Benteng Heritage Museum, Tangerang

This post is about Indonesia

Di sisi Jakarta, ada tiga wilayah yang menyandang nama ‘Tangerang’.  Dua di antaranya kota: Tangerang dan Tangerang Selatan; sementara satu lagi berstatus kabupaten.  Kadang-kadang ini memang membingungkan.  Apabila saya secara singkat menyebutkan rumah saya ada di Tangerang (dan yang saya maksudkan adalah Tangerang Selatan), banyak yang mengira rumah saya ada di Kota Tangerang.  Namun kedua wilayah ini berbeda, dan jaraknya dari ujung ke ujung lumayan jauh pula.  Setidaknya, jarak dari rumah saya ke kawasan kota tua Tangerang, di mana Benteng Heritage Museum (BHM) terdapat.

Kawasan kota tua Tangerang dikenal juga sebagai kawasan ‘Benteng’, asal-muasal sebutan ‘ciben’ alias ‘Cina Benteng’ untuk orang-orang Tionghoa yang sejak lama bermukim di daerah tersebut.  Konon dahulu memang ada benteng yang berdiri di wilayah yang kini menjadi kota tua Tangerang.

Trotoar dan taman yang banyak ditemukan di Kota Tangerang.

Malangnya, di masa lalu, meskipun telah berabad-abad tinggal di  Tangerang sejak nenek moyang mereka pertama kali mendarat di Teluk Naga, para ‘ciben’ kerap mendapat diskriminasi dan pelecehan, dan beberapa kali pula terjadi tragedi berdarah.  Misalnya, pada 1942, di masa penjajahan Jepang, rumah-rumah warga Tionghoa Tangerang dijarah.  Berbagai benda berharga hilang, termasuk warisan keluarga seperti guci abu leluhur dan papan nama leluhur.  Tahun 1946, di masa awal republik ini, fitnah bahwa ada orang Tionghoa menurunkan bendera merah-putih di Tangerang berbuntut pembantaian besar-besaran terhadap ‘ciben’.  Diperkirakan ada 600 orang tewas.

Kaum peranakan ini pun dahulu dianggap lebih ‘rendah’ oleh orang-orang Tionghoa yang bermukim di Jakarta, karena kulit mereka yang lebih gelap dan dialek mereka yang dianggap ‘aneh’, hasil percampuran dengan suku-suku bangsa lainnya di sekitar Tangerang.  Sampai sekarang, bila Anda bertandang ke Kota Tangerang, Anda akan bertemu dengan orang-orang Tionghoa yang berbicara dengan logat Sunda, juga beberapa logat lain yang digunakan penduduk Banten.

Berbagai kisah masa lalu masyarakat Tionghoa Tangerang, juga contoh artefak dan produk budaya mereka hingga kini, bisa kita nikmati di museum yang baru resmi dibuka tahun 2011 lalu, yaitu Benteng Heritage Museum yang terletak di Pasar Lama Tangerang.  Awalnya, museum ini adalah dua rumah bersisian yang berhasil dibeli oleh Bapak Udaya Halim dan direstorasi besar-besaran oleh tim beliau.  Pak Udaya bertumbuh besar di Pasar Lama Tangerang, dan berniat menyelamatkan warisan budaya Tionghoa Tangerang termasuk bangunan-bangunannya.  Masih ada beberapa rumah lagi yang hendak beliau selamatkan, termasuk rumah ketiga yang sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian rumah yang dijadikan museum.

Sejumlah rumah lama yang masih bisa Anda lihat di kawasan Pasar Lama Tangerang – yang dulu juga disebut ‘Petak Sembilan’, seperti kawasan pecinan di Jakarta.

Dari Cikokol, saya naik angkot berwarna biru-kuning dan meminta supir angkot menurunkan saya di Pasar Lama.  Ia menurunkan saya di depan sebuah gang kecil.  “Betul di sini, Bang?”  tanya saya.

“Betul.  Lewat gang ini saja, nanti tembus di Pasar Lama.”

Pertama-tama saya agak ragu, namun sang supir angkot memang tidak berbohong.  Gang itu betul tembus ke Pasar Lama.  Namun meski saya sebut ‘gang’, jangan kira wujudnya adalah jalan kecil yang kotor dan becek.  Di Kota Tangerang, gang-gang sekalipun sebagian besar sudah berlapis conblock sehingga enak disusuri.  Dan berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kecil ini, sambil memperhatikan rumah-rumah tua dan kesibukan masyarakat Tangerang, terasa menyenangkan.

Di dekat tempat saya turun, ada sebuah gerbang merah yang digantungi lampion.  Di balik gerbang itu ada tangga yang menuju ke pelataran yang tidak seberapa luas, dengan sebuah altar kecil tempat orang-orang bisa bersembahyang.  Dulu di sini berdiri apa yang disebut Tangga Djamban, hasil sumbangan 81 orang warga Tionghoa Tangerang.  Pada tahun 2009, tangga tersebut telah hancur total, namun pada tahun 2010 didirikan lagi atas inisiatif masyarakat, dan toapekong kali pun diletakkan di situ.  Prasasti yang memuat nama ke-81 penyumbang Tangga Djamban diangkut ke Benteng Heritage Museum, dibersihkan dan kini dipajang di lantai dua bangunan tersebut.  Pengunjung yang datang seringkali antusias ketika melihat nama marganya juga tercantum di prasasti itu.

Tangga Djamban.

Toapekong kali.

Plakat peresmian toapekong kali tahun 2010.

Pemandangan Sungai Cisadane yang lebar dan relatif bersih meski airnya berwarna kecokelatan sungguh membuai mata.  Memang satu lagi kelebihan Kota Tangerang adalah kawasan bantaran sungainya yang cukup terawat, dilengkapi kawasan hijau dan trotoar.  Masih terlihat sampan-sampan dan para pemancing di sungai tersebut, juga orang-orang yang berjalan-jalan menikmati pemandangan sungai.  Bila sedang perayaan Peh Cun, di sungai ini diselenggarakan perlombaan perahu naga.

(Trotoar dan taman memang merupakan kelebihan lain Kota Tangerang.  Di sebagian ruas jalan, trotoar berdampingan dengan taman-taman yang dilengkapi bangku, tempat sampah, landasan bermain skateboard, lapangan basket, dan sarana  permainan gimnastik.)

Saya mengikuti gang yang ditunjukkan sang supir angkot menuju Pasar Lama.  Tidak jauh kok jalannya.  Pasar Lama sampai saat ini memang masih berfungsi sebagai pasar tradisional di pagi hari.  Mungkin karena itulah BHM juga buka siang hari, sejak pukul 1 di hari biasa dan pukul 11 di akhir minggu, namun tutup di hari Senin.  Ketika saya tiba, pasar tersebut sudah sepi.  Hanya tersisa beberapa pedagang yang sedang membereskan dagangan.

Tampak depan Benteng Heritage Museum.

Rumah di sebelah kiri belum berhasil dibeli oleh museum, namun direncanakan demikian, agar museum menjadi kesatuan utuh.

BHM mudah ditemukan karena tampak mencolok dengan cat dinding dan daun pintu serta kusen jendelanya yang masih terlihat mengilap.  Kita akan disambut oleh sepasang patung singa – jantan dan betina – yang berdiri mengapit pintu depan.  Gagang pintu tampak dihias diagram patkwa.

Salah satu patung singa penjaga pintu museum.

Gagang pintu depan.

Ruang depan merupakan tempat penyambutan tamu, di mana kita bisa membeli minum untuk melegakan haus, membeli karcis, dan memotret.  Ya, soalnya setelah melewati tempat penjualan karcis, kita tidak boleh mengambil foto.  Namun di ruang depan ini, juga ada sejumlah pajangan yang menunjukkan kehidupan Kota Tangerang di masa lalu, untuk semakin menggelitik rasa ingin tahu kita.

Lantai dasar berlapis ubin kuno berwarna merah pudar.  Ketika lantai dibongkar sewaktu restorasi, penggalian sedalam 20 meter ternyata menemukan sejumlah artefak yang menunjukkan bahwa lama sebelum rumah tersebut didirikan, daerah Pasar Lama telah digunakan sebagai pemukiman.  Artefak-artefak itu kini dipamerkan di lantai dua BHM.

Di lantai bawah ini, disimpan sejumlah perabotan dan peralatan hidup sehari-hari seperti penggiling beras dari batu.  Juga ada gerbang bulan yang indah, namun sebenarnya bukan merupakan bagian asli dari rumah, melainkan ditambahkan saat restorasi.

Lantai bawah saja sudah cukup membuat tercengang.  Namun lantai dua BHM sungguh luar biasa!  Untuk naik ke lantai berikutnya, kita terlebih dahulu harus mencopot sepatu, sebab penggunaan alas kaki dikhawatirkan menggores lantai atas yang terbuat dari kayu.  Setelah mendaki tangga kayu yang cukup curam, kita pun tiba di lantai yang menyimpan sedemikian banyak harta warisan budaya.

Ada begitu banyak benda yang bisa kita lihat di lantai dua:

Mulai dari dachin (timbangan) dari yang kecil sampai yang bergagang panjang, sebab bisa digunakan merangkap sebagai pikulan;

kumpulan mesin tik, sempoa, jam dinding tua (salah satu di antaranya masih setia berdetak);

koleksi kain dan pakaian tradisional yang dipengaruhi budaya Tionghoa, misalnya kebaya encim;

Prasasti Tangga Djamban;

artefak berupa pecahan porselin, uang kuno, paku, dan lain sebagainya yang ditemukan tertanam di bawah museum;

sepatu-sepatu khusus yang dahulu dipakai oleh perempuan-perempuan yang kakinya diikat agar berukuran kecil, terkadang hanya sepanjang 3 inci (‘lotus feet’);

berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk upacara-upacara tradisional;

arca dan ikon berbagai dewa dan sang Buddha;

perabotan dan peralatan hidup sehari-hari; serta banyak lagi.

Loket pembelian tiket.

Ada pula ruang tempat menyimpan koleksi kamera kuno, gramofon, dan piringan hitam milik Pak Udaya, namun ruang ini hanya bisa kita masuki bila sang pemilik sedang berada di BHM.

Akan tetapi, barangkali harta paling berharga rumah ini adalah relief potongan cerita Sam Kok yang menghiasi bagian pinggir penunjang atap di sekeliling void rumah.  Relief yang menunjukkan kehebatan kriya kayu dan tempel-keramik ini mungkin tidak akan kita sadari seandainya kita tidak mendongak.  Keberadaannya sepertinya merupakan bukti bahwa museum dahulu merupakan rumah kongsi, karena tidak sembarang rumah boleh dipasangi relief seperti itu.  Keindahannya seperti mencuri napas saya sejenak.

Ruang depan museum.

Hal seru lain yang bisa kita lakukan di museum ini adalah mencoba membuka papan gerendel pintu menuju balkon di lantai dua.  Meski kelihatannya sederhana dan hanya terbuat dari kayu, jangan salah!  Bila kita tidak tahu caranya, sampai bego juga kita tidak akan bisa menggeser kedua gerendel itu sampai terbuka.  Sungguh karya pertukangan yang brilian!  (Kalau kita menyerah, pemandu akan memberi tahu kita cara membuka pintu, kok.  Contekannya tidak saya beri, ya… hehehe. )  Dari balkon, kita bisa melihat-lihat ruas jalan Pasar Lama yang merupakan urat nadi perdagangan Tangerang masa lalu.

Setelah puas melihat-lihat lantai dua, kita akan dituntun menuruni tangga yang berbeda, menuju ruang di mana kita dapat membeli berbagai buku dan kecap tradisional buatan Tangerang.  Nantinya ruang suvenir ini diharapkan bisa menjual lebih banyak lagi ragam cenderamata.

Kelar mengunjungi museum yang menyimpan kekayaan budaya ini, kita bisa berjalan sedikit ke arah kanan saat keluar dari rumah dan menengok Vihara Padumuttara/Kelenteng Boen Tek Bio, tempat sebagian penduduk lokal beribadah.  Bau dupa yang meruap meninggalkan kesan kuat dalam ingatan akan Kota Tua Tangerang yang begitu kental dengan budaya peranakan.

Bila kita mendekati dari samping, bangunan ini adalah Vihara Padumuttara…

…dari depan, Kelenteng Boen Tek Bio.

Informasi penting mengenai Benteng Heritage Museum

Jl. Cilame No. 18/20, Pasar Lama

Tangerang 15111, Banten, Indonesia

Telepon: +62 21 445.445.29

e-mail: info@bentengheritage.com

www.bentengheritage.com

Tur di Museum Benteng Heritage adalah tur berpemandu, berlangsung selama 45 menit, dengan jumlah setiap rombongan dibatasi 20 peserta.

Harga tiket umum Rp 20.000; mahasiswa/pelajar (wajib menunjukkan kartu pelajar) Rp 10.000; tur berbahasa Inggris Rp 50.000.

Museum buka Selasa – Jumat 13.00 – 18.00, Sabtu – Minggu 11.00 – 19.00, Senin tutup

Heritage Waroeng Kopi 10.00 – 20.00, menyediakan berbagai makanan/minuman khas babah/peranakan Tangerang (halal)

Advertisements

Kirab Perdana Tjong Tek Bio

This post is about Indonesia

Pagi tadi, hujan – berkah dari langit – turun cukup deras semenjak pagi.  Hal itu tak menciutkan tekad saya menghadiri kirab perdana Tjong Tek Bio yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Cap Go Meh 2562 sekaligus hari ulang tahun ke-18 Kota Tangerang.  Dan memang, hujan tak menyurutkan persiapan kirab.

Kota Tangerang adalah salah satu kota satelit Jakarta, tempat Bandara Soekarno-Hatta terletak.  Kota kecil yang cukup nyaman, dengan trotoar rapi dan dinaungi pepohonan di sepanjang nyaris seluruh jalan utama.  Di beberapa tempat, kawasan pejalan kaki bahkan dilengkapi bangku-bangku yang masing-masing didampingi sebuah tempat sampah.  Sungai Cisadane yang lebar membelah kota ini, yang sepertinya sadar betul betapa pentingnya Cisadane bagi mereka.  Bila ingin berjalan santai menyusuri Cisadane, tersedia jalan setapak yang dinaungi pepohonan.

Namun Kelenteng Hok Tek Tjeng Sin/Wihara Mahabodhi tempat kirab dipusatkan, tidak terletak di jalan utama.  Malah, saya nyaris melewatkan mulut jalan kecil yang mengarah ke kelenteng tersebut, dan supir angkot harus buru-buru merem kendaraannya sewaktu ia ingat saya tadi diminta diturunkan di Wihara Mahabodhi.  Jalan kecil itu dilapisi conblock, seperti juga jalan-jalan kecil lain di Kota Tangerang.  Pelapisan jalan dengan conblock ini memang salah satu program pemda setempat.

Saya tiba terlalu pagi, disambut senyum dan tawa.  Penjaga dari pihak panitia mempersilakan saya menuju ke lapangan belakang, tempat tandu-tandu toapekong ditempatkan, dan para peserta bersiap-siap.  Di lapangan yang sedang becek itu juga berdiri tenda-tenda penjual makanan dan minuman, termasuk makanan khas Betawi seperti kerak telor.

Bila menutup mata dan mengabaikan suara musik yang bertalu-talu, mungkin takkan terasa saya sedang berada di tengah persiapan perayaan tradisi Cina.  Yang terdengar adalah orang-orang yang bercakap-cakap dengan salah satu logat Betawi: inilah cara orang-orang Cina Benteng berbicara.  Mereka bukan sekadar ‘bagian’ dari masyarakat Tangerang.  Bisa dibilang merekalah penduduk asli daerah ini.  Bolehlah dikata nenek-moyang mereka tiba di negeri ini lebih lambat daripada nenek-moyang banyak suku bangsa lain.  Namun mereka berakulturasi dengan baik – dan alamiah – tanpa melupakan tradisi yang dibawa dari tanah leluhur.  Mereka bukan ‘orang asing’.  Mereka orang Indonesia.

Sewaktu melihat-lihat, lagi-lagi saya disapa ramah.  “Dari wihara mana?”  Saya berusaha menjelaskan, saya hanya datang untuk menonton, bukan perwakilan wihara.  Senyum pria itu tak menghilang.  Ia malah menyuruh saya makan dulu di belakang kelenteng.  Rupa-rupanya memang disediakan makanan untuk peserta kirab.  Saya hanya tersenyum dan berterima kasih.  Tak enak rasanya mengambil jatah orang.

Setiap kali ada barongsai atau liong datang, mereka terlebih dahulu menghatur sembah di kelenteng.  Mereka selalu disambut oleh dua barongsai milik kelenteng setempat.  Kadang sampai empat barongsai beramah-ramah di depan kelenteng.  Seru dan lucu!  Akan tetapi ada pula barongsai yang terlihat gahar.  Barongsai yang paling berbeda ini dibawa sebuah kelompok dari Sukabumi.  Bukan hanya bentuknya yang berbeda, melainkan juga cara geraknya.  Beringas!

Para naga atau liong juga mengundang decak kagum.  Warna dan corak naga milik masing-masing kelompok berbeda-beda.  Salah satu naga dibuat dari motif bercorak seragam belang TNI.  Oalah, pantas saja, rupanya milik klub barongsai/liong polisi militer.  Memang anggota kelompok-kelompok barongsai kini bukan hanya orang Tionghoa, melainkan juga dari berbagai latar-belakang.  Seorang wanita berjilbab terlihat sebagai bagian dari salah satu kelompok barongsai.

Beberapa lama sebelum pembukaan kirab, dewa-dewi masing-masing kelenteng/wihara yang tadinya diletakkan di dalam Hok Tek Tjeng Sin dibawa dengan penuh hormat menuju tandu masing-masing.  Yang masih ingin menghaturkan sembah, berdoa, ataupun menerima kertas jimat boleh langsung mendatangi tandu-tandu tersebut di lapangan belakang.  Musik terus menggelegar.  Ada yang menari-nari, tertawa-tawa – mengasyikkan sekali melihat semua itu.

Kirab dibuka oleh sambutan ketua panitia dan walikota Tangerang, yang disambut riuh oleh hadirin.  Tadinya panitia agak sulit menenangkan suasana agar pidato-pidato itu bisa terdengar.  Maklum, para peserta bersemangat sekali memainkan musik.  Namun, akhirnya, perhatian para peserta dan hadirin pun tercurah ke panggung.  Walikota, yang memberikan sambutan singkat tanpa teks, menekankan bahwa kita semua bersaudara, sekaligus mengajak warga terus membangun Kota Tangerang.

Diiringi tepuk tangan ramai, kirab pun dimulai, dengan barisan ibu-ibu marawis berjalan paling depan.  Kemudian iring-iringan toapekong Hok Tek Tjeng Sin lewat.  Luar biasa keras tandu-tandu itu digoyang, sampai saya bertanya-tanya apa para pengusungnya tidak keberatan.  Apalagi jarak yang akan mereka tempuh agak jauh, sampai ke Pintu Air dan Mapolres sebelum berputar kembali ke kelenteng.

Setelahnya, satu demi satu barongsai, liong, dan tandu pun lewat, meliuk-liuk, diiringi tambur bertalu-talu. Mengagumkan.  Saya berdiri di tengah begitu banyak orang yang rata-rata berpakaian merah.  Agak sulit mengambil gambar, karena saya juga tidak enak bila harus menerobos kawanan orang yang ingin beribadah.

Namun tahukah Anda, bagi saya, hal terindah yang saya foto hari itu adalah tawa dan senyum orang-orang.  Di hati saya pun kembali terbit rasa bangga melihat bendera merah putih berkibar-kibar diusung para peserta kirab.  Semoga acara kirab ini bisa menjadi bagian dari agenda rutin tahunan Kota Tangerang, dan semoga kerukunan di Tangerang (dan juga Indonesia) bisa terus terjaga.

Tanah Tingal: Setitik Kesegaran di Ciputat

This post is about Indonesia

Dipikir-pikir, lucu memang.  Saat langkah kaki (dan kereta api, dan kapal, dan pesawat terbang) telah jauh membawa saya ke berbagai tempat, ternyata saya belum pernah mengunjungi Tanah Tingal, yang dengan berjalan kaki saja tercapai dari rumah saya.  Kalau teringat ini, saya sering malu.  Maka itu, suatu hari Minggu belum lama ini, dengan niat berolahraga pagi, saya dan seorang teman pun menyambangi tempat tersebut.

Sayangnya, berhubung niat saya pagi itu adalah berolahraga, saya tidak membawa kamera.  Oleh karena itu, hanya beberapa foto yang bisa saya berikan di sini, yang saya ambil dengan telepon genggam saya.

Tanah Tingal adalah tanah pribadi yang dibuka untuk umum (dengan biaya masuk 15 ribu rupiah) sebagai tempat outbond, dilengkapi pula dengan arena futsal, kolam renang, dan danau kecil di mana pengunjung bisa berdayung perahu.  Untuk melakukan sejumlah aktivitas, Anda perlu membayar lagi.  Selain berolahraga pribadi, Tanah Tingal juga bisa disewa untuk kegiatan kelompok, termasuk perhelatan seperti pernikahan.  Untuk anak-anak sekolah, juga tersedia berbagai kegiatan khusus lengkap dengan instrukturnya, mulai dari membatik sampai membuat gula merah.

Keunikan lain dari Tanah Tingal adalah keberadaan sekolah alam di dalamnya.  Saat ini, ada taman kanak-kanak dan sekolah dasar, yang baru mencapai kelas 5.  Bangunan-bangunan sekolah sungguh unik, karena kelas-kelas terbuka ke udara bebas dan segar, tidak berdinding; penutup yang tersedia bila diperlukan sewaktu-waktu paling-paling kerai yang bisa digulung ke atas.  Bahan bangunan yang mendominasi adalah kayu dan gedek.

Di depan setiap kelas, ada rak sepatu dengan bot-bot berjejer, yang tentunya digunakan anak-anak ketika bermain di halaman atau berkebun.  Ya, ada petak-petak kebun yang ditandai dengan papan yang menunjukkan kelas yang bertanggung jawab atas masing-masing petak.  Saya asyik sendiri membayangkan seperti apa bersekolah di sini.

Pagi itu, kami cukup puas berjalan-jalan sejenak di Tanah Tingal.  Tempatnya memang tidak terlalu luas, namun saat berada di dalamnya, dikelilingi pepohonan tinggi, rerumputan menghijau, dan berbagai tumbuhan lain, sejenak saya lupa saya berada di Ciputat, kawasan padat penduduk dan sesak perumahan – yang terus mengalami degradasi lingkungan, dengan diubahnya lahan-lahan basah menjadi perumahan gugus.

Pasar Modern BSD

This post is about Indonesia

Pasar Modern BSD

Sisi Pasar Modern BSD dilihat dari lahan parkir.

Meskipun sekarang banyak hipermarket dan supermarket (atau haruskah saya sebut ‘pasar hiper’ dan ‘pasar super’?), tidak bisa disangkal, berbelanja di pasar tradisional memiliki nilai asyik tersendiri.  Mungkin itu kebebasan memilih-milih penjual, menawar barang, atau atmosfer yang memang tidak bisa diperoleh di hipermarket/supermarket.  Namun keluhan yang sering kita dengar adalah pasar tradisional kotor, sempit, becek, sehingga tidak menggugah selera orang (terutama dari kalangan menengah dan atas) untuk berbelanja di sana.  Barangkali menunggu pemerintah memperbaiki semua pasar tradisional yang ada juga bakalan lama sekali.

Oleh karena itu, sungguh cemerlang gagasan pengelola Bumi Serpong Damai untuk mendirikan Pasar Modern BSD.  Sebutannya memang ‘modern’, meski pada dasarnya ini adalah pasar tradisional.  Akan tetapi label itu mungkin diperlukan untuk membedakan pasar ini dari pasar yang kotor dan becek semacam itu.  Dengan pengelolaan yang cukup ketat – konon ada hukuman cukup keras bila ada pedagang yang melanggar aturan kebersihan – maka pasar ini pun menjadi tempat berbelanja yang nyaman dan digemari banyak orang.  Buktinya antara lain adalah betapa sulitnya mencari tempat parkir di pasar ini di akhir minggu.  Banyak orang terpaksa parkir di luar area pasar, meskipun Pasmod memiliki lahan parkir yang cukup luas.

Bagian dalam Pasar Modern BSD

Bagian dalam Pasar Modern BSD

Bila Anda menyenangi jajanan dari waralaba internasional, Anda tak akan menemukan satu pun di pasar ini.  Jadi pasar ini pun konsisten mendukung pedagang dan rumah makan Indonesia.  Bagian keliling luar pasar adalah ruko-ruko.  Di sini banyak terdapat restoran yang menawarkan berbagai sajian, baik halal maupun tidak, termasuk yang ‘ajaib’ seperti daging ular.  Juga ada bank dan ATM, tempat penukaran valuta asing, toko roti, toko pakaian, toko kelontong, minimarket, dan lain-lain.  Di bagian luar ini antara lain ada serabi Notosuman, pisang goreng srikaya, puding Sweet Mom dengan berbagai bentuk dan rasa, dan banyak lagi.

Di sebelah dalam bangunan pasar, terdapat pasar ‘basah’ yang berkoridor lebar dan berlangit-langit tinggi.  Pasar basah ini terbagi-bagi seturut jenis dagangan yang dijual – misalnya sayur, daging halal, daging babi.  Salah satu yang paling menarik adalah cabang restoran Oen Pao yang bergaya warung.  Suasananya santai dan enak, bahkan rasanya kok lebih menyenangkan daripada cabang Oen Pao yang lebih mewah di daerah lain Jakarta.

Oen Pao Pasar Modern BSD

Oen Pao cabang Pasar Modern BSD

Pasar pagi/siang buka sampai pukul 3 sore.  Setelahnya, pasar basah tutup meskipun ruko-ruko tetap buka, dan sebagian lahan parkir pun disulap menjadi tempat jajanan malam yang buka mulai sore hari.  Jadi, dari pagi sampai malam pun, selalu ada yang bisa Anda temukan di Pasar Modern BSD.  Pasar ini juga terletak tidak jauh dari pintu tol BSD, sehingga bila Anda ingin menyambangi tempat ini dari Jakarta, tidak sulit menjangkaunya.

Pasar Modern BSD bisa menjadi contoh bagaimana pasar tradisional yang dikelola baik bisa menjadi nyaman dan menarik, serta bahkan mungkin menjadi salah satu tujuan pariwisata yang banyak diincar turis.