Perjalanan ke Hokkaido – juga Aizu-wakamatsu dan Meiji-mura, Desember 2017 (3)

Sedikit update dari saya – tepatnya sih, tautan ke sejumlah tulisan lain tentang perjalanan saya di bulan Desember 2017 yang dimuat di blog lain. Seperti yang sudah-sudah, tulisan-tulisan yang banyak berfokus pada Hokkaido ini ditulis dalam bahasa Inggris.

Bagian 7: Mengunjungi Poroto-kotan

Sudah sampai ke Hokkaido, kami merasa harus menyempatkan diri mempelajari kehidupan suku Ainu, penghuni asli Hokkaido. Kami pun menuju ke Poroto-kotan, yang terdiri atas sebuah desa Ainu dan sebuah bangunan museum modern. Pengetahuan yang kami dapatkan di ‘desa’ yang terletak di kota Shiraoi ini sangat berharga, dan sungguh berbeda rasanya dari bila hanya membaca atau menonton video tentangnya.

Sebagai catatan, museum ini saat ini sedang ditutup untuk diubah menjadi ‘Ethnic Harmony Symbolic Space’ yang baru akan dibuka lagi pada tahun 2020.

Bagian 8 (akhir): Hakodate, Aizu-wakamatsu, dan Meiji-mura

Kami terus bergerak ke selatan. Setelah mengunjungi Hakodate untuk nyekar ke tempat terakhir pejuang legendaris Hijikata Toshizou terlihat dalam keadaan hidup, kami menyeberang ke Pulau Honshu (pulau utama Jepang). Setelah kunjungan sejenak ke Akita dan Aomori (yang akan saya ceritakan kapan-kapan… duh, bertambah panjang deh janji-janji saya), saya meneruskan perjalanan ke Aizu-wakamatsu. Banyak orang berkunjung ke Kyoto untuk mencicip kehidupan Jepang di zaman para samurai, sementara Aizu-wakamatsu kurang populer. Padahal bila Anda penggemar sejarah samurai, kota ini justru merupakan salah satu tujuan utama! Sesudahnya, saya berlanjut lagi ke Nagoya, dan mengunjungi Meiji-mura, museum terbuka berukuran sangat luas tempat berbagai bangunan dari zaman Meiji dilestarikan.

Sekian dulu cerita-cerita dari Hokkaido. Setelah ini, saya sambung dengan cerita dari negara lain dulu, ya! (Tapi tentu saja stok cerita saya tentang Jepang belum habis!)

Belajar sejarah dengan seru lewat Festival Sekigahara 2018

Bulan Oktober lalu, saya berhasil mewujudkan salah satu keinginan saya sejak lama: menyaksikan Festival Sekigahara. Festival ini diselenggarakan tiap Oktober untuk memperingati Pertempuran Sekigahara yang berlangsung pada tahun 1600 Masehi dan sangat menentukan sejarah Jepang ke depannya. Di medan yang kini terletak di Prefektur Gifu, pasukan-pasukan dari berbagai daerah di Jepang yang terbagi ke dalam dua kubu—umum disebut Kubu Timur dan Kubu Barat—berhadapan dalam pertempuran yang menelan sedemikian banyak korban. Para penggemar sejarah pun berkumpul setiap tahun di Sekigahara untuk menyaksikan reka adegan pertempuran tersebut dan memberi semangat ‘jagoan’ masing-masing.

More

Perjalanan ke Hokkaido, Desember 2017 (2)

Sebulan lebih berlalu, belum juga cerita saya tentang Penang berlanjut, ya. Padahal garis besarnya sih sudah ada. Bahan sudah dikumpulkan sebagian. Namun kesibukan lain sungguh menyita waktu…

Akan tetapi, saya sempat kok melanjutkan tulisan saya tentang kunjungan ke Hokkaido di blog yang satu lagi, yang berbahasa Inggris. Di sini saya berikan tautannya, ya.

Bagian 5: Menengok museum divisi penjaga Hokkaido di Asahikawa

Kami sempat mampir ke kota terbesar kedua di Hokkaido ini untuk bertandang ke sebuah museum yang dikhususkan untuk menampilkan sejarah divisi ke-7 Angkatan Darat Jepang dan divisi ke-2 Pasukan Bela Diri Jepang yang bertugas mengamankan Hokkaido.

Bagian 6: Mengunjungi museum penjara Abashiri

Lho, ngapain ke penjara jauh-jauh di kota kecil nun jauh di ujung timur Hokkaido ini? Banyak lho, sejarah yang bisa dipelajari dari kompleks bekas penjara yang namanya pun bisa menciutkan hati. Menyenangkan juga pergi ke kota kecil yang tenang, jauh dari keramaian.

Kisah petualangan di Hokkaido pun bersambung lagi…

Musim semi datang terlambat di Takayama, Maret 2015 (Bagian 2)

Lanjut lagi yuk, cerita tentang Hida no Sato?

Ada sekitar 30 bangunan di kawasan Hida no Sato. Bangunan-bangunan itu berasal dari sejumlah tempat lain dan dipindahkan utuh ke sini, ditata menyerupai kampung organik. Sebagai contoh, ada rumah Wakayama, yang berasal dari Shoukawa-machi dan dibangun pada tahun 1751. Bangunan ini dianggap berharga karena menunjukkan dua ciri sekaligus, yaitu atap bergaya gassho yang curam sekaligus tonjolan atap gaya Shoukawa.

More

Musim semi datang terlambat di Takayama, Maret 2015 (Bagian 1)

Pagi di Takayama!

Sebenarnya agak malas juga keluar dari tempat tidur yang nyaman di K’s House, tempat menginap pilihan kami di Hida Takayama. Apalagi pagi hari itu dingin. Akan tetapi, sayang waktunya bila saya hanya bermalas-malas di kamar yang cukup luas untuk dua orang. Kalau di daerah begini, ukuran kamar-kamar penginapan biasanya jauh lebih lega daripada penginapan dengan kategori yang sama dan harga yang sering kali lebih mahal di Tokyo. Bahkan bila dibandingkan dengan sesama K’s House di Tokyo, terasa benar bedanya ukuran kamar di cabang di Takayama.

More

Perjalanan ke Hokkaido, Desember 2017 (1)

Halo, semuanya! Maaf kalau saya lama tidak menulis di sini ya. Sebenarnya saya tetap menulis kok, tapi kisah perjalanan saya kali ini ke Hokkaido pada akhir tahun lalu dituangkan di salah satu tempat lain yang juga saya urus.

Sejauh ini sudah ada empat bagian, dan masih akan berlanjut lagi.

Bagian 1: Mempersiapkan perjalanan ke Hokkaido

hokkaido2017-01

Bagian 2: Historical Museum of Hokkaido di Sapporo

hokkaido2017-03

Bagian 3: Menonton pertandingan bola Hokkaido Consadole Sapporo vs Sagan Tosu di Sapporo

hokkaido2017-02

Bagian 4: Kembali ke Otaru!

Kalau sudah ada bagian-bagian yang baru, saya akan update lagi, ya. Untuk kali ini, selamat menikmati!

Menengok Jepang yang lain di Shirakawa-go, Maret 2015

Sungai berwarna kehijauan berkelok cantik di luar sana, di balik kaca jendela kereta. Sambil menatapnya, saya membatin: Ini perjalanan kereta yang paling indah yang pernah saya tempuh, setelah Danang-Hue di Vietnam. Namun saya tidak sedang berada di Vietnam, melainkan bagian tengah Jepang, di atas kereta ekspres yang membawa saya dan seorang teman menuju Takayama, sebuah kota di Gifu.

Saya dan teman sedang memanfaatkan libur kuliah. Kami menggunakan Seishun 18 kippu—tiket yang memungkinkan kita menggunakan kereta-kereta lokal JR sebebas-bebasnya di musim liburan—menjelajahi Osaka, Kobe, Kyoto, Nagoya, dan kini ke Takayama. Kereta yang kami naiki dari Nagoya mentok rutenya di salah satu kota kecil yang namanya sayang sekali saya lupa. Saya mencoba menelusuri peta jalur yang menghubungkan Nagoya-Takayama dan mencoba mengingat-ingat nama kota tersebut, tapi gagal. Mungkin Mino-ota? Pokoknya, sewaktu turun dan mengecek jadwal kereta lokal berikutnya, alamak, masih lama benar. Baru berjam-jam lagi kami bisa tiba di Takayama. Saya memutuskan untuk bertanya ke petugas stasiun. Tidak lama lagi akan ada kereta ekspres ke Takayama, pria muda itu menjelaskan. Namun Seishun 18 kippu tidak berlaku di kereta tersebut, sehingga kami harus membayar lagi. Saya celingukan mencari mesin tiket di peron stasiun itu. Tidak ada. Beli tiketnya di mana?

More

Danau Haruna yang tertidur, Februari 2016

Di kereta yang melaju ke arah Gunma siang itu, saya menatap ke luar, bertanya-tanya kepada diri sendiri kenapa saya sebelumnya tidak pernah mendatangi Gunma. Padahal prefektur yang dikelilingi daratan itu adalah tetangga Tokyo, tempat saya tinggal dulu. Barangkali yang dekat-dekat justru sering kali tidak terasa mendesak untuk dikunjungi.

Dan, yah, saking dekatnya, perjalanan kereta ke Takasaki—salah satu kota di Gunma—itu tidak terasa seperti perjalanan ke luar kota. Bentangan urban Tokyo menjalar ke mana-mana, nyaris tak terputus rasanya sampai ke Takasaki. Ketika tiba di Takasaki, seolah-olah saya hanya habis naik kereta dari satu titik ke titik lain di Tokyo, apalagi saya hanya menggunakan kereta biasa. Perjalanan kira-kira memakan waktu satu setengah jam dari stasiun keberangkatan saya di Tokyo—kalau tidak salah, Ikebukuro. Lucu memang, ingatan saya tentang kereta mana yang saya naiki kabur sekali. Habisnya, ya itu, rasanya seperti naik kereta dalam kota saja.

More

Hamamatsu, November 2014 (Bagian 2): Kastil Tokugawa Ieyasu

Esok paginya, setelah menikmati sarapan di hotel, kami check out dan melangkah lagi ke stasiun bis di depan stasiun utama. Pertama-tama kami hendak menuju Kastil Hamamatsu. Dari terminal bis yang ada di sebelah utara stasiun, kami lagi-lagi menaiki bis ke arah Kanzanji Onsen. Ngomong-ngomong, di Hamamatsu ini banyak penyeberangan di bawah tanah, termasuk yang menuju ke terminal bis. Lorong-lorongnya bersih, tidak menyeramkan. Kadang-kadang ada juga pemusik jalanan yang meramaikan suasana, mempertegas kesan Hamamatsu sebagai kota musik. More

Hamamatsu, November 2014 (Bagian 1): Kota asal piano Yoshiki

Saya dan teman saya, sebut saja K-chan, senang tinggal di Tokyo. Namun ada kalanya kami sumpek juga, entah karena urusan pekerjaan atau sekolah. Suatu hari K-chan berkata kepada saya, “Kita jalan-jalan yuk ke luar kota? Menginap. Sudah dari lama aku ingin ke Hamamatsu.” Akhirnya, kami pun ‘mengorbankan’ satu akhir minggu tidak menonton band kesayangan kami, dan alih-alih bertolak menuju Hamamatsu. Kami janjian bertemu di Stasiun Tokyo pagi-pagi, lantas menumpangi kereta shinkansen menuju Hamamatsu yang terletak di Prefektur Shizuoka. Kami berangkat tanpa memesan hotel terlebih dahulu, karena kami pikir di kota sekecil Hamamatsu tentunya cukup mudah menemukan hotel yang masih punya kamar kosong.

hamamatsu18

More

Previous Older Entries

Lompat hari

October 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Arsip Lompat-lompat