Dua Hari, Semalam di Semarang – Februari 2013 (bagian I)

This post is about Indonesia

Azan subuh belum lagi berkumandang di Semarang dan sekitarnya ketika saya menapak turun dari kereta yang beberapa jam sebelumnya bertolak dari Jakarta.  Sendirian saya mendatangi kota ini di bulan Februari 2013 untuk menghadiri pernikahan teman.  Sendirian, karena teman-teman lain kebetulan tidak bisa menyesuaikan jadwal dengan undangan tersebut.  Saya nekad saja, padahal belum pernah sekalipun ke Semarang.

Saya membeli tiket kereta Gambir-Semarang Tawang secara daring melalui Tiket.  Prosedurnya menurut saya cukup mudah, bisa memilih kursi pula.  Dengan semangat saya memilih kursi di tepi jendela dengan maksud menikmati pemandangan… Lalu baru kemudian ingat hal itu percuma saja, karena saya memilih kereta yang berjalan di malam hari, haha.  Di hari keberangkatan, saya cukup mendatangi loket penukaran bukti pembelian daring dan memperoleh tiket saya di situ.

semarang02

Singkat cerita, kini saya telah berada di Tawang.  Hari masih gelap-gulita, dan daripada keburu keluar serta sulit menemukan tempat untuk solat, saya memutuskan mengisi perut dengan minuman hangat terlebih dahulu di Dunkin Donuts.  Kebetulan cabang DD yang pintunya menghadap ke peron ini sudah buka, sementara tempat makan lain rata-rata masih tutup.

Usai subuh, barulah saya melangkah keluar dari peron.  Dan wuih, langsung didekati beberapa orang yang menawarkan jasa becak.  Sesopan mungkin saya menolak.  Seorang di antaranya masih cukup keukeuh mengikuti saya beberapa lama, berharap saya berubah pikiran mungkin.  Kasihan juga, tetapi saya memang berniat berjalan kaki saja pagi itu.

semarang01

Setelah sejenak melihat-lihat stasiun yang cukup tua usianya ini (karena saya akan pulang naik pesawat, tidak akan kembali ke stasiun ini) saya pun mencari jalan menuju tempat yang saya tuju: Gereja Immanuel, populer sebagai ‘Gereja Blenduk’.  Benar-benar tanpa tahu arah, tidak pegang peta, hanya sempat melihat-lihat peta Semarang melalui Google Maps.  Hanya mengandalkan bertanya.  Untunglah bapak-bapak yang saya tanya menjawab meyakinkan, “Tidak jauh kok mbak, lurus saja sampai mentok, lalu belok kiri.  Dekat kok, tuh dari sini juga kelihatan…”  Baiklah.

semarang03

Saya melintasi polder yang airnya berwarna kehijauan di depan stasiun, lantas tanpa terlalu pikir-pikir menyusuri jalan-jalan kota tua Semarang yang diapit bangunan-bangunan tua.  Banyak yang tampak megah dan cantik, namun tidak sedikit pula yang terlihat kurang terawat.  Terkadang, bau kurang sedap meruah dari saluran-saluran air yang tampak nyaris kepenuhan oleh air berwarna hitam, mungkin sisa limpahan rob, yang memang sering membanjiri wilayah ini.

semarang04

Seandainya lebih terurus lagi daripada kondisinya sekarang, pasti kawasan kota tua ini semakin menarik.  Saya sendiri sangat menyukai bangunan-bangunan era kolonial sehingga sangat menikmati jalan-jalan pagi saya ini.  Seorang bapak menegur ramah, bertanya saya dari mana, kok pagi-pagi sudah jalan-jalan, rumahnya di mana.  Saya jawab saja saya baru dari stasiun (tidak bohong, kan?).

semarang05

Puas menemukan dan mengagumi arsitektur Gereja Blenduk dan beberapa gedung di sekitarnya dari luar, saya meneruskan ke jalan-jalan kecil di kawasan itu.  Saya coba bayangkan seperti apa dahulu kawasan ini, ketika kehidupan kota Semarang masih ramai terpusat di sini.

semarang06

Saya kembali ke titik awal, Stasiun Tawang, dan meminta sebuah taksi Blue Bird untuk mengantarkan saya ke tujuan berikutnya, kelenteng Sam Poo Kong, yang agak jauh letaknya dari stasiun.  Sang supir mengira saya orang Tionghoa yang hendak beribadah di kelenteng.  Saya tertawa dan berkata, Bukan, ayah saya orang Manado, makanya mungkin wajah saya terlihat seperti orang Tionghoa.  Kami pun jadi bercakap-cakap di sepanjang perjalanan.

“Saya dari kecil tinggal di sini.  Kalau saya bilang, kota ini perkembangannya lambat,” katanya.

“Tapi tentram toh Pak?” Saya berkomentar.

“Iya, tentram.”  Tahu saya dari Jakarta, ia berkata, “Maaf ya Mbak, saya memang orang Indonesia.  Tapi saya tidak berniat pindah ke Jakarta.  Saya memang belum pernah ke sana.  Tapi kalau lihat di TV, orangnya kelihatan banyak sekali.  Kali Ciliwung juga tampak kotor.  Habis banjir-banjir gitu kan Mbak?  Rumah Mbak kena nggak?”

Yah, saya sendiri secara pribadi berpendapat tinggal di kota yang tidak terlalu besar seperti Semarang atau Balikpapan tampaknya lebih menyenangkan daripada setiap hari disergap kemacetan dan polusi di Jakarta.  Toh kalau yang kita khawatirkan adalah segala kenyamanan kota besar modern seperti restoran-restoran cepat saji atau kafe-kafe internasional, kini mereka pun sudah mudah ditemukan di ibukota-ibukota provinsi berukuran sedang.  Saya tidak merasa pak supir perlu meminta maaf karena lebih memilih berdiam di Semarang yang mungkin bagi banyak orang Jakarta bukan kota yang perlu dilirik sebagai tempat tinggal.

semarang08

Meskipun tadi telah mengulur-ulur waktu di kota tua, saya tiba kepagian di Sam Poo Kong.  Loket belum buka, namun penjaga di situ membolehkan kami—saya dan beberapa wisatawan lain—masuk.  “Silakan saja, bayarnya nanti saja,” ucapnya ramah.  Saya melewati gerbang dan langsung disambut keteduhan pepohonan yang menaungi sejumlah meja batu beserta kursi-kursinya.  Beberapa lama saya duduk di depan salah satu meja, menikmati pagi, memandang ke arah bangunan-bangunan dalam kompleks kelenteng, baik yang telah lama selesai dibangun maupun yang sedang dibangun.  Saya bertanya-tanya apa kegunaan bangunan yang belum selesai itu nantinya: panggung sandiwara Cina kah?  Aula untuk peribadahan?

semarang09

Hampir sejam setelahnya baru saya berdiri dan mulai berjalan-jalan berkeliling.  Tampak sekelompok pria yang sepertinya petugas keamanan tengah di-briefing dan kemudian berlatih.  Bangunan-bangunan utama peribadahan kelenteng dipisahkan oleh saluran air yang ditata bagai sungai kecil dari pelataran luas di depannya.  Berbekalkan tiket khusus ke bagian itu, saya pun menyeberang dan mengamati bangunan-bangunan tersebut dari dekat.  Warna merah terang tentu mendominasi, namun juga ada warna hijau, dan bila saya tidak salah, sentuhan Jawa pada arsitektur atap bangunan utama.  Beberapa bagian tidak bisa dimasuki oleh orang yang tidak berniat beribadah, dan di beberapa bagian kita harus mencopot sepatu.  Aturan-aturan ini tentu harus kita hormati.

semarang07

Figur paling dihormati di kelenteng ini adalah sang pelaut Muslim dari negeri Cina,  Cheng Ho.  Patung raksasanya gagah berdiri di depan bangunan utama peribadahan.  Di kelenteng ini pun terdapat beberapa relik yang berhubungan dengan dunia maritim.  Kura-kura, si perlambang usia panjang, juga banyak menghiasi kelenteng ini, baik kura-kura sungguhan maupun yang dari batu.

semarang10

Saya lalu mendatangi sekumpulan bapak-bapak yang duduk di bawah pepohonan tempat saya sempat bercokol sekitar sejam tadi.  Dengan ramah mereka melayani pertanyaan saya mengenai cara pergi ke Pagoda Buddhagaya Watugong.  Berdasarkan petunjuk mereka, saya menyeberang di depan kelenteng, dan menaiki bis kecil – seukuran Metro Mini – ke arah Banyumanik.  Cukup jauh juga perjalanan ke pagoda tersebut, namun buat saya sama sekali tidak membosankan, karena ini kali pertama saya melihat semua yang terpampang di hadapan mata.

Tiba di Pagoda Buddhagaya Watugong, terlintas sebuah pikiran konyol di benak saya yang rupanya telah terpenjara kehidupan bertahun-tahun di Jakarta: Wah, rasanya seperti bukan di Indonesia, seperti di negara asing saja.  Ini konyol.  Tentu saja ini Indonesia.  Indonesia yang merupakan keseharian bagi penduduk daerah ini.  Indonesia yang berbeda dari Jakarta ,tapi tidak kurang Indonesia-nya.

semarang11

semarang12

Di pagoda ini pun penjaganya sungguh ramah.  Ia mempersilakan saya masuk.  Untuk mencapai pagoda, kita harus mendaki undak-undakan.  Sebelum sampai di bangunan utama pagoda, kita disambut patung Dewi Kwam In di tengah-tengah pelataran, sementara tak jauh darinya, sebuah patung Buddha berwarna keemasan bersemayam damai di bawah sebatang pohon boddhi yang rindang.

semarang14

semarang13

Di bagian belakang kelenteng terdapat kamar mandi yang cukup bersih.  Saya manfaatkan untuk mencuci muka yang sejak kemarin belum tersentuh air mandi.  Segar rasanya.  Saya lantas meneruskan mengelilingi pagoda yang sebenarnya tidak seberapa luas, mengamati sebanyak mungkin detail: patung-patung dan ukiran-ukiran naga, kura-kura, singa, pita-pita merah yang diikat di berbagai objek.

semarang15

Hari sudah siang sekali ketika saya meninggalkan pagoda, naik angkot ke terminal Banyumanik, dilanjutkan dengan bis Trans Semarang yang nyaman.  Saya turun di halte SMA 5 Pemuda, tepat di seberang hotel Amaris Pemuda, tempat saya menginap.  Saya memilih hotel ini karena melihat letaknya yang cukup dekat ke beberapa objek wisata di Semarang, seperti Lawang Sewu, selain harganya yang memadai untuk kantong saya dan pengalaman saya selama ini di cabang-cabang lain yang tidak mengecewakan.  Ternyata beberapa keuntungan lain menginap di hotel ini adalah: hanya selemparan batu dari halte Trans Semarang; di bagian bawah hotel ada cabang Dunkin Donuts dan Gramedia; kalau perlu apa-apa juga mal Paragon dan Carrefour bisa didatangi dengan berjalan kaki.

semarang20

Setelah beristirahat sejenak di kamar hotel, saya keluar lagi untuk mencari makan di Carrefour, sekalian menuju Lawang Sewu.  Karena lapar, saya pilih saja sebuah restoran cepat saji yang menyajikan makanan Asia.  Hmmm… rasanya biasa saja sih, harganya pun setara dengan restoran cepat saji lain alias ‘harga Jakarta’, tapi ya sudahlah.  Namanya orang lapar.  Tapi saya bertekad, sehabis ini kalau mau makan harus di luar mal!

Ah, tapi sebelumnya saya perlu bicarakan dulu tentang betapa enaknya berjalan kaki di banyak bagian Semarang.  Trotoar luas, rapi, kerap kali dinaungi pohon rindang.  Dari hotel ke Lawang Sewu, saya melewati kantor walikota dan DPRD yang megah, dan juga papan-papan di mana surat kabar hari itu ditempelkan, bebas dibaca oleh warga yang kebetulan lewat.  Kota-kota Indonesia perlu lebih banyak trotoar semacam ini!

semarang19

Tiba di Lawang Sewu, yang mungkin merupakan ikon paling kenamaan Kota Semarang, saya pun membeli tiket dan magnet kulkas berbentuk Lawang Sewu.  Selain itu, saya harus membayar pemandu yang mengantar saya menyambangi berbagai pojok Lawang Sewu yang sudah dibuka untuk umum (karena sebagian bangunan masih berada dalam tahap renovasi, termasuk bagian di mana terdapat jendela kaca patri yang indah).   Pak pemandu menemani saya dengan berbagai kisah sejarah maupun ‘urban legend’ yang juga membuat kompleks bangunan ‘berpintu seribu’ ini terkenal.  Pasti semua juga sudah pernah kan mendengar tentang kejadian-kejadian seram yang konon terjadi di Lawang Sewu?

semarang16

Dalam hati, saya sendiri merasa seandainya gedung-gedung di kompleks ini terawat baik semuanya, dan juga digunakan secara aktif, tentu tidak terasa (terlalu) menyeramkan.  Atmosfernya tidak akan ‘wingit’, tidak akan jadi lokasi favorit ‘uji nyali’ (kalau mau, Anda bisa lho ikut tur malam hari di gedung ini).  Malah gedung-gedung tersebut pastilah cantik sekali di masa jayanya, ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang, sibuk dengan berbagai aktivitas mereka.

Di bagian yang sudah direnovasi dan dijadikan museum PT KAI, saya belajar banyak tentang sejarah dan kondisi perkereta-apian di Indonesia sekarang.  Wah, ternyata di Sumatra masih ada lokomotif yang menjalankan tugas luar biasa, menarik 40 sampai 60 gerbang sekaligus!  Sedihnya, tersaji pula peta rute-rute daerah-daerah operasional KAI, yang juga menunjukkan stasiun-stasiun yang sudah ‘dimatikan’ alias ditutup.  Ah!  Padahal dulu kereta merupakan salah satu alat transportasi utama yang menghubungkan kota-kota di Sumatra dan Jawa.

semarang18

Saya sempat ditawari masuk ke lorong-lorong bawah tanah, tempat difilmkannya video hantu yang popular di TV maupun Youtube.  Saya menolak sambil tertawa.

“Kenapa?  Kan sayang sudah jauh-jauh ke sini,” kata penjaga di depan tangga turun ke lorong-lorong tersebut.  (Untuk turun, kita harus membayar lagi biaya masuk yang juga mencakup penyewaan sepatu bot, karena di bawah sana air kerap menggenang.)

“Nggak ah Pak.  Saya tidur sendirian di hotel dekat sini,” saya berseloroh.

Beberapa kali mereka mencoba membujuk saya, namun gagal.  Bener deh, saya tidak ada niat turun ke bawah, meskipun katanya di bawah sana sedang ramai oleh pengunjung, tidak menakutkan.  Memang sih masih siang.  Saya hanya malas saja kalau malam nanti jadi terbayang-bayang suasana di lorong-lorong itu.

semarang17

Bukannya percaya takhayul ya, tapi kebetulan sekali malam harinya saat saya pulang dari Simpang Lima usai makan malam, saya kembali melintas di samping Lawang Sewu saat berjalan kaki menuju hotel.  Tanpa diduga, di depan saya cabang pohon yang cukup besar tahu-tahu jatuh ke trotoar di depan saya!  Seandainya saya tadi tidak melambatkan langkah karena menengok layar telepon genggam, mungkin cabang pohon yang tumbuh di tepi kompleks Lawang Sewu itu bakal menimpa saya.

Ups.

Anggaplah sambutan pertanda saya diterima di Semarang!  Hehehe.

Bersambung ke bagian kedua…

Georgetown: Warisan Budaya Dunia di Penang

This post is about Malaysia

Mengapa orang Indonesia bepergian ke Penang, yang, ngomong-ngomong, dibaca pinang?

“Kebanyakan untuk berobat, Mbak,” kata seorang penjaga minimarket tak jauh dari tempat saya menginap.  Si mas penjaga ini berasal dari Jawa.  Seperti juga banyak tenaga kerja asal Indonesia lain yang cukup mudah ditemukan di Penang, ia datang mengadu nasib ke negeri jiran karena merasa sudah sulit menemukan pekerjaan yang cocok baginya di tanah air.

Berobat – atau bekerja.  Sekilas memang itulah dua tujuan utama orang Indonesia berkunjung ke pulau yang terletak di lepas pantai sebelah barat Malaysia Barat ini.  Namun semakin banyak yang datang untuk berwisata, apalagi sejak AirAsia membuka penerbangan langsung dari Medan, Surabaya, dan Jakarta ke Penang.  Jadi tidak perlu ke Kuala Lumpur dulu baru naik bis atau kereta selama beberapa jam menuju pulau tersebut.  Bahkan frekuensi terbang AA dari Jakarta telah ditambah menjadi dua kali sehari, sehingga cukup nyaman untuk yang merencanakan perjalanan.

Pembatas buku dari Cheong Fatt Tze; contoh tiket bis Penang; kupon taksi bandara; gantungan kunci gratis dari Owl Museum; kartu nama Coob Cafe yang berbentuk seperti tiket kereta Japan Railways; kartu pos gratis dari Kongsi Khoo; tiket masuk Owl Museum; tiket trem Bukit Bendera.

More

Kamakura: ‘Kyoto’-nya Jepang Timur

This post is about Japan

Fujisawa!

Pernah dengar nama ini?

Sebelumnya kami tidak.  Kami mampir ke kota ini pun sebenarnya dalam perjalanan menuju ke Kamakura.  Bukannya memilih kereta JR, kami memilih untuk naik kereta api swasta, Odakyu Line, untuk lantas berganti ke kereta legendaris Enoden.  Di stasiun Fujisawa ini kami sempat agak bingung juga, karena sempat harus mencari-cari jalur Enoden.

Tiket terusan ke Hakone dan ke Kamakura.

Bagian luar stasun Fujisawa, yang hanya kami singgahi sebentar saja. Stasiun ini terhubung dengan department store Odakyu, tempat kita bisa mencari oleh-oleh.

More

Sejarah Bangsa di Intramuros

This post is about The Philippines

“Maaf, saya terlalu banyak berbicara ya?”

Saya hanya tertawa mendengar pertanyaan supir taksi ramah yang nyaris tanpa putus mengajak saya mengobrol sedari bandara.  Berbagai hal ia tanyakan, mulai dari wajah saya yang menurutnya mirip wajah orang Filipina, sampai agama mayoritas di Indonesia.  Sebagai balasan, ia juga memberi tahu saya mengenai berbagai hal yang bagi saya baru sama sekali di Manila, misalnya bagaimana menumpangi jeepney, angkot ala Filipina yang menjadi salah satu ‘trademark’ negara tersebut.

Padahal sewaktu akan berangkat ke Filipina, saya sempat was-was juga.  Saya datang ke Manila untuk suatu urusan, namun ternyata acara tersebut batal, sementara tiket pesawat dan hotel tidak bisa saya gugurkan.  Akhirnya saya memutuskan tetap berangkat, sendirian, karena sayang betul kalau semua pesanan saya hangus.  Lagipula, tidak ada salahnya menapaki negara yang belum pernah saya kunjungi, kan?

Sedikit pemandangan Manila – tepatnya di Pasay City.

More

Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri

This post is about Indonesia

Kota Jakarta sungguh perlu museum-museum berkualitas.  Memang ada museum yang sangat bagus dan terawat seperti Museum Nasional alias Museum Gajah, namun banyak juga yang masih seadanya saja.  (Berapa banyak di antara kita yang tahu dan pernah berkunjung ke Museum Tekstil?)  Oleh karena itu, kita boleh berbangga dan bersenang hati akan kehadiran museum yang satu ini: Museum Bank Indonesia, yang terletak berdampingan dengan Museum Bank Mandiri, dan terletak tidak jauh dari Museum Fatahillah dan beberapa museum lain yang terletak di kawasan Kota Tua Jakarta.

Langit-langit lobi depan Museum Bank Indonesia.

Saat ini sebenarnya Museum Bank Indonesia masih dalam tahap renovasi, belum semuanya siap menerima pengunjung.  Namun bagian-bagian yang sudah dibuka sungguh memuaskan dahaga akan museum yang menyenangkan sekaligus informatif.  Tidak hanya koleksinya, arsitektur bangunan ini juga membuat terkagum-kagum dan menuntut mata kita mengamati lekat-lekat agar dapat melihat segala detail yang terawetkan sedari zaman kolonial.

Pintu masuk ke Museum Bank Indonesia, dilihat dari dalam.

Masuk museum ini gratis, namun barang-barang bawaan harus dititipkan di bagian penitipan di dekat pintu masuk museum.  Setelah memperoleh tiket dan mengisi buku tamu, kita pun dipersilakan menuju sebuah lorong gelap dan berbelok, di mana kita disambut permainan interaktif.  Koin-koin tampak berjatuhan dari atas di dinding.  Bila kita berhasil mengurung salah satu koin dengan bayangan lengan dan tangan kita yang disatukan, maka akan keluar informasi mengenai koin yang bersangkutan.  Ingat, sewaktu di lorong ini, jangan memotret dengan flash, ya!

Tangkap koinnya, tangkap infonya!

Museum lantas akan membawa kita menyusuri masa demi masa perkembangan uang dan jasa perbankan di Indonesia, melalui lukisan, diorama, dan beraneka rupa pajangan lain. Adapula ruangan khusus yang memamerkan berbagai macam uang logam, uang kertas, dan uang dalam bentuk lain yang terkadang tak terduga dari berbagai daerah di Nusantara dan negara lain.  Yang sangat menyenangkan, di setiap lemari pajangan tersedia kaca pembesar, yang bisa kita geser-geser bila ingin mengamati koleksi tertentu secara lebih terperinci.

Nah, rangkaian foto berikut ini menunjukkan bagian dalam Museum Bank Indonesia.

Teater di bagian depan.

Diorama kegiatan ekonomi di Nusantara zaman dahulu.

Ada meneer-meneer Belanda bertransaksi!

Lantai pun menjadi tempat memajang koleksi.

Ke museum beramai-ramai, tambah seru!

Instalasi seni yang juga dipajang di Museum BI.

Gedung Museum BI juga memuaskan hati pencinta arsitektur kuno.

Rak-rak kumpulan uang kertas dari berbagai negara.

Toko yang menjual cenderamata Museum BI. Banyak yang murah-meriah, lho!

Tepat di samping Museum BI, terdapat Museum Bank Mandiri, yang juga popular sebagai tempat penyelenggaraan berbagai pameran dan acara.  Museum yang satu ini lebih berfokus pada sejarah Bank Mandiri, meski tentunya juga terkelindan sejarah umumIndonesia.  Begitu memasuki bangunan dan melangkah menaiki tangga di depan setelah tempat penitipan barang, kita akan langsung disambut aula besar di mana dahulu segala bentuk transaksi perbankan berlangsung.

Hayo, mau mengambil uang, atau menabung, atau…?

Ini petugas bank, atau inlander lagi ditahan kompeni, ya?

Ketika menaiki tangga sekali lagi menuju lantai dua, perhatian kita akan tersita oleh seni kaca patri Empat Musim karya FH Abbing, Jr. yang menghiasi jendela-jendela bagian depan.  Meski berjudul dan menampilkan keempat musim di Eropa, sebenarnya ada lima bilah – bilah yang di tengah menggambarkan alamIndonesia.  Kecantikan kaca patri raksasa ini bisa membuat yang melihatnya menahan napas.

‘Empat Musim’

Telusurilah ruang demi ruang, dan silakan berimajinasi menjadi seorang pegawai – atau malah direktur – bank di masa lalu.  Bahkan bentuk toilet pribadi di ruang-ruang kerja direktur mengundang keingintahuan, memantik kenangan akan masa-masa yang telah dilalui bangunan besar yang masih kokoh ini.

Tak pelak terucap doa dalam hati: semoga suatu hari kelak, semua museum di Indonesia bisa menjadi menarik dan terawat seperti kedua museum yang terletak bersisian ini.  Karena kita butuh museum untuk menjaga ingatan kita akan sejarah, dan seperti yang sering dikutip orang, apatah arti bangsa yang tidak menghargai sejarahnya sendiri?

Eh… muesum?

Beijing, Tanpa Paket Tur

This post is about China

Pergi ke Beijing tanpa paket tur, praktis tidak sih?  Ya, bisa-bisa saja, asal Anda tidak keberatan berjalan jauh, naik-turun kereta atau bis, dan bersusah-payah sedikit.  Dengan perencanaan yang bagus, Anda bisa menghemat uang cukup banyak namun tetap dapat mengunjungi tempat-tempat yang sama dengan yang didatangi paket tur, bahkan mungkin dengan jadwal yang lebih leluasa.

Lapangan Tian’anmen dan Kota Terlarang

Sepertinya siapa pun yang berkunjung ke Beijing tak akan mau melewatkan kedua tempat yang berseberangan jalan ini.  Bila naik metro, Anda bisa turun di stasiun Tian’anmen West ataupun East.  Ikuti petunjuk menuju Lapangan Tian’anmen, yang terabadikan dalam foto-foto menggetarkan protes mahasiswa tahun 1989.  Siapa yang tak tergerak hatinya melihat seorang pemuda berdiri dengan gagah berani di depan tank yang siap melindasnya?  Namun kini untuk memasuki Lapangan Tian’anmen, jangan harap bisa membawa bahkan sekadar niat berdemo.  Pemeriksaan ketat terhadap tas dengan mesin sinar-X, dan juga pemeriksaan tubuh bila perlu, akan dilakukan oleh aparat yang berjaga-jaga di pintu-pintu masuk menuju Lapangan Tian’anmen.

More

Menilik Manila

Ingin tahu nggak, Manila itu seperti apa? Kali ini giliran Monyet Ajaib yang bercerita!  Tengok, yuk!  (dalam bahasa Inggris)

[Travel] Philippines 23 December 2010 - 5 January 2011 For the holiday, I decide to visit my family in the Philippines with my mom and my sister. We have separate departure because my mom wants to go there first and I have to wait for my work to be done and take a break from the office. My sister decide to go to Solo and Bali first before she fly to Manila, Philippines, on the 28th. I depart on the 22 midnight and arrive at Manila Ninoy Aquino International Airport 6 am in the morning. Christmas seas … Read More

via 101 Monkey Magic

Kota Tua Phuket

This post is about Thailand

Saya bukannya tidak suka pantai, tapi pantai yang terlalu ramai dan dipadati bangunan di sekitarnya bukan selera saya.  Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menghabiskan satu hari di kota tua Phuket.  Kota tua Phuket memang tidak sepopular pantai-pantai di pulau tersebut, namun kini mulai menggeliat terutama sebagai tujuan wisata budaya, khususnya arsitektur.  Kota kecil ini memang menjadi salah satu ‘museum terbuka’ gaya arsitektur Sino-Portugis selain Melaka di Malaysia dan Macau di Cina.  Memang belum serapi dan seteratur kedua kota lain itu, tetapi saya yakin bila usaha merevitalisasi kota ini terus dilangsungkan, bukan mustahil suatu hari nanti Phuket akan setenar pantai-pantainya.

Dari tempat kami menginap di kawasan Patong, kami menumpang bis umum menuju kota tua Phuket.  Berdasarkan informasi dari pemilik hotel, kami cukup membayar 25 Baht saja.  Kami mencegat bis itu di sebuah halte (tak resmi?) dekat Wat Suwan Khiri Wong, karena terminal bis antarkota terletak di ujung selatan Patong, terlalu jauh dari hotel kami.  Tak lama menunggu, bis yang lebih mirip truk pun tiba.  Biar kata mirip truk, bis-bis Phuket bersih kok.

Tiga deret bangku bis menyamping berhadap-hadapan di bagian belakang kendaraan (meski ada juga bis dengan kursi yang menghadap ke depan).  Jendela-jendela tak berkaca, atau kalaupun ada, dibuka lebar-lebar, sehingga angin bebas menyeruak masuk.  Di langit-langit ada sejumlah bel yang ditekan bila kita hendak turun.  Bila tidak ada kenek, atau bahasa kerennya kondektur, supir bis yang nanti akan menarik bayaran dari penumpang.  Teringat kata-kata pemilik hotel, kami menyediakan uang pas.  Mungkin memang seharusnya begitu, karena ada pasangan turis yang dengan polos bertanya berapa yang harus mereka bayarkan, dan dijawab 35 Baht/orang.  Padahal kami yang membayar 25 Baht dengan gaya seolah sudah biasa tidak dimintai tambahan apa-apa.

Jarak kota tua dari Patong cukup jauh.  Ketika tiba, kami diturunkan di bunderan air mancur.  Tujuan pertama kami adalah Coffee Max yang terletak tepat di depan tempat kami turun.  Di kafe ini kami meneguk kopi untuk membuat mata melek di pagi hari yang cukup dingin untuk ukuran Phuket saat itu.  Setelah merasa siap, perjalanan kami menyusuri kota tua Phuket berjalan kaki pun dimulai.

Oleh karena saat ini kota tua Phuket belum merupakan tempat tujuan wisata populer, tak banyak informasi memadai yang kami peroleh.  Untunglah kami memegang sebuah buku panduan wisata Thailand terbitan AA/Periplus, yang memberikan contoh rute menelusuri kota tua Phuket.  Memang tidak kami ikuti mentah-mentah 100%, namun rute pemberian AA menjadi pegangan awal kami.

Dari Coffee Max, kami berjalan menyusuri Jalan Phang-Nga yang cukup ramai.  Di lampu merah kedua, kami belok kiri dan mengamati kantor pos pusat dan museum filateli Phuket.  Bentuk bangunan campuran Asia-Eropa itu terasa akrab bagi seseorang yang berasal dari negara yang juga pernah dijajah bangsa Eropa untuk waktu lama.

Setelah menyeberangi sungai, kami belok kiri ke Jalan Thalang.  Di sebelah kanan jalan, terdapat kantor TAT (Otoritas Pariwisata Thailand) yang tampak mencolok dengan dinding berwarna salem dan daun pintu serta jendela berwarna hijau.

Tepat di samping kantor TAT, terdapat Taman Ratu Sirikit yang dibangun tahun 2004 untuk memperingati ulang tahun ke-72 Baginda Ratu.  Bila dilihat dari depan, sekilas hanya ada patung naga raksasa dan undak-undakan yang entah menuju ke mana.  Dakilah anak-anak tangga itu, dan Anda pun akan disambut kesejukan sebuah taman yang tak terlalu luas namun cantik.  Kitarkan pandangan Anda ke seluruh penjuru kota tua Phuket yang berlatar belakang perbukitan (nama Phuket berasal dari kata bukit).  Di kejauhan juga terlihat menara masjid – tak hanya Cina dan Portugis, namun Phuket juga dipengaruhi budaya Islam.  Sampai sekarang, sekian puluh persen penduduk Phuket memeluk agama Islam.

Puas bersantai di taman, kami kembali menelusuri Jalan Thalang yang di kanan-kiri diapit pertokoan yang mengingatkan pada Jonkers Street di Melaka.

Kami membelok ke Soi Rommani (ada juga yang mengejanya Rommanee – belum ada transliterasi standar), di mana terdapat banyak bangunan kecil yang sudah memperoleh kembali kejayaan masa lalu mereka.

Jalan kecil itu berujung di Jalan Dibuk, tempat terdapat sebuah kompleks wat dan sekolah, Wat Mongkhon Nimit.  Kami mampir sejenak untuk berteduh di bawah pepohonan besar sekaligus mengamati kegiatan anak sekolah.

