! (Sebenarnya sih biasa saja, tapi memang orang Jepang biasa memuji basa-basi begini.) Dia pun melepas saya dengan berpesan agar berhati-hati. Saya pun meninggalkan pos polisi masih dengan bingung. Mau melaporkan menemukan dompet hilang saja kok jadi runyam amat, ya? Saya jadi berpikir: ih, apa lain kali nggak usah aja melaporkan kalau menemukan barang yang hilang. Namun ternyata, di Jepang ada aturan bahwa bila si pemilik mengambil barangnya yang hilang, ia wajib membayar ke si penemu sebesar 5-20% dari nilai barang. Dan bila tidak ada yang mengakui barang itu, maka barang tersebut diserahkan kepada penemunya. Maka itu pak polisi sempat bertanya kepada saya, apakah tidak apa-apa kalau saya tidak dapat apa-apa dari si pemilik nantinya. Saya, yang berpikir “Kok mengembalikan barang pakai pamrih?” menjawab tidak apa-apa berkali-ali, meskipun pak polisi juga menanyai saya berkali-kali bahwa hal itu benar-benar ‘daijoubu’ buat saya. Ternyata aturan hukum toh! Oalaaah.

Hari semakin larut, tapi keramaian festival tidak makin berkurang, justru sepertinya makin bertambah-tambah, terutama daerah di dekat stasiun JR. Beberapa kedai makanan ataupun restoran disemuti pengunjung. Saya sampai kesulitan berjalan di sejumlah jalan kecil yang saya masuki gara-gara antrian orang! Oh, tapi mungkin perlu saya sebutkan, ya: meskipun ada orang sebanyak itu, tidak terlihat sampah berserakan, padahal tempat sampah juga tidak begitu mudah ditemukan, walaupun ada sejumlah toko atau kedai yang menyediakan bak atau kotak penampung sampah.

kawagoe21

Saya menonton pertunjukan-pertunjukan terakhir hari itu – didominasi oleh tari-tarian tradisional kolosal – sambil melahap jagabataa (kentang dengan mentega) dengan santai. Para penari – yang saya yakin di hari-hari lain hanyalah orang-orang biasa, bukan seniman – sangat penuh energi membawakan tari-tarian rakyat, yang disambut tepuk-tangan dan seru-seruan meriah.

Hari sudah gelap sekali ketika akhirnya festival ditutup. Saya dan para hadirin lain beranjak pulang, meskipun lentera-lentera sumber ‘jutaan cahaya’ belum lagi redup. Toh, kalaupun lentera-lentera ini pada akhirnya dipadamkan, tahun depan mereka akan menyala lagi, menyinari keriaan pesta rakyat Edo Kecil.

Yokohama (I): Yamate dan Motomachi

This post is about Japan

Sewaktu sedang membaca-baca tulisan-tulisan terdahulu di blog ini untuk memeriksa daerah-daerah Jepang mana saja yang sudah pernah saya bahas, saya terkejut sendiri menyadari saya belum pernah menulis secara mendalam tentang Yokohama. Kok lucu ya, saya membatin sendiri, padahal Yokohama adalah salah satu kota yang paling saya senangi di Jepang. Dibandingkan Tokyo yang terasa agak klaustrofobik dengan gedung-gedung tingginya yang berdiri rapat-rapat, Yokohama terasa lebih lega. Udaranya berhawa laut yang menyegarkan, mengalir melalui jalan-jalan entah itu yang lebar dan terbuka dengan gedung-gedung modern menjulang yang berdiri renggang satu sama lain di kanan kirinya, ataupun yang kecil dengan trotoar batu yang luas dan tempat-tempat makan kecil yang nyaman.

yokohama2014-25

Namun sewaktu saya mengutarakan pujian mengenai kota tersebut kepada teman yang berdiam di Yokohama, lekas ia menukas, “Ah, ya itu kan di bagian-bagian situ-situ saja yang bagus. Di Minato Mirai dan sekitarnya itu kan? Yang banyak dikunjungi wisatawan. Kalau kayak di daerah tempat aku tinggal ya biasa-biasa saja.”

Hmmm… iya sih. Seberapa pun menariknya sebuah kota di Jepang, niscaya juga ada daerah-daerah yang terutama diisi oleh bangunan-bangunan tempat tinggal yang bergaya seragam dan lebih mengutamakan fungsi daripada keindahan. Dan tentu saja bila kita merupakan seorang wisatawan, daerah-daerah semacam itu biasanya luput dari perhatian kita, karena kita lebih banyak mencurahkan perhatian kepada daerah-daerah yang memang digadang-gadang banyak orang sebagai ‘wajib dikunjungi’.

Baiklah, itu adalah kenyataan yang tidak bisa dibantah. Tanpa melupakan bahwa mungkin sebagian besar bagian lain Yokohama adalah deretan permukiman dan perkantoran yang tidak memikat mata, marilah kita tengok beberapa daerah yang terhitung sedap dicecap indera.

Dengan menumpangi Minato-Mirai Line dari stasiun Yokohama, mari kita datangi daerah yang dikenal sebagai Yamate. Jalur kereta yang bernama lengkap Minato-Mirai 21 Line ini sebenarnya merupakan jalur Yokohama, namun Anda bisa mendapatkan kereta langsung dari Shibuya, yaitu kereta Tokyu-Toyoko Line yang melanjutkan tugasnya dan berganti status menjadi kereta Minato-Mirai Line begitu mencapai Yokohama. Bila Anda berhasil menumpangi kereta ini dari Shibuya, Anda tidak perlu lagi ganti kereta di Yokohama. Cukup ikuti terus kereta melaju sampai stasiun bernama Motomachi-Chukagai.

Sampai di stasiun yang namanya cukup ribet untuk lidah Indonesia ini, langsung tersedia beberapa pilihan tempat untuk kita datangi selain Yamate. Saya sendiri saat kali pertama mengunjungi daerah tersebut, langsung membiarkan kaki-kaki saya tertarik ke Taman Yamashita yang luas dan panjang mengikuti tepi pelabuhan Yokohama. Ya, masa sudah jauh-jauh datang ke Yokohama tidak melihat lautnya?

yokohama2014-01

Taman Yamashita menawarkan lapangan luas berumput di mana kita boleh tidur-tiduran, duduk-duduk mengobrol, piknik, ataupun bermain-main. Juga ada bangku taman, pelataran berlapis batu, pepohonan peneduh, jalur-jalur pejalan kaki dan pesepeda yang lebar – ini tempat yang bersahabat bagi anak kecil, keluarga, penampil jalanan, sampai karyawan yang kelelahan dan ingin santai memejamkan mata sejenak di bawah langit terbuka.

yokohama2014-02

Bila berdiri menghadap ke laut di taman ini, kita bisa memilih melangkahkan kaki ke kiri – ke arah Akarenga yang akan saya bahas kali lain – ataupun ke kanan, ke arah Harbor View Park. Lewat taman yang satu ini kita juga bisa mencapai daerah Yamate, jadi marilah sekarang kita balik badan ke kanan dulu dan mulai menapaki undak-undakan batu menuju persimpangan yang harus kita seberangi agar tiba di Harbor View Park. Tengok, di sebelah kanan kita juga tampak Marine Tower.

yokohama2014-03

Sebagian tangga yang harus kita daki ke Harbor View Park cukup tinggi dan curam, jadi kalau dalam rombongan kita ada yang kurang bugar, mungkin kita bisa pertimbangkan untuk mencapai Yamate dengan naik bis saja. Akaikutsu Loop Bus yang hanya menarik 100 yen dari setiap penumpang dewasa dapat membawa Anda ke daerah Yamate dan Motomachi. Rute bisnya bisa dilihat di sini.

Nah, kembali ke rute pejalan kaki melewati Harbor View Park. Sebenarnya saya melewati Museum Boneka Yokohama – nama Jepangnya adalah Yokohama Ningyo no Ie yang lebih tepat diartikan sebagai ‘rumah boneka Yokohama’, namun nama yang diberikan dalam bahasa Inggris adalah Doll Museum Yokohama. Saya belum sempat berkunjung ke museum ini, hanya melihat-lihat sebelah depannya saja dari luar. Tampaknya sih menarik, apalagi untuk yang memang merupakan penggemar boneka.

yokohama2014-04

Meninggalkan museum boneka di belakang, dan setelah sejumlah undak-undakan lagi, tiba juga saya di Harbor View Park yang menawarkan pemandangan ke arah laut dan kota Yokohama dari tempat yang lebih tinggi daripada sekelilingnya.

yokohama2014-05

Dari sini, bangunan-bangunan kuno bergaya Eropa yang merupakan daya tarik utama wisata kawasan Yamate sudah dekat.

Tunggu dulu – ngomong-ngomong, apa itu Yamate ya? Namanya kok mengingatkan pada jalur kereta JR yang melingkari sebelah dalam Tokyo, Yamanote? Tulisan kanjinya pun sama (山手), hanya saja di Tokyo nama itu keselipan no menjadi Yamanote sehingga kadang ditulis juga 山の手. Meskipun nama Yamate/Yamanote berarti ‘kaki bukit’, kedua kawasan tersebut merupakan daerah berbukit-bukit. Dan seperti juga di Tokyo, di mana daerah Yamanote dahulu kala merupakan daerah yang dihuni oleh orang-orang berstatus tinggi, daerah Yamate di Yokohama juga merupakan kawasan permukiman orang-orang penting. Dalam hal ini, orang-orang Barat yang turut menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan kota pelabuhan Yokohama yang banyak disinggahi kapal negara-negara lain.

yokohama2014-08

yokohama2014-15

Mengingatkan pada Kobe, ya? Bedanya adalah sebagian besar rumah tua di Yamate gratis untuk dimasuki dan dilihat-lihat. Pokoknya, asal ingat untuk mencopot sepatu di pintu depan, dan tidak sembarangan pegang-pegang atau mencoba menduduki kursi selain yang dibolehkan!

yokohama2014-06

yokohama2014-16

yokohama2014-14

Contoh rumah tua yang bebas kita masuki adalah British HouseBerrick HallEhrismann Residence, juga Bluff no 111 dan Bluff no 234. (The Bluff adalah sebutan lain untuk Yamate.)

yokohama2014-07

Beberapa rumah tua sudah dirombak menjadi restoran, kafe, atau toko, mengundang kita untuk masuk beristirahat sejenak di tengah perjalanan kita menyusuri jalan-jalan sempit yang damai itu. Eh, beberapa rumah juga boleh lho disewa untuk acara pribadi, pernikahan misalnya.

yokohama2014-10

yokohama2014-09

yokohama2014-17

Berhubung dahulu di Yamate banyak menetap orang asing, tak heran cukup banyakbangunan gereja, baik yang masih terpakai ataupun tidak, yang bisa kita temui di wilayah ini.

yokohama2014-13

Masih di kawasan Yamate, terletaklah taman pemakaman orang asing. Di gerbang masuknya, terpasang prasasti berhiaskan sepenggal puisi karya Thomas Gray yang terasa menusuk. Keheningan di pemakaman ini,yang bahkan terasa lebih-lebih lagi dibandingkan bagian-bagian Yamate lainnya, terasa sangat kontras dengan bagian-bagian Yokohama yang nyaris selalu ramai seperti Chinatown (Pecinan) dan Minato Mirai.

yokohama2014-11

yokohama2014-12

Saya menuruni bukit, menyusuri jalan-jalan kecil perumahan. Ternyata di sini pun ada pemandangan-pemandangan menarik, seperti saluran-saluran air dan kolam-kolam yang beriak halus.

yokohama2014-18

yokohama2014-19

Saya turun terus, dan tiba di kawasan perbelanjaan terbuka Motomachi. Di sini ada banyak toko, restoran, dan kafe berjejer-jejer, termasuk di jalan-jalan kecilnya; mulai dari bagian dari jaringan internasional sampai kedai kopi milik lokal. Tempat yang cukup enak untuk beristirahat setelah sebelumnya naik-turun bukit di Yamate.

yokohama2014-20

Ah… di sana ada Chinatown. Tapi kali ini saya sudahi dulu perjalanan saya di Yokohama, kota pelabuhan kecil yang menawan. Setidaknya, di daerah-daerah yang memang menjadi favorit wisatawan.

Kebun Binatang Tama Mei 2014

This post is about Japan

Ya ampun.

Sewaktu saya membuka kumpulan foto saya, dengan maksud untuk (akhirnya) melanjutkan menulis pengalaman saya di blog ini, terperanjat saya menyadari bahwa sudah setahun berlalu sejak saya mengunjungi Kebun Binatang Tama – alias Tama Zoo, alias Tama Doubutsuen. Sedemikian banyakkah waktu saya yang tersisa oleh kehidupan sehari-hari sampai-sampai foto-foto ini menanti sampai setahun sebelum saya tengok lagi?

Baiklah, memang pada dasarnya tidak akan ada tulisan yang jadi bila saya tidak menggerakkan jari-jari saya untuk menulis – atau tepatnya, mengetik. Jadi, sambil meminum Lipton Royal Tea Latte di sebuah apartemen di Tokyo, marilah saya bercerita tentang kebun binatang yang satu ini.

tamazoo-03

Banyak orang yang menyarankan agar kita berkunjung ke kebun binatang Ueno bila kebetulan bertandang ke Tokyo. Untuk melihat panda. Untuk mencari sedikit udara segar di tengah Tokyo. Sekalian jalan melihat museum-museum yang ada di daerah tersebut. Letaknya yang memang strategis – stasiun Ueno adalah salah satu stasiun di jalur Yamanote yang melingkari Tokyo – menjadikan kebun binatang ini berada dalam jangkauan mudah para turis.

Saya sendiri malah belum pernah berkunjung ke kebun binatang tersebut, meski ke museum-museum di Ueno ya sudah pernah. Aneh tidak, ya? Mungkin sama anehnya dengan fakta bahwa saya tidak pernah ke Tokyo Sky Tree ataupun memakan Tokyo Banana selama satu setengah tahun bermukim di Jepang?

Tapi, sejumlah orang mengatakan bahwa bila kita sudah pernah berkunjung ke kebun binatang di Tama, tidak perlu-perlu amat pergi ke kebun binatang di Ueno. Tama Zoo jauh lebih besar (52 hektar) dan menarik daripada kembarannya di Ueno (yang berluas 14 hektar). Oleh karena saya belum pernah mengunjungi yang di Ueno, tentu tidak sah untuk membuat pembandingan semacam ini. Yang jelas sih, saya sangat terkesan oleh Tama Zoo, sehingga saya berpikir jangan-jangan benar kata-kata orang kepada saya bahwa sudah cukuplah Tama Zoo saja.

Letak Tama Zoo sebenarnya tidak begitu jauh dari Tokyo, tapi memang butuh usaha ekstra, lebih daripada sekadar menaiki kereta Yamanote, untuk mencapainya. Dari stasiun Tokyo atau Shinjuku – atau stasiun mana saja yang ada di sepanjang Chuo Line – terlebih dahulu kita harus naik kereta ke Tachikawa, daerah yang juga sebenarnya menarik seperti yang pernah saya bahas sebelumnya. Namun kali ini karena kita mau ke Tama Zoo, baiklah kita lanjutkan perjalanan dengan Tama Monorail menuju stasiun Tama Doubutsuen. Dari Shinjuku, kira-kira makan waktu satu jam lah.

Udara segar perbukitan langsung menyapa kita ketika tiba di kebun binatang ini. Beginilah rupa gerbang depan kebun binatang tersebut, beserta jejeran koinobori yang menjadi bukti bahwa saya berkunjung di bulan Mei (tahun lalu).

tamazoo-01

Tama Zoo buka mulai pukul 9 sampai 17.30, dan penjualan tiket diakhiri pukul 16.00. Tapi beneran deh, jangan datang ke kebun binatang ini ngepas pukul empat sore. Mana cukup waktu setengah jam saja mengelilinginya?

tamazoo-02

Tiket dibeli melalui sejumlah mesin seperti yang ada dalam foto di atas. Ada bermacam-macam desain tiket, berhiaskan gambar hewan yang berbeda-beda. Hari itu saya dapat gambar semut. Iya, semut. Agak kecewa sih, karena saya berharap mendapatkan gambar harimau… serigala… burung kakatua… apalah yang gagah atau cantik, tapi memang luck saya sedang berkata ‘semut’.

Harga tiket orang dewasa – dalam hal ini diartikan berusia 16 sampai 64 tahun – adalah 600 yen sekali masuk. Lansia 65 tahun ke atas cukup membayar 300 yen saja, sementara murid sekolah berusia 13-15 tahun hanya ditarik 200 yen (dengan catatan, mereka bersekolah di Tokyo). Anak-anak berusia di bawah 12 tahun? Gratis! Nah, keluarga yang memiliki anak kecil benar-benar dimanjakan, bukan?

Saya juga perhatikan bahwa kebun binatang ini dibuat se-family friendly mungkin, dan family di sini tidak berarti melulu bapak-ibu-anak. Karena mereka pun menyediakan ruang perawatan bayi untuk bapak-bapak. Lho, iya kan? Di dunia ini kan tidak hanya ada keluarga lengkap, dan tidak hanya ada single mother, melainkan juga ada single father. Mungkin juga memang kedua orang tua berbagi peran, dan kali ini sang ayahlah yang ingin mengganti popok si bayi!

Eh iya, ngomong-ngomong, toilet umum di kebun binatang ini, di tempat-tempat terpencil yang jauh dari gerbang utama sekali pun, berupa washlet dan bersih lho… Membuat pengalaman di kebun binatang ini makin menyenangkan saja. Padahal saya sudah pasrah kalau toilet di tempat seperti ini ‘seadanya saja’.

Secara garis besar, kebun binatang ini dibagi menjadi tiga zona, yaitu zona Asia, Afrika, dan Australia, ditambah bagian serangga (Insektarium). Denahnya bisa dilihat di situs resmi kebun binatang Tama (tersedia juga dalam bahasa Indonesia). Kebun binatang ini dibangun mengikuti kontur perbukitan, agak mengingatkan saya kepada kebun binatang di Chiang Mai. Jadi sudah luas, medannya naik-turun pula. Mungkin ini perlu jadi bahan pertimbangan bila Anda punya masalah kesehatan atau gampang lelah. Tapi sungguh, saya rasa udara segar dan kesempatan berolahraga jalan kaki di kebun binatang ini sungguh menyehatkan!

Di kebun binatang ini, kita bisa melihat bermacam-macam binatang dari ketiga zona di dunia tersebut, termasuk tentu saja binatang-binatang dari Jepang sendiri. Di antaranya, monyet makaka Jepang yang mungkin sudah sering Anda lihat di televisi.

tamazoo-21

Beberapa hewan lain yang bisa dilihat di kebun binatang ini, dalam kandang yang didesain semirip mungkin dengan tempat hidup asli mereka, adalah:

tamazoo-10

Panda merah, dikenal juga sebagai lesser panda, kerap memancing orang berseru “Apanya yang panda? Kok nggak mirip?”

Apa? Pantatnya lucu?

Baiklah, kita lihat lagi, secara lebih dekat.

tamazoo-09

Indonesia diwakili antara lain oleh orang utan. Saya sampai trenyuh melihat ibu dan anak ini bermain-main dari balik kaca. Saya berpikir, di negara yang jauh dari hutan rimba tropis tempat asal mereka ini, apakah mereka lebih bahagia daripada di tanah air mereka, di mana mereka disia-siakan, dikejar-kejar, dan dibunuh tanpa belas kasihan? Apa betul lebih enak hujan batu di negeri sendiri? Kalau menurut saya sih tidak, ya. Entahlah, setidaknya di sini mereka ini disayang, dijaga, diberi perawatan, dikagumi.

tamazoo-15

Serius deh, kok ada sih yang tega membunuh makhluk selucu ini? Lihat, mereka juga tersenyum dan tertawa!

tamazoo-14

Salah satu bagian yang paling membuat saya kegirangan sendiri adalah walk-in aviary – di mana kita memasuki kubah-kubah berisikan burung-burung yang dilepas bebas, termasuk merak. Rasanya takjub saja saya bisa berada sedekat itu dengan berbagai burung. Inilah akibat dari belum pernah ke Taman Burung TMII.

tamazoo-04

tamazoo-06

tamazoo-05

Saya juga menyukai zona Afrika, terutama kandang singa. Kita dapat menumpang bis khusus untuk mengitari kandang singa dari sebelah dalam dan melihat raja-ratu sabana ini dari dekat, atau berjalan mengamati mereka dari sebelah atas tembok yang mengelilingi kandang yang luas. Oleh karena saat itu kantong saya agak cekak, saya lebih memilih opsi kedua.

tamazoo-19

Gagah, ya!

Kalau yang ini sih… serigala. Harapan saya melihat serigala-serigala ganteng bermata tajam yang berdiri gagah menentang angin pupus karena saat saya tiba di sana, serigala-serigala ini sedang tertidur kekenyangan. Ah. Ya sudahlah.

tamazoo-13

Sebodo amat ada kuda-kuda gemuk di sebelah sana, wong kekenyangan kok…

tamazoo-12

Kangguru-kangguru juga kebanyakan sedang leyeh-leyeh tiduran bareng-bareng. Melihat kaki belakang mereka, saya agak ngeri mengingat cerita bagaimana mereka bisa menendang manusia dengan kuatnya sampai orang yang bersangkutan ‘lewat’.

tamazoo-16

Insektarium juga sangat menyenangkan. Ada kubah berisikan macam-macam kupu-kupu. Ada serangga-serangga hidup dari wujud larva sampai dewasa, juga ruangan-ruangan khusus di mana disimpan spesimen-spesimen awetan yang saya rasa bakal membuat teman-teman saya penggemar serangga melonjak-lonjak bersemangat.

tamazoo-20

Hewan memamah-biak juga cukup banyak terdapat di kebun binatang ini. Yang satu ini tidak sedang sakit, lho. Ia sedang menggugurkan bulu musim dinginnya, bersiap menghadapi musim panas yang di Jepang bisa mencapai empat puluh derajat Celsius.

tamazoo-08

tamazoo-07

Sayang, tidak cukup waktu bagi saya untuk menjelajahi seluruh bagian kebun binatang ini saking luasnya. Yang penting bagi saya saat itu adalah saya sudah melihat semua hewan utama yang ingin saya lihat. Itu pun kaki saya dua-duanya sudah terasa mau copot, padahal selama di Jepang saya terbiasa berjalan kaki untuk jarak yang cukup jauh. Hufh!

tamazoo-11

Oh ya, ada kejadian kecil namun menggugah.

Saya rupa-rupanya berkunjung di hari yang sama dengan serombongan (bahkan mungkin bukan hanya satu rombongan?) murid taman kanak-kanak. Mereka berlari-lari, berkeliaran ke sana-kemari dengan bersemangat, ditemani bapak-ibu guru yang tampak sabar.

Salah satu anak tampaknya kelelahan dan mulai menangis, tidak mau berjalan lagi. Ibu guru sibuk membujuk di kaki tangga batu yang seharusnya mereka naiki.

Teman-teman anak itu, yang sudah naik beberapa anak tangga, memutar badan menghadap ke si gadis cilik dan melambai-lambai sambil memberinya semangat, “Ayo, Yuu-chan! Ganbatte Yuu-chan! Ganbatte!”

Saya terperangah. Anak-anak TK pun sudah mengerti yang namanya ganbaru, dan bahkan menyemangati teman mereka seperti itu. Di benak saya kontan berkelebat pertanyaan, “Ini bagaimana cara mendidiknya, sih?”

tamazoo-18

tamazoo-17

Saya pun meninggalkan kebun binatang ini dengan iri di dalam hati, ingin kita juga memiliki kebun binatang yang cantik, bersih, memenuhi standar-standar pemeliharaan hewan, dan edukatif. Bukankah kebun binatang semacam ini juga dapat menjadi tempat mendidik anak-anak agar peduli hewan dan alam, serta juga belajar ber-ganbaru?

Yah, tentunya juga kita sebagai orang dewasa tidak boleh malah mencontohkan hal yang salah kepada anak-anak di kebun binatang, seperti misalnya melemparkan makanan ke dalam kandang padahal sudah jelas-jelas terlarang! (*)

tamazoo-22

Taman Showa Kinen, Tachikawa (2) – musim gugur 2014

This post is about Japan

Setelah menengok Taman Showa Kinen di musim semi dan musim panas, sekarang kita lihat yuk bagaimana keadaannya di musim gugur.

Salah seorang sensei saya memberi tahu bahwa di Showa Kinen terdapat deretan pohon ginkgo yang tampak sangat cantik pada puncak musim gugur. Terpikat oleh warna keemasan daun ginkgo yang nyaris gugur, saya pun kembali ke taman itu di pertengahan November 2014.

Wah, benar saja. Bahkan sebelum memasuki gerbang pun sudah terlihat pemandangan yang didominasi warna kuning dan merah pepohonan yang telah menarik klorofil mereka ke dalam batang, demi menghadapi musim dingin.

showakinen-autumn-01

Saya datang di hari yang tepat: langit sedemikian biru cerah, tidak berawan. Kontras warna kuning daun dengan langit tampak cantik sekali!

showakinen-autumn-02

Ada dua jalur pohon ginkgo seperti ini, tak jauh dari Gerbang Tachikawa. Tak mengherankan, kan, bila demikian banyak pengunjung sibuk berfoto di jalur-jalur tersebut?

showakinen-autumn-03

showakinen-autumn-04

showakinen-autumn-05

Saat saya sedang duduk di salah satu bangku di tepi taman, seekor kucing keluar dari sesemakan. Tidak seperti kucing dalam kota Tokyo yang kebanyakan sangat curiga kepada manusia dan langsung ngibrit bila didekati, si pus satu ini tidak keberatan dielus-elus. Saya malah jadi kasihan, karena sepertinya dia menikmati sekali disayang-sayang manusia. Tapi mungkin taman ini memberikan kehidupan bebas yang menyenangkan baginya…

showakinen-autumn-06

showakinen-autumn-07

showakinen-autumn-08

showakinen-autumn-09

showakinen-autumn-10

showakinen-autumn-11

showakinen-autumn-12

Hal yang paling membuat saya terperangah adalah ketika saya mendapati kolam yang tadinya terisi air di musim panas (cek deh fotonya di post sebelum ini), ternyata hanya tinggal seperti ini di musim gugur!

showakinen-autumn-13

Dan ternyata di sekitar kolam itu terdapat jalur setapak berhiaskan mosaik zodiak. Saya menemukan zodiak saya!

showakinen-autumn-14

Ada tempat seperti ini juga…. nah yang ini saya kurang yakin tempat apa ya… Yang jelas, ada asap yang keluar dari tanah di tempat ini. Ada yang tahu tempat apa ini?

showakinen-autumn-15

Di dalam Taman Showa Kinen, terdapat juga sebuah model desa kuno Jepang zaman dahulu. Lengkap dengan kincir air, pondok kayu bakar, lumbung, dan berbagai macam hal lain yang membuat kita bisa lah sedikit-sedikit membayangkan bagaimana kehidupan di masa itu. Rumah utamanya boleh dimasuki, dan kita bisa melihat tungku kuno di dalamnya.

showakinen-autumn-16

showakinen-autumn-19

showakinen-autumn-17

showakinen-autumn-18

showakinen-autumn-20

showakinen-autumn-21

showakinen-autumn-22

Lelah berjalan-jalan, saya pun beristirahat di lapangan luas di tengah taman, yang kerap digunakan orang untuk piknik, bermain bola, berlatih drama, dan macam-macam lagi. Tidur-tiduran di rumput sambil memandang langit luas yang tak berhias apa pun selain warna biru, damai dan lega sekali rasanya!

showakinen-autumn-23

showakinen-autumn-24

Saya belum sempat kembali untuk melihat seperti apa taman ini di musim dingin. Bahkan di musim dingin pun, menurut situs resmi Showa Kinen, ada beraneka ragam kegiatan.

Tapi, sejauh ini, menurut Anda Taman Showa Kinen terlihat paling cantik di musim apa?

Taman Showa Kinen, Tachikawa (1) – musim semi dan musim panas 2014

This post is about Japan

Masih dalam rangka memperkenalkan tempat-tempat wisata di sekitar Tokyo, kali ini saya akan memperkenalkan Showa Kinen Kouen, alias Taman Showa Kinen. Letaknya di Tachikawa, salah satu daerah suburban Tokyo. Stasiun Tachikawa adalah sebuah stasiun yang cukup besar, tempat pertemuan 3 jalur kereta JR: Chuo Line, Ome Line, dan Nambu Line. Selain itu, terdapat dua stasiun Tama Monorail yang mengapit stasiun JR: Kita-Tachikawa di sebelah utara dan Minami-Tachikawa di sebelah selatan.

Sebagai daerah penyangga Tokyo, Tachikawa memiliki fasilitas yang lengkap, termasuk beraneka pusat perbelanjaan, yang mencakup juga salah satu cabang IKEA. Berbagai toko dan restoran bisa ditemukan di sekitar stasiun, dan berjalan-jalan di situ bisa menjadi kegiatan yang cukup menyenangkan, apalagi Tachikawa belum seramai daerah-daerah dalam Tokyo seperti Shibuya atau Shinjuku. Oleh karena letaknya masih terhitung cukup jauh di luar kota (meskipun dengan kereta sebenarnya tidak sampai sejam dari Shinjuku, waktu yang terhitung singkat bagi komuter Jabodetabek!), udara di Tachikawa masih bersih dan segar. Pegunungan pun mudah terlihat, langit juga terasa luas.

showakinen-spring-02

Bila menaiki kereta JR, setelah turun di stasiun Tachikawa, berjalanlah ke arah utara. Ikuti saja petunjuk jalan yang ada, dan dalam waktu tidak beberapa lama kita akan tiba di sebuah lapangan. Belum, ini belum tamannya, baru lapangan saja, yang terkadang dipakai untuk kegiatan masyarakat Tachikawa. Di salah satu sisi lapangan, ada pusat kebudayaan bernama Hanamidori Bunka Center; boleh kalau mau coba mampir di sini dulu, karena di dalam gedung yang dibangun menyesuaikan kontur tanah ini sering digelar pameran. Saya malah pernah melihat pameran foto-foto yang diambil sendiri oleh anggota-anggota AKB48 di Taman Showa Kinen. Emperor Showa Memorial Museum pun merupakan bagian integral dari pusat kebudayaan tersebut. Sayang, sampai saat ini saya belum pernah masuk ke dalam museum itu. Di gedung ini pun tersedia kafe, toilet, dan toko suvenir.

Kita bisa memilih untuk naik lift, tangga berjalan, atau undak-undakan ataupun jalan setapak di sebelah luar untuk menuju ke jembatan pejalan kaki menuju taman. Selepas jembatan, kita harus berjalan kaki sedikit lagi sebelum akhirnya mencapai Gerbang Tachikawa. Gerbang ini hanyalah satu dari beberapa gerbang yang ada di taman tersebut. Di sini, kita harus membeli karcis melalui mesin yang terdapat di sebelah kiri gerbang. Tiket untuk satu orang dewasa berusia di antara 15-65 tahun adalah 410 yen, sementara anak-anak yang berusia lebih muda dari 15 tahun cukup membayar 80 yen, sedangkan kakek-nenek kita yang sudah sepuh hanya ditarik bayaran 210 yen. Tiket itu harus kita tunjukkan ke penjaga gerbang, tentu saja.

Di dalam taman, ada beberapa kafe, restoran, maupun kios yang menjual makanan mulai dari yang ringan sampai yang berat, juga mesin otomat minuman. Kalau mau pesta barbekyu, juga ada tempat khususnya, dengan peralatan yang bisa kita sewa dari pengurus taman. Bila cuacanya cocok, Anda juga boleh menggelar piknik dengan makanan yang dibawa sendiri. Tentu saja dengan syarat, Anda tidak meninggalkan sampah sembarangan. Ada pula tempat bermain anak, kolam renang, lapangan futsal, lapangan basket, dan lain sebagainya. Pokoknya, selain menyegarkan mata dan pikiran dengan memandangi tumbuh-tumbuhan yang terkadang seolah dibiarkan meraja liar, ada banyak kegiatan lain yang bisa kita nikmati di taman ini.

showakinen-spring-01

Taman ini, sebagai peringatan, berluas 163 hektar. Mungkin butuh seharian untuk mengelilinginya, dengan catatan taman ini buka dari pukul 9.00 sampai pukul 16.30 atau 17.00 saja. Kalau berjalan rasanya terlalu melelahkan, kita bisa kok menyewa sepeda atau ikut naik kereta-keretaan yang berhenti di beberapa halte di dalam taman. Namun tentu saja banyak sudut yang hanya bisa tercapai dengan berjalan kaki! Saya sudah tiga kali mengunjungi taman ini pada musim yang berbeda-beda, dan dalam setiap kedatangan itu saya memperoleh pemandangan indah yang berbeda pula dan menemukan sudut baru yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Dalam post kali ini, saya akan mengajak Anda menengok taman ini di musim semi dan musim panas. Ada foto-foto yang saya ambil di tempat yang kurang-lebih sama pada musim yang sama. Anda bisa bandingkan sendiri seperti apa perbedaannya. Pemandangan pada musim apa yang Anda paling sukai?

Pertama-tama, seperti inilah Taman Showa Kinen di musim semi 2014. Sayang, berhubung saya mengunjungi taman ini di siang hari setelah paginya berkunjung ke Kebun Binatang Tama (kapan-kapan saya bahas), baterai kamera saya… kehabisan daya. Akibatnya, tidak begitu banyak foto yang saya ambil hari itu.

Air mancur yang akan menyambut Anda ketika memasuki Gerbang Tachikawa.

Air mancur yang akan menyambut Anda ketika memasuki taman lewat Gerbang Tachikawa.

showakinen-spring-04

showakinen-spring-05

Meskipun pohon sakura juga ada, namun andalan Taman Showa Kinen di musim semi adalah bunga tulip!

showakinen-spring-07

showakinen-spring-08

Di awal musim panas 2014, saya dan seorang teman kembali berkunjung ke taman itu. Ketika kami tiba, terlihat awan gelap menggantung di kejauhan, dan semakin mendekat saja. Tak dinyana, turunlah… hujan es! Luar biasa kagetnya kami! Memang, saat pergantian musim, cuaca sering tidak terduga… tapi… hujan es? Kami pun berlindung di salah satu restoran sambil mengisi perut, menanti hujan berhenti.

showakinen-summer-01

Syukurlah, sesudahnya langit cerah, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

showakinen-summer-02

showakinen-summer-03

Kolam kecil yang terasa misterius di tengah-tengah taman.

Kolam kecil yang terasa misterius di tengah-tengah taman.

showakinen-summer-05

showakinen-summer-06

showakinen-summer-07

Meskipun sedang tidak ada kegiatan, bagian atas bangunan ini boleh dimasuki umum. Ada meja dan kursi di situ, serta tempat kosong yang cukup lowong. Di situlah saya sholat, setelah mengambil wudhu di keran di dekatnya.

showakinen-summer-08

Di dalam taman ini, ada sebuah taman lagi dengan tatanan yang bernuansa Jepang. Sewaktu kami ke sana, tampak sejumlah pria lansia sedang melaksanakan hobi mereka, yaitu memotret capung.

showakinen-summer-11

showakinen-summer-12

showakinen-summer-13

Di musim panas, banyak bebungaan berwarna biru yang bisa terlihat di Taman Showa Kinen.

Dua musim sudah saya tampilkan. Lain kali, akan saya tunjukkan foto-foto Taman Showa Kinen di musim gugur!

Salam Tahun Baru dari Kaisar Jepang 2015

This post is about Japan

Selamat Tahun Baru 2015!

Bagaimana Anda merayakan malam pergantian tahun?  Saya pergi menonton sebuah konser hitungan-mundur alias countdown live.  Tapi sekarang saya bukan hendak bercerita soal itu, melainkan tentang acara yang berlangsung pada tanggal 2 Januari di Istana Kekaisaran: Kaisar beserta keluarga kekaisaran memunculkan diri untuk menyapa rakyat dan memberikan ucapan selamat tahun baru. Saya dan seorang teman pun dengan semangat bergelora (gara-gara penasaran) pagi-pagi sudah berangkat ke Istana, bergabung dengan beribu-ribu orang lainnya yang juga ingin melihat Kaisar. Bila menggunakan kereta JR, kita bisa turun di Stasiun Tokyo. Beberapa stasiun kereta bawah tanah pun ada di dekat Istana, misalnya stasiun Nijubashi-mae di jalur Chiyoda.

kaisar01

Kita hanya bisa masuk melalui gerbang utama di Nijubashi, dengan waktu terbatas yaitu antara pukul 9.30 pagi sampai 14.10 siang. Keluarga kekaisaran sendiri hanya akan muncul 5 kali, dimulai dari paling pagi pukul 10.10 dan paling akhir pukul 14.20. Kami tiba di depan Istana sekitar pukul 9 pagi, dan sudah banyak orang datang berbondong-bondong.

Meskipun ada beribu-ribu orang yang datang, semuanya tampak sabar dan tidak grasa-grusu, berbaris di tempat-tempat yang disediakan dan mengikuti instruksi petugas dengan patuh. Sebelum memasuki tempat mengantri, kami semua menjalani pemeriksaan terlebih dahulu. Isi tas diperiksa dengan saksama. Kami juga diminta meneguk minuman dalam botol yang kami bawa, untuk membuktikan bahwa yang kami bawa memang betul-betul minuman. Cara membuktikan yang mudah, efektif, dan tidak mengharuskan kami membuang minuman kami.

kaisar02

Kami lalu diarahkan berbaris dalam petak-petak yang dibatasi tali-temali dan diberi nomor kelompok. Selagi menunggu, dari kejauhan kami dapat melihat rombongan keluarga kekaisaran yang berjalan melintasi jembatan memasuki istana. Ketika waktu telah menunjukkan pukul 9.30, satu per satu kelompok dipersilakan masuk. Kami pun berjalan berdempet-dempetan saking banyaknya orang (meski semuanya tetap tertib). Terlihat kakek-nenek, teman-teman, pasangan, bergandengan tangan karena takut terpisah akibat terbawa arus orang yang sedemikian banyak. Usia hadirin beraneka-ragam, mulai dari bayi yang masih digendong atau duduk di kereta dorong sampai lanjut-usia.

kaisar03

Kami diarahkan menuju lapangan terbuka di depan salah satu bangunan istana. Kini, balkon bangunan tersebut, tempat Kaisar dan keluarga akan menampakkan diri, dilapisi kaca tahan-peluru. Semua orang sibuk berusaha mengambil posisi terbaik, namun karena terhitung masuk agak belakangan, saya dan teman mendapat tempat nyaris di paling belakang. Dari tempat kami berdiri, balkon sih masih terlihat, hanya saja ada begitu banyak orang yang jauh lebih tinggi daripada kami yang menghalangi penglihatan kami. Kami pun berusaha mengandalkan kemampuan zoom kamera.

kaisar04

Ketika terlihat tanda-tanda Kaisar akan muncul, sejumlah orang, termasuk seorang kakek berbadan tegap dengan rambut panjang yang ditata dengan gaya tradisional dan mengenakan kimono yang berdiri di samping kami, berteriak kencang, “Tennou Heika banzai!” (Hidup Kaisar! – Tennou Heika adalah sebutan khusus bangsa Jepang bagi kaisar mereka.) Teriakan mereka langsung diikuti oleh banyak orang lain. Beberapa orang secara spontan mulai menyanyikan lagu kebangsaan. Ini peristiwa yang sangat menyentuh saya, melihat begitu banyak orang yang masih sangat mencintai kaisar (dan tentunya bangsa) mereka. Banyak yang melambai-lambaikan bendera Jepang.

kaisar05

Dan… yaaak! Muncullah keluarga kekaisaran, satu per satu, dengan sang Kaisar sebagai yang paling akhir. Sorak-sorai makin menjadi-jadi. Hadirin bersemangat membalas lambaian tangan Kaisar dan keluarganya. Terdengar puji-pujian dilayangkan kepada para putri yang cantik-cantik. Oya, untuk kemunculan pertama dan kedua, yang muncul hanya anggota keluarga kerajaan yang telah dewasa. Pangeran dan putri yang masih kecil-kecil baru akan menampakkan diri sejak periode ketiga.

kaisar07

Hadirin dengan tanggap menjadi senyap ketika tiba waktu Kaisar berpidato. Tetap dengan senyum ramah tersungging di wajah beliau yang sudah ramai dihiasi keriput, Kaisar Akihito pun membacakan pidato yang sangat singkat, tidak bertele-tele, namun sangat ramah, mengharapkan tahun baru yang baik bagi semua. Sejurus setelah beliau usai berpidato, hadirin pun kembali gegap-gempita menunjukkan rasa cinta mereka kepada sang kaisar. Kaisar dan keluarga kembali melambai-lambai dan menebar senyum, sebelum kembali menarik diri ke ruang di balik pintu geser ganda di belakang mereka.

kaisar06

Teman yang masih penasaran karena belum berhasil melihat Kaisar dengan jelas mengajak saya untuk ikut periode kedua. Kami pun bergerak cepat-cepat ke depan, mengisi tempat kosong yang ditinggalkan orang-orang yang merasa telah cukup melihat Kaisar. Sip, kami akhirnya dapat tempat lumayan di depan. Dan ya, di periode kedua, kami pun sukses melihat (dan memotret) Kaisar dan keluarga dengan jelas. Puaslah hati kami ketika akhirnya melangkah meninggalkan Istana.

Ada sih satu momen lain saat Istana dibuka untuk umum dan Kaisar juga memberikan sambutan, yaitu pada ulang tahun beliau (untuk Kaisar saat ini, tanggal 23 Desember). Di luar masa-masa itu, Istana Kekaisaran tidak terbuka untuk umum. Sekiranya Anda ada di Jepang pada sekitar Natal dan Tahun Baru, boleh lho menjajal kemungkinan melihat sang Kaisar pada dua tanggal tersebut!

Akhir kata, sekali lagi, akemashite omedetou gozaimasu!

Kamakura April 2014

This post is about Japan

Sebelumnya, saya pernah menulis tentang Kamakura, setelah saya berkunjung untuk pertama kalinya ke kota tersebut bersama sejumlah teman pada tahun 2011. Pada musim semi tahun ini, saya kembali mendatangi kota tersebut, lagi-lagi bersama teman-teman. Kali ini kami sempat merasakan bermain-main di pantai Yuigahama, termasuk menulis-nulis dengan norak di pasir. Sayang hujan musim semi membuat kami tidak bisa berlama-lama menikmati pantai. Kami pun menghabiskan sore di dalam sebuah kafe bergaya Hawaii yang terletak dekat sekali dengan stasiun Hase, menyeruput kopi yang nikmat.

Berikut ini adalah sejumlah foto yang saya ambil di bulan April 2014, ketika sisa-sisa sakura yang mekar masih bergantung di pepohonan.

kamakura2014-01

kamakura2014-02

Doa ratusan – mungkin ribuan – orang tergantung di luar Tsurugaoka Hachimangu-jinja.

kamakura2014-03

kamakura2014-04

kamakura2014-05

kamakura2014-06

kamakura2014-07

kamakura2014-08

Kelopak sakura yang telah gugur menutupi sebagian permukaan air kolam.

kamakura2014-09

Ini bukan trotoar, melainkan jalur khusus bagi pejalan kaki yang membelah jalan bagi kendaraan bermotor.

kamakura2014-10

kamakura2014-11

Toko-toko kecil yang cantik dan memikat berjejer di tepi jalan-jalan mungil Kamakura.

Nikko, Juni 2014

This post is about Japan

Wisatawan yang baru pertama kali datang ke Jepang dan hanya bisa mengunjungi Tokyo, biasanya lebih memilih untuk menghabiskan waktu di dalam kota. Betul, Tokyo memang punya banyak tempat menarik, tapi sebenarnya banyak lho tempat wisata yang terjangkau dalam half-day atau one-day trip dari Tokyo. Misalnya, saya sebelumnya pernah bahas Enoshima, Kawaguchiko, atau bahkan Ome. Saya sendiri sangat menyarankan untuk bertandang ke tempat-tempat ini, karena kalau bagi saya pribadi, ‘Jepang’ belum benar-benar terasa bila kita hanya berputar-putar di dalam Tokyo. Nah, sekarang saya akan bahas satu lagi tempat semacam itu: Nikko.

nikko-17

Untuk menuju Nikko, ada dua jalur kereta yang bisa Anda gunakan, yaitu kereta milik JR dan Tobu. Masing-masing perusahaan itu punya stasiun sendiri di Nikko (yang dimiliki Tobu dikenal sebagai Tobu-Nikko), sementara yang milik JR dikenal sebagai JR Nikko atau Nikko saja. Kedua stasiun itu terletak nyaris bersebelahan, jadi tidak begitu masalah sih mana yang Anda pilih. Tergantung hitung-hitungan biaya (mungkin Anda membawa JR Pass?) dan kemudahan bolak-balik ke tempat menginap saja. Sewaktu berangkat, saya mencoba naik kereta JR sampai Utsunomiya, lalu disambung dengan Nikko Line.

Stasiun JR Nikko

Stasiun JR Nikko

Ada yang menjuluki Nikko sebagai ‘kulkas’-nya Tokyo. Soalnya konon meskipun Tokyo sedang panas-panasnya, Nikko biasanya lebih sejuk, sehingga banyak orang Tokyo yang melarikan diri sebentar ke Tokyo untuk mencari angin. Tapi sewaktu saya berkunjung ke Nikko bulan Juni 2014, tetap saja panasnya luar biasa, meski hawanya sih memang lebih segar dan bersih daripada Tokyo.

nikko-02

Namun sebenarnya memang walaupun baru tiba di Nikko, mata ini langsung sejuk melihat pemandangan sekitar. Pegunungan terlihat begitu dekat, dan yang jelas, kota ini jauh lebih bersih daripada Tokyo! Iya, meskipun kala pertama datang Tokyo terlihat bersih dan rapi, lama-kelamaan terasa kotor dibandingkan kota-kota lain di Jepang.

Dan ya, langit Nikko terlihat biru sekali hari itu. Nyaris tanpa awan.

nikko-03

Dari stasiun, meski diterpa sinar matahari yang luar biasa terik, saya berjalan kaki menuju Toshogu, yang mungkin merupakan tempat tujuan utama para wisatawan yang mendatangi Nikko. Toshogu sebenarnya adalah sebutan untuk kuil Shinto mana pun yang dibangun untuk menghormati shogun Tokugawa Ieyasu. Di Ueno, Tokyo juga ada Toshogu, namun Toshogu di Nikko inilah yang paling terkenal.

nikko-05

Belum sampai Toshogu, perut saya sudah protes minta diisi. Saya pun melipir dulu, masuk ke salah satu restoran yang terletak tidak jauh dari Toshogu. Saya sih asal pilih saja, yang penting restorannya menyediakan paket hidangan yuba, alias kulit tahu. Dahulu, Nikko merupakan pusat pengajaran agama Buddha, dan banyak biksu yang berdiam di kota tersebut. Tidak heran banyak hidangan khas kota tersebut yang aman bagi vegetarian, dan juga bagi Muslim. Andalannya ya si yuba itu. Harga satu paket hidangan dengan bermacam-macam hasil olahan kulit tahu paling tidak 1000 yen.

Beginilah penampakan paket hidangan yuba yang disediakan oleh restoran yang saya masuki:

nikko-06

Seperti banyak paket hidangan khas Jepang lainnya, semua lauk dan sayur disediakan sejumput-sejumput saja. Rasanya memang jadi agak campur-aduk, dan ada beberapa hidangan yang rasanya tidak terduga untuk lidah Asia Tenggara saya. Sampai terpikir, “Ini buah? Dimakan bareng nasi? Kok rasanya begini ya dimakan juga?” Tapi seru lah untuk petualangan kuliner!

(Kalau lidah Anda tidak cocok dengan makanan Jepang, terdapat beberapa restoran bercitarasa internasional di Nikko, terutama di sekitar stasiun. Misalnya, yang sempat saya perhatikan, adalah restoran India dan restoran hidangan Eropa.)

Kelar makan, saya meneruskan perjalanan. Mata langsung terpikat oleh jembatan yang bernama Shinkyou, yang membentang di atas sungai yang seolah memisahkan kota Nikko tempat kebanyakan penduduk bermukim dengan kompleks kuil Toshogu. Jembatan ini tampak cantik, merah mencolok dengan latar belakang pepohonan hijau dan sungai biru-kehijauan yang bergejolak di bawahnya. Tapi saya hanya memandangnya dari kejauhan, dari atas jembatan baru yang juga bisa dilewati kendaraan bermotor. Soalnya, kalau mau berjalan di atas Shinkyou, harus beli tiket dulu, dan harganya lumayan… 350 yen. Ya, hanya untuk satu jembatan itu saja.

nikko-08

nikko-07

Saya menyeberangi jalan, menapaki tangga menuju kompleks Toshogu. Air jernih mengalir bergemericik di parit-parit yang terkadang tersembunyi.

nikko-09

nikko-10

Di kompleks Toshogu inilah terdapat mausoleum Tokugawa Ieyasu. Fotonya tidak saya tampilkan di sini, sih, tapi untuk menuju makamnya, kita harus mendaki tangga batu yang lumayan curam. Hari itu juga banyak sekali yang hendak menengok makam sang shogun, sehingga saya harus bersabar dengan kecepatan mendaki tangga yang tersendat-sendat.

nikko-11

Di dalam kompleks ini juga terdapat pagoda lima tingkat dengan warna mencolok, selain sejumlah bangunan menarik lainnya.

nikko-12

Barangkali, inilah patung yang paling terkenal di Nikko: patung tiga monyet yang berpesan hear no evil, speak no evil, see no evil. Beberapa kali saya pernah ditanya, “Sudah pernah ke Nikko? Lihat tiga monyet itu dong?” Jadi sepertinya karena betul-tidaknya kita pernah ke Nikko diukur dari sudah melihat ketiga monyet ini atau tidak, jangan sampai kelewatan melihat mereka. Mereka nangkring di sebelah atas istal kuda suci yang dipelihara oleh pihak Toshogu.

nikko-13

nikko-14

Patung nemuri neko alias kucing tidur ini juga terkenal, tapi letaknya agak lebih tersembunyi daripada ketiga monyet. Hayo coba, dicari. Kalau ketemu, cerita-cerita yah ke saya.

nikko-15

Satu hal lain yang juga sangat Nikko banggakan adalah air mereka, yang bisa diminum langsung tanpa perlu dijerang dulu. Di beberapa sudut kota, tersedia pipa-pipa seperti ini yang mencurahkan air yang boleh langsung diciduk atau ditampung dengan gayung untuk diminum. Mau mengisi botol minuman juga boleh. Dan memang sangat mengejutkan, di hari yang sepanas itu, ternyata air yang mengalir dari pipa-pipa tersebut masih sangat dingin!

Pipa air di foto di bawah ini terletak di kantor informasi pariwisata Nikko, di tepi jalan yang mengarah ke Toshogu.

nikko-16

Saya sempat mampir minum kopi sebentar di salah satu kedai yang dijaga oleh seorang perempuan separo baya. Ketika saya memesan salah satu varian minuman dan bertanya bisakah kopi yang dihidangkan itu diberi es, beliau menjelaskan bahwa varian yang itu paling bagus diminum panas-panas, hot, jadi dia tidak menyediakan versi ice. Beliau sangat mengutamakan rasa. Berbeda yah dari kedai kopi franchise yang selalu menyediakan versi panas dan dingin dari minuman mereka demi memenuhi selera tamu. Karena berminat, meskipun sebenarnya saya mengidamkan minuman dingin, tetap saya pesan kopi panas buatan beliau itu.

Dan manisnya, sewaktu saya beranjak pergi, beliau memberikan saya kenang-kenangan: bangau-bangau kecil dari kertas yang beliau lipat sendiri, beserta beberapa lembar kertas origami cantik khas Jepang.

nikko-18

Saya kembali berjalan kaki ke arah kedua stasiun kereta. Karena masih ada waktu sebelum hari gelap (waktu itu musim panas, sehingga Matahari tidak cepat turun), saya berjalan-jalan sebentar di sekeliling stasiun. Perhatian saya tertarik oleh satu jajanan yang ditawarkan beberapa toko di seberang stasiun Tobu-Nikko. Es krim, tapi bukan sembarang es krim… es krim yuba! Yuba juga dibuat menjadi es krim? Wah, ini sih harus dicicip. Saya pikir rasanya bakalan tidak karuan, ternyata enak kok! Dan yang jelas, dingin… terasa segar sekali di kerongkongan.

eskrim yuba

Waktunya kembali ke Tokyo. Saya memasuki stasiun Tobu-Nikko dan menuju ke peron. Wah, bagus nih keretanya, pikir saya, melihat rangkaian kereta dengan kursi berdua-dua dan dengan jendela besar-besar, pas untuk melihat pemandangan. Saya pun duduk di salah satu kursi, mengagumi peluit burung-burungan yang saya beli dari seorang kakek yang mangkal berjualan di Toshogu. Saya juga sempat mengobrol dengan sang kakek yang sangat ramah, dan bisa dalam sekali tebak mengetahui asal negara saya. Beliau juga bisa berbahasa Indonesia sedikit.

Ketika kereta sudah berjalan cukup jauh, lho, tiba-tiba muncul kondektur yang menanyakan tiket. Saya menunjukkan kartu transportasi saya ke kondektur. Bukan, katanya, tiket.

Tiket apa Pak? Saya bingung. Oalaaah, ternyata kereta ini khusus, yang butuh tiket khusus juga yang seharusnya dibeli terpisah. Ups, malunya. Saya main masuk dan duduk saja. Untunglah, di Jepang, kalau ada kesalahan begini, kita bisa membeli tiketnya langsung dari kondektur.

nikko-19

Untuk pertama kalinya setiap habis berjalan-jalan ke luar Tokyo, saya merasa benar-benar ingin cepat-cepat tiba di Tokyo. Bukan apa-apa… penyejuk udara kereta itu entah rusak, atau memang kalah menghadapi hawa di luar, atau memang buat orang Jepang suhu seperti itu normal-normal saja. Panassss luar biasa! Musim panas Jepang memang membuat orang Asia Tenggara sekalipun bertekuk lutut!

Enoshima (2) Mei 2014

This post is about Japan

Saya lanjutkan yah ceritanya mengenai Enoshima…

Dengan tiket terusan, saya pun memasuki Samuel Cocking Garden, peninggalan seorang Irlandia bernama Samuel Cocking yang datang ke Jepang di abad ke-19. Ia menikahi seorang perempuan Jepang dan berbisnis di negara tersebut sampai akhirnya ia bisa membeli tanah di Enoshima, di mana ia lantas mendirikan vila dan membangun taman yang indah. Kini, yang tersisa dari rumah kacanya (yang hancur dihajar gempa besar tahun 1923) adalah pondasinya, seperti yang terlihat di foto bawah ini.

enoshima-16

Banyak sekali tanaman dan bebungaan indah yang menyemarakkan mata di dalam taman yang sebenarnya tidak terlalu besar ini. Kita juga bisa mengedarkan pandangan ke arah laut, sambil mencoba merayu kucing-kucing yang berkeliaran di taman tersebut. Kalau Anda memang doyan menggoda kucing, bolehlah Anda jajal kemampuan Anda di sini. Soalnya, beberapa kucing, meskipun sangat akrab dengan para pengurus taman, ogah diajak main oleh tamu!

enoshima-18

Di dalam taman juga terdapat beberapa bangunan, termasuk gazebo ini, yang gaya bangunannya sepertinya menunjukkan banyak pengaruh Cina. Di langit-langitnya, terlihat juga motif naga, hewan suci bagi pulau ini.

enoshima-25

Ada tempat berbelanja suvenir dan bersantap di dalam taman. Yang saya pilih adalah cafe du Gabo yang terletak di dasar menara Sea Candle. Sebenarnya awalnya saya mengincar LONCAFE yang memiliki teras yang menghadap ke laut, sayangnya saat itu sedang penuh.

Kopi dan wafel cafe du Gabo lumayan juga untuk menyegarkan perut dan mata, apalagi saat itu saya sudah agak lelah berjalan-jalan. Di kafe ini ada foto-foto para kucing yang merupakan pengunjung (atau malah penghuni?) tetap taman, beserta nama-nama mereka. Saya jadi tahu bahwa nama kucing gendut yang sempat menolak pendekatan saya berkali-kali di dekat gerbang taman ternyata bernama Tanuki. Bayangkan dong, sudah mendekati kucing dengan bermanis-manis, eh kucingnya malah menggeram dan melengos. Mau marah juga tidak bisa, karena tetap saja kucing ngambek itu terlihat lucu!

enoshima-21

Nah, inilah yang namanya Sea Candle. Kalau kita pegang tiket terusan, tinggal kita tunjukkan saja tiketnya ke penjaga, dan kita pun akan dipersilakan masuk ke lift yang akan membawa kita ke dek pengamatan di atas. Kalau tidak punya tiket terusan, kita harus membayar 500 yen (sudah termasuk biaya masuk taman sebesar 200 yen).

enoshima-19

Inilah pemandangan yang terlihat dari salah satu sisi dek pengamatan Sea Candle! Terlihatlah prefektur Kanagawa, dan jembatan yang menghubungkan Enoshima dengan daratan utama pulau Honshu. Kontras sekali ya, gedung-gedung di sebelah sana dengan pepohonan yang masih rapat menghijau di Enoshima.

enoshima-20

Di dek pengamatan juga ada penjual suvenir khas Enoshima yang lucu-lucu. Anda juga bisa meminta nama Anda, beserta nama pasangan mungkin, ditorehkan di beberapa jenis suvenir yang tersedia.

enoshima-22

Saya sih menyarankan mengunjungi Samuel Cocking Garden pada sekitar waktu Matahari akan terbenam. Mengapa? Karena kita bisa mengamati proses sang surya memasuki peraduannya, baik dari dek pengamatan di sebelah atas Sea Candle maupun dari dek pengamatan di sebelah bawah. Sewaktu saya ada di sana, sedang banyak awan di langit dan kabut yang menutupi daratan utama, sehingga bentuk Matahari tidak tampak terlalu jelas. Tapi hasilnya adalah pemandangan yang terasa misterius!

enoshima-24

Saat hari mulai gelap, lampu-lampu penghias Sea Candle juga akan dinyalakan, sehingga menjadi atraksi tersendiri. Samuel Cocking Garden buka sampai jam delapan malam, jadi ada cukup waktu untuk mengagumi lampu-lampu tersebut. Tapi Sea Candle bisa dilihat juga dari berbagai sudut pulau, sehingga bila Anda merasa sudah cukup menikmati Samuel Cocking Garden, Anda pun bisa melangkahkan kaki menuju bagian-bagian lain Enoshima yang belum sempat Anda kunjungi.

enoshima-23

Hanya saja, toko-toko dan restoran-restoran di Enoshima (dan di Jepang pada umumnya) tutup cukup awal. Senja itu, orang-orang yang berpapasan dengan saya di jalan-jalan kecil Enoshima kebanyakan merupakan turis yang masih berkeliaran, berusaha menikmati sisa hari yang sudah temaram.

Dan oya, kalau belum saya sebut, di Enoshima ada banyak sekali kucing, rata-rata gendut (atau mungkin saya membandingkan mereka dengan standar kucing kampung Indonesia). Sebagian di antaranya ramah sekali dan bersedia kita elus-elus, tidak seperti si Tanuki di Samuel Cocking Garden.

enoshima-27

Saya mencoba ke balik pulau, hanya untuk mendapati bahwa Gua-gua Iwaya sudah tutup hari itu. Ya iyalah… sudah senja juga. Ditemani sisa-sisa sinar matahari di langit, saya melihat-lihat sekeliling saja, menikmati pemandangan dan bunyi debur ombak yang dahsyat, menengok beberapa kolam batu, dan mengamati beberapa orang pemancing yang masih dengan setia mencoba peruntungan.

enoshima-29Sayangnya penerangan jalan rupanya sengaja dibiarkan jadi hal langka di Enoshima. Beberapa titik pariwisata juga dibiarkan saja tanpa lampu. Saya pun urung mengunjungi bel cinta Enoshima, begitu melihat yang menanti di depan saya adalah jalan setapak yang gelap-gulita. Emmm, makasih, lain kali saja deh, yah siapa tahu kali berikutnya kembali ke sini ada gandengannya untuk membunyikan bel cinta itu.

enoshima-28

Selesai sudah petualangan setengah hari saya di Enoshima. Saya berjalan kaki kembali ke daratan utama, menuju stasiun Katase-Enoshima untuk menumpangi kereta Odakyu pulang ke Tokyo. Rasa lelahnya benar-benar terbayarkan oleh pengalaman yang sedemikian kaya yang saya peroleh dari pulau yang sedemikian kecil!

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 68 other followers