Hamamatsu, November 2014 (Bagian 2): Kastil Tokugawa Ieyasu

Esok paginya, setelah menikmati sarapan di hotel, kami check out dan melangkah lagi ke stasiun bis di depan stasiun utama. Pertama-tama kami hendak menuju Kastil Hamamatsu. Dari terminal bis yang ada di sebelah utara stasiun, kami lagi-lagi menaiki bis ke arah Kanzanji Onsen. Ngomong-ngomong, di Hamamatsu ini banyak penyeberangan di bawah tanah, termasuk yang menuju ke terminal bis. Lorong-lorongnya bersih, tidak menyeramkan. Kadang-kadang ada juga pemusik jalanan yang meramaikan suasana, mempertegas kesan Hamamatsu sebagai kota musik. More

Hamamatsu, November 2014 (Bagian 1): Kota asal piano Yoshiki

Saya dan teman saya, sebut saja K-chan, senang tinggal di Tokyo. Namun ada kalanya kami sumpek juga, entah karena urusan pekerjaan atau sekolah. Suatu hari K-chan berkata kepada saya, “Kita jalan-jalan yuk ke luar kota? Menginap. Sudah dari lama aku ingin ke Hamamatsu.” Akhirnya, kami pun ‘mengorbankan’ satu akhir minggu tidak menonton band kesayangan kami, dan alih-alih bertolak menuju Hamamatsu. Kami janjian bertemu di Stasiun Tokyo pagi-pagi, lantas menumpangi kereta shinkansen menuju Hamamatsu yang terletak di Prefektur Shizuoka. Kami berangkat tanpa memesan hotel terlebih dahulu, karena kami pikir di kota sekecil Hamamatsu tentunya cukup mudah menemukan hotel yang masih punya kamar kosong.

hamamatsu18

More

Hannou, Februari 2015: Yang turut mekar berkat bunga Edo

This post is about Japan

Halo, apa kabar? Selamat tahun baru 2017! Lama tidak bersua. Sudah lama juga ya saya tidak menulis di blog ini. Selain karena tingkat kesibukan pekerjaan yang lumayan tinggi dalam beberapa bulan terakhir di tahun 2016, saya juga barusan kembali dari Jepang setelah berkeliaran di sejumlah daerah di Pulau Kyushu dan Pulau Shikoku. Nanti tentunya saya juga akan bercerita tentang perjalanan terbaru saya itu, tapi sekarang saya akan berbagi cerita tentang perjalanan-perjalanan saya sebelumnya, ya. Kali ini saya ingin bercerita tentang Hannou.

hannou11 More

Kofu Akhir Desember 2014 (2): Menengok Gunung Fuji dari Panorama-dai

Setelah berpisah dengan teman baru saya di halte bis di depan Museum Kage-ei no mori, saya menyeberangi sungai lagi, kembali ke jalan yang dijuluki ‘Crystal Road’. Di jalan yang diapit oleh berbagai toko yang menawarkan produk batu dan kristal ini, saya melangkahkan kaki ke utara. Banyak toko yang tidak buka, karena akhir tahun. Toh sedang tidak banyak pengunjung juga. Saya hanya berpapasan dengan mungkin empat-lima orang.

kofu27

Pandangan saya tertumbuk ke salah satu toko yang berukuran lebih besar dibandingkan rata-rata toko lain. CRYSTAL SOUND, demikian nama yang terpampang. Rupa-rupanya toko itu merangkap sebagai museum gratis. Saya jadi teringat toko-toko batu/kristal di Thailand yang menawarkan atraksi semisal pameran diorama penambangan dan pengolahan batu. Kira-kira sama tidak, ya? Hmmm, nanti deh kalau masih ada waktu saya akan coba masuk. Sekarang saya bergegas untuk naik ropeway ke Panorama-dai. More

Kofu Akhir Desember 2014 (1): Menelusuri Ngarai Shosenkyo

Pagi menjelang. Sambil menikmati sarapan di hotel, saya memikirkan betapa sayangnya harus meninggalkan prefektur Nagano yang bersalju, kembali ke prefektur Yamanashi yang tidak tampak seperti telah memasuki musim dingin. Namun keputusan saya kemarin untuk berganti haluan menuju Matsumoto terlebih dahulu ternyata merupakan pilihan tepat. Pasalnya, hari ini matahari bersinar cerah sekali dan tak ada tanda-tanda awan gelap. Cocok untuk hiking!

kofu02

Dari stasiun Matsumoto, saya menumpangi kereta Jalur Chuo menuju Kofu. Cukup banyak juga orang yang turun di stasiun utama Kofu, dan mereka semua merubung ke jalur yang sama dThis post is about Japani terminal bis, membuat saya yakin bahwa mereka semua juga hendak mendatangi Ngarai Shosenkyo seperti saya. Ada sedikit rasa ngeri bis berikutnya yang datang tidak akan bisa memuat kami semua, dan saya (yang berdiri agak di belakang barisan) mungkin ditinggal dan harus menunggu bis berikutnya. Bis menuju Shosenkyo tidak terlalu rapat jadwalnya, dan di musim libur akhir tahun ini, frekuensi bis juga dipangkas. Untunglah, kami semua masih terangkut oleh bis yang datang, dan saya juga masih mendapat tempat duduk. More

Matsumoto Mendekati Pergantian Tahun 2014-2015 (2)

Yak, ini dia lanjutan cerita saya berjalan-jalan di akhir tahun di Matsumoto.

matsumoto16

Menempuh jalan-jalan kecil yang permai di tengah udara dingin dan segar, akhirnya saya tiba juga di Kastil Matsumoto. Pekarangan di sekelilingnya tidak begitu luas, dan bangunan-bangunan hunian hanya berjarak selemparan batu saja dari kastil. Kalau dibandingkan dengan kastil lain, misalnya Kastil Himeji yang dikelilingi pekarangan yang luas sekali, Kastil Matsumoto nyaris tak berjarak dengan sekitarnya. Hanya saja ada parit yang cukup lebar mengelilingi kastil tersebut, membuat fungsinya sebagai benteng yang sulit ditembus tetap terjaga.

matsumoto17

This post is about JapanMenurut catatan sejarah, kastil ini berasal dari masa Sengoku, dan aslinya bernama Kastil Fukashi ketika dibangun pada tahun 1504. Kastil ini berpindah-pindah tangan, dari trah Ogasawara, ke trah Takeda, dan akhirnya ke sang pemimpin besar Tokugawa Ieyasu. Dengan didirikannya Domain Matsumoto di masa keshogunan Tokugawa, kastil tersebut pun menjadi tempat bernaung penguasa Matsumoto, total sebanyak 23 orang dari enam keluarga berbeda.

More

Matsumoto Mendekati Pergantian Tahun 2014-2015 (1)

matsumoto14

Yak, mari terlontar kembali ke lebih dari setahun lalu, menjelang masa pergantian tahun 2014 menjadi 2015. Ketika asrama kampus saya menjadi sepi karena banyak mahasiswa yang pulang ke kampung halaman masing-masing, atau pada cabut semua memanfaatkan liburan ekstra di tengah semester itu. Saya juga tidak mau kalah. Tepatnya, ih malas juga di asrama yang sepi melulu. Lebih baik main ke kota-kota lain di Jepang dengan biaya hemat. Apalagi di masa liburan akhir tahun, kita bisa menggunakan tiket Seishun 18! Untuk yang belum pernah mendengar tentang tiket istimewa ini, saya pernah menuliskannya di sini.

This post is about JapanDua kota menjadi pilihan saya, yaitu Matsumoto di prefektur Nagano dan Kofu di prefektur Yamanashi. Kedua prefektur ini bersebelahan, dan bisa tercapai dengan kereta lokal di Jalur Chuo. Kebetulan stasiun terdekat dengan asrama saya adalah Musashi-Koganei yang berada di jalur yang sama. Tinggal naik kereta ke arah luar Tokyo! Sebenarnya ada sih kereta cepat Azusa dan Kaiji yang menuju ke Matsumoto, namun harus bayar ekstra. Ah, pikir saya. Tidak perlu lah. Dengan kereta lokal ke Matsumoto paling-paling 5 jam. Pokoknya, dinikmati saja! Pasti banyak hal yang bisa dilihat dalam perjalanan. More

Istana Akasaka, Februari 2016

akasaka04

Sebenarnya masih banyaaak sekali ‘tabungan’ cerita saya tentang Jepang dari tahun 2014-2015. Tapi kali ini kita melompat dulu ya ke tahun ini, tepatnya ke bulan Februari 2016. Soalnya, bulan lalu, berkat info dari seorang teman (thanks, Dira!) saya berkesempatan mengunjungi Istana Akasaka, yang hanya dibuka untuk umum pada waktu-waktu tertentu. Jadi saya tulis ini cepat-cepat, agar kalau-kalau Anda akan mengunjungi Jepang, Anda bisa cek apakah istana ini sedang terbuka untuk umum atau tidak.This post is about Japan

Oya, foto-foto yang saya hadirkan di sini hanya foto-foto dari sebelah luar istana. Di dalam istana, tidak boleh mengambil foto. Barangkali untuk menjaga kerahasiaan juga. Maklumlah, istana ini sebenarnya masih menjalankan fungsi penting, yaitu sebagai tempat penginapan tamu negara.

More

Sapporo, ibukota prefektur paling utara (2) Maret 2015

sapporo-19

Ups… maafkan saya, baru sempat menulis lagi untuk blog ini. Gara-garanya, bulan Februari lalu saya sempat kembali ke Jepang untuk beberapa lama. Saya antara lain mengunjungi prefektur Gunma dan Ibaraki, dan banyak sekali yang ingin saya ceritakan! Tapi sekarang saatnya melanjutkan kisah saya tentang Sapporo.

This post is about JapanSampai mana kita?

Oh ya, sampai matahari tenggelam… (Ngomong-ngomong, karena foto-foto yang saya ambil kala malam rata-rata tidak jelas, foto-foto yang saya pajang yang diambil saat siang saja, yah!)

More

Sapporo, ibukota prefektur paling utara (1) Maret 2015

sapporo-14

Apakah saya terlalu cepat meninggalkan Otaru, ya?

This post is about JapanSaya bertanya-tanya dalam hati sembari memandangi kota Sapporo yang membentang di luar jendela bis. Setelah menikmati Otaru yang kecil dan cantik, Sapporo jadi terlihat hambar. Jalan-jalan lurus dan besar, gedung-gedung bertingkat, toko dan restoran berantai yang bisa ditemukan di bagian-bagian lain Jepang. Bila dilihat sepintas saja, Sapporo tampak seperti kota-kota Jepang pada umumnya, tak tampak istimewa.

Saya menggeleng. Masa, menjejakkan kaki pun belum, sudah berpikiran begitu sih tentang Sapporo. Kan belum tentu juga bis ini melewati rute yang menarik di Sapporo (setelah sebelumnya melewati jalanan di lereng bukit di pesisir, yang menampakkan biru laut dan langit membaur menjadi satu tanpa batas yang jelas).

More

Previous Older Entries