Kami kembali ke Jalan Dibuk sampai berjumpa persimpangan dengan Jalan Yaowarat, lantas membelok ke selatan.  Di lampu merah berikutnya, kami membelok ke Jalan Krabi, dan setelahnya iseng memasuki jalan kecil yang buntu.  Terdapat sejumlah bangunan kuno yang belum memperoleh sentuhan perawatan yang baik, namun nantinya pasti indah sekali bila telah memperoleh giliran renovasi.

Memutar lagi ke Jalan Krabi, kami melalui Museum Phuket Thaihua, kemudian lurus saja melewati pertigaan dengan Jalan Satun.  Di sebelah kanan, terdapat Wisma Gubernur yang telah beralih fungsi menjadi restoran dan sekolah memasak Blue Elephant.  Sejenak saya membayangkan, bagaimana ya dulu rasanya menjadi keluarga gubernur yang tinggal di bangunan berhalaman sangat luas itu.

Museum Phuket Thaihua

Wisma Gubernur Phuket

Di lampu merah berikutnya, kami meninggalkan jalan Krabi dan berbelok kiri ke Jalan Patiphat, lalu ke kiri lagi, memasuki Jalan Ranong.  Di sini terdapat perkantoran Thai Airways, yang juga mencakup sebuah gedung bersejarah.  Kami lantas melewati tempat ngetem bis-bis lokal di depan pasar setempat (di sini ada mushola, kalau-kalau Anda perlu), namun kami meneruskan lagi perjalanan kembali ke bunderan air mancur untuk mengisi perut di The Circle.  Setelahnya, baru kami menumpang lagi bis ke Patong, kembali ke wilayah yang disarati lampu neon, kebisingan, dan musik menggelegar.  Dalam hati, saya berdoa kota tua Phuket yang damai tak akan menjadi seperti itu.

Gedung kantor Thai Airways di Phuket.

Menikmati Kontras Macau

This post is about China

“Macau is very very small.  It’s difficult to get lost in Macau, but it’s easy to lose.”

 

 

 

Macau Tower

Macau Tower.

 

 

 

Ucapan dalam salah satu pidato pembukaan konferensi penerjemah yang saya hadiri di Macau seolah merangkum pandangan orang banyak mengenai wilayah mungil yang merupakan bagian dari Republik Rakyat Cina tersebut.   Dalam benak umum, Macau (atau ada juga yang mengejanya Macao) hanyalah sebuah pulau kecil yang menjadi tempat berkumpul utama para penjudi Asia Tenggara dan Asia Timur.  (Sebetulnya, selain pulau Macau, ada pula pulau Taipa.  Kedua pulau ini dihubungkan oleh sejumlah jembatan megah.)

Bandara Macau

Bandara Macau di malam hari

Mosaik bandara Macau

Mosaik yang menghiasi bandara internasional Macau

Sepintas untuk pelancong yang tidak punya dana banyak, Macau bukan tempat yang menjanjikan.  Barangkali Hong Kong – yang hanya berjarak sejam naik feri dari Macau – tampak sebagai tempat wisata yang lebih menarik.  Namun sebenarnya, banyak hal lain yang ditawarkan Macau selain kemewahan kasino. Dan bahkan meskipun Anda tak niat berjudi, kemewahan itu bisa tetap Anda cicipi dengan gratis!

Salah satu sudut Macau

Lampion-lampion Cina menghiasi bangunan lama bergaya Portugis.

Macau memang telah lama menjadi tempat kontras hadir berdampingan: hidup bersama, tak saling menghancurkan, malah saling mendukung.  Lama menjadi jajahan Portugis, Macau memperoleh pengaruh yang berbeda dari Hong Kong yang dipegang Inggris berabad-abad sebelum dikembalikan ke Cina.  Pengaruh Portugis ini, dari segi arsitektur sampai makanan, paling terasa di kota tua Macau.

St Paul dari depan

Ya, saya tahu sudah ada ribuan foto seperti ini, tapi barangkali memang wajib memotret St Paul dari depan bila Anda mengunjungi Macau.

Oya, meskipun bahasa resmi di Macau adalah bahasa Kanton dan Portugis, hanya sedikit sekali orang Macau yang bisa berbahasa Portugis.  Yang bisa berbahasa Inggris dan bahkan membaca huruf Latin pun tidak banyak, meskipun di kalangan anak muda jumlah tersebut meningkat.  Oleh karena itu sebaiknya perlengkapi diri Anda dengan peta atau alamat dalam bahasa Kanton/tulisan Cina.

Papan nama jalan di Macau

Hati-hati, belum tentu semua penduduk Macau bisa membaca nama jalan yang tertera dalam huruf Latin.

Sebelum bercerita lebih lanjut tentang kota tua, saya akan berbagi info terlebih dahulu mengenai Macau secara umum.  Dari Jakarta, cara termudah menuju Macau adalah dengan maskapai penerbangan Mandala.  Kalau Anda senang bepergian dengan AirAsia, Anda harus ke Kuala Lumpur, Penang, atau Bangkok dulu untuk menumpang pesawat ke Macau.  Karena pesawat Mandala tiba larut malam di Macau, biasanya orang-orang menyarankan kepada Anda untuk bermalam di bandara saja.  Namun kalau sempat, tumpangi saja shuttle bus gratis ke Venetian Macau, kompleks kasino dan hiburan mahabesar yang terletak tak jauh dari bandara.  Habiskan malam di sana untuk melihat-lihat, bila Anda lebih memilih untuk tidak langsung bermalam.  Saya sendiri lebih memilih langsung ke hotel, Ole London, yang tergolong murah untuk ukuran Macau, dan juga strategis karena banyak atraksi wisata, termasuk kota tua, yang bisa tercapai dengan jalan kaki.

Shuttle bus Macau

Contoh shuttle bus yang disediakan oleh Venetian Macau

Ngomong-ngomong soal shuttle bus, nah ini tip yang sangat bermanfaat untuk Anda:  Persaingan bebas dan sengit antara berbagai kasino dan hotel mewah mendatangkan keuntungan berupa penyediaan shuttle bus gratis dari/ke bandara dan terminal feri.  Pandai-pandai saja memanfaatkan bis-bis tersebut untuk menghemat pengeluaran.

Bis Macau

Bis umum di Macau.

Kalaupun Anda harus naik bis umum, tarifnya cukup murah dan flat.  Bila Anda berputar-putar di Macau saja, tarifnya 3,20 dolar Hongkong atau pataca Macau (kedua mata uang ini dianggap setara, meskipun sebenarnya dolar Hongkong sedikit lebih mahal daripada pataca).  Bila menyeberang ke Taipa, tarif menjadi 4,20; bila sampai ke Coloane, 5,00; dan jika sampai ke Hac Sa, 6,40.

Taksi Macau

Taksi Macau biasanya men-charge lebih dari yang ditunjukkan argo.

Bila terpaksa menggunakan taksi, hati-hati.  Anda biasanya akan membayar lebih banyak dari yang tertunjuk di argo.  Bukannya para supir itu nembak harga, melainkan memang ada peraturan dari perusahaan, bahwa Anda harus membayar tarif tambahan bila menyeberang dari Macau ke Taipa atau Coloane dan bila meletakkan barang di bagasi.  Dengan tarif buka pintu (flagfall) 13 HKD, memang taksi terasa agak mahal, kecuali bila Anda beramai-ramai.

Akan tetapi, dengan modal kaki saja, banyak atraksi wisata yang bisa Anda sambangi.  Apalagi desain kota Macau sangat enak untuk ditelusuri dengan berjalan kaki, dengan trotoar-trotoar lebar yang dihiasi mosaik cantik.  Di sana-sini pun terdapat taman, sering kali dilengkapi peralatan kebugaran, yang bisa Anda gunakan untuk beristirahat bila lelah.

Trotoar Macau

Mosaik hitam-putih cantik menyusun trotoar-trotoar di Macau.

Yang lebih cerdas lagi, deretan pertokoan modern yang menempati bangunan-bangunan lama yang dilestarikan menghubungkan beberapa bangunan bersejarah di Macau, yang sebenarnya terletak agak berjauhan.  Dengan demikian, berjalan dari satu tempat ke tempat lain tidak terasa melelahkan, dan malah jadi ajang memanjakan mata dan, mungkin, menipiskan dompet.

Senado Square

Warna-warni Senado Square.

Peninggalan budaya paling terkenal di Macau adalah Senado Square atau Alun-alun Senat.   Gedung-gedung peninggalan Portugis yang masih dalam kondisi sangat baik mengundang decak kekaguman dan jepretan kamera.  Datanglah di sore dan malam hari, apalagi di akhir minggu, maka tak bisa tidak, Anda akan bersikut-sikutan dengan ribuan orang lain yang memadati alun-alun tersebut.  Namun datanglah pagi-pagi, dan Senado Square pun sunyi senyap: paling-paling hanya ada penduduk setempat yang membawa anjing mereka jalan-jalan, atau menuju Monte Fort untuk senam t’ai-chi.

Lorong menuju Senado

Salah satu lorong menuju Senado Square, senyap di pagi hari.

Menyusuri lorong-lorong yang bercabang-cabang dari Senado Square, kita bisa menemukan gereja St. Dominic yang berwarna kuning cerah, Katedral, Kantor Pos Pusat, dan berbagai bangunan bersejarah lain yang masih difungsikan.

St Dominic

St Dominic di persimpangan jalan.

Bagian dalam St Dominic

Bagian dalam St Dominic.

Pintu St Dominic

Dinding kuning St Dominic berpadu kontras dengan daun pintu dan jendela yang berwarna hijau.

Tengoklah kiri dan kanan, dan Anda akan menjumpai sejumlah kedai kue yang menjual penganan kebanggaan Macau, portuguese egg tart, dengan harga berkisar dari 5-6 dolar.  Guyur juga kerongkongan dengan berbagai jenis minuman teh dan kopi yang menyegarkan.  Harganya mulai dari 10 dolar, dengan ukuran yang cukup besar.  Bila ingin karbohidrat, boleh coba Ireland’s Potato yang menjual semangkuk kentang goreng seharga 10 dolar yang bisa dibubuhi bumbu bawang putih atau kari.

Kedai egg tart

Salah satu kedai yang menjajakan egg tart.

Egg tart dan teh

Egg tart hangat dan teh dingin, mmm…

Ireland's Potato

Karbohidrat praktis!

Sebuah cabang 7-Eleven juga menyempil di lorong menuju St Paul.  Untuk yang ingin menghemat biaya makan, 7-Eleven sungguh membantu.  Harga seporsi nasi dan lauk mulai dari 14 dolar, namun jangan keburu berpikir ini mahal: karena ukuran porsinya 2 kali ukuran porsi di Indonesia, alias besar sekali!  Kalau buat saya, cukup untuk makan siang dan makan malam sekaligus.

St Paul dari sudut lain

Undak-undakan di depan St Paul.

Dekat St Paul.

Alun-alun di antara St Paul dan Monte Fort.

Ikutilah tuntunan papan-papan petunjuk jalan dwibahasa menuju landmark Macau: reruntuhan gereja St Paul yang nyaris habis digempur saat Perang Dunia II, dan hanya menyisakan bagian depan yang tegak di atas undak-undakan.  Lalu, jangan sampai kalah dengan para kakek dan nenek Macau: dakilah tangga demi tangga menuju puncak benteng.   Pandanglah Macau berkeliling, dan nikmati kontras bangunan-bangunan tua yang berdempet-dempetan dengan kasino raksasa Grand Lisboa yang berbentuk unik di latar belakang.  Bagian dalam benteng kini merupakan Museum Macau, yang menyimpan banyak pajangan dan sajian mengenai sejarah Macau.

Sudut benteng Macau

Salah satu sudut benteng Monte Fort.

Latihan Taichi

Berlatih t’ai-chi di puncak benteng.

Meriam puncak benteng

Membidik Grand Lisboa dengan meriam di puncak benteng. Eh…

Museum Macau

Pintu masuk Museum Macau.

Selain yang sudah saya sebutkan di atas, masih banyak peninggalan bersejarah Macau yang bisa Anda nikmati, seperti Kuil A Ma, Barak Moor, dan lain-lain.  Sebagian bahkan mungkin tidak tercantum di peta wisata – tidakkah menyenangkan, tahu-tahu menemukan objek menarik terselip di tempat yang tidak Anda duga?  Dan bila Anda butuh keriaan, selalu ada berbagai macam festival dan acara menarik di Macau sepanjang tahun.  Berjalan kaki suatu malam dari Macau Tower menuju Grand Lisboa, saya mendapati dua festival – 1 festival makanan, 1 festival amal – sedang berlangsung disirami semarak cahaya warna-warni.

Festival makanan.

Festival makanan semarak warna-warni neon.

Puas menikmati bagian tua Macau, kini berpindahlah ke bagian baru yang bergelimang uang, namun tetap bisa kita nikmati tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.  Dari Senado Square, misalnya, Anda bisa berjalan kaki ke Grand Lisboa.  Masuk saja dengan percaya diri, dan tenggelamkan diri dalam pameran sejumlah karya seni yang indah di lantai dasar.

Pameran di Grand Lisboa.

Salah satu karya seni yang dipamerkan di Grand Lisboa.

Kemudian menyeberanglah melalui lorong bawah tanah ke Wynn.  Di kasino ini, mulai pukul 10 pagi, ada pertunjukan gratis Dragon of Fortune dan Tree of Prosperity setiap sejam sekali – sebenarnya berlangsung di tempat yang sama, hanya saja setiap setengah jam, pertunjukan yang ditampilkan berbeda.  Sebuah kubah di lantai akan membuka, memunculkan seekor naga atau pohon raksasa, yang masing-masing tampil selama sekitar 4 menit.  Selain itu, sejak jam 11 siang, setiap 15 menit sekali, di kolam di depan pintu utama hotel  ditampilkan pertunjukan air mancur dan api yang cukup menggetarkan.

Kubah naga

Dari dalam kubah di lantai itu, akan muncul naga raksasa…

Air dan api

Pertunjukan air dan api di depan Wynn.

Pertunjukan akrobat dan seni gratis juga Anda bisa nikmati di Venetian Macau, Taipa.  Venetian Macau menyediakan sejumlah teater untuk berbagai macam pertunjukan, dari stand up comedy sampai konser musik, dan juga Cirque du Soleil yang terkenal.  Anda juga bisa iseng melihat-lihat orang berjudi di dalam kasino, meskipun tidak boleh memotret.  Ada ketakjuban tersendiri mengamati betapa cepat uang hilang di atas meja-meja judi Macau – saya jadi teringat lagi penggalan pidato sambutan yang saya kutip di atas.

MU Experience

Manchester United Experience Store, Venetian Macau.

Penggemar  Manchester United boleh bersuka-ria di Manchester United Experience Store, yang tidak hanya menjual merchandise klub sepakbola tersebut, melainkan juga menawarkan pengalaman berada di kamar ganti dan lorong menuju lapangan seperti di Old Trafford.  Bila punya uang agak lebih, habiskan 15 menit menyusuri kanal-kanal buatan di dalam Venetian Macau dengan gondola, ditemani pengayuh gondola yang tak hanya tampan-tampan dan cantik-cantik, melainkan juga pandai bernyanyi.  Pengayuh gondola saya, Agostino, bahkan bisa mendendangkan Bengawan Solo!  Mengingat selama ini cukup banyak juga turis dari Indonesia, para pengayuh gondola ini rupanya sudah mempelajari sejumlah sapaan seperti ‘selamat datang’, ‘apa kabar’… dan bahkan memuji ‘cantik’!

Bagian dalam Venetian

Salah satu kanal yang merentang di dalam Venetian Macau.

Bila agak lelah dengan kebisingan Macau atau Taipa, tumpangilah bis bernomor 15, 21, 21A, 26, atau 26A (sebagian di antaranya bisa Anda naiki dari halte bis dekat Senado Square) menuju daerah pedesaan di Coloane, yang masih senyap dan santai.  Udaranya lebih sejuk dan bersih karena terletak lebih tinggi daripada kota Macau.

Alun-alun Coloane.

Di tengah hari pun, Coloane sunyi-senyap, tak seperti Macau.

Di alun-alun Vila de Coloane (Desa Coloane), terdapat salah satu toko kue merangkap kafe yang menjadi tujuan utama orang mendatangi desa tersebut: Lord Stow’s.  Toko kue yang dirintis seorang Inggris, Andrew, yang mendapat julukan ‘Lord Stow’, menjual portuguese egg tart yang konon paling lezat di seluruh Macau, hasil racikan sang ‘tuan’.  Tak heran, Lord Stow’s berani menjual setiap potong egg tart buatan mereka seharga 8 dolar.  Sayang Andrew telah berpulang secara mendadak pada tahun 2006 akibat asma, namun kini keluarga dekatnya meneruskan usahanya.  Ada beberapa cabang di negara lain, seperti Hong Kong dan Taiwan, namun di Macau, Lord Stow’s hanya ada di Vila de Coloane.

Lord Stow's.

Papan nama Lord Stow’s Garden Cafe.

Bagian dalam Lord Stow's.

Meja layan Lord Stow’s.

Egg tart Lord Stow’s – juga buatan toko-toko lain di sekitar Senado Square – bisa tahan 3 hari, sehingga sebelum pulang ke Indonesia, Anda bisa membeli beberapa kotak untuk oleh-oleh.  Oya, makanan dan minuman lain di Lord Stow’s juga memanjakan lidah, misalnya saja homemade lemonade mereka yang kecut dan segar.  Waktu itu kami dilayani pelayan yang sangat fasih berbahasa Inggris, sehingga semakin senang saja kami kepada Lord Stow’s.

Hidangan Lord Stow's.

Sandwich tuna dan homemade lemonade Lord Stow’s.

Macau boleh kecil-mungil, namun banyak pengalaman yang bisa Anda dapatkan tanpa menguras banyak biaya, dan tanpa perlu menggulirkan dadu.

Warung Macau

Berbelanjalah di warung tepi jalan saat mengitari Macau…

Taman Macau

…dan bila lelah, beristirahatlah di salah satu taman atau alun-alun seperti ini.

Melaka, Kota Antik yang Menawan

This post is about Malaysia

Bila bepergian ke Malaysia, jangan hanya tinggal di Kuala Lumpur (KL).  Untuk merasakan suasana yang ‘lebih Malaysia’ atau ‘beda’, datangilah daerah-daerah atau kota-kota lain.  Kali ini, kami mengajak Anda mengunjungi Melaka, sebuah kota kecil yang terletak 2 jam jauhnya naik bis dari KL.  Melaka, atau Malacca, juga bisa Anda capai dengan bis dari Singapura.  Kota ini terletak di posisi strategis di Selat Melaka, sehingga tak heran bangsa-bangsa penjajah dulu menjadikan kota tersebut tempat bercokol.  Tak heran, Melaka menunjukkan tidak hanya warisan Melayu, India, dan Cina, melainkan juga Belanda, Portugis, dan Inggris.

Christ Church

Bagian depan Christ Church

More