Angkor Wat, Warisan Dunia yang Bikin Gosong

This post is about Cambodia

Bagian 1: Gosong di Angkor

Bagian dari gerbang barat Angkor Wat.

Saya pastinya bukan orang Indonesia pertama yang mengunjungi Angkor. Saya pastinya juga bukan orang Indonesia pertama yang menulis tentang kunjungan ke Angkor. Dan, tentu saja, saya bukan orang Indonesia pertama yang begitu terpukau oleh pesona kompleks kota kuno tersebut.

Tapi simpan dulu keterpukauan itu. Jalan ke sana panjang dan tak satupun langkahnya bisa dilewatkan. Langkah pertama saya di Angkor tidak dimulai dengan keterpukauan. Saya memulai dengan mencari tuktuk yang bersedia mengantar saya berkeliling kompleks Angkor. Pengendara tuktuk saya, Chhrong, menyarankan agar saya membeli tiket terusan tiga hari. Well, jauh-jauh saya datang sampai nyaris menggelandang di Siem Reap, masa cuma untuk melewatkan sehari di Angkor? Maka, jadilah saya membeli tiket terusan seharga 40 USD. (Adapun harga tiket harian adalah 20 USD dan tiket terusan seminggu adalah 100 USD.) Mahal? Buat saya tidak. Memangnya saya bisa setiap hari bisa ke Angkor?

Yang kedua, bersiap melawan panas. Waktu saya di sana, suhu harian Angkor 30˚ C. Yang bilang neraka bocor di Jakarta, cicipi saja panas di Angkor. Ini panas yang tidak pandang bulu, menyengat kulit, bikin pusing, dan menggosongkan Anda. Sedia sunblock yang mumpuni dalam jumlah banyak kalau Anda tidak mau pulang dengan belang tiga warna seperti yang saya alami. Oh iya, tanah di Siem Reap dan Angkor adalah tanah merah yang mudah sekali terangkat ke udara dan kering. Mungkin selain topi, pertimbangkan juga untuk memakai masker.

Di pos tiket, pengunjung dipotret satu persatu dan selanjutnya wajah mereka akan dicetak di tiket. Dengan hasil jepretan yang lebih parah daripada foto paspor saya (habis si mbak tiket tidak pakai aba-aba), masuklah saya ke dalam kompleks Angkor. Di sini biasanya tuktuk yang menawarkan paket akan langsung membawa Anda ke gerbang barat Angkor Wat. Kalau Anda memakai sepeda sewaan, pastikan parkir di tempat yang aman. Biasanya laskar pedagang akan menawari Anda tempat untuk parkir, tapi Anda harus membayar 1-2 USD—setara dengan harga sewa sepeda seharian!

Tiket masuk saya. Petugas menyarankan setelah masa berlakunya habis, sobek saja tiketnya. Katanya untuk mencegah tiket digunakan oleh orang lain.

Yang penting juga, bawalah air minum. Di kompleks Angkor, air mineral 1.5 liter rata-rata dihargai 1 USD. Kalau saya sih mendingan uangnya dipakai untuk membeli buku (fotokopian) serba-serbi Angkor supertebal yang banyak dijual di pelataran atau kaus untuk ganti.

Kalau Anda tipe pelancong yang senang pergi ke tempat-tempat cantik dan berpose di sana, Angkor cocok untuk Anda… dengan syarat minus gerombolan turis yang juga datang. Saya tipe pelancong yang take things slow dan sejak awal saya katakan ini kepada Chhrong, jadi dia tidak usah mengejar-ngejar saya untuk segera ke candi berikutnya dalam jadwal.

Tapi ya itu tadi: saya harus bertarung melawan panas superterik. Hmmmph.

Biar panas yang penting gaya.

Bengong di Angkor Thom nih ceritanya.

Bagian 2: Tenda Hijau

Tidak, tidak. Judul tulisan ini tidak menyindir lagu Teh Desy Ratnasari. Faktanya, inilah yang saya jumpai di banyak candi di kompleks Angkor ketika saya berkunjung ke sana, akhir Januari 2012 lalu. Bukan, bukan. Angkor bukan sedang menggelar hajatan. Ia hanya sedang mempertahankan dirinya agar tetap eksis. Tsaaah!

Tuh lihat. Pas di depan kan? It practically ruins the whole picture. 😦

Ya, sebuah tenda terpal hijau menclok dengan manis tepat di depan gapura utama di Angkor Wat. Bayangkan Anda ada di posisi saya: Angkor ada dalam bucket list Anda selama bertahun-tahun, Anda awalnya datang ke Kamboja tanpa tujuan jelas, dan ketika Anda sudah begitu bersemangat menghabiskan 40 USD untuk tiket terusan tiga hari, ternyata tenda hijau itu menghancurkan mimpi Anda.

Tapi yaaah saya harus angkat topi kepada pihak yang mau merestorasi Angkor. Kompleks kota peninggalan abad ke-12 tersebut bukan cuma milik Kamboja, tapi juga milik dunia. Wajar dong kalau restorasinya didanai dunia (antara lain Jepang dan Korea) dan wajar juga dong kalau proses pengerjaannya yang akan terjadi sepanjang 2011-2015 harus dimaklumi oleh warga dunia.

Tangga curam menuju tingkat teratas. Tidak semua jalur boleh didaki lho! Silakan mendaki lewat jalur resmi. Oh, dan yang mengenakan rok tidak boleh naik.

Angkor Wat, dilihat dari tingkat teratas.

Relief penari Apsara. Di Siem Reap, pertunjukan tari Apsara biasanya dimulai dengan jamuan makan malam. Keduanya memakan biaya selangit buat pelancong kere macam saya.

Yang paling membuat saya makan hati dan ingin menjambak-jambak rambut (rambut orang lain tentu saja, bukan rambut saya) adalah keberadaan tenda serupa di candi favorit saya, Ta Prohm. Saya tidak datang ke Ta Prohm untuk mencari jejak Tante Angelina Jolie atau mau pecicilan di situ supaya diadopsi; saya datang untuk mengagumi pertarungan dua titan—kayu dan batu. Sayangnya, separuh bagian depan Ta Prohm ditutup untuk restorasi. Bagian tengahnya pun sedang dipugar karena ada pekerjaan perbaikan sangga. Belum lagi turis-turis lain yang celingak-celinguk mencari titik-titik unik karena punya pikiran yang sama dengan saya. Beuuuh.

Kayu versus batu ala Ta Prohm.

Restorasi di Ta Prohm.

Salah satu detail restorasi: memperkuat sangga supaya kayu tidak merusak batu.

Di gerbang Ta Prohm, mata saya menangkap figur mengagumkan yang menggambarkan tarik tambangnya para dewa dengan memakai naga dalam kisah penciptaan samudera. Di pusat kota Siem Reap, banyak restoran dan galeri yang memajang figur serupa.

Seniman lokal bermodal cat air dan kertas gambar. Bravo!

Saya bolak-balik mengingatkan diri bahwa saya bukanlah satu-satunya di sana. Bahwa saya ada di sana untuk menghormati keluhuran budaya nenek moyang bangsa Khmer. Bahwa, sebagai warga dunia, saya juga ahli waris kompleks ini.

*uhuk*

Bagian 3: Menunggu Pagi di Angkor Wat

Mungkin ini ironi terbesar yang saya cerna di kompleks Angkor: ada kalanya saya lebih menyukai batu daripada manusia karena batu tidak pernah berkeberatan.

Hari kedua kembara Angkor saya dimulai pukul 04:30. Tujuannya hanya satu: menyaksikan matahari terbit di Angkor Wat. Ketika saya sampai di pos pemeriksaan tiket, baru saya menyadari kebodohan saya. Saya tak punya senter, Angkor tidak dilengkapi dengan lampu, dan sudah begitu banyak pelancong yang datang lebih dulu. Nah, di sinilah momen ketika nekat dan sok tahu bertemu. Saya dan teman sekamar saya, Kitty, maju terus sampai masuk ke tingkat ketiga, tingkat tertinggi Angkor Wat.

…Dan mendapati tidak ada siapapun di sana.

Subuh di Angkor Wat.

Ada sih dua petugas yang berjaga di tangga menuju stupa tertinggi, tapi mereka bilang kalau saya mau naik, saya harus membayar. Ogah dong. (Belakangan, ada rombongan bule yang dipersilakan naik begitu saja oleh pak petugas. Grrr… meremehkan warga dunia ketiga nih.) Kembali ke luar? Memang sih tidak angker, tapi kalau Anda melihat ke lorong-lorongnya, Anda akan mendapati patung-patung Buddha tanpa kepala. Saya lebih dagdigdug karena saat itu gelap, mendung, dan kami terpisah dari rombongan. Daripada hantu, saya lebih takut kesandung dan patah kaki, atau minimal bonyok, karena jatuh di negeri orang.

Maka, ngejogroklah saya di salah satu pojokan di tingkat ketiga. Waktu itu pukul 05:00. Saya dan Kitty sama-sama (sok) merenung. Suara yang ada cuma angin dan keresak pasir. Dikelilingi batu, bukti kebesaran masa lalu bangsa Khmer, saya merasa begitu kecil. Inilah bebatuan yang bertahan selama delapan abad lebih. Sudah berapa juta kali ya mereka menyaksikan matahari terbit dan tenggelam? Apa ya yang mereka pikirkan tentang keturunan pembuatnya? Duuh, kalau di seberang saya tidak ada si teman sekamar, saya nangis deh.

Menjelang matahari terbit, disaksikan dari dalam Angkor Wat.

Menjelang pukul 06:00, di langit pelan-pelan semburat kemerahan muncul seperti sayatan. Baru deh saya berani kembali ke gerbang barat. Mayoritas pemburu matahari terbit berkumpul di dekat kolam di sebelah kiri gerbang. Dari sanalah ribuan kamera menjepret berjamaah untuk mengabadikan momen terbitnya matahari dari balik Angkor Wat.

Saya melewatkan hal itu, tapi saya menunggu matahari terbit bersama bebatuan Agkor Wat. Fair enough.

Bagian 4: Angkor dan Publicity Stunt

Dari sekian banyak hal mengesankan di kompleks Angkor, ada satu yang meyakinkan saya untuk menempelkan stempel ‘not worth it.’ Hal tersebut adalah balapan, antrian, dan kerumunan massa pemburu matahari terbenam di salah satu candi Angkor Thom. Demi apa yaaa, nggak lagi-lagi deh.

Pertama, untuk sampai ke candi di puncak bukit tersebut, Anda harus mendaki jalan yang sebetulnya cukup lebar untuk dipakai Power Ranger berjejer, tapi karena banyak saingan, Anda harus mahir selap-selip. Dan percayalah, saya cukup terlatih di jalanan Jakarta untuk itu. Kedua, sampai di puncak, Anda harus mengantri dan mematuhi instruksi petugas. Inti instruksinya bahwa cuma ada dua lajur untuk naik dan itupun tidak semua naik bersamaan. Ya ngerti sih tujuannya. Masalahnya, di puncak candi, pengunjung sudah menyemut… hanya di satu sisi candi. Ya itu juga saya mafhum—semua orang pasti ingin tempat terbaik ketika matahari benar-benar terbenam. Namun, percayalah, Anda masuk hitungan pengunjung menyebalkan kalau Anda ke sana hanya untuk berakhir dengan sibuk memainkan game di iPad Anda.

Inilah matahari terbenam yang disaksikan dari salah satu candi Angkor Thom.

Selain itu, berhati-hatilah kalau ada warga lokal yang mencegat Anda di salah satu pintu Angkor Wat sambil mengulurkan dupa. Dupa tersebut tidak gratis! Setelah Anda menerimanya, Anda diminta membungkuk tiga kali di depan patung Buddha, menancapkan dupa di pot, daaan… memberikan uang persembahan yang, katanya, akan diberikan kepada biksu. Karena saya pikir hal tersebut adalah bagian dari kearifan lokal, saya lakukan saja. Namun, saya sempat manyun ketika ditodong uang sumbangan. Ya sudah, sisa VND pun saya serahkan semua sebelum melengos pergi. Silakan hitung sendiri ya, pak tukang dupa.

Waspadalah!

Di lain pihak, Angkor sendiri sudah menjadi korban publicity stunt. Mana ada orang ke Kamboja tanpa ingin mengunjungi Angkor? Maka, saya pikir sedikit persiapan tidak ada salahnya (tidak seperti saya). Cari peta Angkor dulu sebelum ke sana (terutama kalau Anda mau berkeliling pakai sepeda). Kalau pakai tuktuk, pastikan Anda tidak melewatkan candi-candi yang bagus. Kalau mau sedikit curang, nempel saja ke salah satu rombongan dan dengarkan celoteh pemandu wisata. Lumayan untuk nambah ilmu, hehehe. Oh, dan satu lagi, bersiaplah merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan pangan karena nyaris semua restoran di kompleks Angkor pasang harga dua kali lipat dari harga di luar kompleks. Ah, tapi yang terakhir itu sih agaknya terjadi di semua tempat wisata ya?

Salah satu sudut Restoran Ta Prohm, dekat Ta Prohm.

Syukurnya, tidak ada pengunjung yang cukup sinting menulis graffiti di Angkor. Tepuk tangan untuk semua!

Bagian 5: Wajah-wajah Bayon

Salah satu ikon Angkor selain Angkor Wat (yang ada di bendera Kamboja) dan Ta Prohm (tempat Tante Angelina Jolie pecicilan pakai spandex hitam) adalah Bayon, sebuah candi di kompleks Angkor Thom. Dari kejauhan, Bayon terlihat seperti tumpukan sarang semut raksasa yang menjulang ke langit. Tapi tunggu.

Bayon dari kejauhan.

Yang paling menarik dari Bayon adalah sejarahnya sebagai candi yang pernah dipakai baik sebagai tempat suci umat Buddha maupun Hindu. Reliefnya banyak menceritakan kisah mitologi Hindu, tetapi lihat dulu wajah siapa yang terpahat di setiap menara Bayon.

Ta-daaa!

Inilah alasan mengapa pengunjung tidak dianjurkan duduk atau bersandar ke balustrade Bayon: celah yang sangat sempit antara gapura dan pendopo tengah.

Bagian 6: Candi Perempuan Kakak Angkor

Phnom Dei.

Stupa utama Banteay Srey.

Salah satu bagian dari kompleks Angkor yang populer adalah Banteay Srey. Letaknya sekitar setengah jam perjalanan dengan mobil atau tuktuk. Berbeda dengan Angkor Wat dan Angkor Thom yang panas menyengat, Banteay Srey terletak di kaki gunung Phnom Dei sehingga udaranya lebih sejuk. Yang menarik, kompleks ini ternyata diperuntukkan bagi perempuan. Ya, “srey” itulah yang kita baca dalam Bahasa Indonesia sebagai “sri.”

Borobudur masuk lho di daftar ini.

Kompleks candi Hindu Siwa ini punya banyak ukiran rumit sekaligus cantik. Reliefnya banyak memuat sosok perempuan—mungkin karena itu dia disebut candi para perempuan. Lagi-lagi, banyak bagian candi ini yang tertutup buat pengunjung karena sedang direstorasi. Namun, sisi positifnya adalah saya bisa memotret tanpa harus bolak-balik bilang permisi atau menunggu orang berlalu dari obyek yang ingin saya potret. Pengaturan arus pengunjung sejak mulai masuk, berada di dalam, dan keluar Banteay Srey sampai ke area suvenir sendiri sangat rapi. Acung jempol deh buat yang satu ini.

Detail relief di Banteay Srey. Saya suka berlama-lama mengamati relief ini.

Ensembel yang terdiri dari penyintas ranjau darat banyak ditemukan di halaman beberapa candi, termasuk Banteay Srey. ‘We want to live with dignity, so we stop asking for money’, tulis mereka.

Bagian 7: Candi-candi Roluos

Kompleks terjauh dari pusat Angkor adalah kelompok candi-candi Roluos yang terletak di Banteay Meanchey, provinsi yang jaraknya sekitar 40 km dari Siem Reap. Karena tempatnya yang terpisah lumayan jauh, kompleks ini jauh lebih sepi dibanding Angkor. Waktu menuju ke sana, saya dan Kitty si teman sekamar sempat dagdigdug. Pasalnya, mood Chhrong masih jelek selepas kami membatalkan jadwal di Danau Tonle Sap. Jalan menuju kompleks Roluos juga sepiii sekali, sampai kami berpikir jangan-jangan kami ini mau diculik.

Jalan menuju kompleks Roluos.

Ada tiga candi yang wajib dikunjungi dalam kelompok ini, yaitu Lo Lei, Bakong, dan Preah Ko. Berbeda dari candi-candi di kompleks Angkor, ketiga candi ini mengombinasikan penggunaan bata merah (seperti Banteay Srey) dan batu. Saya tidak tahu apa-apa tentang itu, tapi dasar hoki, kebetulan saya ke sana dengan mengenakan kaus berwarna kontras. Beberapa foto yang dijepretkan Kitty sukses deh terpajang di album kenangan saya. Hal ini mungkin bisa jadi pertimbangan buat Anda yang hobi berfoto sambil mejeng. 🙂

Candi-candi Roluos ini umurnya seabad lebih muda daripada Banteay Srey dan tiga abad lebih tua daripada Angkor. Plus, mereka beraliran Hindu. Waktu saya berkunjung, beberapa sling baja mengikat tubuh bangunan di Lo Lei untuk menguatkan strukturnya. Ngeri deh membayangkan apa yang terjadi (dan apa yang hilang) kalau dia roboh. Sementara itu, Bakong sedang direcoki beberapa kerja restorasi, terutama pada bagian menara penjaganya. Yang unik, kalau di Bakong banyak ditemukan patung singa, tepat di bagian muka Preah Ko ditemukan patung lembu Nandi, tunggangan Dewa Siwa. (Preah Ko dalam Bahasa Khmer berarti ‘lembu suci.’) Ya lucu saja kok kompleks candi yang dikonsekrasikan untuk lembu dijaga oleh singa. Oh, dan kalau diingat-ingat, mirip juga ya sejarah candi-candi Roluos yang Hindu dan Angkor yang Buddha dengan Prambanan dan Borobudur kita, hehehe.

Sling baja mengikat Lo Lei.

Singa penjaga di Bakong.

Preah Ko. Karena sepi, mudah mengambil gambar di sini. 🙂

Kontras, kan?

Written and photographed by Tukang Kesasar

http://twitter.com/thranduilion

Mendadak Kamboja

This post is about Cambodia

Bagian 1: Menyeberang di Bavet

Akhir Januari lalu saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya: bepergian tanpa itinerary. Saya berangkat hanya membawa kaus empat potong, sejumlah uang USD yang bisa ditukar dari pengambilan maksimum di ATM dalam sehari, tiket boleh booking dua hari sebelum berangkat, dan paspor. Ibu saya sampai bilang bahwa saya seperti anak kecil yang ngambek dan kabur dari rumah. Tapi yaaah semakin usia Anda bertambah *uhuk*, semakin berkuranglah kesempatan Anda untuk melakukan hal semacam ini. Kapan lagi kalau bukan sekarang?

Perhentian pertama saya adalah Saigon, Vietnam. Saigon yang saya tahu ternyata sudah jauuuuh sekali berbeda. Ia sekarang bersolek: kota yang penuh dengan bangunan menjulang dan kendaraan. Mungkin satu yang tidak berubah, yaitu poster Bac Ho (Paman Ho) di mana-mana. Yah tapi paling tidak belum sampai taraf Pyongyang dan poster keluarga Kim-nya deh. Beberapa hari di Saigon, saya mulai mati gaya. Mau ngapain lagi ya?

Cap-cip-cup-kembang-kuncup, akhirnya saya putuskan untuk menyeberang ke Kamboja saja. Sialnya, karena saya di Saigon pada saat musim liburan dan masih dalam  suasana libur Imlek (yang bisa berlangsung selama dua minggu), tiket bus langka. Saya harus berkeliling Pham Ngu Lao, De Tham, dan Bui Vien di Quan (Distrik) 1 untuk mencari selembar tiket dan akhirnya dapatlah tiket seharga 11 USD untuk rute Saigon-Phnom Penh.

Jalan Pham Ngu Lao, Saigon. Bus lintas negara biasanya parkir di sini.

Bus yang saya naiki untuk masuk Kamboja adalah bus milik Sorya, salah satu operator bus tersenior di Kamboja. Bus lintas Negara semacam ini biasanya bus berpendingin udara dengan karoseri penumpang di atas dan kargo di bawah. Bus berangkat dari Pham Ngu Lao pukul 9:00. Setelah sekitar dua jam, sampailah bus di Bavet, kota perbatasan Vietnam dan Kamboja yang terkenal dengan kasino-kasinonya. Paspor penumpang dikumpulkan oleh petugas bus, diserahkan kepada petugas di dalam balai imigrasi, dan penumpang diminta mengantri untuk mengambil paspornya. Pemegang paspor non-ASEAN wajib menyediakan 20 USD sebagai pembayaran visa. Di sini saya mendapat kejutan menyenangkan, yaitu tidak perlu membayar visa. Hidup Indonesia!

Balai Imigrasi di Bavet. Kalau Anda dari Vietnam, Anda tidak perlu menurunkan bawaan dari bagasi karena tidak ada pemeriksaan dari pihak Kamboja. Namun, bersiaplah melakukan hal sebaliknya kalau Anda dari Kamboja dan ingin masuk Vietnam.

Di dalam Balai Imigrasi, saya harus pasang telinga dengan cermat. Pasalnya, petugas pemeriksa paspor memanggil nama pemilik paspor tanpa pengeras suara. Secara umum, proses imigrasi hanya memakan waku sekitar 20 menit. Mungkin kalau tidak sedang musim liburan, bisa lebih cepat lagi ya?

Selepas dari Bavet, bus menyeberangi sebuah sungai kecil dengan menggunakan feri. Jangan khawatir, penumpang tidak perlu turun lagi kok. Beberapa penumpang yang sempat menggerutu langsung menghembuskan napas lega karena tidak harus menggotong-gotong tas mereka lagi. Saya? Lha wong cuma bawa satu ransel sekolah, hehehe. Nah, kalau Anda orang yang hobi tidur seperti saya, silakan menikmati kursi empuk bus dan memejamkan mata selama kurang lebih empat jam sampai bus tiba di Phnom Penh.

Dari arah sebaliknya, secara garis besar perjalanan dengan bus akan serupa. Namun, saya mencoba menggunakan bus malam untuk perjalanan kembali ke Saigon. Bus malam lintas negara umumnya tidak memiliki kursi, melainkan tempat tidur sebagai seat-nya. Sekali lagi, harganya seharusnya tidak banyak berbeda dengan bus siang hari. Jadi, kalau Anda membeli tiket, pastikan kisaran harganya antara 17-18 USD. (Saya termakan silat lidah petugas travel dan membayar 20 USD, 3 dolar lebih mahal dari tiket berangkat, grrr.)

Bus malam yang saya naiki. Dioperasikan oleh Virak Buntham. Sama seperti perjalanan berangkat, bus akan transit di Phnom Penh dan penumpang ditransfer ke bus yang lebih kecil.

Bagian dalam bus malam, seat 2-1. Seat-nya kurang lapang untuk orang yang tinggi seperti teman perjalanan saya, Alex, guru asal California yang bekerja di Shanghai. (Tapi lumayan ada eyecandy, hehehe.)

Bagian 2: (Nyaris) Terdampar di Phnom Penh

Apakah Anda pernah ngemper di Blok M atau terlunta-lunta di Kampung Rambutan demi menunggu bus yang tak pasti? *azeeek* Nah, demikian pula yang saya alami selepas turun bus yang membawa saya dari Saigon ke Phnom Penh. Kok bisa?

Pertama, saya datang ke Phnom Penh tanpa rencana jelas. Booking hotel tak ada, KHR pun tak punya. Uang kecil saya pun tinggal 8 USD. Mau tinggal di Phnom Penh dulu, saya kok ngeri melihat kerumunan pengendara tuktuk yang langsung semangat ’45 begitu melihat penumpang turun dari bus. Ketika sedang mencari ide di salah satu pojokan pool bus Sorya, mata saya menangkap tulisan Siem Reap di papan jadwal bus. Siem Reap, Siem Reap, Siem Reap… sepertinya pernah baca… Aha! Angkor! Ke sana saja!

Suasana di pool bus Sorya, Phnom Penh. Hampir semua bus lintas negara punya pool sendiri dengan tampilan seperti ini.

Saya pun membeli selembar tiket bus ke Siem Reap seharga 6 USD. Oh ya, Anda juga bisa membeli kartu SIM (telepon) yang bisa dipakai di Vietnam dan Kamboja dengan mudah di Phnom Penh. Salah satu kebodohan saya adalah baru mengetahui hal ini ketika sudah ada di atas bus ke Siem Reap.

Menunggu di pool bus di Phnom Penh (total saya dua kali melakukannya) bukanlah hal yang menyenangkan. Tempatnya defisit tempat duduk, penumpang bersaing dengan kargo, dan nyaris tidak ada prasarana bersantap dengan nyaman. Jajanan yang ada di tempat semacam ini tidak jauh-jauh dari rujak buah, kacang atau jagung rebus, dan roti segede lengan (mirip baguette Perancis yang disebut banh di Vietnam). Snack dalam kemasan biasanya impor dari Vietnam, hanya dijual di minimarket, dan harganya antara 0.5-1 USD. Namun, kalau Anda tipe orang yang kurang kerjaan seperti saya, Anda bisa membunuh bosan dengan mengamati orang di sekitar Anda.

Bus ke Siem Reap baru berangkat sekitar pukul 16:00 dari Phnom Penh. Itupun pakai menunggu bus di depannya penuh (siapa bilang ngetem cuma ada di Indonesia?) dan memutar dulu memasuki sebuah perkampungan Muslim, Khan Russey Keo, tanpa sebab yang jelas. Supirnya ingin pipis, mungkin. Bus Sorya kali ini lebih kecil dan lebih tidak nyaman dibandingkan bus dari Saigon ke Phnom Penh—mungkin karena hitungannya sudah bukan bus lintas negara.

Sebuah masjid di perkampungan Muslim di luar Phnom Penh.

Satu hal tentang Phnom Penh yang menarik perhatian saya adalah keberadaan taman-taman kota yang sangat memanusiakan warganya. Di seputaran Charles de Gaulle Boulevard, misalnya, trotoar-trotoarnya rapi dan bersih. Alat-alat kebugaran seperti sepeda statis dan slider banyak tersedia di taman. Sedikit banyak, hal tersebut mengingatkan saya pada taman di Pham Ngu Lao, tempat saya nongkrong pada sore hari dan memandangi cowok-cowok bersimbah peluh sedang berlatih semacam sepak takraw ala Vietnam. Yum!

Taman kota di dekat Night Market, Phnom Penh.

Tapi Tuhan memang baik. Ketika berhenti makan malam, ada seorang penumpang berkewarganegaraan Indonesia menyapa saya karena melihat kaus saya (kaus wajib jalan-jalan saya yang bertuliskan “I Survive Indonesia” :D). Jadilah selama dalam 6 jam perjalanan saya memiliki teman ngobrol. Siem Reap, here I come!

Saran #1: kalau Anda ke Phnom Penh dan tahan miris, sempatkanlah mengunjungi Museum Genosida Tuol Sleng, bukti kekejaman rezim paranoid Khmer Merah yang membantai hampir dua juta warganya sendiri pada periode 1970-an.

 Saran #2: sekarang ini sudah banyak operator bus yang mengoperasikan bus ekspres Saigon-Siem Reap via jalur baru. Jadi, Anda menghemat waktu sekitar empat jam karena tidak perlu berhenti di Phnom Penh untuk transfer bus. Tiketnya dapat diperoleh melalui berbagai operator tur di Saigon, misalnya di Tuan Travel (Bui Vien) dan Friends Tour (Pham Ngu Lao).

Bagian 3: Tuktuk Tengah Malam

Normalnya, bus dari Phnom Penh ke Siem Reap hanya akan memakan waktu sekitar 6 jam. Sekali lagi, normalnya. Nah, karena perjalanan saya adalah perjalanan yang tidak normal, durasi 6 jam tersebut molor menjadi hampir 8 jam. Alhasil, saya sampai di Siem Reap nyaris tengah malam. Apes? You bet.

Apes pertama: setibanya di pool bus Sorya di Phsar Leu, luar Siem Reap, saya bingung bagaimana mau menghubungi penginapan. Apalagi, saya ketempelan seorang pelancong dari China, Xu Yuan, dan dari Irlandia, Timothy. Nah, mereka berdua ini sama nekatnya dengan saya: datang ke Siem Reap pada saat arus liburan sedang tinggi tanpa persiapan booking hotel sama sekali. Teman ngobrol saya, Stevan, sudah booking kamar di Bou Savy Guesthouse, dan tuktuk penjemputnya sudah menunggu di pool. Saya pun meminjam ponsel Stevan untuk menelepon Jasmine Lodge, penginapan saya. Naaah, ternyata Jasmine Lodge membatalkan pemesanan kamar saya karena saya tidak datang pada hari tersebut dan tidak mengabari. Tapi karena sadar bahwa sebagian dari kekacauan ini adalah kekurangsiapan saya juga, saya cuma minta pihak Jasmine Lodge mentransfer saya ke penginapan lain. Alhasil, pergilah saya, Xu Yuan (yang memanggil dirinya sendiri Kitty—dari idolanya, Hello Kitty), dan Tim ke Number 9 Guesthouse dengan tuktuk.

Phsar Leu pada siang hari. Titipan motornya tak kalah dengan Indonesia ya. 🙂

Apes kedua: Number 9 Guesthouse ternyata terletak tidak jauh dari Sivutha Boulevard, pusat kota Siem Reap. Karena tidak tahu jalan, saya sempat ketar-ketir ketika tuktuk berbelok ke La Paix Hotel. Wuidiiih mewah nih, pikir saya, dan pasti menguras dompet. Entah untung atau apes (lagi), ternyata La Paix hanya patokan. Number 9 terletak di gang di belakangnya.

Tapiii.. ternyata hanya ada satu kamar tersisa di sana. Saya dan Kitty tidak ada masalah kalau harus berbagi kamar, tapi Tim? Akhirnya kami berdua menunggui Tim sampai berhasil menghubungi temannya yang sudah sampai sehari sebelumnya… dengan menggunakan wi-fi gratisan di lobi. Begitu Tim pergi, saya dan Kitty masuk ke kamar di lantai dua. Seperti kata pepatah, gembel tak bisa memilih (*uhuk* terjemahan bebas *uhuk*), kamar kami tipe kamar double bed berkipas angin. Saking capeknya, kami langsung nggeblak tidur dan baru menyadari masalah genting keesokan paginya: koneksi wi-fi tidak sampai ke kamar kami dan air kamar mandi macet!

Sekali lagi, ada hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini. Pengendara tuktuk yang mengantar dari Phsar Leu sampai ke Number 9 ternyata sigap membantu begitu tahu saya dan Kitty berencana untuk mengeksplorasi kompleks Angkor. Antara scam dan tidak, dia menyatakan kenal betul kompleks Angkor. Maka, siap deh saya memulai petualangan Angkor bersama Chhrong dan tuktuk saktinya.

Ta-da! Ini Chhrong, pengendara tuktuk saya. Teman-teman saya sih bilang dia pantas jadi—minimal—bintang sinetron di sini. 😀

 Saran: sepertinya hampir semua orang (kecuali saya ^^;) tahu bahwa bisnis tuktuk di Kamboja adalah bisnis yang penuh persaingan dan scam. Berhati-hatilah ketika bernegosiasi dengan pengendara tuktuk. Kalau pengendara tuktuk Anda menawarkan paket, sesuaikan dengan keinginan Anda. Rata-rata sewa harian tuktuk untuk eksplorasi Angkor selama sehari adalah 10-12 USD. Anda juga bisa meminta penginapan Anda menguruskan booking tuktuk. Oh, dan kalau Anda berminat menggunakan jasa Chhrong, silakan hubungi saya melalui japri.

‘I am not pushy and I am honest’ – Bahkan pengendara tuktuk pun sebenarnya sadar seperti apa pandangan turis terhadap mereka.

Bagian 4: Siem Reap Minus Angkor?

Selain menjelajahi Angkor, apalagi yang bisa dilakukan di Siem Reap?

Karena selama di Siem Reap saya tinggal di pusat kota, saya dengan mudah dapat berjalan kaki ke mana-mana. Bagi yang suka bersepeda, bisa juga menyewa sepeda dengan tarif 1-2 USD perhari. Banyak galeri seni dan tempat pertunjukan yang membuka hari gratis di Siem Reap, jadi Anda tinggal mengecek jadwal mereka saja. Misalnya, Rumah Sakit Anak Kantha Bopha memiliki pertunjukan Beatocello setiap Sabtu dan Minggu. Hasil penjualan tiket dan donasi diberikan kepada para pasien. (Waktu saya datang, donasi ditujukkan kepada anak-anak penderita demam berdarah dan tuberkulosis).

Turis bersepeda di kawasan Angkor. Kalau niat, silakan manjakan mata Anda dengan mantengin bule-bule bertelanjang dada berkeliling Angkor Wat pada tengah hari.

Gabungan antara kuat jalan kaki seharian dan sok jadi Dora the Explorer membuat saya blusukan ke pasar di Siem Reap. Ada dua pasar yang cukup ramai di pusat kota, yaitu Phsar Kandal (Central Market) dan Phsar Chas (Old Market). Pasar yang pertama lebih mirip pasar modern di Indonesia. Lokasinya tepat di Sivutha Boulevard dan kebanyakan barangnya ditujukan untuk konsumsi turis. Setelah itu, silakan bersantai di bagian food court-nya yang juga menyediakan wi-fi gratis.

Food court di Phsar Kandal. Bersih, pakai kipas angin, dan sedia wi-fi gratis.

Phsar Kandal pada malam hari.

Phsar Chas, di lain pihak, adalah pasar tradisional dengan penjual yang lebih heterogen. Favorit saya sih petak-petak makanan di bagian dalam dan kios-kios camilan di bagian luar. Turis juga suka blusukan di sini. Saya sendiri sampai menahan geli melihat beberapa ibu-ibu Perancis membeli dandang dan bokor. Kapan lagi Anda bisa melihat bule jadi begitu ndeso? *third world pride* Nah, berhubung saya doyan makan, Phsar Chas juga menjadi magnet tersendiri dengan banyaknya restoran dan kedai di sekitarnya. Dari gelatto Italia sampai kari India, dari tukang daging sampai tukang bumbu ada di sini. Oh, atau kalau mau sok santai seperti saya, cukup jajan camilan—dari pancake pisang sampai manisan kelapa—dan nongkrong di taman-taman bantaran kali di belakang Phsar Chas.

Phsar Chas. Di sini sih enaknya jalan sambil jajan.

Penyuka kegiatan berbau alam bisa juga pergi ke Danau Tonle Sap untuk menikmati desa terapung atau pusat konservasi burung di sana. Namun, berhati-hatilah dengan scam harga tiket yang dijual di gerbang masuknya. Hampir semua pengendara tuktuk yang membawa turis ke sana (termasuk Chhrong, grrr) berkongkalikong dan dapat persenan dari pihak penyedia jasa wisata di Danau Tonle Sap. Saya sempat ditagih 20 USD untuk biaya masuk dan 10 USD untuk biaya perahu. Jelas saya tolak dong. Dear officer, you’re dealing with Auntie Scrooge here. Eh kemudian dia memberitahu bahwa harga tiketnya cukup 15 USD saja. Hiih, minta dijitak banget deh bapaknya! (Kadung kesal, saya pun batal ke Tonle Sap.)

Ini gerbang kedatangan sebelum naik perahu di Danau Tonle Sap. Waspadai pembangunan yang belum selesai, toilet tanpa flush, dan scam harga tiket. Kecuali Anda memang sangat tertarik, silakan datang.

Di negara yang mayoritas penduduknya Buddhis seperti Kamboja, Anda akan dengan mudah menemukan pesantren biksu di dekat wihara. Mendengarkan para biksu novis nyantri melantunkan sutra dapat menjadi pengalaman tersendiri yang mengesankan.

Saran #1: Sebagai negara yang masih dalam proses pemulihan dari ekses perang dan genosida, Kamboja memiliki banyak lembaga kemanusiaan yang menyediakan kesempatan untuk partisipasi sukarela. Beberapa penginapan juga bersedia membantu Anda juga Anda ingin menjadi sukarelawan.

Saran #2: Ada satu lagi pasar di Siem Reap yang tidak sempat saya datangi, yaitu Night Market. Lokasinya dekat La Paix Hotel, tapi karena lorong menuju tempat tersebut sepi, saya tidak akan mencobanya tanpa menguasai ilmu kebal terlebih dulu.

Saran #3: Jangan lupa untuk mempraktekkan jutsu Bargain to the End di pasar-pasar Siem Reap. Tawar habis! Misalnya, tawar saja kaus seharga 5 USD menjadi 2 USD atau 5 USD untuk 3 kaus. Yang saya sukai dari para pedagang di Phsar Kandal adalah mereka selalu tersenyum. “OK, I want to make you happy, so please buy from me. I’ll give you good price, but not cheaper or I will cry,” begitu kata mereka. 🙂

Bagian 5: Berhati-hatilah Dengan Makanan Pesanan Anda di Siem Reap

Peringatan: tidak halal.

Salah satu hal yang menjadi nilai plus Kamboja buat saya adalah rasa masakannya yang dekat dengan selera orang Indonesia dan disajikan dalam porsi besar. Catat baik-baik: porsi besar. Menurut Chhuong, pengendara tuktuk saya, laki-laki Kamboja biasa makan dua piring nasi untuk sekali makan. Itu standarnya lho!

Beberapa favorit saya selama di Kamboja mengandung bahan-bahan yang bahkan saya belum pernah makan di Indonesia seperti aneka sayuran yang bahkan namanya saja membuat lidah kesrimpet. Enaknya, sebagian besar buah di sana adalah buah yang familiar untuk orang Indonesia. Maka, jangan kaget kalau dalam salad buah pesanan Anda ada lengkeng, jambu air, dan bahkan kedondong.

Saya cenderung menghindari kopi terutama yang asam dan tidak ramah-lambung, tapi kopi tetes semacam ini selalu jadi pelengkap sarapan saya selama di Vietnam dan Kamboja. Super!

Beginilah peralatan makan disediakan: direndam dalam gelas berisi air panas.

Tak ada yang memberitahu saya bahwa pork sandwich segede gaban dengan isi membludak inilah yang diberikan ketika saya memesan.

Salah satu favorit saya: amok. Ini semacam kari yang isinya ikan atau ayam. Dimakan panas-panas… hemmm! Jangan lupa beli bumbu siap masaknya kalau mampir di pasar.

Lolek (atau lolak atau lok lai) dari Phsar Chas. Semacam stew daging sapi atau ayam dengan kuah asin sebagai pelengkap. Meskipun sudah pakai kentang goreng, Anda akan tetap disuguhi nasi juga. Satu porsi lolek ini cukup untuk dua-tiga orang.

Favorit lain: prahok. Cacahan ikan atau ayam atau daging lain yang difermentasi lalu ditumis. Sayur-sayurannya mentah atau direbus. Seumur-umur ini pertama kalinya saya makan leunca dan kembang lotus. Ternyata lalapan tak cuma privilese Sunda ya.

Oh iya, godaan terbesar untuk saya selama berada di Siem Reap adalah murahnya harga bir di sana. Satu tumbler besar bir curah cukup dengan 0.5 USD saja! Saya sampai terpikir untuk melewatkan makan dan cukup minum bir sampai kembung.

Tagline: national pride, national beer.

Ini dia bir curah seharga 0.5 USD. Tagline: my country, my beer. Kalau diurut-urut berdasarkan harga, bir terekomendasi di Siem Reap adalah Tiger, Beerlao, Angkor, Cambodia, Anchor.

Bagian 6: Politik di Kamboja

Kalau di Vietnam ada poster Bac Ho di mana-mana, di Kamboja ada poster partai di setiap sudut. Sejauh yang saya lihat, partai yang posternya rajin berjamaah di jalan-jalan adalah Cambodian People’s Party (partai PM Hun Sen), Funcinpec (partai adik raja), dan Sam Rainsy Party. Kalau Anda sinis terhadap politik, Anda memiliki pandangan yang sama seperti hampir semua orang Kamboja yang saya temui dan ajak bicara. Tapi yaah, dengan demokrasi yang masih awut-awutan seperti di Indonesia, paling tidak masih ada yang bisa kita syukuri tanpa harus mengecilkan penderitaan bangsa lain. Perang dengan Vietnam? Yep. Pembantaian oleh Khmer Merah? Yep. Raja yang tidak tinggal di negerinya sendiri? Yep. Rebutan aset di perbatasan? Yep.

Vinn, pengendara tuktuk dari operator bus Virak Buntham jurusan Siem Reap-Saigon yang menjemput saya dari penginapan ke pool bus, bilang bahwa generasinya punya cita-cita untuk bekerja di luar Kamboja. Saya tanya apakah dia tidak ingin jadi pegawai negeri—cita-cita standar lulusan universitas di sana. Si Vinn yang doyan tertawa ini cuma bilang, “If I can live for my country, I should be able to live from my country, too.”

Dalem, Vinn. Daleeem.

Salah satu poster partai yang banyak terlihat di Siem Reap.

Bagian 7: Siem Reap Sehari-hari

Sebagian besar warga Siem Reap masih tinggal di perkampungan. Waktu saya berkeliling seluruh kompleks Angkor sampai ke Banteay Srey dan Roluos atau di dekat Museum Ranjau Darat, di kiri-kanan mudah sekali dijumpai rumah dengan sumber air hasil donasi. Nama donatornya terpampang di papan. Friends of Cambodia, misalnya, banyak bergerak untuk membantu kebutuhan sanitasi warga Siem Reap. Padahal ini salah satu jalan utama di daerah wisata utama. Karena saya ndeso, yang terpikir malah Pantura.

Bensin mahal di sini, itu jelas. Seliter 1.25 USD (sekitar 5000 KHR). Tapi berbanding terbalik dengan harga bensin, nyaris semua mobil di Siem Reap adalah mobil ber-cc besar. Toyota Fortuner adalah pegangan standar kebanyakan penginapan di Siem Reap. Sisanya didominasi Toyota Fortuner dan beberapa tipe karavan Hyundai. Oh, dan untuk pertama kalinya, saya menemukan sebuah negeri tanpa Avanza-Xenia! Rasanya jadi semacam penyegaran setelah setiap hari berpapasan dengan Avanza-Xenia di jalanan Indonesia.

Bensin ngecer di Siem Reap.

Penguasa jalanan di Kamboja? Motor! Bukan cuma jadi tuktuk atau ojek, motor juga disambung ke kereta mini, kendaraan mirip odong-odong, bahkan gerobak yang bisa mengangkut orang se-RT!

Motor dan tuktuk.

Motor dan kandang portabel.

Motor dan… tukang kasur.

Motor dan kereta jenazah. Ngomong-ngomong, musik pemakaman Kamboja enak di kuping lho.

Oh iya, buat yang suka anak kecil, banyak anak kecil yang berjualan di kompleks Angkor. Paling banyak berjualan kartu pos (1 USD untuk 10 kartu pos). Yang unik (atau menyebalkan—tergantung sudut pandang), kalau ditolak dengan kata-kata “No, thanks,” mereka akan membalas dengan “Yes, thanks” dan kembali mengejar-ngejar turis untuk membeli dagangan mereka.

Saya jadi ingat pengalaman bapak saya yang sempat tinggal cukup lama di Saigon. Bapak saya pernah cerita bahwa di Saigon, turis tidak didukung untuk membeli dari atau memberi sedekah buat anak-anak yang mencari nafkah di jalanan. Kalau ada turis yang ketahuan, bisa ditegur kamtib. “Kami tidak mau mendidik generasi peminta,” begitu alasannnya. Entah benar atau tidak, saya pikir Kamboja perlu menerapkan hal tersebut.

Indonesia? Wah, nanti dulu deh. Didik para orangtua untuk tidak begitu antusias buat anak saja dulu. 🙂

Nantikan kelanjutan petualangan Tukang Kesasar di Angkor Wat!

Written and photographed by Tukang Kesasar

http://twitter.com/thranduilion