Dua Hari, Semalam di Semarang – Februari 2013 (bagian I)

This post is about Indonesia

Azan subuh belum lagi berkumandang di Semarang dan sekitarnya ketika saya menapak turun dari kereta yang beberapa jam sebelumnya bertolak dari Jakarta.  Sendirian saya mendatangi kota ini di bulan Februari 2013 untuk menghadiri pernikahan teman.  Sendirian, karena teman-teman lain kebetulan tidak bisa menyesuaikan jadwal dengan undangan tersebut.  Saya nekad saja, padahal belum pernah sekalipun ke Semarang.

Saya membeli tiket kereta Gambir-Semarang Tawang secara daring melalui Tiket.  Prosedurnya menurut saya cukup mudah, bisa memilih kursi pula.  Dengan semangat saya memilih kursi di tepi jendela dengan maksud menikmati pemandangan… Lalu baru kemudian ingat hal itu percuma saja, karena saya memilih kereta yang berjalan di malam hari, haha.  Di hari keberangkatan, saya cukup mendatangi loket penukaran bukti pembelian daring dan memperoleh tiket saya di situ.

semarang02

Singkat cerita, kini saya telah berada di Tawang.  Hari masih gelap-gulita, dan daripada keburu keluar serta sulit menemukan tempat untuk solat, saya memutuskan mengisi perut dengan minuman hangat terlebih dahulu di Dunkin Donuts.  Kebetulan cabang DD yang pintunya menghadap ke peron ini sudah buka, sementara tempat makan lain rata-rata masih tutup.

Usai subuh, barulah saya melangkah keluar dari peron.  Dan wuih, langsung didekati beberapa orang yang menawarkan jasa becak.  Sesopan mungkin saya menolak.  Seorang di antaranya masih cukup keukeuh mengikuti saya beberapa lama, berharap saya berubah pikiran mungkin.  Kasihan juga, tetapi saya memang berniat berjalan kaki saja pagi itu.

semarang01

Setelah sejenak melihat-lihat stasiun yang cukup tua usianya ini (karena saya akan pulang naik pesawat, tidak akan kembali ke stasiun ini) saya pun mencari jalan menuju tempat yang saya tuju: Gereja Immanuel, populer sebagai ‘Gereja Blenduk’.  Benar-benar tanpa tahu arah, tidak pegang peta, hanya sempat melihat-lihat peta Semarang melalui Google Maps.  Hanya mengandalkan bertanya.  Untunglah bapak-bapak yang saya tanya menjawab meyakinkan, “Tidak jauh kok mbak, lurus saja sampai mentok, lalu belok kiri.  Dekat kok, tuh dari sini juga kelihatan…”  Baiklah.

semarang03

Saya melintasi polder yang airnya berwarna kehijauan di depan stasiun, lantas tanpa terlalu pikir-pikir menyusuri jalan-jalan kota tua Semarang yang diapit bangunan-bangunan tua.  Banyak yang tampak megah dan cantik, namun tidak sedikit pula yang terlihat kurang terawat.  Terkadang, bau kurang sedap meruah dari saluran-saluran air yang tampak nyaris kepenuhan oleh air berwarna hitam, mungkin sisa limpahan rob, yang memang sering membanjiri wilayah ini.

semarang04

Seandainya lebih terurus lagi daripada kondisinya sekarang, pasti kawasan kota tua ini semakin menarik.  Saya sendiri sangat menyukai bangunan-bangunan era kolonial sehingga sangat menikmati jalan-jalan pagi saya ini.  Seorang bapak menegur ramah, bertanya saya dari mana, kok pagi-pagi sudah jalan-jalan, rumahnya di mana.  Saya jawab saja saya baru dari stasiun (tidak bohong, kan?).

semarang05

Puas menemukan dan mengagumi arsitektur Gereja Blenduk dan beberapa gedung di sekitarnya dari luar, saya meneruskan ke jalan-jalan kecil di kawasan itu.  Saya coba bayangkan seperti apa dahulu kawasan ini, ketika kehidupan kota Semarang masih ramai terpusat di sini.

semarang06

Saya kembali ke titik awal, Stasiun Tawang, dan meminta sebuah taksi Blue Bird untuk mengantarkan saya ke tujuan berikutnya, kelenteng Sam Poo Kong, yang agak jauh letaknya dari stasiun.  Sang supir mengira saya orang Tionghoa yang hendak beribadah di kelenteng.  Saya tertawa dan berkata, Bukan, ayah saya orang Manado, makanya mungkin wajah saya terlihat seperti orang Tionghoa.  Kami pun jadi bercakap-cakap di sepanjang perjalanan.

“Saya dari kecil tinggal di sini.  Kalau saya bilang, kota ini perkembangannya lambat,” katanya.

“Tapi tentram toh Pak?” Saya berkomentar.

“Iya, tentram.”  Tahu saya dari Jakarta, ia berkata, “Maaf ya Mbak, saya memang orang Indonesia.  Tapi saya tidak berniat pindah ke Jakarta.  Saya memang belum pernah ke sana.  Tapi kalau lihat di TV, orangnya kelihatan banyak sekali.  Kali Ciliwung juga tampak kotor.  Habis banjir-banjir gitu kan Mbak?  Rumah Mbak kena nggak?”

Yah, saya sendiri secara pribadi berpendapat tinggal di kota yang tidak terlalu besar seperti Semarang atau Balikpapan tampaknya lebih menyenangkan daripada setiap hari disergap kemacetan dan polusi di Jakarta.  Toh kalau yang kita khawatirkan adalah segala kenyamanan kota besar modern seperti restoran-restoran cepat saji atau kafe-kafe internasional, kini mereka pun sudah mudah ditemukan di ibukota-ibukota provinsi berukuran sedang.  Saya tidak merasa pak supir perlu meminta maaf karena lebih memilih berdiam di Semarang yang mungkin bagi banyak orang Jakarta bukan kota yang perlu dilirik sebagai tempat tinggal.

semarang08

Meskipun tadi telah mengulur-ulur waktu di kota tua, saya tiba kepagian di Sam Poo Kong.  Loket belum buka, namun penjaga di situ membolehkan kami—saya dan beberapa wisatawan lain—masuk.  “Silakan saja, bayarnya nanti saja,” ucapnya ramah.  Saya melewati gerbang dan langsung disambut keteduhan pepohonan yang menaungi sejumlah meja batu beserta kursi-kursinya.  Beberapa lama saya duduk di depan salah satu meja, menikmati pagi, memandang ke arah bangunan-bangunan dalam kompleks kelenteng, baik yang telah lama selesai dibangun maupun yang sedang dibangun.  Saya bertanya-tanya apa kegunaan bangunan yang belum selesai itu nantinya: panggung sandiwara Cina kah?  Aula untuk peribadahan?

semarang09

Hampir sejam setelahnya baru saya berdiri dan mulai berjalan-jalan berkeliling.  Tampak sekelompok pria yang sepertinya petugas keamanan tengah di-briefing dan kemudian berlatih.  Bangunan-bangunan utama peribadahan kelenteng dipisahkan oleh saluran air yang ditata bagai sungai kecil dari pelataran luas di depannya.  Berbekalkan tiket khusus ke bagian itu, saya pun menyeberang dan mengamati bangunan-bangunan tersebut dari dekat.  Warna merah terang tentu mendominasi, namun juga ada warna hijau, dan bila saya tidak salah, sentuhan Jawa pada arsitektur atap bangunan utama.  Beberapa bagian tidak bisa dimasuki oleh orang yang tidak berniat beribadah, dan di beberapa bagian kita harus mencopot sepatu.  Aturan-aturan ini tentu harus kita hormati.

semarang07

Figur paling dihormati di kelenteng ini adalah sang pelaut Muslim dari negeri Cina,  Cheng Ho.  Patung raksasanya gagah berdiri di depan bangunan utama peribadahan.  Di kelenteng ini pun terdapat beberapa relik yang berhubungan dengan dunia maritim.  Kura-kura, si perlambang usia panjang, juga banyak menghiasi kelenteng ini, baik kura-kura sungguhan maupun yang dari batu.

semarang10

Saya lalu mendatangi sekumpulan bapak-bapak yang duduk di bawah pepohonan tempat saya sempat bercokol sekitar sejam tadi.  Dengan ramah mereka melayani pertanyaan saya mengenai cara pergi ke Pagoda Buddhagaya Watugong.  Berdasarkan petunjuk mereka, saya menyeberang di depan kelenteng, dan menaiki bis kecil – seukuran Metro Mini – ke arah Banyumanik.  Cukup jauh juga perjalanan ke pagoda tersebut, namun buat saya sama sekali tidak membosankan, karena ini kali pertama saya melihat semua yang terpampang di hadapan mata.

Tiba di Pagoda Buddhagaya Watugong, terlintas sebuah pikiran konyol di benak saya yang rupanya telah terpenjara kehidupan bertahun-tahun di Jakarta: Wah, rasanya seperti bukan di Indonesia, seperti di negara asing saja.  Ini konyol.  Tentu saja ini Indonesia.  Indonesia yang merupakan keseharian bagi penduduk daerah ini.  Indonesia yang berbeda dari Jakarta ,tapi tidak kurang Indonesia-nya.

semarang11

semarang12

Di pagoda ini pun penjaganya sungguh ramah.  Ia mempersilakan saya masuk.  Untuk mencapai pagoda, kita harus mendaki undak-undakan.  Sebelum sampai di bangunan utama pagoda, kita disambut patung Dewi Kwam In di tengah-tengah pelataran, sementara tak jauh darinya, sebuah patung Buddha berwarna keemasan bersemayam damai di bawah sebatang pohon boddhi yang rindang.

semarang14

semarang13

Di bagian belakang kelenteng terdapat kamar mandi yang cukup bersih.  Saya manfaatkan untuk mencuci muka yang sejak kemarin belum tersentuh air mandi.  Segar rasanya.  Saya lantas meneruskan mengelilingi pagoda yang sebenarnya tidak seberapa luas, mengamati sebanyak mungkin detail: patung-patung dan ukiran-ukiran naga, kura-kura, singa, pita-pita merah yang diikat di berbagai objek.

semarang15

Hari sudah siang sekali ketika saya meninggalkan pagoda, naik angkot ke terminal Banyumanik, dilanjutkan dengan bis Trans Semarang yang nyaman.  Saya turun di halte SMA 5 Pemuda, tepat di seberang hotel Amaris Pemuda, tempat saya menginap.  Saya memilih hotel ini karena melihat letaknya yang cukup dekat ke beberapa objek wisata di Semarang, seperti Lawang Sewu, selain harganya yang memadai untuk kantong saya dan pengalaman saya selama ini di cabang-cabang lain yang tidak mengecewakan.  Ternyata beberapa keuntungan lain menginap di hotel ini adalah: hanya selemparan batu dari halte Trans Semarang; di bagian bawah hotel ada cabang Dunkin Donuts dan Gramedia; kalau perlu apa-apa juga mal Paragon dan Carrefour bisa didatangi dengan berjalan kaki.

semarang20

Setelah beristirahat sejenak di kamar hotel, saya keluar lagi untuk mencari makan di Carrefour, sekalian menuju Lawang Sewu.  Karena lapar, saya pilih saja sebuah restoran cepat saji yang menyajikan makanan Asia.  Hmmm… rasanya biasa saja sih, harganya pun setara dengan restoran cepat saji lain alias ‘harga Jakarta’, tapi ya sudahlah.  Namanya orang lapar.  Tapi saya bertekad, sehabis ini kalau mau makan harus di luar mal!

Ah, tapi sebelumnya saya perlu bicarakan dulu tentang betapa enaknya berjalan kaki di banyak bagian Semarang.  Trotoar luas, rapi, kerap kali dinaungi pohon rindang.  Dari hotel ke Lawang Sewu, saya melewati kantor walikota dan DPRD yang megah, dan juga papan-papan di mana surat kabar hari itu ditempelkan, bebas dibaca oleh warga yang kebetulan lewat.  Kota-kota Indonesia perlu lebih banyak trotoar semacam ini!

semarang19

Tiba di Lawang Sewu, yang mungkin merupakan ikon paling kenamaan Kota Semarang, saya pun membeli tiket dan magnet kulkas berbentuk Lawang Sewu.  Selain itu, saya harus membayar pemandu yang mengantar saya menyambangi berbagai pojok Lawang Sewu yang sudah dibuka untuk umum (karena sebagian bangunan masih berada dalam tahap renovasi, termasuk bagian di mana terdapat jendela kaca patri yang indah).   Pak pemandu menemani saya dengan berbagai kisah sejarah maupun ‘urban legend’ yang juga membuat kompleks bangunan ‘berpintu seribu’ ini terkenal.  Pasti semua juga sudah pernah kan mendengar tentang kejadian-kejadian seram yang konon terjadi di Lawang Sewu?

semarang16

Dalam hati, saya sendiri merasa seandainya gedung-gedung di kompleks ini terawat baik semuanya, dan juga digunakan secara aktif, tentu tidak terasa (terlalu) menyeramkan.  Atmosfernya tidak akan ‘wingit’, tidak akan jadi lokasi favorit ‘uji nyali’ (kalau mau, Anda bisa lho ikut tur malam hari di gedung ini).  Malah gedung-gedung tersebut pastilah cantik sekali di masa jayanya, ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang, sibuk dengan berbagai aktivitas mereka.

Di bagian yang sudah direnovasi dan dijadikan museum PT KAI, saya belajar banyak tentang sejarah dan kondisi perkereta-apian di Indonesia sekarang.  Wah, ternyata di Sumatra masih ada lokomotif yang menjalankan tugas luar biasa, menarik 40 sampai 60 gerbang sekaligus!  Sedihnya, tersaji pula peta rute-rute daerah-daerah operasional KAI, yang juga menunjukkan stasiun-stasiun yang sudah ‘dimatikan’ alias ditutup.  Ah!  Padahal dulu kereta merupakan salah satu alat transportasi utama yang menghubungkan kota-kota di Sumatra dan Jawa.

semarang18

Saya sempat ditawari masuk ke lorong-lorong bawah tanah, tempat difilmkannya video hantu yang popular di TV maupun Youtube.  Saya menolak sambil tertawa.

“Kenapa?  Kan sayang sudah jauh-jauh ke sini,” kata penjaga di depan tangga turun ke lorong-lorong tersebut.  (Untuk turun, kita harus membayar lagi biaya masuk yang juga mencakup penyewaan sepatu bot, karena di bawah sana air kerap menggenang.)

“Nggak ah Pak.  Saya tidur sendirian di hotel dekat sini,” saya berseloroh.

Beberapa kali mereka mencoba membujuk saya, namun gagal.  Bener deh, saya tidak ada niat turun ke bawah, meskipun katanya di bawah sana sedang ramai oleh pengunjung, tidak menakutkan.  Memang sih masih siang.  Saya hanya malas saja kalau malam nanti jadi terbayang-bayang suasana di lorong-lorong itu.

semarang17

Bukannya percaya takhayul ya, tapi kebetulan sekali malam harinya saat saya pulang dari Simpang Lima usai makan malam, saya kembali melintas di samping Lawang Sewu saat berjalan kaki menuju hotel.  Tanpa diduga, di depan saya cabang pohon yang cukup besar tahu-tahu jatuh ke trotoar di depan saya!  Seandainya saya tadi tidak melambatkan langkah karena menengok layar telepon genggam, mungkin cabang pohon yang tumbuh di tepi kompleks Lawang Sewu itu bakal menimpa saya.

Ups.

Anggaplah sambutan pertanda saya diterima di Semarang!  Hehehe.

Bersambung ke bagian kedua…

Georgetown: Warisan Budaya Dunia di Penang

This post is about Malaysia

Mengapa orang Indonesia bepergian ke Penang, yang, ngomong-ngomong, dibaca pinang?

“Kebanyakan untuk berobat, Mbak,” kata seorang penjaga minimarket tak jauh dari tempat saya menginap.  Si mas penjaga ini berasal dari Jawa.  Seperti juga banyak tenaga kerja asal Indonesia lain yang cukup mudah ditemukan di Penang, ia datang mengadu nasib ke negeri jiran karena merasa sudah sulit menemukan pekerjaan yang cocok baginya di tanah air.

Berobat – atau bekerja.  Sekilas memang itulah dua tujuan utama orang Indonesia berkunjung ke pulau yang terletak di lepas pantai sebelah barat Malaysia Barat ini.  Namun semakin banyak yang datang untuk berwisata, apalagi sejak AirAsia membuka penerbangan langsung dari Medan, Surabaya, dan Jakarta ke Penang.  Jadi tidak perlu ke Kuala Lumpur dulu baru naik bis atau kereta selama beberapa jam menuju pulau tersebut.  Bahkan frekuensi terbang AA dari Jakarta telah ditambah menjadi dua kali sehari, sehingga cukup nyaman untuk yang merencanakan perjalanan.

Pembatas buku dari Cheong Fatt Tze; contoh tiket bis Penang; kupon taksi bandara; gantungan kunci gratis dari Owl Museum; kartu nama Coob Cafe yang berbentuk seperti tiket kereta Japan Railways; kartu pos gratis dari Kongsi Khoo; tiket masuk Owl Museum; tiket trem Bukit Bendera.

More

Panduan Ringkas Mengunjungi Hong Kong

This post is about China

Kapan sebaiknya mengunjungi Hong Kong?

Pokoknya, asal jangan musim badai.  Panas dan dingin relatif masih bisa diatasi, tapi tidak badai.  Segala kegiatan bisa-bisa terhenti bila badai sedang melanda Hong Kong dan sekitarnya.  Jadi, cek terlebih dahulu apakah pada tanggal yang Anda kehendaki musim badai sedang berlangsung atau tidak – kecuali bila memang gejolak adrenalin Anda membuat Anda ingin merasakan seperti apa sih badai di Hong Kong itu.  November-Desember mungkin bisa jadi pilihan bagus.  Atau, bila sasaran utama Anda adalah Disneyland, coba cari tanggal di sekitar/saat peristiwa penting macam Hallowe’en dan Natal, karena Disneyland akan semakin mempercantik diri agar sesuai dengan tema hari tersebut.

Langit musim dingin Hong Kong

Suasana Natal di Main Avenue Disneyland

Untuk merasakan pengalaman budaya yang juga unik, pastikan Anda ada di Hong Kong pada hari Minggu, ketika wilayah ini berubah menjadi ‘Indonesia Mini’.  Saat itu, saudara-saudari kita yang bekerja di sana memperoleh hari libur dan keluar beramai-ramai untuk beraktivitas bersama dan bersilaturahmi.  Bahasa-bahasa dari Indonesia mudah terdengar di dalam kereta, bis, Victoria Park, Masjid Kowloon, dan lain sekitarnya.  Ini membuat saya berpikir-pikir mengenai apa betul sebuah kebudayaan baru sedang terbentuk melalui hubungan yang terjalin antara tenaga kerja Indonesia dan anak-anak yang mereka asuh.

Masjid Kowloon – hanya beberapa langkah dari salah satu pintu keluar stasiun kereta Tsim Sha Tsui.

Bagaimana mengunjungi Hong Kong?

Maskapai-maskapai seperti Garuda Indonesia dan Cathay Pacific memiliki jalur penerbangan langsung dari Jakarta ke Hong Kong.  Untuk maskapai yang lebih murah, bisa pilih Mandala Air (seperti yang saya lakukan).  Bila hendak menggunakan AirAsia, dari Jakarta harus menuju kota lain dulu seperti Kuala Lumpur.  Rencananya, tahun 2011 AirAsia akan membuka jalur langsung Medan-Hong Kong.

Mandala Air juga terbang ke Macau, dan mungkin Anda ingin mengunjungi satu lagi wilayah administrasi khusus Cina ini terlebih dahulu atau sesudah menyambangi Hong Kong.  Hong Kong dan Macau dihubungkan oleh feri dengan frekuensi antara setengah jam sampai satu jam sekali, tergantung siang ataukah malam.  Harga feri sekali jalan juga berbeda-beda tergantung waktu – malam tentunya lebih mahal.  Ada beberapa perusahaan yang melayani rute HK-Macau dengan kualitas dan harga tidak jauh berbeda.

Asal hati-hati saja memilih feri yang tepat menuju terminal yang Anda kehendaki di Hong Kong: apakah yang akan berlabuh di Hong Kong-Macau Ferry Terminal, Hong Kong Island (bila Anda hendak menuju The Peak, Museum Lilin Madame Tussaud, atau naik kereta ekspres menuju Disneyland) ataukah di China Ferry Terminal, Kowloon (di mana Anda bisa menelusuri Avenue of Stars, Museum Antariksa, Museum Seni, Museum Sejarah, Masjid Kowloon, Kowloon City, dan Mongkok).

Kecuali Anda meminta khusus, petugas karcis akan memberikan tiket feri yang paling dekat dengan waktu Anda membeli.  Pemeriksaan imigrasi di terminal feri Hong Kong dan Macau sigap memeriksa dan melewatkan penumpang, sehingga tidak perlu khawatir akan ketinggalan feri selama Anda memastikan diri tidak bermasalah.

Naik feri asyik, cepat, dan menawarkan pemandangan indah dari jendela, namun hati-hati bila Anda mudah mabuk.  Saya sendiri tidak mudah mabuk, namun pernah kombinasi dari arus laut yang kencang, feri yang ngebut, dan perut yang kosong tak urung membuat saya puyeng juga.  Keadaan saya membaik setelah lambung saya diganjal dengan mi instan yang dijual di atas feri.

Sementara dari Cina daratan, ada beraneka ragam mode transportasi seperti feri dan bis.

Bagaimana berkeliling di dalam Hong Kong?

Pertama-tama, tentu jangan lupa memastikan alamat dan mencek lokasi tempat-tempat yang ingin Anda kunjungi di Google Maps.  Dengan cara ini, Anda bisa menimbang-nimbang mode transportasi terbaik yang bisa Anda gunakan.

Manfaatkan kartu Octopus, kartu transportasi (dan belanja) yang praktis dan menawarkan potongan harga di berbagai tempat.  Contohnya, tanpa kartu Octopus, tiket sekali jalan dari stasiun Mongkok ke Tsim Sha Tsui adalah HKD 5, yang harus Anda beli di mesin tiket otomatis.  Bila menggunakan si kartu gurita, harga tiket yang akan dipotong otomatis dari kartu Anda yang disentuhkan ke layar khusus di pintu masuk dan keluar, adalah HKD 4,5.

Begitu tiba di salah satu gerbang masuk Hong Kong, carilah penjual kartu Octopus (misalnya loket layanan pelanggan di stasiun kereta atau toko waralaba).  Bila bukan edisi koleksi yang bisa disimpan terus, kartu Octopus ‘pinjaman’ (on-loan) dihargai HKD 150 pada pembelian pertama.  HKD 50 di antaranya adalah uang jaminan yang akan dikembalikan sewaktu Anda memulangkan kartu Anda, sementara 100-nya bisa Anda manfaatkan.

Bila isi kartu habis, tinggal Anda isi ulang di mesin yang tersedia di stasiun kereta atau di toko waralaba.  Bila Anda tak sempat mengisi namun kredit kartu Octopus sudah mengenaskan, kartu Anda bisa bernilai minus, kok.  Nilai minus itu akan ditambal oleh pengisian ulang berikutnya atau dipotong dari uang jaminan Anda.  Saat pemulangan kartu, ada pemotongan biaya pengembalian kartu sebesar HKD 7.

Bila Anda menggunakan feri dan tiba di terminal Hong Kong Island, bila merasa lebih sreg daripada menggunakan bis atau taksi, Anda bisa berjalan sedikit untuk mencapai stasiun kereta Sheung Wan atau Hong Kong (dan dari situ Anda bisa meneruskan melalui lorong bawah tanah ke Central).

Sementara saat mendarat di terminal feri Kowloon, Anda bisa langsung menaiki bis atau taksi yang menanti di sebelah bawah terminal.  Bila bugar dan punya banyak waktu, susuri saja tepi laut ke arah selatan, melewati menara jam, dermaga feri internal Hong Kong yaitu Star Ferry Piers dan Kowloon Public Piers (tempat Anda bisa memperoleh feri menuju pulau-pulau lain di wilayah Hong Kong), melewati Museum Seni dan Museum Antariksa, sampai tiba di Avenue of Stars, di mana Anda bisa menyaksikan cap-cap tangan para pelaku dunia perfilman Hong Kong dan patung Bruce Lee.  Dari Avenue of Stars, Anda bisa berjalan kaki (lagi) menuju salah satu dari dua stasiun MTR terdekat, Tsim Sha Tsui atau East Tsim Sha Tsui.

Star Ferry Piers

Menara Jam

Avenue of Stars

Bila Anda tiba melalui bandar udara HKIA, saya tidak menyarankan taksi bila ingin berhemat.  Misalnya saja, dari HKIA ke Kowloon bisa habis HKD 300 sekali jalan.  Manfaatkan bis – jaringan bis dan bis mini Hong Kong sangat baik.  Informasi rute yang tersedia di situs perusahaan-perusahaan bis sangat terperinci, termasuk memaparkan foto masing-masing halte tempat setiap bis berhenti dan harga yang harus Anda bayarkan.  Huruf depan kode bis biasanya adalah A atau E, namun bis-bis ini beroperasi hanya sampai tengah malam.  Selepas tengah malam, Anda harus mencari bis malam dengan kode N.  Misalnya, pukul 1 siang, dari bandara ke Mongkok Anda bisa menggunakan bis A21, sementara pada pukul 1 malam Anda harus mencari bis N21.

Peringatan bila menggunakan bis: sediakan uang pas, karena di bis tidak ada kembalian.  Kalau tiket bis adalah HKD 23 sementara Anda hanya punya pecahan HKD 30, ya HKD 7 itu akan melayang.  Pesan moralnya: di Hong Kong, uang receh sangat penting.

Di dalam salah satu gerbong Airport Express.

Cara praktis lain menuju kota dari bandara adalah menggunakan Airport Express.  Kereta khusus ini hanya berhenti di 5 perhentian, yaitu Asia World-Expo, HKIA, Tsing Yi, Kowloon, dan Hong Kong Station.  Harga tiket bolak-balik adalah HKD 100 tanpa kartu Octopus dan HKD 72 dengan kartu Octopus.  Biasanya juga ada potongan harga lagi untuk hadirin acara di Asia World-Expo (cek saja laman transportasi di situs loka tersebut).  Saya pernah dapat tiket bolak-balik Hong Kong Station-Asia World-Expo (berlaku satu hari) dengan harga hanya HKD 48 dengan kartu Octopus.

Bila Anda hendak menuju Disneyland Resort,  naikilah MTR jalur Hong Kong Station-Tung Chung.  Turun di Sunny Bay, berpindah ke kereta ekspres Disney dengan wujud yang pasti langsung memikat hati para penggemar Disney.  Anda bisa menggunakan kartu Octopus, ataupun membeli tiket bolak-balik seharga HKD 50 yang bisa disimpan sebagai kenang-kenangan.

Menanti Disneyland Express di stasiun Sunny Bay.

Anda pasti kenal siapa yang punya kepala berbentuk seperti jendela itu!

Peta jaringan kereta Hong Kong bisa Anda peroleh di situs resmi perusahaan kereta dalam-kota HK, MTR (Mass Transit Railway).

Bila sasaran Anda adalah The Peak, di mana Anda bisa mengamati HK dari ketinggian dan memuaskan rasa tak kesampaian bertemu langsung bintang terkenal di Madame Tussaud, Anda bisa naik bis yang menyusuri jalan menanjak berliku-liku, atau naik tram khusus The Peak.  Perhatikan tiket yang Anda beli, dan jangan keburu mengomel ketika harus membayar mahal, karena tiket ada bermacam-macam.  Ada tiket yang untuk naik tram The Peak saja, atau yang sekaligus dipaketkan dengan tiket masuk ke Sky Terrace, Madame Tussaud, ataupun tiket bis wisata hop on-hop off sepuasnya di Hong Kong Island.

The Peak, yang sebetulnya tidak di puncak-puncak banget.

Hong Kong dilihat dari bis yang sedang mendaki menuju The Peak.

B-beb-beb-beb Bruuuuce!

Trem dan taksi di Hong Kong.

Bagaimana dengan taksi?  Taksi yang beroperasi di wilayah HK berbeda-beda , ditandai oleh tiga macam warna bodi:

  • merah, yaitu taksi perkotaan.
  • hijau, taksi New Territories.
  • biru, taksi wilayah Lantau.

Yang perlu Anda ingat, tak semua supir taksi HK:

  1. bisa berbahasa Inggris,
  2. (boro-boro berbahasa Inggris) bisa membaca huruf Latin pun tidak,
  3. cukup ramah untuk tak mengomel di hadapan Anda dengan bahasa Kanton/Putonghua yang tak Anda mengerti.

Pernah saya menunjukkan sebuah alamat ke supir taksi.  Pertama-tama saya mengajaknya berbicara dalam bahasa Inggris, dan dia menyahut ‘no English’.  Oh, oke.  Toh saya sudah menyiapkan alamat yang saya tuju dalam tulisan Cina.  Dia mengomel sedikit, tampak kesal karena harus repot mengeluarkan kacamatanya untuk membaca.  Setelah membaca, eh dia terus mengomel dalam bahasa Kanton dengan nada keras.  Mungkin kesal karena ternyata tempat tujuan saya itu dekat, tak sampai HKD 40 biayanya.  Saya juga ikut sebal, karena merasa si supir kok tidak sopan sekali.  “Kalau ini supir taksi Jakarta, sudah saya ajak berantem, nih,” pikir saya.  Yah, mungkin ini hanya beda budaya, dan kita sebaiknya siap-siap saja menghadapi yang beginian, tak perlu dimasukkan ke hati atau dipakai menjadi acuan menilai Hong Kong secara keseluruhan.

Di mana sebaiknya menginap di Hong Kong?

Kalau ingin berhemat, banyak hotel, guest house, atau hostel murah bertebaran di Hong Kong, terutama di sekitar jalur stasiun Tsim Sha Tsui sampai Prince Edward.  Jangan kaget dulu bila alamat hostel yang telah Anda pesan ternyata mengantarkan Anda ke sebuah gedung tinggi yang tampak agak kumuh dan tidak meyakinkan.  Oleh karena tanah di Hong Kong sudah langka, mau tak mau pembangunan harus diarahkan ke atas.  Satu bangunan bisa ditempati oleh sejumlah hostel berbeda, mungkin juga bersama-sama toko, tempat tinggal, dan kantor.  Meski bagian luar gedung barangkali membikin hati agak ciut, hostel-hostel ini biasanya , aman, dan berfasilitas cukup lengkap.

Ya toh? Sekilas tidak meyakinkan…

Hostel yang bisa saya sarankan adalah Ah Shan Hostel yang terletak di Argyle Street, dekat sekali dengan stasiun MTR Mongkok (keluar-masuk lewat pintu D1).  Hostel ini dimiliki sepasang suami-istri Indonesia yang masih bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, sehingga  memudahkan komunikasi.  Harga kamar terhitung murah untuk ukuran Hong Kong, antara HKD 250 sampai 350, tergantung kapasitas dan sedang peak season atau tidak.

Fasilitas hostel ini antara lain: di setiap kamar ada jaringan Wi-Fi gratis, televisi (meski mungkin saluran berbahasa Inggris hanya ada satu atau dua, tapi apa Anda datang ke HK demi menonton TV?), air panas untuk mandi, sabun dan sampo, serta AC.  Handuk bersih bisa Anda pinjam, gratis.  Di lobi juga ada 2 PC yang bisa dipakai bergantian untuk berinternet-ria.  Air minum bebas Anda ambil dari dispenser.

Makan apa nih di Hong Kong?

Bila mau murah, 7-Eleven akan selalu menjadi penyelamat Anda.  Seporsi nasi di HK terhitung besar untuk ukuran orang Indonesia, sehingga bisa dimakan berdua.  Lumayan kan, HKD 16 dibagi berdua untuk sekali makan?  Hanya saja, yang perlu diingat: toko waralaba di HK tak selalu memberikan sumpit, sendok, atau kantong belanja, sehingga Anda sebaiknya selalu membawa peralatan makan sendiri.  Kantong plastik dihargai 50 sen selembar di 7-Eleven – agar lebih murah dan ramah lingkungan, mengapa tak membawa tas belanja sendiri?

Ada sejumlah (jaringan) restoran berlabel halal, antara lain Popeye.  Restoran atau kedai halal juga banyak terdapat di sekitar Masjid Kowloon.

Kalau kita pandai-pandai mengatur anggaran, Hong Kong bisa jadi tempat tujuan wisata yang lebih murah daripada Singapura.  Paling-paling yang lebih mahal adalah tiket pesawat ke sana, namun ini pun bisa disiasati dengan membeli tiket penawaran murah.

Pemandangan dari Starbucks di Avenue of Stars.

Menikmati Kontras Macau

This post is about China

“Macau is very very small.  It’s difficult to get lost in Macau, but it’s easy to lose.”

 

 

 

Macau Tower

Macau Tower.

 

 

 

Ucapan dalam salah satu pidato pembukaan konferensi penerjemah yang saya hadiri di Macau seolah merangkum pandangan orang banyak mengenai wilayah mungil yang merupakan bagian dari Republik Rakyat Cina tersebut.   Dalam benak umum, Macau (atau ada juga yang mengejanya Macao) hanyalah sebuah pulau kecil yang menjadi tempat berkumpul utama para penjudi Asia Tenggara dan Asia Timur.  (Sebetulnya, selain pulau Macau, ada pula pulau Taipa.  Kedua pulau ini dihubungkan oleh sejumlah jembatan megah.)

Bandara Macau

Bandara Macau di malam hari

Mosaik bandara Macau

Mosaik yang menghiasi bandara internasional Macau

Sepintas untuk pelancong yang tidak punya dana banyak, Macau bukan tempat yang menjanjikan.  Barangkali Hong Kong – yang hanya berjarak sejam naik feri dari Macau – tampak sebagai tempat wisata yang lebih menarik.  Namun sebenarnya, banyak hal lain yang ditawarkan Macau selain kemewahan kasino. Dan bahkan meskipun Anda tak niat berjudi, kemewahan itu bisa tetap Anda cicipi dengan gratis!

Salah satu sudut Macau

Lampion-lampion Cina menghiasi bangunan lama bergaya Portugis.

Macau memang telah lama menjadi tempat kontras hadir berdampingan: hidup bersama, tak saling menghancurkan, malah saling mendukung.  Lama menjadi jajahan Portugis, Macau memperoleh pengaruh yang berbeda dari Hong Kong yang dipegang Inggris berabad-abad sebelum dikembalikan ke Cina.  Pengaruh Portugis ini, dari segi arsitektur sampai makanan, paling terasa di kota tua Macau.

St Paul dari depan

Ya, saya tahu sudah ada ribuan foto seperti ini, tapi barangkali memang wajib memotret St Paul dari depan bila Anda mengunjungi Macau.

Oya, meskipun bahasa resmi di Macau adalah bahasa Kanton dan Portugis, hanya sedikit sekali orang Macau yang bisa berbahasa Portugis.  Yang bisa berbahasa Inggris dan bahkan membaca huruf Latin pun tidak banyak, meskipun di kalangan anak muda jumlah tersebut meningkat.  Oleh karena itu sebaiknya perlengkapi diri Anda dengan peta atau alamat dalam bahasa Kanton/tulisan Cina.

Papan nama jalan di Macau

Hati-hati, belum tentu semua penduduk Macau bisa membaca nama jalan yang tertera dalam huruf Latin.

Sebelum bercerita lebih lanjut tentang kota tua, saya akan berbagi info terlebih dahulu mengenai Macau secara umum.  Dari Jakarta, cara termudah menuju Macau adalah dengan maskapai penerbangan Mandala.  Kalau Anda senang bepergian dengan AirAsia, Anda harus ke Kuala Lumpur, Penang, atau Bangkok dulu untuk menumpang pesawat ke Macau.  Karena pesawat Mandala tiba larut malam di Macau, biasanya orang-orang menyarankan kepada Anda untuk bermalam di bandara saja.  Namun kalau sempat, tumpangi saja shuttle bus gratis ke Venetian Macau, kompleks kasino dan hiburan mahabesar yang terletak tak jauh dari bandara.  Habiskan malam di sana untuk melihat-lihat, bila Anda lebih memilih untuk tidak langsung bermalam.  Saya sendiri lebih memilih langsung ke hotel, Ole London, yang tergolong murah untuk ukuran Macau, dan juga strategis karena banyak atraksi wisata, termasuk kota tua, yang bisa tercapai dengan jalan kaki.

Shuttle bus Macau

Contoh shuttle bus yang disediakan oleh Venetian Macau

Ngomong-ngomong soal shuttle bus, nah ini tip yang sangat bermanfaat untuk Anda:  Persaingan bebas dan sengit antara berbagai kasino dan hotel mewah mendatangkan keuntungan berupa penyediaan shuttle bus gratis dari/ke bandara dan terminal feri.  Pandai-pandai saja memanfaatkan bis-bis tersebut untuk menghemat pengeluaran.

Bis Macau

Bis umum di Macau.

Kalaupun Anda harus naik bis umum, tarifnya cukup murah dan flat.  Bila Anda berputar-putar di Macau saja, tarifnya 3,20 dolar Hongkong atau pataca Macau (kedua mata uang ini dianggap setara, meskipun sebenarnya dolar Hongkong sedikit lebih mahal daripada pataca).  Bila menyeberang ke Taipa, tarif menjadi 4,20; bila sampai ke Coloane, 5,00; dan jika sampai ke Hac Sa, 6,40.

Taksi Macau

Taksi Macau biasanya men-charge lebih dari yang ditunjukkan argo.

Bila terpaksa menggunakan taksi, hati-hati.  Anda biasanya akan membayar lebih banyak dari yang tertunjuk di argo.  Bukannya para supir itu nembak harga, melainkan memang ada peraturan dari perusahaan, bahwa Anda harus membayar tarif tambahan bila menyeberang dari Macau ke Taipa atau Coloane dan bila meletakkan barang di bagasi.  Dengan tarif buka pintu (flagfall) 13 HKD, memang taksi terasa agak mahal, kecuali bila Anda beramai-ramai.

Akan tetapi, dengan modal kaki saja, banyak atraksi wisata yang bisa Anda sambangi.  Apalagi desain kota Macau sangat enak untuk ditelusuri dengan berjalan kaki, dengan trotoar-trotoar lebar yang dihiasi mosaik cantik.  Di sana-sini pun terdapat taman, sering kali dilengkapi peralatan kebugaran, yang bisa Anda gunakan untuk beristirahat bila lelah.

Trotoar Macau

Mosaik hitam-putih cantik menyusun trotoar-trotoar di Macau.

Yang lebih cerdas lagi, deretan pertokoan modern yang menempati bangunan-bangunan lama yang dilestarikan menghubungkan beberapa bangunan bersejarah di Macau, yang sebenarnya terletak agak berjauhan.  Dengan demikian, berjalan dari satu tempat ke tempat lain tidak terasa melelahkan, dan malah jadi ajang memanjakan mata dan, mungkin, menipiskan dompet.

Senado Square

Warna-warni Senado Square.

Peninggalan budaya paling terkenal di Macau adalah Senado Square atau Alun-alun Senat.   Gedung-gedung peninggalan Portugis yang masih dalam kondisi sangat baik mengundang decak kekaguman dan jepretan kamera.  Datanglah di sore dan malam hari, apalagi di akhir minggu, maka tak bisa tidak, Anda akan bersikut-sikutan dengan ribuan orang lain yang memadati alun-alun tersebut.  Namun datanglah pagi-pagi, dan Senado Square pun sunyi senyap: paling-paling hanya ada penduduk setempat yang membawa anjing mereka jalan-jalan, atau menuju Monte Fort untuk senam t’ai-chi.

Lorong menuju Senado

Salah satu lorong menuju Senado Square, senyap di pagi hari.

Menyusuri lorong-lorong yang bercabang-cabang dari Senado Square, kita bisa menemukan gereja St. Dominic yang berwarna kuning cerah, Katedral, Kantor Pos Pusat, dan berbagai bangunan bersejarah lain yang masih difungsikan.

St Dominic

St Dominic di persimpangan jalan.

Bagian dalam St Dominic

Bagian dalam St Dominic.

Pintu St Dominic

Dinding kuning St Dominic berpadu kontras dengan daun pintu dan jendela yang berwarna hijau.

Tengoklah kiri dan kanan, dan Anda akan menjumpai sejumlah kedai kue yang menjual penganan kebanggaan Macau, portuguese egg tart, dengan harga berkisar dari 5-6 dolar.  Guyur juga kerongkongan dengan berbagai jenis minuman teh dan kopi yang menyegarkan.  Harganya mulai dari 10 dolar, dengan ukuran yang cukup besar.  Bila ingin karbohidrat, boleh coba Ireland’s Potato yang menjual semangkuk kentang goreng seharga 10 dolar yang bisa dibubuhi bumbu bawang putih atau kari.

Kedai egg tart

Salah satu kedai yang menjajakan egg tart.

Egg tart dan teh

Egg tart hangat dan teh dingin, mmm…

Ireland's Potato

Karbohidrat praktis!

Sebuah cabang 7-Eleven juga menyempil di lorong menuju St Paul.  Untuk yang ingin menghemat biaya makan, 7-Eleven sungguh membantu.  Harga seporsi nasi dan lauk mulai dari 14 dolar, namun jangan keburu berpikir ini mahal: karena ukuran porsinya 2 kali ukuran porsi di Indonesia, alias besar sekali!  Kalau buat saya, cukup untuk makan siang dan makan malam sekaligus.

St Paul dari sudut lain

Undak-undakan di depan St Paul.

Dekat St Paul.

Alun-alun di antara St Paul dan Monte Fort.

Ikutilah tuntunan papan-papan petunjuk jalan dwibahasa menuju landmark Macau: reruntuhan gereja St Paul yang nyaris habis digempur saat Perang Dunia II, dan hanya menyisakan bagian depan yang tegak di atas undak-undakan.  Lalu, jangan sampai kalah dengan para kakek dan nenek Macau: dakilah tangga demi tangga menuju puncak benteng.   Pandanglah Macau berkeliling, dan nikmati kontras bangunan-bangunan tua yang berdempet-dempetan dengan kasino raksasa Grand Lisboa yang berbentuk unik di latar belakang.  Bagian dalam benteng kini merupakan Museum Macau, yang menyimpan banyak pajangan dan sajian mengenai sejarah Macau.

Sudut benteng Macau

Salah satu sudut benteng Monte Fort.

Latihan Taichi

Berlatih t’ai-chi di puncak benteng.

Meriam puncak benteng

Membidik Grand Lisboa dengan meriam di puncak benteng. Eh…

Museum Macau

Pintu masuk Museum Macau.

