Kobe Desember 2012

This post is about Japan

Kobe adalah sebuah kota di tepi laut yang merupakan salah satu pelabuhan utama Jepang sejak dahulu.  Bahkan, pernah ada suatu masa ketika di Kobe-lah berpusat tempat tinggal dan industri orang-orang asing di Jepang.  Tak heran bila kota ini diwarnai jejak-jejak kebudayaan yang campur-aduk namun harmonis, mulai dari Eropa, Cina, India, Muslim, bahkan Yahudi.  Meski sempat hancur akibat gempa besar pada tahun 1995, Kobe kini telah bangkit kembali menjadi kota yang cantik dan patut dikunjungi bila Anda menyambangi daerah Kansai.

kobe01

More

Takarazuka: Tempat Asal sang Empu Manga

This post is about Japan

Di sekitar Osaka, ada sejumlah kota lain yang menarik untuk dikunjungi.  Oleh karena tahun sebelumnya saya telah mengunjungi Kyoto dan Nara, tahun 2012 lalu saya memutuskan untuk melangkahkan kaki ke Takarazuka dan Kobe.  Eh, tidak tepat juga sih dibilang melangkahkan kaki.  Sebenarnya saya naik kereta, hehehe.

Oleh karena berniat menyambangi kedua kota itu dalam sehari, pagi-pagi saya sudah berangkat meninggalkan penginapan di Momodani menuju Takarazuka.  Niat utama saya adalah mengunjungi museum empu manga, Tezuka Osamu, sekaligus melihat-lihat teater Takarazuka Revue, kelompok drama kenamaan yang seluruh pemainnya berjenis kelamin perempuan.

Ada situs web yang mengatakan, paling enak ke Takarazuka naik kereta Hankyu karena stasiunnya lebih dekat ke Teater Takarazuka Revue.  Tapi untuk menaiki kereta itu saya harus meninggalkan jalur JR Loop Osaka.  Tidak mau ambil pusing, saya ambil saja kereta JR dari stasiun Osaka langsung ke Takarazuka, dengan membayar tiket sebesar 320 yen.

Image

More

Sekilas Osaka, Desember 2012

This post is about Japan

Kansai International Airport!

Ah, akhirnya.  Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang—karena pakai transit segala beberapa jam di Kuala Lumpur, maklumlah pakai AirAsia—akhirnya saya menginjakkan kaki juga di bandara yang punya kode nama KIX ini.

osaka01

Saat itu 21 Desember 2012.  Udara di dalam bandara yang sejuk tidak mempersiapkan saya untuk udara dingin menggigit di luar.  Ah, ternyata suhu dalam bandara tadi adalah produk mesin pengatur suhu udara.  Pikiran yang sempat meremehkan “Ah, apakah musim dingin hanya segini suhunya?” kontan terhapus.

More

Buddha Raksasa dan Rusa di Nara

This post is about Japan

Ketika kita membayangkan segenap Jepang tak ubahnya bagai megapolitan Tokyo, di mana teknologi tinggi bertubrukan ramai dengan unsur-unsur tradisional yang tampak mewah seperti Asakusa yang ramai pengunjung, terlupa oleh kita bahwa masih banyak daerah di Jepang yang berupa hutan, pedesaan, dan persawahan.  Itulah yang tampak oleh kami dalam perjalanan kereta dari Kyoto ke Nara yang tidak memakan waktu begitu lama (menurut ukuran orang Jakarta, tentu saja).  Rumah-rumah yang tampak sederhana terkadang diselingi oleh bangunan yang hanya bisa disebut gubuk.  Orang-orang berjalan kaki atau bersepeda melintasi pematang sawah.  Ini sisi Jepang yang bagi saya juga menarik.  Di luar segala hiruk-pikuk kota-kota besarnya, Jepang yang permai masih luas terhampar.  Ah, ya, meskipun satu kali terlihat oleh kami pengguna sepeda yang dengan andalnya memainkan telepon genggam dengan sebelah tangan seraya terus menggenjot sepedanya…

More

Orang Indonesia di Kyoto

This post is about Japan

Bukan, judul ini bukan tentang kami.  Meski, ya, benar sih.  Kami memang bepergian ke Kyoto.  Melainkan tentang seseorang yang tanpa kami duga-duga bertemu dengan kami di bekas ibukota kekaisaran Jepang tersebut.

Kami tiba di Kyoto pagi-pagi sekali.  Bis malam yang kami tumpangi dari Tokyo tiba tepat waktu sesuai perkiraan yang diberikan kepada kami.  Bis yang nyaman, jalanan yang mulus, dan cara mengemudi yang meyakinkan membuat kami tidak terlalu lelah meski telah menghabiskan waktu semalaman di bis.  Agak pegal sedikit sih iya, namanya juga naik kendaraan berjam-jam.

Kami diturunkan di seberang stasiun pusat Kyoto.  Di sini jalur-jalur kereta antarkota dan dalam kota bertemu.  Bangunannya besar dan modern.  Kami pun melangkah ke stasiun tersebut guna membersihkan diri sejenak di kamar mandi.  Hmmm… ternyata kamar mandinya biasa-biasa saja.  Jangankan washlet, tisu pun tidak gratis.  Selain kami, sejumlah penumpang lain juga tampak mencuci muka, menyikat gigi, dan berdandan di kamar mandi.

Satu per satu orang mulai bermunculan di stasiun yang masih sepi, meski tetap belum banyak kegiatan berarti.  Orang-orang belum lagi berangkat kerja atau sekolah.  Kami mampir ke McD’s cabang stasiun itu untuk sarapan.  Mata menjadi melek penuh ‘dihajar’ kopi panas yang disajikan.  Setelah perut terganjal, kami pun mencari-cari loker untuk meletakkan tas-tas kami yang berukuran besar.  Apa boleh buat, seperti juga di penginapan-penginapan lain, baru di atas pukul dua siang nanti kami boleh check-in.  Lagipula, malas juga ya rasanya bolak-balik pakai ke penginapan dulu untuk menitipkan tas sebelum cabut lagi.

Salah satu stasiun kereta di Kyoto.

More