Musim semi datang terlambat di Takayama, Maret 2015 (Bagian 1)

Pagi di Takayama!

Sebenarnya agak malas juga keluar dari tempat tidur yang nyaman di K’s House, tempat menginap pilihan kami di Hida Takayama. Apalagi pagi hari itu dingin. Akan tetapi, sayang waktunya bila saya hanya bermalas-malas di kamar yang cukup luas untuk dua orang. Kalau di daerah begini, ukuran kamar-kamar penginapan biasanya jauh lebih lega daripada penginapan dengan kategori yang sama dan harga yang sering kali lebih mahal di Tokyo. Bahkan bila dibandingkan dengan sesama K’s House di Tokyo, terasa benar bedanya ukuran kamar di cabang di Takayama.

Saya membulatkan tekad dan beranjak keluar dari penginapan, di tengah terpaan salju halus yang mulai turun. Yah… mau bagaimana lagi. Saya sudah bertekad hendak melihat pasar pagi di tepi sungai Miyagawa sekaligus berjalan-jalan di kawasan kota tua Takayama. Saya pun nekad menembus derai salju bercampur air, berjalan kaki dari penginapan ke arah sungai. Untunglah, sebagian trotoar di kawasan pertokoan dinaungi atap, sehingga saya tidak basah-basah amat.

Tak pelak saya memandang agak cemas ke arah sungai yang airnya tampak deras akibat hujan, dan mungkin juga akibat salju yang mulai mencair di pegunungan. Namun Miyagawa adalah bagian dari kota ini. Bangunan-bangunan dibangun menempel ke bibir sungai, jembatan-jembatan cantik menyilangi sungai itu, dan bahkan ada tangga-tangga yang mengarah ke tepi sungai. Tangga-tangga itu tidak berpagar di ujung yang tepat berada di tepi sungai, seolah para penduduk kota ini yakin benar tidak akan ada orang atau anak kecil yang cukup ceroboh sampai bakalan jatuh ke sungai. Yang ada, saya si orang asing yang hanya berani memandang dari atas undak-undakan, tidak berani turun lebih ke bawah meskipun keindahan sungai memikat saya.

Setibanya di kawasan pasar pagi, ternyata belum begitu banyak kios yang buka. Pasar pagi ini memang seperti ‘pasar dadakan’. Para pedagang menggelar lapak-lapak sederhana yang menawarkan berbagai produk, mulai dari bahan makanan segar sampai suvenir sederhana. Mereka menaungi diri dari hujan bercampur salju dengan lembaran plastik tebal. Sebagian pedagang juga berjualan di toko atau kios permanen.

Semakin siang, tentu saja semakin banyak lapak dan toko yang buka. Saya sempat mencicipi dua penganan khas daerah tersebut, owara tamaten dan dango berlumur shoyu yang isinya lima bola dalam satu tusuk.

Berhubung pagi itu saya berjalan sesuka hati saja menuruti hati, saya tidak ingat benar urut-urutan perjalanan saya. Yang jelas, tentu saja, saya menyusuri kawasan kota tua yang membuat Takayama terkenal. Di kawasan ini terdapat demikian banyak bangunan tua dari masa kejayaan Takayama di zaman Edo. Banyak bangunan yang dibangun dari kayu berwarna gelap, nyaris segelap aspal pelapis jalan, itu yang merupakan toko, restoran, atau kedai. Sebagian juga terbuka sebagai museum.

Sesungguhnya bisa seharian kita habiskan menelusuri kawasan kota Takayama bila kita menikmatinya dengan perlahan. Sayang kali ini saya agak terburu-buru. Pukul sepuluh pagi, saya harus check out. Setelahnya, teman saya mau langsung pulang ke Tokyo dengan bis pertama yang bisa diperoleh, sementara saya masih ingin mengunjungi Hida no Sato, museum terbuka di mana sejumlah bangunan tradisional daerah ini ditampung.

Saya juga tidak meluputkan Kuil Hachiman, yang di pagi itu masih berselimut salju dan sepi. Hachiman adalah salah satu kami (kalau dalam Bahasa Indonesia sering dipadankan dengan istilah ‘dewa’) yang merupakan pelindung tidak saja para ksatria, melainkan juga negara dan bangsa Jepang, serta keluarga kekaisaran. Kuil Hachiman (dalam Bahasa Jepang sebenarnya disebut jinja, untuk membedakannya dari kuil Buddha yang disebut tera) tersebar di seantero Jepang, hanya kalah jumlah dari kuil untuk pemujaan inari (dewa rubah).

Sebenarnya, di dekat kuil itu, ada sebuah museum menarik, yaitu museum boneka karakuri. Sayangnya karena masih pagi, museum tersebut belum buka. Yah, baiklah, nanti siang saja saya berpuas-puas melihat museum yang lain.

Kelar jalan-jalan pagi, saya kembali ke hotel untuk check out. Saya dan teman bersama-sama melangkah ke terminal bis di sebelah stasiun utama karena teman ingin pulang duluan ke Tokyo. Setelah memastikan ia mendapat tiket bis pulang, saya kembali beranjak. Kali ini tujuan saya adalah Hida no Sato, alias Kampung Rakyat Hida. Oleh karena katanya jauhnya hanya 20-30 menit berjalan kaki dari stasiun utama, saya pun memilih untuk tidak menunggu bis kota dan langsung tancap ke arah yang ditunjukkan oleh peta.

Cukup jauh juga ternyata jarak yang harus saya tempuh. Mana di pengujung rute, saya harus menempuh jalan menanjak. Menurut keterangan di situs web Hida no Sato, Stasiun Takayama terletak pada ketinggian 573 meter dari permukaan laut, sementara kampung buatan itu pada ketinggian 647 meter. Selisih 74 meter. Lumayan juga ya.

Dan ternyata, semakin jauh dari pusat kota, salju masih menumpuk lumayan tebal. Lega rasanya begitu melihat papan penunjuk yang mengisyaratkan bahwa pintu masuk Hida no Sato sudah tidak jauh lagi.

Tapiiiii…. Perut saya mendadak butuh asupan. Hmmm, daripada nanti di dalam ternyata tidak ada tempat makan, saya pun belok dulu ke sebuah kedai yang katanya menjual ‘gohei mochi’, makanan khas daerah ini. Kedai itu sederhana sekali, malah sekilas seperti tutup, seandainya saja jendela layanan tidak terbuka dan asap tipis tidak tampak mengepul dari tungku. Dan memang buka kok, karena bibi pemilik toko muncul sewaktu saya berseru ‘sumimasen’.

Saya hanya beli sebatang saja seharga 120 yen, namun si bibi membiarkan saya duduk di depan tokonya dan memberi saya teh yang hangat. Jadi saya sendiri yang merasa tidak enak hati, namun memang beginilah bentuk keramahan (atau mungkin Anda mau menganggapnya ‘servis’) yang sering diberikan para penjual makanan di Jepang.

Ia mengajak saya mengobrol dengan hangat, menanyakan saya dari mana. Saya jawab, Indonesia. Dia salah dengar, dikiranya India. “Negara yang bentuknya seperti segitiga?” Maklum, dalam bahasa Jepang, India adalah Indo. Bukan, saya menjelaskan lebih lanjut: negara saya yang ada di atasnya Australia. Aaaah, baru dia paham.

Selain saya, hanya satu orang pelanggan lain yang ia layani. Selebihnya ia menemani saya makan sambil mengobrol. Bukan hanya tubuh saya yang jadi hangat gara-gara gohei mochi dan teh, melainkan juga hati saya. Pada akhirnya saya harus pamit. “Mau ke mana? Hida no Sato? Selamat bersenang-senang, ya.” Ia melepas saya.

Saya berjalan beberapa puluh meter lagi sampai tiba di pintu masuk kompleks Hida no Sato. Sepi sekali, sampai-sampai saya sempat ragu tempat itu buka. Namun ada segelintir orang yang juga baru tiba dan masuk setelah membeli karcis. Saya pun mengikuti jejak mereka, dan membayar tiket masuk sebesar 700 yen.

Di sebelah dalam, sejumlah petugas siap-sedia menyambut kami. Mereka langsung mengarahkan ke deretan loker, bangku, dan tempat sepatu. Mereka meminjamkan bot secara gratis untuk berkeliling desa hari itu. Maklumlah, salju masih menumpuk cukup tebal di dalam kawasan.

Setelah berganti sepatu dengan bot, saya pun siap menjelajah. Dan— aaah, memang sama sekali tak rugi datang ke Hida no Sato di musim ketika salju masih meraja seperti ini. (Ya, sudah bulan Maret sih, tapi di sini musim semi belum kelihatan ujung hidungnya.) Di tempat ini, sekitar lebih dari 30 bangunan tradisional dikumpulkan, ditata seolah-olah merupakan desa betulan.

Pemandangan pertama yang menyita perhatian saya sebenarnya adalah…… boneka salju Totoro yang menyambut di dekat gerbang keluar-masuk. Lumayan niat juga nih yang bikin, dan lucu jadinya. (Nantinya, salah seorang mbak petugas dengan baik hati membantu saya berfoto di samping si boneka salju, setelah melihat saya sorangan wae dan mau selfie juga susah…)

Hal kedua yang menarik perhatian saya adalah kolam yang berada di sebelah depan kawasan. Kolam tersebut tampak tenang, hanya sesekali timbul riak ketika beberapa ekor bebek dan angsa berenang membelah air. Warna kolam dan kayu serta atap bangunan yang gelap berpadu cantik dengan warna putih es dan salju.

Tapi, hati-hati! Es yang mulai mencair, menuruni tepi atap, lalu mengeras lagi, bisa membahayakan kalau tertabrak atau patah dan jatuh menimpa kita. Oleh karena itu, terdapat sejumlah pengumuman yang meminta kita berhati-hati ketika sedang melintas di dekat atau di bawah tepi atap.

Wah, tak terasa sudah panjang juga ya tulisan saya tentang Hida Takayama ini. Tulisan ini saya sambung lain waktu, ya? Boleh kan, boleh kan? Boleh dong. Jadi, kalau ingin tahu lebih mendetail tentang isi Hida no Sato, dan juga tentang Teddy Bear Eco Village, tunggu bagian berikutnya, ya!

Tambahan: Berikut beberapa foto lain K’s Guest House di Takayama!

1 Comment (+add yours?)

  1. snydez
    Sep 24, 2018 @ 06:53:23

    bangunan-bangunan dibangun menempel ke bibir sungai

    kalo di jakarta, bangunan di bantaran kali kemungkinan digusur 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Lompat hari

February 2018
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Arsip Lompat-lompat

%d bloggers like this: