Menengok Jepang yang lain di Shirakawa-go, Maret 2015

Sungai berwarna kehijauan berkelok cantik di luar sana, di balik kaca jendela kereta. Sambil menatapnya, saya membatin: Ini perjalanan kereta yang paling indah yang pernah saya tempuh, setelah Danang-Hue di Vietnam. Namun saya tidak sedang berada di Vietnam, melainkan bagian tengah Jepang, di atas kereta ekspres yang membawa saya dan seorang teman menuju Takayama, sebuah kota di Gifu.

Saya dan teman sedang memanfaatkan libur kuliah. Kami menggunakan Seishun 18 kippu—tiket yang memungkinkan kita menggunakan kereta-kereta lokal JR sebebas-bebasnya di musim liburan—menjelajahi Osaka, Kobe, Kyoto, Nagoya, dan kini ke Takayama. Kereta yang kami naiki dari Nagoya mentok rutenya di salah satu kota kecil yang namanya sayang sekali saya lupa. Saya mencoba menelusuri peta jalur yang menghubungkan Nagoya-Takayama dan mencoba mengingat-ingat nama kota tersebut, tapi gagal. Mungkin Mino-ota? Pokoknya, sewaktu turun dan mengecek jadwal kereta lokal berikutnya, alamak, masih lama benar. Baru berjam-jam lagi kami bisa tiba di Takayama. Saya memutuskan untuk bertanya ke petugas stasiun. Tidak lama lagi akan ada kereta ekspres ke Takayama, pria muda itu menjelaskan. Namun Seishun 18 kippu tidak berlaku di kereta tersebut, sehingga kami harus membayar lagi. Saya celingukan mencari mesin tiket di peron stasiun itu. Tidak ada. Beli tiketnya di mana?

“Di atas kereta saja,” Petugas menjawab lagi.

Saya menimbang-nimbang. Wah, duit saya cekak sebenarnya.

“ATM terdekat di sini di mana, ya?”

“Harus keluar dulu dari stasiun ini, di kantor pos. Tapi sebentar lagi keretanya datang, lho,” Ia mengingatkan.

Baiklah, niat mengambil uang saya urungkan. Nanti saja di Takayama. Pokoknya sekarang masih adalah uang untuk membayar kereta ekspres. Saya mengucapkan terima kasih dan bersama teman kembali ke peron, menunggu kereta ekspres itu tiba. Dan sekarang, kami ada di atas kereta itu, melaju menuju Takayama, melewati kota-kota yang namanya terdengar asing dan sebagian agak lucu. Gero, misalnya. Nama Takayama—lengkapnya Hida-takayama—sendiri agak ‘tertutupi’ bayang-bayang desa tradisional yang menjadi salah satu tujuan utama wisata yang kesohor di prefektur Gifu, Shirakawa-go. Padahal, kalau mau ke Shirakawa-go, kita harus melewati Takayama dulu. Dan yang jelas, seperti yang akan saya beberkan nanti, Takayama adalah kota kecil yang menarik, meski dengar-dengar sih sekarang sudah semakin ramai gara-gara turis.

Tiba di Takayama, terlebih dahulu kami menuju hostel kami, K’s House, untuk menitipkan barang-barang berhubung memang belum jam checkin (hotel dan penginapan di Jepang rata-rata membuka waktu check-in mulai pukul tiga siang). Letaknya kebetulan tidak jauh dari stasiun. Soal K’s House ini, nanti saya ceritakan lebih lanjut, ya.

Setelah menuju kantor pos yang dekat dari K’s House untuk mengambil uang di ATM, kami kembali lagi ke stasiun. Bukan untuk naik kereta lagi, karena Shirakawa-go hanya bisa dicapai dengan mobil. Nah, terminal bis menuju desa tersebut letaknya di samping stasiun.

Saya dan teman berhasil memperoleh tiket bis yang berangkat berikutnya ke Shirakawa-go. Beruntung kami cepat-cepat naik, karena bis ini ternyata penuh betul, sampai ada yang tidak kebagian tempat duduk. Namun, bukannya berdiri, mereka duduk di bangku cadangan yang bisa dilipat dan saat dibuka merintangi lorong di antara kursi-kursi. Sampai bis ini disiapkan seperti itu, berarti memang jalur bis ini ramai, pikir saya. Eh, saya menyadari ada sebagian penumpang bis yang berbicara bahasa Indonesia. Sepertinya satu keluarga.

Perjalanan menuju Shirakawa-go memakan waktu satu jam lebih. Saat itu sudah bulan Maret, namun semakin kami ke atas, salju semakin tebal. Salju boleh sudah habis di dataran rendah, namun di pegunungan tengah sini, masih ada salju menumpuk. Ketika tiba di Shirakawa-go, kami disambut jalanan yang telah dibersihkan dari salju, namun Anda bisa lihat sendiri kira-kira tadinya salju yang menumpuk itu setinggi apa:

Sebenarnya, kita bisa menginap di Shirakawa-go ini, namun jumlah penginapan terbatas dan seringkali ogah menerima solo traveler, entah alasannya apa. Sayang juga sih, tapi ya agak seram juga membayangkan kalau masih musim dingin begini lalu mendadak malam-malam salju lebat turun sampai jalan terputus.

Shirakawa-go terkenal karena rumah-rumah tradisional yang bergaya gassho. Jadi, sebenarnya rumah tradisional di Jepang itu ada macam-macam juga, menyesuaikan dengan kondisi alam. Yang sering kita asosiasikan dengan ‘rumah tradisional’ Jepang seperti yang kita lihat di TV-TV sebenarnya sering kali lebih merupakan rumah tradisional perkotaan, umumnya Edo (sekarang Tokyo. Rumah seperti itu tidak akan bisa bertahan di daerah dengan curah salju deras seperti di Shirakawa-go ini. Atapnya bisa-bisa lekas ambruk. Oleh karena itulah, rumah-rumah di Shirakawa-go dirancang dengan bentuk yang cocok untuk menahan salju.

Di tempat bis menurunkan kami, ada sejumlah rumah bergaya lama yang berfungsi sebagai toko suvenir, tempat makan, ataupun museum terbuka. Namun tempat tujuan utama kami ada di seberang sungai, yang harus dicapai dengan menyeberangi sebuah jembatan gantung. Kalau Anda mau ke sini, moga-moga tidak lekas gamang, ya. (Sisi seberang sih sebenarnya tercapai dengan mobil atau bis juga, namun dari arah lain.)

Tepi kanan-kiri sungai masih berlapis salju tebal. Di atas salju itu, sesuatu menarik perhatian saya: Sebuah payung biru muda, terbuka dan berbaring tidak berdaya. Entah punya siapa, mungkin jatuh terbawa angin dan tanpa disengaja menjadi objek yang menarik perhatian.

Saya dan teman beberapa kali berpisah dan bertemu lagi, menjelajahi desa tradisional itu sesuka kami. Ada beberapa toko yang menjual penganan setempat, dan saya tidak tahan untuk tidak mencicipi. Daerah Hida ini terkenal karena sapinya, jadi mencicipi apa pun yang terbuat dari Hida beef sangat disarankan.

Menyusuri jalan-jalan kecil desa mungil tersebut terasa menyenangkan sekali. Keelokan tidak hanya dihasilkan oleh unsur-unsur alam, namun juga komponen-komponen buatan manusia. Kolam-kolam berair jernih namun berdasar gelap tampak tenang direnangi berekor-ekor ikan, sementara struktur buatan manusia dari batu dan kayu tampak menonjol di antara balutan salju putih.

Mengamati bentuk-bentuk bangunan yang ‘tidak seperti gambaran tentang bangunan Jepang pada umumnya’ juga menimbulkan kekaguman tersendiri. Inilah mungkin yang namanya kearifan lokal: bagaimana arsitektur disesuaikan dengan kondisi alam.

Ada pula sebuah iglo, yang cukup merebut perhatian wisatawan. Kami terpaksa harus masuk bergantian. Itu pun saya harus menunggu cukup lama, gara-gara yang mendapat giliran sebelum saya adalah sebuah keluarga dari Mainland yang cukup besar dan benar-benar kelewat asyik berfoto-foto.

Dan jangan salah, meski sudah mulai mencair, sebenarnya salju yang menutupi tanah di Shirakawa-go itu masih tebal! Ketika sedang berusaha berpose di depan salah sebuah rumah, saya terjeblos ke dalam salju, sampai hilang selutut. Wisatawan-wisatawan lain langsung bertanya “Daijoubu?” Saya membalas “Tidak apa-apa” sambil tertawa-tawa agak panik karena kaget.

Ngomong-ngomong, beberapa rumah/bangunan tersebut bisa dimasuki, namun ada yang mengharuskan kita membayar lagi. Sementara beberapa bangunan lain tampaknya sudah tidak dikunjungi paling tidak beberapa hari, mengingat tidak ada jejak kaki atau bekas orang lewat di salju tidak segar yang mengungkung mereka.

Untuk mendapatkan pemandangan menyeluruh desa, kami menaiki tanjakan ke atas bukit. Di atas sini, juga ada toko dan tempat makan, serta tempat parkir. Sebagian pengunjung tiba dengan bis atau mobil yang berhenti di area ini. Agak terengah-engah juga kami mendaki ke atas (mungkin kondisi fisik kami saja yang lagi payah, setelah beberapa hari dalam perjalanan), namun daya-upaya kami itu terbalas dengan pemandangan cantik desa yang masih terbungkus salju.

Ketika sudah nyaris waktu keberangkatan bis yang akan membawa kami pulang ke Takayama, saya dan teman kembali menyeberangi jembatan menuju sisi lain tempat halte bis berada. Kami sejenak melihat-lihat toko-toko yang ada, yang sebagian menawarkan boneka atau jimat si sarubobo, maskot desa ini yang berwujud menyerupai monyet. Dan berhubung waktu sudah mepet, kami memutuskan untuk tidak mengunjungi museum yang ada di sisi sungai sebelah sini. Saya memutuskan untuk mengunjungi museum serupa di Takayama saja esok hari.

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. kutukamus
    Dec 12, 2017 @ 08:41:47

    Dari jauh, payungnya seperti intan.. 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: