Hamamatsu, November 2014 (Bagian 1): Kota asal piano Yoshiki

Saya dan teman saya, sebut saja K-chan, senang tinggal di Tokyo. Namun ada kalanya kami sumpek juga, entah karena urusan pekerjaan atau sekolah. Suatu hari K-chan berkata kepada saya, “Kita jalan-jalan yuk ke luar kota? Menginap. Sudah dari lama aku ingin ke Hamamatsu.” Akhirnya, kami pun ‘mengorbankan’ satu akhir minggu tidak menonton band kesayangan kami, dan alih-alih bertolak menuju Hamamatsu. Kami janjian bertemu di Stasiun Tokyo pagi-pagi, lantas menumpangi kereta shinkansen menuju Hamamatsu yang terletak di Prefektur Shizuoka. Kami berangkat tanpa memesan hotel terlebih dahulu, karena kami pikir di kota sekecil Hamamatsu tentunya cukup mudah menemukan hotel yang masih punya kamar kosong.

hamamatsu18

Kami tiba di Hamamatsu dan langsung disambut oleh piano Yoshiki (X Japan) yang dipajang di stasiun kereta. Hawa musik kota ini langsung terasa. Hamamatsu memang tenar salah satunya karena merupakan kota pusat perusahaan pemroduksi piano, Kawai. Tidak heran, berbagai dekorasi, patung, dan museum di kota ini berhubungan dengan musik. Satu hal lagi yang saya perhatikan: salah satu bahasa asing yang tertera di papan-papan petunjuk adalah bahasa Portugis. Kenapa, ya? K-chan hanya bisa menduga-duga bahwa mungkin kota ini merupakan persinggahan banyak pelaut Portugal. Setelah saya pikir-pikir sekarang sih, mungkin banyak penduduk kota itu yang merupakan orang Brazil (barangkali yang merupakan keturunan Jepang dan kembali ke Jepang untuk bekerja).

hamamatsu53

Terlebih dahulu kami menuju kantor pariwisata untuk meminta rekomendasi hotel. Petugas dengan sigap memberikan peta dan daftar hotel yang terletak di sekitar stasiun. Kami lalu memutuskan untuk mencoba beberapa nama yang ia sarankan. Dengan santai kami berjalan menyusuri tepi jalan yang mulus dan hanya dilalui mobil sesekali, di tengah udara musim dingin yang semriwing dan lebih segar daripada udara Tokyo.

hamamatsu10

Tak diduga, hotel pertama yang kami singgahi mengatakan hotel sudah penuh. He? Kok tidak diduga-duga, ya? Kami pun mengayunkan langkah ke hotel yang lain. Untunglah, hotel berikutnya ini masih punya kamar kosong, itu pun dengan harga lebih mahal daripada biasanya. Setelah menitipkan barang karena belum saatnya check in, kami melangkah keluar lagi dari hotel, masih tetap terheran-heran. “Ada apa ya, kenapa sepertinya hari ini susah dapat kamar hotel?”

hamamatsu04

Kami memutuskan untuk kembali ke arah stasiun karena ingin mengunjungi Hamamatsu Museum of Musical Instruments. Letaknya memang hanya selemparan batu dari stasiun utama JR Hamamatsu. Museum ini buka dari pukul 9.30 pagi sampai jam 5 sore, dan tutup tiap Rabu ke-2 dan ke-4 dalam sebulan kecuali jika libur nasional. Selain itu, museum juga tutup pada 29 Desember sampai 3 Januari, seperti kebanyakan museum lain di Jepang.

hamamatsu03

Dalam perjalanan ke sana, tiba-tiba seorang lelaki yang sudah agak tua menegur kami dengan ramah dalam bahasa Inggris. “Kalian mau ke mana? Apakah perlu bantuan? Biar kutunjukkan,” katanya. Sebenarnya sih kami tahu harus berjalan ke mana, namun kami tanggapi saja keramahan Bapak ini. “Oh, kalau mau ke museum itu, ke sana! Tahu jalannya? Baik-baik saja? Oke!” Kami pun mengucapkan terima kasih dan berpisah.

hamamatsu02

Setiba di museum, kami membayar tiket dewasa seharga 400 yen/orang. Untuk yang tidak ingin ribet dengan bawaan saat melihat-lihat museum, ada penitipan barang di dekat pintu masuk. Sebenarnya sih, kami tidak berharap macam-macam sewaktu memutuskan mendatangi museum tersebut. Semata hanya mencari tempat yang bisa dikunjungi tidak jauh dari hotel, agar kami bisa cepat kembali untuk check-in setelah waktunya tiba. Dan ternyata… keputusan kami sangat tepat! Sama sekali tidak rugi mendatangi museum peralatan musik ini… malah kami mendapatkan banyak sekali pengetahuan baru.

hamamatsu09

Sesuai namanya, museum ini menyimpan dan memamerkan berbagai alat musik dari seluruh penjuru dunia, termasuk… dari Indonesia! Ya, saya sampai tercengang-cengang sendiri melihat museum ini punya set gamelan yang tampak terawat dengan baik, bahkan menjadi salah satu pajangan utama di lantai dasar museum.

hamamatsu01

Tidak hanya untuk dipandang, sebagian alat musik dapat didengar rekaman suaranya. Ada juga yang boleh dicoba mainkan. Kami bahkan menonton sebuah kelompok gamelan beranggotakan orang-orang Jepang yang sedang berlatih di lantai bawah museum.

hamamatsu06

Setelah puas melihat-lihat di museum, kami kembali untuk check-in hotel. Setelah bersih-bersih dan istirahat sejenak, kami keluar lagi, kali ini menuju sebuah tempat yang menjadi incaran K-chan, Nukumori no mori. Sewaktu berjalan kaki menuju halte bis, saya melihat beberapa orang perempuan yang membawa-bawa merchandise band kenamaan Jepang, GLAY. Astaga, tahulah saya mengapa hari itu sulit mencari kamar hotel kosong di Hamamatsu. GLAY sedang mengadakan konser di situ!

hamamatsu07

Tapi baiklah, kami tidak datang untuk menonton konser. Kami mencari bis ke arah Kanzan-ji, yang membawa kami sampai ke halte Sujikai-bashi. Dari halte tersebut, kami masih harus berjalan lagi beberapa jauh, sebelum akhirnya tiba di tujuan kami… Nukumori no mori.

hamamatsu11

Kisah tempat ini bermula ketika pada tahun 1983 arsitek Sasaki Shigeyoshi mendirikan kantor arsitek dan sentra perabotan di Hamamatsu. Delapan tahun kemudian, ia membuka sebuah toko yang ia rancang sendiri, disusul dengan sebuah restoran, galeri seni, dan macam-macam lagi. Proses itu terus berlangsung sampai beberapa tahun lalu. Semua bangunan di kompleks yang ia miliki dibangun dengan gaya yang mengingatkan akan Eropa… atau mungkin dunia dongeng.

hamamatsu12

Mengingat saat itu musim dingin, hari sudah gelap ketika akhirnya kami tiba di Nukumori no mori. Hanya ada beberapa pengunjung yang tersisa. Kami masih sempat melihat-lihat bagian-bagian ‘hutan’ tersebut, termasuk toko yang menjual porselin Polandia bernama Sezon Lazur. Ini membuat K-chan tersenyum karena ia berasal dari Polandia. Ada pula toko yang menjual berbagai macam pakaian dan pernak-pernik bergaya etnis dari negara-negara lain. Kami juga sempat berfoto-foto dan mampir ke toko kue untuk membeli kue yang lantas kami santap sambil menunggu bis kembali ke Hamamatsu.

hamamatsu14

Sekembali di Hamamatsu, hari sudah sangat gelap, namun kawasan pertokoan tentu saja masih bergemerlapan. Saya dan K-chan berkeliaran saja tak tentu arah, menikmati suasana malam kota ini yang terasa berbeda dari Tokyo. Di sini, kami melihat banyak orang bergerombol di kanan-kiri jalan, berbicara dan tertawa-tawa dengan lepas dan nyaring. Orang-orang tampak ramah, saling menyapa.

hamamatsu15

Sejujurnya, saya lupa malam itu kami makan apa. Namun saya ingat bahwa kami sempat mampir di cabang Saizeriya lokal, sekadar untuk minum dan menyantap penganan sambil berbincang-bincang. Atmosfer Hamamatsu yang santai membuat kami terbawa santai juga. Sesudahnya, kami pulang ke hotel melalui jalan berbeda dengan yang pertama kami tempuh.

hamamatsu08

Esok hari, kami akan bepergian ke danau dan taman bunga ternama di Hamamatsu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: