Mendadak Kamboja

This post is about Cambodia

Bagian 1: Menyeberang di Bavet

Akhir Januari lalu saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya: bepergian tanpa itinerary. Saya berangkat hanya membawa kaus empat potong, sejumlah uang USD yang bisa ditukar dari pengambilan maksimum di ATM dalam sehari, tiket boleh booking dua hari sebelum berangkat, dan paspor. Ibu saya sampai bilang bahwa saya seperti anak kecil yang ngambek dan kabur dari rumah. Tapi yaaah semakin usia Anda bertambah *uhuk*, semakin berkuranglah kesempatan Anda untuk melakukan hal semacam ini. Kapan lagi kalau bukan sekarang?

Perhentian pertama saya adalah Saigon, Vietnam. Saigon yang saya tahu ternyata sudah jauuuuh sekali berbeda. Ia sekarang bersolek: kota yang penuh dengan bangunan menjulang dan kendaraan. Mungkin satu yang tidak berubah, yaitu poster Bac Ho (Paman Ho) di mana-mana. Yah tapi paling tidak belum sampai taraf Pyongyang dan poster keluarga Kim-nya deh. Beberapa hari di Saigon, saya mulai mati gaya. Mau ngapain lagi ya?

Cap-cip-cup-kembang-kuncup, akhirnya saya putuskan untuk menyeberang ke Kamboja saja. Sialnya, karena saya di Saigon pada saat musim liburan dan masih dalam  suasana libur Imlek (yang bisa berlangsung selama dua minggu), tiket bus langka. Saya harus berkeliling Pham Ngu Lao, De Tham, dan Bui Vien di Quan (Distrik) 1 untuk mencari selembar tiket dan akhirnya dapatlah tiket seharga 11 USD untuk rute Saigon-Phnom Penh.

Jalan Pham Ngu Lao, Saigon. Bus lintas negara biasanya parkir di sini.

Bus yang saya naiki untuk masuk Kamboja adalah bus milik Sorya, salah satu operator bus tersenior di Kamboja. Bus lintas Negara semacam ini biasanya bus berpendingin udara dengan karoseri penumpang di atas dan kargo di bawah. Bus berangkat dari Pham Ngu Lao pukul 9:00. Setelah sekitar dua jam, sampailah bus di Bavet, kota perbatasan Vietnam dan Kamboja yang terkenal dengan kasino-kasinonya. Paspor penumpang dikumpulkan oleh petugas bus, diserahkan kepada petugas di dalam balai imigrasi, dan penumpang diminta mengantri untuk mengambil paspornya. Pemegang paspor non-ASEAN wajib menyediakan 20 USD sebagai pembayaran visa. Di sini saya mendapat kejutan menyenangkan, yaitu tidak perlu membayar visa. Hidup Indonesia!

Balai Imigrasi di Bavet. Kalau Anda dari Vietnam, Anda tidak perlu menurunkan bawaan dari bagasi karena tidak ada pemeriksaan dari pihak Kamboja. Namun, bersiaplah melakukan hal sebaliknya kalau Anda dari Kamboja dan ingin masuk Vietnam.

Di dalam Balai Imigrasi, saya harus pasang telinga dengan cermat. Pasalnya, petugas pemeriksa paspor memanggil nama pemilik paspor tanpa pengeras suara. Secara umum, proses imigrasi hanya memakan waku sekitar 20 menit. Mungkin kalau tidak sedang musim liburan, bisa lebih cepat lagi ya?

Selepas dari Bavet, bus menyeberangi sebuah sungai kecil dengan menggunakan feri. Jangan khawatir, penumpang tidak perlu turun lagi kok. Beberapa penumpang yang sempat menggerutu langsung menghembuskan napas lega karena tidak harus menggotong-gotong tas mereka lagi. Saya? Lha wong cuma bawa satu ransel sekolah, hehehe. Nah, kalau Anda orang yang hobi tidur seperti saya, silakan menikmati kursi empuk bus dan memejamkan mata selama kurang lebih empat jam sampai bus tiba di Phnom Penh.

Dari arah sebaliknya, secara garis besar perjalanan dengan bus akan serupa. Namun, saya mencoba menggunakan bus malam untuk perjalanan kembali ke Saigon. Bus malam lintas negara umumnya tidak memiliki kursi, melainkan tempat tidur sebagai seat-nya. Sekali lagi, harganya seharusnya tidak banyak berbeda dengan bus siang hari. Jadi, kalau Anda membeli tiket, pastikan kisaran harganya antara 17-18 USD. (Saya termakan silat lidah petugas travel dan membayar 20 USD, 3 dolar lebih mahal dari tiket berangkat, grrr.)

Bus malam yang saya naiki. Dioperasikan oleh Virak Buntham. Sama seperti perjalanan berangkat, bus akan transit di Phnom Penh dan penumpang ditransfer ke bus yang lebih kecil.

Bagian dalam bus malam, seat 2-1. Seat-nya kurang lapang untuk orang yang tinggi seperti teman perjalanan saya, Alex, guru asal California yang bekerja di Shanghai. (Tapi lumayan ada eyecandy, hehehe.)

Bagian 2: (Nyaris) Terdampar di Phnom Penh

Apakah Anda pernah ngemper di Blok M atau terlunta-lunta di Kampung Rambutan demi menunggu bus yang tak pasti? *azeeek* Nah, demikian pula yang saya alami selepas turun bus yang membawa saya dari Saigon ke Phnom Penh. Kok bisa?

Pertama, saya datang ke Phnom Penh tanpa rencana jelas. Booking hotel tak ada, KHR pun tak punya. Uang kecil saya pun tinggal 8 USD. Mau tinggal di Phnom Penh dulu, saya kok ngeri melihat kerumunan pengendara tuktuk yang langsung semangat ’45 begitu melihat penumpang turun dari bus. Ketika sedang mencari ide di salah satu pojokan pool bus Sorya, mata saya menangkap tulisan Siem Reap di papan jadwal bus. Siem Reap, Siem Reap, Siem Reap… sepertinya pernah baca… Aha! Angkor! Ke sana saja!

Suasana di pool bus Sorya, Phnom Penh. Hampir semua bus lintas negara punya pool sendiri dengan tampilan seperti ini.

Saya pun membeli selembar tiket bus ke Siem Reap seharga 6 USD. Oh ya, Anda juga bisa membeli kartu SIM (telepon) yang bisa dipakai di Vietnam dan Kamboja dengan mudah di Phnom Penh. Salah satu kebodohan saya adalah baru mengetahui hal ini ketika sudah ada di atas bus ke Siem Reap.

Menunggu di pool bus di Phnom Penh (total saya dua kali melakukannya) bukanlah hal yang menyenangkan. Tempatnya defisit tempat duduk, penumpang bersaing dengan kargo, dan nyaris tidak ada prasarana bersantap dengan nyaman. Jajanan yang ada di tempat semacam ini tidak jauh-jauh dari rujak buah, kacang atau jagung rebus, dan roti segede lengan (mirip baguette Perancis yang disebut banh di Vietnam). Snack dalam kemasan biasanya impor dari Vietnam, hanya dijual di minimarket, dan harganya antara 0.5-1 USD. Namun, kalau Anda tipe orang yang kurang kerjaan seperti saya, Anda bisa membunuh bosan dengan mengamati orang di sekitar Anda.

Bus ke Siem Reap baru berangkat sekitar pukul 16:00 dari Phnom Penh. Itupun pakai menunggu bus di depannya penuh (siapa bilang ngetem cuma ada di Indonesia?) dan memutar dulu memasuki sebuah perkampungan Muslim, Khan Russey Keo, tanpa sebab yang jelas. Supirnya ingin pipis, mungkin. Bus Sorya kali ini lebih kecil dan lebih tidak nyaman dibandingkan bus dari Saigon ke Phnom Penh—mungkin karena hitungannya sudah bukan bus lintas negara.

Sebuah masjid di perkampungan Muslim di luar Phnom Penh.

Satu hal tentang Phnom Penh yang menarik perhatian saya adalah keberadaan taman-taman kota yang sangat memanusiakan warganya. Di seputaran Charles de Gaulle Boulevard, misalnya, trotoar-trotoarnya rapi dan bersih. Alat-alat kebugaran seperti sepeda statis dan slider banyak tersedia di taman. Sedikit banyak, hal tersebut mengingatkan saya pada taman di Pham Ngu Lao, tempat saya nongkrong pada sore hari dan memandangi cowok-cowok bersimbah peluh sedang berlatih semacam sepak takraw ala Vietnam. Yum!

Taman kota di dekat Night Market, Phnom Penh.

Tapi Tuhan memang baik. Ketika berhenti makan malam, ada seorang penumpang berkewarganegaraan Indonesia menyapa saya karena melihat kaus saya (kaus wajib jalan-jalan saya yang bertuliskan “I Survive Indonesia” :D). Jadilah selama dalam 6 jam perjalanan saya memiliki teman ngobrol. Siem Reap, here I come!

Saran #1: kalau Anda ke Phnom Penh dan tahan miris, sempatkanlah mengunjungi Museum Genosida Tuol Sleng, bukti kekejaman rezim paranoid Khmer Merah yang membantai hampir dua juta warganya sendiri pada periode 1970-an.

 Saran #2: sekarang ini sudah banyak operator bus yang mengoperasikan bus ekspres Saigon-Siem Reap via jalur baru. Jadi, Anda menghemat waktu sekitar empat jam karena tidak perlu berhenti di Phnom Penh untuk transfer bus. Tiketnya dapat diperoleh melalui berbagai operator tur di Saigon, misalnya di Tuan Travel (Bui Vien) dan Friends Tour (Pham Ngu Lao).

Bagian 3: Tuktuk Tengah Malam

Normalnya, bus dari Phnom Penh ke Siem Reap hanya akan memakan waktu sekitar 6 jam. Sekali lagi, normalnya. Nah, karena perjalanan saya adalah perjalanan yang tidak normal, durasi 6 jam tersebut molor menjadi hampir 8 jam. Alhasil, saya sampai di Siem Reap nyaris tengah malam. Apes? You bet.

Apes pertama: setibanya di pool bus Sorya di Phsar Leu, luar Siem Reap, saya bingung bagaimana mau menghubungi penginapan. Apalagi, saya ketempelan seorang pelancong dari China, Xu Yuan, dan dari Irlandia, Timothy. Nah, mereka berdua ini sama nekatnya dengan saya: datang ke Siem Reap pada saat arus liburan sedang tinggi tanpa persiapan booking hotel sama sekali. Teman ngobrol saya, Stevan, sudah booking kamar di Bou Savy Guesthouse, dan tuktuk penjemputnya sudah menunggu di pool. Saya pun meminjam ponsel Stevan untuk menelepon Jasmine Lodge, penginapan saya. Naaah, ternyata Jasmine Lodge membatalkan pemesanan kamar saya karena saya tidak datang pada hari tersebut dan tidak mengabari. Tapi karena sadar bahwa sebagian dari kekacauan ini adalah kekurangsiapan saya juga, saya cuma minta pihak Jasmine Lodge mentransfer saya ke penginapan lain. Alhasil, pergilah saya, Xu Yuan (yang memanggil dirinya sendiri Kitty—dari idolanya, Hello Kitty), dan Tim ke Number 9 Guesthouse dengan tuktuk.

Phsar Leu pada siang hari. Titipan motornya tak kalah dengan Indonesia ya. 🙂

Apes kedua: Number 9 Guesthouse ternyata terletak tidak jauh dari Sivutha Boulevard, pusat kota Siem Reap. Karena tidak tahu jalan, saya sempat ketar-ketir ketika tuktuk berbelok ke La Paix Hotel. Wuidiiih mewah nih, pikir saya, dan pasti menguras dompet. Entah untung atau apes (lagi), ternyata La Paix hanya patokan. Number 9 terletak di gang di belakangnya.

Tapiii.. ternyata hanya ada satu kamar tersisa di sana. Saya dan Kitty tidak ada masalah kalau harus berbagi kamar, tapi Tim? Akhirnya kami berdua menunggui Tim sampai berhasil menghubungi temannya yang sudah sampai sehari sebelumnya… dengan menggunakan wi-fi gratisan di lobi. Begitu Tim pergi, saya dan Kitty masuk ke kamar di lantai dua. Seperti kata pepatah, gembel tak bisa memilih (*uhuk* terjemahan bebas *uhuk*), kamar kami tipe kamar double bed berkipas angin. Saking capeknya, kami langsung nggeblak tidur dan baru menyadari masalah genting keesokan paginya: koneksi wi-fi tidak sampai ke kamar kami dan air kamar mandi macet!

Sekali lagi, ada hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini. Pengendara tuktuk yang mengantar dari Phsar Leu sampai ke Number 9 ternyata sigap membantu begitu tahu saya dan Kitty berencana untuk mengeksplorasi kompleks Angkor. Antara scam dan tidak, dia menyatakan kenal betul kompleks Angkor. Maka, siap deh saya memulai petualangan Angkor bersama Chhrong dan tuktuk saktinya.

Ta-da! Ini Chhrong, pengendara tuktuk saya. Teman-teman saya sih bilang dia pantas jadi—minimal—bintang sinetron di sini. 😀

 Saran: sepertinya hampir semua orang (kecuali saya ^^;) tahu bahwa bisnis tuktuk di Kamboja adalah bisnis yang penuh persaingan dan scam. Berhati-hatilah ketika bernegosiasi dengan pengendara tuktuk. Kalau pengendara tuktuk Anda menawarkan paket, sesuaikan dengan keinginan Anda. Rata-rata sewa harian tuktuk untuk eksplorasi Angkor selama sehari adalah 10-12 USD. Anda juga bisa meminta penginapan Anda menguruskan booking tuktuk. Oh, dan kalau Anda berminat menggunakan jasa Chhrong, silakan hubungi saya melalui japri.

‘I am not pushy and I am honest’ – Bahkan pengendara tuktuk pun sebenarnya sadar seperti apa pandangan turis terhadap mereka.

Bagian 4: Siem Reap Minus Angkor?

Selain menjelajahi Angkor, apalagi yang bisa dilakukan di Siem Reap?

Karena selama di Siem Reap saya tinggal di pusat kota, saya dengan mudah dapat berjalan kaki ke mana-mana. Bagi yang suka bersepeda, bisa juga menyewa sepeda dengan tarif 1-2 USD perhari. Banyak galeri seni dan tempat pertunjukan yang membuka hari gratis di Siem Reap, jadi Anda tinggal mengecek jadwal mereka saja. Misalnya, Rumah Sakit Anak Kantha Bopha memiliki pertunjukan Beatocello setiap Sabtu dan Minggu. Hasil penjualan tiket dan donasi diberikan kepada para pasien. (Waktu saya datang, donasi ditujukkan kepada anak-anak penderita demam berdarah dan tuberkulosis).

Turis bersepeda di kawasan Angkor. Kalau niat, silakan manjakan mata Anda dengan mantengin bule-bule bertelanjang dada berkeliling Angkor Wat pada tengah hari.

Gabungan antara kuat jalan kaki seharian dan sok jadi Dora the Explorer membuat saya blusukan ke pasar di Siem Reap. Ada dua pasar yang cukup ramai di pusat kota, yaitu Phsar Kandal (Central Market) dan Phsar Chas (Old Market). Pasar yang pertama lebih mirip pasar modern di Indonesia. Lokasinya tepat di Sivutha Boulevard dan kebanyakan barangnya ditujukan untuk konsumsi turis. Setelah itu, silakan bersantai di bagian food court-nya yang juga menyediakan wi-fi gratis.

Food court di Phsar Kandal. Bersih, pakai kipas angin, dan sedia wi-fi gratis.

Phsar Kandal pada malam hari.

Phsar Chas, di lain pihak, adalah pasar tradisional dengan penjual yang lebih heterogen. Favorit saya sih petak-petak makanan di bagian dalam dan kios-kios camilan di bagian luar. Turis juga suka blusukan di sini. Saya sendiri sampai menahan geli melihat beberapa ibu-ibu Perancis membeli dandang dan bokor. Kapan lagi Anda bisa melihat bule jadi begitu ndeso? *third world pride* Nah, berhubung saya doyan makan, Phsar Chas juga menjadi magnet tersendiri dengan banyaknya restoran dan kedai di sekitarnya. Dari gelatto Italia sampai kari India, dari tukang daging sampai tukang bumbu ada di sini. Oh, atau kalau mau sok santai seperti saya, cukup jajan camilan—dari pancake pisang sampai manisan kelapa—dan nongkrong di taman-taman bantaran kali di belakang Phsar Chas.

Phsar Chas. Di sini sih enaknya jalan sambil jajan.

Penyuka kegiatan berbau alam bisa juga pergi ke Danau Tonle Sap untuk menikmati desa terapung atau pusat konservasi burung di sana. Namun, berhati-hatilah dengan scam harga tiket yang dijual di gerbang masuknya. Hampir semua pengendara tuktuk yang membawa turis ke sana (termasuk Chhrong, grrr) berkongkalikong dan dapat persenan dari pihak penyedia jasa wisata di Danau Tonle Sap. Saya sempat ditagih 20 USD untuk biaya masuk dan 10 USD untuk biaya perahu. Jelas saya tolak dong. Dear officer, you’re dealing with Auntie Scrooge here. Eh kemudian dia memberitahu bahwa harga tiketnya cukup 15 USD saja. Hiih, minta dijitak banget deh bapaknya! (Kadung kesal, saya pun batal ke Tonle Sap.)

Ini gerbang kedatangan sebelum naik perahu di Danau Tonle Sap. Waspadai pembangunan yang belum selesai, toilet tanpa flush, dan scam harga tiket. Kecuali Anda memang sangat tertarik, silakan datang.

Di negara yang mayoritas penduduknya Buddhis seperti Kamboja, Anda akan dengan mudah menemukan pesantren biksu di dekat wihara. Mendengarkan para biksu novis nyantri melantunkan sutra dapat menjadi pengalaman tersendiri yang mengesankan.

Saran #1: Sebagai negara yang masih dalam proses pemulihan dari ekses perang dan genosida, Kamboja memiliki banyak lembaga kemanusiaan yang menyediakan kesempatan untuk partisipasi sukarela. Beberapa penginapan juga bersedia membantu Anda juga Anda ingin menjadi sukarelawan.

Saran #2: Ada satu lagi pasar di Siem Reap yang tidak sempat saya datangi, yaitu Night Market. Lokasinya dekat La Paix Hotel, tapi karena lorong menuju tempat tersebut sepi, saya tidak akan mencobanya tanpa menguasai ilmu kebal terlebih dulu.

Saran #3: Jangan lupa untuk mempraktekkan jutsu Bargain to the End di pasar-pasar Siem Reap. Tawar habis! Misalnya, tawar saja kaus seharga 5 USD menjadi 2 USD atau 5 USD untuk 3 kaus. Yang saya sukai dari para pedagang di Phsar Kandal adalah mereka selalu tersenyum. “OK, I want to make you happy, so please buy from me. I’ll give you good price, but not cheaper or I will cry,” begitu kata mereka. 🙂

Bagian 5: Berhati-hatilah Dengan Makanan Pesanan Anda di Siem Reap

Peringatan: tidak halal.

Salah satu hal yang menjadi nilai plus Kamboja buat saya adalah rasa masakannya yang dekat dengan selera orang Indonesia dan disajikan dalam porsi besar. Catat baik-baik: porsi besar. Menurut Chhuong, pengendara tuktuk saya, laki-laki Kamboja biasa makan dua piring nasi untuk sekali makan. Itu standarnya lho!

Beberapa favorit saya selama di Kamboja mengandung bahan-bahan yang bahkan saya belum pernah makan di Indonesia seperti aneka sayuran yang bahkan namanya saja membuat lidah kesrimpet. Enaknya, sebagian besar buah di sana adalah buah yang familiar untuk orang Indonesia. Maka, jangan kaget kalau dalam salad buah pesanan Anda ada lengkeng, jambu air, dan bahkan kedondong.

Saya cenderung menghindari kopi terutama yang asam dan tidak ramah-lambung, tapi kopi tetes semacam ini selalu jadi pelengkap sarapan saya selama di Vietnam dan Kamboja. Super!

Beginilah peralatan makan disediakan: direndam dalam gelas berisi air panas.

Tak ada yang memberitahu saya bahwa pork sandwich segede gaban dengan isi membludak inilah yang diberikan ketika saya memesan.

Salah satu favorit saya: amok. Ini semacam kari yang isinya ikan atau ayam. Dimakan panas-panas… hemmm! Jangan lupa beli bumbu siap masaknya kalau mampir di pasar.

Lolek (atau lolak atau lok lai) dari Phsar Chas. Semacam stew daging sapi atau ayam dengan kuah asin sebagai pelengkap. Meskipun sudah pakai kentang goreng, Anda akan tetap disuguhi nasi juga. Satu porsi lolek ini cukup untuk dua-tiga orang.

Favorit lain: prahok. Cacahan ikan atau ayam atau daging lain yang difermentasi lalu ditumis. Sayur-sayurannya mentah atau direbus. Seumur-umur ini pertama kalinya saya makan leunca dan kembang lotus. Ternyata lalapan tak cuma privilese Sunda ya.

Oh iya, godaan terbesar untuk saya selama berada di Siem Reap adalah murahnya harga bir di sana. Satu tumbler besar bir curah cukup dengan 0.5 USD saja! Saya sampai terpikir untuk melewatkan makan dan cukup minum bir sampai kembung.

Tagline: national pride, national beer.

Ini dia bir curah seharga 0.5 USD. Tagline: my country, my beer. Kalau diurut-urut berdasarkan harga, bir terekomendasi di Siem Reap adalah Tiger, Beerlao, Angkor, Cambodia, Anchor.

Bagian 6: Politik di Kamboja

Kalau di Vietnam ada poster Bac Ho di mana-mana, di Kamboja ada poster partai di setiap sudut. Sejauh yang saya lihat, partai yang posternya rajin berjamaah di jalan-jalan adalah Cambodian People’s Party (partai PM Hun Sen), Funcinpec (partai adik raja), dan Sam Rainsy Party. Kalau Anda sinis terhadap politik, Anda memiliki pandangan yang sama seperti hampir semua orang Kamboja yang saya temui dan ajak bicara. Tapi yaah, dengan demokrasi yang masih awut-awutan seperti di Indonesia, paling tidak masih ada yang bisa kita syukuri tanpa harus mengecilkan penderitaan bangsa lain. Perang dengan Vietnam? Yep. Pembantaian oleh Khmer Merah? Yep. Raja yang tidak tinggal di negerinya sendiri? Yep. Rebutan aset di perbatasan? Yep.

Vinn, pengendara tuktuk dari operator bus Virak Buntham jurusan Siem Reap-Saigon yang menjemput saya dari penginapan ke pool bus, bilang bahwa generasinya punya cita-cita untuk bekerja di luar Kamboja. Saya tanya apakah dia tidak ingin jadi pegawai negeri—cita-cita standar lulusan universitas di sana. Si Vinn yang doyan tertawa ini cuma bilang, “If I can live for my country, I should be able to live from my country, too.”

Dalem, Vinn. Daleeem.

Salah satu poster partai yang banyak terlihat di Siem Reap.

Bagian 7: Siem Reap Sehari-hari

Sebagian besar warga Siem Reap masih tinggal di perkampungan. Waktu saya berkeliling seluruh kompleks Angkor sampai ke Banteay Srey dan Roluos atau di dekat Museum Ranjau Darat, di kiri-kanan mudah sekali dijumpai rumah dengan sumber air hasil donasi. Nama donatornya terpampang di papan. Friends of Cambodia, misalnya, banyak bergerak untuk membantu kebutuhan sanitasi warga Siem Reap. Padahal ini salah satu jalan utama di daerah wisata utama. Karena saya ndeso, yang terpikir malah Pantura.

Bensin mahal di sini, itu jelas. Seliter 1.25 USD (sekitar 5000 KHR). Tapi berbanding terbalik dengan harga bensin, nyaris semua mobil di Siem Reap adalah mobil ber-cc besar. Toyota Fortuner adalah pegangan standar kebanyakan penginapan di Siem Reap. Sisanya didominasi Toyota Fortuner dan beberapa tipe karavan Hyundai. Oh, dan untuk pertama kalinya, saya menemukan sebuah negeri tanpa Avanza-Xenia! Rasanya jadi semacam penyegaran setelah setiap hari berpapasan dengan Avanza-Xenia di jalanan Indonesia.

Bensin ngecer di Siem Reap.

Penguasa jalanan di Kamboja? Motor! Bukan cuma jadi tuktuk atau ojek, motor juga disambung ke kereta mini, kendaraan mirip odong-odong, bahkan gerobak yang bisa mengangkut orang se-RT!

Motor dan tuktuk.

Motor dan kandang portabel.

Motor dan… tukang kasur.

Motor dan kereta jenazah. Ngomong-ngomong, musik pemakaman Kamboja enak di kuping lho.

Oh iya, buat yang suka anak kecil, banyak anak kecil yang berjualan di kompleks Angkor. Paling banyak berjualan kartu pos (1 USD untuk 10 kartu pos). Yang unik (atau menyebalkan—tergantung sudut pandang), kalau ditolak dengan kata-kata “No, thanks,” mereka akan membalas dengan “Yes, thanks” dan kembali mengejar-ngejar turis untuk membeli dagangan mereka.

Saya jadi ingat pengalaman bapak saya yang sempat tinggal cukup lama di Saigon. Bapak saya pernah cerita bahwa di Saigon, turis tidak didukung untuk membeli dari atau memberi sedekah buat anak-anak yang mencari nafkah di jalanan. Kalau ada turis yang ketahuan, bisa ditegur kamtib. “Kami tidak mau mendidik generasi peminta,” begitu alasannnya. Entah benar atau tidak, saya pikir Kamboja perlu menerapkan hal tersebut.

Indonesia? Wah, nanti dulu deh. Didik para orangtua untuk tidak begitu antusias buat anak saja dulu. 🙂

Nantikan kelanjutan petualangan Tukang Kesasar di Angkor Wat!

Written and photographed by Tukang Kesasar

http://twitter.com/thranduilion

Beberapa Gagasan Menghabiskan Waktu di Bangkok

Tulisan berikut ini saya tulis atas permintaanTitin yang akan mengunjungi Bangkok di bulan Oktober.  Semoga tulisan ini membantu, ya!

This post is about Thailand

Bangkok pada khususnya dan Thailand pada umumnya telah menjadi salah satu tujuan pariwisata luar negeri utama wisatawan Indonesia, terutama semenjak maskapai penerbangan AirAsia membuka jalur langsung dari beberapa kota Indonesia menuju Bangkok.  Dalam tulisan berikut ini, saya menjabarkan beberapa gagasan kegiatan yang bisa Anda lakukan di Bangkok.

Telusuri Chao Phraya

Kami pernah menjabarkan cara menelusuri sungai yang menjadi nadi utama kota Bangkok lama ini di tulisan ini.  Nikmati semarak aktivitas penghuni Bangkok di Chao Phraya saat siang hari.  Perhatikanlah keanekaragaman bangunan lama bersejarah maupun bangunan baru bergaya modern, juga bermacam-macam tempat peribadahan berbagai agama yang berdiri mengapit Chao Phraya.  Tampak wat, masjid, dan gereja tegak berselang-seling.  Susuri pula sungai ini di malam hari, ketika lampu-lampu sengaja menyoroti bangunan-bangunan utama sehingga terlihat dramatis.

Suasana di feri untuk turis.

Salah satu sudut Maharaj Pier. Turunlah di sini bila hendak menuju Grand Palace.

Kunjungi Grand Palace dan Vinmanmek Mansion

Rasanya kalau ke Bangkok tapi belum ke Grand Palace, agak kurang afdol, ya.  Di kompleks istana berukuran 218.000 meter persegi ini terdapat sejumlah bangunan penting, baik yang masih berfungsi sebagai kantor pemerintah, museum, tempat peribadahan, maupun tempat tinggal kerabat raja.  (Raja sudah tidak lagi tinggal di Grand Palace.)  Tidak hanya bergaya khas Thailand atau Indocina, ada pula bangunan-bangunan bergaya Barat, ataupun yang campuran.

Yang perlu diingat, berpakaianlah yang sopan bila hendak memasuki Grand Palace.  Bila pakaian Anda (baik laki-laki ataupun perempuan) terlalu terbuka, misalnya mengenakan celana pendek, maka Anda akan diminta mengenakan pakaian tertutup yang disediakan pihak istana.  Selain itu, bila Anda datang tepat di hari ulang tahun raja (5 Desember), maka di pagi hari Anda tak boleh memasuki kompleks istana tersebut, yang dijadikan tempat pusat perayaan.  Siang harinya, Anda boleh masuk dengan gratis, tetapi hanya ke bagian tempat wat-wat berada, ini pun menumpangi keistimewaan yang diberikan kepada warga Thailand untuk mengunjungi The Royal Monastery of the Emerald Buddha secara gratis agar bisa berdoa untuk sang raja.

Di area Royal Monastery, tak hanya menyambangi sang Buddha Jamrud yang  tersohor, kita juga bisa melihat, antara lain, Phra Siratana Chedi, Phra Mondop, dan model Angkor Wat.  (Sekadar info: nama kota di Kamboja tempat Angkor Wat berada saat ini, Siem Reap, berarti ‘Siam Ditaklukkan’.  Dan keberadaan model Angkor Wat ini di kompleks Grand Palace kiranya juga menjadi jejak hubungan antara Thailand dan Kamboja yang kerap sulit, bahkan hingga kini.)

The Royal Monastery menampilkan keunikan agama Buddha yang dianut oleh sebagian besar penduduk Thailand.  Perhatikanlah patung-patung raksasa yang menjulang, dan juga mural Ramakien (Ramayana) berhias emas yang terpajang di tembok yang mengelilingi Wat Phra Kaeo.  Tunggu sebentar.  Ramayana?  Lalu… patung dewa-dewa ini… tidakkah lebih Hindu daripada Buddha?

Ya, memang benar.  Agama Buddha di Thailand dipengaruhi  agama Hindu.  Bahkan berdasarkan hasil bincang-bincang saya dengan seorang kenalan yang berasal dari Goa, India, Thailand adalah satu dari hanya dua tempat di dunia ini di mana terdapat kuil yang dikhususkan untuk Brahma, godhead dalam trimukti agama Hindu.

Ngomong-ngomong, perhatikanlah patung-patung yang menghiasi sejumlah bangunan di kompleks Royal Monastery.  Bisakah Anda bedakan, yang mana yang demon, yang mana yang monyet?  Kalau setelah ke sana Anda belum tahu juga, silakan hubungi kami ya…

Yang juga tidak bisa dilewatkan saat berada di Grand Palace adalah… mencicipi susu segar dan dingin yang dijual tak jauh dari Aula Amarindra Winitchai dan Chakri Maha Prasat (yang bagian bawahnya difungsikan sebagai museum senjata).   Apalagi kalau Anda mengunjungi Grand Palace ketika cuaca sedang panas-panasnya—misalnya, saat bulan Juli—susu berbagai rasa dari peternakan kerajaan ini terasa sungguh menyegarkan dan memompa semangat kembali!

Chakri Maha Prasat

Pergantian penjaga juga bisa menjadi atraksi menarik di Grand Palace.

Oya, sekeluar dari Grand Palace, jangan keburu membuang tiket Anda, karena masih ada satu tempat lagi yang bisa Anda datangi dengan tiket tersebut, yaitu Vinmanmek Mansion.  Jaraknya agak jauh dari Grand Palace, sehingga gunakanlah taksi atau tuktuk menuju tempat tersebut.  Hati-hati, taksi yang mangkal di sekeliling Grand Palace biasanya memang mengincar wisatawan dan ogah pasang argo.  Atau, mereka mau mengantarkan dengan harga murah asalkan kita mau mereka bawa mampir-mampir dulu ke sejumlah toko atau tempat pembelanjaan.  Alasannya, agar mereka mendapat cap dari masing-masing toko untuk mendapatkan bensin gratis.  Kalau punya waktu banyak, coba saja ikut mereka ke toko-toko itu, yang terkadang menawarkan barang-barang bagus dengan harga murah.  Tidak beli juga tidak apa-apa.  Namun bila ingin langsung ke Vinmanmek Mansion, bersikeraslah minta diantar langsung.  Mungkin mereka akan minta 100 Baht untuk menuju kompleks tersebut.

Ini bukanlah Vinmanmek Mansion, melainkan salah satu gedung di dalam kompleksnya. Mansion-nya sendiri sulit untuk dipotret.

Vinmanmek adalah istana dari kayu jati emas bergaya Eropa yang dahulu menjadi tempat tinggal keluarga raja.  Bangunan beserta segala perabot dan barang-barang yang tersimpan di dalamnya sungguh indah.  Namun untuk memasukinya, peraturan cukup ketat.  Yang pertama, Anda harus meninggalkan tas dan kamera di dalam locker berkunci otomatis yang tersedia.  Hati-hati, sekali buka pintu locker, biayanya 30 Baht.  Saya pernah ketinggalan mengambil sesuatu dari tas, dan harus kembali merogoh 30 Baht dari kocek untuk membuka pintu sekali lagi!

Wisatawan diizinkan keluar-masuk dengan selang waktu tertentu, antara 30-45 menit sekali.  Waktu masuk wisatawan berbahasa Thailand dan berbahasa asing juga dipisah, seturut ketersediaan pemandu.  Kita harus menunggu dengan sabar sampai pintu dibuka lagi untuk wisatawan—yang harus melewati pemeriksaan sinar X.  Sejumlah petugas siap memandu kita dan memberikan berbagai informasi mengenai Vinmanmek Mansion, termasuk sejarah koleksi barang wastu tersebut yang mengundang decak kagum.  Bahkan saat cuaca panas mengamuk di luar, bagian dalam wastu dan taman sekelilingnya tetap sejuk.

Bila sempat, kunjungi juga beberapa museum kecil yang masih terletak di kawasan Vinmanmek Mansion.

Berbelanja

Bagi yang hobi berbelanja, memang Bangkok tempat yang pas untuk memuaskan kegemaran Anda itu.  Kalaupun Anda hanya berniat mencari oleh-oleh, tidak usah khawatir karena banyak cenderamata unik, murah, dan meriah yang bisa Anda peroleh.

Bila melewatkan akhir minggu di Bangkok, kunjungilah pasar Chatuchak yang hanya buka Sabtu dan Minggu.  Cara mudah menuju tempat tersebut adalah naik BTS, turun di stasiun Mo Chit.  Setelahnya, tinggal keluar dari stasiun dan berjalan sedikit, dan voila, Anda telah tiba di pasar tradisional yang luas dan berpotensi cukup besar menyesatkan orang ini.  Telusurilah lorong demi lorong, menawarlah bila bisa, yang penting… tetap waspada, karena pencopet dan penjambret berkeliaran mengincar para wisatawan yang lengah.

Kalau tidak sempat menyambangi Chatuchak, jangan khawatir.  Di pasar malam dan kawasan-kawasan wisatawan seperti Nana Sukhumvit, mudah ditemukan toko atau kios kaki lima yang menjajakan barang-barang yang sama dengan yang dijual di Chatuchak.

Ingin berbelanja ‘gaya modern’?  Pusat-pusat perbelanjaan siap menyambut Anda.  Yang saya paling doyan kunjungi adalah kawasan Pathumwan Junction (naik BTS bisa turun di Siam Square atau National Stadium).  Sejumlah pusat perbelanjaan ternama yaitu MBK, Siam Paragon, dan Discovery Center merubung persimpangan tersebut.  MBK terutama sangat popular karena berbagai barang murah berkualitas bagus dan foodcourt yang memikat.  Di sini juga ada mushola untuk yang perlu menunaikan salat di tengah-tengah berwisata.

Siam Paragon lebih mewah daripada MBK, dan menjadi favorit saya antara lain karena di sinilah terletak salah satu cabang Kinokuniya Bangkok.  Saya juga menyenangi Paragon karena di bawah tanahnya terdapat foodcourt yang menyediakan makanan halal.  Terlebih dulu, tukarkan deposit uang (misalnya 200 Baht) dengan kartu magnetik, yang lantas Anda berikan kepada penjaga kedai makanan.  Deposit Anda akan dipotong sesuai harga makanan dan minuman yang Anda pesan.  Setelah selesai makan, tukarkan kembali kartu untuk memperoleh sisa uang.

Daya tarik lain Paragon adalah hypermarket Gourmet Market (tempat berbelanja kebutuhan sehari-hari ataupun oleh-oleh seperti cokelat) beserta kios-kios makanannya yang menggugah selera.  Ada pula Siam Ocean World yang memungkinkan kita seolah memasuki laut untuk melihat-lihat kehidupan di dalamnya.

Jembatan pejalan kaki yang menghubungkan MBK dengan stasiun BTS National Stadium dan Siam Paragon/Discovery.

Kalau soal makanan, jika Anda lapar saat sedang berjalan-jalan namun tidak ingin makanan berat, cobalah kunjungi kedai-kedai makanan di stasiun-stasiun BTS.  Macam-macam yang mereka tawarkan, mulai dari kue-kue manis sampai sushi siap makan.  Pokoknya, asal jangan disantap di dalam kereta.

Untuk yang ogah barang palsu atau KW2, produk bermerk asli Thailand yang saya rekomendasikan adalah Jim Thompson (kain, tas, dompet, dan lain-lain) serta arloji Link Graphix, yang menampilkan karya para desainer muda Thailand.

Menonton bioskop

Menonton bioskop?  Hmmm… apa istimewanya?  Ada sensasi tersendiri, lho.  Yang pernah saya coba adalah menonton di bioskop Paragon Cineplex.  Ukuran bioskopnya besar sekali.  Dan yang unik, sebelum pemutaran setiap film, terlebih dahulu diputar video yang berisikan kegiatan sang raja, diiringi lagu yang menyanjung-nyanjung beliau.  Selama video diputar, semua pengunjung, termasuk orang asing, harus berdiri sebagai tanda penghormatan.  Pengalaman ini cukup meninggalkan kesan bagi saya, yang berasal dari negeri yang tidak mengenal tata cara semacam ini.

Menonton pertunjukan malam

Nama Bangkok memang juga lekat dengan hiburan malam.  Sebagian orang mungkin akan langsung terkikik geli mengingat hiburan ‘nakal’ yang marak di sejumlah kawasan Bangkok, misalnya Patpong.  Namun jangan keburu menganggap hiburan malam Bangkok negatif semuanya, meski dibawakan oleh para waria yang sering dicap buruk di Indonesia.  Jangan salah, di Thailand, waria bisa memperoleh pekerjaan biasa seperti orang-orang lainnya, misalnya menjadi penjaga toko, tidak melulu sebagai penghibur jalanan atau tukang salon seperti yang menjadi stereotipe di Indonesia.  Dan kabaret waria adalah pertunjukan terhormat yang disiapkan dan diselenggarakan dengan serius, meski isinya bisa jadi mengocok perut Anda habis-habisan.

Teater kabaret waria yang terkenal di Bangkok adalah Calypso, yang menggelar pertunjukan setiap malam di Hotel Asia (naik BTS, turun di stasiun Ratchatewi, ada pintu keluar langsung ke dalam hotel tersebut).  Cobalah minta hotel memesankan tiket untuk Anda, atau coba pesan online di ThaiTicketMajor.  Tanpa makan malam, harga 1 tiket adalah 900 Baht termasuk first drink (ada teh atau kopi juga).  Tersedia pula merchandise Calypso yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan, misalnya DVD pertunjukan mereka.

Seusai pertunjukan, para pemeran kabaret akan berjejer rapi mengapit jalan menuju pintu keluar.  Anda boleh berfoto dengan mereka, namun jangan lupa selipkan sedikit uang tip ke tangan para artis.  Mereka ramah-ramah dan baik-baik, kok.  Tidak perlu merasa seram hanya karena mereka ‘waria’.  Ups, sebagian di antara mereka bahkan lebih cantik dari perempuan asli, lho!

Yang juga boleh dicoba adalah menonton pertunjukan Siam Niramit yang gegap-gempita.

Bersantailah

Jangan terlalu terburu-buru menyusuri Bangkok gara-gara bernafsu mengunjungi tempat sebanyak-banyaknya.  Temukan tempat yang nyaman, dan bersantailah sejenak, menikmati irama kota ini.  Saya punya dua tempat favorit untuk beristirahat sambil mencicipi minuman dan penganan di Bangkok.  Yang pertama adalah cabang Au Bon Pain di persimpangan  dekat Grand Palace.  Setelah berterik-terik menjelajahi Grand Palace, selalu menyenangkan rasanya memasuki gedung kecil berarsitektur Eropa ini dan memesan minuman dingin.

Bagian dalam Au Bon Pain dekat Grand Palace.

Tempat kedua favorit saya adalah cabang Subway merangkap Coffee World di dekat stasiun BTS Nana.  Meskipun meja dan kursinya bergaya restoran cepat saji yang tidak terlalu menghiraukan kenyamanan jangka panjang pengunjung, restoran yang buka 24 jam ini cukup menyenangkan untuk dijadikan tempat nongkrong.

Carrot cake juara dari Coffee World!

Kunjungi beraneka ragam wat

Saat berlayar di Chao Phraya, sempatkan meninjau Wat Arun alias ‘Kuil Fajar’, tempat Buddha Jamrud dahulu disimpan sebelum dipindahkan ke Wat Phra Kaeo di Grand Palace.  Dengan kapal, turunlah di Maharaj Pier, lalu ambil feri menyeberang sungai (tidak ada dermaga khusus feri turis di depan Wat Arun).  Bila Anda tidak gampang gamang, cobalah mendaki tangga yang curam sampai ke puncaknya.

Wat Arun alias ‘Temple of Dawn’

Di dekat kompleks Grand Palace, juga ada Wat Po yang bisa dicapai dengan berjalan kaki.  Di sinilah terdapat patung raksasa Buddha tidur, dan juga patung prajurit farang (orang asing) yang terlihat unik dengan penutup kepala mereka yang bergaya Barat.

Kepala sang Buddha tidur.

Genta di Wat Po.

Perhatikan betapa kecilnya manusia dibandingkan ukuran sang Buddha tidur.

Salah satu prajurit ‘farang’.

Jejeran patung Buddha di Wat Po.

Selain wat-wat yang popular tersebut, banyak pula wat lain bertebaran di seantero Bangkok.  Sebagian di antaranya tidak banyak dikenal wisatawan sehingga sepi pengunjung – yang justru membuat kita lebih bisa meresapi kekhidmatan tempat-tempat suci tersebut.  Kami pernah beruntung memperoleh seorang supir tuktuk yang mengantarkan kami ke beberapa wat yang jarang dikunjungi turis. Ia membawa kami ke Wat Ratchanatdaram Worawihan dan Wat Srakes Rajavaramahavihara.

Sampai-sampai biarawan di Wat Srakes Rajavaramahavihara bertanya kepada kami, “Dari mana tahu tempat kami ini ?”  Kami pun dipersilakan duduk agak lama di aula utama, di mana terpajang arca Buddha raksasa yang berwarna emas.  Orang yang memberi kami petunjuk menuju wat ini menyebutnya ‘Happy Buddha’.  Konon arca Buddha yang satu ini mendatangkan kebahagiaan dan keberuntungan bagi yang mengunjunginya.

Arca yang disebut ‘Happy Buddha’.

Tak hanya wat-wat ‘tersembunyi’, masih banyak tempat yang bisa Anda kunjungi dan kegiatan yang bisa Anda lakukan selama di Bangkok.   Ini hanyalah beberapa sumbangan gagasan kami saja.  Jangan segan berbagi pengalaman Anda di Bangkok dengan kami, ya!

Beijing, Tanpa Paket Tur

This post is about China

Pergi ke Beijing tanpa paket tur, praktis tidak sih?  Ya, bisa-bisa saja, asal Anda tidak keberatan berjalan jauh, naik-turun kereta atau bis, dan bersusah-payah sedikit.  Dengan perencanaan yang bagus, Anda bisa menghemat uang cukup banyak namun tetap dapat mengunjungi tempat-tempat yang sama dengan yang didatangi paket tur, bahkan mungkin dengan jadwal yang lebih leluasa.

Lapangan Tian’anmen dan Kota Terlarang

Sepertinya siapa pun yang berkunjung ke Beijing tak akan mau melewatkan kedua tempat yang berseberangan jalan ini.  Bila naik metro, Anda bisa turun di stasiun Tian’anmen West ataupun East.  Ikuti petunjuk menuju Lapangan Tian’anmen, yang terabadikan dalam foto-foto menggetarkan protes mahasiswa tahun 1989.  Siapa yang tak tergerak hatinya melihat seorang pemuda berdiri dengan gagah berani di depan tank yang siap melindasnya?  Namun kini untuk memasuki Lapangan Tian’anmen, jangan harap bisa membawa bahkan sekadar niat berdemo.  Pemeriksaan ketat terhadap tas dengan mesin sinar-X, dan juga pemeriksaan tubuh bila perlu, akan dilakukan oleh aparat yang berjaga-jaga di pintu-pintu masuk menuju Lapangan Tian’anmen.

More

Pasar Modern BSD

This post is about Indonesia

Pasar Modern BSD

Sisi Pasar Modern BSD dilihat dari lahan parkir.

Meskipun sekarang banyak hipermarket dan supermarket (atau haruskah saya sebut ‘pasar hiper’ dan ‘pasar super’?), tidak bisa disangkal, berbelanja di pasar tradisional memiliki nilai asyik tersendiri.  Mungkin itu kebebasan memilih-milih penjual, menawar barang, atau atmosfer yang memang tidak bisa diperoleh di hipermarket/supermarket.  Namun keluhan yang sering kita dengar adalah pasar tradisional kotor, sempit, becek, sehingga tidak menggugah selera orang (terutama dari kalangan menengah dan atas) untuk berbelanja di sana.  Barangkali menunggu pemerintah memperbaiki semua pasar tradisional yang ada juga bakalan lama sekali.

Oleh karena itu, sungguh cemerlang gagasan pengelola Bumi Serpong Damai untuk mendirikan Pasar Modern BSD.  Sebutannya memang ‘modern’, meski pada dasarnya ini adalah pasar tradisional.  Akan tetapi label itu mungkin diperlukan untuk membedakan pasar ini dari pasar yang kotor dan becek semacam itu.  Dengan pengelolaan yang cukup ketat – konon ada hukuman cukup keras bila ada pedagang yang melanggar aturan kebersihan – maka pasar ini pun menjadi tempat berbelanja yang nyaman dan digemari banyak orang.  Buktinya antara lain adalah betapa sulitnya mencari tempat parkir di pasar ini di akhir minggu.  Banyak orang terpaksa parkir di luar area pasar, meskipun Pasmod memiliki lahan parkir yang cukup luas.

Bagian dalam Pasar Modern BSD

Bagian dalam Pasar Modern BSD

Bila Anda menyenangi jajanan dari waralaba internasional, Anda tak akan menemukan satu pun di pasar ini.  Jadi pasar ini pun konsisten mendukung pedagang dan rumah makan Indonesia.  Bagian keliling luar pasar adalah ruko-ruko.  Di sini banyak terdapat restoran yang menawarkan berbagai sajian, baik halal maupun tidak, termasuk yang ‘ajaib’ seperti daging ular.  Juga ada bank dan ATM, tempat penukaran valuta asing, toko roti, toko pakaian, toko kelontong, minimarket, dan lain-lain.  Di bagian luar ini antara lain ada serabi Notosuman, pisang goreng srikaya, puding Sweet Mom dengan berbagai bentuk dan rasa, dan banyak lagi.

Di sebelah dalam bangunan pasar, terdapat pasar ‘basah’ yang berkoridor lebar dan berlangit-langit tinggi.  Pasar basah ini terbagi-bagi seturut jenis dagangan yang dijual – misalnya sayur, daging halal, daging babi.  Salah satu yang paling menarik adalah cabang restoran Oen Pao yang bergaya warung.  Suasananya santai dan enak, bahkan rasanya kok lebih menyenangkan daripada cabang Oen Pao yang lebih mewah di daerah lain Jakarta.

Oen Pao Pasar Modern BSD

Oen Pao cabang Pasar Modern BSD

Pasar pagi/siang buka sampai pukul 3 sore.  Setelahnya, pasar basah tutup meskipun ruko-ruko tetap buka, dan sebagian lahan parkir pun disulap menjadi tempat jajanan malam yang buka mulai sore hari.  Jadi, dari pagi sampai malam pun, selalu ada yang bisa Anda temukan di Pasar Modern BSD.  Pasar ini juga terletak tidak jauh dari pintu tol BSD, sehingga bila Anda ingin menyambangi tempat ini dari Jakarta, tidak sulit menjangkaunya.

Pasar Modern BSD bisa menjadi contoh bagaimana pasar tradisional yang dikelola baik bisa menjadi nyaman dan menarik, serta bahkan mungkin menjadi salah satu tujuan pariwisata yang banyak diincar turis.