Georgetown: Warisan Budaya Dunia di Penang

This post is about Malaysia

Mengapa orang Indonesia bepergian ke Penang, yang, ngomong-ngomong, dibaca pinang?

“Kebanyakan untuk berobat, Mbak,” kata seorang penjaga minimarket tak jauh dari tempat saya menginap.  Si mas penjaga ini berasal dari Jawa.  Seperti juga banyak tenaga kerja asal Indonesia lain yang cukup mudah ditemukan di Penang, ia datang mengadu nasib ke negeri jiran karena merasa sudah sulit menemukan pekerjaan yang cocok baginya di tanah air.

Berobat – atau bekerja.  Sekilas memang itulah dua tujuan utama orang Indonesia berkunjung ke pulau yang terletak di lepas pantai sebelah barat Malaysia Barat ini.  Namun semakin banyak yang datang untuk berwisata, apalagi sejak AirAsia membuka penerbangan langsung dari Medan, Surabaya, dan Jakarta ke Penang.  Jadi tidak perlu ke Kuala Lumpur dulu baru naik bis atau kereta selama beberapa jam menuju pulau tersebut.  Bahkan frekuensi terbang AA dari Jakarta telah ditambah menjadi dua kali sehari, sehingga cukup nyaman untuk yang merencanakan perjalanan.

Pembatas buku dari Cheong Fatt Tze; contoh tiket bis Penang; kupon taksi bandara; gantungan kunci gratis dari Owl Museum; kartu nama Coob Cafe yang berbentuk seperti tiket kereta Japan Railways; kartu pos gratis dari Kongsi Khoo; tiket masuk Owl Museum; tiket trem Bukit Bendera.

Terpikat oleh kisah-kisah tentang budaya, alam, dan kuliner Penang, kami pun pergi ke sana pada pertengahan April 2012.  Tujuan utama kami dalam kunjungan singkat kali ini adalah daerah Georgetown dan sekitarnya.  Ketika kami tiba, bandara Penang (Bayan Lepas) tengah menjalani renovasi besar-besaran, sehingga agak berantakan.  Tentunya diharapkan setelah renovasi itu kelar, Bayan Lepas siap melayani lebih banyak penumpang pesawat yang singgah di Penang.

Dari Bayan Lepas, kami menggunakan taksi resmi bertarif 44.7 RM ke Georgetown, menempuh perjalanan kira-kira 40 menit.  Kami terlebih dahulu harus membayar dan mengambil kupon di loket di bandara sebelum mendapatkan taksi.  Cara ini aman dan pasti dibandingkan mencari taksi sembarangan.  (Sebagai catatan, di Penang, banyak taksi bandel yang enggan menggunakan argometer.  Sehingga pastikan Anda telah menyepakati tarifnya terlebih dahulu sebelum menaiki taksi.)  Kalau mau lebih murah lagi, bisa menggunakan sejumlah bis yang mengarah ke KOMTAR.  Rutenya bisa dicek di peta-peta gratis yang bisa diambil di bandara.

Bayan Lepas yang sedang direnovasi.

Bangunan lama yang telah dialihfungsikan.

Tulisan ini berfokus kepada objek-objek yang bisa dilihat di Georgetown.  Penang Hill dan berbagai tempat bersantap di Penang akan kami bahas di tulisan lain.

Tempat menginap

Mudah sekali menemukan penginapan di Georgetown, mulai dari yang bertaraf internasional dan berbintang banyak seperti Traders atau Cititel, sampai berbagai guest house termasuk tempat-tempat yang mengklaim diri sebagai hotel namun tampak agak meragukan.

Sebenarnya kami telah memesan tempat di 47 Moontree, sebuah rumah tua yang dihidupkan kembali menjadi guest house ‘bergaya butik’.  Namun ketika kami tiba, sang pemilik menyambut dengan wajah khawatir.  Ternyata, ia baru membaca pesan yang saya kirimkan kepadanya sewaktu memesan kamar, bahwa kami membawa ibu kami turut serta.  Ia mengatakan bahwa tangga ruangan untuk tiga orang yang telah ia siapkan untuk kami terlalu curam bagi ibu kami.  Ia mengajak saya melihat ruangan itu.  Cukup menarik sebenarnya.  Di lantai bawah ada ruang duduk dan kamar mandi yang hanya dibatasi tirai.  Ketiga tempat tidur terletak di lantai atas, yang memang hanya bisa dicapai dengan tangga yang sempit dan curam.

Alternatif yang ia tawarkan adalah sebuah kamar di lantai atas dengan tempat tidur untuk 2 orang, namun sayangnya hanya menggunakan kipas angin, dan kamar mandi serta toiletnya pun di luar.  Maksud saya, di luar.  Di luar bangunan.  Duh, nggak kebayang kalau malam-malam ibu saya harus ke kamar mandi.  Untunglah sang pemilik 47M sangat membantu kami.  Ia menunjukkan dua alternatif penginapan yang terletak tak jauh dari guest house-nya untuk kami coba.

Yang pertama, Red Inn Cabana, terletak di Lebuh Leith, sejajar dengan Cheong Fatt Tze Mansion yang merupakan salah satu objek kebanggaan Georgetown.  Guest house yang terletak di atas sebuah toko cokelat ini sebenarnya cukup murah, dan bangunannya baru serta bersih pula.  Kamar-kamarnya juga sangat bagus.  Sayangnya, satu kamar tunggal dan satu kamar untuk dua orang yang kami incar hanya tersedia untuk satu malam saja.  Terpaksa kami melangkahkan kaki ke tempat berikutnya yang direkomendasikan pemilik 47M, yaitu Banana Boutique Hotel di Lebuh Chulia.  (Yang ini kelasnya ‘hotel’ – ada juga Banana Guesthouse di jalan yang sama.)

Kami pun menjatuhkan pilihan pada hotel yang satu ini, dan tidak menyesalinya.  Harga yang kami bayarkan memang lebih mahal daripada seandainya kami jadi menginap di 47M atau Red Inn Cabana, namun semua sen itu sesuai dengan kualitas hotel.  Kami memperoleh sebuah kamar luas untuk tiga orang dengan tiga tempat tidur tunggal dan kamar mandi dalam, serta juga memperoleh sarapan.  Yah, yang penting ibu kami nyaman!

Berikut sejumlah foto sudut-sudut hotel ini:

Tempat-tempat yang bisa dilihat di Georgetown

Georgetown adalah sebuah kota tua yang disarati berbagai bangunan bersejarah yang menunjukkan keragaman penduduk Penang – yang beretnis Cina, Melayu, India, Aceh dan lain-lain – dan juga jejak-jejak kolonial sejumlah bangsa Eropa.  Kotanya tidak terlalu besar – bila Anda bugar, cukuplah berkeliling wilayah inti dan wilayah penunjang tempat warisan dunia ini dengan berjalan kaki.  Tidak semua bangunan kuno telah direnovasi – banyak juga yang kosong dan dibiarkan termakan waktu.

Di hari pertama, setelah memastikan kami menemukan penginapan, kami pun berjalan kaki menuju wisma Cheong Fatt Tze yang dikenal juga sebagai The Blue Mansion karena warna biru dindingnya yang khas.  Sebagai peringatan, warna biru itu berasal dari indigo, yang mudah luntur, tidak seperti cat.  Jadi jangan menempel-menempel ke dinding yah, kalau tidak mau mendadak berubah menjadi Smurf.

Wisma megah ini tadinya dimiliki Cheong Fatt Tze, seorang pengusaha kaya-raya yang memulai segalanya dari nol sebagai seorang migran Hakka miskin.  Kerajaan bisnisnya yang dirintis di Batavia membuatnya memiliki cukup kekayaan untuk membangun ‘ibukota kekaisaran’-nya di Penang.  Sayangnya, setelah ia wafat, hartanya terbagi-bagi di antara para istri dan anak-anaknya yang berjumlah banyak.  Ia berpesan agar wisma birunya tidak dijual sebelum istri ketujuhnya yang merupakan cinta sejatinya dan anak mereka tiada.  Akhirnya, pada tahun 1989, dalam keadaan sudah rusak berat, wisma biru itu pun ‘bebas’ untuk dialihtangankan.  Pemerintah lekas mengambil alih dan meremajakan wisma tersebut menjadi salah satu ikon Penang.

Tiket masuk museum ini adalah 12RMTidak boleh berkeliaran sendiri, melainkan harus disertai pemandu, dan tidak boleh memotret selain di halaman depan.  Dalam sehari hanya ada tiga kesempatan berkunjung: pukul 11, 13.30, dan 15.00.  Yang datang pukul 15.00 bisa ikut menikmati ‘high-tea’ dengan hidangan dan kue-kue ala ‘nonya’ (peranakan) dengan menambah 16RM.

Sayangnya, tur berpemandu ini memang menjadikan kita kurang bebas, selain pemandunya yang menurut saya terlalu banyak berbicara tanpa dibantu pajangan atau sarana lain yang bisa membuat kita lebih memahami ceritanya.  Ruang-ruang wisma juga kebanyakan kosong, dengan hanya sejumlah barang temuan di rumah itu yang dipamerkan.  Agak sedih juga melihat barang-barang usang yang pernah menjadi penanda kehidupan semarak di wisma tersebut, mulai dari topi bayi sampai pakaian Cheong Fatt Tze.

Mungkin salah satu sebab lain akses di wisma ini sedemikian terbatas adalah karena sebagian ruangan diubah menjadi kamar hotel.  Si pemandu giat sekali mempromosikan kamar-kamar yang tergolong mahal itu.  Hanya satu kamar, bekas dapur, yang boleh kami lihat di hari itu.  Apik dan unik juga, tapi… nggak kuat ah di kantong!  Hehehe.

Ruang terakhir yang kami kunjungi adalah tempat penjualan suvenir.  Khawatir memboroskan uang di hari pertama, saya tidak membeli apa-apa.  Namun saat keluar wisma, hujan deras turun.  Nah… ini juga catatan bila berkunjung ke Penang.  Cuacanya cukup mudah berubah!  Kalau tidak membawa payung, di minimarket saya membeli sebuah seharga 13 RM.  Sambil menunggu hujan berhenti, saya mengobrol dengan penjaga gerbang, seorang Melayu yang berkeluh-kesah tentang betapa orang-orang Cina telah menguasai berbagai hal di Malaysia.  Saya diam saja, enggan menambah-nambahi perasaan kesenjangan yang membebani sang bapak yang sebenarnya baik hati.  Ia memberi petunjuk kepada kami di mana bisa ditemukan makanan yang enak dan halal.

***

Kalau Anda senang melihat-lihat arsitektur tempat-tempat ibadah, maka Georgetown adalah ‘surga’ bagi Anda.  Ibaratnya, kesandung saja pasti ketemu tempat ibadah, entah itu kelenteng, kuil Hindu, masjid, gereja, dengan berbagai gaya.  Sebagian berdiri bersebelah-sebelahan tanpa menunjukkan tanda-tanda terusik.

Berikut beberapa objek memikat yang paling terkenal, yang saya kelompokkan berdasarkan kedekatan mereka satu sama lain:

–          Town Hall, City Hall, dan War Memorial yang berdiri dekat laut.  Sejajar dengan tepi laut juga terdapat deretan pepohonan dan bangku-bangku di mana kita bisa duduk beberapa lama sambil mengamat-amati laut dan kesibukan pelabuhan.  Berjalan sedikit menyusuri Jalan Tun Syed Sheh Barakah, kita akan tiba di sisa benteng ala Eropa, Fort Cornwallis (tiket masuk = 2RM).  Terus sedikit lagi, sampai di Menara Jam, dan kawasan bisnis dan pemerintahan yang sudah jauh lebih rapi daripada daerah-daerah Georgetown lainnya.

Town Hall dan City Hall yang terletak berdampingan.

Gerbang masuk Fort Cornwallis.

Menara Jam.

–          Menyusuri Lebuh Pantai, berbeloklah ke Lebuh Gereja.  Di sini berdiri Museum Peranakan (tiket masuk = 10RM) yang sangat saya rekomendasikan!  Bangunannya memang tidak sebesar Blue Mansion, tapi isinya jauh lebih kaya, menampilkan sepintas kehidupan kaum peranakan di Penang.  Kita juga bebas berkeliaran sendiri dan memotret.  Ruang piano yang mewah bisa dipesan untuk acara tertentu seperti pertunangan dan lain-lain.  Di belakang museum juga ada kuil keluarga yang terkesan agak ‘dingin’.  Baru belakangan saya tahu di belakang dinding altar ada sumur yang konon menyimpan kisah-kisah seram.  Hmmm, untung saya baru tahu sesudah berkunjung ke sana!

Kuil keluarga, terlihat dari jendela lantai dua museum.

Selasar yang menghubungkan bangunan utama dengan ruang piano dan dapur.

–          Cathedral of the Assumption dan St. George’s Church, yang berdiri mengapit Museum Negeri Pinang di Lebuh Bishop.  Jujur, dari luar, kedua gereja ini tidak tampak terlalu mencolok, setidaknya dibandingkan gereja-gereja lain yang pernah saya sambangi. Namun entahlah kalau sebelah dalamnya – yang sayangnya tak sempat saya tengok.  Jika berbelok ke arah Jalan Masjid Kapitan Keling, di persimpangan dengan Lorong Stewart bisa kita jumpai Kelenteng Kwan Im.

–          Di daerah perpotongan Lebuh Chulia dengan Jalan Masjid Kapitan Keling, bisa kita jumpai Kuil Hindu Sri Mahamariamman (yang lebih mudah diamati dan difoto dari sisi yang menghadap ke Lebuh Queen) dan Masjid Kapitan Keling.  Di depan Sri Mahamariamman, saya tertegun melihat seorang wanita Cina tua yang kebetulan lewat menghaturkan sembah ke arah kuil.  Ini kali kedua saya melihat yang semacam ini di Malaysia – kali pertama di Batu Caves.  Ngomong-ngomong, kawasan ini sudah tergolong Little India.  Sempatkan waktu mencoba ikut menikmati irama kehidupan di kawasan yang semarak ini.

Kuil Sri Mahamariamman terlihat dari Lebuh Queen.

Kawasan pejalan kaki yang nyaman di Jalan Masjid Kapitan Keling.

–          Kuil Kongsi Yap, Dr Sun Yat Sen’s Penang Base, dan Museum Islam terletak berdekatan di Lebuh Armenia.  Sayang saat saya ke sana, Museum Islam masih tutup.  Berbalik ke Lebuh Acheh, saya melihat-lihat Masjid Melayu Lebuh Acheh.

Kongsi Yap.

Banyak papan penunjuk jalan semacam ini di Georgetown. Tidak perlu khawatir tersesat.

Pangkalan Dr Sun Yat Sen di Penang.

Museum Islam.

–  Belok ke Lebuh Cannon, saya mengunjungi Kongsi Khoo (tiket masuk = 10RM, bonus 2 kartu pos).  Yang satu ini juga sangat menarik untuk dikunjungi.  Kumpulan bangunan yang dimiliki oleh klan yang kaya-raya ini dilestarikan dengan baik, termasuk panggung opera.  Bagian bawah bangunan utama (Leong San Tong) diubah menjadi museum, di mana kita juga bisa mencicipi rekonstruksi pengalaman menonton opera Cina seperti zaman dahulu.  Ada pula tiruan dapur zaman dahulu (yang dindingnya berlapis indigo juga) dan diorama penghuni yang sedang bersantap.

Bangunan utama Kongsi Khoo.

Panggung Opera di pekarangan tengah.

Pintu masuk museum Kongsi Khoo.

Nah, ini baru sebagian kecil dari yang bisa Anda lihat di Georgetown.  Tempat-tempat makannya saja belum kami bahas.  Pokoknya, tur berjalan kaki seharian di Georgetown akan membuat Anda bisa melihat dan merasakan banyak sekali hal, termasuk yang kerap luput dari perhatian orang banyak.  Apalagi ketika seperti saya, Anda berkesempatan menyusuri jalan-jalan Georgetown di pagi hari sesudah hujan.  Hmm… nyaman sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: