Kirab Perdana Tjong Tek Bio

This post is about Indonesia

Pagi tadi, hujan – berkah dari langit – turun cukup deras semenjak pagi.  Hal itu tak menciutkan tekad saya menghadiri kirab perdana Tjong Tek Bio yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Cap Go Meh 2562 sekaligus hari ulang tahun ke-18 Kota Tangerang.  Dan memang, hujan tak menyurutkan persiapan kirab.

Kota Tangerang adalah salah satu kota satelit Jakarta, tempat Bandara Soekarno-Hatta terletak.  Kota kecil yang cukup nyaman, dengan trotoar rapi dan dinaungi pepohonan di sepanjang nyaris seluruh jalan utama.  Di beberapa tempat, kawasan pejalan kaki bahkan dilengkapi bangku-bangku yang masing-masing didampingi sebuah tempat sampah.  Sungai Cisadane yang lebar membelah kota ini, yang sepertinya sadar betul betapa pentingnya Cisadane bagi mereka.  Bila ingin berjalan santai menyusuri Cisadane, tersedia jalan setapak yang dinaungi pepohonan.

Namun Kelenteng Hok Tek Tjeng Sin/Wihara Mahabodhi tempat kirab dipusatkan, tidak terletak di jalan utama.  Malah, saya nyaris melewatkan mulut jalan kecil yang mengarah ke kelenteng tersebut, dan supir angkot harus buru-buru merem kendaraannya sewaktu ia ingat saya tadi diminta diturunkan di Wihara Mahabodhi.  Jalan kecil itu dilapisi conblock, seperti juga jalan-jalan kecil lain di Kota Tangerang.  Pelapisan jalan dengan conblock ini memang salah satu program pemda setempat.

Saya tiba terlalu pagi, disambut senyum dan tawa.  Penjaga dari pihak panitia mempersilakan saya menuju ke lapangan belakang, tempat tandu-tandu toapekong ditempatkan, dan para peserta bersiap-siap.  Di lapangan yang sedang becek itu juga berdiri tenda-tenda penjual makanan dan minuman, termasuk makanan khas Betawi seperti kerak telor.

Bila menutup mata dan mengabaikan suara musik yang bertalu-talu, mungkin takkan terasa saya sedang berada di tengah persiapan perayaan tradisi Cina.  Yang terdengar adalah orang-orang yang bercakap-cakap dengan salah satu logat Betawi: inilah cara orang-orang Cina Benteng berbicara.  Mereka bukan sekadar ‘bagian’ dari masyarakat Tangerang.  Bisa dibilang merekalah penduduk asli daerah ini.  Bolehlah dikata nenek-moyang mereka tiba di negeri ini lebih lambat daripada nenek-moyang banyak suku bangsa lain.  Namun mereka berakulturasi dengan baik – dan alamiah – tanpa melupakan tradisi yang dibawa dari tanah leluhur.  Mereka bukan ‘orang asing’.  Mereka orang Indonesia.

Sewaktu melihat-lihat, lagi-lagi saya disapa ramah.  “Dari wihara mana?”  Saya berusaha menjelaskan, saya hanya datang untuk menonton, bukan perwakilan wihara.  Senyum pria itu tak menghilang.  Ia malah menyuruh saya makan dulu di belakang kelenteng.  Rupa-rupanya memang disediakan makanan untuk peserta kirab.  Saya hanya tersenyum dan berterima kasih.  Tak enak rasanya mengambil jatah orang.

Setiap kali ada barongsai atau liong datang, mereka terlebih dahulu menghatur sembah di kelenteng.  Mereka selalu disambut oleh dua barongsai milik kelenteng setempat.  Kadang sampai empat barongsai beramah-ramah di depan kelenteng.  Seru dan lucu!  Akan tetapi ada pula barongsai yang terlihat gahar.  Barongsai yang paling berbeda ini dibawa sebuah kelompok dari Sukabumi.  Bukan hanya bentuknya yang berbeda, melainkan juga cara geraknya.  Beringas!

Para naga atau liong juga mengundang decak kagum.  Warna dan corak naga milik masing-masing kelompok berbeda-beda.  Salah satu naga dibuat dari motif bercorak seragam belang TNI.  Oalah, pantas saja, rupanya milik klub barongsai/liong polisi militer.  Memang anggota kelompok-kelompok barongsai kini bukan hanya orang Tionghoa, melainkan juga dari berbagai latar-belakang.  Seorang wanita berjilbab terlihat sebagai bagian dari salah satu kelompok barongsai.

Beberapa lama sebelum pembukaan kirab, dewa-dewi masing-masing kelenteng/wihara yang tadinya diletakkan di dalam Hok Tek Tjeng Sin dibawa dengan penuh hormat menuju tandu masing-masing.  Yang masih ingin menghaturkan sembah, berdoa, ataupun menerima kertas jimat boleh langsung mendatangi tandu-tandu tersebut di lapangan belakang.  Musik terus menggelegar.  Ada yang menari-nari, tertawa-tawa – mengasyikkan sekali melihat semua itu.

Kirab dibuka oleh sambutan ketua panitia dan walikota Tangerang, yang disambut riuh oleh hadirin.  Tadinya panitia agak sulit menenangkan suasana agar pidato-pidato itu bisa terdengar.  Maklum, para peserta bersemangat sekali memainkan musik.  Namun, akhirnya, perhatian para peserta dan hadirin pun tercurah ke panggung.  Walikota, yang memberikan sambutan singkat tanpa teks, menekankan bahwa kita semua bersaudara, sekaligus mengajak warga terus membangun Kota Tangerang.

Diiringi tepuk tangan ramai, kirab pun dimulai, dengan barisan ibu-ibu marawis berjalan paling depan.  Kemudian iring-iringan toapekong Hok Tek Tjeng Sin lewat.  Luar biasa keras tandu-tandu itu digoyang, sampai saya bertanya-tanya apa para pengusungnya tidak keberatan.  Apalagi jarak yang akan mereka tempuh agak jauh, sampai ke Pintu Air dan Mapolres sebelum berputar kembali ke kelenteng.

Setelahnya, satu demi satu barongsai, liong, dan tandu pun lewat, meliuk-liuk, diiringi tambur bertalu-talu. Mengagumkan.  Saya berdiri di tengah begitu banyak orang yang rata-rata berpakaian merah.  Agak sulit mengambil gambar, karena saya juga tidak enak bila harus menerobos kawanan orang yang ingin beribadah.

Namun tahukah Anda, bagi saya, hal terindah yang saya foto hari itu adalah tawa dan senyum orang-orang.  Di hati saya pun kembali terbit rasa bangga melihat bendera merah putih berkibar-kibar diusung para peserta kirab.  Semoga acara kirab ini bisa menjadi bagian dari agenda rutin tahunan Kota Tangerang, dan semoga kerukunan di Tangerang (dan juga Indonesia) bisa terus terjaga.

2 Comments (+add yours?)

  1. aroengbinang
    Apr 11, 2012 @ 02:40:00

    Terima kasih info-nya, baru tahu tentang Kelenteng Hok Tek Tjeng Sin di Tangerang ini. Tawa memang selalu menarik untuk dilihat, dari anak-anak sampai kakek nenek…:)

    Reply

    • lompatlompat
      Apr 11, 2012 @ 02:44:14

      Betul sekali Mas🙂

      Saya juga tahu tentang kelenteng ini gara-gara kirab toapekong itu. Kalau tidak, memang agak susah mencarinya. Sekarang saja saya sudah lupa lagi cara menuju ke sana… hehehe.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: