Musim semi datang terlambat di Takayama, Maret 2015 (Bagian 2)

Lanjut lagi yuk, cerita tentang Hida no Sato?

Ada sekitar 30 bangunan di kawasan Hida no Sato. Bangunan-bangunan itu berasal dari sejumlah tempat lain dan dipindahkan utuh ke sini, ditata menyerupai kampung organik. Sebagai contoh, ada rumah Wakayama, yang berasal dari Shoukawa-machi dan dibangun pada tahun 1751. Bangunan ini dianggap berharga karena menunjukkan dua ciri sekaligus, yaitu atap bergaya gassho yang curam sekaligus tonjolan atap gaya Shoukawa.

Ada pula rumah pertanian tua Tanaka, bagian dari sejarah Takayama. Seperti juga rumah Wakayama, rumah Tanaka berasal dari pertengahan abad ke-18. Selain rumah-rumah, kita juga bisa melihat berbagai perkakas untuk membuat sutera dan beraneka peralatan hidup sehari-hari dari daerah Hida. Juga ada tungku pembuatan arang dan kuil di dalam Hida no Sato. Beberapa rumah boleh dimasuki asalkan kita mencopot alas sepatu. Oleh karena saya tidak rela melepaskan sepatu dan membiarkan kaki saya terekspos udara dingin dengan hanya berselimutkan kaos kaki, saya memilih untuk melihat-lihat dari pintu-pintu yang terbuka saja.

Pokoknya, Hida no Sato mirip dengan sebuah desa sungguhan, hanya saja tidak ada penghuninya. Bisa jadi Anda merasa seram sendiri karena desa ini terasa seperti mendadak saja ditinggalkan oleh seluruh penduduknya. Rasanya tidak akan heran bila kita mulai berhalusinasi melihat ada orang-orang yang keluar-masuk rumah-rumah itu, seolah-olah mereka semua masih hidup… Eh, kok jadi cerita horor begini!

Sewaktu saya berkeliling melihat-lihat, hujan salju mulai turun lagi. Bukannya merasa kesulitan, saya malah merasa senang. Tengok kiri tengok kanan, sepi. Hmmm.. saya pun mendapat kesempatan untuk mencoba hal yang dari dulu ingin saya coba: menabrakkan diri ke tumpukan salju tinggi yang masih segar. Ufh! Seru juga merasakan sensasi bertumbukan dengan gunungan yang dingin. Satu-satunya hal yang saya sesali adalah ternyata saya lupa menutup lensa kamera yang tergantung di leher, sehingga untuk semenit saya dengan panik berusaha membersihkan salju yang menempel di lensa, khawatir kamera saya bakal kenapa-kenapa.

Salah satu keuntungan datang ke Hida no Sato di tanggal-tanggal segini adalah kita bisa melihat pameran boneka hinamatsuri di sejumlah rumah. Oleh karena musim semi tiba terlambat di Takayama, hinamatsuri pun juga dirayakan ‘terlambat’ dibandingkan daerah-daerah lain di Jepang. Bukannya 3 Maret, hinamatsuri dirayakan pada tanggal 3 April di Takayama. Pameran boneka pun berlangsung sepanjang Maret sampai 3 April.

Puas melihat-lihat Hida no Sato, saya pun beranjak pergi, setelah menukar kembali bot saya dan berterima kasih kepada para staf yang sangat ramah. Saya melangkah ke tujuan berikutnya, Hida Takayama Teddy Bear Eco Village, yang terletak tidak begitu jauh dari Hida no Sato. Dari namanya pun sudah terbayang lah ya, apa yang dipamerkan di ‘desa’ ini.

Tidak seperti Hida no Sato yang berwujud mirip kampung betulan, Teddy Bear Eco Village ini sebenarnya sebuah rumah pertanian bergaya gassho-zukuri berusia 200 tahun yang direnovasi sebagai tempat menampung berbagai koleksi boneka beruang dari berbagai negara.

Sebelah dalamnya memang menyerupai desa kecil, yang isinya boneka beruang melulu! Ada yang kecil, ada juga yang besar. Ada yang tersimpan di balik kotak-kotak kaca, ada pula yang boleh kita gendong, peluk, dan ajak berfoto bersama.

Untuk masuk ke museum ini, orang dewasa harus membayar 600 yen. Museum buka pukul 10 pagi sampai 6 sore (setengah 6 sore di bulan Januari dan Februari).

Sejumlah beruang ditata sesuai tema tertentu. Misalnya, beruang yang ini duduk gagah di dalam tenda Penduduk Asli Amerika.

Lapar? Di sebelah luar sih ada kafe, tapi apakah roti-roti dan kue-kue yang dijajakan di sana sebenarnya dibuat di dapur para beruang ini?

Kita juga bisa belajar tentang beruang sungguhan dan cara memelihara alam melalui materi-materi yang disediakan di lantai satu maupun dua.

Koleksi boneka beruang di Eco Village bermacam-macam usianya, mulai dari Franz (1903), boneka yang dahulu dimiliki Count Franz Celemns Waldburg dari keluarga Habsburg sampai boneka-boneka yang kontemporer.

Di halaman belakang ada kapel beruang. Katanya sih pasangan yang berfoto di situ bakal langgeng hubungannya, namun karena saya datang sendirian saja, ya saya tidak mencoba peruntungan saya di situ.

Astaga… baru saya teringat, selain gohei mochi yang tadi saya makan sebelum memasuki Hida no Sato, saya belum makan siang. Saya lantas menuju Little Bear Cafe & Shop yang berada tepat di samping bangunan utama museum. Tentu saja kafe tersebut juga bertema beruang; bahkan disediakan beruang-beruang untuk menemani para pengunjung bersantap.

Kopi susu dan cake pun menjadi pengisi perut saya di siang menjelang sore itu.

Sesudahnya, dari halte bis di depan museum, saya kembali ke stasiun utama Takayama. Saya mengambil bawaan yang saya titipkan di guest house dan menumpang salat sebelum berpamitan. Di terminal bis di samping stasiun, saya membeli tiket bis untuk kembali ke Tokyo. Lebih praktis pulang naik bis daripada naik kereta, karena bila menggunakan kereta, saya harus ke Nagoya dulu untuk berganti jalur ke Tokyo. Sambil menunggu bis saya tiba, saya membeli sejumlah makanan dan minuman untuk dimakan di bis. Salah satu minuman yang saya beli adalah kopi susu produksi Hida Takayama. Segar!

Bis pun mulai melaju, membelah pegunungan ke arah Tokyo. Salju di luar benar-benar tebal, mengurung bis dengan warna putih semata, menimbulkan rasa kagum dan rasa ngeri tersendiri. Beberapa kami berhenti di area rehat, yang tetap beroperasi normal dan rapi dalam cuaca seperti ini. Mau tak mau saya terkagum-kagum pada mereka-mereka yang tinggal jauh di pegunungan dan selalu menghadapi risiko akses terputus di musim seperti ini. Sekali saya iseng membuka sarung tangan, berusaha menyentuh salju yang menumpuk. Salju di pegunungan ternyata jauh lebih halus daripada salju di Takayama, yang menurut saya juga sudah cukup halus dibandingkan salju yang pernah turun di Tokyo.

Bis tiba di Tokyo saat hari sudah sangat gelap dan… ah, kering kerontang. Tidak ada sejejak pun salju tersisa. Musim semi tiba tepat waktu di dataran rendah, namun nun tinggi di sana di pegunungan, musim dingin masih melanda. Apakah musim semi tiba terlambat di sana? Mungkin menurut orang-orang dataran rendah ya. Namun mungkin orang-orang yang tinggal di pegunungan hanya akan tersenyum dan berkata, “Memang begini seharusnya!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Lompat hari

February 2018
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Arsip Lompat-lompat

%d bloggers like this: