Hamamatsu, November 2014 (Bagian 2): Kastil Tokugawa Ieyasu

Esok paginya, setelah menikmati sarapan di hotel, kami check out dan melangkah lagi ke stasiun bis di depan stasiun utama. Pertama-tama kami hendak menuju Kastil Hamamatsu. Dari terminal bis yang ada di sebelah utara stasiun, kami lagi-lagi menaiki bis ke arah Kanzanji Onsen. Ngomong-ngomong, di Hamamatsu ini banyak penyeberangan di bawah tanah, termasuk yang menuju ke terminal bis. Lorong-lorongnya bersih, tidak menyeramkan. Kadang-kadang ada juga pemusik jalanan yang meramaikan suasana, mempertegas kesan Hamamatsu sebagai kota musik.

Kami turun di halte bis dekat pos polisi (koban) dekat kastil. Wujud koban ini menyerupai bagian dari benteng lama Jepang, selaras dengan Kastil Hamamatsu. Nah, sebenarnya, Kastil Hamamatsu yang bisa kita lihat sekarang ini adalah hasil rekonstruksi. Kastil yang dikenal juga sebagai Kastil Shusse ini penting karena di sinilah Tokugawa Ieyasu, pendiri bakufu (‘keshogunan’) Tokugawa pernah berdiam selama 17 tahun.  Namun kastil ini sebenarnya sudah mengalami banyak perubahan dan kerusakan seiring waktu, dan bangunan yang sekarang bisa kita lihat adalah hasil rekonstruksi abad ke-20.

Kastil ini dikelilingi taman yang menyenangkan. Di musim semi, kita bisa melihat banyak sakura bermekaran di situ; namun, karena kami datang di pengujung musim gugur, tentunya yang kami bisa nikmati adalah warna-warni menyala dedaunan yang siap terjatuh ke tanah.

Di halaman depan kastil, kami langsung disambut keramaian. Yang pertama, ada Ieyasu-kun! Ieyasu-kun adalah tokoh maskot (yuruchara) kota Hamamatsu. Sosoknya adalah Tokugawa Ieyasu versi bulat-bulat imut, dengan pakaian bermotif piano dan belut di atas kepala alih-alih buntut rambut—piano dan belut, dua produk kebanggaan Hamamatsu. Para pengunjung bergantian berpotret bersama Ieyasu-kun, termasuk saya.

Selain Ieyasu-kun, ada sejumlah orang yang mengenakan baju tempur samurai zaman dahulu. Mereka juga akan melayani permintaan kita berfoto bersama dengan ramah. Mereka sempat mengajak saya dan K-chan mengobrol, menanyakan apakah kami di Jepang untuk bekerja atau untuk jalan-jalan saja.

Dengan membayar 200 yen, kami masuk ke dalam kastil. Di dalam kastil  terdapat museum kecil yang memamerkan sejumlah barang peninggalan klan Tokugawa. Dan eeeh, ternyata ada semacam altar kecil dengan figur Ieyasu-kun di dalamnya. Ada orang-orang yang benar-benar meninggalkan uang di altar ini, lho.

Puas melihat-lihat di dalam, saya dan K-chan kembali melangkah ke luar, berjalan berkeliling taman menikmati pemandangan musim gugur, sekaligus tak lupa ‘sungkem’ ke patung Tokugawa Ieyasu dari perunggu yang ditempatkan di salah satu sudut taman.

Kami kembali ke halte bis dan menunggu lagi bis yang menuju Kanzanji Onsen. Tujuan kami sekarang adalah ke Flower Park. Namanya terdengar sederhana sekali, ya… Namun jangan salah, taman tersebut menyimpan banyak hal mengagumkan. Sementara untuk masuk ke taman, menurut info yang saya kutip dari situs taman tersebut, sekarang biaya masuknya adalah 500 yen untuk orang dewasa di bulan Oktober-Februari, 600 yen di bulan Maret-Juni, dan gratis pada bulan-bulan sisanya. Harga ini bisa disesuaikan dengan kondisi bunga yang sedang mekar di taman. Semakin indah taman, semakin mahal harganya.

Bagian depan taman bunga ini memang tidak tampak begitu impresif. Ada bangunan didominasi kaca di mana terdapat loket penjualan tiket, kafe, dan toko suvenir. Sekilas biasa saja. Tapi seperti juga namanya, bagian depan taman ini ‘menyembunyikan’ harta yang tersimpan di dalam. Sebagai catatan, taman ini cukup luas dan berkontur naik-turun sesuai lansekap asli, sehingga pastikan kita mengenakan sepatu yang enak dan tubuh kita cukup bugar untuk berkeliling.

Sebenarnya, bisa sih berkeliling naik kereta ini, tapi kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Soalnya, lebih gampang untuk langsung mendekati objek yang menarik perhatian kami.

Salah satu fitur utama yang paling menonjol di sebelah depan taman ini adalah kolam yang cukup luas, dengan warna biru muda yang mencolok. Di kolam ini pada waktu-waktu tertentu digelar ‘air mancur menari’, namun ketika kami sedang berada di sana, atraksi itu sedang tidak dinyalakan. Air hanya mancur (seharusnya muncrat?) secukupnya, malah pipa-pipa di satu sisi kolam tidak menyala.

Di sekeliling kolam ini terdapat sejumlah bangku dan tempat lainnya untuk duduk-duduk. Saya bayangkan, bila cuaca lebih panas, banyak orang yang ke taman ini untuk bersantai di sekitar kolam ini, sekadar menikmati pemandangan dan udara segar.

Di taman ini banyak ‘patung’ berbagai bentuk yang terbuat dari perpaduan bermacam-macam jenis tumbuhan. Ukurannya besar-besar. Pasti butuh upaya telaten untuk merawat patung-patung itu agar tetap terlihat menarik—barangkali sepanjang tahun.

Tujuan kami berikutnya adalah rumah kaca. Namanya rumah kaca, biar pun di luar sudah mulai memasuki musim dingin, berbagai tanaman masih semarak berkat suhu di dalam rumah kaca yang hangat. Berhubung saat itu sedang mendekati Natal, maka alun-alun utama rumah kaca ini berhiaskan dekorasi yang memberikan suasana khas Natal. Ada Sinterklas, ada pohon Natal, ada poinsettia dengan warna merah dan hijaunya yang mencolok.

O ya, di rumah kaca ini juga ada kios yang menjual makanan dan minuman. Kita bisa santai sejenak beristirahat sambil menikmati sebelah dalam rumah kaca. Variasi makanan dan minuman yang tersedia sih tidak banyak, tapi kalau sekadar es krim dan kopi sih ada.

Selain alun-alun utama yang menampilkan tema Natal, rumah kaca terbagi menjadi beberapa bagian dengan tema masing-masing. Ada yang bertema Bali, lho, lengkap dengan berbagai arca, kain kotak-kotak hitam putih, dan kolam teratai. Saya cukup takjub juga menemukan berbagai macam tumbuhan tropis yang tumbuh subur di dalam rumah kaca tersebut. Teman saya yang belum pernah ke daerah tropis juga tampak terkagum-kagum. Bayangkan, ada tumbuh-tumbuhan berdaun lebar yang tidak bisa ditemukan di negara-negara yang jauh dari garis khatulistiwa.

Ada juga bagian yang menampilkan beraneka ragam kaktus. Bagian yang ini didekorasi menyerupai Amerika Barat… atau mungkin juga Meksiko.

Kami keluar dari rumah kaca dan berjalan terus ke arah belakang, ke taman mawar. Di sini saya minta izin teman untuk berhenti sejenak karena saya ingin solat terlebih dahulu. Akhirnya saya numpang solat di gazebo yang tersedia di taman mawar tersebut sementara teman saya melihat-lihat. Dari tempat saya solat, saya bisa melihat ada danau di kejauhan. Danau Hamana (Hamanako)!

Saya dan K-chan pun setuju untuk mendatangi danau tersebut. Yang artinya, kami tidak kembali ke depan taman untuk keluar. Maka dengan berpatokan arah kira-kira danau tersebut, kami mulai berjalan kembali menyusuri taman, ke arah berlawanan dengan arah dari mana kami pertama datang.

Kalau dicek peta lengkapnya sih… saya dan K-chan ternyata baru menjelajahi sebagian saja kebun raya ini. Tapi betul-betul tidak terasa lho! Rasanya sudah lama dan jauh betul kami berkeliaran di dalam Flower Park ini.  Sebentar-sebentar kami berhenti untuk menikmati sajian yang ada di taman, misalnya di tepi kolam—danau buatan?—tempat bebek dan ikan sebesar-besar paha berenang-renang dengan damai.

Akhirnya, sampai juga kami ke pintu keluar. Nah, menurut papan petunjuk yang ada, sebenarnya dari situ kami bisa berkunjung ke kebun binatang yang terletak di samping kebun raya. Namun berhubung kami memang tidak ada rencana melihat-lihat satwa dan lebih tertarik dengan pemandangan danau, kami pun langsung menyeberang jalan menuju Danau Hamana.

Tadinya, danau ini adalah danau berair tawar. Namun gempa dan tsunami pada tahun 1498 membuat danau ini menjadi terhubung dengan laut (kalau dilihat di peta, letaknya memang bersisian dengan laut dan hanya dipisahkan oleh sedikit daratan). Sejak saat itu, air danau ini menjadi mirip air paya-paya.

Danau Hamana ini sebenarnya adalah danau terluas kesepuluh di Jepang. Namun yang kami lihat hanyalah segelintir saja, semacam tonjolan kecil dari badan utama danau yang agak tersembunyi oleh lidah daratan. Di balik celah yang tampak di foto di bawah ini, terbentang badan utama danau Hamana yang teramat luas. Bila naik shinkansen Tokaido ke arah/dari Nagoya, pasti melewati danau ini.

Danau Hamana, tentu saja, dimanfaatkan sebagai tempat wisata lengkap dengan berbagai fasilitas rekreasi air. Banyak pula hotel dan tempat makan. Di sempalan danau tempat kami berada bahkan ada taman ria segala. Namun saya dan K-chan lebih memilih berjalan-jalan santai saja menelusuri tepi danau. Dan kami terheran-heran mendapati ada kios seadanya—berupa meja dengan jeruk mikan yang sudah dibungkus dalam kantong-kantong plastik—dibiarkan tak terjaga di tepi jalan. Hanya ada sebuah wadah tempat untuk menaruh uang dengan tulisan: 1 BUNGKUS 100 yen.

Pertama: Gila, murah banget. Memang sih daerah ini juga terkenal karena produk mikan-nya, namun tetap saja harga segitu membuat kami yang tinggal di Tokyo jadi kegirangan luar biasa. Di Tokyo, sekantong jeruk seperti ini harganya bisa lebih daripada 400 yen. Kami pun langsung masing-masing mengambil satu. Kedua: Percaya banget bahwa orang-orang bakal jujur dan tidak akan ada yang mencuri, ya?

Selagi kami masih terheran-heran di depan meja jualan itu, dari dalam rumah di belakang meja keluar seorang perempuan yang sudah lanjut usia. Mungkin ia tertarik melihat ada dua orang asing berdiri di depan rumahnya memilih-milih jeruk. Ia menyapa kami dengan ramah, dan menanyakan asal kami. Kami menerangkan bahwa meskipun berasal dari negara-negara lain, kami tinggal di Tokyo. Ia tampak tidak percaya mendengar K-chan sudah bekerja. “Ah kalian kelihatannya masih bersekolah. Masih 17 tahun.” Kami tertawa saja. Mungkin dia hanya basa-basi, tapi kami senang-senang saja karena diajak mengobrol.

Kemudian, berhubung kami belum makan dari pagi, dan karena K-chan ingin sekali mencoba unagi, kami memasuki salah satu restoran di tepi danau yang menawarkan hidangan berbasis ikan tersebut. Saya lupa tepatnya harganya berapa, tapi untuk paket unadon seperti yang ditunjukkan di bawah ini, kami masing-masing membayar lebih daripada 1.000 yen. Rasanya? Hmm… menurut saya sih mirip lele. Untuk pengalaman kuliner saja boleh lah, tapi secara pribadi saya tidak begitu ingin menyantapnya lagi.

Lucunya, saat kami sedang makan, tiba-tiba pemilik restoran—seorang perempuan berusia mungkin 40-an tahun—beranjak meninggalkan restorannya setelah menitipkannya kepada kami. “Sebentar ya, saya keluar sebentar!” Saya dan K-chan berpandang-pandangan. Dia berbicara kepada kami? Ya… tidak ada orang lain, tamu maupun pegawai, di restoran itu saat jam nanggung antara makan siang dan makan malam ini. “Kok dia percaya kepada kita? Nggak takut kita kabur tanpa bayar?” Sungguh, salah satu hal yang paling membuat kami terheran-heran di sini adalah perilaku penduduknya, yang kami rangkum dengan “Berbeda sekali dari Tokyo ya…”

Usai kami makan, hari sudah nyaris sepenuhnya menjadi malam musim dingin yang turun dengan cepat. Kami melewati sebuah taman ria yang tutup, lalu masuk ke salah satu toko suvenir yang banyak menawarkan produk dari bebatuan cantik. Seingat saya sih tidak ada yang benar-benar menarik hati kami saat itu. Akhirnya kami memutuskan kembali ke kota. Kami menuju halte terdekat, yang di dekatnya terdapat kolam air panas kecil tempat kita bisa mencelupkan kaki atau tangan secara gratis untuk menjajal apa yang ditawarkan onsen di sekitar situ. Memang di sekitar Danau Hamana ini banyak onsen dan hotel ala ryokan. Berhubung sedang tidak punya kemampuan untuk menginap di ryokan, kami hanya mencicipi contoh air panas gratisnya saja…

Bis membawa kami kembali ke pusat kota Hamamatsu. Namun karena belum malam-malam sangat, kami memutuskan untuk berjalan-jalan lagi di sekitar stasiun utama Hamamatsu sambil mengobrol. Jalur-jalur pejalan kaki yang lebar, suasana yang lengang, langit yang kelihatan begitu terbuka… Diam-diam saya mengimpikan juga tinggal di tempat seperti ini. Apa mau dikata, tiba juga saatnya kami harus kembali ke Tokyo. Kesibukan Senin esok telah menanti kami—dan tidak sebersit pun kami merasa menyesal telah memilih jalan-jalan ke Hamamatsu daripada menghadiri konser band kesayangan kami (maaf ya LIPHLICH, we love you still!)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: