Mendadak Kamboja

This post is about Cambodia

Bagian 1: Menyeberang di Bavet

Akhir Januari lalu saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya: bepergian tanpa itinerary. Saya berangkat hanya membawa kaus empat potong, sejumlah uang USD yang bisa ditukar dari pengambilan maksimum di ATM dalam sehari, tiket boleh booking dua hari sebelum berangkat, dan paspor. Ibu saya sampai bilang bahwa saya seperti anak kecil yang ngambek dan kabur dari rumah. Tapi yaaah semakin usia Anda bertambah *uhuk*, semakin berkuranglah kesempatan Anda untuk melakukan hal semacam ini. Kapan lagi kalau bukan sekarang?

Perhentian pertama saya adalah Saigon, Vietnam. Saigon yang saya tahu ternyata sudah jauuuuh sekali berbeda. Ia sekarang bersolek: kota yang penuh dengan bangunan menjulang dan kendaraan. Mungkin satu yang tidak berubah, yaitu poster Bac Ho (Paman Ho) di mana-mana. Yah tapi paling tidak belum sampai taraf Pyongyang dan poster keluarga Kim-nya deh. Beberapa hari di Saigon, saya mulai mati gaya. Mau ngapain lagi ya?

Cap-cip-cup-kembang-kuncup, akhirnya saya putuskan untuk menyeberang ke Kamboja saja. Sialnya, karena saya di Saigon pada saat musim liburan dan masih dalam  suasana libur Imlek (yang bisa berlangsung selama dua minggu), tiket bus langka. Saya harus berkeliling Pham Ngu Lao, De Tham, dan Bui Vien di Quan (Distrik) 1 untuk mencari selembar tiket dan akhirnya dapatlah tiket seharga 11 USD untuk rute Saigon-Phnom Penh.

Jalan Pham Ngu Lao, Saigon. Bus lintas negara biasanya parkir di sini.

Bus yang saya naiki untuk masuk Kamboja adalah bus milik Sorya, salah satu operator bus tersenior di Kamboja. Bus lintas Negara semacam ini biasanya bus berpendingin udara dengan karoseri penumpang di atas dan kargo di bawah. Bus berangkat dari Pham Ngu Lao pukul 9:00. Setelah sekitar dua jam, sampailah bus di Bavet, kota perbatasan Vietnam dan Kamboja yang terkenal dengan kasino-kasinonya. Paspor penumpang dikumpulkan oleh petugas bus, diserahkan kepada petugas di dalam balai imigrasi, dan penumpang diminta mengantri untuk mengambil paspornya. Pemegang paspor non-ASEAN wajib menyediakan 20 USD sebagai pembayaran visa. Di sini saya mendapat kejutan menyenangkan, yaitu tidak perlu membayar visa. Hidup Indonesia!

Balai Imigrasi di Bavet. Kalau Anda dari Vietnam, Anda tidak perlu menurunkan bawaan dari bagasi karena tidak ada pemeriksaan dari pihak Kamboja. Namun, bersiaplah melakukan hal sebaliknya kalau Anda dari Kamboja dan ingin masuk Vietnam.

Di dalam Balai Imigrasi, saya harus pasang telinga dengan cermat. Pasalnya, petugas pemeriksa paspor memanggil nama pemilik paspor tanpa pengeras suara. Secara umum, proses imigrasi hanya memakan waku sekitar 20 menit. Mungkin kalau tidak sedang musim liburan, bisa lebih cepat lagi ya?

Selepas dari Bavet, bus menyeberangi sebuah sungai kecil dengan menggunakan feri. Jangan khawatir, penumpang tidak perlu turun lagi kok. Beberapa penumpang yang sempat menggerutu langsung menghembuskan napas lega karena tidak harus menggotong-gotong tas mereka lagi. Saya? Lha wong cuma bawa satu ransel sekolah, hehehe. Nah, kalau Anda orang yang hobi tidur seperti saya, silakan menikmati kursi empuk bus dan memejamkan mata selama kurang lebih empat jam sampai bus tiba di Phnom Penh.

Dari arah sebaliknya, secara garis besar perjalanan dengan bus akan serupa. Namun, saya mencoba menggunakan bus malam untuk perjalanan kembali ke Saigon. Bus malam lintas negara umumnya tidak memiliki kursi, melainkan tempat tidur sebagai seat-nya. Sekali lagi, harganya seharusnya tidak banyak berbeda dengan bus siang hari. Jadi, kalau Anda membeli tiket, pastikan kisaran harganya antara 17-18 USD. (Saya termakan silat lidah petugas travel dan membayar 20 USD, 3 dolar lebih mahal dari tiket berangkat, grrr.)

Bus malam yang saya naiki. Dioperasikan oleh Virak Buntham. Sama seperti perjalanan berangkat, bus akan transit di Phnom Penh dan penumpang ditransfer ke bus yang lebih kecil.

Bagian dalam bus malam, seat 2-1. Seat-nya kurang lapang untuk orang yang tinggi seperti teman perjalanan saya, Alex, guru asal California yang bekerja di Shanghai. (Tapi lumayan ada eyecandy, hehehe.)

Bagian 2: (Nyaris) Terdampar di Phnom Penh

Apakah Anda pernah ngemper di Blok M atau terlunta-lunta di Kampung Rambutan demi menunggu bus yang tak pasti? *azeeek* Nah, demikian pula yang saya alami selepas turun bus yang membawa saya dari Saigon ke Phnom Penh. Kok bisa?

Pertama, saya datang ke Phnom Penh tanpa rencana jelas. Booking hotel tak ada, KHR pun tak punya. Uang kecil saya pun tinggal 8 USD. Mau tinggal di Phnom Penh dulu, saya kok ngeri melihat kerumunan pengendara tuktuk yang langsung semangat ’45 begitu melihat penumpang turun dari bus. Ketika sedang mencari ide di salah satu pojokan pool bus Sorya, mata saya menangkap tulisan Siem Reap di papan jadwal bus. Siem Reap, Siem Reap, Siem Reap… sepertinya pernah baca… Aha! Angkor! Ke sana saja!

Suasana di pool bus Sorya, Phnom Penh. Hampir semua bus lintas negara punya pool sendiri dengan tampilan seperti ini.

Saya pun membeli selembar tiket bus ke Siem Reap seharga 6 USD. Oh ya, Anda juga bisa membeli kartu SIM (telepon) yang bisa dipakai di Vietnam dan Kamboja dengan mudah di Phnom Penh. Salah satu kebodohan saya adalah baru mengetahui hal ini ketika sudah ada di atas bus ke Siem Reap.

Menunggu di pool bus di Phnom Penh (total saya dua kali melakukannya) bukanlah hal yang menyenangkan. Tempatnya defisit tempat duduk, penumpang bersaing dengan kargo, dan nyaris tidak ada prasarana bersantap dengan nyaman. Jajanan yang ada di tempat semacam ini tidak jauh-jauh dari rujak buah, kacang atau jagung rebus, dan roti segede lengan (mirip baguette Perancis yang disebut banh di Vietnam). Snack dalam kemasan biasanya impor dari Vietnam, hanya dijual di minimarket, dan harganya antara 0.5-1 USD. Namun, kalau Anda tipe orang yang kurang kerjaan seperti saya, Anda bisa membunuh bosan dengan mengamati orang di sekitar Anda.

Bus ke Siem Reap baru berangkat sekitar pukul 16:00 dari Phnom Penh. Itupun pakai menunggu bus di depannya penuh (siapa bilang ngetem cuma ada di Indonesia?) dan memutar dulu memasuki sebuah perkampungan Muslim, Khan Russey Keo, tanpa sebab yang jelas. Supirnya ingin pipis, mungkin. Bus Sorya kali ini lebih kecil dan lebih tidak nyaman dibandingkan bus dari Saigon ke Phnom Penh—mungkin karena hitungannya sudah bukan bus lintas negara.

Sebuah masjid di perkampungan Muslim di luar Phnom Penh.

Satu hal tentang Phnom Penh yang menarik perhatian saya adalah keberadaan taman-taman kota yang sangat memanusiakan warganya. Di seputaran Charles de Gaulle Boulevard, misalnya, trotoar-trotoarnya rapi dan bersih. Alat-alat kebugaran seperti sepeda statis dan slider banyak tersedia di taman. Sedikit banyak, hal tersebut mengingatkan saya pada taman di Pham Ngu Lao, tempat saya nongkrong pada sore hari dan memandangi cowok-cowok bersimbah peluh sedang berlatih semacam sepak takraw ala Vietnam. Yum!

Taman kota di dekat Night Market, Phnom Penh.

Tapi Tuhan memang baik. Ketika berhenti makan malam, ada seorang penumpang berkewarganegaraan Indonesia menyapa saya karena melihat kaus saya (kaus wajib jalan-jalan saya yang bertuliskan “I Survive Indonesia” :D). Jadilah selama dalam 6 jam perjalanan saya memiliki teman ngobrol. Siem Reap, here I come!

Saran #1: kalau Anda ke Phnom Penh dan tahan miris, sempatkanlah mengunjungi Museum Genosida Tuol Sleng, bukti kekejaman rezim paranoid Khmer Merah yang membantai hampir dua juta warganya sendiri pada periode 1970-an.

 Saran #2: sekarang ini sudah banyak operator bus yang mengoperasikan bus ekspres Saigon-Siem Reap via jalur baru. Jadi, Anda menghemat waktu sekitar empat jam karena tidak perlu berhenti di Phnom Penh untuk transfer bus. Tiketnya dapat diperoleh melalui berbagai operator tur di Saigon, misalnya di Tuan Travel (Bui Vien) dan Friends Tour (Pham Ngu Lao).

Bagian 3: Tuktuk Tengah Malam

Normalnya, bus dari Phnom Penh ke Siem Reap hanya akan memakan waktu sekitar 6 jam. Sekali lagi, normalnya. Nah, karena perjalanan saya adalah perjalanan yang tidak normal, durasi 6 jam tersebut molor menjadi hampir 8 jam. Alhasil, saya sampai di Siem Reap nyaris tengah malam. Apes? You bet.

Apes pertama: setibanya di pool bus Sorya di Phsar Leu, luar Siem Reap, saya bingung bagaimana mau menghubungi penginapan. Apalagi, saya ketempelan seorang pelancong dari China, Xu Yuan, dan dari Irlandia, Timothy. Nah, mereka berdua ini sama nekatnya dengan saya: datang ke Siem Reap pada saat arus liburan sedang tinggi tanpa persiapan booking hotel sama sekali. Teman ngobrol saya, Stevan, sudah booking kamar di Bou Savy Guesthouse, dan tuktuk penjemputnya sudah menunggu di pool. Saya pun meminjam ponsel Stevan untuk menelepon Jasmine Lodge, penginapan saya. Naaah, ternyata Jasmine Lodge membatalkan pemesanan kamar saya karena saya tidak datang pada hari tersebut dan tidak mengabari. Tapi karena sadar bahwa sebagian dari kekacauan ini adalah kekurangsiapan saya juga, saya cuma minta pihak Jasmine Lodge mentransfer saya ke penginapan lain. Alhasil, pergilah saya, Xu Yuan (yang memanggil dirinya sendiri Kitty—dari idolanya, Hello Kitty), dan Tim ke Number 9 Guesthouse dengan tuktuk.

Phsar Leu pada siang hari. Titipan motornya tak kalah dengan Indonesia ya.🙂

Apes kedua: Number 9 Guesthouse ternyata terletak tidak jauh dari Sivutha Boulevard, pusat kota Siem Reap. Karena tidak tahu jalan, saya sempat ketar-ketir ketika tuktuk berbelok ke La Paix Hotel. Wuidiiih mewah nih, pikir saya, dan pasti menguras dompet. Entah untung atau apes (lagi), ternyata La Paix hanya patokan. Number 9 terletak di gang di belakangnya.

Tapiii.. ternyata hanya ada satu kamar tersisa di sana. Saya dan Kitty tidak ada masalah kalau harus berbagi kamar, tapi Tim? Akhirnya kami berdua menunggui Tim sampai berhasil menghubungi temannya yang sudah sampai sehari sebelumnya… dengan menggunakan wi-fi gratisan di lobi. Begitu Tim pergi, saya dan Kitty masuk ke kamar di lantai dua. Seperti kata pepatah, gembel tak bisa memilih (*uhuk* terjemahan bebas *uhuk*), kamar kami tipe kamar double bed berkipas angin. Saking capeknya, kami langsung nggeblak tidur dan baru menyadari masalah genting keesokan paginya: koneksi wi-fi tidak sampai ke kamar kami dan air kamar mandi macet!

Sekali lagi, ada hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini. Pengendara tuktuk yang mengantar dari Phsar Leu sampai ke Number 9 ternyata sigap membantu begitu tahu saya dan Kitty berencana untuk mengeksplorasi kompleks Angkor. Antara scam dan tidak, dia menyatakan kenal betul kompleks Angkor. Maka, siap deh saya memulai petualangan Angkor bersama Chhrong dan tuktuk saktinya.

Ta-da! Ini Chhrong, pengendara tuktuk saya. Teman-teman saya sih bilang dia pantas jadi—minimal—bintang sinetron di sini.😀

 Saran: sepertinya hampir semua orang (kecuali saya ^^;) tahu bahwa bisnis tuktuk di Kamboja adalah bisnis yang penuh persaingan dan scam. Berhati-hatilah ketika bernegosiasi dengan pengendara tuktuk. Kalau pengendara tuktuk Anda menawarkan paket, sesuaikan dengan keinginan Anda. Rata-rata sewa harian tuktuk untuk eksplorasi Angkor selama sehari adalah 10-12 USD. Anda juga bisa meminta penginapan Anda menguruskan booking tuktuk. Oh, dan kalau Anda berminat menggunakan jasa Chhrong, silakan hubungi saya melalui japri.

‘I am not pushy and I am honest’ – Bahkan pengendara tuktuk pun sebenarnya sadar seperti apa pandangan turis terhadap mereka.

Bagian 4: Siem Reap Minus Angkor?

Selain menjelajahi Angkor, apalagi yang bisa dilakukan di Siem Reap?

Karena selama di Siem Reap saya tinggal di pusat kota, saya dengan mudah dapat berjalan kaki ke mana-mana. Bagi yang suka bersepeda, bisa juga menyewa sepeda dengan tarif 1-2 USD perhari. Banyak galeri seni dan tempat pertunjukan yang membuka hari gratis di Siem Reap, jadi Anda tinggal mengecek jadwal mereka saja. Misalnya, Rumah Sakit Anak Kantha Bopha memiliki pertunjukan Beatocello setiap Sabtu dan Minggu. Hasil penjualan tiket dan donasi diberikan kepada para pasien. (Waktu saya datang, donasi ditujukkan kepada anak-anak penderita demam berdarah dan tuberkulosis).

Turis bersepeda di kawasan Angkor. Kalau niat, silakan manjakan mata Anda dengan mantengin bule-bule bertelanjang dada berkeliling Angkor Wat pada tengah hari.

Gabungan antara kuat jalan kaki seharian dan sok jadi Dora the Explorer membuat saya blusukan ke pasar di Siem Reap. Ada dua pasar yang cukup ramai di pusat kota, yaitu Phsar Kandal (Central Market) dan Phsar Chas (Old Market). Pasar yang pertama lebih mirip pasar modern di Indonesia. Lokasinya tepat di Sivutha Boulevard dan kebanyakan barangnya ditujukan untuk konsumsi turis. Setelah itu, silakan bersantai di bagian food court-nya yang juga menyediakan wi-fi gratis.

Food court di Phsar Kandal. Bersih, pakai kipas angin, dan sedia wi-fi gratis.

Phsar Kandal pada malam hari.

Phsar Chas, di lain pihak, adalah pasar tradisional dengan penjual yang lebih heterogen. Favorit saya sih petak-petak makanan di bagian dalam dan kios-kios camilan di bagian luar. Turis juga suka blusukan di sini. Saya sendiri sampai menahan geli melihat beberapa ibu-ibu Perancis membeli dandang dan bokor. Kapan lagi Anda bisa melihat bule jadi begitu ndeso? *third world pride* Nah, berhubung saya doyan makan, Phsar Chas juga menjadi magnet tersendiri dengan banyaknya restoran dan kedai di sekitarnya. Dari gelatto Italia sampai kari India, dari tukang daging sampai tukang bumbu ada di sini. Oh, atau kalau mau sok santai seperti saya, cukup jajan camilan—dari pancake pisang sampai manisan kelapa—dan nongkrong di taman-taman bantaran kali di belakang Phsar Chas.

Phsar Chas. Di sini sih enaknya jalan sambil jajan.

Penyuka kegiatan berbau alam bisa juga pergi ke Danau Tonle Sap untuk menikmati desa terapung atau pusat konservasi burung di sana. Namun, berhati-hatilah dengan scam harga tiket yang dijual di gerbang masuknya. Hampir semua pengendara tuktuk yang membawa turis ke sana (termasuk Chhrong, grrr) berkongkalikong dan dapat persenan dari pihak penyedia jasa wisata di Danau Tonle Sap. Saya sempat ditagih 20 USD untuk biaya masuk dan 10 USD untuk biaya perahu. Jelas saya tolak dong. Dear officer, you’re dealing with Auntie Scrooge here. Eh kemudian dia memberitahu bahwa harga tiketnya cukup 15 USD saja. Hiih, minta dijitak banget deh bapaknya! (Kadung kesal, saya pun batal ke Tonle Sap.)

Ini gerbang kedatangan sebelum naik perahu di Danau Tonle Sap. Waspadai pembangunan yang belum selesai, toilet tanpa flush, dan scam harga tiket. Kecuali Anda memang sangat tertarik, silakan datang.

Di negara yang mayoritas penduduknya Buddhis seperti Kamboja, Anda akan dengan mudah menemukan pesantren biksu di dekat wihara. Mendengarkan para biksu novis nyantri melantunkan sutra dapat menjadi pengalaman tersendiri yang mengesankan.

Saran #1: Sebagai negara yang masih dalam proses pemulihan dari ekses perang dan genosida, Kamboja memiliki banyak lembaga kemanusiaan yang menyediakan kesempatan untuk partisipasi sukarela. Beberapa penginapan juga bersedia membantu Anda juga Anda ingin menjadi sukarelawan.

Saran #2: Ada satu lagi pasar di Siem Reap yang tidak sempat saya datangi, yaitu Night Market. Lokasinya dekat La Paix Hotel, tapi karena lorong menuju tempat tersebut sepi, saya tidak akan mencobanya tanpa menguasai ilmu kebal terlebih dulu.

Saran #3: Jangan lupa untuk mempraktekkan jutsu Bargain to the End di pasar-pasar Siem Reap. Tawar habis! Misalnya, tawar saja kaus seharga 5 USD menjadi 2 USD atau 5 USD untuk 3 kaus. Yang saya sukai dari para pedagang di Phsar Kandal adalah mereka selalu tersenyum. “OK, I want to make you happy, so please buy from me. I’ll give you good price, but not cheaper or I will cry,” begitu kata mereka.🙂

Bagian 5: Berhati-hatilah Dengan Makanan Pesanan Anda di Siem Reap

Peringatan: tidak halal.

Salah satu hal yang menjadi nilai plus Kamboja buat saya adalah rasa masakannya yang dekat dengan selera orang Indonesia dan disajikan dalam porsi besar. Catat baik-baik: porsi besar. Menurut Chhuong, pengendara tuktuk saya, laki-laki Kamboja biasa makan dua piring nasi untuk sekali makan. Itu standarnya lho!

Beberapa favorit saya selama di Kamboja mengandung bahan-bahan yang bahkan saya belum pernah makan di Indonesia seperti aneka sayuran yang bahkan namanya saja membuat lidah kesrimpet. Enaknya, sebagian besar buah di sana adalah buah yang familiar untuk orang Indonesia. Maka, jangan kaget kalau dalam salad buah pesanan Anda ada lengkeng, jambu air, dan bahkan kedondong.

Saya cenderung menghindari kopi terutama yang asam dan tidak ramah-lambung, tapi kopi tetes semacam ini selalu jadi pelengkap sarapan saya selama di Vietnam dan Kamboja. Super!

Beginilah peralatan makan disediakan: direndam dalam gelas berisi air panas.

Tak ada yang memberitahu saya bahwa pork sandwich segede gaban dengan isi membludak inilah yang diberikan ketika saya memesan.

Salah satu favorit saya: amok. Ini semacam kari yang isinya ikan atau ayam. Dimakan panas-panas… hemmm! Jangan lupa beli bumbu siap masaknya kalau mampir di pasar.

Lolek (atau lolak atau lok lai) dari Phsar Chas. Semacam stew daging sapi atau ayam dengan kuah asin sebagai pelengkap. Meskipun sudah pakai kentang goreng, Anda akan tetap disuguhi nasi juga. Satu porsi lolek ini cukup untuk dua-tiga orang.

Favorit lain: prahok. Cacahan ikan atau ayam atau daging lain yang difermentasi lalu ditumis. Sayur-sayurannya mentah atau direbus. Seumur-umur ini pertama kalinya saya makan leunca dan kembang lotus. Ternyata lalapan tak cuma privilese Sunda ya.

Oh iya, godaan terbesar untuk saya selama berada di Siem Reap adalah murahnya harga bir di sana. Satu tumbler besar bir curah cukup dengan 0.5 USD saja! Saya sampai terpikir untuk melewatkan makan dan cukup minum bir sampai kembung.

Tagline: national pride, national beer.

Ini dia bir curah seharga 0.5 USD. Tagline: my country, my beer. Kalau diurut-urut berdasarkan harga, bir terekomendasi di Siem Reap adalah Tiger, Beerlao, Angkor, Cambodia, Anchor.

Bagian 6: Politik di Kamboja

Kalau di Vietnam ada poster Bac Ho di mana-mana, di Kamboja ada poster partai di setiap sudut. Sejauh yang saya lihat, partai yang posternya rajin berjamaah di jalan-jalan adalah Cambodian People’s Party (partai PM Hun Sen), Funcinpec (partai adik raja), dan Sam Rainsy Party. Kalau Anda sinis terhadap politik, Anda memiliki pandangan yang sama seperti hampir semua orang Kamboja yang saya temui dan ajak bicara. Tapi yaah, dengan demokrasi yang masih awut-awutan seperti di Indonesia, paling tidak masih ada yang bisa kita syukuri tanpa harus mengecilkan penderitaan bangsa lain. Perang dengan Vietnam? Yep. Pembantaian oleh Khmer Merah? Yep. Raja yang tidak tinggal di negerinya sendiri? Yep. Rebutan aset di perbatasan? Yep.

Vinn, pengendara tuktuk dari operator bus Virak Buntham jurusan Siem Reap-Saigon yang menjemput saya dari penginapan ke pool bus, bilang bahwa generasinya punya cita-cita untuk bekerja di luar Kamboja. Saya tanya apakah dia tidak ingin jadi pegawai negeri—cita-cita standar lulusan universitas di sana. Si Vinn yang doyan tertawa ini cuma bilang, “If I can live for my country, I should be able to live from my country, too.”

Dalem, Vinn. Daleeem.

Salah satu poster partai yang banyak terlihat di Siem Reap.

Bagian 7: Siem Reap Sehari-hari

Sebagian besar warga Siem Reap masih tinggal di perkampungan. Waktu saya berkeliling seluruh kompleks Angkor sampai ke Banteay Srey dan Roluos atau di dekat Museum Ranjau Darat, di kiri-kanan mudah sekali dijumpai rumah dengan sumber air hasil donasi. Nama donatornya terpampang di papan. Friends of Cambodia, misalnya, banyak bergerak untuk membantu kebutuhan sanitasi warga Siem Reap. Padahal ini salah satu jalan utama di daerah wisata utama. Karena saya ndeso, yang terpikir malah Pantura.

Bensin mahal di sini, itu jelas. Seliter 1.25 USD (sekitar 5000 KHR). Tapi berbanding terbalik dengan harga bensin, nyaris semua mobil di Siem Reap adalah mobil ber-cc besar. Toyota Fortuner adalah pegangan standar kebanyakan penginapan di Siem Reap. Sisanya didominasi Toyota Fortuner dan beberapa tipe karavan Hyundai. Oh, dan untuk pertama kalinya, saya menemukan sebuah negeri tanpa Avanza-Xenia! Rasanya jadi semacam penyegaran setelah setiap hari berpapasan dengan Avanza-Xenia di jalanan Indonesia.

Bensin ngecer di Siem Reap.

Penguasa jalanan di Kamboja? Motor! Bukan cuma jadi tuktuk atau ojek, motor juga disambung ke kereta mini, kendaraan mirip odong-odong, bahkan gerobak yang bisa mengangkut orang se-RT!

Motor dan tuktuk.

Motor dan kandang portabel.

Motor dan… tukang kasur.

Motor dan kereta jenazah. Ngomong-ngomong, musik pemakaman Kamboja enak di kuping lho.

Oh iya, buat yang suka anak kecil, banyak anak kecil yang berjualan di kompleks Angkor. Paling banyak berjualan kartu pos (1 USD untuk 10 kartu pos). Yang unik (atau menyebalkan—tergantung sudut pandang), kalau ditolak dengan kata-kata “No, thanks,” mereka akan membalas dengan “Yes, thanks” dan kembali mengejar-ngejar turis untuk membeli dagangan mereka.

Saya jadi ingat pengalaman bapak saya yang sempat tinggal cukup lama di Saigon. Bapak saya pernah cerita bahwa di Saigon, turis tidak didukung untuk membeli dari atau memberi sedekah buat anak-anak yang mencari nafkah di jalanan. Kalau ada turis yang ketahuan, bisa ditegur kamtib. “Kami tidak mau mendidik generasi peminta,” begitu alasannnya. Entah benar atau tidak, saya pikir Kamboja perlu menerapkan hal tersebut.

Indonesia? Wah, nanti dulu deh. Didik para orangtua untuk tidak begitu antusias buat anak saja dulu.🙂

Nantikan kelanjutan petualangan Tukang Kesasar di Angkor Wat!

Written and photographed by Tukang Kesasar

http://twitter.com/thranduilion

22 Comments (+add yours?)

  1. lompatlompat
    Feb 21, 2012 @ 02:32:39

    Yang saya perhatikan, kata mereka untuk ‘pasar’ hampir mirip dengan kata dalam bahasa kita, ya🙂

    Plus, tukang tuktuknya memang guanteeeeng!❤

    Reply

  2. echa
    Feb 21, 2012 @ 09:20:44

    Wah sekarang masuk Kamboja untuk pemegang paspor ASEAN sudah bebas Visa ya..asikkk banget. Tahun 2010 pas ke Kamboja masih harus bayar VoA USD 20😀

    Reply

  3. TP
    Feb 21, 2012 @ 11:25:35

    Halo!

    Iya, tukang tuktuk saya memang eyecandy. Ternyata pameo sengsara membawa nikmat itu memang nyata!🙂

    Reply

  4. Ken
    Mar 18, 2012 @ 04:26:54

    Hi, nice written! May i ask your suggest since i am going to SR via HCMC?
    Thaks anyway

    Ken

    Reply

  5. rico
    Apr 21, 2012 @ 04:23:56

    Blogny mantap!
    Bahasanya mudah dicerna banget dan pendeskripsiannya detail..
    Dan yg paling penting sgt membantu.. Saya brncana backpack mei nanti..😉

    Saya cerna postingan lainnya dl ya mbak😉

    Reply

  6. Hauzun
    Apr 21, 2012 @ 18:21:37

    hi, baru lewat di blog ini, gak nyangka ketemu yg sesuai dengan rencana perjalanan. maunya ke vietnam, laos, kamboja, selama 10 hari hahaha cita2 indah…🙂 thx dah share

    Reply

    • lompatlompat
      Apr 22, 2012 @ 06:55:35

      Sama-sama! Kalau mau download pdf tentang Vietnam, klik ‘Unduhan Gratis’ di atas ya🙂 Wah asyiknya backpacking. Saya juga pengen balik ke Indocina deh!

      Reply

  7. Rendra
    Apr 26, 2012 @ 03:35:41

    Kereennn blognya,, serius tp ada sempilan komedinya..😀
    saya September mau kesana,, vietnam, kamboja, dan laos..
    thx 4 info

    Reply

  8. aline
    Apr 05, 2013 @ 13:09:30

    di kamboja pakai mata uang apa sh?

    Reply

  9. Missy
    May 27, 2013 @ 15:59:29

    tanya dong, gw seminggu lagi ke siem reap. booking tuktuk $15 sehari diangkor. dan $30 ke arah Phonm Kulen. Wajar gak sih? Apa kemahalan? Kalo boleh minta email or CP tuktuk yg disewa. Biar dpt murmer🙂

    Reply

  10. Nora
    Jan 06, 2014 @ 08:10:11

    Seru bacanya..menyegarkan….keep writing😀

    Reply

  11. Sangmade
    Mar 31, 2016 @ 06:08:30

    Sang Made

    Reply

  12. Sangmade
    Mar 31, 2016 @ 06:09:46

    mba nanya dunk, sim card yg bisa dipake di cambodia sama di vietnam sekaligus ada ya? namanya apa mba?
    Makasi sebelumnya🙂

    Reply

  13. makmur adil
    Apr 07, 2016 @ 22:51:16

    mau tanya.. kalau dari ho chi minh ke perbatasan kamboja apa ada bus yg PP. jd hanya sampai ke perbatasan sj trus balik lg ke ho chi minh

    Reply

    • lompatlompat
      Apr 08, 2016 @ 05:47:19

      Kok cuma sampai ke perbatasan, Mas? Harusnya ikut bisnya sama saja dengan yang ke arah Kamboja tapi turun di perbatasan saja. Mungkin harus ditanyakan langsung kepada pihak perusahaan bisnya..

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: