Sapporo, ibukota prefektur paling utara (2) Maret 2015

sapporo-19

Ups… maafkan saya, baru sempat menulis lagi untuk blog ini. Gara-garanya, bulan Februari lalu saya sempat kembali ke Jepang untuk beberapa lama. Saya antara lain mengunjungi prefektur Gunma dan Ibaraki, dan banyak sekali yang ingin saya ceritakan! Tapi sekarang saatnya melanjutkan kisah saya tentang Sapporo.

This post is about JapanSampai mana kita?

Oh ya, sampai matahari tenggelam… (Ngomong-ngomong, karena foto-foto yang saya ambil kala malam rata-rata tidak jelas, foto-foto yang saya pajang yang diambil saat siang saja, yah!)

More

Advertisements

Sapporo, ibukota prefektur paling utara (1) Maret 2015

sapporo-14

Apakah saya terlalu cepat meninggalkan Otaru, ya?

This post is about JapanSaya bertanya-tanya dalam hati sembari memandangi kota Sapporo yang membentang di luar jendela bis. Setelah menikmati Otaru yang kecil dan cantik, Sapporo jadi terlihat hambar. Jalan-jalan lurus dan besar, gedung-gedung bertingkat, toko dan restoran berantai yang bisa ditemukan di bagian-bagian lain Jepang. Bila dilihat sepintas saja, Sapporo tampak seperti kota-kota Jepang pada umumnya, tak tampak istimewa.

Saya menggeleng. Masa, menjejakkan kaki pun belum, sudah berpikiran begitu sih tentang Sapporo. Kan belum tentu juga bis ini melewati rute yang menarik di Sapporo (setelah sebelumnya melewati jalanan di lereng bukit di pesisir, yang menampakkan biru laut dan langit membaur menjadi satu tanpa batas yang jelas).

More

Otaru, winter wonder-port (1) Maret 2015

otaru-47

Mengapa orang-orang berkunjung ke Hokkaido?

Jawaban yang umum diberikan adalah: salju di musim dingin, dan lavender di musim panas.

This post is about JapanPrefektur paling utara di Jepang ini meliputi sebuah pulau besar dan pulau-pulau lebih kecil di sekelilingnya, yang masih membanggakan alam liar dan kekhasan budaya. Dibandingkan sebagian besar Jepang lainnya, Hokkaido dikuasai musim dingin untuk waktu yang lebih lama. Salju selalu turun lebih dulu, menumpuk lebih tebal, dan pergi lebih belakangan dari Hokkaido. Tak heran, Hokkaido adalah salah satu tempat tujuan utama bagi orang-orang yang ingin menikmati olahraga musim dingin di Jepang. More

Terkurung taifun di K’s House Ito Onsen, Mei 2015

This post is about Japan

Awan semakin hitam dan tebal saja ketika kami akhirnya mendapatkan kereta yang bergerak meninggalkan Jogasaki Kaigan menuju Ito. Butir-butir hujan pun mulai turun ketika kami berada di dalam kereta. Wah, gawat. Taifun sudah tiba rupanya.

Di stasiun Ito, saya dan Riris berpisah. Saya akan menginap di Ito semalam, sementara Riris langsung pulang ke Tokyo untuk masuk hotel bersama adiknya dan dua orang teman kami yang lain. Saya separuh bercanda mengingatkan dia agar jangan sampai salah naik kereta. Riris juga beberapa kali memastikan rute yang harus ditempuhnya kepada saya.

ito-20

More

Fukuoka, Februari 2014

This post is about Japan

Ini dia satu lagi kisah yang sangat tercecer: perjalanan saya tahun lalu ke Fukuoka. Sebagai catatan awal, saya cukup kaget mendapati begitu sedikitnya foto-foto dari Fukuoka di kamera maupun di telepon genggam saya. Saya ngapain saja ya, kok foto-fotonya tidak banyak? Ah, kemudian saya ingat, sewaktu saya berjalan-jalan di sana, beberapa kali turun hujan, membuat saya tidak bisa mengeluarkan kamera maupun telepon untuk mengambil foto. Semoga saja foto-foto yang saya sajikan di sini bisa cukup membantu visualisasi cerita saya, ya.

fukuoka-26

Saya sangat menyukai Tokyo, namun kadang-kadang perasaan bosan menghinggapi juga, apalagi kalau sedang libur panjang antarsemester. Rasanya ingin pergi ke tempat yang jauh, yang belum pernah saya datangi sebelumnya, yang jauh dari hiruk-pikuk Tokyo. Akhirnya di bulan Februari 2014 saya memutuskan membeli tiket pesawat Jetstar ke Fukuoka. Saya tidak benar-benar tahu Fukuoka itu di mana (selain tahu bahwa letaknya di Pulau Kyushu, berbeda dari pulau tempat Tokyo berada), tidak tahu benar di sana ada apa. Pokoknya saya lihat ada rute pesawat ke sana, cukup murah pula, dan saya belum pernah pergi sampai sejauh itu dari Tokyo, jadi ya sudahlah, berangkat!

More

Ketika Sebuah Kenangan Tak Jadi Ditulis: Singapura

This post is about Singapore

Setiap kali habis bepergian, rasanya ingin segera menuangkan kenangan menjadi tulisan.  Tetapi seringkali, kesibukan yang langsung menyergap membuat semua bahan yang telah disiapkan menjadi terbengkalai.

Yang berikut ini contohnya.

Tahun 2012 lalu di bulan Juli saya melawat ke Singapura bersama kedua adik saya.  Tujuan utamanya menonton konser The Stone Roses, sekaligus mengunjungi pameran Harry Potter dan Andy Warhol di ArtScience Museum.

Untuk yang hendak menonton di National Indoor Stadium Singapura, menginap di daerah Sultan Mosque/Kampong Glam nyaman sekali.  Daerah ini hanya berjarak satu stasiun dari NIS, banyak penginapan dan tempat makan murah (dan halal).

Ketika sebuah kenangan tak jadi ditulis, untunglah masih ada foto-foto.  Bila satu foto mengandung seribu kata, maka berapa banyakkah kenangan yang urung tertuang dalam huruf-huruf itu?

Georgetown: Warisan Budaya Dunia di Penang

This post is about Malaysia

Mengapa orang Indonesia bepergian ke Penang, yang, ngomong-ngomong, dibaca pinang?

“Kebanyakan untuk berobat, Mbak,” kata seorang penjaga minimarket tak jauh dari tempat saya menginap.  Si mas penjaga ini berasal dari Jawa.  Seperti juga banyak tenaga kerja asal Indonesia lain yang cukup mudah ditemukan di Penang, ia datang mengadu nasib ke negeri jiran karena merasa sudah sulit menemukan pekerjaan yang cocok baginya di tanah air.

Berobat – atau bekerja.  Sekilas memang itulah dua tujuan utama orang Indonesia berkunjung ke pulau yang terletak di lepas pantai sebelah barat Malaysia Barat ini.  Namun semakin banyak yang datang untuk berwisata, apalagi sejak AirAsia membuka penerbangan langsung dari Medan, Surabaya, dan Jakarta ke Penang.  Jadi tidak perlu ke Kuala Lumpur dulu baru naik bis atau kereta selama beberapa jam menuju pulau tersebut.  Bahkan frekuensi terbang AA dari Jakarta telah ditambah menjadi dua kali sehari, sehingga cukup nyaman untuk yang merencanakan perjalanan.

Pembatas buku dari Cheong Fatt Tze; contoh tiket bis Penang; kupon taksi bandara; gantungan kunci gratis dari Owl Museum; kartu nama Coob Cafe yang berbentuk seperti tiket kereta Japan Railways; kartu pos gratis dari Kongsi Khoo; tiket masuk Owl Museum; tiket trem Bukit Bendera.

More

5foot Way Inn dan Sekitarnya, Chinatown Singapura

This post is about Singapore

Bila ditanya kawasan mana yang paling saya gemari di Singapura, saya mungkin akan memilih Chinatown.  Saya menyenangi jalan-jalan dan lorong-lorongnya yang kecil, dengan berbagai toko dan tempat makan menarik.  Ada yang mencolok, seperti toko yang menjual pernak-pernik Tintin karya Herge, namun ada pula di antaranya yang ‘tersembunyi’ dan tidak banyak diketahui turis asing.  Suasananya juga terasa lebih ramah bila dibandingkan dengan kawasan perbelanjaan berbau ‘modern’.  Tempat menginap untuk pelancong yang beranggaran hemat pun cukup mudah ditemukan.

Exit A Stasiun MRT Chinatown.

The Tintin Shop di Chinatown.

Kali ini, yang ingin saya ulas adalah hostel 5foot Way Inn.  Letaknya hanya selemparan batu dari Exit A Stasiun MRT Chinatown.  Dua kali sudah saya menginap di sini, pertama sewaktu masih soft opening – dan masih banyak bagian hostel yang masih dipoles – dan kedua ketika hostel sudah betul-betul siap untuk tamu.  (Yang saya maksudkan di sini adalah cabang pertama 5foot Way Inn.  Mereka membuka cabang baru dekat Sultan Mosque di bulan April 2012, dan hostel kedua di daerah Chinatown akan menyusul.)

Pertama kali mencarinya, saya agak bingung.  Sebabnya, hostel ini menempati lantai-lantai atas sebuah ruko yang terletak di sebelah kanan saat kita keluar dari Exit A.  Di bawahnya ada toko yang menjual suvenir, yang jamak berjejer-jejer di sepanjang jalan tersebut.  Jalan masuk ke hostel adalah pintu di bagian samping depan ruko tersebut.

Begitu pintu terbuka, kita langsung berhadapan dengan tangga bercat gelap yang agak curam.  Boks neon meyakinkan kita bahwa memang betul ini hostel yang dicari-cari.

Salah satu karya seni yang dipamerkan di 5foot Way Inn.

Resepsionis berada di lantai dua.  Tapi, untuk masuk, terlebih dahulu kita harus mencopot alas kaki dan meletakkannya di rak di samping pintu masuk.  (Mungkin untuk tamu-tamu dari negara-negara ‘Barat’, berkeliaran bertelanjang kaki di hostel ini juga pengalaman tersendiri, ya.)

Berhubung namanya ‘hostel’, kamar-kamar yang tersedia bisa diisi oleh 4 atau 6 orang, dan biasanya yang kita sewa adalah ‘tempat tidur’-nya.  Jadi jangan heran bila Anda akan tidur seruangan bersama orang-orang yang tidak Anda kenal.  Untuk perempuan, ada ‘dorm’ khusus perempuan, sekiranya Anda risih bila harus berbagi dengan laki-laki.  Kamar mandi juga digunakan bersama, dengan kamar mandi khusus perempuan di lantai dua.  Maklum digunakan bersama-sama, jadi bila harus menunggu giliran, ya harus sabar.

Kebetulan, dua kali saya menginap di 5foot Way Inn, selalu bersama teman-teman, sehingga kami bisa menyewa kamar untuk berempat hanya untuk rombongan kami.  Lucunya, saya selalu dapat kamar yang sama, yang terletak selantai dengan resepsionis.  Kamar tersebut menghadap Pagoda Street yang di siang hari ramai oleh kegiatan perdagangan dan suara orang yang lalu-lalang.  Bahkan bila hanya mendengar suara saja, mungkin Anda tidak akan merasa berada di Singapura… Karena yang banyak terdengar adalah percakapan dengan menggunakan Bahasa Indonesia.  Tapi jangan khawatir, di malam hari, Pagoda Street amat sunyi, karena bukan merupakan daerah hiburan malam ‘ajeb-ajeb’.

Kamar untuk 4 orang.

Kepala tempat tidur dengan stopkontak dan rak kecil.

Kamar tidur, perabot, dan seprei semuanya serba putih.  Di kepala masing-masing tempat tidur, ada stopkontak dan rak kecil khusus untuk sang penyewa, sehingga kita bisa mengisi baterai peralatan elektronik kita tanpa perlu bergiliran dengan orang lain.  Masing-masing penyewa juga mendapatkan laci yang berukuran cukup besar di bagian bawah tempat tidur, dengan gantungan kunci yang merangkap sebagai kunci elektronik untuk membuka pintu depan hostel.a.

Hanya saja memang ukuran kamarnya tergolong sempit.  Kamar-kamar ini memang tidak didesain untuk orang-orang yang ingin menghabiskan banyak waktu di dalamnya.

Di lantai dua, juga terdapat ruang makan bersama yang terbuka, menghadap ke sudut lain Chinatown.  Minuman disediakan gratis sepanjang waktu, termasuk dari mesin minuman yang siap menghadirkan kopi, teh tarik, atau minuman cokelat.  Peralatan makan lengkap disediakan, asal kita mencucinya sendiri usai bersantap.  Nikmat sekali rasanya malam-malam duduk-duduk di bangku-bangku kayu yang tersedia sambil menyeruput minuman hangat, atau ketika pagi-pagi sekali kita sarapan sebelum Chinatown benar-benar terbangun.  Kita juga bisa banyak berinteraksi dengan penghuni lain hostel di sini.

Ruang makan di lantai dua.

Pemandangan dari ruang makan 5foot Way Inn.

Lebih banyak kamar dan kamar mandi ada di lantai tiga.  Sementara loteng yang berlangit-langit miring dimanfaatkan sebagai ruang santai yang nyaman dan artistik.  Sofa-sofa dan bantal-bantal yang ditata sedemikian rupa sungguh menggoda kita untuk merebahkan tubuh setelah seharian menjelajahi Singapura.  Di sini kita juga bisa menggunakan dua buah komputer secara gratis untuk berselancar di internet, seandainya sambungan Wi-Fi hostel tidak cukup untuk kita.

Loteng 5foot Way Inn Chinatown.

Kalau soal makanan, tidak usah khawatir.  Banyak restoran dan kedai yang mudah ditemukan di sekitar 5foot Way Inn, dari yang murah sampai yang mahal.  Restoran-restoran waralaba internasional juga ada.  Tapi kalau yang satu ini, Crazy World Cafe di Temple Street, tidak semua orang tahu, meskipun hanya berselisih satu jalan dengan Pagoda Street.  Saya juga mengetahui tempat ini dari seorang teman yang bekerja di Singapura.

Bagian depan Crazy World Cafe.

Crazy World cukup nyaman, dengan desain interior yang menarik dan stylish.  Pemiliknya adalah seorang penggemar musik Mandarin, sehingga ia juga memajang berbagai memorabilia di kafenya ini.  Bahkan pertunjukan musik cukup rutin diadakan di kafe ini yang juga menjual sejumlah cenderamata yang unik.  Kalau soal makanan, saya sangat menyarankan Anda mencicipi brownies ‘home-made’-nya.  Tampilannya saja langsung menerbitkan air liur!

Lucunya, di daftar menu ada tulisan yang menyatakan bahwa pihak kafe berusaha sekerasnya untuk menyajikan hidangan tanpa dikenai pajak.  Oleh karena itu, mereka memohon pengunjung untuk tidak hanya memesan air putih yang gratis.  Lho?  Ternyata orang Singapura ada juga ya yang doyan ‘ngadem doang’ sambil minum air putih?

Kalau malam sudah tiba, meskipun banyak ruko yang sudah tutup, justru tiba saatnya para pedagang makanan malam di Food Street beraksi.  Meja-kursi digelar, dan para pedagang siap memasakkan dan menyajikan berbagai makanan jalanan ala Singapura untuk Anda.  Yang patut dicoba adalah ‘carrot cake yang kenamaan, yang jangan dibayangkan merupakan penganan kecil dari wortel.  Hidangan ini juga tidak mengandung wortel, karena sebutan ‘carrot cake’ itu berasal dari salah pemilihan padanan kata ‘chai tao’ yang sebetulnya merujuk kepada ‘lobak’.  Porsi yang dijual cukup besar, sehingga bila perut Anda tidak besar-besar amat, satu piring hidangan bisa dibagi untuk dua orang.

Carrot cake – yang tidak mengandung wortel.

Jangan sampai seperti kami waktu itu: dengan begitu percaya diri masing-masing memesan satu porsi makanan.  Akibatnya, aduh mak…  Kami separuh merayap pulang ke hostel dengan perut kepenuhan.  Satu lagi hal yang tampaknya sulit dihindarkan bila menghabiskan waktu di Chinatown Singapura!

Orang Indonesia di Kyoto

This post is about Japan

Bukan, judul ini bukan tentang kami.  Meski, ya, benar sih.  Kami memang bepergian ke Kyoto.  Melainkan tentang seseorang yang tanpa kami duga-duga bertemu dengan kami di bekas ibukota kekaisaran Jepang tersebut.

Kami tiba di Kyoto pagi-pagi sekali.  Bis malam yang kami tumpangi dari Tokyo tiba tepat waktu sesuai perkiraan yang diberikan kepada kami.  Bis yang nyaman, jalanan yang mulus, dan cara mengemudi yang meyakinkan membuat kami tidak terlalu lelah meski telah menghabiskan waktu semalaman di bis.  Agak pegal sedikit sih iya, namanya juga naik kendaraan berjam-jam.

Kami diturunkan di seberang stasiun pusat Kyoto.  Di sini jalur-jalur kereta antarkota dan dalam kota bertemu.  Bangunannya besar dan modern.  Kami pun melangkah ke stasiun tersebut guna membersihkan diri sejenak di kamar mandi.  Hmmm… ternyata kamar mandinya biasa-biasa saja.  Jangankan washlet, tisu pun tidak gratis.  Selain kami, sejumlah penumpang lain juga tampak mencuci muka, menyikat gigi, dan berdandan di kamar mandi.

Satu per satu orang mulai bermunculan di stasiun yang masih sepi, meski tetap belum banyak kegiatan berarti.  Orang-orang belum lagi berangkat kerja atau sekolah.  Kami mampir ke McD’s cabang stasiun itu untuk sarapan.  Mata menjadi melek penuh ‘dihajar’ kopi panas yang disajikan.  Setelah perut terganjal, kami pun mencari-cari loker untuk meletakkan tas-tas kami yang berukuran besar.  Apa boleh buat, seperti juga di penginapan-penginapan lain, baru di atas pukul dua siang nanti kami boleh check-in.  Lagipula, malas juga ya rasanya bolak-balik pakai ke penginapan dulu untuk menitipkan tas sebelum cabut lagi.

Salah satu stasiun kereta di Kyoto.

More

Menuju Jepang!

This post is about Japan

Mari kita mulai kisah perjalanan kami dengan menceritakan bagaimana kami berangkat ke Jepang.  Tentunya dengan visa telah siap di tangan (atau tepatnya, di paspor…).

Kami mendapat kesempatan berangkat ke Jepang dengan biaya cukup murah (4 juta rupiah bolak-balik) hasil dari ‘adu cepat’ di situs AirAsia, ketika tahun lalu mereka baru membuka jalur Kuala Lumpur-Jepang.  Yang dapat lebih murah lagi juga ada.  Dari segi biaya, memang menggunakan AirAsia dapat membantu kita melakukan penekanan di sektor anggaran untuk transportasi.  Ditambah lagi AAX mendarat di dan lepas landas dari Haneda, bandara internasional lama Tokyo yang lebih dekat ke pusat kota daripada Narita.

More