Selain yang sudah saya sebutkan di atas, masih banyak peninggalan bersejarah Macau yang bisa Anda nikmati, seperti Kuil A Ma, Barak Moor, dan lain-lain.  Sebagian bahkan mungkin tidak tercantum di peta wisata – tidakkah menyenangkan, tahu-tahu menemukan objek menarik terselip di tempat yang tidak Anda duga?  Dan bila Anda butuh keriaan, selalu ada berbagai macam festival dan acara menarik di Macau sepanjang tahun.  Berjalan kaki suatu malam dari Macau Tower menuju Grand Lisboa, saya mendapati dua festival – 1 festival makanan, 1 festival amal – sedang berlangsung disirami semarak cahaya warna-warni.

Festival makanan.

Festival makanan semarak warna-warni neon.

Puas menikmati bagian tua Macau, kini berpindahlah ke bagian baru yang bergelimang uang, namun tetap bisa kita nikmati tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.  Dari Senado Square, misalnya, Anda bisa berjalan kaki ke Grand Lisboa.  Masuk saja dengan percaya diri, dan tenggelamkan diri dalam pameran sejumlah karya seni yang indah di lantai dasar.

Pameran di Grand Lisboa.

Salah satu karya seni yang dipamerkan di Grand Lisboa.

Kemudian menyeberanglah melalui lorong bawah tanah ke Wynn.  Di kasino ini, mulai pukul 10 pagi, ada pertunjukan gratis Dragon of Fortune dan Tree of Prosperity setiap sejam sekali – sebenarnya berlangsung di tempat yang sama, hanya saja setiap setengah jam, pertunjukan yang ditampilkan berbeda.  Sebuah kubah di lantai akan membuka, memunculkan seekor naga atau pohon raksasa, yang masing-masing tampil selama sekitar 4 menit.  Selain itu, sejak jam 11 siang, setiap 15 menit sekali, di kolam di depan pintu utama hotel  ditampilkan pertunjukan air mancur dan api yang cukup menggetarkan.

Kubah naga

Dari dalam kubah di lantai itu, akan muncul naga raksasa…

Air dan api

Pertunjukan air dan api di depan Wynn.

Pertunjukan akrobat dan seni gratis juga Anda bisa nikmati di Venetian Macau, Taipa.  Venetian Macau menyediakan sejumlah teater untuk berbagai macam pertunjukan, dari stand up comedy sampai konser musik, dan juga Cirque du Soleil yang terkenal.  Anda juga bisa iseng melihat-lihat orang berjudi di dalam kasino, meskipun tidak boleh memotret.  Ada ketakjuban tersendiri mengamati betapa cepat uang hilang di atas meja-meja judi Macau – saya jadi teringat lagi penggalan pidato sambutan yang saya kutip di atas.

MU Experience

Manchester United Experience Store, Venetian Macau.

Penggemar  Manchester United boleh bersuka-ria di Manchester United Experience Store, yang tidak hanya menjual merchandise klub sepakbola tersebut, melainkan juga menawarkan pengalaman berada di kamar ganti dan lorong menuju lapangan seperti di Old Trafford.  Bila punya uang agak lebih, habiskan 15 menit menyusuri kanal-kanal buatan di dalam Venetian Macau dengan gondola, ditemani pengayuh gondola yang tak hanya tampan-tampan dan cantik-cantik, melainkan juga pandai bernyanyi.  Pengayuh gondola saya, Agostino, bahkan bisa mendendangkan Bengawan Solo!  Mengingat selama ini cukup banyak juga turis dari Indonesia, para pengayuh gondola ini rupanya sudah mempelajari sejumlah sapaan seperti ‘selamat datang’, ‘apa kabar’… dan bahkan memuji ‘cantik’!

Bagian dalam Venetian

Salah satu kanal yang merentang di dalam Venetian Macau.

Bila agak lelah dengan kebisingan Macau atau Taipa, tumpangilah bis bernomor 15, 21, 21A, 26, atau 26A (sebagian di antaranya bisa Anda naiki dari halte bis dekat Senado Square) menuju daerah pedesaan di Coloane, yang masih senyap dan santai.  Udaranya lebih sejuk dan bersih karena terletak lebih tinggi daripada kota Macau.

Alun-alun Coloane.

Di tengah hari pun, Coloane sunyi-senyap, tak seperti Macau.

Di alun-alun Vila de Coloane (Desa Coloane), terdapat salah satu toko kue merangkap kafe yang menjadi tujuan utama orang mendatangi desa tersebut: Lord Stow’s.  Toko kue yang dirintis seorang Inggris, Andrew, yang mendapat julukan ‘Lord Stow’, menjual portuguese egg tart yang konon paling lezat di seluruh Macau, hasil racikan sang ‘tuan’.  Tak heran, Lord Stow’s berani menjual setiap potong egg tart buatan mereka seharga 8 dolar.  Sayang Andrew telah berpulang secara mendadak pada tahun 2006 akibat asma, namun kini keluarga dekatnya meneruskan usahanya.  Ada beberapa cabang di negara lain, seperti Hong Kong dan Taiwan, namun di Macau, Lord Stow’s hanya ada di Vila de Coloane.

Lord Stow's.

Papan nama Lord Stow’s Garden Cafe.

Bagian dalam Lord Stow's.

Meja layan Lord Stow’s.

Egg tart Lord Stow’s – juga buatan toko-toko lain di sekitar Senado Square – bisa tahan 3 hari, sehingga sebelum pulang ke Indonesia, Anda bisa membeli beberapa kotak untuk oleh-oleh.  Oya, makanan dan minuman lain di Lord Stow’s juga memanjakan lidah, misalnya saja homemade lemonade mereka yang kecut dan segar.  Waktu itu kami dilayani pelayan yang sangat fasih berbahasa Inggris, sehingga semakin senang saja kami kepada Lord Stow’s.

Hidangan Lord Stow's.

Sandwich tuna dan homemade lemonade Lord Stow’s.

Macau boleh kecil-mungil, namun banyak pengalaman yang bisa Anda dapatkan tanpa menguras banyak biaya, dan tanpa perlu menggulirkan dadu.

Warung Macau

Berbelanjalah di warung tepi jalan saat mengitari Macau…

Taman Macau

…dan bila lelah, beristirahatlah di salah satu taman atau alun-alun seperti ini.